Last Chapter…
Piano Instrument : Maksim Mrvica's Croation Rhapsody, Kolibri, Hana's Eye and Child in Paradise. ^^
.
~(OoOOoO)~
.
"Ap-apa? Kau ini ngomong apa sih? Aku hanya seorang pengantar bunga!"
"Lalu… yang di punggungmu itu apa?"
Sakura merasa bodoh sekarang. Ia memang selalu membawa tas biolanya ke mana saja, apalagi dia sedang senggang hari ini, latihan sebentar di tempat favoritnya sedikit bisa mengisi waktu kosongnya itu selain mengerjakan proyek sains sekolah yang belum selesai-selesai juga. Dan, di sinilah ia, terjebak di antara kebodohannya dan kesempatan?
"I-i-itu… Ya, i-itu—"
"Muffin-nya sudah siap! Dan—well, rupanya kalian sudah akrab ya? Baru ditinggal sebentar dan lihatlah kalian berdua. Manis sekali. Ehem."
Seorang wanita dengan gelungan rambut yang begitu rapi terlihat tengah membawa nampan kue berisi muffin yang masih hangat. Rupanya, baru saja diangkat dari oven. Aroma muffin yang lezat tiba-tiba saja merasuki indera penciuman Sakura. Ia pun berbalik dan mendapati nyonya rumah ini tengah menatapnya—lebih tepatnya menatap mereka dengan senyum jahil.
"E-epph!"
Seketika, Sasuke langsung melepas tarikannya dari pergelangan tangan Sakura. "Okaa-san."
"Iya, iya, Sasuke. Ini muffin kesukaanmu. Ad yang isinya tomat juga lho. Kalau kau mau pie tomat, ada di dapur juga tapi habiskan dulu muffin ini." ujar Mikoto dan detik berikutnya, sebuah muffin hangat telah masuk ke dalam mulut Sasuke. "Ah Sakura! Kenapa tidak mencobanya juga, hm?"
"I-iya."
Suara telepon yang bordering membuat wanita itu sedikit terkejut. Ia lalu memberikan nampan berisi muffin-muffin hangat itu pada Sakura. Sebentar, ia kemudian meminta izin untuk mengangkat telepon yang terletak di sudut ruangan lain di rumah itu.
"Sebentar ya. Bibi mau mengangkat telepon itu dulu. Kalau kau mau, ambil saja Sakura. Dan juga kau Sasuke." Pemuda bernama Sasuke itu hanya mengangguk sambil mengunyah pelan muffin-nya.
Seketika, hening dan sepi tiba-tiba terasa di ruangan yang hanya berisi piano hitam klasik dan beberapa meja sebagai tempat vas bunga dan sebuah lemari kabinet berisi porselen-porselen dari luar negeri. Ragu, Sakura hanya bisa menatap muffin-muffin itu padahal air liur tampak mengisi mulutnya.
"Ambil saja kalau mau. Okaa-san sangat senang bila ada yang mencicipi kue buatannya apalagi kalau ada yang memujinya."
Tak ragu lagi, Sakura pun mengambi satu muffin dan mencomotnya pelan. "Ngg, enak. Tapi kok, rasa tomat."
"Muffin itu special dibuat Okaa-san untukku. Karena aku suka tomat makanya dibuat dengan aroma tomat."
"Dasar aneh." komen Sakura dengan nada berbisik.
Sasuke telah melahap habis muffin yang diambilnya. Namun, rasa lapar di siang yang terik itu membuatnya ingin mencomot satu muffin lagi. Ia pun berjalan mendekati Sakura dan mengambil muffin isi krim keju. Sakura pun tiba-tiba ingin sekali tertawa saat melihat krim keju itu seakan memberikan efek kumis tepat di bawah hidungnya dan seputar bibir atasnya.
"Aha-ahaha, ahahaha…"
"Hn?"
"Dasar pianis yang aneh kau ini." ujar Sakura di antara tawanya. Diletakkannya nampan muffin itu di atas meja vas dan ia mendekati Sasuke. Ia menarik selembar sapu tangan dari saku celananya dan mengelap krim yang membuat efek kumis pada Sasuke.
Entah kenapa ada sesuatu aneh yang menggeliat di perut Sasuke saat itu. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa merasakan hembusan nafas gadis yang tak dikenalnya itu. Mata onyx-nya pun menuntunnya tuk menatap mata sehijau emerald yang terpasang di kedua bola mata Sakura. Ia mampu melihat sebuah padang rumput hijau yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah pohon sakura mekar dengan black piano di bawahnya. Setiap kelopak bunga merah muda itu akan berjatuhan tepat di atas black piano. Sungguh gradasi warna yang begitu indah, pikirnya.
Tanpa sadar, melodi Croatian Rhapsody mulai menggema di dalam kepala Sasuke. Dan dalam detik itu juga, ia ingin semakin dekat dengan pohon sakura yang menaunginya dari teriknya matahari di padang rumput itu.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Jantungnya semakin memacu cepat.
Alunan pianissimo dan crescendo mengalun pelan dan lama-kelamaan semakin cepat.
Ketika emerald itu tepat berhadapan dengan onyx, Sakura bisa melihat hal yang sama. Padang rumput hijau dengan pohon sakura yang tengah bermekaran. Lalu… sebuah piano hitam yang termenung sendiri dan tengah bernaung di bawah kelopaknya yang kapan saja selalu terbang terbawa angin.
Lima centi. Empat centi. Tiga centi. Dua centi. Satu centi.
