Terlihat sekumpulan pemuda yang terkapar dan hanya menyisakan 2 orang yang wajahnya babak belur dan terlihat bercak darah yang berada di seragam mereka, sisa mereka yang masih berdiri dan saling menatap satu sama lain dengan penuh kebencian.

"Ghuhh, Hei Sai bagaimana kalau kita membuat taruhan?" ujar pemuda bertato taring warna merah di masing-masing pipinya aka Kiba kepada lawannya yang diketahui bernama Sai tersebut sambil berusaha menyeimbangkan badannya,

"Hahh hahh. Aku tak berniat menerima tawaran dari seseorang yang lebih lemah dariku" balas Sai yang terengah-engah dan sama sekali tak melepaskan tatapan matanya dari gerak gerik Kiba.

"Kheh, kau sama saja seperti dulu, terlalu percaya diri, nee? Dan juga aku lebih kuat dari kau camkan itu!" ujar Kiba setengah berteriak.

"Terserah, sepertinya akan kusudahi pertarungan ini, Neji-san sudah terlalu lama menungguku" ujar Sai sambil memasang gestur untuk siap-siap menyerang.

"Kheh, Neji si anak manja itu? Wahh aku terkejut kau jadi bawahannya, kukira kau berdiri sendiri!, hahaha sepertinya kau sudah melemah nee rivalku?!" ujar Kiba mencoba mengintimidasi Sai dengan ucapannya itu.

"Baiklah akan kutunjukan perbedaan kekuatan kita yang sekarang, pecundang!" tambah Kiba yang tiba-tiba mulai maju untuk memberikan serangannya.

Sai pun yang diam tiba-tiba terkejut dengan tendangan yang dengan cepat mengarah kewajahnya, tidak mau terkena begitu saja dia kemudian memiringkan kepalanya ke kiri sambil menyiapkan serangan balasan.

Kiba yang tendangannya yang hanya mengenai angin pun cuma mendecih kesal, ketika kakinya mendarat, Sai sudah menyiapkan counter menggunakan tangan kirinya dengan melakukan pukulan hook yang mengincar kepala Kiba, tapi lagi-lagi pukulannya tak mengenai apa apa, Kiba yang menghindari pukulan yang ia rasa 'lambat' tersebut pun kembali membuat Sai terkejut dengan pukulan counter bertubi-tubi dari Kiba yang mengenai rusuk, perut dan kepala Sai dengan telak yang membuatnya memuntahkan darahnya!.

*Bugh*Bugh*Bugh*

"Dan ini yang terakhir bajingan!" teriak Kiba sambil melakukan tendangan Roundhouse kick kearah kepala Sai dan mengenainya dengan telak sehingga membuat Sai mundur beberapa langkah, yang mau tak mau membuat Kiba heran karena dengan tendangan sepenuh tenaganya tersebut tak bisa menjatuhkan Sai.

"Zehahaha, benar-benar cuma kau yang bisa membuat darahku mendidih Kiba!" ujar Sai dengan menunjukan senyum Psychonya, dan kemudian Sai yang tak lagi memakai gestur judonya tiba-tiba menerjang kearah Kiba yang sedang mengambil nafas,

Kiba yang melihat itupun langsung bersiap untuk melayangkan tinjunya kearah wajah Sai, dan ketika Sai berada didepannya, Kiba kemudian melayangkan pukulan lurus kearah wajah Sai tapi alangkah terkejutnya, target yang ingin dipukulnya tiba-tiba menjatuhkan badannya.

Sai yang sengaja menjatuhkan badannya pun kemudian mengait kaki Kiba dengan gerakan menggunting kedua kaki tersebut kebelakang hingga membuat Kiba terjatuh, kemudian melanjutkan serangannya dengan menendang menggunakan tumitnya kearah perut Kiba "Guhh". Dan kemudian ia mulai meraih tangan kiri Kiba yang bebas dan mengunci pergelangan tangan tersebut.

