BEAUTIFUL TRAGIC

By: PeDeeS

Naruto © Masashi Kishimoto

Rate: M

Length: Multichapter

Pair: Sasuke, Sakura, Karin dan Sasori

Warning: Typo, Angst, AU, EYD tidak tepat, mungkin OOC.

.

Happy Reading..

.

"Hanya ini yang bisa saya berikan sebagai jaminan. Saya tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini." Ucap sang pria berambut raven yang mencuat ke belakang sambil membungkukkan badannya di hadapan seorang pria paruh baya yang menggunakan perban di dahi dan mata kanannya.

"Ahaaaahaha.." Pria paruh baya itu tertawa meremehkan. Menatap tak percaya aksi yang dilakukan oleh pria di hadapannya ini. "Anak ini lucu sekali, yah. Kemarin kau mendatangiku dengan makian dan membawa uang untuk melunasi hutang wanita jalang itu. Dan sekarang kau bersujud ingin meminjamkan uang padaku?"

Sasuke bergeming. Ia tetap berada pada posisinya. Ia sudah tidak tahu lagi ingin mencari uang di mana lagi. Uang untuk pembedahan kakaknya ia pakai untuk membayar hutang Karin kepada Rentenir ini. Sementara hari ini adalah jadwal pembedahan kakaknya dilaksanakan. Dengan sangat terpaksa Sasuke meminjam uang kepada Rentenir yang baru saja ia maki kemarin. Entah ini disebut tindakan yang berani atau bodoh. Tapi ia tidak punya pilihan lain.

Senyum tipis sang Rentenir tersungging di sudut bibirnya. Sepertinya ada rencana jahat terlintas di pikirannya. Ditatapnya Sasuke yang masih membungkukkan badannya.

"Baiklah Sasuke, aku sedikit tertarik kepadamu." Pria Rentenir itu menunggu reaksi Sasuke. "Aku sudah mendengar keadaan kakakmu yang kritis. Dan bodohnya kau lebih memilih menolong wanita jalang itu dari pada kakakmu,"

Sasuke yang mendengar perkataan pria yang di hadapannya ini langsung mengepalkan tangannya kesal menahan emosinya. Rasanya ingin sekali ia meninju mulut pria brengsek ini. "Jangan buang waktu anda untuk membahas soal ini! Saya tidak mempunyai waktu yang banyak." Jawabnya dingin.

"ah.. Sabarlah anak muda! Sepertinya kau tidak menyukai basa basi, yah. Baiklah, aku akan memberikan pinjaman uang kepadamu."

"Hn." Raut wajah Sasuke yang dari tadi menegang kini sedikit lega. semburat senyum yang samar terlukis di bibir wajahnya.

"Tapi kau tahu, kan. Aku bukan orang yang ingin menolong orang begitu saja. Apalagi jumlah uang yang kau pinjam cukup besar- "

"Cepat katakan apa maumu!" kesabaran Sasuke sudah hampir memuncak. Ia kembali mengepalkan tangannya untuk menahan emosi. Sasuke merasa seperti sedang dipermainkan. Namun ia tetap mencoba untuk tenang menahan diri karena ia tidak ingin gagal mendapatkan uang untuk kakaknya.

"Fufufuu.. sungguh tidak sabaran. Aku hanya ingin sedikit bernegosiasi dengan kesepakan kita ini. Kau akan kupinjamkan uang. Namun kau harus mengembalikannya selama tiga hari. Jika tidak maka jaminan yang telah kau berikan di tanganku ini akan aku ambil dan kau harus menderita dalam buih." Ujar sang Rentenir sarkastik berhasil membuat mata Onyx pria yang di hadapannya itu membulat.

BRUUK..!

pria paruh baya itu langsung tersungkur akibat satu tinjuan keras dari tangan Sasuke yang berhasil ia daratkan di wajah sang Rentenir. Ia sudah kehilangan kesabarannya lagi. Ia langsung menarik kerah baju Rentenir itu namun segera dihalangi oleh Bodyguard di sampingnya dan langsung meninju balik Sasuke.

BRRUK!

kali ini Sasuke ambruk di hadapan Rentenir. Terlihat darah segar menetes dari sudut bibirnya. "Brengsek, perjanjian macam apa itu? Kau benar-benar licik, Danzo."

