Loading 5%...


Kursi meja komputer Namjoon berderit pelan ketika pemuda 19 tahun itu merentangkan tangan dan kakinya lebar-lebar, berusaha mengusir pegal akibat terlalu lama duduk.

Tidak biasanya Namjoon betah duduk berlama-lama untuk main game, apalagi alternate reality game dengan judul dan konsep aneh semacam Catastrophe. Kalau bukan karena Namjoon masuk jurusan pemrograman dan web design, ia tak akan tertarik untuk mengurai program di balik game unik itu.

Meskipun game bukan hobinya, Namjoon tidak kecewa dengan kesan pertama Catastrophe, baik yang dilihatnya sendiri maupun berdasarkan pendapat orang yang didengarnya.

Rasa penasarannya pada game ini berawal dari teman-teman seangkatannya, baik pria maupun wanita, yang tidak berhenti membicarakan game berusia lima dekade itu. Sebagian besar terheran-heran karena di usianya yang kelima puluh, game itu masih eksis. Sebagian lain yang sudah bermain sibuk menyombongkan karakter masing-masing.

Sejauh yang Namjoon amati, belum ada teman seangkatannya yang sampai pada pemikiran jeniusnya untuk menjadikan Catastrophe sebagai sasaran bahan skripsi. Entah mengapa Namjoon merasa bersemangat untuk curi start, meskipun tahap pembuatan skripsi baru empat sampai enam semester lagi masuknya dalam satuan kredit semester Namjoon.

"Aneh," Namjoon bicara sendiri, sambil menunggu loading bar yang tampak di layar monitor terisi penuh. "Game ini dibuat tahun 2152, kan? Lalu game ini diretas tahun 2204. Seharusnya, sebelum 2204 ada intro lain yang dipakai. Berarti di tahun 2204, game ini seperti dirombak seutuhnya karena tujuan finalnya berubah," ujarnya sambil mencorat-coret notes kecil yang dibawa kemana-mana, berisi pertanyaan Namjoon dan fakta unik seputar pemrograman yang dicatat dengan teliti dan terorganisir.

"Hebat juga karena benar-benar tidak ada orang di bawah delapan belas tahun yang memainkan permainan ini. Entahlah kalau si pemain menggunakan nomor kartu identitas orang lain, yang jelas sepertinya semua identitas pemain di sini asli... Bisa jadi ada campur tangan pemerintah dalam registrasi pemain dalam permainan ini untuk mengecek ulang kewarganegaraan dan status pemain."

Persegi panjang kecil di bagian bawah layar monitor Namjoon berkedip, tanda loading game selesai.

Gameplay pertama Namjoon dalam permainan ini baru akan dimulai. Dari apa yang didengar Namjoon, gameplay Catastrophe tak lebih dari membantai monster atau pemain lain untuk mendapat Trophees, mata uang yang dipakai di Trozone. Kalau beruntung, beragam perlengkapan juga mungkin dijatuhkan oleh monster yang dikalahkan.

Pilihan untuk melakukan PVP, Player Versus Player, sempat dimunculkan pada layar Namjoon sebelumnya. Tanpa ragu Namjoon menolak pilihan untuk menyutujui PVP. Meskipun tak pernah main RPG sebelumnya, otak kiri Namjoon terlampau baik hanya untuk mengatur strategi kecil semacam itu. PVP untuk pemain baru tidak berguna, Namjoon hanya akan kalah dengan telak dan memalukan.

Dalam waktu singkat, Namjoon berhasil menyusun strategi praktis untuk memainkan permainan ini. Hal pertama yang dilakukannya dalam Catastrophe adalah farming. Bukan farming yang artinya bertani dengan bercocok tanam sayur-mayur dan beternak hewan, tentu saja. Farming yang dimaksud adalah kegiatan berburu monster di area tertentu dalam permainan yang memiliki level atau kemampuan yang lebih rendah dari pemain, dengan tujuan mendapat Exp dan uang untuk dapat meng-upgrade senjata, armor, juga skill karakter.

Namjoon memperkirakan monster pada awal-awal permainan biasanya golongan yang terlampau mudah untuk dikalahkan. Strategi yang dipakai untuk hal ini adalah dengan menunda upgrade ability karakter sampai monster level mudah tidak bisa dikalahkan dengan kemampuan basic karakter yang belum dimodifikasi, baru modifikasi karakter dilakukan untuk menge-boost serangan.

Sambil terus menggerakkan jemari di antara tuts berlabel anak panah dan yang berlabel huruf tertentu pada keyboard, Namjoon masih terus memikirkan banyak hal aneh dalam Catastrophe.

Satu. Mengapa di antara sekian banyak permainan yang mempunyai alur dan cara bermain yang sama, Catastrophe dapat bertahan hingga puluhan tahun? Apa karena misi memburu tiga karakter peretas itu? Sepertinya bukan itu alasan utamanya, karena 'bencana besar' yang diceritakan Xroxx itu baru terjadi kurang dari lima tahun yang lalu. Ini berarti sampai sekitar empat puluh lima tahun, Catastrophe, yang menurut artikel di internet dahulu namanya Trozone, tetap eksis.

