Unforgiven Hero

.

.

.

Remake from "Unforgiven Hero" By Santhy Agatha

Cast : Jongin, Sehun, and others

Rate M

Warning for typos and lots of sexual content

Happy Reading

.

.

.


Chapter Two


.

.

.

Preview Chapter One

"Jangan pernah kau menampakkan wajahmu di muka kami! Kau manusia hina yang bersembunyi di balik kekuasaan ayahmu, manusia pengecut, tidak bertanggung jawab! Kau pikir nyawa manusia bisa diganti semudah itu dengan uang?! Kami memang miskin, tapi kami punya harga diri! Jadi sebelum kau bisa menunjukkan kalau kau punya harga diri, jangan berani-berani menunjukkan mukamu di depan kami!"

Hari itu, Jongin diberitahu oleh seorang tetangga, ibu lelaki itu yang jatuh sakit karena tak kuat menahan kepedihan, meninggal semalam dalam kondisi sakit parah, menyusul ayahnya. Hari itu, Jongin menyadari, bahwa perbuatannya telah menghancurkan hidup sebuah keluarga.

"Mereka sama sekali tidak mau menerima uang tunjangan dari keluarga ini, itulah yang mengganjal di hati ibu." Sang ibu menatap Jongin sedih.

"Lelaki itu membenciku bu, baru kali ini aku menerima tatapan kebencian seperti itu." Jongin masih terpekur shock dengan kejadian yang baru di alaminya. Sang ibu hanya bisa menatapnya sedih, "Laki-laki itu kehilangan ayahnya dengan tragis, dan ibunya pula, apalagi yang bisa dilakukannya selain menumpahkan kebenciannya padamu, penyebab semua ini?"

"Dia sebatang kara, dan dia tidak mau menerima bantuan dari kita, lalu aku harus berbuat apa, bu?"

Ibunya menatap Jongin dengan kebijaksanaan yang diperolehnya dari pengalaman hidupnya bertahun-tahun, "Mungkin kau harus memulainya dari dirimu sendiri dulu Jongin..."

"Mau sampai kapan kita parkir di sini? Laki-laki itu sudah pergi sejak tadi," suara Jinri memecahkan keheningan, hampir membuat Jongin berjingkat karena kaget.

"Melamun lagi ya? Akhir-akhir ini kebiasaanmu melamun semakin parah." Jongin menarik napas lalu memundurkan mobilnya keluar dari parkiran, "Thank's sudah menemaniku menunggunya."

Jinri menatap kakaknya seksama, lalu tatapannya berubah penuh sayang. Kejadian kecelakaan itu sudah lama berlalu, tetapi kakaknya menanggung beban rasa berdosa itu di pundaknya tanpa henti. Hingga seolah-olah Jongin sudah lupa cara tersenyum.

"Aku sayang padamu kak, aku tidak tahan kalau kau terus-terusan dalam kondisi seperti ini." Jongin terdiam, tidak menanggapi. "Dia sudah lulus kuliah, nilainya bagus, dia pasti akan diterima di perusahaan yang juga telah susah payah kau siapkan untuknya." Jinri menatap Jongin penuh arti, lalu mendesah ketika Jongin tidak mengatakan apa-apa, "Bukankah ini waktunya bagimu untuk berhenti?"

"Berhenti apa?"

"Berhenti memikul tanggung jawab ini seolah-olah kau tidak akan pernah termaafkan." Cengkeraman Jongin di roda kemudi semakin erat, "Aku memang tidak akan pernah termaafkan."

"Kejadian itu sudah lama berlalu, lelaki itu bahkan mungkin sudah kehilangan kesedihannya dan menjalani hidup dengan bahagia..."

Jongin mengernyit menggelengkan kepala, membantah apapun yang berusaha diucapkan oleh adiknya. "Tidak. Aku yang merenggut semua kebahagiaannya. Sebelum semua bisa aku kembalikan kepadanya dalam kondisi utuh, aku tidak akan berhenti."

