Helloo!
Saya pribadi mau mengucapkan terima kasih bagi yang telah mereview, walaupun hanya sedikit kkk. Bagi yang telah follow dan fav, semoga kalian tetap suka ceritanya, amiin:))))
Oh iyaa, sebelumnya ff ini aku buat versi GS, namun karena pertimbangan banyak hal, saya ganti jadi yaoi. Terima kasih sudah mempertanyakan (?) wkwkw. The last one, Happy reading yoreboun!3
One Day Love
Main Cast:
OH SEHUN
XI LUHAN
WU YIFAN
Support Cast:
PARK CHANYEOL
BYUN BAEKHYUN
KIM JONMYUN
ZHANG YI XING
KIM JONGIN
DO KYUNG SOO
RATING:
T
.
.
.
Chapter 2
.
.
Koper berwarna biru muda, sebuah ransel coklat hitam, dan mantel tebal di tangan kirinya sudah siap. Luhan masih tak percaya jika hari ini ia benar-benar akan meninggalkan Beijing dan kembali ke Seoul. Rasa roti selai coklat dan susu pack strawberry yang diberikan oleh Yixing masih meninggalkan jejak di kerongkongannya selama perjalan menuju bandara tadi. Namun entah mengapa melihat langit-langit tak tergapai bandara, suara dari informan bandara, dan wajah-wajah asing yang berpapasan dengannya membuat perutnya terasa kosong dan haus mendadak. Rasanya Luhan seperti makhluk tak berjiwa untuk beberapa detik, terbesit dalam hatinya untuk berlari pulang ke rumah, mengantarkan kerupuk atau mencuci tumpukan pakaian milik tetangganya. Luhan juga tak tahu darimana asalnya keraguan dan ketakutan yang tiba-tiba mengepungnya diam sekarang.
"Gege.. bagaimana kalau kau bertemu, Yifan disana?"
Oh! Luhan tak berdiri kokoh lagi—lututnya roboh.
Bersyukur.
Yixing.
Punya refleks.
Dan itu bagus.
Karena menolong Luhan dari rasa malu jika harus merosot ke lantai dengan wajah pucatnya.
.
.
.
.
Seoul 10 tahun yang lalu adalah kenangan pertama Luhan akan sebuah kasih sayang. Ia besar dan bersekolah di sana, punya banyak teman, dan karena Seoul lah, Luhan jatuh cinta pada bubble tea, minuman yang akan selalu membuatnya diejek oleh Yifan karena baginya bubble tea itu minuman bagi anak kecil yang sedang menangis. Dibanding bubble tea, Yifan lebih memilih ice coffee atau softdrink sebagai minumannya. Untung saja kedai keduanya berdekatan, jadi tak banyak masalah jika mereka akan membelinya ketika beristirahat.
Satu sekolah, satu kelas, bahkan satu kompleks membuat Luhan dan Yifan terlibat dalam kebiasaan mereka satu sama lain. Luhan terbiasa hadirnya Yifan yang akan menjaganya, dan Yifan terbiasa untuk mencubit pipi gembul pertama mereka dimulai sejak usia 5 tahun, entah Yifan dan Luhan ingat, namun saat itu Luhan sedang menangis karena bonekanya jatuh di kolam ikan. Jarak rumah yang hanya terpisahkan pagar tembok setinggi 2 meter membuat Yifan yang saat itu bermain mobil-mobil pemadam kebakaran memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya dan masuk ke halaman rumah Luhan. Ia pun mendekati Luhan dan menatap Luhan selama hampir 30 detik. Detik ke 32 Yifan berjalan mendekati Luhan dan membuang mobil pemadam kebakaran yang ada di tangan kanannya di kolam ikan Luhan. Mobil yang terjun bebas itu memuncratkan air kolam dan mengenai wajah Luhan, membuat Luhan membuka kelopak matanya yang berair. Luhan kecil berhenti menangis dengan rengekannya, walaupun mulutnya masih terbuka, namun ia tak bersuara, tatapannya tertuju mobil pemadam kebakaran yang kini seperti berenang bersama dengan bonekanya.
"Kau tidak boyeh menangis kalna bonekamu dhi sana, dia cedang beyenang. Mobilku juga bica beyenang. Hebhat kan? Bonekamu cidak cendiyi yagiii!"
