Ist es eim Happy End wird?
.
-Beerealshee-
Cast:
Cho Kyuhyun
Cho (Lee) Donghae
Super Junior members, and other
.
All cast is God's, and the story is mine
.
Alternative Universe
.
Brothership, family, Hurt/comfort
Chapter 1
Dua orang anak kecil sedang meringkuk ketakutan didalam sebuah lemari kayu dengan ukuran cukup besar. Keduanya saling berpelukan dan menangis bersama-sama. keduanya tidak paham dengan hal-hal yang terjadi diluar lemari tempat mereka berlindung. Yang mereka tau, ayah dan ibu mereka sedang saling berteriak, mengumpat dan membanting benda-benda di sekitarnya.
"Hyung, Kyu takut, kenapa eomma, dan appa marah-marah hyung?" salah seorang anak yang terlihat lebih muda nampak menutup kedua telinga dengan telapak tangan kecilnya, matanya sudah basah, menangis karena takut akan gelapnya lemari, serta teriakan-teriakan kedua orangtuanya.
"Hyung juga tidak tau kenapa eomma dan appa marah-marah Kyunnie, apakah tadi sore kita berbuat nakal? Makannya appa dan eomma marah?" salah seorang anak yang lebih dewasa beberapa tahun kini ikut menangis. Tidak ada yang tau, mengapa ayah dan ibu mereka saling berteriak saat tengah malam seperti ini.
Kyuhyun hanyalah seorang anak kecil berusia lima tahun, sedangkan kakaknya, Donghae, ia lebih tua dari Kyuhyun dua tahun. Usianya tujuh tahun. Wajar jika keduanya nampak sangat ketakutan, dan menangis bersamaan. Keduanya masih terlalu polos untuk mendengar kata-kata kasar dari kedua orang yang seharusnya menjadi panutan.
"Hyung, Kyunnie gerah, disini panas," eluh Kyuhyun, benar saja, piyama biru muda yang dikenakan Kyuhyun sudah basah oleh keringat. Tak jauh berbeda, piyama yang dikenakan Donghae juga sudah basah oleh keringat. Bagaimana tidak? Sudah lebih dari empat puluh lima menit kedua anak itu tidak keluar dari dalam lemari pakaian. Bukan hanya berkeringat, keduanya bahkan sudah nyaris sesak nafas karena kehabisa oksigen, dan parahnya, kedua orang tua mereka, tidak ada yang menyadari hal itu. Keduanya masih sibuk mencaci, mencari kesalahan demi kesalahan satu sama lain, memperburuk keadaan, dan melupakan kenyataan, bahwa kedua putra mereka bisa saja mati sewaktu-waktu akibat perbuatan mereka
.
.
.
Pintu lemari kayu tersebut perlahan terbuka, menampilkan sosok wanita dengan usia di akhir dua puluhan. Wanita itu tersenyum dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Dengan cepat wanita itu merengkuh tubuh Donghae dan Kyuhyun kedalam pelukannya, menggumamkan kata maaf terus menerus. Donghae dan Kyuhyun hanya bisa terdiam, mereka tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi pada eomma mereka.
"Eomma lama sekali sih? Kyu gerah, dan susah nafas didalam sini," wanita muda itu semakin terisak kala mendengar keluhan anak bungsunya, "maafkan eomma karena terlalu lama ya. Donghae, Kyuhyun, sekarang ganti pakaian, dan kembali tidur, arachi?" wanita itu berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan air mata yang terus mengalir, takut membuat kedua putranya cemas. Kyuhyun mengangguk ringan, anak itu perlahan mengendurkan pelukannya, tapi tidak dengan Donghae, anak berusia tujuh tahun itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada wanita tersebut, samar, terdengar suara isak tangis dari Donghae, hal itu membuat alis Kyuhyun berkerut, "hyung, wae? Kenapa nangis?" Tanya Kyuhyun polos. Donghae melepaskan pelukannya pada sang ibu, bocah itu menunjukan telapak tangan kanannya yang sudah berlumuran darah, "eomma, eomma, hiks, eomma kenapa berdarah? Hae takut eomma," Donghae terisak sembari menatap nanar telapak tangannya yang berlumuran darah. Kyuhyun yang sudah agak tenang kembali menangis karena kejadian tersebut. Sedangkan sang eomma hanya bisa menenangkan kedua putranya dengan pasrah, ia mengelus kepala kedua bocah tersebut, meyakinkan bahwa semua baik-baik saja, meyakinkan bahwa noda merah di tangan Donghae bukanlah darah, melainkan sebuah saus tomat. Tapi Donghae tidak sebodoh itu, ia anak yang cerdas, setidaknya ia tau, bahwa ibunya sedang terluka saat ini.
