Bagi Ayahnya, menuntaskan pendidikan akademisnya adalah suatu kewajiban. Bagi Hinata, itu semua adalah tujuan hidupnya agar tidak ada lagi yang memandangnya sebelah mata. Itulah sebabnya gadis pemilik rambut sewarna indigo ini memutuskan mengambil program studi manajemen bisnis setelah ia lulus setahun yang lalu dari jenjang senior high school. Apapun artinya, kesimpulannya hanyalah satu. Hinata harus menyelesaikan pendidikan yang ia tuju kini, suka ataupun tidak.
Oleh sebab itu, ketika seorang laki-laki bermata onyx memaksanya untuk menjadi seorang model, hanya ada satu kalimat yang menari-nari di dalam kepala putri sulung keluarga Hyuuga.
Bencana!
#
.
Model oleh Clarette Yurisa
Naruto © Masashi Kishimoto
AU, Alur berantakan, OOC
.
#
"Aku tidak butuh jawaban eh-mu itu," ucap Sasuke sembari menatap datar Hinata.
Hanabi menggigit bibir bawahnya. Gadis belia ini terlihat bingung; antara mempercayai kata-kata Sasuke atau tidak. "Kau agensi model?" tanyanya pada akhirnya dengan raut penasaran.
Sasuke menggelengkan kepalanya pelan.
Hanabi segera menunjukkan sikap siaga ketika Sasuke menjawab pertanyaannya. "Abaikan saja, Hinata-neechan. Mungkin orang ini hanya pura-pura ingin menjadikanmu model. Padahal niat sebenarnya ia ingin menculikmu lalu menjualmu," tutur Hanabi tanpa mengecilkan volume suaranya sedikitpun.
Kening Sasuke berdenyut kesal. "Aku bukan orang tidak bermoral seperti yang kau sebut barusan."
"Lantas?" Hanabi menaikkan dagunya, menentang Sasuke.
Pria itu segera mengeluarkan dompetnya sebelum memberikan sebuah kartu nama pada kedua gadis yang ada di hadapannya. "Aku membutuhkan Kakakmu ini untuk menjadi model saat acara fashion show yang akan diadakan besok di sini. Itu adalah kartu namaku."
Hanabi membulatkan matanya. "Uchiha, eh?"
Lagi-lagi Sasuke mengernyitkan dahinya. "Ada masalah dengan nama keluargaku?"
Hanabi kali ini menggelengkan kepalanya antusias sebelum menatap Hinata yang masih memandangi kartu nama itu lekat-lekat. "Ne, ne, Hinata-neechan. Bagaimana kalau kau menyetujuinya?"
Hinata kali ini menatap Hanabi dengan pandangan kaget. "Ti-tidak mungkin. Kalau C-Chichi tau, pa-pasti gawat."
Adik Hinata itu terdiam sebentar. Memang benar apa yang dikatakan Hinata. Kalau sampai Ayah mereka tahu, Hinata pasti akan dimarahi habis-habisan. Model adalah salah satu dari sekian banyak pekerjaan yang tidak Hiashi sukai. Beliau menginginkan kedua anaknya berprestasi cukup hanya di bidang akademis saja. Selain itu, jangan harap.
"Aku bisa membicarakan hal ini dengan Ayahmu," sahut Sasuke.
Kedua gadis itu membelalakan bola matanya. "J-jangan! Aku su-sudah memutuskan k-kalau aku tidak mau," seru Hinata.
"Aku tidak terima penolakan."
Hinata menggigit bibirnya sebelum berkata, "kalau be-begitu, a-aku tidak m-menerima paksaan."
Setelah itu Hinata memilih untuk meninggalkan Sasuke seorang diri sembari menarik paksa tangan adiknya tanpa menghiraukan jawaban pria itu. Benak gadis bermata lavender itu mendadak kembali terkenang dengan cita-citanya dahulu.
.
