Tampak Lenka sedang sibuk menulis sesuatu di lembar folio. Ring yang duduk di sebelah kanan Lenka juga berusaha menyibukkan diri dengan membaca buku yang dipinjam Lenka di perpustakaan tempo hari. Rinto yang duduk di sebelah kiri Lenka juga kelihatan sibuk dengan laptopnya. Di sebelah kirinya, Nero tampak asyik memainkan ponselnya. Sedangkan Mikuo yang duduk di antara Ring dan Nero hanya bisa pasrah berada di tengah-tengah mereka. Pasalnya sedari tadi dari pihak Nero maupun Ring tidak ada yang mau berbicara. Paling ketika ditanya mereka akan menjawab iya dan tidak. Kentara sekali kalau mereka sedang badmood. Dan Mikuo yang berada di antara mereka benar-benar merasa tidak nyaman dengan aura tidak mengenakkan dari mereka berdua.

"Hei, apa ada yang punya usul tempat bagus yang banyak macam-macam serangganya?" tanya Mikuo berusaha mencairkan suasana.

"Mungkin taman kota," usul Lenka asal tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas di hadapannya. "Atau bukit di belakang sekolah kita. Menurutmu bagaimana, Rinto-kun?"

Rinto menoleh menatap Lenka, "Aku lebih prefer ke bukit saja. Disana serangganya lebih beranekaragam daripada di taman kota."

Lenka mengangguk setuju lalu menoleh ke yang lain. "Bagaimana?"

Tampak Nero dan Ring hanya mengangguk mengiyakan tanpa mau susah payah mengeluarkan suara. Lenka dan Rinto kelihatannya tidak ambil pusing soal itu. Lalu suasana menjadi hening kembali, Mikuo hanya bisa menghela napas. Kalau begini terus, mereka tidak akan bisa membuat Ring dan Nero berbaikan. Ditambah Lenka dan Rinto tidak membantu sama sekali padahal mereka sudah sepakat kan akan membantu Kaiko kemarin. Tiba-tiba saja Mikuo mendapatkan sebuah ide.

Mikuo pun langsung beranjak dan menghampiri tempat duduk Rinto. "Aku lapar, kita beli makan yuk!" ajak Mikuo dengan senyuman.

"Beli sendiri sana," sahut Rinto singkat.

Mikuo tidak menyerah. "Ayolaaahh~"

Rinto menatap kesal ke arah Mikuo hingga tiba-tiba dia mengerti apa yang sedang direncanakan oleh Mikuo.

"Ba-baiklah, aku ikut. Lenka kau mau ikut juga," ajak Rinto pada kekasihnya itu.

Sebagai jawaban Lenka hanya menggeleng pelan sambil matanya tetap fokus pada tulisan yang ia tulis. Mikuo baru ingat kalau Lenka termasuk tipe orang yang tidak akan beranjak sebelum pekerjaannya selesai meskipun ada bom meledak di dekatnya(?). Rinto yang sepertinya sudah mulai paham dengan kebiasaan Lenka itu pun langsung menarik lengan Lenka.

Lenka yang pekerjaannya diganggu langsung memasang wajah garang. Tapi begitu melihat senyuman Rinto, Lenka langsung speechless. Dan membiarkan kekasihnya itu menuntunnya keluar kelas. Mikuo yang melihatnya hanya bisa cengo, sepertinya hanya Rinto yang bisa membuat Lenka tidak berkutik.

'Nero, Suzune-san. Kami pergi sebentar. Tolong urus sisanya," ucap Mikuo sambil menyusul Rinto dan Lenka yang sudah pergi duluan.

"Mikuo, tung-" Protesan Nero tidak akan didengarkan karena Mikuo sudah menghilang di balik pintu kelas. Nero yang melihat temannya sudah pergi itu hanya bisa menghela napas panjang.

Tiba-tiba Ring berdiri dari kursinya. Nero yang melihatnya memasang wajah bingung, "Kau mau kemana?"

Ring terlihat gusar mendengar pertanyaan Nero. "A-aku ingin ke toilet," jawabnya lirih. Itu bohong, sebenarnya Ring tidak ingin ke toilet. Ia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari Nero.

Kentara sekali kalau Ring sedang berbohong dan Nero tahu itu. Ia juga tahu alasan kenapa Ring sampai berbohong seperti itu. Tapi Nero memilih untuk diam dan akhirnya membiarkan Ring keluar kelas begitu saja meninggalkan dirinya. Nero kembali menatap layar ponselnya, disana terpampang foto mereka bertiga (Nero, Ring, dan Teto) saat mereka masih kecil. "Teto, andai saja kau masih disini," gumamnya lirih.

.

.

Lovers 2 : Cupid

.

.