Entah kenapa perasaan yang menggeliat itu berubah menjadi kegilaan yang frustasi. Saat merasakan bibir yang sepertinya belum pernah terjamah oleh siapapun itu, ular-ular ataupun cacing-cacing yang menggeliat dalam perut Sasuke seakan melompat-lompat riang. Nada-nada musik itu seakan pecah dalam otaknya. Sungguh sebuah candu yang luar bisa menggilakan. Jika bagi Itachi, candu akan kegilaannya adalah tembakau, maka candu bagi si adik adalah the thousands petals of cherry blossom flowers…
Ia melumat sebentar bibir manis itu. Rasa keju dan manisnya tomat seakan bersatu dalam bibir mereka. Entah kenapa, Sakura tak bisa melawan ciuman dari pemuda yang tak dikenalnya itu. Namun, seakan-akan ada sesuatu dari balik mata hitam yang mengikatnya dan tak bisa bergerak. Piano hitam itu. Ya. Naruto pernah memperingatkannya akan piano hitam yang berduri itu. Jadi, itulah mengapa piano hitam itu sangat berbahaya ya? Karena dengan melodi gilanya, ia mampu membuat pohon sakura itu tak mau berpindah tempat.
"Ngg…"
Sasuke melepaskan bibirnya dari bibir ranum Sakura. Rasa manis tomat masih memenuhi rongga mulutnya. Rona merah pun seakan menutupi semua bagian dari wajah putih Sakura.
"A-a-ano…"
"Jangan bicara."
"Eh?"
"Kalau kau berani, aku ingin kau menerima tantanganku."
"Apa? Tantangan?"
"Croatian Rhapsody adalah karya yang akan kumainkan dan aku ingin violin-mu mengikutinya." pinta Sasuke. Ia lalu kembali duduk di kursi pianonya. "Kemarilah. Kau harus melihat notnya dulu."
"Me-memangnya apa untungnya bagiku kalau menerima tantanganmu itu?"
Sasuke terdiam sebentar. "Kau lupa kalau kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya. Kau bisa melihat hal yang sama di mataku saat aku menciummu kan?"
"Eh? Apa maksudmu? Kehidupan sebelumnya? Apa sih?" tanya Sakura dengan nada dibuat-buat kesal—hanya untuk menutupi rasa malu yang luar biasa karena telah berciuman dengan pemuda asing ini.
"Yahh, mungkin saja seperti itu. Padang rumput hijau dengan satu-satunya pohon sakura yang hidup tengah menaungi sebuah piano hitam yang penuh dengan duri. Begitu kan dalam matamu?"
"Mmm, ke-kenapa bisa?" tanya Sakura heran.
"Seperti yang kukatakan tadi, kurasa kita pernah bertemu di kehidupan sebelum ini. Jauh sebelum ini. Mungkin, kita adalah sepasang kekasih di masa lalu."
"Ke-kekasih? Apa sih maksud kata-katamu itu?"
"Kau diam saja dan lihat not-not ini. Akan kunilai saat kau berhasil mendampingi melodiku." ujar Sasuke dengan seringai tampannya.
Merasa terhina atau malu, Sakura pun mengikuti permintaan pemuda aneh ini. Ia melirik ke arah partitur not yang seharusnya dimainkan hanya untuk pianis itu. Namun, bagi Sakura membaca not yang berbeda dari instrument musik yang dibawanya sudah bukan hal yang sulit.
"Nada yang aneh, kau tahu. Kau yang membuatnya?"
Sasuke menangguk dan hanya dibalas Sakura dengan desahan panjang. "Baiklah. Aku terima tantanganmu." Berikutnya, Sakura membuka tas biolanya dan mengambil biolanya yang berbentuk sangat unik itu. "Ng, biola ini adalah biola buatan kakekku. Berbeda dari biola yang biasanya kan?"
"Hn, apapun itu. Kau siap?"
"Ya."
Sasuke mulai dengan nada pelan hingga tak terasa semua nada itu terasa begitu emosional. Tak pernah Sakura mendengar melodi yang seperti ini. Yang bisa diilustrasikan dalam hatinya adalah padang rumput hijau dengan pohon sakura yang tengah menerbangkan beberapa kelopak merah mudanya ke udara. Tepat di bawah ranting-rantingnya, sebuah black piano berdenting pelan dan lama-kelamaan menjadi liar sejalan dengan kelopak-kelopak yang semakin banyak terbawa angin.
Sakura tak butuh not yang asli sebab ia akan mengikuti apa yang diinginkan oleh her master—si piano hitam. Nada apapun yang tengah dimainkan oleh piano hitam itu, ia akan mengikutinya. Sangat sulit awalnya namun lama-kelamaan ia bisa juga mengikuti alur melodi Sasuke yang tak biasa. Betul juga apa yang dikatakan Naruto. Si bungsu Uchiha ini memang memiliki jemari yang unik. Sesekali, mata hijaunya melirik ke arah sepuluh jemari Sasuke yang dengan lincah berlari ke sana ke mari. Saat menatap ke arah matanya, kini ia bisa mendapati dua mata onyx itu sudah menutup.
Wow. Secepat itu dengan mata tertutup. Pantas saja dia disebut sebagai The Young Techno Classic Pianist. Kalau begitu, kusebut dia dengan nama The Wild Fingers saja. Hmm…
Sakura bisa merasakan melodi itu semakin angst. Jemari Sasuke bergerak semakin tak karuan dan Sakura pun berusaha mengejarnya. Bak mengejar anjing liar di hutan gelap, itulah yang dirasakannya saat bermain dengan pemuda ini. Pada bagian reff, Sakura jadi semakin frutasi saja. Sasuke membuka kedua kelopak matanya dan melirik ke arah Sakura. Dalam hatinya, ia berharap gadis ini mampu mengikutinya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat jemari Sakura yang sangat lincah itu menekan-nekan senar biola itu, terlebih lagi dengan dua mata emerald yang juga menutup.
Dia yang kucari selama ini. Ternyata, harapanku belumlah mati sepenuhnya. The Calm Violin, eh. Sangat berbeda dengan Black Piano-ku yang liar ini.
When the violin turns into thousands petals of cherry blossom flowers, then the black piano will run for it. Collecting all of its petals and bring it inside of his empty heart.
