I silently sit and think about us and how we became this way
I sit still and close my eyes and think of you, your face and us two
I pace back and forth again and think about us and how became this way
We can never turn it back now, what to do, what to do?
Eunhyuk dan Donghae saling melempar pandang. Keduanya bingung dengan atmosfir yang dibawa oleh namja termuda di band mereka. 10 menit yang lalu, Kyuhyun masuk ke dalam kamar Donghae tanpa sepatah katapun. Eunhyuk yang kebetulan sedang bersama Donghae menikmati waktu berdua, hanya bisa protes kepada Kyuhyun. Namun protesnya hanya dianggap angin lalu oleh namja yang kini sedang berbaring disamping pasangan yang baru saja mengeluarkan album di Jepang.
"Kau kenapa?" Tanya Donghae sembari memposisikan dirinya jadi bersila. Eunhyuk pun mengambil posisi yang sama.
"Tidak." Kyuhyun memejamkan matanya, mengambil opsi untuk tidak mengacuhkan kedua hyung sekaligus teman mainnya ini.
Eunhyuk menatap Donghae dan mengisyaratkan agar mereka berdua kembali diam. Kedua orang itu paham, pasti ada yang salah dari magnae ini. Bukan sekali dua kali Kyuhyun 'hinggap' di kamar Donghae, Ryeowook, ataupun Heechul semenjak seminggu yang lalu. Namja pecinta wine itu seperti menghindari lantai tempat dia tinggal.
"Kenapa semua orang belakangan ini selalu bertanya, kau kenapa? Ada apa denganmu, Kyu?" Ucap Kyuhyun bermonolog pada dirinya sendiri. Ya walaupun dia tahu kalau Donghae dan Eunhyuk yang berada disampingnya juga pasti ikut mendengar. "Bisakah mereka tahu bahwa aku hanya ingin diam?"
Eunhyuk memandang bingung pada Kyuhyun yang kini sudah membuka matanya, "belakangan ini, lebih tepatnya seminggu ini kalau aku tidak salah, kau selalu diam. Tidak seperti magnae yang kita kenal."
"Bukankah itu yang kalian mau? Kalian selalu berteriak 'bisakah kau diam, Kyuhyun?!' saat aku sedang berbicara. Sekarang aku diam, kalian malah begini." Kyuhyun mendecih pelan sebelum berdiri dari posisinya dan memilih duduk dibangku dekat jendela.
"Kalian bertengkar?"
Kyuhyun memicingkan matanya ke arah namja kelahiran oktober yang baru saja bersuara. "Kalian?"
"Kau dan Sungmin Hyung. Siapa lagi?"
Eunhyuk ikut mengangguk, menyetujui perkataan Donghae.
"Kami sudah berpisah."
"APA?!"
"Oppa."
Sungmin mengalihkan pandangannya dari botol mineral yang ia pegang, kepada seorang gadis yang sudah bersamanya selama dua bulan ini. "Ada apa, Ji Hoonnie?"
Gadis itu tersenyum kecil mendengar namanya dipanggil semanis itu, belum lagi jemari lelaki yang telah mencuri hatinya itu kian terasa membenarkan surai rambutnya.
"Tidak. Hanya ingin memanggilmu saja. Habisnya kau menatap botol itu terus. Apa dia lebih cantik dari aku, hm?" Tanya gadis bernama Ji Hoon itu. Tanpa takut dicurigai karna kini mereka sedang berada di ruang istirahat yang disediakan oleh staff Summer Snow, Ji Hoon meletakkan kepalanya di bahu Sungmin.
DEG
"Sungmin.."
"Sungminnie..."
Terlihat namja berparas tampan sedang memanggil namja yang sedari tadi menatap ke jalanan dibawah sana. Namja itu kekasihnya yang sudah 4 tahun bersamanya.
Menyadari bahwa sedari tadi dia tidak dipedulikan, Kyuhyun, nama namja itu, mengambil langkah untuk mendekati dan memeluk dari belakang namja manis yang sedari tadi membelakanginya,
"Kyu?" Sungmin, nama namja manis itu terkesiap merasakan sepasang tangan hangat yang telah melingkar di lengannya. "Kenapa, hm?"
"Kau ini.. Sedari tadi aku memanggilmu. Tapi kau malah terus menatap jalanan itu. Apa jalanan itu lebih tampan dan menarik dari kekasihmu ini, hm?" Kyuhyun mengecup tengkuk Sungmin sembari memeluk lebih erat tubuh kekasihnya ini.
Sungmin terkekeh kecil mendengarnya, ia usap dengan lembut lengan Kyuhyun. "Tidak ada yang semenarik dan setampanmu di mataku, Kyu."