Chapter 1

Disclaimer: Vocaloid © Crypton Future Media

~Lovers 2 : Cupid ~ © Crayon Melody

Rated: T

Warning: Typo, abal, gaje, alur kencang, nggak nyambung, dll

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

Flashback

Di suatu hari di musim panas. Nero, Ring, dan Teto yg masih berumur 7 tahun pergi ke ladang bunga matahari bersama. Tapi karena terlalu asyik bermain kejar-kejaran membuat Nero dan Teto terpisah dari Ring. Waktu itu langit sudah senja menandakan matahari akan segera terbenam. Nero dan Teto berusaha mencari jalan keluar dari ladang sambil memanggil-manggil nama Ring. Tapi nihil, karena tubuh mereka terlalu pendek daripada bunga matahari sendiri membuat mereka tidak dapat melihat jalan keluarnya.

"Nero-kun, bagaimana kalau kita tidak bisa keluar?" tanya Teto cemas.

"Tenang saja, kita pasti akan menemukan jalan keluar," jawab Nero berusaha menenangkan Teto. Padahal dia sendiri pun tidak yakin bisa menemukan jalan keluarnya. Terlebih lagi Nero tidak tahu dimana keberadaan Ring. Pasalnya mungkin saja gadis itu tersesat dan menangis sendirian sekarang ini.

"Aku khawatir dengan Ring-chan," ujar Teto.

Nero mengepalkan tangannya. Dirinya merasa bersalah, padahal dia cowok satu-satunya disini tapi dia tidak bisa melindungi Teto maupun Ring. Rasanya dia ingin menangis, tapi dia tidak boleh menangis. Tidak di hadapan Teto sekarang. Gadis itu pasti akan tambah khawatir jika melihatnya menangis.

Krasak krasak

Tiba-tiba terdengar suara dan dari batang-batang bunga matahari yang menjulang tinggi, berlarilah sesosok gadis kecil ke arah mereka.

"Nero... Teto... akhirnya aku menemukan kalian!" seru Ring.

"Ring, kau tidak apa-apa?" tanya Nero khawatir.

Ring menggeleng kecil lalu tiba-tiba langsung menghambur memeluk Nero yang ada di depannya. "Tenang saja, jangan menangis. Sekarang aku sudah disini, semua akan baik-baik saja," ujarnya sambil mengusap-usap kepala Nero dengan lembut.

Nero membeku. Apa tadi Ring melihat wajahnya tadi. Kalau iya, pasti wajahnya tadi sangat memalukan sekali.

"Kau mengatakan itu, tapi-" Nero melepaskan diri dari pelukan Ring. "Kenapa malah kau yang menangis."

Sekarang gantian Nero yang mengusap-usap kepala Ring berusaha menenangkannya. Melihat wajah Ring yang menangis. Seolah menggantikannya, membuat Nero tidak jadi ingin menangis. Dan Nero saat itu benar-benar merasa berterima kasih tapi dia tidak akan mengatakannya pada Ring. Tidak untuk sekarang ini.

"Baiklah, ayo kita cari jalan keluar bersama-sama!" seru Nero sambil menggegam tangan Ring. "Teto?" ucapnya sambil menoleh ke arah Teto yang sedari tadi diam di belakangnya seraya menawarkan tangan kirinya yang kosong.

Teto segera menyambut uluran tangan Nero sambil tersenyum dan bersama-sama mereka bertiga berjalan mencari jalan keluar dari ladang bunga matahari.

~Lovers~

Ring berjalan dengan lunglai di sepanjang koridor sekolah. Dia sudah berhasil menghindar dari Nero. Lagi. Tangannya menempel ke tembok, berharap dapat menompang tubuhnya yang entah kenapa sejak tadi pagi terasa lemas. Kepalanya juga pusing dan tiba-tiba saja kesadarannya berangsur-angsur mulai menipis hingga akhirnya tubuhnya jatuh ke depan sebelum akhirnya ditangkap oleh sepasang tangan seseorang.

"Huft lagi-lagi dia ceroboh seperti ini. Dasar," ucap seseorang itu sambil menghela napas panjang.

Ring yang samar-samar mendengar suara yang dikenalnya berusaha untuk membuka matanya. Dan betapa kagetnya Ring begitu mengetahui sosok pemilik suara tersebut.

"Hei, kau masih kuat berjalan kan?"

~Lovers~

Beberapa saat kemudian. Mikuo, Lenka, dan Rinto kembali ke kelas mereka sambil membawa banyak makanan ringan dan minuman soda. Dan betapa kagetnya mereka, begitu mengetahui kalau kursi Ring dan Nero sudah kosong begitupun dengan barang-barang mereka.

"Hah, dua tuyul itu pada kemana?" tanya Mikuo kaget.

Lenka yang mendengarnya langsung menginjak kaki Mikuo. "Siapa tuyul yang kamu maksud?!"

Rinto yang sudah berjalan terlebih dahulu ke tempat duduk mereka langsung menyadari secarik kertas yang tergeletak di atas meja.

