Tittle : Skull

Chap : 2

Main Cast : Do Kyungsoo

.

.

.

Saat hari menjelang subuh, Kyungsoo terbangun dari tidur yang dirasanya cukup panjang. Kelopak matanya mengerjap berkali kali berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk agar tak menyakiti bola mata indah yang ada di dalamnya. Seberkas cahaya mendominasi penglihatan Kyungsoo, lampu kamarnya memang tak pernah dimatikan karna Kyungsoo tak akan pernah bisa tidur nyenyak dalam keadaan gelap.
Pemuda mungil itu bangkit dari posisi tidurnya, dan kembali mencoba beradaptasi dengan rasa kantuk yang masih menguasai kesadarannya. Kyungsoo memandang keadaan sekitar, setelah ia merasa yakin bahwa ia benar benar berada di dalam kamarnya sendiri, Kyungsoo berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya. Kelebatan memori itu kembali muncul, dan ia membelalakan matanya. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya kuat kuat saat berusaha memastikan kalau ia tak menyakiti siapapun kemarin malam. Seingatnya dan sejauh ia berusaha menggali memori yang dapat ia jangkau, tak satupun yang menunjukkan jika ada darah yang berceceran. Kyungsoo menghela nafas panjang dan lama. Tidak membunuh orang lain, dan itu sudah melegakan hati Kyungsoo.

Kyungsoo menyibak selimutnya dan beralih duduk di pinggir ranjang. Seragam yang ia kenakan sedikit kusut karena dipakai saat ia tertidur, kening Kyungsoo berkerut, bagaimana ia bisa tertidur di kamarnya sendiri? Seingat Kyungsoo ketika ia kehilangan kesadarannya di toilet, ia jatuh pingsan dan seseorang menggendongnya. Tapi siapa? Apakah Sehun? Mungkin benar Sehun, karna pemuda berkulit pucat itu tak ada berdiam diri saja jika Kyungsoo tak juga kembali dari toilet.

Pintu kamar Kyungsoo terbuka dan menampilkan sosok ayahnya yang datang membawakan segelas air. Kyungsoo menelan ludah saat melihat wajah ayahnya, ia tak berani menatap wajah itu apalagi jika ayahnya sampai tahu kalau Kyungsoo hampir kehilangan kendali lagi.

"Kau sudah bangun? Aku membawakan air, karna kau akan membutuhkannya jika terbangun" Tuan Do meletakkan gelas berisi air mineral itu di meja yang ada di sebelah ranjang.

"Terima kasih Ayah.." Ucap Kyungsoo pelan.

Tuan Do mengangguk dan mengambil tempat duduk di sebelah Kyungsoo. Sorot matanya menjelajahi wajah anak semata wayangnya tersebut, berusaha mencari kesalahan yang sebenarnya terlalu takut untuk ia dapatkan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyanya langsung tanpa berbasa basi. Ia memang tak harus melakukannya, karna ini sebagai bentuk antisipasi jika Kyungsoo melakukan kesalahan lagi.

"Tak ada, aku hanya merasa sedikit tak sehat" Kyungsoo mencoba berbohong, ia tak mau jika ayahnya khawatir. Terlebih jika ia harus pindah ke tempat baru lagi jika ayahnya mengetahui apa yang Kyungsoo perbuat. Ayolah, ia bahkan belum genap 48 jam berada di kota ini dan masih berusaha beradaptasi.

"Kau tak sedang mencoba membohongiku kan?" Ucapan Tuan Do membuat kerongkongan Kyungsoo menjadi kering, ia mencoba menelan ludah namun malah membuat kerongkongannya terasa sakit.

"Aku tak berbohong.." Jawab Kyungsoo pelan berharap ayahnya mau memahami dan percaya padanya sedikit saja.

Tuan Do bangkit dari duduknya dan berdiri dalam diam "Kuharap seperti itu, karna jika kau berbohong, aku akan mengurungmu di ruang pengampunan. Kau harus berdoa semalaman penuh lagi!" Tegas pria paruh baya itu sebelum meninggalkan Kyungsoo yang masih terduduk dengan mematung. Tubuh Kyungsoo bergetar saat mendengar ancaman ayahnya. Berada di dalam ruang pengampunan adalah hal terburuk dalam hidupnya. Ayahnya tak akan membiarkan Kyungsoo berada dalam cahaya, saat berada di ruangan sempit itu. Dan ia akan terus memaksa Kyungsoo untuk berdoa dalam kegelapan. Kyungsoo tak mau merasakannya lagi, tidak, dia terlalu takut..

. . .

"Kau sudah baikan?"

Kyungsoo menolehkan wajah pada asal suara yang menyapanya di awal pagi dan mendapati sang ayah tengah duduk di ruang makan dengan secangkir kopi di hadapannya. Kedua tangannya memegang surat kabar yang langsung ditutupnya ketika ia melihat Kyungsoo turun dari lantai 2, tempat kamar tidur pemuda mungil itu berada.

"Ya, aku tak mau melewatkan jam pelajaran hanya karna sedikit sakit.." Jawab Kyungsoo pelan, kedua kakinya enggan untuk melangkah mendekati ayahnya yang belum bangkit dari kursi meja makan.

"Sarapanlah dulu.."

Kyungsoo menggeleng "Aku akan membeli sarapan di sekolah nanti.."

"Oh ya, aku akan menghadiri pertemuan gereja hari ini. Mungkin baru kembali larut malam, atau akan menginap jika masih belum selesai. Kau makan malam duluan saja, tak usah menungguku" setelah mengucapkannya, Tuan Do kembali melanjutkan acara membaca koran paginya setelah tertunda karena kehadiran Kyungsoo. Ia masih saja bersikap dingin, Kyungsoo menduga jika sang ayah tak mempercayai ucapannya 100%. Siapa peduli? Pemuda bertubuh mungil itu lebih memilih untuk melangkahkan kakinya keluar rumah, ia butuh udara pagi.