"Menyerah atau patah?!" tanya Sai yang masih setia memasang wajah Psycho nya. "Ughh! Menyerah heh? Dalam mimpimu bajingan!" ujar Kiba berusaha melepaskan kuncian tersebut.

Sai yang mendengarnya kemudian semakin melebarkan senyumnya dan dengan sedikit hentakan, tangan tersebut pun akhirnya patah.

*Krak*

"GAHH!" teriak Kiba ketika ia merasakan rasa sakit yang berasal dari tangannya yang dengan mudah dipatahkan oleh Sai itu, kemudian Sai mulai berdiri dan menginjak-injak wajah Kiba yang berusaha melindungi wajahnya dengan hanya menggunakan satu tangan. "Rasakan ini bangsat!" ujar Sai sambil menginjak-injak Kiba.

Dibawah tekanan yang ada Kiba mulai kehabisan tenaga tapi tetap tidak mau menyerah, dengan menggulingkan tubuhnya kesamping, dia berhasil menghindari serangan bertubi-tubi dari Sai.

Melihat Kiba yang menghindar dari injakannya, Sai benar-benar tidak membiarkan Kiba lepas walau sekedar mengambil nafas, lihat saja! dia mengangkat paksa Kiba dan memberikan pukulan kearah perut dan wajah Kiba yang membuat Kiba terlempar kesamping.

Yakin akan menang, Sai maju kearah Kiba dengan melayangkan pukulan lurus kearah wajah Kiba yang sama sekali tak berniat untuk menghindari pukulan itu.

*Tap*

"Kau pikir dengan pukulan ini bisa mengalahkanku hahh?!" ujar Kiba setelah menangkap pukulan yang bisa dibilang keras tersebut, tak berhenti disitu Kiba kemudian menarik Sai mendekat dan kembali menyundul hidung Sai yang telah patah itu dan membuat darah kembali mengalir di hidung Sai.

*Duak*

Sai kembali terjatuh dikarenakan tandukan yang super kuat tersebut. 'Sialan dia masih bisa melawan setelah terkena semua pukulanku. Sekuat apa sebenarnya kau Kiba?' batin Sai yang tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi sambil membersihkan hidungnya menggunakan lengan gakurannya tersebut.

"Hah hah, Oy Sai ayo kita tingkatkan levelnya! Aku sudah bosan bermain-main" ujar Kiba yang yang kesulitan bernafas dan kemudian mendekati Sai sambil menyiapkan tinjunya. Melihat itu Sai kemudian juga ikut berdiri dan mulai menyiapkan tinjunya, dengan sekali hentakan mereka berdua sama-sama melemparkan tinjunya. "ORRAAAA/ ORRYAAA" teriak mereka berdua sambil melayangkan tinju mereka kearah wajah masing-masing.

.

.

.

.

.

.

.

.

"I'm the Boss"

.

.

.

Desclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto

Created by: Namaa saya

Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc

Pairing: no pair for today my friend

Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more

Summary: Konoha Highschool (Boys) sekolah berandalan nomor 1 di Jepang yang dalam sejarahnya belum ada yang bisa menaklukan sekolah itu karena kekuatan murid-muridnya bisa dibilang setara satu sama lain. Dengan tekad yang kuat, Naruto berkeinginan untuk menjadi orang pertama yang menguasai KHS Boys, mampukah dia? NoYaoi!

.

.

.

.

.

.

.

.

Sisi Timur - Aula Sekolah lantai 2

.

"Tak kusangka si gendut dan si kacamata itu imbang, padahal kukira si gendut itu akan menang, kurasa tahun ini akan sangat menarik, un!" ujar pemuda berambut kuning dengan poni yang menutupi mata kirinya.

"Iya mereka berdua lumayan kuat untuk anak kelas 1, kukira si kacamata itu yang akan menang, nyatanya mereka imbang dan kurasa mereka akan menjadi boss yang kuat untuk angkatan mereka" ujar pemuda berambut emo berwarna merah dengan poni yang sama-sama menutupi mata kirinya.