"Hhmm sepertinya Ring tidak enak badan dan Nero sedang mengantarnya pulang sekarang," jelas Rinto begitu selesai membaca tulisan di kertas tersebut.

"Hah seriusan? Bagus dong!" seru Mikuo senang.

Lagi-lagi Lenka menginjak kaki Mikuo sambil berkata, "Orang sakit kok dibilang bagus sih."

Mikuo meringis kesakitan. "Maksudku kan yg bagus itu akhirnya hubungan Nero dan Ring mulai membaik begitu," terangnya.

Rinto menghela napas panjang. "Yah semoga saja. Demi kekompakan kelompok kita juga," ujarnya.

"Jadi tinggal kita bertiga nih yang melanjutkan diskusi kelompok kita," ucap Lenka.

"Apa?! Masih mau dilanjut? Tidak. Aku tidak mau jadi obat nyamuk sendirian," sewot Mikuo.

Dan langsung saja Mikuo dihadiahi death glare dari Lenka dan Rinto. Mikuo langsung speechless di tempat. "Baiklah, tapi sebentar ya aku mau menelepon Kaiko dulu," ujar Mikuo pasrah sebelum akhirnya ngibrit keluar kelas.

~Lovers~

Ring membuka matanya. Masih dengan keadaan setengah sadar. Dirinya sudah terbaring di tempat tidur di kamarnya. Barusan bukan mimpi kan? Apa mungkin karena dia sakit dia jadi berhalusinasi tadi.

Krieett

Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah wanita separuh baya sambil membawa nampan masuk ke kamar Ring.

"Okaa-san," panggil Ring pelan sambil berusaha untuk bangun.

Wanita yang dipanggil okaa-san itu segera menaruh nampan di meja sisi ranjang Ring. "Sayang, jangan memaksakan diri," ucapnya khawatir.

Akhirnya dengan bantuan ibunya, Ring berhasil bangun dan duduk di ranjang tempat tidurnya.

"Ini, ibu sudah memasakkan bubur untukmu. Setelah makan jangan lupa minum obat ya sayang," ujar Ibu Ring lembut.

Ring mengangguk kecil sambil menatap semangkok bubur yang sudah ada di hadapannya. Tampak uap panas masih mengembul dari bubur itu.

"Oh ya sayang, tadi Ibu benar-benar kaget lho melihatmu yang seperti mau pingsan tadi. Untung saja ada Nero yang berbaik hati mengantarmu pulang. Kenapa kau tidak cerita kalau kau satu sekolah dengan Nero," ujar Ibunya panjang lebar.

"Heeee!" jerit Ring tiba-tiba. Karena kaget, tanpa sadar Ring menjatuhkan sendoknya membuat bubur yang ada di sendok tersebut tumpah.

"Aduh sayang, hati-hati dong makannya," ucap ibunya sambil membersihkan tumpahan bubur yang disebabkan oleh Ring barusan.

Sedangkan Ring masih membeku. Jadi tadi dia tidak berhalusinasi. Jadi tadi Nero benar-benar mengantarnya pulang. Tapi tunggu dulu... darimana Nero tahu alamat rumahnya di Tokyo.

"Tadi Nero memasang wajah seperti apa waktu mengantarku pulang?" tanya Ring tak sabar kepada ibunya.

Ibu Ring tentu saja kaget melihat sikap putrinya ini. "Hhmm dia memasang wajah khawatir. Sepertinya Nero benar-benar peduli padamu ya, sayang," ucapnya sambil tersenyum.

Bohong. Itu bohong. Tidak mungkin Nero peduli padanya. Nero kan benci padanya. Tapi jika iya, kenapa Nero memasang ekspresi khawatir dan kenapa dia sampai repot-repot mengantarnya pulang segala. Nero. Kenapa kau makin membuat hidup Ring semakin sulit saja. Sekarang Ring jadi tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana di hadapan Nero.

~Lovers~

Nero sudah tiba di rumahnya setelah mengantarkan Ring pulang tadi. Dirinya segera menaruh sepatunya di rak lalu menggantinya dengan sandal rumah. Di lihat dari jumlah sepatu di depan, tampaknya adiknya mengundang temannya main ke rumah mereka lagi. Nero memutuskan tidak ambil pusing, lagipula dirinya tidak punya hak di rumah ini. Yah, disini dia cuma anak angkat dari teman orang tuanya dulu. Setelah kematian Teto dulu dan kepindahan keluarga Ring. Hidup Nero semakin hancur. Neneknya sakit parah hingga beberapa tahun berjuang melawan penyakitnya, akhirnya satu tahun yang lalu beliau meninggal dunia. Meninggalkan Nero sebatang kara di dunia ini. Di saat pemakaman neneknya datanglah orang tua yang mengaku sahabat baik dari almarhum orang tua Nero sambil mengatakan pada Nero untuk menjadi anak angkat mereka dan mengatakan bahwa neneknya sudah menitipkan Nero pada mereka. Tentu saja Nero tidak langsung menerimanya begitu saja. Tapi setelah dibujuk, akhirnya Nero mau mengalah dan ikut pindah ke rumah keluarga tersebut di Tokyo. Jadi inilah keluarga barunya sejak satu tahun yang lalu.