"Kau sungguh menyedihkan." Jinri menatap kakaknya dengan pandangan jengkel, merasa seperti kaset yang rusak karena mengulang-ulang kalimatnya terus-menerus, "Aku berdoa semoga suatu saat nanti laki-laki itu tahu, siapa yang berada di balik hidupnya yang berjalan dengan begitu mudah selama ini."

"Surat panggilan untukmu." Bibi Lee menyerahkan surat yang terbungkus rapi dalam amplop berbahan kertas mahal itu.

Oh Sehun mengernyitkan kening, dibacanya kop di amplop surat itu yang ditulis dengan tinta emas elegan dengan emblem lambang perusahaan yang sangat bonafit. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa konstruksi dan sangat terkenal. Sehun tahu emblem perusahaan ini, dan dia mengenal perusahaan ini, yang sering disebut-sebut oleh dosennya, dan juga sering muncul di berbagai media massa terutama yang menyangkut literatur bisnis dan keuangan.

Perusahaan ini benar-benar didirikan dari bawah, pemiliknya yang menurut gosip masih muda, memulai usaha ini setelah pulang dari sekolahnya di Amerika. Dia mendirikan perusahaan dengan sistem yang serupa dengan joint ventura dengan penanaman modal dari perusahaan asing yang bergerak di bidang sejenis. Dan kemudian dalam waktu lima tahun sudah merajai jajaran perusahaan konstruksi yang patut diperhitungkan.

Sebuah surat panggilan? Itu benar-benar membuat Sehun bingung, dia tidak pernah merasa mengirimkan lamaran ke perusahaan ini. Perusahaan ini terlalu bonafit untuk seorang fresh graduate seperti dirinya. Tapi bagaimana mungkin ada surat panggilan kalau dia tidak pernah mengajukan surat lamaran?

Bibi Lee tersenyum melihat keragu-raguan Sehun, "Sudah buka saja, mungkin isinya benar-benar panggilan kerja untukmu."

"Tapi aku tidak pernah merasa mengirimkan lamaran ke perusahaan ini, bu." Sehun terbiasa memanggil Bibi Lee dengan sebutan ibu.

Bibi Lee ini memang sudah seperti ibu kedua baginya, ketika dia sebatang kara dan kedua orang tuanya meninggal dulu, Sehun memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Kebetulan waktu itu seorang tetangganya mengenalkannya dengan Bibi Lee, seorang pegawai yang bertanggung jawab terhadap sebuah asrama putri yang saat itu sedang membutuhkan pembantu dan teman untuk menunggui asrama milik sebuah yayasan swasta tersebut.

Bibi Lee adalah seorang janda tanpa anak yang hidup sendirian, dan kehadiran Sehun sangat membantunya. Bahkan kemudian Bibi Lee mengusahakan beasiswa untuk Sehun agar dia bisa melanjutkan sekolahnya.

Dan kemudian semua terasa mudah bagi Sehun, beasiswanya terus berlanjut hingga Sehun bisa lulus kuliah, tentu saja sebagian biaya hidupnya harus Sehun tanggung sendiri. Dia sekolah sekaligus bekerja sebagai pegawai asrama putri tersebut, mengurus administrasinya, bahkan kadang menjadi pegawai kebersihan kalau sedang tidak ada tenaga kebersihan.

"Mungkin itu rekomendasi dari Universitasmu, kau kan lulusan terbaik." Bibi Lee tersenyum lembut, "Ayo, bukalah."

Dengan enggan dan sedikit takut-takut, Sehun merobek amplop itu, sebelumnya dia memastikan kalau amplop itu benar-benar ditujukan padanya. Setelah yakin dia mengeluarkan kertas surat yang tak kalah elegan dengan amplopnya itu dan mulai membaca isinya

Sehun mengerutkan keningnya, membacanya berulang-ulang. "Bagaimana?" Bibi Lee tampak begitu optimis dan penasaran, Sehun tersenyum, "Memang surat panggilan pekerjaan..."

"Kau harus datang."

"Tapi, bu... aku masih bingung..."

