Setengah Tahun Kemudian
Sepasang pengantin itu terlihat bahagia, bersanding di depan altar. Saling mengucap sumpah dan mengagumi kesempurnaan fisik pasangan mereka. Menjelang pengikatan janji, nampak Jason Scott meninggalkan tempatnya. Dia awalnya menolak menjadi pengiring mempelai pria. Itu terlalu nyata untuknya. Terlalu sakit untuknya saat melihat perempuan yang dicintainya bersanding di altar dalam jarak dekat. Mungkin seharusnya dia mencari alasan untuk tidak datang, seperti yang Kimberly lakukan.
Dia berhenti di taman samping gedung. Dia berharap andainya waktu bisa diputar, dia ingin memperbaiki semuanya. Dia tidak akan meninggalkan Switzerland ataupun Trini. Dia berharap dialah yang akan berkata "Aku bersedia". Tapi itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan karena Trini Kwan kini telah menjadi Trini Kwan – Oliver. Airmata membanjiri pipinya, untuk pertama kalinya dia menangis untuk seorang wanita.
"Sudah kuduga. Kau pasti lari." Satu suara menyapanya. Sylvia, adik sepupu Trini.
"Aku idiot, Sylvia. Idiot."
"Ya." Jason kaget. "Ya, kau idiot. Menangisi Trini yang sudah bahagia. Asal kau tahu, sehancur-hancurnya hati Trini saat kau mengencani Emily. Dia tidak menangis. Karena untuknya, melihatmu bahagia sudah membuatnya senang." Sylvia menambahkan.
Jason memikirkan kalimat Sylvia. Gadis itu benar.
"Maaf, ya. Sepertinya Adam sudah mulai mencariku. Sampai jumpa. Dan ingat, Trini tetap sayang padamu." Kemudian ia berlalu.
Trini masih sayang padanya? Jason buru – buru menggeleng – gelengkan kepalanya. Dia mengerti arti kalimat Sylvia. Trini adalah temannya sejak kecil, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu. Dengan langkah pasti dia kembali ke gedung.
Sesampainya disana, dia mendapati prosesi yang sudah selesai. Tommy dan Trini resmi menjadi sepasang suami istri. Dia tersenyum sedih, dia tidak melihat sekelebatan sosok berwarna putih melesat ke arahnya. Memeluknya erat.
"Terima Kasih, Jase. Terima kasih kau mau datang." Dia menyadari bahwa sosok berwarna putih itu adalah Trini dalam gaun pengantinnya.
"Jangan berterima kasih, kita teman kan?" Dia memeluknya erat, mungkin untuk yang terakhir kali dia memeluknya seperti itu.
Trini menatapnya, "Yup, dan kau seperti saudaraku." Lalu melepaskan pegangannya dan mencium pipinya, "Semoga beruntung, Jase. Maaf aku harus pergi. Mau ikut?" Dia bertanya seraya menunjuk kearah suaminya. Tommy melihat mereka lebih dulu.
"Hey, sayang. Apa kabar, bro?" Dia bertanya pada keduanya.
"Hey, aku baik. Selamat, ya." Jason memberi pelukan untuk Tommy, lalu berbisik, "jaga dia."
Trini tersenyum melihat sepasang sahabat itu kembali.
"Dengan seluruh hidupku, aku akan menjaganya." Tommy berbisik kembali.
"Mm. Maaf. Tommy, tapi kolega – kolega mu disebelah sana. Maaf, Jase."
Jason menggeleng.
"Sampai nanti, Jase. Jangan sungkan – sungkan." Trini berkata lagi.
"Ya, bro sampai nanti." Tommy menggandeng Trini kearah tamu mereka.
Menjauh. Ya, Trini semakin jauh dan tidak mungkin ia raih. Jason menatapnya dengan mata yang berkaca – kaca, "Semoga bahagia, Bidadariku." Dia berbisik.
- Selesai -