.
.
.
Donghae, dan Kyuhyun tengah tertidur di kamar tamu rumah mereka, keduanya nampak memeluk sang ibu yang berbaring diantara keduanya. Kedua bocah tersebut nampak sangat nyenyak, seperti tak memiliki beban apapun, atau bahkan ingatan buruk tentang kejadian beberapa menit yang lalu, mungkin karena terlalu lelah, dan terlalu mengantuk. Ya, biasanya kedua anak itu akan pergi tidur sebelum pukul Sembilan malam, namun tidak untuk malam ini, jam dinding di rumah mereka telah menunjukan angka dua tepat di jarum pendeknya.
Wanita yang sedang berbaring diantara Kyuhyun dan Donghae nampak meringis kesakitan, ia bangkit dari tidurnya, menyentuh bagian bawah punggungnya yang tergores pecahan kaca saat bertengkar dengan suaminya tadi. Wanita itu menangis, ia memandangi kedua buah hatinya, dan dengan perlahan wanita itu mengecup kening masing-masing anaknya, "maafkan eomma," ujarnya lirih, wanita itu kembali merebahkan tubuhnya, ia bersenandung dengan lembut, membuai kepala kedua anaknya, dan kemudian isakan kembali terdengar dari bibir wanita itu, menciptakan suara yang sebenarnya sedikit mengerikan, sebuah lullaby pengantar tidur yang diselingi tangisan, bukanlah hal yang nyaman didengar pada pukul dua dini hari.
.
.
.
Hari demi hari berlalu, dan kini telah berganti bulan. Donghae dan Kyuhyun sudah lebih terbiasa dengan pertengkaran kedua orangtuanya yang hamper setiap hari terjadi, ditambah lagi, sifat ayah dan ibunya yang kini nampak acuh pada keduanya. Sebenarnya ibu mereka masih nampak perhatian pada keduanya, namun ia nampak lebih pendiam dari beberapa bulan yang lalu. Hingga suatu hari, wanita itu mengajak Kyuhyun dan Donghae berjalan-jalan pada sore hari, menyusuri kota Seoul menggunakan mobil pribadi miliknya. Wanita itu nampak lebih sering tersenyum dan bersenandung, namun senyumannya berbeda, tidak sama dengan senyuman menenangkan yang biasa Donghae dan Kyuhyun lihat. Namun, Kyuhyun dan Donghae hanyalah anak-anak, menurut keduanya, senyuman sang ibu masih sama dengan senyum senyum sebelumnya, bahkan keduanya terus tertawa karena ibu mereka tak berhenti bersenandung, seolah menghibur Donghae, dan Kyuhyun sepanjang perjalanan.
.
Kini ketiganya telah sampai di sebuah padang rumput luas, bahkan Donghae dan Kyuhyun baru kali pertama mengunjunginya, keduanya nampak sangat bahagia, baik Donghae maupun Kyuhyun keduanya sangatlah aktif, berlari dari ujung satu ke ujung lainnya, berguling-gulung, dan saling mengelitiki satu sama lain. Wanita itu masih setia memandang kedua putranya, sebuah liuid bening mengalir dari kedua bola matanya, membentuk sebuah aliran, hingga berhenti di ujung dagunya.
"Hae, Kyu, kalian jangan kemana-mana ya, eomma akan membeli air minum untuk kalian." Wanita itu berteriak dari tempatnya berdiri, masih setia mengamati kedua buah hatinya yang masih sibuk berguling-guling diatas padang rumput. "ne eomma, jangan lama-lama ne?" sahut Donghae, sedangkan Kyuhyun hanya menanguk tanda mengiyakan.
Wanita itu tersenyum samar, hingga akhirnya ia membuka pintu mobilnya, memasang sabuk pengaman, dan melaju kencang meninggalkan kedua putranya di padang rumput tersebut. Ya, meninggalkan dalam artian yang sesungguhnya, sengaja meninggalkan lebih tepatnya.
"bukan salahku."
.
.
.
