Seth Clearwater
Merasakan pendapatnya mengenai Benjamin adalah hal yang indah. Cinta pandangan pertama tidak 'asli' menurutku, ternyata aku salah. Dia langsung menilai soal keceriaan, senyum ramah, kilau indah kulitnya, dan bukan hanya wajah saja.
Kami berjalan menembus hutan, dengan kecepatan manusia. Hal ini membuat Jake tidak sabaran. Grace bilang dia lelah dan kami tak perlu buru-buru, tapi Jake tentu saja tidak peduli. Jika saja dia bisa, dia pasti sudah menyeret Grace sepanjang perjalanan ini. Pikiran Jake tentang itu terbaca jelas, dan aku bertanya-tanya apa Grace juga bisa mendengarnya. Kurasa iya, karena dia sudah tak lagi tersenyum ramah pada Jake. Dia berbalik menatapku, berharap aku berbeda dari Jake, "Siapa namamu?"
"Peraturan pertama," kata Jake, menghalangi Grace, "Jangan pernah menatapnya," Jake menunjukku, "Baik dalam bentuk manusia atau serigala."
"Oke," jawabnya.
"Kau tak bertanya kenapa?", tanya Jake penasaran. Aku juga penasaran. Sangat tidak umum untuk tidak bertanya kenapa.
"Karena dia belum mengimprint. Kau takut kalau dia mengimprintku, kau jadi tak bisa membunuhku," tebaknya dengan tepat.
"Kau cukup cerdas untuk ukuran vampir," kata Jake lagi. Jake selalu bermulut pedas jika dia sedang tidak mood, itu sudah jadi kebiasaannya.
"Dan kau terlalu angkuh, bahkan untuk ukuran shape-shifter," balas Grace. Dia tak menjawabnya dengan angkuh, malah dia tersenyum. "Pasti ada banyak orang yang membuatmu kesal, ya?", tanyanya.
"Aku tidak butuh terapi psikologis dari hybrid aneh," jawab Jake, menyibak daun yang menghalangi jalannya.
"Aku tidak melakukan terapi apapun. Aku hanya bertanya, pasti jawabannya iya. Sangat menyenangkan membuatmu kesal dan mengeluarkan kata-kata pedas yang menghibur."
Terkadang itu benar.
Jake memandangku tajam. Dalam bentuk serigala atau pun manusia, Jake tetaplah Alpha. Seketika aku menunduk.
"Jadi, siapa namamu?", tanyanya lagi. Tidak menatapku.
"Namanya Seth Clearwater."
Grace berhenti tiba-tiba. Tidak tahu kenapa, pikirannya kosong.
"Ada apa lagi?", tanya Jake kesal.
Grace menggeleng, "Tidak. Apa tempat kalian masih jauh?"
"Tidak akan sejauh ini jika kita berlari," kata Jake kesal.
"Aku sudah cukup berlari saat kawanan temanmu mengejarku. Aku menghabiskan seluruh energi yang kusimpan selama seratus tahun hanya untuk berlari menghindari mereka."
Jadi kecepatanmu ada batasnya?
"Well. . .", dia ragu, "Bisa dibilang begitu." Jake menatapnya, makin dalam. "Aku akan menceritakannya pada Sam. Jangan mengintimidasiku, jika kau ingin mendengarnya, kau akan mendengar semuanya."
Aku merinding. Aku tahu rasanya saat Jake mengeluarkan tatapan 'Alpha' itu. Kau menemukan ketakutan terbesar dalam hidupmu, sekaligus rasa aman yang luar biasa pada Alpha-mu. Tatapan itu membuatmu ingin selalu mematuhinya, separuh karena takut yang tak akan bisa ditahan, separuh lagi karena rasa hormat yang besar. Namun Grace samasekali tak merasakan ketakutan apapun, seakan-akan rasa takut itu disembunyikan di dalam tembok kebenciannya terhadap shapeshifter.
Kita melangkah ke lahan kosong ditengah hutan, dengan sebuah rumah yang mungil, cantik dan rapi: Rumah Emily. Disana sudah ada Sam dan yang lainnya, dalam bentuk serigala. Siaga dan penuh amarah, mengawasi setiap gerakan Grace. Ada perubahan pada Grace. Tangannya sedikit bergetar dan perasaan takutnya menjalar lewat di pikiranku. Jake juga merasakannya, entahlah kalau Sam.