Luhan kecil menoleh tanpa ekspresi pada Yifan yang sedang tersenyum menang dengan ucapannya sendiri. Detik selanjutnya Luhan lah yang berjalan mendekati Yifan sambil menarik ujung kaos Yifan kecil saat itu. Mata Luhan dikerjapkannya, membuat sisa tangisannya terjun bebas lagi di pipi gembulnya, ia kemudian merajuk pada Yifan untuk diambilkan bonekanya. Yifan yang memang merasa pahlawan saat itu tak berpikir panjang. Kakinya segera dilangkahkan menuju tepi kolam dan sedang bersiap untuk melompat...
"YIFAN!"
Suara histeris seorang wanita itu terdengar di gendang telinga Luhan tepat setelah Yifan melompat bebas ke dalam kolam. Bersyukurlah ibu Yifan karena kolam itu hanya seperempat meter, setidaknya hanya membuat baju Yifan basah dan juga air masuk hingga telinganya saja. Suara itu pula yang membuat ibu Luhan yang berada di dapur berlari keluar menuju halaman rumahnya. Sejak saat itu, setiap hari Yifan dan Luhan akan bermain bersama dan bukan di depan kolam ikan itu lagi.
.
.
.
.
"Sampai jumpa lagi, gege. Aku akan sangat merindukanmu"
Yixing rasanya tak mau mengakhiri pelukannya pada Luhan. Luhan tak berkata banyak, namun tangannya yang melilit Yixing dalam pelukan semakin erat sebelum akhirnya mereka saling merenggangkan pelukan. Sebulir air mata terjun bebas dari ujung mata Luhan.
"Huh, dasar anak kecil. Bukannya kau sudah berjanji untuk tidak menangis?"
Yixing tertawa renyah, memukul pangkal lengan Luhan. Detik berikutnya, pria bertubuh pucat itu kembali mendekap Luhan dan pertahanannya runtuh. Yixing menangis layaknya anak kecil yang tahu akan ditinggal sang kakak.
"Aku akan segera kembali. Jaga Mama, Yixing….dan akan ku temukan pangeran untukmu sebagai gantinya"
Yixing tak percaya kalimat itu yang ia dapatkan sebagai balasan. Luhan tersenyum tulus padanya dan menepuk punggung namja itu. Luhan menarik nafas panjang sebelum mengangkat koper berukuran sedangnya menuju escalator bandara. Langkahnya cukup tegas, namun semakin lama, langkahnya memelan dan kembali sebulir air mata membasahi pipinya yang tirus. Saat berada di ujung escalator, Luhan berbalik dan melihat Yixing yang melambaikan tangannya di udara. Pemandangan terakhir Luhan tentang Yixing sebelum ia meninggalkan Beijing.
Semoga Seoul sama menyenangkannya seperti ada dirimu, Yifan…
.
.
.
.
.
.
9 Years Ago..
Luhan tak melakukan apapun selama 5 menit terakhir ia duduk di sofa ruang tamunya. Lelaki itu menempatkan tangannya di atas lutut sambil menepuknya berkali-kali. Pandangannya tak pernah lepas dari jendela kaca rumahnya yang langsung menampilkan pagar luar yang berwarna hitam. Luhan berharap semoga ia tak menunggu lebih lama lagi. Mungkin bosan dengan menatap jendela dan pintu masuk, pandangannya pun beralih pada jam dinding hingga jam tangan yang melilit pergelangannya. Sudah 20 menit ia menunggu. Padahal setaunya, Yifan tak pernah terlambat sampai 5 menit. Jika janji mereka dibatalkan, pasti Yifan mengiriminya pesan. Itupun tak pernah selama ini, biasanya hanya 10 menit dari waktu janjian dan Yifan akan segera mengiriminya pesan. Namun kali ini tak ada pesan apapun di handphone—Eh…
One Message received!
Luhan segera menyentuh keyboard handphonenya dan menekan tombol OK. Pesan pun tampil secara penuh pada layar handphonenya. Baris pertama yang ia baca membuatnya tahu siapa yang mengirimkan pesan, tentu saja bukan dari orang yang Luhan harapkan. Namun isi pesan tersebut membuat Luhan mengakhiri duduknya dengan cepat dan segera berlalri keluar rumahnya. Tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat reaksi Luhan, saat ini tubuhnya merasakan dingin dan dadanya menyesak. Air matanya sudah mulai jatuh dan bibirnya menjadi pucat. Tangannya ia rentangkan ke depan sambil berharap isyarat tersebut segera membuat taxi yang melintas di depan rumahnya berhenti. Dan rasanya semakin tak terkendali saat tak ada satupun taxi kosong yang berhenti. Luhan menjerit dan menjatuhkan dirinya, merasa tak berdaya pada dirinya sendiri karena telah menjadi orang yang paling bodoh di dunia. Pertama kalinya Luhan mengklaim dirinya sangat tak berguna dan menjadi momen pertama yang memberinya kenangan seperti apa rasanya kehilangan orang yang disayang.