Kyuhyun dan Donghae kini berbaring terlantang memandang langit yang mulai berwarna jingga kemerahan, keduanya terlalu lelah karena berlarian kesana kemari, tubuh keduanya sudah penuh dengan rumput-rumput yang menempel, dan peluh yang bercucuran. "hyung, eomma belum kembali, aku sudah sangat haus," cicit Kyuhyun, Donghae hanya menggeleng pelan, "kau benar Kyu, ini sudah mau malam, tapi eomma belum datang. Apa eomma tersesat? Aku juga sudah sangat haus."keduanya saling mengeluh, bahkan mata Kyuhyun sudah berkaca-kaca, menahan lelah, haus, dan lapar, serta terlalu bosan menunggu ibunya untuk datang.
Keduanya sudah mulai gusar, langit diatas sana kian menghitam, sudah tidak ada lagi jejak-jejak jingga dan merah, menandakan hari sudah semakin larut. Kyuhyun sudah tidak bisa menahan tangisnya, bocah itu menangis kejar, ia menggenggam tangan Donghae dengan sangat kuat. Keduanya berjalan dengan perlahan di tepi jalan raya yang ada di tepi padang rumput tempat keduanya ditinggalkan. Nyaris tidak ada satupun kendaraan yang melintas, ditambah lagi penerangan jalan yang memang sangat redup membuat keduanya bergidik ketakutan, bagaimana tidak? Keduanya masih anak-anak, dan ibunya tega meninggalkan mereka di tempat yang tidak keduanya ketahui.
Keduanya terus berjalan, menyusuri dinginnya malam, Kyuhyun masih terisak, dan Donghae masih setia menggenggam tangan adiknya, beberapa kali Donghae tampak menenangkan Kyuhyun, berusaha kuat, dan berusaha mencari bantuan, dengan menatap sekeliling jalanan yang sudah semakin gelap. "Hyung, aku sudah sangat capek, eomma dimana? Aku ingin pulang hyung," Kyuhyun terus meracau sepanjang perjalanan, suaranya sangatlah parau, dan masih dengan air mata yang terus mengalir. Donghae mengeratkan pegangannya pada Kyuhyun, sebuah senyuman mengembang di bibir Donghae kala ia melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang tak jauh dari jalan gelap yang ia dan Kyuhyun lalui. "Kyuhyun, kita akan pulang sebentar lagi, percayalah pada hyung, kita pasti sampai rumah. Hyung akan minta bantuan kalau kita sudah sampai sana," Donghae menunjuk kearah jalanan yang cukup ramai di hadapannya. Kyuhyun mengangguk, anak itu ikut tersenyum, dan mulai menghapus air matanya menggunakan lengan jaket yang ia kenakan. Akhirnya kedua anak kecil itu kembali berjalan, mencari secercah harapan untuk pulang kerumah, bertemu dengan ayah dan ibunya, melupakan fakta bahwa ibu mereka tega membuang mereka di tempat yang cukup mengerikan.
.
.
.
"Dimana Donghae dan Kyuhyun?" Tanya seorang pria tegap pada seorang wanita yang sedang duduk santai sembari menyesap aroma segelas coklat panas. "Kenapa kau menanyakan mereka? Bukankah ini yang kau inginkan? Tanpa anak-anak, beban kauanganmu akan berkurang kan? Aku mengabulkan keinginanmu untuk mengurangi biaya bulanan kita. kau masih tak terima?" ujar wanita itu santai. Pria tegap tersebut nampak geram, kedua kelopak matanya nampak membuka lebar, dan raut wajahnya jelas menunjukkan amarah. "KAU GILA?! Mereka tidak ada hubungannya dengan semua permasalahan ini, aku hanya menyuruhmu berhemat agar tidak menghabiskan jutaan won dalam sebulan! DAN KAU MEMBUANG ANAK-ANAKKU? Dimana mereka? DIMANA MEREKA SEKARANG?" pria itu mengguncang tubuh wanita yang duduk di hadapannya, mencoba mencari jawaban dari wanita tersebut. Namun, si wanita malah memalingkan wajahnya, enggan menatap pria yang selama delapan tahun hidup bersamanya.
"Hye Jin-ah, aku mohon padamu, dengan sangat, aku memohon padamu, katakana dimana mereka, ini sudah malam, mereka berdua bahkan tidak tau jalan pulang dari sekolah mereka masing-masing. Jadi bagaimana mungkin seorang ibu tega membuang kedua anaknya? Hye Jin, aku mohon padamu," pria itu menangis, nampak sangat tertekan, ia terlalu lelah dengan apa yang ia alami beberapa waktu belakangan ini.