The Wild Piano and Calm Violin. So different, uh?
.
.
.
"Jadi?"
"Apa?"
"Bagaimana permainanku tadi, bodoh."
Wajah kesal itu menghiasi pemandangan Sasuke. Ternyata gadis ini mudah sekali untuk dibuat kesal.
"Sudah kuputuskan."
"Apa?"
"Kau harus ikut denganku ke Prague minggu ini."
"Eh?"
.
.
.
"APAAAAA?"
"Begitulah Naruto."
Sakura hanya bisa menunduk lemas di depan mantan kekasihnya, Naruto. Masih menggulung tangannya di sekitar kepalanya, Sakura terus saja bergumam tak jelas. Naruto. Ya, dia kesal tentu saja. Bagaimana tidak. Rival yang pernah mengatai permainannya jelek-jelek-buruk sekali itu mengambil Sakura, ralat, menculik Sakura-nya ke Prague? Sudah! Si Uchiha -teme itu memang sudah gila! Insane!
"Lalu? Apa jawabanmu, Sakura-chan?"
"Ngg, aku—aku—"
"Tidak. Jangan bilang kau—kau mengatakan iya ya? Sakura-chan?"
"Kurasa, yang berhak memutuskan itu adalah Sakura sendiri, Naruto." ujar seorang gadis berambut pirang panjang yang tengah mengelus-elus pundak Sakura—berusaha menguatkan sahabatnya itu. "Kau ingin Sakura menjadi lebih hebat darimu kan? Kurasa juga, inilah waktu bagimu untuk yahh, merelakannya pergi. Lagipula, pergi berlibur, eh maksudku, bermain di konser tunggal seorang Sasuke adalah tawaran yang menggiurkan kan? Hihi."
"Kau ini. Kalau kau sih, aku yakin kau pasti langsung menjawab iya. Dasar Ino." celutuk Kiba—salah satu teman Naruto yang baru saja ikut dalam percakapan di kelas mereka di siang yang terik itu. ino yang mendengarnya hanya bisa mendelik tajam. "Ckck, aku jadi kasihan sama Sai, Ino." Dan berikutnya, Kiba sudah mendapatkan cekikan maut dari seorang Yamanaka Ino.
"Ngg, maafkan aku semuanya. Tapi…"
"Kalau menurutmu itulah yang terbaik, sebaiknya kau pergi Sakura. Kesempatan seperti itu mungkin hanya sekali dalam seumur hidupmu."
Seorang pemuda berambut coklat yang bisa dikenal Sakura sebagai Hyuuga Neji tampak membelanya. "Neji…"
"Nah! Kurasa, sudah tak ada lagi tanda tanya bagimu untuk tidak mengiyakan permintaan Tuan Uchiha itu, Sakura!" seru Ino girang. "Hei Naruto, bagaimana denganmu? Kau masih keras kepala juga, eh?"
Naruto memang satu-satunya yang tak setuju dengan jawaban Sakura saat itu. Namun, di sisi lain, ia ingin Sakura mampu mengembangkan kemampuannya itu lebih daripada dirinya saat ini. Hanya saja, kalau harus bersama dengan Uchiha yang itu, rasa-rasanya ia jadi kesal sendiri.
"Naruto…" panggil Sakura lemah.
"Aku—ngg, baiklah. Kalau itu memang akan membantumu tuk menjadi seorang violinist."
Senyum mengembang di wajah Sakura. "Terima kasih Naruto! Dan juga semuanya! Aku janji tidak akan mengecewakan kalian semua!"
"Aku yakin itu, Sakura. Nanti, aku akan menonton performance -mu lho." ujar Ino senang.
"Iya, trims Ino -pig."
"Hei, hei, jangan lupa kalau di hari performance itu kita ada festival tahunan lho. Jangan lupa." celutuk Kiba sekali lagi.
"Haha, kalau itu sih, biar kau saja yang jadi badut tahun ini, Kiba. Pasti perhatian orang-orang akan menuju padamu. Kau dan anjingmu itu, Akamaru, bisa memainkan akrobat yang pasti sangat lucu! Ahahaha~" ejek Naruto. Dan yang lain pun ikut tertawa.
Tawa itu pun pecah dan sedikit membuat Sakura kembali bersemangat. Ia sedikit melirik ke arah Naruto yang sudah kembali ceria meskipun ia tahu ada sebuah perasaan tak enak yang menyelimuti aura Naruto saat itu.
Naruto… Gomenna…
Kuharap kau bahagia Sakura…
.
.
.
Prague, Hungaria.
"Panas ya?"
"Ng?"
Taman Elfswire di pusat kota Prague adalah taman terindah yang selalu menjadi tempat istirahat wisatawan asing maupun lokal di musim panas. Air mancur yang menyegarkan itu juga menjadi pusat perhatian banyak orang, tak terkecuali bagi dua musician ini. Sakura yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan dengan rok bergaris-garis tengah menatap ke arah langit yang begitu biru itu. Teriknya matahari sedikit membuat kulitnya terbakar. Namun, pemuda Uchiha ini berusaha melindungi kulit putih gadis itu dengan menempelkan topi putih lebar di kepalanya.
"Kau beli di mana?"
Sasuke menunjuk salah satu kios penjual topi musim panas dari arah belakangnya. "Ohh."
"Kau haus? Mau kubelikan es krim?"
"Ngg." Sakura mengangguk. Sinar matahari yang begitu panas sedikit membuat rona merah di pipinya semakin merah saja.
Menit berikutnya, Sasuke datang dengan membawa dua cone es krim vanilla di tangannya. Diberikannya satu cone pada Sakura. Dengan wajah yang bahagia, Sakura pun mulai menikmati es krimnya itu. Tetes es krim yang meleleh sedikit menempel di sudut bibir Sakura. Melihat hal itu, tanpa pikir dua kali, Sasuke langsung menjilat sudut bibir Sakura itu dengan ujung lidahnya yang sedikit basah oleh salivanya. Nyaris, ujung lidah Sakura yang sedikit keluar bertemu dengan ujung lidah Sasuke.