"Ah, Onii-chan sudah pulang. Okaeri!" seru gadis bersurai ungu pendek.

"Tadaima," sahut Nero pelan. Benar dugaannya, teman-teman adiknya ada disini.

"Nero-senpai, maaf kami mengganggu lagi," ucap gadis berambut kuning keemasan yang diikat satu kesamping.

"Tidak apa-apa. Anggap saja rumah sendiri," ucap Nero sambil tersenyum tipis. Hmm kalau tidak salah namanya Neru kan. Yah, dia sudah sering melihat gadis ini menonton pertandingan basket timnya. Dan seingat Nero, bukannya gadis ini fans-nya Rinto ya. Ngomong-ngomong soal Rinto, Nero tidak akan melupakan wajah gadis yang sekarang sedang duduk manis di samping adiknya itu sambil memainkan PSP-nya bahkan dia tidak mau repot-repot menyapanya. Benar kata Rinto, gadis ini tidak punya sopan santun terhadap kakak kelasnya.

Gakuko yang merasa diperhatikan, langsung mendongakkan kepalanya dan matanya bertemu dengan Nero. "Ah, Nero-senpai. Kebetulan sekali, aku haus bisa bikinin minuman nggak?" ucap Gakuko dengan wajah tanpa dosa.

Nero hanya bisa menggeram kesal. Untung saja Rinto tidak jadi dengan ojou-sama ini. Kalau tidak, Nero benar-benar akan bersimpati sekali.

Defoko yang melihatnya langsung beranjak dari tempat duduknya. "Maaf ya aku lupa membuatkan minuman untuk kalian. Kalau begitu aku ke dapur dulu untuk mengambilnya." Setelah mengatakan itu, Defoko langsung pergi menuju dapur.

Nero menghela napas lalu ditatapnya Gakuko sekali lagi. "Hei, aku kan bilang anggap saja ini rumahmu sendiri. Bukan berarti menganggapku pembantu juga, Nona besar," sewotnya kesal setelah itu Nero langsung menuju ke kamarnya di lantai dua.

Gakuko yang mendengarnya langsung mendengus sambil berkata, "Yee padahal aku cuma bercanda. Dasar sensian," omelnya. Tapi sayang Nero sudah terlanjur naik ke lantai dua.

"Lho Nero-nii kemana?" tanya Defoko begitu sudah kembali ke ruang tengah sambil membawa nampan yang di atasnya tersaji minuman dingin dan biskuit.

"Tau tuh, ke laut kali," jawab Gakuko singkat yang setelah itu langsung meneguk habis minumannya.

Defoko dan Neru hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Gakuko.

~Lovers~

Beberapa hari kemudian. Kondisi Ring sudah pulih dan setelah beberapa hari absen dari sekolah. Ring memutuskan untuk kembali ke sekolah. Walau sebenarnya dia masih takut jika bertemu Nero nantinya. Tapi Ring tahu, dia tidak bisa selamanya melarikan diri. Cepat atau lambat dirinya harus menghadapi Nero. Karena itu sekarang di tasnya terdapat bingkisan cupcake yang rencananya akan Ring berikan pada Nero sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantarnya pulang kemarin. Walau jujur saja, sebenarnya ibunya lah yang menyuruhnya untuk melakukannya. Katanya Nero sudah susah payah mengantarnya pulang, jadi semestinya Ring harus berterima kasih padanya. Begitu pikir ibunya.

Dengan hati berdebar-debar, Ring melangkahkan kakinya menuju ke kelasnya. Digesernya pintu kelasnya dengan perlahan.

"Ah Ring-chan, kau sudah sembuh?" tanya Lenka yang kebetulan sedang menghapus papan tulis di depan. Sepertinya gadis itu sedang piket kelas.

Ring hanya mengangguk mengiyakan lalu pandangannya segera mencari sosok yang dicarinya.

"Kalau kau mencari Nero, dia tadi sedang dipanggil sensei ke ruang guru," ucap Rinto tiba-tiba.

"Souka, eh a-aku tidak mencarinya," ucap Ring kaget. Bagaimana Rinto bisa tahu kalau dirinya sedang mencari Nero.

"Hmm begitu ya, tapi tatapanmu terus tertuju ke bangku Nero. Sepertinya aku salah duga, ya sudahlah," ucap Rinto pada akhirnya. Lalu berjalan menghampiri Lenka yang sekarang sedang mengganti air di vas bunga.

Ring menghela napas panjang. Sepertinya dia harus menunggu istirahat nanti. Ring pun segera menuju ke bangkunya dan tak lama kemudian bel masuk berbunyi bertepatan dengan Nero yang masuk ke kelas.