Rentenir tersebut langsung menghampiri Sasuke yang sudah babak belur dan langsung menarik rambut raven itu lalu mengarahkan ke depan wajahnya. "Kau tahu, aku sudah cukup bermurah hati padamu dengan meminjamkan uang sebanyak itu. Lantas apa keuntungan yang ku dapat darimu ? Hanya jaminan rumah yang lebih cocok dijadikan kandang kambing?"

Sasuke masih bergeming dengan keadaannya yang babak belur tak berdaya. hanya tatapan dingin penuh kebencian darinya yang bisa ia perlihatkan kepada Rentenir ini.

"Kakakmu adalah salah satu seniman yang aku kagumi. Aku tidak ingin melihat dia mati akibat kebodohanmu itu, Sasuke. Seharusnya kau berterimakasih."

Draappp..!

Suara koper yang sengaja dilempar oleh Rentenir kearah depan Sasuke.

"Ambilah uang dari koper itu! Dan ingat perjanjian kita. Jika kau lari maka kau akan melihat wanita jalang itu mati di depan matamu."

.

Terlambat dua jam dari jadwal pembedahan yang sudah ditentuntan. Sasuke berlarian menuju rumah sakit sambil membawa tas berisi uang jutaan Ryo. Sesampainya disana ia langsung ke meja resepsionis untuk mengurus surat dan biaya rumah sakit. Ia sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang dari tadi memperhatikan kondisi tubuhnya yang babak belur. Sakit fisik tidaklah sebanding dengan batinnya yang telah hancur selama ini.

Bagi Sasuke Kebahagiaan sesungguhnya bukanlah karena uang banyak atau status sosial yang tinggi, hanya dengan melihat senyuman dari orang yang ia sayangilah kebahagiaan itu tercipta. Untuk itu dia sama sekali tidak peduli dengan hidupnya yang miskin dan hancur asalkan kakaknya dan karin masih ada di dunia ini bersamanya.

"Nii-san, maafkan aku terlambat." Ujar Sasuke terhadap sang kakak.

"Ukhuuk.. tak apa. Dokter itu kan su..dah memberikan jadwal baru nanti ma...lam. Aku akan bertah-.. Ukhuuk..ukhuuk." Lirihnya yang terdengar parau ia paksakan untuk bicara.

Keadaan Itachi hampir kritis. Berbagai Selang oksigen yang menempel di hidung dan mulutnya sudah terpasang. Ternyata kankernya sudah hampir mencapai stadium akhir. Hampir tidak ada harapan lagi. Ditambah karena penundaan jadwal pembedahan yang berdampak pada bertambahnya besarnya jaringan tumor di dalam paru-paru Itachi yang membuat kondisi tubuhnya semakin parah.

"Jangan banyak bergerak dulu Nii-san, Aku mohon tenanglah!" Sasuke berusaha membuat kakaknya untuk tenang dan beristirahat.

Entah kenapa kali ini Itachi banyak bicara padahal sebenarnya ia sudah tidak sanggup lagi untuk bicara.

"a..ku merasa seperti kakak yang gagal. Tidak bisa menjaga adiknya yang terluka. Sel..lalu menyusah..kan..mu..ukhuuuk..ukhuuk"

Tetesan air mata keluar dari sudut mata Onyx yang tak sanggup lagi dibendung olehnya. Hatinya benar-benar sakit melihat penderitaan adiknya. Ia tahu tentang perjuangan berat adiknya selama seminggu untuk mendapatkan uang berobatnya. hutang Karin yang dibayar adiknya dan tentang meminjam uang ke Danzo sang Rentenir untuk biaya sakitnya. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk adiknya. Hanya memberi beban berat.

"Semua...a ini salahku.. Ukhuk..Ukhuuk" Lirihnya terbata-bata.

Tap!

Itachi menyentuh tepat di tengah dahi Sasuke dengan dua jari. "Maafkan..aku, Baka Ototou!."

Sasuke hanya bisa diam membulatkan matanya. Mata Onyx-nya mulai berkaca-kaca mendengar ucapan sang kakak tercinta. Selama ini ia tidak pernah mengeluhkan soal beban hidupnya yang berat kepada Itachi. Ia tidak pernah memperlihatkan setetespun air mata di depan kakaknya. Tapi saat ini, di sini air matanya tidak bisa lagi dibendung. Ia menundukan kepala menutupi raut mukanya yang sedih.