Saat Kyungsoo baru saja menampakkan diri di daun pintu, Oh Sehun sudah menunggunya di depan teras rumah Kyungsoo. Raut wajahnya penuh kekhawatiran. Dan ketika Kyungsoo baru saja akan menyapa pemuda berambut pelangi itu, Sehun sudah menarik tangannya. Ia langsung menghujani Kyungsoo dengan pertanyaan yang mendesak.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyanya dengan terburu buru. Kyungsoo tersenyum, ada sedikit perasaan nyaman dalam hatinya saat Sehun menunjukkan perhatiannya.

"Aku tak apa apa Sehun ah, sungguh.." Nyatanya Kyungsoo hanya bisa berbohong pada Sehun karena ia belum siap untuk menceritakan semua rahasianya pada sahabat barunya tersebut. Mungkin Sehun sudah mengetahui separuh dari rahasia Kyungsoo karena pendeta Oh sudah memberinya tugas untuk menjaga Kyungsoo di sekolah, tapi untuk memberitahunya secara langsung dan keseluruhan, Kyungsoo masih sangsi dan belum terlalu yakin.

"Aku sangat terkejut saat melihat Baekhyun membopongmu kemarin malam. Dia bilang kau pingsan di toilet.." Kali ini perkataan Sehun diiringi helaan nafas lega, setidaknya Kyungsoo tak mengalami luka parah atau penyakit dalam yang kronis itu sudah membuat semangat hidupnya membaik.

"Baekhyun?" Tanya Kyungsoo sekedar memastikan.

"Iyaa, si pemuda eyeliner itu.."

"Kupikir kau yang menggendongku saat aku pingsan kemarin malam?"

"Aku sudah akan menyusulmu karna kau tak juga kembali dari toilet. Tapi saat aku masuk ke dalam sekolah lagi, Baekhyun sudah membawamu terlebih dulu.." Ucap Sehun dengan memajukan bibirnya, ada sedikit raut wajah tak ikhlas yang terlihat di wajah tampannya karena ia merasa gagal menjadi penyelamat Kyungsoo. Nyatanya salah satu orang yang paling tak disukainya yang menemukan Kyungsoo terlebih dahulu saat pemuda mungil itu memerlukan pertolongan.

"Hmm, jadi Baekhyun yaa... Sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih padanya." Gumam Kyungsoo pelan.

. . .

Langkah kecil Kyungsoo berhenti di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ruang olahraga di depan pintunya. Kyungsoo tengah mencari Baekhyun untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkannya malam itu, ia juga ingin memastikan jika saja Baekhyun melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah setengah memaksa Sehun mengatakan dimana kemungkinan Baekhyun berada - Kyungsoo mengancam tak akan berbicara dengannya selama satu minggu penuh. Pemuda berambut pelangi itu akhirnya mengusulkan Kyungsoo pergi ke gedung olahraga sekolah, karena disitu biasanya pemuda eyeliner itu berlatih hapkido. Kyungsoo menyingkirkan opsi untuk datang ke kelas Baekhyun karena Kris dan kawan kawannya ternyata sudah di tingkat VII, sangat mengerikan jika harus berkunjung ke kelas sunbae.

Dengan gerakan pelan, Kyungsoo membuka pintu ruang olahraga itu, hanya membuka sedikit. Ia berniat mengintip terlebih dahulu sebelum masuk kedalamnya. Penglihatan Kyungsoo menangkap sosok Baekhyun yang sedang berlatih dengan seseorang. Terlihat jelas jika lawan Baekhyun tengah kewalahan, gerakan tubuh Baekhyun sangat lincah dan bertenaga saat menaklukan lawan. Dan tendangan yang ia berikan di leher lawan itu terlihat sangat mematikan. Kyungsoo menelan ludah perlahan, keyakinannya untuk menemui Baekhyun berkurang 50% dan ia kembali menutup pintu ruang olahraga.

"Mencari seseorang?" sebuah suara mengejutkan Kyungsoo ditambah Kyungsoo merasakan seseorang memeluknya erat dari belakang. Ia menolehkan wajah ke belakang dan kembali matanya membelalak horor saat mengetahui siapa yang sudah membuat debaran pada jantungnya meningkat. Kalimat Sehun terngiang kembali dalam otak Kyungsoo karena Luhan si anak ilmuwan dari Chinalah yang kini tengah memeluk Kyungsoo dengan erat.

"A-a-aku mencari Baekhyun.." Ucap Kyungsoo pelan, tangan kecilnya berusaha keras melepaskan lilitan tangan Luhan yang membelenggu pinggang rampingnya.

"Kenapa tidak masuk saja?" Luhan berbisik pelan di telinga Kyungsoo. Hembusan nafasnya membuat sensasi mengelitik pada area belakang telinga Kyungsoo hingga membuat pemuda manis itu kewalahan dengan menggigit bibir bawahnya.

"A-aku.." Belum sempat Kyungsoo menjawab pertanyaan Luhan, pemuda cantik itu sudah digendong Luhan di bahu. Kyungsoo meronta, mencoba turun dari bahu Luhan, namun tangan Luhan menahannya. Pemuda keturunan China itu membawa Kyungsoo masuk ke dalam gedung olahraga, menghampiri Baekhyun. Untuk kesekian kalinya Kyungsoo menyesal mengapa ia terlahir dengan tubuh mungil yang bahkan menyaingi tubuh ramping seorang gadis hingga ia bisa dengan mudahnya dikerjai orang lain.

"Hai Baek, si mungil ini mencarimu!" Teriak Luhan, dan objek yang diteriaki pun menoleh.

Luhan menurunkan tubuh Kyungsoo saat mereka tiba di tempat Baekhyun, Kyungsoo menjadi panic dan sudah bersiap siap untuk melarikan diri namun tangan Luhan menahannya dan membalikkan tubuh mungil itu menghadap Baekhyun. "Kau mau kemana? Bukankah kesini mencari Baekhyun?" tanya Luhan dengan berbisik, apa berbisik itu hobby pemuda China itu? Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ia menarik nafas panjang dan memberanikan diri menatap wajah Baekhyun.