"Oppa? Sungmin Oppa?"
"Ah, iya? Maaf aku melamun, Ji Hoon..." Sungmin mendecih perlahan, bisa-bisanya dia melamunkan kenangan tiga tahun lalu dihadapan kekasih barunya dan, siapa yang tadi ada di lamunannya?
Kyuhyun.
"Kau ada masalah, Oppa?" Ji Hoon bertanya sembari menghapus keringat di dahi Sungmin dengan sapu tangannya.
"Masalah?"
"Beberapa hari ini, setelah kau kembali dari korea, kau terlihat sering melamun. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Ji Hoon sembari menatap wajah tampan kekasihnya dengan ingin tahu.
Sungmin kembali diam. Dia juga merasa bahwa rasanya belakangan ini dia tidak ada gairah untuk melakukan aktivitas. Semuanya terasa hampa dan seperti ada yang hilang dari hidupnya.
'Kyuhyun..'
Nama itu terlintas lagi di otaknya. Bukan, ini bukan kedua kalinya Kyuhyun melintas dan bahkan tinggal di otak Sungmin. Bahkan, namja itu tidak pernah hilang dipikirannya. Apalagi wajah itu, wajah yang mengisyaratkan cinta, kekecewaan, kepedihan, dan kemarahan yang tertera di Kyuhyun saat namja itu memandang Sungmin seminggu yang lalu.
Sungmin menghela nafas panjangnya. Pantas saja hari-harinya terasa berbeda, bukankah seminggu ini tidak pernah ada yang memanggilnya Sungminnie semanis Kyuhyun memanggilnya. Tidak ada id caller bertuliskan Kyuhyunnie yang mampir di handphonenya. Atau sekedar teks pesan bertuliskan 'Aku merindukanmu'.
Sungmin mengeratkan genggamannya pada botol mineral yang ia genggam. Kenapa jadi seperti ini? Bukankah dulu dia menganggap panggilan itu biasa? Bukankah dulu dia menganggap Kyuhyun terlalu sering menelfon atau mengirimnya pesan? Bukankah dulu dia ingin suasana baru? Kenapa sekarang dia merindukannya?
"Oppa? Sungmin Oppa?!"
Sungmin terkesiap mendengar teriakan Ji Hoon dan merasakan jemari gadis itu menghapus air mata di pipinya. Apa, air mata?
"Kau menangis, Oppa... Ada apa? Kau bisa cerita kepadaku. Aku disini, Oppa." Gadis itu memandang pilu wajah Sungmin yang pias. Hatinya ikut miris melihat lelaki yang ia sayangi ini menangis.
Sungmin diam, tidak menjawab pertanyaan gadis disampingnya yang masih sibuk menghapus air mata yang tak berhenti. Dia mengambil jemari Ji Hoon yang tengah berada di wajahnya, dia lepas jemari itu dan berdiri dari duduknya. "Aku pergi dulu."
Ji Hoon memandang bingung kepada punggung Sungmin yang kini telah hilang dari balik pintu itu. Sungminnya berbeda, tidak seperti Sungmin yang dulu begitu ceria di hadapannya.
Ada apa?
Kyuhyun mengernyitkan dahinya saat melihat nomor kode negara Jepang yang tertera di layar handphonenya. Siapa?
"Hallo?" Kyuhyun mengangkat telfonnya, sembari jemarinya yang lain terus menari lincah di laptop kesayangannya. Ini sudah tengah malam dan dia tidak bisa tidur.
"Kyuhyun? Ini kau?"
Kyuhyun menelan ludahnya. Seketika jemarinya terasa kaku digerakkan dan membiarkan tokoh di dalam gamenya tersebut mati diserang lawan.
Ini suara Sungmin. Suara yang sangat ia rindukan seminggu ini. Suara seseorang namja manis yang tak pernah jauh dari jangkauannya selama 7 tahun ini. Tapi ini juga suara yang telah menghancurkan kepercayaannya. Suara yang telah tega merobek kertas impian yang telah Kyuhyun rangkai berdua dengannya.
"Kyuhyun, apa kabarmu? Kau makan dengan baik? Kenapa masih bangun jam segini? Bukankah besok kau ada recording? Ka-"
"Berhenti."
Kyuhyun bisa merasakan nafas Sungmin tercekat disebrang sana. Tapi, bukankah ini seperti Sungmin mempermainkannya? Berselingkuh selama dua bulan di belakangnya dan kini Sungmin menaruh banyak perhatian padanya? Kemana Sungmin yang cuek selama dua bulan ini?