Lalu tiba-tiba kosong. Perasaannya tenang, seperti gemericik air di sungai kecil.
Aku hampir saja menatapnya, memastikan apa ekspresinya. Jake menggeram, mengingatkanku, tiba-tiba sudah ada dalam bentuk serigala.
"Namaku Grace, salam kenal," katanya dengan nada tenang.
Apa tujuanmu kesini? Sam maju, dan masih menunjukkan taring putihnya.
"Melarikan diri."
Dari?
"Keluargaku. Kau kenal Nahuel? Dia..."
Grace bercerita tentang keluarganya. Soal saudara-saudara perempuannya, ada yang membuat dia merasa senang menyebut namanya, ada yang membuat lidahnya kelu. Soal Nahuel, yang dikaguminya. Dan soal Joham, yang sangat dia benci. "Kalau ada seseorang yang harus kau bunuh, itu Joham. Cepat atau lambat, dia akan 'membuat' banyak hybrid. Aku hanya salah satu 'kreasinya'," tambahnya, dengan satu helaan napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Rasa manis keluar dari napasnya, kali ini wanginya lembut, menggoda setiap shape-shifter baru yang belum mengimprint, termasuk aku. Sam berbalik ke kawanannya dan meraung keras, bukan seperti serigala, tapi seperti beruang. Jika saja Jake tak ada disini, aku pasti sudah berlari jauh-jauh dari Sam. Aku merapat ke sisi Jake.
"Maafkan aku," kata Grace tulus.
Kau tidak harus bernapas bukan?, kata Paul kesal.
"Tidak harus sering, seperti lumba-lumba. Hanya saja aku bisa menahannya lebih lama."
Dan bagaimana bisa kau mendengar kami?, tanya Collin.
"Sama seperti shape-shifter lainnya, bisa saling mendengar bahkan dalam bentuk manusia. Meskipun kurasa agak sulit mendengar kawanan kalian. Rasanya seperti mendengar bisikan."
Jika itu pernyataan tersembunyi untuk bergabung ke kawananku, aku menolak, jawab Jake buru-buru.
"Aku baru mau menambahkan kalau aku juga sulit mendengarmu," tambah Grace, "Walau kurasa perasaanku terbaca jelas oleh kalian semua bukan?"
Sam tidak peduli dengan pertengkaran mereka, bertanya pada Grace dengan cepat, Apa kekuatanmu selain kecepatan itu?
Sebelum kau lanjutkan, kata Jake. Kami sedikit syok. Hanya Jake yang bisa memotong perkataan Sam. Kecepatan itu tidak berguna. Setelah kau mengejarnya, dia harus berjalan dengan kecepatan manusia untuk pergi kesini.
Dan makananmu?, tanya Sam menggeram. Dia masih memamerkan taringnya.
"Kurasa kau harus mendengarkanku terlebih dahulu sebelum menggeram. Aku. . .takut," katanya jujur, tersenyum canggung. "Jika kau tak percaya Jake akan. . ."
Aku tak akan membelamu. Sedikit pun.
"Seth akan menjadi saksinya," koreksinya. Dia bercerita soal Ibunya yang keturunan Ateara, yang membuat mereka semua terbelalak. Dia bercerita soal makanannya, membuat Sam mati-matian tak menggeram padanya. Tapi dari sini tak ada perubahan dari ekspresi Sam. Ada yang lain?
"Aku... Aku bisa mengambil kekuatan seseorang." Jake mendorongku menjauhinya. Cepat-cepat dia menambahkan begitu melihat ekspresi Sam yang menakutkan. "Sementara. Hanya saat aku menyentuhnya, itu pun hanya kekuatan psikis, bukan fisik. Kalian tidak punya kekuatan itu bukan? Ini hanya berlaku untuk vampir. Jadi... Kurasa kalian bisa tenang."
Tidak setenang itu. Kau tidak diizinkan untuk melewati wilayah ini.