"Eepph? Ap-apa yang kau lakukan?" teriak Sakura malu.
"Ada es krim di bibirmu." jawab Sasuke dengan nada polos, layaknya seorang anak kecil yang merasa tidak melakukan tindakan kriminal apapun.
"Tap-tapi kan! Tidak perlu sampai menjilatnya, dasar bodoh! Bagaimana kalau dilihat orang?"
"Kau lupa ya kalau kita sekarang ada di Prague? Semuanya juga begitu kok."
Sakura mengelap sudut bibirnya yang terkena sedikit saliva Sasuke dengan ibu jarinya. Rona merah yang menutupi sebagian besar wajah putihnya terlihat seperti butterfly rash. Sedikit-sedikit, ekor matanya berdelik ke samping kiri dan kanan—melirik alih-alih ada orang yang melihat aksi gila Sasuke tadi padanya. Tapi, orang-orang bule di sekitar mereka nampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan yang lebih buruk ada yang sedang melumat bibir pacarnya di depan umum. Astaga… dasar bule sinting! Eh? Bukannya ini Eropa kan ya? Jadi wajar saja. Hahh…
"Yeah, kurasa kau benar, Sasuke."
Sasuke sedikit memicingkan matanya. Ia tak percaya dengan kata-kata barusan. "Baru kali ini aku mendengarmu memanggil namaku dengan Sasuke. Biasanya kau akan menamaiku dengan brengsek atau gila atau baka atau insane, bukan begitu?"
"Baiklah, baiklah, brengsek. Kau puas?" ujar Sakura dengan sarkasme. Yang dipanggil demikian hanya tersenyum sinis.
"Jadi… siapa di sini yang sinting, huh? Kau atau aku?"
"Sudah pasti bukan aku, baka." tukas Sakura jutek. "Jadi! Akan ke mana setelah ini? Bukannya kita harus latihan di tempat seseorang yang kau sebut-sebut sebagai gurumu itu?"
Sasuke mengangguk pelan. Melihat matahari yang semakin meninggi, ia pun merogoh-rogoh sesuatu dari saku jeans-nya. Sebuah kacamata hitam terlihat menghiasi kedua matanya kini. Rompi hitam yang menutupi kaus putih tanpa lengan yang dikenakannya sungguh membuat pesona seorang Uchiha ini bertambah dua kali lipat, apalagi dengan kacamata hitam itu. Sakura meneguk liurnya, menahan diri untuk tidak berbuat konyol hanya dengan melihat ketampanan Sasuke.
Bodoh kau Sakura. Kau tidak boleh terpesona begitu. Ini adalah urusan karirmu! Iya! Karirmu! Jadi, kau harus tenang. Rileks. Fuhh…
"Shall we go now?" tanya Sasuke seraya menjulurkan tangannya pada Sakura. Sakura pun memberikan sebelah tangannya pada Sasuke. Dan kini kedua musician itu saling bergandeng tangan menyusuri jalan-jalan panas di pusat kota Prague itu.
Kaki-kaki mereka menapak di tiap jalan tak beraspal dari pusat kota hingga sudut kota Prague. Masih sambil menggandeng tangan Sakura, Sasuke menuntun langkah kecil Sakura ke sebuah lorong kompleks perumahan yang sangat sepi. Hanya ada kios-kios bunga dan café kecil yang tampak membuat lorong perumahan itu tampak hidup. Tak dirasa, rasa panas yang seakan membakar kaki Sakura membuatnya ingin sekali berteriak mengaduh. Namun, baru saja ingin membuka mulut, Sasuke sudah menghentikan langkahnya tepat di sebuah flat berpintu kayu dengan nomor 131 yang tertera di depannya.
"Sudah sampai."
"Eh? Ini rumah gurumu? Flat ya?"
"Hn."
Sasuke menekan bel flat itu. Lama berselang hingga menit berikutnya muncullah seorang pria berusia tiga puluh tahunan yang tengah bertelanjang dada dengan selembar handuk yang terlilit di leher belakangnya. Sakura yang mengintip dari lengan Sasuke kemudian menatap kaget pria itu. dikiranya ada sesuatu bahaya yang bisa terjadi. Habis mandi rupanya, pikir Sakura setelahnya.
"Sasuke? You cpme here again?"
"Yeah. I need your help. Here, I've found my partner in crime. Her name is Sakura Haruno. Just call her Sakura."
Sakura merasa bingung dengan percakapan itu. Rasa-rasanya pria yang masih bertelanjang dada itu memiliki wajah khas orang Jepang tapi kenapa malah bicara dengan bahasa Inggris?
"Anoo—"
"Namanya Hatake Kakashi. Dialah The Young Maestro yang dulu sering disebut-sebut. Sekarang, dia hanya pria yang entah apa kerjanya."
"Jangan bilang begitu, Sasuke. Aku tahu sekarang aku sedang menganggur tapi aku sudah kembali ke panggung sekitar sebulan yang lalu." potong pria berambut perak itu tiba-tiba, sedikit membuat Sasuke terkaget.
"Sejak kapan kau jadi pintar bahasa Jepang?"
"Haha. Beberapa bulan yang lalu aku ketemu dengan salah satu novelis Jepang yang karyanya sangat kukagumi. Sayangnya, aku tak bisa berkomunikasi dengannya karena yahh, kau tahu kan, aku tidak bisa bahasa Jepang sama sekali. Dan akhirnya, beliau memutuskan untuk mengajariku bahasa Jepang dan sebagai gantinya, aku akan membuatkannya instrument piano untuk film yang disutradarainya. Dan here I come with my Japanese style." balas pria bernama Kakashi itu dengan kekehan.