Otak Kyungsoo kehilangan fungsinya untuk beberapa saat, karena melihat senyuman indah yang terpatri di wajah tampan Baekhyun, ia menjadi lupa tujuan utama yang membawa langkah kakinya menemui atlet hapkido itu. Wajah tampan Baekhyun telah menghipnotis Kyungsoo terlalu dalam.

"Kau mencariku?" tanya Baekhyun lembut, ia melangkah mendekat ke arah Kyungsoo dan Luhan. Setelah lama kehilangan fungsi otaknya untuk mengingat, Kyungsoo mengerjapkan kedua matanya berkali kali dan bersuara dengan sangat pelan. Terlihat jelas jika ia sedang dalam keadaan sangat gugup.

"Nde.." jawabnya pelan, sedangkan kedua bahunya masih ditahan oleh tangan Luhan dari belakang. Tanpa ia sadari Luhan tengah tersenyum tipis sambil menikmati aroma lembut yang menguar dari rambut halus Kyungsoo.

"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku kemarin malam Baekhyun sshi.." kalimat Kyungsoo kali ini lebih panjang dan namun suaranya masih terdengar pelan.

Baekhyun mengernyit sebelum mendekatkan wajahnya untuk berbisik di telinga Kyungsoo, ia tak perlu membungkuk seperti Luhan karena Baekhyun hanya lebih tinggi beberapa senti dari Kyungsoo "Aku melihat semuanya. Siapa kau sebenarnya Kyungsoo sshi? Atau mungkin lebih tepat jika aku bertanya apa kau sebenarnya?" pertanyaan dari mulut Baekhyun itu seketika membuat tubuh Kyungsoo menegang. Seharusnya ia sudah bisa menduganya, tak mungkin jika Baekhyun tak memergoki Kyungsoo yang sedang kehilangan kendali malam itu, keadaan toilet yang tak beraturan sudah dapat menjadi bukti nyata. Baekhyun menyeringai ketika pelipis Kyungsoo dipenuhi bulir bulir keringat dingin, ia menarik wajahnya dari telinga Kyungsoo untuk melihat ekspresi wajah pemuda yang menurutnya sangat menarik itu.

"Kalian memiliki rahasia?" tanya Luhan membuyarkan lamunan Kyungsoo.

"Tentu saja, ini rahasia kami berdua Luhan sshi.." sahut Baekhyun dengan tersenyum penuh arti. Ia membuat Kyungsoo kehilangan kata katanya.

"Menyebalkan.." desis Luhan.

"K-kalau begitu, aku pergi. Sekali lagi terima kasih" ucap Kyungsoo sembari membungkukkan tubuh pada Baekhyun dan Luhan bergantian. Namun saat Kyungsoo akan beranjak melangkahkan kakinya, ia merasakan lengannya ditarik dan tubuh Kyungsoo terpaksa kembali menghadap ke arah Baekhyun, bahkan lebih dekat. Kyungsoo merasa gugup, karena wajah tampan Baekhyun hanya berada beberapa senti dari wajahnya. Ia dapat melihat dengan jelas setiap lekukan yang membentuk wajah tampan Baekhyun, dan itu membuat Kyungsoo sedikit kesulitan bernafas. Ia semakin jatuh dalam pesona atlet hapkido itu.

"Kris akan mengadakan pesta di rumahnya malam ini, dan aku belum memiliki pasangan. Kau mau menemaniku? Anggap saja ini bentuk nyata ucapan terima kasihmu" Kyungsoo merasa kalimat Baekhyun tersebut adalah sebuah pernyataan yang tak semestinya ia pertimbangkan apalagi Kyungsoo tolak. Baekhyun seperti mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah ia tentukan.

"Hei, kau curang Baek! Aku baru saja akan mengajak si mungil ini!" terdengar protesan ringan dari Luhan.

"Maaf kawan, dia milikku!" Baekhyun mengucapkan kalimat tersebut dengan kepercayaan diri penuh kalau Kyungsoo tak akan menolaknya. Tentu saja, Baekhyun sudah memegang kartu As Kyungsoo dan ia sudah membuat Kyungsoo tak berkutik "Bagaimana Kyungsoo sshi. Kau mau menemaniku"

"A-aku tak punya pilihan kan" jawab Kyungsoo pelan, dan ucapannya itu membuat Baekhyun mengumbar senyum kemenangan.

"Baiklah, text aku alamat rumahmu. Dan kau hanya perlu bersiap. Aku akan menjemputmu pukul 8 malam" Kyungsoo hanya mengangguk pasrah setelah Baekhyun merebut paksa ponselnya untuk memasukkan nomer ponsel pemuda itu dalam daftar kontak ponsel Kyungsoo. Setelah Baekhyun menyelesaikannya, Kyungsoo buru buru keluar dari ruang olahraga itu, berhadapan lama dengan Baekhyun bisa membuat Kyungsoo kehilangan akal sehatnya.

Kyungsoo menarik nafas lega setelah berada di luar ruang olahraga, namun itu tak bertahan beberapa lama karena seorang pemuda dengan tindik hidung yang Kyungsoo ingat hampir membuatnya kehilangan kendali malam itu melintas di hadapan Kyungsoo bersama seorang temannya. Mereka saling berbisik dan melempar pandangan meremehkan ke arah Kyungsoo.

"Itu dia yang aku ceritakan padamu Jun Hong ah. Aku yakin kalau dia seorang penyihir!" ucap si pemuda dengan tindik hidung itu. Temannya yang wajahnya tak Kyungsoo kenal membalas perkataan si pemuda itu "Kau yakin? Bukankah kau bilang kau sedang mabuk malam itu?"

"Aku memang mabuk, tapi tak mungkin salah lihat bukan? Jun Hong ah, kau lebih percaya padaku atau anak baru yang mirip iblis itu!" teriakan pemuda itu membuat telinga Kyungsoo menjadi pengang. Mereka membicarakan orang lain dengan suara yang terdengar jelas di hadapan objek yang mereka bicarakan. Bukankah itu sangat tidak sopan? Mata Kyungsoo menyipit, saat dua pemuda itu melewati Kyungsoo dengan santai masih dengan saling berbisik, dan hanya dengan sedikit menggerakan matanya, Kyungsoo membuat kedua pemuda itu jatuh terjungkal ke depan seolah didorong tangan tak kasat mata. Kemudian Kyungsoo melengos pergi meninggalkan dua pemuda yang masih meringis setelah terjatuh dengan tak elegan itu.