"Tapi kurasa bukan cuma mereka berdua saja yang kuat disitu" ujar pemuda bertubuh besar dengan luka yang berbentuk seperti insang ikan yang berada dibawah kedua matanya.

"Kau benar Kisame-san, lihatlah di dekat podium sana Dei, Nagato-san!" ujar pemuda berambut merah jabrik sambil menunjuk kearah podium dimana terdapat dua orang yang sedang jual beli pukulan satu sama lain.

"Ya dan kurasa mereka sudah mulai kelelahan, sepertinya kita akan segera melihat juara Freshmen war jilid 40 ini" ujar pemuda berambut jabrik berwarna orange dengan serius mengamati jalannya pertarungan tersebut.

"Nee Yahiko, mau taruhan?" ujar pemuda berambut jabrik berwarna merah kepada pemuda berambut jabrik berwarna orange yang diketahui bernama Yahiko tersebut.

"Oy oy, kenapa kau malah jadi seperti Kakuzu, Sasori?" balas Yahiko heran akan perubahan sifat mereka tersebut.

"Oy oy, aku mengajakmu taruhan karena mereka bertiga tidak mengajak ku, lihatlah! Mereka sudah memasang taruhan 1000 yen!". ujar Sasori sambil menunjuk dua orang yang sedang memasang taruhan, dan orang yang satunya lagi sebagai bandarnya.

"Hahh, aku heran dengan mereka semua, terutama kau Nagato! Kenapa kau malah menjadi bandarnya hahh?!" ujar Yahiko setengah berteriak.

"Hey Kisame manusia ikan! Uangmu kurang sialan!" ujar pemuda berambut kuning yang rambutnya menutupi mata kirinya.

"Hehh uangmu yang kelebihan Dei tai! Kita kan sepakat kalau 1000 yen, kenapa kau malah memasang 1100 yen?!" balas pemuda bernama Kisame tersebut.

"Oy oy, Deidara benar Kisame, uangmu kurang 100 yen" celetuk Nagato sambil memasukan uang taruhan mereka ke saku celananya.

"Perasaan tadi kesepakatan 1000 yen deh, kenapa jadi 1100 yen yah?" guman Kisame sambil memasang wajah berpikir.

"Terus 100 yen nya buat apa?" tanya Kisame kepada Nagato dan Deidara.

"Tentu saja buat aku!, kau pikir aku mau jadi bandar tanpa dibayar hah?!" balas Nagato dengan berapi-api.

"Cihh kalau begitu kembalikan saja uangku, dasar wakil ketua licik!" sambil mengambil semua uang yang dipegang Nagato,

"Oy manusia ikan kenapa kau mengambil semua uangnya?" ujar Deidara marah sambil memegang kerah baju Kisame.

"Terserah aku, aku lagi marah kau tau! dan apa-apaan tatapanmu itu?! Mau berkelahi hahh?!" balas Kisame sambil meremas kepala Deidara, dan perkelahian antar dua makhluk pun terjadi dengan Nagato sebagai wasitnya.

"Mereka mengabaikan ku" ujar Yahiko frustasi sambil dikelilingi background suram dan ditenangkan oleh Sasori.

"Hey lihat! Sepertinya ini segera berakhir, mereka akan melesakan pukulan terakhir mereka" ujar Nagato meninggalkan Kisame dan Deidara orang yang sedang saling mencekik satu sama lain. Kemudian mereka berlima mengarahkan pandangan mereka ke objek yang ditunjuk dan menyaksikannya dengan serius.

.

.

.

Sisi Barat - Aula Sekolah lantai 2

.

"Nee itachi, kurasa ada baiknya kau mengajak si pucat itu masuk ke geng kita" ujar Shisui yang pandangannya tak lepas dari pertarungan yang sengit tersebut.

"Kurasa kau benar,dan juga akan kupertimbangkan saranmu itu, kurasa dia cocok untuk menjadi partner bertarung Sasuke, yang sama-sama memiliki sifat kalem tapi berbahaya disisi lainnya" balas Itachi yang sama pandangannya tak lepas dari pertarungan tersebut.