"Jangan bilang kalau novelis yang kau maksud itu adalah novelis genit bernama Jiraiya?" tanya Sasuke dengan nada sinis sembari melipat tangannya di dada.
Kakashi hanya bisa terkekeh sembari menggaruk-garuk pipinya dengan ujung telunjuknya. "Ya begitulah."
"Dasar kau ini. Tidak berubah rupanya. But anyway, langsung saja."
"Ya, ya. Aku tahu kok. Jadi—kau yakin kau akan memainkan melodi itu di konser tunggalmu yang terakhir, eh?"
Konser tunggal yang terakhir? tanya Sakura terkejut. Mendengar perbincangan yang sebenarnya ia tak paham tentang apa itu memang membuatnya bosan. Tapi, saat pria dengan rambut perak itu mengatakan hal mengagetkan itu pada Sasuke, rasa-rasanya ada yang aneh.
Sasuke membawa mata onyx-nya menuju ekor matanya—melirik Sakura dari sudut paling ujung matanya. Wajah resah dan bertanya terlihat jelas saat itu. Dengan desahan kecil, Sasuke kemudian berusaha menenangkan tensi yang menaik ini.
"Bagaimanapun juga, aku hanya ingin konser itu berjalan dengan baik, Kakashi. Dan dia—dia akan membantuku untuk mencapainya."
"Yahh, baiklah, baiklah. Aku paham itu. Nah, daripada kalian hanya berdiri di bawah terik matahari seperti itu, sebaiknya masuk ke dalam flat-ku ini. Ayo, ayo."
Sasuke sedikit menatap wajah Sakura yang penuh dengan tanda tanya itu. Ditariknya pergelangan tangan Sakura agar gadis itu sadar dengan kekakuan yang dilakukannya sekarang. Detik berikutnya, mereka telah memasuki sebuah flat—ralat—sebuah istana kecil yang tersembunyi dalam sebuah flat kecil yang tampak biasa-biasa saja dari luar.
"Wow…"
"Umm, kau suka ya dengan istana-ku ini? Haha. Memang terlihat sangat kecil bila dilihat dari luar tapi like people said, never judge someone by its cover." jawab Kakashi dengan senyum ramah. Selembar kaus putih polos yang tergeletak di selusur tangga flatnya mulai dikenakannya. "Oh ya, boleh kutahu sejak kapan kau menjadi violinist, eh Sakura?"
"Mm, sebenarnya aku baru belajar violin beberapa tahun terakhir ini. Waktu aku masih dua belas tahun, aku baru saja memegang violin pertamaku. Yah, begitulah."
"Kau yakin kau baru belajar violin di usia yang ke-duabelas? Erm, maksudku, Sasuke tampak selalu membicarakan akan keahlian permainan jemarimu padaku di setiap telepon yang kami lakukan dan wow, you just learned this when you were twelve? Apakah kau yakin?" tanya Kakashi penuh rasa ingin tahu. Sakura yang merasa dipojokkan dengan pertanyaan itu hanya bisa tertawa kecut.
"Jangan kau tanyai dia dengan pertanyaan seperti itu, Kakashi. Bukankah tak masalah bila dia baru saja belajar memainkan violin asalkan dia bisa mengikuti cara mainku, hm? Lagipula, aku juga tidak peduli kapan dia mulai belajar, yang penting dia bisa menjadi partner in crime yang baik." kilah Sasuke yang tengah berdiri bersandar pada dinding ruang bartender di flat milik Kakashi itu sembari memutar-mutar gelas red wine di tangannya. Dengan sekali tegukan, gelas kaca itu telah kosong.
"Hei, hei, jangan minum wine di siang terik begini, Sasuke. Nanti, kau bisa mabuk."
"Don't care." jawab Sasuke tak peduli.
"Dasar Uchiha. Hahh…" ungkap Kakashi dengan nada pasrah.
"Umm…maaf, tapi—"
Sakura yang merasa diabaikan lagi berusaha memulai percakapan. Kakashi pun menoleh, sedangkan Sasuke masih berkutat dengan botol-botol wine yang tertata rapi di lemari kayu ruang bartender itu.
"Ada apa, Sakura?"
"Boleh kutahu mengapa cara Sasuke memainkan pianonya tidak biasa? Terkadang sebagai violinist, kita tak selamanya harus mengikuti seluruh alur permainan dari si pianis. Dan saat-saat seperti itu sering muncul pada diriku kala mengikuti alur melodi Sasuke yang er—terlalu liar." ujar Sakura dengan nada sedikit ditahan di akhir kata-katanya.
Mendengar kata-kata Sakura yang seperti itu, pacu jantung Sasuke seakan berhenti untuk sementara. Dia tak mau menatap ke arah Sakura dan berpura-pura masih sibuk dengan botol-botol itu padahal terlihat jelas tubuhnya yang sedikit bergetar. Kakashi pun melihat hal yang sama.
"Well, untuk yang satu itu kurasa kau-lah yang harus menjawabnya langsung, Sasuke." jawab Kakashi dengan nada enteng. "Dia belum pernah memberi tahumu ya, Sakura? Dasar dia itu. Hah…" ujar Kakashi sembari mengacak-acak rambut peraknya yang sedikit mencuat.
"Dengar ya Sakura. Pada dasarnya, seorang violinist dan seorang pianis saling bekerja sama atas dasar keyakinan bahwa melodi yang mereka bawa mampu untuk saling menyatu. Kalau awalnya saja tak ada saling percaya, buat apa ada kolaborasi? Begitu kan esensinya?" ujar Kakashi menasehati. "Dan kau juga Sasuke. Aku tahu caramu memainkan jemarimu di atas tuts memang unik tapi bukan berarti kau harus memaksakan keinginanmu yang sebegitu besarnya pada Sakura."