"Kau masih mengkhawatirkanku?" Tanya Kyuhyun sembari mengepalkan tangannya. Ya Tuhan, sungguh dia tidak kuat berbicara sedingin ini pada Sungmin. Tapi Sungmin pantas mendapatkannya.
"Ya. Aku masih menci-"
"Mencintaiku?"
"Ya,Kyu. Sangat mencintaimu."
Kyuhyun tersenyum simpul. Betapa dia merindukan kalimat itu terucap dari bibir Sungmin dengan manisnya. Hatinya luluh, rasa amarah yang ia bendung kini sedikit demi sedikit mencair setelah mendengar suara Sungmin yang seperti nyanyian merdu ditelinganya. Ia akui dia kalah, karna memang Lee Sungmin selalu bisa mengalahkannya.
"Min-"
"Oppa? Kau menelfon siapa sih? Aku sudah siap."
Kyuhyun tersentak. Suara gadis disebrang telfonnya itu terasa jelas ditelinganya. Ji Hoon. Siapa lagi? Kyuhyun terkekeh kecil sembari menjauhkan handphonenya dari telinganya dan memilih memencet tombol merah.
"Bodoh sekali." Kyuhyun masih terus terkekeh bahkan kini tertawanya semakin keras. "Kau berharap dia hanya mencintaimu seorang, Cho? Bodoh."
BRAK
PRANG
Kyuhyun menyingkirkan semua yang berada di meja nakas didekatnya dengan sekali dorongan. Dia marah, dia kesal. Kenapa Sungminnya tega melakukan ini kepadanya? Apa semua perhatian, cinta, dan kasih sayang yang ia berikan selama 7 tahun ini terasa semu di mata Sungmin?
Kedua tangannya bertumpu pada meja. Nafasnya tersengal dan keringat mengucur di keningnya padahal suhu di luar dan di kamarnya sama dinginnya.
"Ini gila. Bisa-bisanya kau berbuat begini kepadaku, Sungmin? Apa salahku?"
You already forgot me
You are so happy with someone else
Are you having no trouble, the breakup, is it only difficult for me?
Sungmin menghela nafasnya, entahlah sudah berapa kali dia seperti ini hari ini. Tapi ini sungguh terasa konyol. Tidak pernah dia merasa seperti orang bodoh seperti saat ini. Tidak dia hiraukan ajakan Ji Hoon yang sudah siap didepan lobby hotel. Tatapan foxynya masih terus menatap layar handphone yang meredup, menandakan seseorang disebrang sana telah mematikan telefonnya.
Pasti Kyuhyun mendengar suara Ji Hoon yang memanggil namanya. Ya, pasti Kyuhyun mendengar itu semua dan... entahlah.
"Oppa?" Ji Hoon kini berdiri di hadapan Sungmin. Gadis itu sudah cantik malam ini karna memang sudah dari jauh hari sepasang kekasih ini merencanakan dinner untuk malam terakhir mereka di Jepang bulan ini.
Sungmin memandang kosong wajah Ji Hoon. Moodnya meluap entah kemana saat memikirkan bagaimana Kyuhyun disana. Apa lelaki itu marah? Jelas, itu sudah jelas, Sungmin.
"Ji Hoonnie.."
"Ya, Oppa?"
"Oppa rasa Oppa tidak enak badan. Bisa kita dinnernya lain waktu?"
Siwon menatap bingung kepada Kyuhyun yang sedang duduk disalah satu cafe kegemaran para member Super Junior. Kyuhyun selalu bersemangat bila diajak kesini, karna memang makanan yang ada di cafe ini adalah kegemaran Kyuhyun. Itu alasannya kenapa Siwon dan Kangin membawa Kyuhyun yang sudah dua minggu ini murung dan dingin.
"Masih tak mau bicara?" Tanya Kangin setelah kembali dari mengorder di counter. Siwon hanya mengendikkan bahu dan memilih memainkan handphonenya. Bukannya dia cuek kepada dongsaeng kesayangannya ini, hanya saja seluruh obrolan sudah dia keluarkan untuk membuat Kyuhyun bicara. Tapi yang ada hanya gumaman yang keluar dari namja yang berstatus single itu.
"Kyuhyun, aku dan Siwon membawamu kesini bukan untuk didiamkan olehmu." Kangin bicara dan mencondongkan kepalanya ke arah namja yang enggan menatapnya.
"Kyuhyun.. aku bicara padamu." Kangin menggeram. Dia memang kasihan pada namja yang baru saja berpisah dengan salah satu dongsaengnya ini, tapi bukan berarti Kyuhyun harus terus-terusan bersikap seperti ini. "Kyuhyun!"