Itachi tersenyum melihat Sasuke yang akhirnya menangis. Ia merasa sangat lega. Selama ini Sasuke selalu memendam emosi semenjak sepeninggalan orang tua mereka dan ditambah lagi penyakit yang diderita Itachi. Sifatnya menjadi dingin. Ia selalu memikul beban berat. Sudah lama Itachi ingin melihat ekspresi adiknya yang menangis, tertawa atau bahkan marah. Ia ingin sekali melihat adiknya sedikit egois tentang hidupnya. Itachi selalu mengkhawatirkan Sasuke.

.

"Onii-chan, kaa-san. Aku mau keluar sebentar mencari udara."

Seorang gadis berambut softpink sebahu sedang duduk sendirian di koridor rumah sakit yang agak sepi. Ia dan ibunya sedang menemani kakaknya untuk check up kesehatan jantung sang kakak yang memang rutin dilakukan. Dan selalu saat hasil tesnya keluar, Sakura selalu mencoba menghindar karena ia takut mendengar hal yang buruk mengenai hasil tes tersebut.

Sasori memang sudah mendapatkan cangkok jantung, namun bukan berarti ia sudah sembuh total. Dan akhir-akhir ini kesehatan jantung Sasori sedikit menurun.

Tidak jauh dari tempat Sakura duduk, terlihat seorang pemuda yang sedikit babak belur berjalan gontai di koridor rumah sakit.

Bruuk!

Tiba-tiba pemuda itu langsung ambruk di dekat Sakura. Sakura langsung terkejut dan segera mendekati lelaki tersebut.

"Astaga, apa kau baik-baik saja?" Sakura yang kanget mencoba membangunkan pemuda tersebut dengan menepuk kedua pipinya.

"Tolong..! Tolong! apa ada perawat disini? Ada orang pings-"

pemuda itu langsung membungkam mulut Sakura dengan tangannya "Tenanglah, aku masih hidup. Jangan panggil orang lain!"

"hmmph..hmpph!" Sakura mengangguk. Terpaksa ia menuruti kata-kata pemuda tersebut.

Setelah melihat anggukan dari Sakura, pemuda itu perlahan melepaskan tangannya.

"Hey, tunggu. Kau pelayan di Restoran itu kan?" mata Emerald Sakura membulat saat melihat pemuda di hadapannya ini adalah pelayan yang pernah bersikap dingin padanya.

"Hn"

Sasuke masih bersikap dingin. Dia tidak peduli tentang siapa orang yang di hadapannya ini. Hatinya saat ini masih kacau, ditambah beberapa luka memar di tubuhnya akibat pukulan yang dilakukan oleh Bodyguard Rentenir siang tadi.

"Ckck.. ternyata kau masih saja bersikap dingin. Pantas saja kau jadi babak belur begini karena sikapmu yang Belagu." Sindir Sakura terdahap Sasuke.

"..."

Sakura membuka isi dalam tasnya. Ia mengambil perlengkapan P3K yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Yah, mengingat Sakura bercita-cita menjadi seorang Dokter maka ia harus selalu siap siaga, bukan.

"Aw! Apa yang kau lakukan?" Rintih Sasuke kesakitan saat sedang diolesi obat oleh Sakura.

"Bisa diam tidak, sih? Lihatlah betapa bengkaknya pipimu ini. Lihat juga bibirmu yang sudah tak berbentuk ini. Apa kau tidak pernah bersyukur dianugrahi wajah tampan? Malah kau biarkan hancur seperti ini."

"Cih, kau tahu apa tentangku? Kau hanya orang asing, beraninya menasehatiku?" Sasuke akhirnya membuka suara. Ia cukup kesal dengan gadis ini selalu mencampuri urusannya. Sungguh gadis yang menyebalkan.

"Yah, aku memang tidak tahu apa-apa tentangmu tapi entah kenapa hatiku merasa sakit jika melihat orang lain menderita di depanku. Dan aku bukan orang asing. Aku punya nama, panggil saja aku SAKURA!" Bukan Sakura Haruno jika tidak bersikap terang-terangan menjelaskan apa yang ia pikirkan terhadap orang lain. Dan ia menekankan namanya agar Sasuke mengingat namanya.

"..."

Sasuke dari tadi memperhatikan perlakuan gadis di depannya ini. Ia cukup tercengang dengan pernyataan gadis ini barusan tentang rasa sakit saat melihat penderitaan orang lain yang terjadi di depannya. Suatu kemiripan sifat yang ia juga miliki. Namun bedanya, gadis ini sama sekali tidak terlihat memendam beban atau bahkan menderita seperti dirinya. Apakah gadis ini bohong? Tapi sepertinya tidak. Sasuke sudah melihat Sakura yang menolong Pak tua di Restoran waktu itu dan perlakuan terhadapnya barusan. Terlihat ketulusan di sana.