Sepanjang pelajaran Ring tidak bisa fokus, matanya selalu melirik ke arah Nero. Tapi tak lama kemudian, Ring langsung membuang muka sambil menghela napas.

Tuk tuk

Tiba-tiba ada yang mengetuk pelan mejanya diikuti dengan secarik kertas yang disodorkan padanya. Ring pun langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Ring-chan, kemarin waktu kerja kelompok. Apa yang terjadi padamu dan Akita-san?

-Lenka

Ring langsung melirik ke sampingnya dan mendapati wajah Lenka yang menatapnya khawatir.

Tidak terjadi apa-apa. Aku sedang tidak enak badan wkt itu dan Nero hanya mengantarku pulang. Itu saja. Maaf ya kami pergi duluan.

-Ring

Ketika tangannya akan menyodorkan kertas itu kembali ke Lenka. Tangannya terhenti, buru-buru Ring menghapus nama Nero dan menggantinya dengan marga Nero, Akita sebelum akhirnya menyodorkan kertas itu ke Lenka.

Tampak Lenka menerimanya dan langsung membacanya. Terlihat ada raut ketidakyakinan pada wajah gadis itu. Tapi Lenka memilih untuk diam dan kembali fokus ke materi yang diajarkan oleh sensei di depan. Mau tak mau Ring menghela napas lega. Dia tidak perlu bingung menjawab pertanyaan Lenka jika gadis itu terus bertanya padanya. Dia sendiri pun masih tidak mengerti dengan kejadian kemarin juga. Kenapa Nero bersikap seolah peduli dengannya?

Ring kembali menatap punggung pemuda itu. Nero sebenarnya apa maksudmu bersikap seperti itu padaku, pikir Ring bingung.

~Lovers~

Ring sekarang berada di lapangan basket indoor. Dirinya masih bingung kenapa ia memutuskan untuk duduk di bangku penonton seperti sekarang ini. Yang dia tahu sejak tadi dia terus mengikuti Nero, tentu saja dengan diam-diam. Tapi dari istirahat pertama, istirahat makan siang, bahkan sampai pulang sekolah. Nero selalu bersama dengan Rinto dan Mikuo. Padahal dia hanya ingin memberikan bingkisan cupcake-nya dan ucapan terima kasih. Tapi dia tidak ingin memberikannya di hadapan orang lain terutama Rinto dan Mikuo.

"Ring-chan, kau ada perlu ya dengan Akita-san?" tanya Lenka tiba-tiba.

Ring langsung terlonjak kaget. Tiba-tiba saja Lenka sudah duduk manis di sampingnya.

"Lenka-chan sedang apa disini?" tanya Ring.

"Tentu saja menunggu Rinto-kun," jawab Lenka polos.

Ah tentu saja dia menunggu Rinto. Dia kan pacarnya. Pertanyaan yang bodoh, Ring.

"Jadi, kau beneran ada perlu dengan Akita-san?" tanya Lenka lagi.

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Ring mencoba mengelak.

"Yah, habisnya dari pagi tadi. Kau selalu melihat ke arah Akita-san terus jadi aku pikir ada yang ingin kau bicarakan dengan Akita-san," terang Lenka.

Sial. Ternyata Lenka sama tajamnya dengan Rinto. Tadi pagi juga Rinto berhasil menebaknya.

"Tidak juga. Aku hanya ingin melihat basket saja," ucap Ring seraya tersenyum tipis.

"Oohh Ring-chan suka basket ya," ucap Lenka mangut-mangut. Dan sepertinya Ring berhasil mengelabui Lenka karena perhatian Lenka kembali tertuju pada lapangan basket.

Akhirnya latihan basket berakhir. Tampak anak-anak basket termasuk Rinto, Mikuo, dan Nero berjalan ke pinggir lapangan. Terdengar seruan dari anak-anak cewek yang menonton mereka.

"Lenka-chan tidak menghampiri Kagamine-san?" tanya Ring. Dilihatnya Kaiko segera menghampiri Mikuo di pinggir lapangan.

"Apa? Tidak. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian," ucap Lenka pelan sambil menundukkan kepalanya.

Ring memiringkan kepalanya tidak mengerti. Di saat dia akan bertanya. Tiba-tiba terdengar suara.

"LENKA!"

Ring menoleh dan mendapati sang kapten tim, Kagamine Rinto sedang melambai ke arahnya tepatnya ke arah gadis yang duduk di sampingnya ini. Sontak saja hal itu mengundang perhatian semua orang ke arah mereka termasuk Nero.

Tiba-tiba tangan Ring dipegang erat oleh Lenka. Dilihatnya wajah gadis itu sudah semerah tomat. "Ring-chan, ayo pergi dari sini."