Merasa disinggung, Sasuke kemudian memutar kepalanya dan menatap dari jauh wajah Sakura yang menampilkan ekspresi antara takut, cemas dan bertanya. "Bagaimana kalau kita membuktikan hipotesismu itu pada permainan kami berdua, Kakashi?"
"Ah, tawaran yang sangat bagus sekali. Sepertinya sudah tak sabaran ya dia itu. Nah Sakura, kurasa kita sebaiknya ke ruangan piano di lantai atas. Di sana ada berbagai jenis violin juga." ajak Kakashi dan Sakura hanya mengangguk pelan.
"Tidak. Aku punya violin-ku sendiri."
"Ouh, begitu ya? Baiklah kalau begitu."
Tak lama, ketiga musician itu menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai atas yang dipenuhi dengan pajangan foto-foto maupun meja-meja kaca berisi berbagai alat music langka dari seluruh dunia. Sakura terhenti sebentar saat sebuah foto mahakarya yang begitu eksotis terlihat jelas oleh kedua mata hijaunya.
"Dia itu ibuku. She was the brightest violinist in Scotland in her time. Dan yang di sampingnya itu adalah ayahku. Hatake Sakumo dan Evangeline Howell adalah nama mereka." bisik Kakashi tepat di belakang Sakura. Sakura pun tersenyum kecil saat melihat kebahagiaan kedua pasangan itu tengah menikmati alat musik mereka masing-masing. "Tapi… ayah dan ibuku bercerai saat aku masih tiga tahun. Dan kurasa inilah alasan mengapa hingga setua ini aku belum bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Haha."
"Mereka—mereka sangat menikmati alunan melodi mereka, kurasa. Iya kan, Kakashi-san?"
"Hemm. Kurasa juga begitu. Tapi, aku lebih memilih menguasai alat musik ayahku, dengan begitu aku bisa tahu bagaimana rasanya seorang pianis ditinggalkan oleh yang terkasih padahal rasa sayang itu sebenarnya masih ada di antara mereka. Hahh… aku malah menceritakan hal yang tidak-tidak. Maaf ya. Dan ah—kurasa Tuan Uchiha sudah tidak sabar lagi."
Sakura menengok ke samping kirinya, mendapati Sasuke berdiri di ujung pintu kayu besar sambil menyandarkan punggungnya di tembok putih itu. Wajah malasnya tampak sangat jelas terlihat. "Sudah selesai ceritanya?"
"Hahh, iya, iya. Kau ini tak sabaran sekali. Oh ya, dia sudah hapal dengan not-notnya itu kan, Sasuke?"
Sasuke mengangguk. "Iya. Just let her fingers dance on the strings and so do I."
"Ok, ok. Aku mengerti." Sepersekian detik kemudian, Kakashi mendorong pintu kayu yang besar itu. Sebuah ruangan luas yang seluruhnya berwarna putih itu memberikan efek hampa dan kosong. Hanya ada sebuah piano hitam dan kursi yang juga berwarna senada dengan cat dindingnya. Tak lupa juga lukisan besar akan laut biru yang memperlihatkan ombak besar. Sakura sedikit terperangah dengan kondisi ruangan itu.
"Semuanya berwarna putih…" keluh Sakura kecil. "Kosong sekali."
"Dengan begitu kau bisa membiarkan imajinasimu berlari-lari liar, Sakura." jawab Kakashi. "Cara ini akan sangat efektif bila kau menggunakan semua indera dalam tubuhmu. Maka, lantunan melodi itu bisa memberikan warna akan ruangan yang serba putih ini. Kau lihat saja Sasuke."
"Begitu ya?"
"Aku akan mendengar dari sudut sana supaya kehadiranku tidak menganggu konsentrasi kalian berdua. Nah, having fun."
Maka, Sakura hanya bisa memeluk erat tas biolanya saja. Matanya bergerak ke sana ke mari, berusaha menghindari tatapan Sasuke yang sangat tajam itu. "Hei, mau sampai kapan kau melongo begitu? Ayo sini."
"Eh? A-aku hanya merasa agak aneh dengan ruangan ini saja."
"Sebaiknya kau tutup saja matamu kalau begitu." saran Sasuke. "Kita mulai dengan prelude-nya."
"Hm." jawab Sakura hanya dengan dehemen pendek.
.
Remind me when I have fallen to you. My heart beats so fast right now.
But I can't keep you forever, my dear.
When the time comes then I will let you fly through the air. By the wind, your petals have shown so much miracles for my empty heart. I need your voice to remind me one more time. Just one more time, dear. One more time then I will die…
.
Melodi itu berubah begitu cepat. Sakura berusaha untuk mengejarnya dengan sekuat tenaga. Dan akhirnya, ia pun mampu menangkap semua melodi itu di tangannya. Kini, seribu kelopak bunga sakura itu telah kembali kepada si empunya. Bukan si pohon tetapi kepada sang mentari.
Ia membuka kedua kelopak matanya. Hijau matanya bertemu dengan onyx hitam yang tajam. Senyum itu sedikit mengembang di sudut bibir manisnya. Ingin rasanya mengecup bibir itu sekali lagi, pikir Sasuke. Namun, masih ada hal lain yang harus dilakukannya. Dan ia ingin merebut semua rasa manis itu setelah konser ini berakhir.
"Sakura."
"Apa?"
"Setelah semua ini berakhir, aku mau kau untuk terus memainkan violin-mu itu. Meskipun aku mati sekalipun."
"Apa sih maksudmu itu? Kau selalu saja mengatakan hal-hal aneh akhir-akhir ini. Nah, bukannya kau memang aneh, hmm…"
"Lihat mataku Sakura."
Sasuke memegang kedua pundak Sakura. Genggamannya yang begitu kuat tak bisa ditampik oleh Sakura kala ini, berbeda seperti dahulu. Tanpa basa-basi lagi, Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir mungil Sakura. Terkejut, Sakura hanya bisa membulatkan matanya. Namun, sensasi dingin dan panas yang menggeliat di perutnya membuat tubuhnya menjadi kaku. Ia pun menikmati apa yang tengah dilakukan oleh Sasuke saat itu. Membiarkan bibir mungilnya dilumat begitu saja oleh Sasuke. Ya, ia biarkan saja hal itu terjadi pada dirinya.
