Konbanwa, minna-san! Hari ini dua chapter sekaligus akan dipost! Semangat membaca ya! Jangan lupa review! Arigatou ^^
Disclaimer : Meitantei Conan dan seluruh karakternya adalah milik Aoyama Gosho-sensei.
Shinichi Kudou
Oke. Ada tiga masalah yang kualami beberapa hari terakhir ini. Pertama, ini sudah merupakan hari ketiga disekapnya Haibara dan aku di markas organisasi ini. Aku benar-benar khawatir kalau yang lain mulai mencari kami berdua. Ini berbahaya bagi mereka. Kau tahu, mencari kami berdua ke tempat ini sama dengan sengaja menjebloskan diri ke dalam lubang yang ternyata merupakan sarang ular. Kedua, kami betul-betul tidak berkutik di tempat ini lantaran pengawasan yang diberikan begitu ketat, dengan adanya CCTV serta anggota organisasi yang terus berjaga di depan pintu ruangan ini. Dan pintu keluarnya hanya ada satu. Ketiga, entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan Haibara.
Ia bersikap janggal beberapa hari belakangan ini. Dengan kemampuan observasiku sebagai detektif, aku sangat menyadarinya. Sebenarnya sejak dulu aku menyadarinya. Bukannya aku tidak tahu diam-diam dia memperhatikan aku dengan wajah tanpa ekspresinya itu. Ibuku juga pernah mengatakan bahwa dia suka padaku.
Ha-ha-ha. Suka padaku? Yang benar saja. Sulit rasanya membayangkan seorang Haibara bisa jatuh cinta. Kurasa ia hanya memperhatikan reaksi obat yang bekerja padaku. Ah sial. Kalau dipikir-pikir, aku memang sudah menjadi kelinci percobaannya selama ini. Tapi akhir-akhir ini, setelah 3 hari terkurung di dalam satu ruangan berdua, aku semakin merasa tindakannya tidak wajar. Ada kalanya ia memperhatikan aku dengan wajah datarnya seperti biasa, tapi aku merasa ini lebih sering dari seharusnya. Ia melakukannya bahkan di malam hari ketika akan tidur. Atau ketika di malam hari saat aku sedang berpura-pura tidur. Apakah ini hanya perasaanku?
Aku menghela napas. Ah, sudahlah. Tidak penting memikirkan itu di saat-saat seperti ini. Aku masih belum melihat titik lemah penjagaan mereka. Dalam sehari mereka akan mengantarkan makanan pada kami setiap pukul 6 pagi, 12 siang, dan 6 sore. Penjara bawah tanah ini dilengkap dengan toilet sehingga kami tidak akan keluar masuk ruangan ini. Tapi setiap kali mengantar makanan, anggota organisasi akan muncul sebanyak 2-3 orang. Kami jadi kalah jumlah. Juga tidak memiliki senjata apa pun. Di ruangan ini memang ada balok-balok kayu yang lumayan besar, tapi mereka punya pistol. Menyerang berdua pun akan menjadi tindakan beresiko.
Arrghh! Aku mengacak-acak rambutku dengan kesal. Kulirik Haibara yang tengah sibuk mengetik di depan komputernya. Nah kan! Aku memergokinya melirikku lagi. Tapi berbeda dengan reaksi gadis lain. Jika ketahuan sedang menatapku, ia tetap akan berwajah sedingin es seperti biasanya dan mengalihkan pandangan dengan tenang, seolah sudah sewajarnya dia menatapku hampir setiap waktu seperti itu. Baiklah, aku jadi tambah penasaran.
"Hei." Aku menarik sebuah kursi dan duduk di sampingnya di dekat komputer. "Aku mau bertanya sesuatu."
"Hm?" Ia melirikku sekilas sebelum akhirnya menatap kembali ke layar komputer.
"Kenapa kau sering menatapku?"
Ia mengangkat alis. Selama sedetik aku melihat ada emosi yang tak bisa kuartikan berkelebat di matanya. Detik berikutnya tatapan es-nya mendelik padaku sekilas. "Jangan berpikir macam-macam. Kau tentu tidak lupa bahwa aku punya tugas mengawasi reaksi antidote itu, bukan?"
"Ya," anggukku. "Aku hanya...memastikan." Mendadak aku merasa konyol. Mana mungkin Haibara berpikiran lain tentangku, bukan?
"Omong-omong," tanyaku padanya. "Kau bilang kau cuma pura-pura membuat laporan."
"Memang," tukasnya tanpa melepaskan pandangan mata dari layar komputer.
"Lalu kenapa sejak kemarin sepertinya kau seperti sedang membuat laporan sebenarnya?"
"Kita sedang diawasi. Dan sewaktu-waktu Gin dapat memeriksa progress kerjaku. Tapi tenang saja. Ada beberapa formula yang kupalsukan. Ia tidak akan tahu."
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar jawabannya.
"Kau sudah menemukan cara untuk kita kabur?" tanyanya tiba-tiba.
Aku kembali mendesah, teringat akan besarnya kesulitan untuk keluar dari tempat terkutuk ini. "Sejauh ini belum. Maaf."
Tepat setelah aku menggumamkan maaf, terdengar bunyi sirene kebakaran yang memekakkan telinga. Aku dan Haibara berpandangan dengan mata melebar. Dengan sigap aku langsung mengintip dari lubang kunci di pintu. Kulihat para penjaga mulai berlarian dan menelepon dengan kalut dengan menggunakan ponsel masing-masing.
"Bagaimana situasinya? Apa yang terjadi?" Haibara tiba-tiba saja sudah ada di sampingku dengan sorot wajah was-was.
"Entahlah. Kurasa memang terjadi kebakaran. Semua penjaga di luar ruangan ini mulai kalut." Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalaku.
"Haibara," aku menatapnya dengan senyum keyakinan, seperti yang kutampakkan kalau aku baru saja menemukan jawaban sebuah kasus besar. "Kau siap untuk kabur?"
"Selalu." Haibara mengangguk dengan yakin. Aku mulai membisikkan rencanaku di telinganya. Kurasa dengan memanfaatkan situasi kebakaran ini, kesempatan untuk kami lolos saat ini cukup besar.
Chapter 2 DONE!
Silahkan lanjut ke chapter berikut!