Karena tidak suka menjadi pusat perhatian juga. Akhirnya Ring mengiyakan dan bersama dengan Lenka, mereka segera kabur dari sana. Meninggalkan Rinto yang hanya bisa kebingungan di tempat.

Pelajaran berharga untukmu Kagamine Rinto. Jangan pernah memanggil nama Lenka ketika ada fansmu. Karena meski tatapan itu tidak ditujukan padanya. Tapi Ring tahu tatapan itu adalah tatapan cemburu dan Ring tahu betapa tidak menyenangkannya dihujani tatapan seperti itu.

Sementara itu. Rinto hanya bisa kebingungan melihat Lenka yang pergi begitu saja. Memangnya dia salah apa? Nero yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala sedangkan Mikuo dengan menyebalkannya tertawa nista.

"Rinto, kau itu selalu peka dengan sekeliling tapi jujur saja kau itu kurang peka dengan pacarmu sendiri," ucap Nero kalem.

"Hahahaha aku kan sudah pernah bilang, Lenka itu nggak suka jadi pusat perhatian apalagi jadi pusat perhatian fansmu," tambah Mikuo. Dan entah kenapa Kaiko yang berada disamping Mikuo ikut menertawakan nasib Rinto.

"Lalu aku harus apa heh?" dengus Rinto kesal.

"Mau aku kasih saran?" tawar Mikuo.

"Apa?" tanya Rinto penasaran.

Tampak Mikuo membisikkan sesuatu di telinga Rinto. Nero yang melihatnya hanya bisa menghela napas panjang. Mau tidak mau dia mencium gelagat aneh dari Mikuo. Pasti Mikuo sedang merencanakan sesuatu lagi. Dan apapun itu, Nero tidak mau ikut campur. Jadi akhirnya Nero memutuskan pergi meninggalkan mereka berdua ke ruang ganti terlebih dahulu.

Begitu sudah selesai ganti pakaian, Nero segera keluar dari gedung olahraga. Dilihatnya di depan samping gedung, ada Lenka dan Ring yang sedang duduk manis di bangku. Nero berusaha untuk tidak terlihat oleh mereka, tapi terlambat karena Lenka terlihat berlari sambil menarik tangan Ring ke arahnya.

"Akita-san, maaf menganggu. Etto apa Rinto masih di dalam?" tanya Lenka cemas.

Aha. Sepertinya gadis ini merasa bersalah pada Rinto karena tadi sudah pergi begitu saja. Sepertinya kali ini, Nero akan mencoba membantu sahabatnya itu sebelum rencana jahil Mikuo itu berhasil.

"Oh Rinto, iya dia masih di dalam. Tadi kakinya sedikit terkilir waktu bermain dan sepertinya sakitnya baru terasa sekarang," bohong Nero dengan lancarnya.

Sontak saja wajah Lenka semakin khawatir. "Ka-kalau begitu aku akan segera melihat keadaan Rinto. Terima kasih Akita-san sudah memberitahuku," ujar Lenka sambil membungkukkan badan sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam gedung olahraga lagi.

Di saat Nero ingin pergi dari tempat itu. Sebuah suara menghentikannya.

"Apa kau akan mengabaikanku lagi?" tanya Ring pelan tapi cukup dapat didengar oleh Nero.

Nero menghentikan langkahnya tapi ia tidak berbalik. Berkata pun tidak. Karena kesal, akhirnya Ring yang berjalan ke hadapan Nero. Dan tanpa basa-basi Ring langsung mengeluarkan bingkisannya dan menaruhnya paksa di tangan Nero.

"Terima kasih untuk yang kemarin," ucap Ring cepat sebelum akhirnya berlari meninggalkan Nero.

"Cupcake," gumam Nero pelan sambil menatap bingkisan cantik di tangannya. Entah kenapa perasaannya menjadi sesak. Dia ingat kalau dulu Ring, Teto, dan dirinya suka memakan ini setiap pulang sekolah.

"Hei Nero, kenapa melamun di tengah jalan!" seru seseorang tiba-tiba sambil menepuk sebelah pundaknya.

Nero terkejut lalu menoleh dan mendapati teman setimnya, Gumiya sudah berdiri di sampingnya.

"Wah, itu apa? Cupcake ya. Sepertinya enak," ucap Gumiya begitu menyadari bingkisan di tangan Nero.

"Ini untukmu saja!" seru Nero sambil memberikan bingkisan tersebut.

"Hah seriusan? Memangnya kenapa kau tidak mau?" tanya Gumiya heran tapi dia tetap menerima bingkisan itu juga. Rejeki mah jangan ditolak.

"Aku tidak suka makanan manis," ucap Nero enteng. Setelah itu ia langsung beranjak menuju ke parkiran.

"Eh tunggu aku!" seru Gumiya sambil mengejar Nero yang sudah di depan.

Tanpa disadari oleh kedua pemuda itu. Terdapat gadis yang sudah mengawasi mereka dari balik pohon sejak tadi.