Hanya perasaanku saja, atau Grace merasa senang, seperti seseorang yang mendapat hadiah undian satu milyar.
Kenapa kau merasa senang?, tanya Paul tersinggung.
"Karena Sam cerdas dan bijaksana. Aku memang setengah shape-shifter, tapi bagaimana pun juga aku vampir," kata Grace, kurasa dia tersenyum. Tidak mungkin tidak. "Dan karena hal itu, aku lebih nyaman berada di dekat vampir. Kau lihat, tidak bermaksud menyinggung kalian, aku kedinginan saat berada dekat kalian."
Kami adalah makhluk dengan suhu tubuh diatas 40 derajat celcius!, kata Jared.
"Aku tahu, tapi itulah kenyataannya."
Dan jika kau sekali-kali membahayakan satu nyawa manusia...
"Tidak akan. Aku berjanji," katanya dengan bibir bergetar. Dia mengaku kalau dia takut, tapi baru kali ini aku melihat tanda rasa takut itu.
Dia hampir seberani Jake.
Grace Ateara
Tunggu dulu.
Tenggorokanku tercekat. Mati-matian aku berusaha bersikap tenang daritadi, kurasa tak berhasil. Sam adalah serigala paling mengerikan yang pernah kutemui. Dan juga yang paling ingin aku hormati. Memang seperti itulah harusnya seorang Alpha. Karena dua alasan itu tak ada pada diri Jake aku tak mengerti kenapa dia bisa menjadi seorang Alpha. Aku membalikkan badan, tersenyum kaku.
Apa kau bisa berubah menjadi serigala?
Aku tak bisa berbohong padanya karena seluruh serigala, atau mungkin dia akan segera tahu. Mereka pasti bisa merasakan perasaan gelisah dari kebohongan yang kubuat. Jadi aku terpaksa menjawab jujur, "Iya." tapi cepat-cepat kutambahkan kalau: "Aku tak mau melakukannya."
Boleh aku tahu alasannya?
"Karena ini bajuku yang terbaik," jawabku asal. Jawaban itu jujur, namun bukan alasan utama.
Seleramu cukup buruk, kata Jake menghina.
Otakku tak berjalan baik saat berhadapan dengan ketakutan seperti ini. Lain kali aku akan membalasnya. "Aku mungkin akan menunjukkannya padamu, jika itu membuatmu bisa membuatmu percaya. Suatu saat nanti mungkin, tidak sekarang."
Untungnya tambahanku tadi membuat alasanku menjadi dipercaya. Dan itu membuatku bebas dari Sam, untuk sementara waktu.
Singkat cerita, Seth pergi entah kemana, aku dan Jake kembali ke rumah Cullens. Jake berlari, sedangkan aku berjalan. Mungkin sekarang dia sudah sampai. Sepertinya dia punya satu lemari baju disana. Shape-shifter di Amazon tidak peduli soal baju. Kurasa mereka juga, tapi bagiku tak masuk akal menghabiskan satu baju setiap mereka ingin berubah. Terlalu menghabiskan uang.
"Hey! Tunggu aku!"
Aku menoleh kebelakang. Itu Seth yang berlari sambil menundukkan kepala. "Hey!", sapaku.
"Maaf aku tidak diizinkan untuk menatapmu," katanya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti kok," jawabku tersenyum kaku.
Kami diam beberapa lama. Aku tidak bisa mencari bahan pembicaraan. Satu-satunya laki-laki yang pernah aku ajak bicara berdua adalah Nahuel. Kita bisa membicarakan banyak hal, karena kami punya satu kemiripan besar: tidak tahan untuk berada di dekat Joham dan Serena. Kami juga sama-sama hybrid. Sedangkan aku dan Seth berbeda spesies. Dan seumur hidupku, hubunganku dengan anjing selama seratus tahun lebih tidak pernah lancar.
"Kau pemakan daging bukan? Jadi, apa kau mau makan steak kapan-kapan? Aku tahu tempat yang bagus," kata Seth masih menunduk, tapi tersenyum.