. . .

"Apa yang dikatakan si eyeliner itu?" Sehun bertanya dengan raut wajah kesal setelah Kyungsoo kembali ke kelas. Kyungsoo bahkan belum sempat menurunkan pantatnya pada kursi namun Sehun sudah menyerang Kyungsoo dengan pertanyaan lagi.

"Aku hanya mengucapkan terima kasih Sehun ah" ucap Kyungsoo pelan. Ia tak bermaksud berbohong. Memang benar Kyungsoo menemui Baekhyun untuk berterima kasih, ia hanya tak menceritakan bagian dimana Baekhyun memaksa Kyungsoo untuk pergi dengannya ke pesta yang diadakan Kris.

"Kau yakin?" tanya Sehun kembali dengan tatapan menyelidik.

"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" Kyungsoo membalikkan tubuhnya menghadap Sehun. Berhadapan dengan Sehun benar benar seperti menghadapi seorang anak kecil yang terus merengek.

"Cium aku!" jawab Sehun asal dan langsung dihadiahi jitakan ringan dari tangan mungil Kyungsoo.

"Yak, aku meminta ciuman bukan pukulan Do Kyungsoo!"

"Jangan harap aku mau memberikannya Oh Sehun" jawab Kyungsoo dengan santai dan ia mulai menyiapkan buku catatan untuk mata pelajaran selanjutnya.

"Suatu saat kau yang akan memintaku menciummu!" sungut Sehun berpura pura kesal, namun Kyungsoo memilih untuk tak mendengarkannya. Pikiran Kyungsoo masih dipenuhi ingatan saat Baekhyun berbisik pelan di telinganya. Bukan hanya apa yang dibisikkan Baekhyun saat itu yang membuat bulu kuduk Kyungsoo meremang, tetapi juga pemuda mungil itu masih bisa merasakan dengan jelas hembusan nafas Baekhyun yang menggelitik daun telinganya dan menimbulkan sensasi aneh pada tubuh Kyungsoo, perutnya terasa mulas.

"Kau melamun?" Sehun mengibaskan tangannya di depan wajah Kyungsoo saat ia mendapati Kyungsoo tengah terdiam memandangi buku catatan.

"Tidak.." jawab Kyungsoo singkat.

"Jangan katakan kau mulai terikat dengan si eyeliner itu! Karena aku tak akan membiarkannya!"

"Oh Sehun!"

. . .

Kyungsoo tak pernah ingat kapan terakhir kalinya ia menghadiri sebuah pesta, seingatnya itu bertahun tahun yang lalu saat ia datang ke pesta ulang tahun sepupunya yang ke 8 tahun. Sudah terlalu lama, dan kini ia tengah diam merasa bingung dengan memandangi kumpulan baju terbaiknya berharap menemukan setelan yang pantas untuk dikenakannya menghadiri pesta yang diadakan Kris. Meskipun ia tak sepenuh hati menerima ajakan Baekhyun, tetap saja Kyungsoo tak bisa hadir dalam pesta yang diadakan seorang anak walikota dengan penampilan tak menarik.

Setelah lama memilih, Kyungsoo menjatuhkan pilihan pada celana jeans hitam dan kemeja warna biru pastel, dan berhubung suhu udara mulai terasa dingin karena Korea sudah memasuki musim gugur Kyungsoo memutuskan untuk memakai sweater berwarna gading lembut yang terlihat manis melekat di tubuh mungilnya. Kyungsoo memandangi refleksinya pada cermin lemari dan mengambil kesimpulan bahwa penampilannya tak terlalu buruk. Jam digital di atas meja nakas Kyungsoo menunjukkan pukul 8 malam dan bertepatan dengan itu suara klakson kendaraan membuyarkan lamunan Kyungsoo.

Kyungsoo melirik jendela kamarnya, dan melihat sebuah motor besar berwarna hitam parkir tepat di depan teras rumah Kyungsoo. Buru buru Kyungsoo berlari menuju teras menghampiri Baekhyun yang sudah menjemputnya. Kyungsoo merasa sangat beruntung karena saat ini ayahnya tengah menghadiri pertemuan gereja, sehingga ia tak perlu memutar otak mencari alasan yang tepat untuk keluar rumah saat malam hari seperti ini.

"Hai, kau terlihat manis" sapa Baekhyun hangat saat ia turun dari motor hitamnya. Kyungsoo membelalak ketika ia melihat penampilan Baekhyun, pemuda tampan itu menggunakan kaus berbahan wol warnahitam yangmenutupi bagian leher dan dibalut mantel berwarna abu abu dengan panjang selutut, terlihat sangat elegan dan Kyungsoo berani bertaruh jika pakaian yang Baekhyun kenakan berprice tag di atas rata rata. Sangat berbanding terbalik dengan pakaian Kyungsoo yang bisa dibilang sangat sederhana.

"Rasanya aku salah berpenampilan" Kyungsoo mengeluh membuat pemuda tampan di hadapannya tersenyum lembut.

"Tak apa, ini bukan pesta resmi. Kau sudah terlihat sangat menarik dengan penampilan sederhana sekalipun" pujian yang meluncur ringan dari mulut Baekhyun itu membuat semburat merah muda hadir di kedua pipi Kyungsoo. Jantung Kyungsoo berdegup dengan cepat namun dengan irama yang konstan dan wajahnya mulai terasa panas, terlebih Baekhyun terus saja menatap Kyungsoo dengan tatapan tajamnya seolah wajah Kyungsoo adalah suatu objek langka untuk diamati.

"Kau sudah siap?" tanya Baekhyun, ia menyodorkan helm yang sebelumnya sudah ia siapkan terlebih dahulu.