"Ah, ya, Sungminnie?"
Siwon dan Kangin saling tatap dan terkekeh kecil menyadari bahwa sedari tadi Kyuhyun memikirkan namja manis yang sudah lama tidak pulang ke dorm itu.
"Kyuhyun, Kyuhyun. Kau masih mencintai Sungmin begini. Kenapa memilih berpisah?" Tanya Siwon sembari tersenyum pada salah satu waitress yang mengantarkan minuman mereka. "Terimakasih."
Kyuhyun mendecih menyadari kebodohannya dan memilih untuk mengabaikan perkataan Siwon.
"Kau tidak mau berjuang untuk mempertahankan Sungmin dulu?" Kangin kini yang bertanya sambil mencomot kentang yang masih panas. "Bisa saja kalau kau mempertahankan Sungmin, dia jadi memutuskan kekasih barunya itu. Siapa namanya, Siwon?"
"Lee Ji Hoon, Hyung."
"Nah itu."
Kyuhyun memandang satu persatu Hyungnya yang berwajah tampan dihadapannya. Dia sedikit tersenyum tipis menyadari bahwa mereka bertiga seperti teman satu sekolah yang sedang menghibur salah satu temannya.
"Hyungdeul, aku ini memilih menyerah bukan karna apa. Tapi karna aku merasa sia-sia. Buat apa mempertahankan hubungan yang hanya aku sendiri yang berusaha mempertahankannya?" Kyuhyun mengaduk minumannya sembari mengigit bibir bawahnya. Dia terlalu gengsi untuk membiarkan lolosan kepedihan meluap bila mengingat Sungmin.
"Sungmin masih mencintaimu, Kyuhyun." Ucap Siwon dengan penuh penekanan.
"Ya, dan juga mencintai kekasih barunya." Kyuhyun tersenyum simpul sembari mencomot kentang yang keburu habis bila terus dibawah naungan Kangin.
"Tidak, aku serius. Sungmin terus menelfon dan mengirim pesan kepadaku. Dia menanyakan bagaimana keadaanmu karna kau tidak pernah menjawab telfon dan pesan darinya." Tutur Siwon yang disetujui oleh Kangin.
"Sungmin hanya sedang mencari jati dirinya, Kyu. Dia hanya belum menemukan mana yang terbaik untuk dirinya." Ucap Kangin.
Kyuhyun menghela nafas. Kenapa sepertinya mereka membela Sungmin, huh?
"Oke, bila Sungmin mencari jati diri, aku paham. Tapi apa harus mengkhianatiku? Apa harus berselingkuh dan membiarkan semua netizen tahu hubungan mereka sedangkan hubungan aku dan dia yang sudah 7 tahun lamanya selalu tersimpan tanpa tahu kapan akan diumbar, huh?" Kyuhyun mengusap kasar wajahnya, "kau tahu, Hyungdeul. Aku masih sangat mencintai lelaki di luar sana yang entah sekarang mungkin sedang bermesraan dengan wanita lain. Aku masih mencintainya. Sangat. Tapi aku bukan orang bodoh yang bisa menerima ini semua, Hyungdeul."
Kangin dan Siwon masing-masing menatap tubuh Kyuhyun yang beringsut berdiri dari duduknya dan mengeluarkan lembaran ribuan won sebelum keluar dari cafe ini tanpa sepatah katapun.
"Biarkan dulu. Mereka berdua sedang kalut sekarang." Ucap Kangin kepada Siwon yang berniat untuk mengejar Kyuhyun. "Kau tahu dimana Sungmin? Aku sudah lama tidak melihatnya semenjak dia sibuk di Jepang. Aku dengar dari Eunhyuk juga dia tidak pulang ke dorm walau sudah di Korea."
"Sungmin Hyung sedang di rumah keluarganya. Dia takut bertemu Kyuhyun, katanya." Jawab Siwon sembari menyeruput kembali ice coffe pesanannya, "dan kabar terakhir yang aku dapat, dia sakit, Hyung."
Ji Hoon tersenyum manis pada salah satu penjaga rumah di rumah besar milik keluarga Lee Chunhwa. Di dalam genggamannya sudah ada satu boks kue dan sebuket bunga mawar. Setelah mendengar bahwa kekasihnya itu sudah terjatuh sakit selama dua hari, Ji Hoon segera meminta ijin pada managernya untuk mengunjungi sang kekasih di Ilsan.
"Annyeong haseyo." Ji Hoon membungkukkan badannya setelah melihat nyonya Lee menyambutnya di ruang tamu. "Saya Lee Ji Hoon."