Hinata merasa diikuti. Bukan, Hinata bukannya merasa paranoid. Hanya saja, memang kenyataannya seperti itu. Selama Hinata masih berada di Konoha Mall, selama itu pula Hinata mendapati sosok Uchiha Sasuke berkeliaran di sekelilingnya.
"Ha-Hanabi, s-setelah ini kita pulang saja, y-ya?"
Gadis yang masih menduduki bangku senor high school itu menghela napasnya tatkala menyadari kegelisahan Hinata. "Memang Hinata-neechan benar-benar tidak mau, ya? Umm… menjadi model seperti yang ditawarkan Uchiha itu."
"Kamu y-yang paling m-mengerti Chichi, Hanabi. K-kalau aku me-menyetujui tawaran U-Uchiha-san dan Chichi m-mengetahuinya, p-perjuanganku selama i-ini sia-sia saja, Hanabi. U-untuk apa aku r-repot-repot mengambil study d-di bidang bisnis. K-kau tahu kalau i-impianku adalah m-menjadi designer," ucap Hinata panjang lebar sebelum menyedot minuman yang dipesannya.
Hanabi menghentikan suapannya. "Justru karena itu, Hinata-neechan. Model dan designer adalah dua hal yang saling berkaitan."
Hinata tersenyum tipis. "M-memang benar. Sa-sayangnya m-meskipun berkaitan, d-dua hal itu be-berbeda."
"Kalau aku jadi Nee-chan, aku pasti lebih memilih melanjutkan mimpiku ketimbang mengurus perusahaan keluarga. Mengerjakan sesuatu yang sama sekali bukan keinginan kita, pasti tidak akan menyenangkan," Hanabi menyahut, mengemukakan pendapatnya.
"T-tidak menyenangkan, bu-bukan berarti a-aku juga t-tidak senang. J-justru aku m-merasa senang, ka-karena ini a-adalah satu-satunya c-cara untuk m-membuktikan ka-kalau aku ti-tidak bisa mereka re-remehkan."
Hening.
"Aku lupa kalau Nee-chan mendapat tekanan dari keluarga besar. Mereka itu memang menyebalkan ya, Hinata-nee. Tenang saja, Hinata-nee, aku yakin kalau kau bisa memimpin perusahaan Hyuuga lebih baik dibanding siapapun yang pernah memimpinnya. Mereka bicara seperti itu karena mereka iri, mereka tidak bisa seperti Nee-chan yang sudah dipastikan untuk mengurus perusahaan setelah Chichi pensiun nanti," terlihat Hanabi menatap Hinata sambil mengobarkan aura semangat yang membuat Kakaknya itu tertawa kecil.
"Lagipula…"
Hinata menatap penasaran pada Hanabi yang memandangnya lekat-lekat.
"Aku sama sekali tidak keberatan kalau Hinata-nee memutuskan untuk melanjutkan mimpimu. Kalau mengenai perusahaan, aku yakin aku bisa menggantikan Hinata-nee. Aku tidak ingin Hinata-nee mengorbankan kebahagiaanmu lagi."
Hinata terpana.
"Aku sayang Hinata-nee. Aku tidak suka melihat Hinata-nee tertekan seperti sekarang ini. Aku tahu kalau Hinata-nee masih menyimpan keinginan untuk mewujudkan impian itu. Hanya saja… Hinata-nee terlalu memaksakan diri."
Hinata masih tidak bisa menemukan suaranya.
"Aku pikir, setidaknya Hinata-nee bisa berhenti sekarang sebelum semuanya terlambat. Tidak hanya aku, Neji-niisan juga pasti akan mendukung keputusan Hinata-nee untuk menjadi seorang perancang busana."
"A-aku… t-tapi aku t-tidak bisa," Hinata menggelengkan kepalanya.
"Pikirkanlah kembali, Hinata-nee. Setidaknya, dengan menyetujui tawaran Uchiha itu, Nee-chan bisa selangkah lebih dekat dengan cita-cita Nee-chan. Aku mohon, pikirkanlah kembali. Aku… hanya ingin Hinata-nee bahagia dengan hidup yang Nee-chan jalani."