Kyungsoo mengangguk dan meraih helm yang ada di tangan Baekhyun. Sebelum ia mendudukkan tubuhnya di atas motor besar Baekhyun, Kyungsoo menyempatkan diri untuk melihat ke arah rumah Chanyeol, ia tak berharap Chanyeol melihatnya pergi dengan Baekhyun dan menyampaikannya lagi kepada Sehun. Itu bisa membuatnya kerepotan selama beberapa hari ke depan. Setelah memastikan tak ada sosok Chanyeol di sekelilingnya, Kyungsoo segera duduk di motor besar Baekhyun dan memegang pinggang pemuda itu erat. Motor Baekhyun melaju dengan cepat, membelah angin malam musim gugur yang terasa semakin dingin menusuk kulit. Tanpa sadar Kyungsoo semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun, dan ia merutuk dalam hati karena merasa sangat nyaman saat tubuhnya menempel sempurna dengan tubuh pemuda ahli hapkido itu.

. . .

Ucapan Sehun mengenai Kris dan kawan kawannya ternyata tak main main, semula Kyungsoo mengira rumah walikota itu tak terlalu megah berhubung kota yang dipimpinnya hanyalah sebuah kota kecil di pinggiran pantai Laut Selatan. Namun Kyungsoo menarik kembali pemikirannya setelah Baekhyun membawanya ke mansion Kris yang ada di pinggir tebing curam dengan ombak besar di bawahnya. Siluet mansion itu mengingatkan Kyungsoo dengan sekolah sihir yang sering terlihat di film film apabila dilihat dari jauh. Kyungsoo hanya bisa menganga saat melihat halaman mansion dipenuhi kendaraan kendaraan mewah. Sempat terpikir oleh Kyungsoo untuk melarikan diri saja, namun Baekhyun sudah menggenggam tangan mungilnya menuntun Kyungsoo untuk masuk ke dalam mansion.

"Ayo masuk.." ajak pemuda itu dengan lembut, ia dapat merasakan telapak tangan Kyungsoo dipenuhi keringat dingin.

"L-lebih baik aku menunggu di luar saja.."

Baekhyun mengernyit kemudian menyeret Kyungsoo masuk "Jangan bercanda..kau pasanganku malam ini" ucapnya.

. . .

Kyungsoo tak merasa yakin jika orang orang yang diundang Kris adalah orang orang biasa, dilihat dari penampilan mereka yang begitu high class dan juga kendaraan yang mereka bawa saling berlomba untuk terlihat paling mewah, ini sudah seperti pesta private para chaebol Korea. Sorot mata kyungsoo menjelajahi mansion mewah itu, dan ia yakin bahwa tak satupun murid sekolahnya yang terlihat. Smuanya hanya wajah wajah asing dalam ingatan Kyungsoo, terkecuali Luhan, Jongin, dan Kris tentunya yang Kyungsoo lihat tengah mengobrol di sudut ruangan. Baekhyun mengeratkan genggaman tangannya pada Kyungsoo dan menarik Kyungsoo untuk melangkah mendekat menghampiri Kris dan kawan kawannya.

"Hei Guys!" sapa Baekhyun hangat, sedangkan Kyungsoo hanya bisa menundukkan wajahnya. Ia sangat gugup dan merasa tak seharusnya berada di pesta tersebut.

"Hai Baek, hai Kyungsoo, kau terlihat manis!" Luhan melompat dari tempatnya dan langsung menyambar kedua tangan Kyungsoo yang masih digenggam Baekhyun. Kyungsoo hanya bisa pasrah ketika Luhan memeluknya erat seolah Kyungsoo adalah boneka besar yang menggemaskan.

"Siapa dia?" Kyungsoo merasakan tubuhnya menegang setelah mendengar suara itu. Ia menoleh dan mendapati Kris tengah melayangkan tatapan meminta penjelasan kepada Baekhyun. Tentu saja seperti itu, sangat wajar jika Kris merasa keberatan karena ia sama sekali tak mengundang Kyungsoo ke pestanya.

"Dia teman istimewaku, jadi wajar jika aku mengajaknya" Baekhyun terlihat sangat santai menjawab pertanyaan dari Kris, namun tetap tak membuat kekhawatiran hilang sepenuhnya dari hati Kyungsoo. Menyesal rasanya Kyungsoo tak lebih berusaha menolak ajakan Baekhyun hingga harus berakhir dengan kecanggungan luar biasa di tengah pesta mewah seperti ini.

"Kau tak seharusnya mengajaknya Baek, kau tahu ini pesta khusus untuk anggota Skull. Aku bahkan tak mengajak Soojung" Kris kembali melayangkan protes, kedua matanya menyipit memandang tajam ke arah Baekhyun yang hanya dibalas santai pemuda dengan eyeliner tebal itu. Kyungsoo kembali menahan nafas saat perkataan Kris semakin sengit, ia bukannya tak peka saat menangkap nada tak suka dari setiap kalimat yang dilontarkan pemuda blasteran itu. Kyungsoo hanya merasa tak mampu untuk menjawabnya protesan Kris, lagipula bukan keinginan Kyungsoo untuk datang ke pesta ini. Ia hanya menyetujui permintaan Baekhyun yang mengajaknya.

"Sudah kukatakan jika dia teman istimewaku Hyung" Baekhyun menatap Kris dengan jengah karena Kris sama sekali tak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan. "Terserah" Kris menegak minuman berwarna biru laut yang ada di tangannya dalam sekali tegukan dan beranjak meninggalkan Baekhyun, Luhan juga Kyungsoo. Jongin mengekor di belakang tubuh Kris, sekali pandangannya mengarah kepada Kyungsoo yang Kyungsoo anggap jika itu adalah pandangan meremehkan.

"Jangan dipikirkan, mereka hanya sedang stres saja" Luhan seolah dapat membaca pikiran Kyungsoo yang menegang. Dengan penuh kelembutan, pemuda keturunan China itu menggenggam bahu Kyungsoo, mencoba memberi ketenangan. "Apa terjadi sesuatu?" suara Baekhyun memecah lamunan Kyungsoo yang masih dipenuhi sikap dingin Kris dan Jongin.

"Ketua baru saja menemuinya. Sepertinya ia memberi Kris misi lagi" Baekhyun menaikkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Luhan, ada yang aneh dalam perkataan pemuda China itu. "Maksudmu ada target baru?" tanya Baekhyun memastikan dan dibalas anggukan dari Luhan.