"Kedengarannya menyenangkan," jawabku. Aku bersyukur dia tak bisa menatapku, karena senyumku pasti sedingin es. "Tapi sebelum kau kecewa, aku sebenarnya bukan tipe teman yang menyenangkan dan tak pernah banyak bicara. Aku takut kau bosan. Kau tahu maksudku kan?"
"Itu tidak masalah. Aku tak pernah berhenti bicara. Mungkin kau hanya bisa mendengarkan. Mungkin kaulah yang kecewa."
"Aku suka mendengarkan seseorang bercerita," kataku jujur. Ah, kata-kataku seperti anak kecil. "Terlebih lagi, aku tak punya cerita yang menarik."
"Seratus dua puluh tahun tanpa cerita?", tanya Seth heran.
"Tambahkan sepuluh tahun," kataku tersenyum. "Karena kau sudah tahu umurku, umurmu berapa?"
"Enam belas, dalam tubuh lima belas tahun," jawab Seth. Dia sedikit kesal dengan kenyataan itu. "Aku harap tubuhku sedikit lebih...tua."
Aku menggeleng, "Kau sempurna."
Seth tertawa kecil.
"Sungguh," kataku tersenyum. "Nahuel bilang kalau semua hybrid berhenti tumbuh pada usia tujuh belas tahun. Dilihat dari wajah dan tinggiku, kurasa aku berhenti tumbuh di usia lima belas tahun juga. Tapi kau termasuk tinggi untuk ukuran anak lima belas tahun."
"Jangan panggil aku 'anak'", katanya. Aku mendadak terdiam. Apa aku sudah menyinggung perasaaannya? Tapi nadanya sungguh ceria. "Semua anggota kawananku memanggilku begitu, bahkan termasuk kawanan baru."
"Well, sekarang kau bicara pada nenek tua bangka berumur seratus tahun," kataku tersenyum canggung. Lalu aku mendengus, "Pasti itu membuatmu kesal."
Seth mengangkat bahu, "Kadang, tapi aku senang punya banyak kakak."
Aku tersenyum mendengar jawaban yang rendah hati itu. Lalu tiba-tiba, kami kehabisan bahan pembicaraan lagi. Akhirnya aku yang memulai, saat rumah Cullens sudah terlihat. "Mungkin aku adalah orang paling canggung yang pernah kau kenal. Aku jarang mengobrol dengan seseorang."
"Tidak apa-apa, sungguh. Aku senang ada teman yang seumuran denganku di dunia dongeng ini," katanya tersenyum. Aku menahan tawa. Seumuran? Dia cepat-cepat mengoreksi, "Well, 'terlihat' seumuran denganku. Ayo kita masuk."
Dia bau, lembab dan juga dingin, tapi entah kenapa aku samasekali tak terganggu dengan itu semua. Dia berbeda dari anjing lainnya. Melihat punggungnya yang tegap, tingginya yang hanya berbeda sepuluh sentimeter denganku, rambut hitamnya yang cepak dan bercahaya, juga. . . Tunggu! Ingat, Grace. Dia adalah anjing. Jangan pernah berteman dengan anjing lagi. Dia memang baik, tapi aku tahu dan aku sadar aku harus menjaga jarak darinya, sebisa mungkin. Terakhir kali aku mengenal salah satu anggota keluarga Clearwater, aku terjebak dalam suatu hal rumit. Sangat rumit. Aku tak ingin itu terjadi lagi.
Alice membuka pintu dan langsung memelukku, "Ayo, Grace. Kami semua sudah menunggu di dalam. Kau harus mendengarkan cerita dari Ben soal piramid dan mumi. Dia sangat hebat dalam bercerita."
Aku masuk tanpa berkata apapun, meski mereka menyambutku dengan riang. Ruangan hangat karena ada lebih semua vampir berkumpul, minus Edward dan Bella. Kehangatan itu bertambah dengan kehadiran Ben. Setelah mengenal Cullens, aku mengetahui kalau vampir peminum darah manusia lebih hangat daripada vampir vegetarian.
Mataku bertemu dengan mata merah darah Ben. Dia menatapku dengan rasa penasaran yang besar, mungkin karena mata hijau zamrudku. Apa aku bisa mempercayainya?
Astaga, pandangan matanya menghipnotis.