"Sudah selesai?" tanya Sakura sambil berusaha mengambil oksigen. Namun, entah kenapa nafas Sasuke terlihat memburu, tidak seperti biasanya. Ia bahkan sedikit terbatuk dan lama-kelamaan batuk itu tak berhenti. Sasuke memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Sakura merasa ada yang aneh dengan kondisi tubuh Sasuke saat itu. Dan saat berikutnya, Sasuke nyaris saja terjatuh namun berhasil ditahan oleh Sakura.
"Sa-Sasuke? Kau kenapa? Sasuke? Sasuke? Sasukeee!"
.
.
.
Mata onyx-nya kian menutup dan perasaan hampa dan kosong itu kembali menyusup di hatinya. Ada bau anyir yang bisa diciumnya. Ah, pasti aku mimisan lagi atau yang lebih parah batuk darah, eh, ujar Sasuke dalam ketidaksadarannya yang panjang itu.
Saat berikutnya, semuanya berubah gelap dan gelap. Tak ada cahaya meskipun setitik pun. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri. Hanya ada suara-suara kecil yang seakan memintanya untuk tetap terbangun. Tetapi, kegelapan itu rasanya enak sekali. Ia ingin tidur di kegelapan seperti itu…
"Sasukeeee!"
.
.
.
"Marfan Syndrome?"
Pria paruh baya berpakaian serba putih itu mengangguk. "Sindroma Marfan adalah suatu penyakit jaringan ikat keturunan yang bisa menyebabkan kelainan pada pembuluh darah dan jantung, maupun kerangka dan mata. Dan saya rasa, yang dialami oleh Tuan Uchiha adalah terutama di bagian jantungnya, selain itu ia normal."
"Ap-apakah itu penyakit keturunan, dok?"
"Ya. Pengaruh gen tentunya. Tapi, Tuan Uchiha telah menahan rasa sakit di jantungnya itu sudah sekian lama. Sindrom ini tidak akan bertahan terlalu lama pada manusia namun saya rasa, keinginannya tuk terus hidup sangatlah tinggi."
"Apakah di-dia masih bisa hidup?" tanya Sakura dengan nada yang bergetar. Suaranya terasa mencekat di tenggorokannya. Rasa sakit juga mengenai dadanya saat itu.
"Saya tidak tahu pasti, nona. Tapi, sebagian besar penderita sindrom ini terutama yang memiliki kelainan jantung tak bisa terlalu lama—"
"Jadi… jadi… dia… tidak—"
"Akan sangat baik bila nona melihat kondisi Tuan Uchiha terlebih dahulu."
…Sasuke, jadi selama ini, kau mencari violinist hanya untuk mengisi bagian not yang hilang itu kan? Iya kan? Dan selama ini juga, kau berusaha mencariku tapi kenapa semuanya terasa begitu terlambat? Kenapa?
Dengan langkah gontai, Sakura menelusuri koridor sepi di salah satu rumah sakit yang ada di Prague. Untungnya saja, ada dokter berkebangsaan Jepang yang ada di rumah sakit itu dan bisa menangani Sasuke. Kalau tidak, maka Sakura pun akan kesusahan meskipun ada Kakashi sekalipun.
"Sakura…"
"Kakashi-san…"
"Dia sedang tidur."
"Hmm, aku tahu. Tapi, aku ingin menemaninya di sana. Bodoh sekali dia itu, padahal konsernya adalah lusa kan?"
"Jangan khawatir. Lusa, dia pasti sehat kembali. Kau tahu kan, dia itu termasuk orang yang paling keras kepala di dunia ini. Fufu." ujar Kakashi berusaha menenangkan Sakura.
"Hm, ya. Kuharap demikian."
I hope before I die, your petals won't blame me. I'm just a black piano. Nothing more, nothing less. If I die, my coffin will be my own body. Nobody will understand me. That's why I choose to be close to you, cherry blossom. Your pink petals will cover me from the sun brightness. Its lightness could burn my skin and I hate that. Only you and only you, cherry blossom…
.
.
.
Prague Phylharmonic Orchestra.
Sakura menunggu di sudut backstage sambil memeluk violin-nya yang unik. Gaun merah muda selutut yang dikenakannya memberikan kesan betapa manisnya ia saat ini. Namun tetap saja, suara degup jantungnya yang semakin memburu itu membuatnya semakin takut saja. Ia nerves dan ia terus saja mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya yang berwarna senada dengan gaunnya di lantai kayu itu. Ia mengingat kembali fase-fase latihan yang ia telah lalui bersama dengan Sasuke dan juga tak lupa dengan bagian di akhir sesi latihan di mana Sasuke selalu saja meminta untuk mengecup lembut bibir Sakura. Lama-lama, rona merah terlihat di kedua pipi Sakura.
Dasar si bodoh itu. Arrgh! Pokoknya aku harus konsentrasi! Iya! Harus konsentrasi!
"Kalau kau terus saja seperti itu, penonton malah akan menertawaimu."
Suara itu sungguh tak asing bagi Sakura. Nada sarkastik ditambah dengan senyum sinis adalah dua hal yang sangat lekat menempel pada pemuda ini. Uchiha Sasuke telah kembali dari istirahat panjangnya.
"Sasuke…"
"Hn. Cahaya stage sudah dinyalakan. Kurasa kita harus ke depan sekarang." ajak Sasuke dengan menjulurkan tangannya pada Sakura. Tak perlu berpikir lagi, Sakura pun menarik tangan itu.