"Kali ini siapa?"

"Kau akan tahu nanti, Kris meminta kita berkumpul setelah pesta usai" jawab Luhan perlahan dengan sorot mata menatap Kyungsoo, ia terlihat sangat hati hati memberikan penjelasan kepada Baekhyun seolah terlalu takut jika ada sesuatu yang menarik perhatian Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk, dan menarik lengan Kyungsoo "Aku menemani Kyungsoo dulu" ucapnya.

Pemuda tampan itu menarik Kyungsoo ke salah satu sudut mansion yang tak terlalu ramai. Setelah mengambil dua gelas minuman tanpa alkohol, Baekhyun mendudukkan tubuhnya pada sebuah sofa, dan mulai menikmati minuman yang dipegangnya. Kyungsoo terlihat tak dapat mengikuti apa yang Baekhyun lakukan, ia hanya menatap gelasnya dengan tatapan kosong. "Ada apa?" tanya Baekhyun lembut.

"Apa itu Skull?" Berbasa basi bukanlah keahlian Kyungsoo. Saat ia hanya berdua saja dengan Baekhyun, Kyungsoo langsung menanyakan pertanyaan yang terus mengusiknya ketika Kris membahasnya tadi. Skull, sejauh ini Kyungsoo hanya bisa mendeskripsikannya seperti sebuah perkumpulan dengan seorang ketua yang memimpinnya seperti yang dikatakan Luhan.

"Aku tak bisa memberitahumu sekarang. Belum saatnya"

Kyungsoo mendengus, bukankah sangat konyol? Baekhyun terus memaksa Kyungsoo untuk mengikuti semua perkataannya,namun ia tak mau menjawab pertanyaan yang Kyungsoo ajukan. Dilihat dari sudut manapun terlihat sangat tidak adil.

"Lalu untuk apa kau mengajakku kemari?" ucap Kyungsoo ketus.

"Kau marah?"

"Menurutmu?"

Baekhyun menghela nafas panjang dan meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja. Ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh Kyungsoo hingga Kyungsoo terdesak pada sudut sofa. Dengan jarak sedekat ini, Kyungsoo dapat mencium aroma parfum Baekhyun yang memanjakan indera penciumannya. Harumnya membuat pikiran Kyungsoo kembali ke alam bawah sadarnya.

"Aku akan menceritakannya padamu suatu saat nanti, kau percaya padaku kan?" bisik Baekhyun pelan, dan Kyungsoo menahan nafas karenanya.

"A-aku mau pulang" lirih Kyungsoo.

"Pestanya baru dimulai Kyung" kening Baekhyun berkerut saat mendengar permintaan Kyungsoo. Kyungsoo terlihat mulai gelisah dan tak nyaman dengan posisinya yang sangat dekat dengan tubuh Baekhyun, dan aroma tubuh Baekhyun benar benar sudah membuatnya kehilangan kesadaran.

"Sebelum itu, bagaimana kalau kau menceritakan dulu padaku semua tentangmu?"

Kyungsoo mendapatkan kembali kesadarannya setelah mendengar kalimat yang dilontarkan Baekhyun. Ia berdecak pelan dan memandang sinis ke arah Baekhyun "Kau berharap aku menceritakan semua tentangku, sedangkan pertanyaanku tentang kelompokmu saja kau tak mau menjawabnya. Sangat adil sekali Tuan Byun!" ucap Kyungsoo tak percaya dan memalingkan wajahnya.

"Aku tak bilang tak akan memberitahumu. Hanya belum waktunya saja. Tak ada yang harus kusembunyikan darimu. Suatu saat kau akan mengetahui setiap rahasia kecil yang kupunya" Kyungsoo menelan ludahnya perlahan saat mendengar pernyataan Baekhyun. Perkataan pemuda tampan itu mengesankan jika Kyungsoo akan terikat dalam jangka waktu yang panjang dengannya. Terdengar seperti takdir yang dipaksakan. Kyungsoo kehilangan kalimat yang sudah disiapkannya untuk melawan pernyataan Baekhyun saat melihat senyuman tipis terpatri di wajah tampan pemuda itu. Kyungsoo lebih memilih untuk menundukkan wajahnya kembali. Ia sudah kalah telak.

"Jadi kau mau menceritakannya padaku? Terutama part dimana matamu berubah menjadi merah?"

Kyungsoo tercekat, dengan gerakan terburu Kyungsoo meminum sisa minumannya untuk membuat kerongkongannya yang kering sedikit terbasahi. Kyungsoo ingin kabur dari Baekhyun, namun sepertinya itu hanya akan menambah masalahnya saja. Baekhyun terlihat seperti seseorang yang tak akan melepaskan Kyungsoo begitu saja. Kyungsoo menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.

"A-aku terlahir dengan kekuatan telekinesis"

"Telekinesis? Maksudmu sejenis kekuatan pikiran?" selidik Baekhyun dan berbalas anggukan dari Kyungsoo.

"Seperti ini…." Kyungsoo mengarahkan telunjuk tangan kanannya pada gelas kosong yang ia letakkan di atas meja. Dengan gerakan perlahan dan tatapan mata penuh konsentrasi, Kyungsoo membuat gelas itu melayang setinggi 20 cm dari atas meja, hanya terbang melayang tak membuatnya menjadi perhatian tamu undangan yang sibuk dengan obrolan masing masing. Pertunjukkan kecil dari Kyungsoo itu membuat mata sipit Baekhyun membelalak dan seringaian muncul di bibir tipisnya. Jadi kekuatan itulah yang membuat keadaan toilet malam itu menjadi berantakan.

"Daebak.." gumam Baekhyun pelan masih dengan sorot mata tertuju pada gelas yang melayang tersebut.

Kyungsoo menghela nafas pelan, ia sudah menduga reaksi seperti itu yang akan diperlihatkan Baekhyun jika Kyungsoo memperlihatkan kemampuannya. Apa yang Kyungsoo lakukan hanya dalam konotasi ringan, ia belum menceritakan bagian terberatnya.