"Nero, ternyata kau memang masih membenciku," ucap gadis itu sebelum akhirnya berbalik untuk pulang.

~Lovers~

Sayu sedang berdiri di depan pagar sekolah. Dirinya sedang menunggu seseorang. Bukan Kaiko, karena dia tahu kalau gadis itu sedang bersama dengan pacarnya. Beberapa kali Sayu mengecek ponselnya. Tapi tak ada pesan yang masuk. Lagi-lagi dia tidak membalas pesannya. Sayu menggeleng keras. Tidak. Mungkin saja dia sedang sibuk dan tidak memegang ponselnya. Lagipula dia juga sudah mengatakan padanya untuk menunggunya di sini. Tapi ini sudah lewat dua jam Sayu menunggu. Tapi orang itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

"Sebenarnya kau sedang dimana, IO?" tanya Sayu entah pada siapa. Yang pasti sekolah sudah sepi. Hanya dirinyalah yang masih berdiri disini seperti orang bodoh. Jika Sayu tahu akan jadi seperti ini, lebih baik tadi dia menemani Kaiko melihat latihan tim basket. Tapi dia sudah janji dan Sayu bukan tipe orang yang suka melanggar janji.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari cepat melintasi Sayu. Meski hanya sebentar, tapi dia mengenal orang itu.

"Ring-nee!" panggil Sayu.

Tapi sepertinya gadis itu tidak mendengar karena gadis itu masih berlari menjauh.

'Kenapa Ring-nee menangis?' batin Sayu cemas. Di saat Sayu ingin mengejar Ring. Tiba-tiba saja sebuah suara menghentikannya.

"Ah kau masih disini rupanya!"

Sayu langsung berbalik dan mendapati IO yang berjalan mendekat arahnya.

"Jangan bilang kau dari tadi menungguku disini. Seharusnya kau pulang saja," ujar IO.

"Aku tadi mengirimu pesan," ucap Sayu pelan.

"Benarkah? Maaf baterai ponselku habis. Jadi aku tidak tau hehehe," terang IO sambil cengengesan.

Sayu menundukkan kepalanya. Padahal IO bisa saja meminjam ponsel milik temannya atau tidak menemuinya langsung untuk memberitahunya. Bukannya dia sudah janji akan pergi kencan dengannya sepulang sekolah hari ini. Tapi sepertinya hanya Sayu saja yang sangat menantikan hal ini, nyatanya IO sampai melupakan hal ini. Akhirnya Sayu mengangkat wajahnya dan dengan senyuman palsunya, ia berkata, "Tidak apa-apa. Ya sudah kita pulang yuk!"

IO mengangguk kecil lalu bersama dengan Sayu, mereka segera berjalan menuju stasiun untuk pulang bersama. Sayu yang masih menunduk hanya bisa tersenyum kecil. Setidaknya mereka masih bisa pulang bersama. Meski tidak bisa dipungkiri kalau hatinya sedikit kecewa.

~Lovers~

"Jadi kenapa kalian mengikuti kami?" tanya Rinto kesal pada dua sosok yang mengekor di belakangnya.

"Hah kami tidak mengikuti kalian. Dasar geer," balas Mikuo.

"Tapi dari tadi kalian berjalan di belakang kami," ujar Lenka ikutan kesal.

"Yee memangnya ini jalanan punya kalian. Suka-suka kamilah. Memangnya kalian berdua saja yang bisa nge-date disini gitu," sewot Mikuo tak mau kalah.

"Gomen, sebenarnya Mikuo cuma ingin double date bersama kalian," jelas Kaiko menenangkan suasana sebelum terjadi insiden perang dunia(?).

"Eh enggak?! Kaiko-chan kenapa bilang gitu ke mereka?" protes Mikuo pada kekasihnya itu.

"Lho memangnya aku salah ya?" ucap Kaiko pura-pura sedih

Mikuo langsung panik begitu melihat wajah sedih Kaiko. "Enggak kok. Kaiko-chan benar, aku yang salah. Maaf. Jangan sedih lagi ya," hiburnya.

Lenka hanya bisa sweatdrop melihat teman masa kecilnya itu berhasil diperdaya(?) oleh Kaiko. Sedangkan Rinto yang malas melihat adegan ini langsung menarik tangan Lenka, menjauh dari sepasang sejoli itu.

"Eh Rinto, tidak apa-apa meninggalkan mereka begitu saja?" tanya Lenka yang tangannya masih ditarik oleh Rinto.

"Biarkan saja mereka. Lagipula saat ini aku ingin berdua bersamamu," ucap Rinto cepat.