"Dan ini dia, pukulan penentu yang akan menunjukan siapa pemenang dari Freshmen War jilid 40 ini!" ujar Shisui sambil menyandarkan tangannya ke pembatas besi yang berada di lantai dua dan di ikuti oleh Itachi yang masih bersidekap dada disampingnya dengan memasang wajah serius.

.

.

.

*Bugh/Bugh*

Dua bunyi pukulan yang sama kuatnya dari tangan yang berbeda mengenai telak di wajah masing-masing, mereka sama-sama tak bergeming dari tempatnya, beberapa detik berlalu sampai akhirnya mereka berdua sama-sama jatuh, akan tetapi salah satu dari mereka aka Kiba yang kemudian mencoba berdiri dan menghilangkan rasa pening yang ada dikepalanya serta mencoba menyeimbangkan tubuhnya, selang beberapa detik setelah ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya, ia kemudian berteriak dengan lantang dengan ini ia menandai bahwa ialah pemenang dari Freshmen War jilid 40.

"RRRAAAAAHHHH"

Kemudian pintu aula pun terbuka, dan terlihatlah dua orang sosok berbeda, yang satu pemuda berambut kuning aka Naruto dan satunya pemuda beralis tebal aka Lee yang memasang ekspresi heran.

"Apa kita terlambat? Kurasa pertarungannya telah berakhir" ujar Lee yang memasang ekspresi tak percaya melihat murid-murid KHS boys semuanya tergeletak tak sadarkan diri.

"Ya kurasa begitu dan kurasa orang itu lah yang menjadi pemenangnya" ujar Naruto yang biasanya selalu memasang wajah lugu berubah menjadi serius ketika melihat orang yang terakhir berdiri. Tak lama kemudian, orang yang ditatap pun berbalik.

"Hah hah hah, masih ada dua lagi heh? Kalau bagitu sekalian saja ku kalahkan kalian berdua" ujar Kiba dengan suara serak sambil perlahan-lahan mendekati tempat dimana Naruto dan Lee berdiri,

"Bagaimana ini Naruto-san, kita tak mungkin memukul orang yang sekarat!" bisik Lee kepada Naruto yang memasang posisi siaga.

"Tentu saja bodoh! Laki-laki sejati tidak akan pernah melawan seorang yang sedang tidak dalam kondisi sempurnanya!" ujar Naruto dengan percaya diri dengan tetap memasang posisi siaganya, Lee yang mendengar perkataan Naruto pun tersenyum sambil memasang posisi siaganya.

"Ready or not, here i come!" ujar Kiba dengan bersusah payah berjalan kearah mereka, dan ketika itu juga dia melayangkan pukulannya yang mengarah kewajah Naruto.

Naruto yang tak mau terkena pukulan itu pun kemudian menghindari pukulan tersebut dengan mudah, sehingga membuat pukulan tersebut lewat begitu saja, dan setelah hal itu terjadi, akhirnya Kiba pun terjatuh akibat kelelahan karena pertarungan sengit yang telah dia alami yang sangat menguras tenaganya, tapi sebelum tubuhnya menyentuh lantai aula yang dingin, Naruto dengan sigap menangkapnya.

*Grep*

"Fyuhh hampir saja" ujar Naruto ketika berhasil menghindari pukulan tersebut, serta menangkap Kiba yang hampir jatuh menabrak lantai aula. "Jadi ini pemenang pertarungan tahun ini? Oy Lim apa kau tau nama orang ini?" tanya Naruto kepada Lee.

"Ah ha'i, kalau tidak salah nama orang ini adalah Inuzuka Kiba, boss dari Smp Nishizawa yang terkenal dengan kelincahannya dan ia juga anak dari pemilik Sekolah Industri Inuzuka. Dan untuk ke 16 kalinya, namaku bukan Lim tapi Lee!" jelas Lee panjang lebar dan menaikan nada bicaranya diakhir.

"Hoo jadi begitu yah? Tapi kenapa dia tidak sekolah saja diskolah milik ayahnya? Kurasa Sekolah Industri Inuzuka itu lumayan keren" gumam Naruto sambil memasang wajah berpikir.