Mungkin kelebihan berupa dapat dimainkan dengan maupun tanpa peralatan virtual reality, tidak seperti ARG kebanyakan, berpengaruh pada stabilitas jumlah pemain dari tahun ke tahun. Namjoon masih perlu melakukan observasi lebih lanjut soal jalan cerita dalam permainan ini, karena menurutnya faktor utama suatu hal bisa eksis untuk waktu yang lama adalah kualitas dari hal itu sendiri.

Pertanyaan kedua berkaitan erat dengan pengetahuan umum seputar programming. Membuat skrip yang memprogram permainan sama sekali tidak bisa dibilang mudah. Harus dengan teliti dan hati-hati, kemudian wajib hukumnya untuk diujicobakan pada prototipe lebih dulu sebelum dirilis berupa update game untuk pengguna. Tingkat kerumitan bertambah, karena saat update dari server utama, permainan akan down atau dihentikan untuk sementara waktu untuk keperluan pengunggahan dan pemasangan versi terbaru permainan atau dikenal dengan istilah maintenance server.

Katakanlah pembaruan versi permainan sekaligus perbaikan bug atau error dalam game dilakukan secara berkala tiap sebulan sekali, ditambah halaman perkenalan Xroxx, verifikasi nomor kartu identitas yang selalu diperbarui pemerintah... Memikirkan betapa kompleks hal apa saja yang mengharuskan Catastrophe sering diperbarui sudah lebih dari cukup untuk membuat Namjoon sakit kepala.

Ketiga, soal website pihak developer atau pengembang Catastrophe. Situs itu memang betul-betul menunjukkan adanya kekeliruan yang aneh dan membingungkan, karena artikel terakhir yang diunggah menunjukkan tanggal 20 April 2204, tepat beberapa hari sebelum 'bencana besar' itu terjadi. Situs lain dengan nama mirip, yang awalnya Namjoon kira juga dibentuk oleh pihak developer, ketika dibuka berujung pada tiga kemungkinan, antara situs penipuan, pornografi, atau halaman error . Hal ini membuktikan bahwa cerita Xroxx, meskipun sulit diterima akal sehat, adalah suatu kebenaran.

Namjoon dapat menyimpulkan satu kesatuan yang pasti dari observasi singkatnya. Trozone, sebuah permainan virtual alternate reality berbasis online, telah berjalan untuk waktu yang terbilang sangat lama bagi sebuah game untuk tetap mendapat euphoria pemain. Selama itu game sepertinya tidak bermasalah dan memiliki jumlah pemain yang besar di berbagai belahan dunia. Semua baik saja, review dari pengguna pun menyatakan game ini juga aman dan menjaga kerahasiaan pemain meskipun ada sistem one player one account yang membutuhkan nomor kartu identitas untuk registrasi. Intinya, game ini termasuk kategori game luar biasa. Lebih luar biasanya lagi, game ini telah berhasil dibajak oleh, berdasarkan keterangan Xroxx, tiga orang.

Jika keterangan Xroxx soal kelumpuhan server pusat untuk mengambil alih game dari tangan peretas-peretas itu benar, ini berarti dalam empat tahun terakhir, ketiga peretas itu menggantikan kerja dari kesatuan sistem server permainan. Mengecek dan memperbaiki bug, memperbarui event, mengatur ulang skrip program hampir setiap waktu, menambah tingkat kesulitan dan intensitas plot permainan, mengembangkan area baru dalam permainan, memperbarui data yang di-input calon pemain-semua dilakukan hanya oleh tiga orang dalam satu waktu.

Waktu SMA, Namjoon bisa diam-diam bangga dengan nama julukan yang diberikan padanya. Setelah selesai dengan analisis singkatnya seputar Catastrophe, Namjoon merasa sebutan 'Namjoon si Jenius Sinting' terasa sangat, sangat tidak cocok lagi baginya. Kata 'sinting' mungkin masih cukup sesuai, melihat kebiasaan dan ambisi Namjoon dalam meraih prestasi tertentu yang membuatnya terlihat seperti orang kurang waras. Tetapi kata 'jenius' harus dibuang jauh-jauh dari julukan Namjoon. Kata itu hanya pantas disandang oleh tiga peretas Trozone. Atau mungkin 'jenius' masih belum tepat? Namjoon sudah kehabisan kata dalam kamusnya untuk mendeskripsikan tiga maniak itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Halo! Saya limeslemonade, boleh dipanggil dengan 'Cal' saja.

Ini fic pertama saya.

Fic ini bisa ditemukan di Wattpad dengan judul yang sama dan author name yang sama. Update akan diunggah di Wattpad lebih dulu, lalu Ffn menyusul setelah beberapa waktu. Mari berteman di Wattpad dan Ffn! Ketemu lagi di update selanjutnya!