"Menurutmu keren? Aku malah menganggapnya seperti kutukan" keluh Kyungsoo, pemuda itu menurunkan telunjuknya membuat gelas yang melayang di hadapannya turun kembali.

"Itu hanya versi halus dari kutukan ini, akan jadi sebuah bencana jika aku kehilangan kendali pikiranku"

"Maksudmu seperti malam itu?" tanya Baekhyun kembali. Kyungsoo mengangguk.

"Saat aku marah atau merasa terancam, kekuatanku akan mengambil alih pikiranku dan membuatku lepas kendali. Aku bisa melukai orang lain, atau yang terparah membunuh orang lain dengan kekuatanku.." lirih Kyungsoo pelan dan ia mulai menggerakan kedua telunjuk dengan gerakan memutar.

"Memangnya apa yang dilakukan pemuda pemuda berandalan itu?"

"Me-mereka mencoba melecehkanku, dan itu membuatku ketakutan setengah mati hingga membuat mataku menjadi merah" kalimat Kyungsoo lebih menyerupai cicitan saat Baekhyun bertanya padanya. Rahang Baekhyun mengeras ketika mendengar pengakuan Kyungsoo, sempat terlintas dalam pikirannya untuk membuat pemuda pemuda berandalan itu minimal patah kaki, namun apa yang Kyungsoo lakukan sepertinya sudah memberi efek jera pada mereka.

"Aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhmu lagi" ucap Baekhyun dengan mantap. Pandangan matanya menelanjangi wajah Kyungsoo, menelusuri setiap garis lembut pada wajah pemuda itu hingga membuat semburat merah muda kembali hadir di kedua pipi tembamnya. Kyungsoo tak mengerti kenapa akhir akhir ini wajahnya selalu merah padam jika berhadapan dengan Baekhyun. Tubuhnya selalu bereaksi setiap kali Baekhyun memperlakukannya dengan lembut.

"Baek, Kris meminta kita berkumpul" suara dari Luhan menghancurkan moment saling memandang antara Baekhyun dan Kyungsoo. Mata Kyungsoo berkedip berulang kali sedangkan Baekhyun masih belum melepaskan pandangannya dari wajah Kyungsoo, ia terlalu senang melihat wajah menggemaskan itu.

"Aku akan mengantar Kyungsoo pulang dulu.." Baekhyun bangkit dari duduknya dan menarik ringan tangan mungil Kyungsoo. Ia melewati Luhan yang berdiri tak jauh dari sofa, dan menepuk pelan bahu pemuda keturunan China itu saat melewatinya. Luhan mengendikkan bahu melihat Baekhyun yang begitu over protektif terhadap Kyungsoo, sepertinya sang ahli hapkido sedang jatuh cinta.

. . .

Setelah Kyungsoo menceritakan segala hal tentangnya kepada Baekhyun, ada perasaan nyaman dalam hatinya saat ia kembali memeluk Baekhyun selama perjalanan pulang menggunakan motor besar pemuda tampan itu. Kyungsoo bersyukur Baekhyun tak menganggapnya aneh atau mengerikan seperti yang dilakukan pemuda berandalan yang melecehkannya malam itu. Senyuman menghiasi wajah manis Kyungsoo ketika angin musim dingin yang seharusnya terasa menusuk kulit justru menjadi hangat ketika tubuh pemuda itu menempel dengan tubuh Baekhyun.

Saat motor Baekhyun melewati jalanan lengang yang membelah hutan pinus, terdengar suara deru mesin mobil yang mendekati mereka. Baekhyun melirik kaca spionnya, dan melihat sebuah mobil Porsche berwarna hitam mengejar mereka dengan kecepatan penuh. Mata Baekhyun menyipit dari balik helm yang ia gunakan dan pemuda itu menambah kecepatan laju motornya saat mobil Porsche tersebut semakin mendekat.

"B-baekhyun" Kyungsoo membuka penutup helmnya dan memanggil Baekhyun dengan setengah berteriak agar terdengar oleh pemuda itu. Ia mencoba memperingati Baekhyun mengenai mobil Porsche yang tengah mengejar mereka, namun sepertinya Baekhyun sudah menyadarinya "Kencangkan peganganmu Kyung!" jawab Baekhyun yang langsung dituruti Kyungsoo. Motor Baekhyun semakin melaju kencang, namun kecepatan Porsche di belakangnya dapat mengimbangi motor tersebut hingga hanya tercipta jarak beberapa meter saja diantaranya.

Seorang pria berkacamata hitam menyembulkan wajahnya dari balik kaca mobil Porsche dengan tangan menggenggam sebuah senapan. Mata bulat Kyungsoo membelalak horror dan ia kembali mencoba memperingati Baekhyun "Baek, mereka bersenjata" ucapnya dengan nada panic.

"Shit!" Baekhyun mengumpat dan mencoba mengecoh pria berkacamata hitam itu dengan meliukkan motornya ke kanan dan kekiri dengan gerakan cepat. Satu tembakan dilepaskan pria itu namun hanya mengenai kaca spion Baekhyun membuat spion motor mewah itu hancur berkeping keping. Tubuh Kyungsoo menegang sedangkan tangannya mengeratkan pelukannya di pinggang Baekhyun.

Beberapa tembakan kembali melesat namun kemampuan Baekhyun untuk membaca arah tembakan dengan tepat membuatnya kembali dapat menghindar. Saat mereka melewati jalanan yang berada di tepi tebing curam, Baekhyun kehilangan kesempatan untuk menghindar, terlalu beresiko jika harus menghindar dengan mendekati pinggiran tebing. Pria berkacamata itu kembali melesatkan tembakan dan mengenai ban belakang motor Baekhyun. Membuat motor besar itu hilang kendali dan langsung berguling menghantam sisi tebing. Tubuh Baekhyun dan Kyungsoo terpental bersamaan.

Mobil Porsche hitam itu berhenti tepat di depan Kyungsoo dan Baekhyun. Sadar dengan bahaya yang mengancam, Baekhyun langsung mengambil posisi di depan Kyungsoo mencoba melindungi pemuda itu sekalipun tubuhnya penuh luka akibat terjatuh dari meringis ketika menyadari luka menganga pada kaki kanannya dan ia berpegangan erat pada bahu belakang Baekhyun.