Tak sengaja kedua manik Emerald dan Onyx saling bertemu saat Sakura menyadari bahwa dari tadi Sasuke memperhatikannya.

"Ke...Kenapa kau menatapku seperti itu?" Sakura langsung menyerngitkan dahinya dan kemudian memperhatikan Sasuke serius. "Hey, tunggu sebentar. Sepertinya kau yang habis menangis. Aku sempat mengira matamu sembab terkena pukulan, tapi ternyata aku sepertinya salah" ucapnya Sarkastik.

"Hn. Begitulah" Sasuke lekas membuang muka ke arah lain.

"Oooh. Sepertinya sekarang kau sudah sedikit terbuka padaku, ya" Sakura memangku tangannya di atas dagu. "Kenapa semua pria selalu saja begitu. Kau seperti kakakku. Selalu terlihat kuat seperti tidak terjadi apa-apa tapi di dalamnya kau sangat menderita."

"Kau terlalu banyak bicara." Desis Sasuke.

"Eh.. apa?"

"Sebaiknya aku pergi sekarang!" ujar Sasuke seraya berdiri dan pergi meninggalkan Sakura.

"HEY! Kau ini tidak punya sopan satun, ya? Aku ini baru saja menolongmu tapi kau masih bersikap acuh dan dingin padaku. Bahkan untuk peduli dengan dirimu yang sudah babak belur begitu saja kau tetap acuh, BAKA!" Sakura begitu marah dengan sikap dingin dan tidak peduli pemuda ini. Ia sedikit menyesal telah menolongnya tadi. Pemuda yang terlihat tidak mempunyai semangat hidup untuk dirinya sendiri.

Pernyataan Sakura barusan berhasil membuat Sasuke menghentikan langkah kakinya. Ia berdiam diri sejenak mencerna kata-kata gadis di belakangnya ini.

"Sakura!" Panggil Sasuke seraya menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Sakura.

"Terimakasih." Semburat senyum yang tipis ia perlihatkan di depan Sakura. Itu adalah senyuman yang sangat tulus. Mata Onyx-nya menatap lembut manik Emerald milik Sakura. Wajah Sakura kemudian langsung berubah merona bak kepiting rebus. Sasuke lalu memalingkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan gadis itu sendirian.

Sakura yang merona dengan sikap Sasuke masih bergeming dari posisinya. Mulutnya menganga lebar seolah sedang terpesona melihat senyum pangeran yang sangat tampan. Ia berdiri menatap punggung Sasuke yang menjauhinya. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat tidak karuan melihat senyum Sasuke tadi. Wajah Sasuke yang sedang tersenyum sangat tampan.

"Eh..Hey, tunggu! Aku belum tau namamu..," Sakura segera sadar dari lamunannya langsung menyusul Sasuke. Namun tiba-tiba yang dicari menghilang seperti angin. Sakura menyerngitkan dahinya kebingungan mencari sosok pemuda dingin yang ia tolong tadi. Ditelusurinya lorong koridor rumah sakit. "Hilang? Kemana dia pergi? Aku bahkan tidak tahu namanya" Rutuk Sakura pada dirinya.

Entah apa yang ada di pikiran Sasuke. Seharusnya ia senang jika ada orang lain yang peduli padanya. Bukankah tadi ia sempat tersenyum tulus. Senyum yang sangat jarang sekali ia perlihatkan. Tapi kenapa ia seolah-olah menghindari gadis itu? Entahlah. Mungkin hanya Kami-sama dan Author yang tahu *PLAK.

.

Hampir satu jam sudah Uchiha Sasuke terlelap di pinggir tempat tidur pasien milik Itachi. Ia ingin menemani sang kakak sampai pembedahan selesai dilakukan. Dan selama itu pula sang kakak terus memandanginya. Sesekali dengan gerakan tangan yang lemah ia mengelus helayan raven sang adik. Sebenarnya ia masih ingin sekali mengobrol dengan adiknya, namun ia urungkan. Ia tahu persis adiknya tidak tidur semalam. Itachi tidak ingin membuat adiknya terganggu.

Drrrttt... Drrrrrttt!