.
.
.
.
.
Beijing, 20 April 2012.
Entahlah, aku juga tidak tahu ini kali keberapanya aku mengirimimu email, Yifan.
Kau benar-benar pergi, dan aku tidak pernah tau kau dimana, bagaimana kabarmu, apa yang kau lakukan, dan apa yang sebenarnya terjadi. Aku menjadi orang bodoh atau mungkin aku sudah gila. Emailku selalu gagal untuk ku kirimkan padamu, atau kau menghapusnya? Kenapa Yifan?
Hari itu kau bilang kita akan menonton bersama, membeli kembang gula, lalu kau mau ditemani membeli jam tangan, tapi kau tak pernah datang. Aku menunggumu menjemputku. Aku menunggu melihat sepedamu, tapi tak ada.
Kau jahat, Yifan!
Seandainya bukan pesan dari ibumu yang mengatakan kau akan berangkat 15 menit lagi ke Canada, aku tidak akan pernah tau ternyata kau pergi. Kau tidak pernah bilang apapun. Aku hanya tau kau di bandara saat itu dan akan berangkat ke Canada.
Apa kita bukan teman lagi, Yifan?
Kau bahkan tidak tahu ini ulang tahunku, aku sudah 20 tahun. Itu artinya, kau juga akan 20 tahun di tahun ini.
Aku akan selalu ingat saat dimana kau selalu menolongku, kau yang selalu mencubit pipiku, kau yang selalu tak mau makan ayam tapi suka mengambil ayamku. Kau memang nakal, Yifan!
Aku tidak menemukan orang lain lagi untuk ku ajak bermain bola, bermain basket, atau naik sepeda lagi. Dan aku tidak pernah mau minum bubble tea lagi. Aku juga sulit menemukan minuman itu di tempatku sekarang.
Yifan..
Aku berharap, emailku bisa kau baca, tapi sepertinya itu mustahil. Aku merasakan sakit saat berharap kau akan bisa membaca semua emailku. Emailku sudah menyampahimu. Sudah banyak sekali. Dan aku tau kau tidak suka orang yang banyak bicara kan?
Kau pernah bilang jika aku teman terbaikmu, kau juga sudah berjanji padaku, kau tidak akan pernah meninggalkanku, bagaimanapun itu.
Tapi Yifan, nyatanya kau pergi. Kau melanggarnya. Dan aku berhak marahkan untuk itu?
Aku tidak akan mengirimkanmu email lagi. Ini janjiku di ulang tahun 20 ku. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Yifan.
Aku juga tidak akan mengingatmu lagi, Aku cukup lelah jika harus merindukanmu, merindukan tawamu. Rasanya seperti mimpi. Kau benar-benar hilang.
Tapi, Yifan, aku bersungguh-sungguh, aku tidak akan mengingatmu lagi atau merindukanmu. Aku akan menjadi Luhan yang selalu tertawa, menjadi Luhan yang selalu baik pada siapapun. Aku tidak akan dengan mudah lagi menangis.
Terima kasih dan maafkan aku, Yifan. Jika suatu hari nanti kita akan bertemu, ku harap kita tidak akan berteman lagi.
Ini April, November nanti kau akan berulang tahun. Selamat ulang tahun, Yifan.
Semoga tidak pernah mengingatmu lagi.
.
.
.
Mimpi buruk itu muncul lagi. Kelopak mata Luhan terbuka dan nafasnya begitu saja menggebu. Luhan menelan liurnya kasar dan beranjak menengok ke kiri, menemukan pantulan dirinya di jendela kaca pesawat yang terlihat cukup kacau. Dari sana Luhan melihat juntaian awan tak berbentuk memenuhi langit dan sedikit ditembusi sinar mentari. Luhan lalu memfokuskan dirinya pada pantulan bayangan di jendela kaca pesawat, ia mengamati dahinya yang berkeringat. Padahal Luhan yakin, suhu udara dalam pesawat cukup dingin, namun mungkin karena perasaan tak nyaman, apalagi mimpi itu mengusik tidurnya, membuatnya tahu mengapa ia seperti ini. Luhan menghembuskan nafasnya berat, menyamankan dirinya kembali dalam duduknya setelah mendengar suara informan jika sebentar lagi pesawat akan mendarat. Luhan sudah di Seoul.
.
.
.
.
