Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 2
"Hinata! Kau lama sekali!"
"Maaf."
"Tunggu. Siapa yang dibelakangmu?"
Hinata menoleh, seketika itu juga wajahnya bersemu merah bercampur kaget.
"Ngapain kamu?"
"Mengikutimu. Sampai kamu ingat aku."
Hinata kembali menatap teman-temannya. "Ia Sasuke. Tadi aku bertemu dengannya dikoridor. Sasuke... itu Sakura, juga Ino."
Sakura menganggukan kepalanya. "Coba lihat nanti tanggapan Neji saat melihatmu. Kau tampan juga, Sasu."
Ino segera menepuk punggung Sakura keras, sambil mengisyaratkan dengan matanya. Tak sopan!
"Neji. Aku mengenalnya."
Ucapan itu membuat Hinata mendongak, kembali menatap Sasuke. "Ia saudara sepupumu, Hinata. Begitu, kan?"
"Si...apa kau sebenarnya?" tanya Hinata lirih. Sejurus kemudian ia segera berlari keluar dari pantry, dengan tatapan bingung Sasuke.
Sakura dan Ino menghelakan napasnya bersamaan.
"Apa kau kenal Hinata sebelum dia kelas satu SMA?" tanya Sakura.
Sasuke mengangguk, membuat Ino menghelakan napasnya lagi.
"Dia tak bermaksud melupakanmu, tapi kurasa dia memang lupa. Dia amnesia, Sasuke?" ujar Ino.
Amnesia? Lupa ingatan seperti yang ada di film-film itu?
"Kecelakaan yang dialaminya dua tahun yang lalu membuatnya demikian. Jelasnya seperti apa, aku tak tahu. Sejak pertama mengenalnya, Hinata sudah seperti itu." sambung Sakura.
Tanpa banyak bertanya kembali, Sasuke segera berbalik dan mencari Hinata.
Hinata berlari menuju kelasnya yang telah sepi. Sasuke... Sasuke... ah, wajah itu... nama itu... mengingatnya membuatnya sakit kepala. Begitulah yang terjadi jika Hinata mencoba untuk mengingat sesuatu.
Matanya terpejam erat, kesal akan dirinya sendiri. Mengapa ia bisa lupa? Mengapa ia juga merasa Sasuke pernah begitu dekat dengan hatinya?
"Hinata..."
Hinata yang sedang memandang keluar jendela, menoleh kearah suara itu, memandangnya lama.
"Maaf. Aku tak tahu kalau kamu..."
"Sudahlah." kilah Hinata. "Ini salahku juga yang terlalu sensitif. Aku tak pernah terbiasa akan hal seperti ini."
Hening.
"Sasuke... apa dulu kita pernah dekat?"
Sasuke mengangguk. Dia melangkah lebih dekat.
"Sedekat apa?" tanya Hinata, mata lavendernya tampak menerawang.
Sasuke melangkah lagi, kali ini lebih dekat lagi. Berjarak beberapa langkah dengan Hinata.
"Sangat dekat, Hinata."
Tiba-tiba Hinata merasa jantungnya berdegup cepat.
"Aku bisa membantumu mengingatnya." ujar Sasuke sambil tersenyum.
"Tapi kepalaku terasa sakit jika aku berusaha mengingat" ujar Hinata lirih.
"Kubantu pelan-pelan. Aku yakin kamu bisa mengingatnya." karena kamu gadis kecilku, lanjut Sasuke dalam hati.
"Ya... terserah padamu. Sudah dua tahun belakangan ini hidupku seakan tanpa memori. Aku akan sangat berterima kasih kepadamu kalau memang ingatanku akan pulih." kata Hinata.
"Tentu!"
Dan matahari sore kala itulah yang menjadi saksi perjanjian tersebut.
Well, well, well... aku sendiri juga nggak nyangka ceritanya akan begini, loh! *terharu sendiri*menangis didepan laptop*kidding* Seperti yang udah dibilang dichapter sebelumnya, kalau aku mau masukin sesuatu disini, tak lain adalah 'amnesia' yang diderita Hinata. Karena bagiku, cerita yang ngejlimet dan nguras otak sendiri*wah, kacau nih* adalah cerita yang menarik dan bikin penasaran*duh, geer amat yak?*
Tetapi itukan cuma pendapat diri sendiri yang mungkin sebenarnya kelihatan sombong padahal gak bermaksud kayak gitu *loh?* jadi, dimohon sarannya ya... bahkan masukkan ide untuk chapter berikutnya.
Silahkan review, atau hubungi lewat akun-akunku yang lain, yang dapat dibaca di profil! Terima kasih! :D