Suara getaran ponsel membuat sang pemuda terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan yang lambat ia membuka layar Flip Ponselnya.

"Hn."

"Moshi-moshi Sasuke-kun, maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu di rumah sakit. Hari ini aku sedang sibuk di toko," terdengar suara di sebrang sana. Sepertinya itu telpon dari sang kekasih, Karin.

"Begitu,ya?"

"Ah.. tapi aku berjanji besok akan menemuimu. Aku merindukanmu.."

"Hn. Aku juga merindukanmu Karin."

Tut..tut..tut!

Setelah sambungan telpon itu terputus Sasuke langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Kemudian ia merenggangkan otot-otot tangannya yang kaku, terlihat raut wajahnya yang masih ngantuk.

"Nii-san, sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya kepada sang kakak yang dari tadi memperhatikan adiknya.

"Su..dah hampir seharia..n. Uhuk.." jawabnya lirih

"ASTAGA! bagaimana dengan jadwal pembedahanmu?" kelopak mata yang sayupun langsung membulat ketika mendengar jawaban dari Itachi.

"Haha..ha.. Ukhuk..ukhuk, Hahahahahaa..." Itachi terkekeh geli melihat ekspresi adiknya yang syok. Kali ini dia berhasil mengerjai adiknya.

Sasuke yang menyerngitkan dahinya yang masih bingung langsung melihat jam di tangan kirinya. Jam masih menunjukan pukul 20.56 Waktu setempat sementara ia sangat ingat betul jam berapa ia duduk di pinggir tempat Itachi sampai ia tertidur. Tepatnya sudah satu jam lebih berlalu.

"Cih, kali ini kau menang." Cibirnya sambil tersenyum simpul kepada sang kakak.

"Hey.. kau tersenyum. Su..dah lama aku tidak melihat senyum..mu itu?" lirihnya sambil menaikan alisnya tak percaya. Ia sangat lega melihat ekspresi yang sangat langka ia lihat dari Sasuke. "Apa mood-mu sedang baik saat ini?" lanjutnya.

"Hey, apa anehnya senyumku ini? Apa kau terpesona dengan ketampanan adikmu ini saat tersenyum?"

"Hahaha.. Ya, kau memang sangat tampan ketika sedang ter..senyum, Baka Ototou,"

"Hn!"

Sasuke langsung teringat perkataan Sakura saat di restoran. Kata-kata yang sama persis dengan apa yang ia dengar barusan dari sang kakak.

"Aku ingin melihat kau selalu tersenyum seperti itu, Sasuke!"

"Hn.."

Beberapa orang berseragam putih dengan membawa ranjang khusus dan beberapa alat medis lainnya memasuki sebuah ruangan kamar pasien milik Uchiha Itachi.

"Tuan, ini sudah waktunya anda bersiap-siap untuk melakukan pembedahan pengangkatan sel tumor di paru-paru anda!" Ujar salah satu dari mereka kepada pria yang masih berbaring di ranjangnya.

"Sudah waktunya, ya?" lirih Itachi sambil tersenyum.

Beberapa orang tersebut membantu Itachi memindahkan tubuhnya ke Ranjang khusus yang sudah disiapkan tadi kemudian langsung membawanya ke ruangan operasi dengan diiringi Sasuke di belakangnya.

Sebuah pintu besar bertuliskan "Ruang Operasi" langsung dibuka oleh salah-satu perawat. Sebelum memasuki pintu tersebut. Itachi meminta kepada sang perawat untuk segera berhenti.

"Sasu..ke!" lirihnya.

"Ia, Nii-san," Pemuda yang dipanggil langsung mendekat.

Tap!

Itachi menggerakkan tangannya lambat menyentuh tepat di tengah-tengah dahi sang adik dengan kedua jarinya. "Aku menyayangimu.."

Kedua manik Onyx miliknya berkaca-kaca. Terlukis sebuah senyuman tulus di bibirnya yang pucat.

"Aku juga menyayangimu, Nii-san."

.

Dua orang pemuda berkulit Tan berambut kuning jingkrak dan satu lagi berambut hitam berkulit putih pucat sedang berlarian menyusuri koridor rumah sakit. Salah satu dari mereka membawa tas dan buku yang sangat tebal yang pasti sangat membosankan untuk dibaca. Mereka menuju sebuah ruangan operasi untuk menemani sahabatnya yang sekarang sedang sendirian menunggui sang kakak. Mereka sudah lama sekali tidak berkumpul karena kesibukan mereka masing-masing.