Pria dengan senapan di tangannya itu keluar dari mobil bersamaan dengan temannya yang bertugas sebagai pengemudi. Mereka menyeringai saat melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang terluka parah.

"Lama tak jumpa Byun. Tuan Kwon menitipkan salam jika aku bertemu denganmu" ucap si pria dengan kacamata hitam itu.

"Cih, aku tak sudi mengakrabkan diri dengan kakek tua itu!" jawab Baekhyun dengan meludah. Si pria menggeram dan melepaskan tembakan yang langsung mengenai dada kanan Baekhyun. Mata bulat Kyungsoo semakin membulat saat Baekhyun perlahan lahan mulai bersimpuh di hadapannya. Ia mulai panic, dan pandangannya mengabur ketika melihat darah mulai mengalir dari mantel yang Baekhyun kenakan.

"B-Baekhyun!" Kyungsoo memekik dan meraih tubuh lemah Baekhyun dalam pelukannya. Baekhyun masih terjaga kesadarannya, namun fokusnya memudar saat rasa sakit mulai mejalar ke seluruh dadanya. Darah yang terus mengalir membuat wajahnya kehilangan warna dan menjadi pucat. Ia meringis perlahan.

"Tuan Kwon hanya memerintahku untuk membuatmu lumpuh saja, tapi kalau kau masih terus melangkah mengusiknya, dia tak akan segan segan menghabisimu dan si manis kekasihmu ini jika ia mau" ucap pria itu sebelum melangkah pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih memeluk Baekhyun yang terluka.

"Ba-Baek" Kyungsoo sama sekali tak menghiraukan ocehan pria pria yang sudah menyerangnya itu, ia lebih memilih untuk menahan darah yang terus mengalir dari lubang menganga di dada Baekhyun yang tertembus timah panas. Dan ketika darah Baekhyun memenuhi telapak tangannya,tangan Kyungsoo bergetar. Pemuda itu merasakan panas pada wajahnya dan pandangannya mulai mengabur, bukan karena airmata yang mengaliri mata bulat itu melainkan karena bola mata Kyungsoo mulai berubah warna menjadi merah terang. Kyungsoo menggeram dan berdesis, kilatan pada mata merahnya menunjukkan jika amarah tengah mengusai pemuda bertubuh mungil itu. Saat Kyungsoo mulai kehilangan kendalinya, Baekhyun menyadari hal tersebut. Ia mencoba menahan tangan Kyungsoo saat pemuda itu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mendekati Porsche hitam yang masih terparkir tak jauh dari mereka.

Namun kekuatan Baekhyun yang tengah terluka tak sebanding dengan kekuatan Kyungsoo yang mulai kehilangan kendalinya.

Pemuda mungil itu berdesis dan mengangkat tangannya tinggi tinggi, bersamaan dengan itu mobil Porsche hitam tersebut perlahan terangkat dari tanah. Suara ban yang berputar di udara terdengar jelas saat si pria kacamata hitam mencoba menjalankan mobilnya. "Damn, kenapa dengan mobil ini?" si pria mengumpat, dan matanya membelalak horror ketika melihat Kyungsoo berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah yang mengerikan.

"Tembak saja!" teriak pria di bangku pengemudi membuyarkan lamunan temannya yang masih terhipnotis dengan transformasi Kyungsoo. Setelah beberapa menit hanya menatap Kyungsoo dengan mulut menganga, pria berkacamata hitam itu menggangguk dan mulai mengarahkan senapannya pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang menyadari arah mulut senapan berdesis pelan dan menggerakkan mobil tersebut langsung menuju jurang. Tanpa ragu dan tanpa ampun, pemuda itu melemparkan mobil Porsche itu jatuh ke jurang bersama dua penumpang di dalamnya yang hanya bisa berteriak histeris ketika mobil mulai jatuh. Suara ledakan terdengar menggema diiringi kepulan asap berapi yang timbul setelah mobil menghantam dasar jurang.

Kyungsoo mengatur nafasnya yang mulai terengah engah. Ia memandang sengit kepulan asap di bawahnya masih dengan mulut kecilnya yang berdesis pelan. Seringaian masih menghiasi bibir berbentuk hati itu hinggasebuah rengkuhan kuat Kyungsoo rasakan di punggungnya.

"Hentikan Kyung.." Baekhyun berbisik pelan dengan tangan yang menyelimuti pemuda mungil. Mencoba menenangkan tubuh mungil yang bergetar hebat dalam pelukannya.

"Haahhh, hah" Kyungsoo mengambil nafas sebanyak banyak saat iris matanya kembali menjadi hitam. Tenaganya menguap, dan ia jatuh perlahan dengan Baekhyun yang masih memeluknya erat dari belakang.

"B-Baekhyun" Saat kesadarannya kembali, Kyungsoo menjadi panic dan membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun.

"Baek, kau berdarah.." lirih Kyungsoo pelan, ia menggigit pelan bibir bawahnya dengan jemari terus menekan luka tembak di dada Baekhyun.

"Aku tak apa apa. Ini, hubungi Jongin. Katakan kita butuh pertolongan" Baekhyun menyerahkan ponsel hitam dari balik saku mantelnya sebelum matanya menutup karena kesadaran yang mulai menghilang. Kyungsoo meraih ponsel itu dengan tangan bergetar, bahkan saat ia mencari kontak Jongin di ponsel Baekhyun. Dalam nalarnya, ia berusaha memahami apa yang baru saja dialaminya. Dua orang pria berpenampilan mafia baru saja melakukan percobaan pembunuhan pada Baekhyun dan Kyungsoo atas perintah seseorang bernama Tuan Kwon. Apa yang sebenarnya Baekhyun dan kelompok Skull lakukan? Apa sebenarnya Skull? Dan pemikiran itu terus menghantui Kyungsoo ketika ia menunggu Jongin datang membawa bantuan.

. . .

Bersambung

Sinetron banget bersambung -_- review juseyoo~ kamsahamnida ^_^