Author's note Nggak nyangka fiksi ini dapat respon—let me crais bahagiya lagi omg.
Disclaimer Vocaloid © Yamaha Corporation, Crypton Media Future, Internet, etc.
Warning EYD ambruk, klisé, hambar, lebay-bay-bay.
by parakeet headmaster.
[7/30] Takluk.
"Lily, my dear, lihat kunci mobilku? Aku yakin menaruhnya disini, padahal hari ini ada pertemuan penting."
"... sebentar," Lily melangkah menuju kamar Len. Penasaran, Leon mengintip dari balik pintu.
.
.
.
"Kelinci itu selalu mengusili teman-temannya, ia berkata bahwa dirinya dikejar serigala. Saat teman-temannya hendak menolong, kelinci itu malah tertawa, berkata bahwa mereka bodoh, mau saja ditipu. Tak ada serigala disana."
"Mama, mama! Kelincinya nakal!" Lily hanya mengangguk, Len mendengarkan kembali cerita tersebut.
Lily melanjutkan, "Lalu pada suatu hari, kelinci itu benar-benar diincar serigala. Teman-temannya sudah tak percaya lagi padanya dan akhirnya ... kelinci itu dilahap bulat-bulat oleh serigala."
Len membeku, mematung horror dipangkuan sang mama.
"—jadi, berbohong itu nggak baik. Nah, siapa yang sembunyikan kunci mobil papa?"
"Huaaaa! Len! Len yang sembunyiin didalam vas bunga! Len nggak mau jadi kayak kelinci! Maafin Len! Huweeee—" Len memeluk Lily erat-erat.
"Karena Len sudah minta maaf, jadi nggak apa-apa," Lily menyambut pelukan putra kecilnya dengan senyuman.
Oh my god, Lily my dear, good job! Bercerita untuk pendidikan moral ... kamu memang hebat, sayang! Aku makin cinta sama kamu! I love you, my dear!
—Lily, 34 tahun, berhasil taklukkan anak dan suami sekaligus.
[8/30] Malu.
Melihat salah satu treding topic pada akun twitter-nya, Leon mencoba menerapkannya pada Rin dan Len.
"Describe me, in one word!"
"LEBAY!"
—Leon, 37 tahun, sumpah malu banget.
[9/30] Sama.
"Aku dan adikku selalu dibedakan, mereka lebih sayang adikku, makanya aku kesal! Semuanya selalu untuk adikku! Memangnya Rin nggak begitu? Pasti yang lebih kecil lebih disayang 'kan!?"
Sekelebat, Rin kembali teringat akan perkataan salah satu temannya di sekolah. Dibeda-bedakan sesama saudara pastilah tak menyenangkan.
Namun, Rin berbeda. Len adik kembarnya. Walau Rin yang menyandang sebutan kakak, mereka kembar. Rin tak pernah berpikir siapa yang lebih diperhatikan diantara mereka, karena—
"Rin! Kita dibelikan permen nih! Untuk aku satu, untuk Rin satu, ya! Pokoknya harus dimakan, biar sama! Hehehe ... dadah Rin, aku main dulu ya!"
—ada saja yang menghapus perbedaan tersebut. Diam-diam, Rin sangat bahagia dengan apa yang ia miliki; Len, papa dan mamanya.
[10/30] Bekal.
"Lihat! Papa juga bisa kok, bikin bekal kayak mama!"
Leon bangga, disana dua buah kotak makan berjajar, didalamnya, terdapat berbagai makanan berwarna-warni dan hampir tertata rapi. Kedua bola mata Kagamine bersaudara berbinar—ini kali pertama papanya nggak bikin dapur gosong.
"Wuah! Papa hebat! Bekal Len sama Rin jadi warna-warni!" Len heboh dan mengangkat kotak bekalnya tinggi-tinggi.
"Papa, papa, ini isinya apa saja?" Rin masih heran dengan bekal cantik miliknya.
"Oh! Honey, yang kuning itu telur dadar, yang merah itu selai strawberry, disana potongan tuna, yang hijau itu melon, lalu yang hitam ini kecap, terus—"
"... papa, mau bikin kita keracunan, ya?"
[11/30] Sesal.
Len mengurung diri dalam kamar. Ketika hendak pergi main keluar, Lily melarangnya—alhasil, Len langsung mengurung diri dan menangis tanpa menghiraukan mamanya lagi.
"Len, ini Rin ... Rin masuk, ya." Rin memutar kenop pintu, disana Len—memeluk bantal dan menahan isak tangisnya. Rin mendekati sang adik.
"Nggak boleh ngambek-ngambek. Tuh 'kan ingusnya keluar, jelek lho." Rin mengusap hidung dan pipi basah Len.
Len merengut, "Ha—habisnya, mama nggak bolehin Len main."
Rin hanya tersenyum, menepuk kepala sang adik pelan. Mama mereka punya alasan, Len hanya tidak mendengarkan.
"Len," ucap Rin, "katanya, waktu ibu melahirkan anaknya, ibarat digantung sehelai rambut." Sang adik mendongak, mulai mendengarkan cerita sang kakak.
"Ibu bersusah payah melahirkan anaknya, mengandungnya selama 9 bulan, menahan sakit ... selama itu, nyawa ibu bak digantung sehelai rambut. Kapan saja bisa putus ..." Senyum getir terukir dalam paras sang kakak, Len bergeming.
"Makanya ... Len nggak boleh begitu sama mama. Mama sayang Len, perhatian sama Len, makanya mama bilang begitu. Sebentar lagi pasti hujan, makanya mama nggak kasih Len main diluar." Rin menatap adiknya, "—tadi mama mau bilang itu, tapi Len keburu ngambek." Sang kakak hanya tertawa kecil.
"..." Genangan air mata menumpuk disudut netra biru laut Len. Ia melesat keluar kamar, dari dalam, Rin dapat mendengar seruan Len pada mama mereka—
"Mamaaa ... Len sayang mama!"
[12/30] Pacar.
Suatu malam, Leon tak sengaja mencuri dengar pembicaraan putra-putrinya.
"Rin, kalau pacaran itu ngapain saja?"
"Macam-macam, sama orang yang kamu sukai."
"Aku suka Rin, kita main perang-perangan yuk?"
"Nggak mau, aku mau nonton boy-band favoritku."
Mendengar obrolan singkat kedua anaknya, Leon hampir tersedak sikat gigi.
.
.
.
Berkat yang sudah baca fiksi ini sebelumnya, saya seneng banget ternyata fiksi ini diterima, akhirnya saya lanjutin juga—berhubung ada ide yang nampar saya, saya cicil setiap prompt setiap ada waktu.
Sekalian saya mau kasih beberapa info berhubung ada yang tanya, Len sama Rin masih SD, kira-kira kelas 3, dan yesh to the yesh mereka kembar. Sesuai sinopsis, saya bikin 30 drabbles, rencananya 1 chapter ada 6 prompt, kemungkinan drabbles ini sampai 5 chapter. Semoga bisa tuntas yha—eh, ini bukan kode saya mau acuhin fiksi ini kok, saya mau berjuang walau update-nya jatuh bangun. #desh
Kalau ada krisar, saran, dll, silakan langsung lempar ke saya ya. Satu lagi, ada yang mau usul prompt? Saya sadar saya dungu sama prompt. Ahahaha. :"D
Lagi, thanks for reading!