"Teme! Maafkan kami terlambat, hosh..hosh.." ucap salah satu dari mereka yang masih ngosh-ngoshan karena habis berlarian. Dialah Naruto Uzumaki sahabatnya dan juga teman satu kelasnya di kampus. "Ya Ampun, kau tahu tidak Teme, Pak Tua Pertapa Genit itu memberi tugas banyak sekali. Aku dan Sai sampai harus keliling berbagai perusahaan untuk mencari literatur tugas itu, mana gak ada di gugel lagi. Tapi kau tenang saja Teme, kami sudah membuatkan catatan untukmu agar kau mengerti cara mengerjakannya. Eh, ngomong-ngomong apakah Itachi-nii sudah di dalam?" lanjutnya lebar panjang. Naruto memang sahabat yang baik dan perhatian. Namun ia juga memiliki sisi buruk, ceroboh dan berisik.

"Hn.Sudah sepuluh menit yang lalu Nii-san disana." Jelasnya singkat.

"Dimana Karin, Sasuke-Kun? Apa dia tidak menemanimu lagi?" tanya seorang temannya yang berkulit pucat bernama Sai yang juga merupakan sahabat Sasuke di Kampus.

"Sepertinya dia sibuk hari ini."

"Begitukah? Kemarin sore saat ingin pergi ke salah satu perusahaan untuk mencari data tugas kuliah dan aku melihat seseorang mirip dengannya di sana. Tapi kurasa aku hanya salah lihat."

Sasuke mengerutkan alisnya mendengar apa yang Sai katakan tentang Karin. Sasuke juga pernah secara tidak sengaja melihat karin keluar dari sebuah gedung perusahaan dengan pakaian yang rapi. Namun saat ditanya dia hanya mengantarkan pesanan dari tokonya. Sasuke mempercayai kata-katanya saat itu.

Tapi entah kenapa ada perasaan yang cukup mengganjal di hatinya saat ini. Sudah beberapa hari ini Karin seperti mencoba menghindarinya dengan alasan yang sama, sibuk di toko. Biasanya sesibuk apapun Karin, tentu saja ia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

"Hn. Dimana aku?"

Seorang pria berpakaian serba putih tengah berada di tengah padang rumput hijau nan luas. Ia terlihat kebingungan disana. Langkah demi langkah ia telusuri padang rumput hijau tersebut. di dekatnya terdapat beberapa pohon bunga sakura yang bermekaran dan sesekali kelopaknya berguguran terkena hembusan angin menciptakan suasana yang sangat tenang dan damai.

"Itu.. Mungkinkah?"

Mata Onyx miliknya menangkap dua sosok bayangan orang yang sangat ia rindukan. Kedua kaki jenjangnya langsung berlari mengikuti dua bayangan tersebut.

"Nii-chan, Tunggu aku! Hikh.."

Panggilan seorang anak kecil yang berumur 6 tahun berhasil membuat kakinya berhenti melangkah. Ia lalu menolehkan kepalanya mencari sosok anak kecil yang memanggilnya tadi.

"Nii-chan.. sakiit.. hikh.. hikh.."

"Sasuke?!"

Matanya terbelalak melihat sesosok anak kecil sedang terbaring sambil menangis memegangi kakinya tepat di bawah pohon Sakura. Anak kecil itu merintih kesakitan karena kakinya terluka. Pria tersebut langsung berlarian menuju anak kecil itu namun tubuhnya langsung tertahan. Ia merasakan ada tangan yang sangat lembut sedang menahannya.

"Kaa-san, Tou-san. Kenapa?"

Kedua sosok bayangan itu pun tersenyum kepada sang Pria.

"Akan ada seseorang yang akan mengobati setiap lukanya. Kita akan menjaganya dari sini."

Tit..tit..tit..tiiiiiiiiiiit!..

Bunyi sebuah monitor EKG menunjukan sebuah gambar yang sebelumnya berbentuk zig zag bak rumput sedikit demi sedikit berubah menjadi garis lurus.

"DOKTER!" Panik seseorang menciptakan suasana tegang di sebuah kamar Steril yang berisi beberapa peralatan medis dan bau obat bercampur bau amis yang sangat menusuk hidung.

"Cepat ambilkan Defibrilator!" Perintah seorang pria yang dipanggil Dokter tadi.

Dug...Dug...Dug!