"Aku… aku selalu menuruti kemauanmu Hye Jin, bahkan ketika sedikit saja aku tegas padamu, kau selalu berontak dan mengancamku dengan melukai dirimu sendiri. Beberapa waktu yang lalu, kau bahkan bisa menancapkan pecahan kaca pada punggungmu, dan kau bertingkah seolah-olah aku yang melakukannya. Aku tidak peduli dengan hal itu, tapi jangan lakukan apapun pada kedua anakku, kau… kau boleh melakukan apapun padaku, tapi tidak dengan mereka, aku mohon Hye Jin."
Wanita itu bungkam, ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian, "kau bilang anakmu? Lupakah kau, kalau mereka juga anakku? Aku lebih berhak kepada mereka berdua, tanpa mereka berdua aku akan menghemat uangmu Cho, bukankah yang kulakukan sudah benar?"
Cho Kiha menatap nanar istrinya, tatapannya sarat akan kekecewaan, dan kemarahan, "baik… aku tidak tau apa yang sebenarnya kau inginkan, tapi beri tahu aku dimana mereka berdua, dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu. SEMUANYA!"
.
.
.
Cho Kiha mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tak menyangka bahwa istrinya membuang kedua anak mereka di Daejon, cukup memakan waktu untuk menuju Daejon dari kota Seoul. Pria itu mengitari beberapa bukit dan padang rumput yang telah istrinya ceritakan, namun nihil, tempat tersebut seperti bukan Daejon, selama ini Kiha mengira bahwa Daejon nyaris menyerupai Seoul, sebagian besar gedung-gedung pencakar langit dan jalan altenatif, namun ia salah, ia tak pernah menyangka menemukan sebuah jalur yang cukup panjang yang menghubungkan kota besar dengan jajaran padang rumput luas, penerangan jalan tersebut hanya sebatas lampu jalan yang dijejer setiap duapuluh meter. Kiha memukul setir mobilnya, pria itu merutuki kebodohan istrinya, atau bahkan kebodohan dirinya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan, kedua anaknya yang masih sangat kecil berjalan menyusuri jalanan gelap seperti ini, dengan angin kencang, dan sangat sepi. Kiha lagi-lagi menitikan air matanya, di kepalanya, berbagai kemungkinan buruk yang akan menimpa kedua anaknya sudah tergambar dengan sangat jelas, membuat pria tersebut semakin tak ingin menghentikan pencariannya.
.
.
.
Kedua anak kecil itu kini berada di sebuah jalan besar, banyak kendaraan yang berlalu lalang, entah bagaimana cara keduanya lolos dari jalanan di tepi padang rumput yang mencapai enam kilometer, yang mereka tau, jika mereka berhenti berjalan, maka mereka tak bisa kembali pulang.
Donghae menyadari posisinya sebagai seorang kakak, sebisa mungkin ia melindungi Kyuhyun, jika Kyuhyun kelelahan, ia dengan segera menyuruh Kyuhyun duduk dan membantu Kyuhyun memijat kakinya, seperti saat ini, Donghae mulai kewalahan, bagaimanapun juga ia belum pernah mengunjungi tempat tersebut, terlalu banyak orang berlalu-lalang, menatap Donghae, dan Kyuhyun dengan tatapan berbagai macam, tubuh keduanya sudah sangat kotor, jaket dan kaus bermerk terkenal yang dikenakan keduanya kini nampak lusuh, beberapa potongan rumput masih setia menempel di beberapa bagian tubuh mereka berdua, wajah keduanya juga nampak kusam, karena terkena peluh dan air mata yang sudah nampak mengering.
Tapi Donghae sama halnya dengan Kyuhyun, ia masih terlalu kecil, apa yang bisa dilakukan anak kecil usia tujuh tahun untuk kembali kerumahnya dengan selamat? Namun Donghae cerdas, anak itu sebisa mungkin mencari bantuan melalui orang-orang yang berlalu lalang melewatinya. Banyak orang yang mengebaikan Donghae maupun Kyuhyun, jarang ada yang menanyakan keadaan mereka, hingga akhirnya seorang gadis dengan seragam sekolah menengah atas menghamipiri keduanya, gadis itu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Donghae dan Kyuhyun.