"Bagi penggemar band EXO, bulan ini akan menjadi bulan favorite mereka. Beberapa hari yang lalu, pihak perusahaan EXO Band, telah mengkonfirmasi jika artis asuhan mereka akan comeback bulan ini. EXO telah debut 4 tahun lalu sebagai band dengan genre musik pop, memiliki 5 orang member, ada vokalis, dua gitaris, basis, dan juga drummer. Memiliki paras yang rupawan, tubuh atletis, dan fashionable, menjadikan EXO sebagai pusat perhatian dalam industri musik di Korea beberapa tahun ini. Karena itu, mereka tidak hanya terkenal di Korea saja, namun industri music global juga mengakui ketenaran EXO.
Baru-baru ini, sebuah website perkumpulan para netizen yang menyukai EXO dikagetkan dengan kabar tak sedap jika salah satu member EXO nantinya akan memiliki kissing scene dalam Music Video yang dirilis EXO nantinya. Walaupun belum ada pernyataan khusus yang dikeluarkan oleh pihak manajemen, namun kuat diberitakan jika MV yang juga akan dirilis bulan ini menampilkan kisah percintaan dengan Oh Sehun sebagai model utama MVnya. Banyak fans yang khawatir jika nantinya yang melakukan adegan kiss adalah Oh Sehun. Fans mengaku tidak siap menerima hal tersebut dan akan melakukan protes jika benar Oh Sehun, guitaris EXO band itu yang benar-benar menjadi model MV nya dan melakukan adegan kissing. Sementara itu, member lain…."
"Mengajukan protes? Berlebihan sekali mereka"
"Woah, Kau mulai peduli ya?"
"Terserah"
Sehun langsung mengakhiri duduknya setelah membaca majalah yang menurutnya tak penting sama sekali. Rasanya, ia telah membuang waktunya hanya untuk membaca deretan kalimat tak berharga itu. Ini juga pertama kalinya ia menyempatkan diri membaca sebuah majalah yang membahas tentang dirinya sebagai member EXO. Andaikan bukan arahan dari hyungnya, Kim Joonmyun atau biasa dipanggilnya Suho Hyung, ia juga tak akan mau membaca. Lelaki itu berjalan mendekati lemari es dan mengambil sebuah minuman soda kaleng. Jemarinya bergerak lincah dan segera membuka minuman tersebut. Jakunnya yang bergerak naik turun menandakan jika lelaki dengan tubuh menjulang itu cukup haus.
"Kapan Suho hyung memberikan mu majalah ini?"
"Tadi pagi. Dia memaksaku membacanya"
"Hahaha, sepertinya ini lucu baginya"
Sehun memutar bola matanya setelah mendengar apa yang dikatakan, Kai, lawan bicaranya saat ini. Mereka sedang berada di ruang latihan. Karena jadwal latihan dan Sehun cepat datang kali ini, ia pun terjebak dalam sebuah obrolan yang tak penting dengan Kai. Sehun dan Kai telah saling mengenal 6 tahun lalu, saat mereka masih menjadi trainee perusahaan. Tidak hanya Kai, tapi Sehun juga mengenal member lain sejak 6 tahun lalu. Bagi Sehun, member EXO dan hyungnya, Suho lah yang paling dekat dengannya saat ini.
"Kau sudah mempersiapkan untuk hari perayaan nanti?"
"Aku tidak akan datang"
"Apa? Kenapa? Suho hyung menyuruh kita untuk datang, itu wajib, Sehun!"
"Tidak, aku mau istirahat"
Kai yakin saat ini matanya sedang membelalak mendengar ucapan Sehun. Bukan hal yang baru lagi jika Sehun seperti itu, bertindak semaunya. Tapi tidak hadir dengan sengaja dalam pesta ulang tahun perusahaan mereka adalah tindakan salah dan tindakan itu bisa saja membuat mereka mendapat teguran.
"Kenapa melihatku begitu?"
Sehun menyodorkan pertanyaan sinis pada Kai yang melihatnya dengan ekspresi tak terdefenisikan.
"Kau serius tidak datang? Mau mendapat teguran?"
Sehun tertawa kecil lalu berjalan mendekati kursi duduk sambil mengambil gitar yang berada tak jauh darinya. Setelah duduk dan memangku gitarnya, Sehun menatap Kai dan memetik gitar dengan nada acak.
"Kau lupa, Kai? Perusahaan ini milikku"
Tiba-tiba suasana menjadi hening dan keduanya langsung tertawa bersama.
Ya tertawa.
Tanpa Sehun tahu jika rencana ketidakdatangannya itu akan menggagalkan rencananya untuk beristirahat dan akan menjadi titik awal kehidupannya yang berubah.
.
.
.
To be continued..