Terdengar suara alat berbentuk setrika yang ditembelkan pada dada bidang sang pasien, Itachi membuat badannya ikut meloncat seraya benda itu di tempelkan di dadanya. Namun sayang, alat tersebut tidak mengubah garis yang ada dalam layar monitor EKG menjadi zig zag kembali.

"Huh...Huh...Huh...Huh...!"

Dokter itu berlajut melakukan resusitasi kepada sang pasien. Ia memijat jantungnya secepat mungkin. Sesekali ia mendekatkan telinganya ke depan hidung sang pasien dan hal tersebut terus berulang dilakukannya.

"Percuma..huuuuh." dokter itu menunduk lesu menghela nafasnya. Ia merasa bersalah saat ini karena tidak berhasil menjalankan pembedahannya. Ia melihat jam di dinding pojok ruangan operasi itu. Waktu menunjukan tepat pukul 01.12 waktu setempat. Tidak hanya dokter, semua orang di dalam ruangan itu terdiam merasa bersalah karena kali ini pembedahan gagal mereka dilakukan.

.

Tiga orang pemuda masih menunggu di depan pintu ruang operasi. Salah satu pemuda dengan rambut raven mencuat ke belakang, mata Onyx miliknya sedikit hitam di daerah kantung mata yang menandakan wajah lelahnya sedari tadi mondar-mandir tak karuan di depan pintu tersebut. ia tidak peduli dengan larutnya malam, dinginnya suasana rumah sakit atau bahkan bau obat yang menusuk hidungnya. Sesekali ia mengacak rambut ravennya tersebut yang menandakan kegelisahan hatinya yang sedari dua jam menunggu pembedahan sang kakak.

"Tenanglah, Teme. sebaiknya kau ber—"

Kreeet!

Bunyi pintu yang di buka yang berhasil memotong pembicaraan Naruto. Ketiga pemuda yang lama menunggu tersebut segera mendekatkan diri kepada seorang pria paruh baya yang masih mengenakan seragam hijau khas dokter bedah.

Terlihat raut wajah bersalah yang ditunjukan kepada sang wali pasien yang baru saja ia operasi tadi. "Maaf, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Sasuke."

.

Bagaimana reaksi Sasuke? Bagaimana kehidupan yang akan dijalani Sasuke setelah kepergian Itachi? Tunggu chap slanjutnya ya.

T B C

.

A/N.. Bacot no Jutsu

Akhirnya selesai juga chap dua.. terimakasih buat yang sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic gaje ini. Dan terima kasih juga yang udah mau ngasih masukan untuk membangun fic ini (ᴐpeluk satu-satu..^_^c)..

Ada yang bilang cerita ini mirip sama drama Korea. Hehehe.. betul sekali.. konflik yang ada di Beautiful Tragic emang terinspirasi dari film drama Korea. Eits.. tapi tentu saja jalan ceritanya berbeda dan murni dari imajinasiku sendiri.. Ada yang tau film apa yang dimaksud?

Hubungan Sasusaku akan berkembang sesuai jalan ceritanya. Kadang aku sempat bingung mau ngasih moment seperti apa yang bagus buat mereka. Kalian boleh kok memberi masukan untuk cerita sasusaku atau cerita buat Karin, Sasori, Naruto atau yang lainnya juga boleh.. tapi tetep, yah. Buat endingnya uda fix gk bisa di ubah ceritanya.. happy ending gak yaaaaaa?

Jika ada yang merasa fanfic ini agak dipaksakan ceritanya, hha. Mohon dimaafkan. Apalah dayaku yang sangat minim imajinasi

Saya masih Newbie disini, jadi masih banyak yang perlu dibenahi lagi. Untuk itu mohon meninggalkan jejak Review, yah..!^^

Special Thx

UchiHaruno Misaki - Hanazono Yuri – .5 – Dewaz - Aeni – Guest

.

Next Chapter:

"Nii-chan, sebenarnya dia wanita jahat,"/ "Aku akan segera menikah, Sakura."/ "Kau sungguh bodoh, Teme masih mencintai jalang itu"/ "Sakura... Terimakasih!"

Kedua manik Onyx yang terlihat sayu sebelumnya berubah menjadi bulat sempurna. Tubuhnya langsung menegang kaku. Hal serupa juga terjadi pada dua orang pemuda yang menemaninya tadi.

"TIDAK.. TIDAAAK.! Kau bohong, kan? KATAKAN YANG SEBENARNYA!"