Bibi Lee menggelengkan kepalanya, menelan semua bantahan Sehun, "Tidak semua orang berkesempatan sepertimu Sehun, kau harus datang memenuhi panggilan kerja itu." Sehun terdiam, mengerutkan kening, tapi pikirannya melayang, hidupnya terasa begitu mudah, seolah-olah Tuhan mengulurkan tanganNya langsung dan membantunya.

Dia mendapatkan semuanya dengan begitu mudah, rumah asrama yang menampungnya gratis, beasiswa demi beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya, ibu asrama sebagai pengganti orangtuanya. Pekerjaan yang sangat fleksibel yang memungkinkannya bekerja sambil sekolah, sekaligus menyediakan uang untuk kebutuhan pribadinya. Dan sekarang, begitu luluspun, tawaran pekerjaan langsung datang kepadanya, dan tidak tanggung-tanggung, langsung di sebuah perusahaan bonafit berkelas tingggi.

Sehun tersenyum dan otomatis memandang ke atas, ke titik khayalan yang dibayangkannya, "Hei malaikat pelindungku," bisiknya pelan kepada langit, "Kau pasti sudah bekerja sangat keras, bernegosiasi dengan Tuhan untuk membuat hidupku begitu mudah, terima kasih ya..."

Sehun merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gugup. Bis yang dinaikinya tadi sangat penuh dan sesak sehingga penampilan Sehun jadi tidak serapi ketika dia berangkat tadi. Dan sekarang disinilah dia berdiri, di lobi mewah perusahaan ini dengan keragu-raguan dan kecemasan yang tampak jelas.

Aku telah berbuat kesalahan dengan datang ke sini, ini bukanlah tempatku...

Sehun mengusap keringat di dahinya ketika petugas resepsionis yang ramah tersenyum kepadanya, mengundangnya mendekat, "Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis itu mungkin kasihan melihat Sehun yang gugup dan kebingungan seperti salah tempat,

"Eh... ini..." Sehun mengeluarkan surat panggilan wawancara yang diterimanya kemarin. Dia mengeluarkannya dengan hati-hati seolah itu harta karun berharga dan menunjukkannya kepada sang resepsionis, "Saya mendapatkan panggilan wawancara di perusahaan ini hari ini."

Resepsionis itu menerimanya dan mengerutkan kening, dia adalah pegawai berpengalaman dan tahu, bahwa surat panggilan ini tidak main-main, dikirimkan langsung oleh sekretaris Presdir sekaligus pemilik perusahaan mereka. Bahkan ditandatangi langsung olehnya. Ini bukan surat main-main, ini surat penting...

"Sebentar, saya akan menelepon." Sikap resepsionis yang ramah dan mengasihani itu langsung berubah serius dan dia meninggalkan Sehun untuk mengangkat telepon.

Jantung Sehun langsung berdegup kencang, pikiran-pikiran buruk langsung menerpanya, apakah dia salah? Apakah surat itu surat palsu, mungkin sekedar lelucon untuk mengerjai Sehun? Astaga! Kenapa tak pernah terpikirkan di benaknya tentang kemungkinan itu? Sehun memandang sekeliling dengan gelisah, apakah dia akan diusir? Apakah dia akan dipermalukan?

Rasanya lama sekali ketika resepsionis itu akhirnya kembali dari belakang. Dia sudah berhasil menguasai diri rupanya, senyum ramahnya sudah kembali. "Wawancara akan dilakukan di lantai lima, saya akan meminta petugas kami untuk menemani anda ke atas."

Seorang petugas entah muncul dari mana dengan ramah menemani Sehun melangkah masuk ke lift menuju ke lantai lima.

"Mari tuan, silahkan duduk dulu di situ, saya akan memberitahukan kedatangan anda." Sehun duduk di sofa sambil tetap mengerutkan kening, memberitahukan kedatangannya? Kenapa seolah-olah dia adalah tamu yang sudah ditunggu dan bukannya salah satu calon pegawai yang akan menghadapi test? Dan dimana yang lainnya?

Sehun memandang ke sekeliling yang sepi, dia menyangka akan diwawancara bersama calon-calon pegawai lainnya, tetapi ternyata dia cuma sendirian,

"Silahkan tuan. Beliau berkenan menemui anda."