.
Hinata tidak tahu, apakah ia harus senang atau bingung ketika memorinya kembali memutar perbincangan antara dirinya dengan adiknya. Di satu sisi, Hinata merasa ucapan Hanabi ada benarnya.
Hinata memang senang, tapi ia tidak bahagia. Bisnis bukanlah apa yang Hinata cita-citakan semenjak ia kecil. Merancang busanalah impiannya, hidupnya, cita-citanya. Namun Hinata tidak bisa semudah itu menghentikan semua pengorbanannya.
Pandangan meremehkan itu kembali bermunculan dalam benak Hinata. Kalau Hinata memutuskan untuk keluar dari kuliahnya dan beralih untuk mempelajari tentang cara merancang busana, seluruh keluarga besar Hyuuga akan semakin menatapnya dengan sebelah mata. Sayangnya, itu adalah hal terakhir yang Hinata harapkan.
Selama sembilan belas tahun hidupnya, baru satu kali ia mendapati pandangan meremehkan itu hilang. Tepatnya ketika ia berhasil lulus ujian saringan masuk di salah satu Universitas ternama Jepang dengan jurusan Manajemen Bisnis. Perasaan bangga memenuhi dirinya tatkala itu. Hanya saja, Hinata justru merasa hatinya kosong.
Gadis bersurai indigo itu menghela napasnya ketika Hanabi memintanya untuk berpikir ulang. Apa lagi yang harus ia pikirkan? Hinata sudah mengorbankan segalanya demi menunjukkan bahwa ia bukanlah keturunan Hyuuga yang gagal. Lalu setelah ia selangkah lebih maju, haruskah ia menghentikan ini semua demi menggapai impiannya?
Rasanya semua usaha yang telah dilakukannya terasa sia-sia.
Hinata ingin sekali mengutuk pria bermarga Uchiha itu karena sudah muncul di hadapannya dan adiknya. Kalau saja mereka tidak bertemu, ia pasti tidak perlu berada dalam kondisi seperti ini. Kondisi kala ia kembali merasa bimbang akan tiap keputusan yang telah diambilnya.
Mendadak nada dering ponselnya mengudara di kamarnya. Hinata segera bangkit sebelum keningnya berkerut kebingungan. Sebuah nomor tanpa nama sedang menunggunya untuk mengangkat panggilan itu.
"Moshi-moshi," Hinata pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat teleponnya.
"Kuharap kau memikirkan perkataan Adikmu untuk berpikir ulang mengenai tawaranku."
Hinata mendesah kesal. "D-darimana kau ta-tahu nomorku?"
"Adikmu yang memberitahuku."
Hinata menggigit bibirnya.
"Temui aku besok jam 9 pagi di Konoha Mall kalau kau memutuskan untuk menerima tawaranku. Sampai jumpa besok, Hyuuga Hinata."
Setelahnya sambungan itu terputus dan menyisakan Hinata yang kembali larut dalam lamunannya.
.
uh, okay, pada akhirnya saya mutusin buat ngejadiin fict ini sebagai multichapter. setelah banyak yang bilang kalo endingnya ngegantung abis, dan saya juga ngerasa kayak gitu, saya putusin buat ngelanjutin fict ini. hahahaha maapin aje ya authornya gak konsisten begini, parah deh ah -_-v
yosh, chapter ini Yurisa persembahin buat kalian, para reviewers sekalian yang sebagian besar bilang fict ini gantung dan beberapa minta lanjut. ini untuk kalian semua gais: lightning chrome, Guest, Yukori Kazaqi, Misaki Takeru, FP GUDANG FANFIC SasuHina-Indo, wiendzbica, cecil hime, n, Niezsya dan terakhir buat Kurokami Hime yang udah ngerelain waktunya untuk review fict ini lewat PM. terima kasih banget ya semuanyaaa. Tanpa kalian, saya yakin kalo saya gak akan pernah punya niatan buat ngelanjutin cerita ini.
okeeey, ditunggu reviewnya ya gaissss :D