"Kalau begitu bantu aku bawa dia ke UKS, kurasa dia butuh pertolongan secepatnya". ujar Naruto kepada Lee sambil membopong Kiba dibahunya. "Kau taukan dimana ruang UKSnya?" tambah Naruto.

"Ha'i tentu saja, biar kutunjukan jalannya" balas Lee dengan penuh semangat. "Shishishi, kalau begitu aku mengandalkanmu Cecil!" ujar Naruto sambil membopong Kiba dibahunya dan berjalan pergi meninggalkan Lee sendirian.

"Hoy Namaku Lee, Rock Lee lagipula Lee dan Cecil beda jauh, hahh ini sudah yang ke 17 kalinya kau tau!" balas Lee dengan suara yang keras dan terdengar nada frustasi di akhirnya.

"Oy mau kemana kau? Bukannya aku yang seharusnya berjalan didepan? Oy Naruto-san tunggu!" tambah Lee sambil berlari meninggalkan aula dan mengejar Naruto yang berjalan kearah empang sekolah?.

Hahh ada-ada saja kelakuan tokoh utama kita yang satu ini.

.

.

.

Sisi Barat - Aula Sekolah lantai 2

.

"Sepertinya prediksiku salah, kalau si pucat itu yang akan menang. Apa kita tetap akan merekrutnya sesuai rencana?" tanya Shisui sambil menyandarkan tubuhnya dipagar pembatas.

"Rencana tak berubah, dia tetap masuk kedalam geng kita" ujar Itachi santai. Selang beberapa detik terlihatlah lima orang dengan pin awan merah di masing-masing kerah baju mereka mendekati tempat Itachi dan Shisui.

"Well well well, apa yang kita dapat disini? Sophomore yang sok jago heh" ujar pemuda berambut kuning aka Deidara. "Seperti yang diharapkan darimu, Senior pecundang yang kalah melawan sophomore walaupun sudah main keroyokan!" balas Shisui dengan sedikit nada marah yang tersemat di akhir nadanya.

"Apa katamu brengsek?! Kau mau berkelahi hahh?!" ujar Deidara marah dan bersiap melayangkan tinjunya.

"Dei, tenanglah!"ujar Yahiko dengan nada serius Deidara yang mendengarnya kemudian kembali tenang namun tetap tak melepaskan tatapan bencinya kepada Shisui.

"Maafkan Deidara, nee Shisui" ujar Nagato dengan tenang, Shisui yang mendengarnya hanya mendecih kesal. "Ohiya aku dengar tadi kalian mau merekrut si pemuda pucat itu heh? Maaf tapi dia bagian kami dan juga si pemenang itu, jadi kuharap kalian mengerti" ujar Manusia ikan aka Kisame sambil menunjukan gigi runcingnya mencoba mengintimidasi Itachi.

"Maaf Kisame-san, tapi si pucat itu bagianku" jawab Itachi dengan wajah tenang.

"Baiklah kalau begitu, berhubung kita sama-sama tak ingin ada pertumpahan darah disini, maka kita lihat saja siapa yang akan dia pilih, Akatsuki atau Uchiha Empire" ujar Yahiko sambil meninggalkan tempat tersebut bersama rekannya.

"Hahh, kau dengar itu Itachi? Kurasa ini akan sulit jika Akatsuki sudah mulai ikut campur dalam urusan ini" ujar Shisui bernafas lega setelah kepergian orang terkuat saat ini aka Yahiko.

"Seperti kataku tadi, kita tetap akan melakukannya, ayo pergi" balas Itachi sambil meninggalkan tempat itu.

.

.

.

Ruang UKS

.

Terlihat tiga orang yang sedang bercengkrama dan sesorang yang sedang terbaring di ranjang UKS tak sadarkan diri.

"Fufufu, kenapa rambutmu berwarna kuning Naru-kun? Apa kau blasteran?" tanya seorang wanita cantik berambut hitam beriris mata berwarna emerald dan memakai baju lab putih kepada pemuda berambut kuning aka Naruto.