Masih dengan bertanya-tanya Sehun melangkah memasuki ruangan itu, sebuah ruangan rapat kecil yang mungkin difungsikan untuk mewawancarai calon pegawai.

Seorang wanita yang sangat elegan dan cantik menunggunya di sana, cantik sekali seperti model. Wajahnya sangat eksotis seperti perempuan Latin, dengan setelan kantornya yang terlihat mahal dan menarik.

"Selamat siang, silahkan duduk," gumamnya datar mempersilahkan.

Dengan canggung Sehun duduk di hadapan wanita itu, "Saya Jinri, HR Manager di perusahaan ini, mungkin anda bertanya-tanya kenapa anda bisa mendapat panggilan di perusahaan ini. Kami memperoleh rekomendasi dari universitas anda, bahwa anda adalah lulusan terbaik di sana."

Rupanya kata-kata Bibi Lee ada benarnya, dia dipanggil karena rekomendasi dari kampusnya...

"Baik, pekerjaan yang akan ditawarkan kepada anda adalah staff inti dari direksi. Maksud saya, anda akan bekerja sebagai bawahan langsung dari pemilik perusahaan kami..."

Otak Sehun serasa dicubit, Staff Direksi? kenapa untuk jabatan sepenting staff direksi, perusahaan ini mengambil seorang lulusan baru sepertinya? Bukankah untuk jabatan seperti itu biasanya sebuah perusahaan akan mengambil dan mempromosikan pegawainya yang sudah lama mengabdi untuk naik jabatan?

Tapi pertanyaan-pertanyaan di otak Sehun langsung terabaikan ketika dia berusaha berkonsentrasi penuh atas wawancara resmi yang mulai dilakukan oleh HR Manager yang cantik itu. Wawancara itu berlangsung lama, dan begitu resmi, Sehun menjawab semua sesuai kemampuannya, dan setelah pertanyaan terakhir dijawab, wanita bernama Jinri itu terdiam agak lama dan menatap catatan di mejanya.

Wanita itu lalu menatap Sehun lama seolah-olah ingin membaca isi hati Sehun, "Kalau anda diterima, seberapa cepat anda bisa mulai bekerja di perusahaan kami?"

Sehun tergagap, tidak menduga akan ditanya selugas itu, biasanya mereka akan menyalamimu, kemudian mengatakan akan melakukan evaluasi dan akan menghubungi beberapa waktu nanti bukan?

"Saya bisa kapan saja," jawab Sehun cepat. Jinri menganggukkan kepalanya, "Anda diterima, saya ingin anda siap dan mulai bekerja Senin depan. Cukupkah waktu untuk mempersiapkan semuanya? Dalam tiga hari?"

Sehun menganggukkan kepalanya meski masih merasa seperti mimpi, "Baik. Saya akan bersiap." Jinri berdiri dan mau tak mau Sehun ikut berdiri juga, wanita itu lalu menyalami Sehun dengan senyum aneh.

"Semoga sukses di perusahaan ini." Dia lalu melepaskan tangannya dan melangkah keluar, "Sampai bertemu lagi, anda bisa keluar sendiri kan." dan dengan langkah cepat dan tegas, setegas pembawaannya, wanita itu meninggalkan Sehun sendirian.

Meninggalkan Sehun yang masih terpaku di tengah ruangan itu, menahan keinginan kuat untuk mencubit dirinya sendiri, secepat ini prosesnya? Mimpikah ia...?

"Sudah beres," Jinri meletakkan berkas-berkas itu di meja Jongin. "Thank's," Jongin tersenyum menatap adiknya, "Bagaimana?"

"Dia kebingungan," Jinri mencibir, "Semua ini terlalu mudah, kalau aku jadi dia, pasti aku juga akan sebingung itu, dan kau sudah membuatku melanggar aturan perusahaan dalam merekrut pegawai."

Jongin tersenyum miris,

"Perusahaan ini punyaku, dan aku juga yang berhak menentukan penerapan aturan itu." Jinri mengangkat bahunya, "Yah... lagipula siapalah aku, bisa dibilang kau merintis perusahaan ini demi lelaki itu... sekarang keinginanmu sudah tercapai Jongin."