Nyonya Lee tersenyum manis sebelum mempersilahkan gadis itu duduk. "Kau pasti mau menjenguk anakku ya? Tumben sekali wanita yang menjenguknya. Biasanya hanya para member atau artis lelaki yang lain. Ya walau yang lebih sering itu si magnae itu."
Ji Hoon mengernyitkan dahinya sebentar menyampaikan maksud bingungnya pada kalimat terakhir sang calon mertua-menurutnya.
"Kyuhyun maksudku. Dia adalah orang pertama yang akan kemari bila Sungmin sakit dan dirawat disini. Tapi tumben sekali orang itu belum datang." Jawab Nyonya Lee.
Ji Hoon mengangguk tanda dia mengerti sebelum dia meminta ijin untuk menemui Sungmin di dalam kamar namja itu.
.
"Oppa.."
Ji Hoon membuka pintu kamar Sungmin dengan perlahan, takut bila orang yang berada di dalamnya sedang tertidur. Dan ternyata benar, kekasih tampannya itu sedang tertidur dengan lelap di king size bed berwarna putih.
Gadis itu mendekati Sungmin sejenak sebelum tersenyum kecil menatap wajah Sungmin yang seperti anak kecil bila tertidur. Sebenarnya Ji Hoon sedikit iri, bagaimana bisa dia mempunyai kekasih yang wajahnya bahkan lebih cantik dari dirinya. Tapi karna itulah dia sangat berterimakasih pada Tuhan.
"Ji Hoon, kenalkan ini Lee Sungmin. Sungmin, kenalkan ini Lee Ji Hoon. Kalian berdua nanti akan beradu akting di musical Summer Snow."
Lee Ji Hoon tersenyum manis kepada seorang lelaki yang berparas tampan sekaligus manis ini. Bagaimana bisa ada namja di umur akhir 20 berwajah seperti Sungmin ini?
"Salam kenal, Ji Hoon-ssi." Sungmin sedikit membungkukkan badannya sebelum mengeluarkan senyum kelincinya pada gadis dihadapannya. Jantungnya berdetak lebih kencang, bahkan pipinya memanas. Persis seperti saat dia ada didekat namja bermarga Cho, namja yang ia yakini sedang menunggunya di Korea.
"Kau bisa panggil aku Ji Hoon saja. Aku juga boleh memanggilmu Oppa kan?" Ji Hoon tersenyum dan sedikit terkekeh melihat wajah gugup dari lelaki di hadapannya, sedangkan Sungmin hanya bisa mengangguk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ji Hoon tersenyum tipis mengingat pertemuan pertamanya dengan Sungmin secara langsung. Dan tidak dia sangka, namja itu ternyata mendekati bahkan menyimpan perasaan yang sama dengannya.
"Hm?" Mata Ji Hoon tertuju pada frame yang berjejer di meja nakas sebelah bed Sungmin. Bukan, bukan karna banyaknya foto yang dipajang di meja panjang itu. Tapi karna orang yang bersama Sungmin di dalam foto itu. Orang yang merangkul, mencubit pipi, bahkan mencium kening kekasihnya.
"K-Kyuhyun-ssi?"
I miss you, I miss you more, I miss you like crazy
I'm filled with your memories and I miss you like this
I love you, I love you, I love you like crazy
I whisper, I'm okay, I'm okay
As I look at the night sky, I remember you, who I can't erase
TBC
Yaaaaa maaaf baru comeback tapi laptop ku belum bener... ini aja aku ngetik di tablet wkwk maaf ya.
Untuk yg bilang sungmin kok bisa selingkuh disini ya... karna gimana ya... sungmin kegatelan sih wkwk
Untuk yg bilang aku kaku... Iya emang bener! Karna udah lama gak nulis kali ya ehehe
Untuk yang nanyain sungmin di hawaii... kamu harus tahu, aku ketawa mesum kayak om-om tau gak ahahaha
Dan Chisana Yuri... makasih untuk reviewnya tapi aku gemes... thanks to my phone kenapa gak update22222?aku nungguin terusT^T
Untuk kak VieVie muahahaha aku msh inget! Ahh senangnya kakak jg msh inget aku T^T
Dan untuk semua reviewers yang bilang ini nyesek.. ehehehe aku cinta angst tapi kyumin tetep jd ending kokkk
Untuk semua author yang punya cerita Kyumin di ffn ini dan gak update2, segera updatelah kalian! Kita para joyers menantikan lanjutan!
Untuk yang menantikan aku... terimakasih banyakkk mueheehe ciyum basahhhh untuk kaliannnn
Ps. Ini agak dipercepat alurnya.. ya mungkin 3 atau 5 chapter:-)