"Eoh, kalian sedang apa di pinggir jalan seperti ini? Baju kalian kotor sekali, dan… dimana orangtua kalian?" gadis itu kini mulai membersihkan wajah Donghae dan Kyuhyun menggunakan tissue yang selalu ia bawa di ranselnya, "aku tidak tau, eomma bilang ia pergi untuk membeli minum, tapi eomma belum kembali sampai sekarang," Donghae menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis tersebut, "jadi, dimana rumah kalian?" Tanya gadis itu. Kyuhyun dan Donghae saling memandang, hingga akhirnya bibir mungil Kyuhyun berujar dengan sangat pelan, "Seoul nunna, tapi aku tidak tau alamat lengkapnya" ujar Kyuhyun. Gadis itu langsung membelalakan matanya,
"MWO? SEOUL?"
.
.
.
Kini Donghae dan Kyuhyun sedang menikmati makan malam di sebuah restoran cepat saji, keduanya nampak makan dengan sangat lahap, sedangkan gadis yang menolong mereka berdua nampak sibuk berbincang-bincang dengan seseorang di sebrang line telepon genggamnya, sesekali gadis itu nampak menunduk, dan menyebutkan lokasi keberadaannya. Setelah selesai mengangkat telfon, gadis itu duduk di hadapan Donghae dan Kyuhyun, ia tersenyum melihat kedua anak kecil itu sangat menikmati ayam yang ia pesankan.
"Ayah kalian akan segera datang, jadi jangan kuatir ne? Ternyata dia mencari kalian, lokasinya bahkan hanya dua kilometer dari tempat ini," ujar gadis tersebut. Donghae dan Kyuhyun kini tersenyum puas, mereka menggumamkan kata terimakasih pada gadis tersebut. Donghae anak cerdas, ia memberikan nomor ponsel ayahnya yang sudah sangat ia hapal pada gadis yang menolongnya, sehingga ayah mereka dapat menjemputnya pulang.
"Donghae-ah, Kyuhyun-ah, namaku Kim Jae Rim, aku senang bertemu kalian, kalian sangat imut, kalau sudah sampai Seoul, jangan lupa hubungi aku ne?" Donghae mengangguk dengan semangat, "ne nunna, itu pasti. Kau sudah seperti bidadari penyelamat kami," ujar Donghae, "ne, nunna cantik sangat baik hati," tambah Kyuhyun.
Kini ketiganya tertawa bersama-sama, menikmati ayam cepat saji yang ada di hadapan mereka, bersenda gurau sembari menunggu ayah Donghae dan Kyuhyun datang menjemput.
.
.
.
Donghae dan Kyuhyun menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya, meluapkan rasa lelah yang sejak tadi sore mereka tahan, begitu pula dengan ayah mereka yang tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya, ia sangat bersyukur masih bisa bertemu dengan kedua anak yang paling ia kasihi, Cho Kiha tidak berhenti menciumi kening dan pipi kedua anaknya, bahkan Kim Jae Rim ikut menitikan air mata kala pertemuan ayah dan anak itu terjadi.
Cho Kiha nampak membunguk berkali-kali pada Jae Rim, ia juga mengganti uang yang digunakan Jae Rim untuk membelikan makan Donghae dan Kyuhyun beberapa kali lipat, awalnya gadis itu menolak, namun karena Cho Kiha terus memaksa, akhirnya gadis itu menerimanya. Kini Donghae dan Kyuhyun sudah berada di dalam mobil ayahnya, keduanya duduk di bangku belakang agar dapat beristirahat dengan nyaman.
"Appa, kenapa eomma meninggalkan aku dan Kyuhyun?" Tanya Donghae,
"bukan begitu Hae, eomma kalian terlalu pelupa, dia ingn kembali menjemput kalian, hanya saja dia lupa jalan kembali, karena itulah eomma menyuruh appa mencari kalian, tapi ternyata kalian sudah tidak ada di padang rumput itu, dan untungnya, aku berhasil menemukan kalian, appa sangat lega mendengar kalian baik-baik saja. Nah sekarang tidurlah Hae, lihatlah Kyuhyun, ia bahkan sudah tidur sejak tadi, rumah masih agak jauh." Donghae mengangguk, ia segera memejamkan matanya yang memang sudah terasa berat.
.
.
.