"Panggil aku Presdir Kim kalau berada disini."

Jinri meringis. "Dia pasti akan tahu suatu saat nanti, Jongin," dengan keras kepala Jinri tetap memanggil kakaknya dengan panggilan 'Jongin".

"Ayah kita bisa dibilang pengusaha dengan nama besar. Suatu saat nanti dia pasti akan bisa menghubungkan namamu dengan nama ayah, dan identitasmu pasti akan terbongkar." Jongin diam tidak membantah kebenaran yang terasa jelas di ucapan Jinri, matanya menerawang.

"Dia akan tahu, nanti, setelah aku bereskan semuanya untuknya."

"Dan kau pikir dia akan berterimakasih padamu nantinya?"

Jongin menggeleng dan tersenyum.

"Ini bukan tentang pemberian dan rasa terima kasih... ini tentang hutang yang dibayar, Jinri. Dan tidak pernah ada orang yang wajib berterimakasih atas hutangnya yang dibayarkan. Yang ada, yang berhutang itulah yang wajib mengucapkan terima kasih."

Jinri mendesah, menatap kakaknya dengan sedih.

"Aku hanya bisa mendoakanmu, semoga semua baik-baik saja," dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, sambung Jinri dalam hati.

Meskipun dia mulai merasa tidak yakin, sebab kalau seperti kata orang-orang bahwa Tuhan itu Maha Pemaaf, kenapa Dia membiarkan kakaknya menanggung dosa dan rasa bersalahnya selama bertahun-tahun?

"Ini ruanganmu," Seorang laki-laki yang lebih tua namun memiliki badan lebih pendek dari Sehun menunjukkan sebuah ruangan kecil di sudut yang terletak di lantai paling atas gedung megah itu.

"Seluruh staff direksi berjumlah delapan orang –termasuk dirimu, kami bertugas untuk memfasilitasi kegiatan pemilik perusahaan ini, yaitu Presdir Kim. Tugasmu adalah membantu Yuri, sekretaris direksi terutama karena dia akan cuti hamil beberapa bulan lagi. Kau harus bisa mem-back up semua pekerjaannya selama dia cuti nanti. Jadi sekarang dia yang akan menjadi mentormu," kata laki-laki itu, yang ternyata bernama Do Kyungsoo.

Ia mengedikkan bahu ke arah seorang wanita muda yang tadi tidak sempat dilihat oleh Sehun, Yuri, wanita muda cantik yang kelihatan montok karena sedang hamil besar itu tersenyum padanya, dan Sehun merasa lega karena mentornya itu kelihatannya sangat baik.

"Kyungsoo memang kelihatan ketus, tapi dia sangat baik, dia bisa dibilang wakil direktur utama disini. Dia yang menghandle semuanya kalau Presdir Kim sedang tidak ada di tempat," Yuri menjelaskan sambil tersenyum ketika mereka duduk bersama dan wanita itu menerangkan tugas-tugasnya.

"Pemilik perusahaan ini namanya Presdir Kim –Kim saja?" Sehun sudah tahu sebenarnya, karena penasaran kemarin dia membeli dan membaca berbagai majalah bisnis yang menyangkut perusahaan ini. Dan sesuai dengan keterangan dosennya sewaktu mencontohkan perusahaan ini sebagai materi kuliahnya, pemilik perusahaan ini masih muda. Muda dan cemerlang karena bisa membangun bisnis sesukses ini dalam waktu yang begitu singkat. Namun anehnya, sampai saat ini nama lengkapnya tidak diketahui, dan itu mau tak mau membuat Sehun penasaran.

"Ya, Kim saja. Kau akan sering bertemu dengannya nanti, apalagi saat aku cuti melahirkan nanti. Bisa dibilang pekerjaanmu adalah mengatur seluruh jadwal dan keperluannya," Yuri tersenyum dan matanya menerawang, "Jangan kuatir, Presdir Kim tidak seketus Baekhyun, dia sangat baik dan tenang, tidak pernah meledak amarahnya... dan sangat tampan karena ibunya berdarah Spanyol, bayangkan pria-pria Spanyol yang sexy itu." Yuri mengedip nakal.