Mereka berjalan bak seorang pangeran dan putri. Tapi, kenyataan tidaklah seperti itu. Malah, kenyataan yang lebih pahit ialah saat Sakura tahu bahwa hidup Sasuke takkan lama lagi. Mungkin Sasuke sudah mengetahuinya lama sebelum insiden kemarin dan ia bisa menutupinya dengan wajah stoic-nya itu. Dan Sakura… Ia juga tak ingin menghancurkan keinginan terbesar Sasuke yang baru bisa diraihnya saat ini. Ya, saat ini.
Cahaya lampu panggung tersorot pada dua sosok musician ini. Sorak sorai dan tepuk tangan membahana serasa ingin membuat jantung Sakura copot. Tapi, genggaman lembut Sasuke seakan bisa memberikan ketenangan pada dirinya.
"Just calm and be yourself, Sakura."
Sakura mengangguk kecil. Detik berikutnya, mereka saling memisahkan diri. Sasuke berjalan menuju pianonya dan Sakura menuju tengah panggung. Ia sedikit memiringkan tubuhnya dan memperlihatkan violin-nya di hadapan penonton. Saat aba-aba siap dan penonton mulai tenang, Sakura meletakkan violin-nya di atas tulang pundak kirinya. The piano starts to play…
Piano Sasuke memulai segalanya. Efek viola yang berasal dari orchestra di belakang mereka mengikuti alunan prelude Croatian Rhapsody. Setelahnya, violin Sakura ikut memainkan melodi utama. Segalanya terdengar begitu harmonis dan indah. Sakura berusaha membawa dirinya jauh ke dalam melodi piano yang semakin lama semakin liar itu.
Baik onyx maupun emerald saling menutup kelopak mereka dan mereka mulai membayangkan hamparan padang rumput yang luas. Pohon sakura yang tengah mekar dengan seribu kelopaknya yang beterbangan. Piano hitam terlihat tengah bernaung di bawah pohon itu. Duri-duri tajam yang mengikat piano hitam itu membuatnya tak bisa bernada. Tapi, kelopak-kelopak itu akan membebaskannya dari belenggu itu. Ya. Ia akan terbebas sepenuhnya.
I swear I love you. But I know we can't be together.
Now, let me just die for you—
"Kau pasti akan sembuh, Sasuke."
"Jangan bodoh Sakura. Penyakitku ini adalah penyakit gen. Tak ada obatnya, kau tahu."
"Kenapa kau seakan menyerah pada takdir, hah?"
"Bukannya takdir memang kejam? Kalau mau menyalahkan takdir, maka salahkanlah dulu Tuhan."
"Kau bodoh Sasuke! Bakaaa!"
"Ya kau benar. Aku adalah orang bodoh yang bisa jatuh cinta pada orang macam dirimu. Tapi… aku senang sebab aku masih bisa memainkan pianoku sebelum semuanya menjadi betul-betul gelap."
"SASUKEEE!"
.
.
.
Present Day, Tokyo, Japan.
Andai dunia ini adalah dunia yang penuh keabadian, maka takkan harus ada manusia yang mati. Tapi, kalau tak ada manusia yang mati, lalu untuk apa ada surga dan neraka. Hahh, pikiran yang bodoh. Jangan memikirkan hal-hal yang bukan wilayah hak pikir kita sebagai manusia. Biarkan Tuhan yang akan memutuskannya. Ya. Biarkan saja.
Pagi yang cerah itu, sepasang anak manusia masih saja terbungkus oleh selimut putih tebal di kamar yang sedikit gelap. Namun, cahaya matahari sedikit menyusup dari balik gorden jendela kamarnya—ralat—kamar mereka.
"Ungg… Sasuke… sudah pagi. Ayo bangun."
"Nggg… lima menit lagi."
"Ahh, dasar anak manja dia ini. Kuambilkan toa baru kau bangun."
"Iya, iya. Aku bangun!" teriak Sasuke. "Hahh, kau ini. Kau lupa semalam kita melakukan apa? Kita baru saja menyelesaikannya jam dua pagi, kau tahu."
Entah kenapa saat Sasuke mengatakan hal itu dengan nada enteng, rona merah terlihat jelas di wajah Sakura. "Arggh! Aku mau mandi!" teriak Sakura berusaha untuk membuang jauh-jauh rasa malu akan ingatan semalam. Ia lupa kalau namanya sudah berubah, tepatnya nama marganya. Uchiha Sakura.
"Kau lupa kalau kau—naked?" ujar Sasuke dengan nada jahil, tak lupa dengan seringai tampannya.
"Eepph? Dasar Sasuke-bakaaa!"
Tak lama setelah itu, mendaratlah bantal-bantal dan guling-guling ke wajah Sasuke. Lemparan itu sukses membuat Sasuke terjatuh dari spring bed queen size-nya. Gelak tawa Sakura membuat Sasuke bisa tersenyum kecil. Sudah bertahun-tahun lamanya kejadian itu berlangsung. Sejak pertemuan pertamanya dengan istrinya itu dan bagaimana ia bisa menjadi bagian terpenting dari hidup dan musiknya…
Now, I know. Although we can't be together, there will be a time when we can meet again. In another life, in another dimension, and in another melody…
.
.
.
This is the last tune...
Author's Curcol :
Well, jadi ini adalah fic yang dibuat atas dasar untuk menghilangkan stres dengan ujian yang akan tiba dan juga KTI yang belum disentuh lagi. Fuhhh~ payah, payah. ==a
Fic ini murni dari hasil meditasi saya *halah* tapi instrumen-instrumennya Maksim Mrvica sungguh membantu dalam penulisannya.
Bagi yang suka dengan karya-karyanya Maksim Mrvica, sebagai saran sih, kalo denger salah satu masterpiece-nya yang berjudul Child in Paradise atau Croatian Rhapsody saat baca fic ini pasti enak deh *alay* XD
Yosh! RnR~~~ *bletakkk* *dilemparin sepatu*