"Shishishi, yaa bisa dibilang begitu soalnya ayahku orang Inggris asli dan ibuku campuran Inggris dan Jepang" balas Naruto dengan memasang ekspresi lugunya.

"Wahh berarti kau 75% orang Inggris dong" balas Shizuka terkejut. "Bukan 75% Sensei, tapi aku 3/4 orang Inggris" jawab Naruto sambil memasang pose memberitahu.

Shizuka dan Lee yang mendengarnya hanya bisa ber sweatdrop ria. "Bukannya itu sama saja Naru-kun?" tanya Shizuka yang masih tak lepas dari acara sweatdropnya. "Ehh benarkah? Maaf maaf, shishishi" ujar Naruto tanpa ekspresi bersalah.

Lee yang sedari tadi diam, kemudian membatin 'Ya Tuhan, ini orang begonya tidak tertolong' dengan ekpresi putus asa "Ano Shizuka sensei, Naruto-kun sepertinya aku harus melihat keadaan Kiba dulu deh, sepertinya dia sudah sadar" ujar Lee yang tiba-tiba berdiri yang dibalas anggukan oleh Shizuka dan lambaian tangan oleh Naruto.

'Berlama-lama disitu bisa buat IQ-ku yang jongkok jadi tengkurap!' batin Lee sambil meninggalkan tempat itu.

Setelah kepergian Lee, Naruto semakin gencar bertanya. "Nee Shizuka sensei, apa Ibu sudah memiliki pasangan?" tanya Seorang pemuda aka Naruto dengan memasang wajah cabulnya.

"Ara ara, aku masih sendiri Naru-kun, dan juga kau tak perlu memanggil ku Ibu atau semacamnya" jawab guru yang bernama Shizuka tersebut. "Lagipula aku ini masih berumur 20 tahun lohh?" tambah Shizuka sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Uwoo, berarti Sensei magang di sekolah ini yah? kalau begitu umur kita tidak beda jauh dong shishishi" balas Naruto bersemangat dan hanya dibalas anggukan oleh Shizuka.

Disisi lain dari UKS terlihat dua orang dengan posisi berbeda, Lee yang duduk sambil mendengarkan percakapan NaruShizu sambil mengumpat sesekali dan seseorang yang terbaring di ranjang UKS aka Kiba.

"Ugh, dimana aku?" ujar Kiba sambil mencoba bangkit. Lee yang mendengar suara tersebutpun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

"Ano Kiba-san, kata Shizuka sensei kau tak boleh langsung mendudukan tubuhmu" jelas Lee kepada Kiba yang masih mencoba bangkit dan akhirnya terjatuh kembali.

"Ack, sialan! sepertinya si zombie itu benar-benar membuat tanganku patah ugh, dan juga Siapa kau? Kenapa kau mengetahui namaku?" tambah Kiba sambil memegangi tangan kirinya yang sudah dibalut perban itu.

"Ahh apa kau lupa denganku Kiba-san?" tanya Lee heran.

"Hmm, ahh bukankah kau yang selalu menjadi samsak hidup dari si anak manja Neji itu? Rock Lee dari Smp Nakagawa?" ujar Kiba memastikan sambil mencoba meredakan rasa sakit ditangannya.

"Uwoo 100 untukmu, tapi samsak hidup sepertinya berlebihan" balas Lee bersemangat sambil menunjukan jempol dan tak lupa gigi putihnya.

*Srek*

Gorden UKS dibuka oleh Naruto. "Hoy tidak bisa kah kau tenang sedikit Lien? Wahh rupanya kau sudah sadar Unko-kun? Hey Shizuka sensei Unko-kun sudah sadar" ujar Naruto yang awalnya marah kemudian berubah menjadi antusias setelah melihat objek yang tadi pingsan sudah kembali sadar dengan tak lupa memanggil guru yang menjaga UKS tersebut.