"Biarpun beliau sedikit murung, seperti ada sesuatu yang selalu tersimpan di benaknya, membuatnya susah tersenyum, tapi walaupun begitu..." Yuri mengedipkan matanya lagi, "Dia adalah bujangan paling diincar disini. Yah, dia begitu misterius, bahkan untuk urusan nama, aku saja yang sudah lumayan lama bekerja di sini tidak tahu siapa namanya yang sebenarnya," Yuri mendesah, "Tapi justru itulah yang membuat Presdir kami memiliki banyak penggemar. Sayang dia begitu penuh rahasia, tidak pernah terlihat dia dekat dengan siapapun."

Sehun mengernyit, muda, kaya, sukses, dan cemerlang, tetapi tidak pernah dekat dengan satu wanita pun?

Yuri tertawa, bisa membaca apa yang ada di pikiran Sehun, "Yah, tebakanmu benar dia seorang gay," bisiknya pelan dan Sehun dapat mendengar nada kecewa dari sana yang entah mengapa membuatnya sedikit bergidik. "Sebenarnya ini rahasia, tapi aku pernah mengatur beberapa pertemuan beliau dengan para lelaki cantik dari kalangan atas. Tapi hubungan mereka sambil lalu saja, Presdir Kim tidak pernah menjalin hubungan yang lama dengan satu lelaki," Yuri menghela napas dengan dramatis.

"Lelaki setampan itu... dan kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya Sehun, daripada kau nanti patah hati seperti yang dialami beberapa karyawan di sini yang berani memendam perasaan kepada Presdir Kim. Mereka semua berujung patah hati, karena Presdir Kim sedikitpun tidak akan melirik mereka."

Aku tidak akan jatuh cinta kepada 'Presdir Kim' itu. Sehun tersenyum dikulum, berpikir dalam hati, dari ceritanya, lelaki itu terdengar terlalu sempurna. Sempurna dan pemurung, ralatnya.

Sekalipun ia juga memiliki orientasi seksual yang sama, Presdir Kim yang diceritakan oleh Yuri jelas sama sekali bukan tipe lelaki idaman Sehun. Karena kekasih yang diimpikannya adalah lelaki biasa, yang ceria dan bisa membuatnya tertawa setiap saat.

Dan lelaki itu bukan Presdir Kim, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. Sehun merasa yakin. Meskipun keyakinan manusia kadangkala bisa bertentangan dengan kehendak Tuhan…

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Kimoy's Note

.

.

.

Thanks to :

hun12han20selu; Keteknyakai; HilmaExotics; exolweareone9400; kjinftosh;
KaiHunnieEXO; Dazzling Kaise; MinnieWW; Kim Sohyun; MaknaEXO; ohhanniehunnie;
Rofa575; Rilakkuma8894; ; rytyatriaa; Jongin's Grape
mamasehun1214; ohxoho; sehunskai; CatMeowGirl; alv; Baby Hanna;
Sekar Amalia; YunYuliHun; Icha; Kimoh1412;
Nagisa Kitagawa; Yehet.

.

.

.

Halooo guys!^^ Terharu banget rasanya ngeliat ada yang mau baca ff hasil remake saya :') Apalagi yang udah
review makasih banyak yaa^^ Dan maaf kalau saya belum sempet bales hehe, janji deh secepetnya bakal saya balesin

And btw guys! seperti yang udah kalian ketahui ff ini rate-nya M, dan karena ini boyxboy makanya
ada beberapa bagian yang harus saya ubah meski ngga nyampe ngubah alur cerita sebenernya of course. But...di bagian NC-nya ada bagian yang mau saya frontalin/? Misalnya ada kata 'kejantanan' saya ubah jadi 'penis' gitu... biar lebih jelas/?
Dan untuk project ff ini ke depannya, rencananya saya bakal update satu apa dua kali seminggu

Okay cukup segini aja Kimoy's note, see you in next chapter^^