Donghae dan Kyuhyun tiba di rumah nyaris pukul sebelas malam, keduanya langsung berlarian menuju bagian dalam rumah mereka, berusaha mencari sang ibu. Keduanya saling berteriak memanggil si Ibu, hingga akhirnya wanita itu keluar dari dalam kamar. Tidak seperti yang Donghae dan Kyuhyun harapkan, keduanya berharap sang ibu akan menyambut keduanya dengan pelukan seperti biasanya, kali ini berbeda, wanita itu hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemudian tersenyum sinis di hadapan kedua anaknya, "oh, bisa pulang ternyata?" satu kalimat yang cukup mengejutkan, sehingga membuat Donghae maupun Kyuhyun menghilangkan senyuman di wajahnya masing-masing. Entah apa yang salah dengan pola pikir ibu Donghae, dan Kyuhyun. Yang jelas kedua bocah itu tidak pernah tau.
.
.
.
.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun berganti tahun. Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak kejadian ditinggalkannya Donghae dan Kyuhyun di sebuah padang rumput di kota Daejun. Semua nampak sama ketika melihat keluarga besar Cho, masih utuh, tinggal berempat dalam satu rumah yang cukup besar. Hanya saja kehidupan di dalamnya telah berubah sangat jauh, nyaris tidak ada tawa di dalamnya, suram.
Donghae dan Kyuhyun sudah dewasa, mereka sudah mengerti, dengan apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Keduanya sudah tidak bisa dibohongi, mereka tau, ibu mereka sengaja meninggalkan mereka, dengan alasan mengurangi pengeluaran bulanan sang ayah. Terdengar bodoh, jelas-jelas wanita itu yang seperti pengerat untuk keluarganya, tapi justru mereka yang dikorbankan. Dan semenjak itu pula, tidak ada lagi interaksi diantara ibu dan kedua anak laki-laki itu. Donghae dan Kyuhyun muak, terlampau muak dengan topeng sang ibu yang selalu berpura-pura baik di hadapan orang lain, tetapi menjerat ayahnya di belakang.
Bahkan Donghae dan Kyuhyun baru tau, sang ibu memberi tahukan tempat dibuangnya Donghae dan Kyuhyun sepuluh tahun lalu pada ayahnya dengan berbagai macam syarat yang rumit. Salah satunya, sang ayah tidak diizinkan untuk menceraikan ibu mereka hingga kapanpun, dan pembagian harta yang tidak wajar. Namun keduanya memilih diam, tidak mau ikut campur terlalu dalam pada urusan ayah dan ibunya. Setidaknya hubungan Donghae dan Kyuhyun masih terjalin sangat baik, keduanya masih sama seperti dulu.
.
.
.
Kyuhyun meringkuk dalam tidurnya, remaja itu menutup dengan erat kedua telinganya menggunakan bantal, ia sangat bosan mendengar pertengkaran kedua orangtuanya yang nyaris terjadi setiap hari, tak jarang pula Kyuhyun tidak tidur sama sekali hanya karena suara ribut kedua orang tuanya. Remaja itu gusar, ia memukul-mukulkan kepalan tangannya pada kasur yang ia tiduri, mencoba melampiaskan kemarahannya pada objeg apapun yang ada di dekatnya. Tanpa terasa air mata Kyuhyun mengalir dengan sendirinya.
.
.
.
Sedangkan Donghae, remaja itu menutup kedua telinganya menggunakan headphone, ia menyetel lagu sekeras mungkin agar tak ada suara lain yang masuk kedalam gendang telinganya. Donghae tersenyum miris, remaja itu menatap nanar debuah foto keluarga yang ada pada meja nakasnya. "Cih, keluarga apanya?" Ujar Donghae.
.
.
.
Begitulah seterusnya, sebuah keluarga yang tidak bisa disebut keluarga. Penuh kemunafikan, tidak ada kebahagiaan, dan penuh dengan tekanan. Begitu gelap, tak ada warna di hari-hari Kyuhyun maupun Donghae. Hanya hitam, putih, dan terkadang… abu-abu.
TBC…
Fiuh, kelar juga chapt 1. Eum, masih berantakan, entahlah saya juga gak paham apakah feel nya dapat atau enggak, saya Cuma ngetik yang ada di kepala aja hehe..
Untuk Wild Flower, besok kalau gak ada halangan saya update ya, maaf gak bisa dibarengin sama ff ini, soalnya belum selesai hehe.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
_BeeRealShee_