"Siapa lagi orang aneh ini? Dan juga namaku Kiba, Bukan Unko sialan! Aduh duh persetan dengan rasa sakit" ujar Kiba tidak terima namanya diganti menjadi kotoran sambil memegangi perutnya yang sakit akibat pukulan dari pertarungan tadi yang mengenainya dengan telak.

"Hahh, lama kelamaan kau akan terbiasa, orang ini otaknya miring, selalu saja salah nama. Dengar, namaku saja diganti jadi Lien, ini yang sudah yang ke 23 kalinya kau tau?" jelas Lee sambil menunjukan wajah frustasinya.

"Ohiya hampir lupa, Namaku Naruto, Uzumaki Naruto salam kenal, aku tadi yang mau kau pukul ehh tau-taunya pingsan jadi kubawa deh ke ruang UKS, benarkan Liz?" jelas Naruto memperkenalkan namanya sambil menceritakan kenspa Kiba berada disini.

"Naruto-san. Kumohon sekali saja kau mengucapkan namaku dengan benar, ini sudah yang ke 24 kalinya" balas Lee sambil menangis bombay dan Naruto mendengarnya cuma tersenyum bodoh seperti biasa.

"Maa berhubung kau sudah sadar, aku dan si alis tebal ini akan pergi untuk mencari tahu dimana dimana kelas kami berdua" ujar Naruto yang senyum bodohnya masih belum lepas dari wajahnya.

"Ohiya apa kau mau aku carikan kelasmu juga? Supaya sekalian, shishishi" tambah Naruto tak lupa dengan ketawa khasnya. Kiba yang mendengarnya hanya memasang wajah bingung.

"Tidak, itu tidak perlu" tegas Kiba.

"Oh kalau begitu sampai jumpa nee Shizuka sensei, Kuso-kun!" ujar Naruto sambil meninggal kan UKS bersama Lee yang mengekor dibelakangnya.

"Hoy namaku Kiba, Inuzuka Kiba, ingat itu sialan!" ujar Kiba kesal

"Dan juga terimakasih" gumam Kiba pelan.

"Nee Inuzuka-kun kurasa aku akan membersihkan lagi bekas luka diwajah mu, lihat saja darahnya keluar lagi" ujar Shizuka sambil mememberikan Kiba cermin.

"Ahh ha'i, maaf merepotkan" balas Kiba yang awalnya memasang muka garang berubah menjadi manis? setelah melihat Shizuka sensei datang kepadanya.

Hahh dasar cabul!.

Dilain tempat terlihat seseorang yang sedang tidur berdiri yang hanya dilewati beberapa orang saja dan tidak sedikit juga ada yang memfotonya.

"Hoam, hmm? Dimana aku?" ujar pemuda tersebut setengah sadar.

"Oy Naruto kita dimana?" tanya pemuda tersebut kepada udara kosong? Sadar orang yang ditanya tak menjawab, dia kemudian menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari seseorang yang dia ajak bicara mungkin?

"Sialan, dia meninggalkan ku sendirian, awas saja kau rambut tai!" gumam pemuda tersebut aka Shikamaru sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan raut wajah yang terlihat kurang bersahabat.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Well itu dia chap 2 yang menandai akhirnya Freshmen War dan pemenang dari pertarungan tersebut yaitu Inuzuka Kiba. Ohiya fic ini terinspirasi dari Manga Crows dan Crows x Worst. mulai dari latar sekolah yang persis seperti sekolah Suzuran, lalu sistem kelasnya yakni, menamai setiap kelas menggunakan alfabet yaitu dari kelas A sampai kelas E beserta tingkatan kelasnya.

Yaitu: Junior/ Freshmen untuk anak kelas 1, Sophomore untuk anak kelas 2 dan juga Senior untuk anak kelas 3.

Dan juga memiliki sedikit perbedaan dengan Suzuran yakni adanya tembok besar yang membatasi KHS boy dan KHS Girl. Dan bagi yang nanya genre fic ini yaoi atau bukan. Jawabannya Bukan!.

.

.

.

.

Sekian, Terimakasih.