Sontak saja muncul semburat merah di kedua pipi Lenka. Untung saja pandangan Rinto masih terfokus di jalanan di depan. Sehingga dia tidak melihat wajah Lenka yang memerah. Yap, kali ini mereka sedang kencan. Kejadiannya begitu cepat. Intinya, tadi setelah menemui Rinto kembali setelah insiden melarikan diri Lenka di lapangan basket. Rinto mengajak Lenka pergi kencan. Tentu saja Lenka menerima ajakan itu dengan senang hati. Tapi entah bagaimana ceritanya, Mikuo dan Kaiko ikutan pergi bersama mereka.

Tiba-tiba saja langkah Rinto berhenti yang otomatis membuat Lenka menghentikan langkah juga.

"Ada apa, Rinto?" tanya Lenka heran.

"Sebentar Lenka, aku ingin memastikan sesuatu," ucap Rinto sambil berjalan ke suatu tempat. Lebih tepatnya ke sosok dua orang yang berpakaian mencurigakan.

"Gakuko!" panggil Rinto begitu mereka sudah mendekati sosok itu.

Sontak saja gadis yang dipanggil Gakuko itu langsung kaget dan langsung menoleh ke arah Rinto dan Lenka yang menatapnya dengan tatapan curiga.

"Rinto-senpai, Lenka-senpai!" pekik Gakuko kaget mendapati mantan tunangannya dan pacar mantan tunangannya sudah berdiri di belakangnya.

"Apa-apaan dengan penampilanmu itu?" tanya Rinto sweatdrop. Dia tahu kalau pikiran Gakuko sedikit gila. Ingat tidak ketika Gakuko yang dengan nekatnya kabur dari rumah tanpa membawa apapun. Dan dengan naifnya juga masuk bahkan tinggal di apartemen cowok yang baru dikenalnya. Tapi Rinto tak pernah tahu kalau gadis itu benar-benar gila. Untuk apa sekarang gadis itu berpenampilan seperti buronan saja dengan wajahnya yang tertutupi kacamata dan masker. Belum lagi topi dan jaket tebal yang ia kenakan.

"Ah kau Megurine-san, kan?" tanya Lenka tiba-tiba.

Akhirnya pandangan Rinto berpaling ke cowok yang berada di samping Gakuko. Penampilannya juga tak jauh berbeda dari Gakuko. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan?!, batin Rinto.

"Halo, Kagami-senpai," sapa Luki seraya tersenyum kikuk.

"Lenka, kau kenal dengan pacarnya Gakuko?" tanya Rinto kaget.

"Bisa dibilang begitu, aku dan Megurine-san pernah ikut lomba yang sama," jelas Lenka.

Luki mengangguk mengiyakan.

"Heee aku pikir keahlianmu cuma mainin cewek sama bela diri, ternyata otakmu encer juga," ujar Gakuko sambil menatap tidak percaya ke arah pacarnya itu.

"Hei, sudah kubilang kan jangan remehkan aku," balas Luki sambil menyentil dahi Gakuko.

"Ittai!" keluh Gakuko kesakitan sambil memegangi dahinya yang disentil barusan.

"Jadi, kenapa kalian berpenampilan seperti itu?" tanya Rinto langsung.

Gakuko langsung menepuk jidatnya. "Bukan urusannya senpai!" serunya lalu segera berbalik membelakangi Rinto dan Lenka lagi.

Lenka dan Rinto yang penasaran langsung mencoba melihat apa yang sedang dilihat oleh Gakuko itu.

"Itu bukannya Oliver ya. Tunggu, dia sama adiknya Nero kan," ujar Rinto tidak percaya.

"Apa mereka pacaran?" tanya Lenka ikutan kepo. "Apa mungkin ini alasan Oliver-san menolak pernyataan cinta seorang gadis beberapa hari lalu," tambahnya begitu mengingat insiden pernyataan cinta di depan loker tempo hari yang lalu.

Sebagai jawaban, Gakuko menggeleng. Nyatanya Defoko mendekati Oliver hanya untuk membantu Neru. Tapi Gakuko tak pernah menyangka kalau rencana mereka akan berjalan semulus ini. Terlalu mulus malah sampai membuat Gakuko dan Luki tidak percaya.

"Tapi tetap saja ini kejadian langka, aku tidak percaya ketua OSIS kita itu bisa jalan sama cewek," ujar Rinto. "Tunggu dulu, jangan bilang kalian disini sedang menguntit mereka?"

Gakuko langsung berbalik sambil berkata, "Emang kenapa? Masalah buat senpai?"

Nih anak cari ribut, batin Lenka dan Rinto.

"Eh mereka pergi lagi tuh!" seru Luki tiba-tiba sambil memegang pundak Gakuko.

"Apa?! Kalau begitu ayo kita cepat ikuti mereka!" ajak Gakuko sambil menggegam tangan Luki. "Oh ya senpai, anggap saja kalian tidak pernah melihat kami ya. Dan selamat bersenang-senang dengan kencan kalian," tambahnya sebelum akhirnya ia berlari bersama Luki menyusul Oliver dan Defoko yang sudah pergi terlebih dahulu tadi.

"Dasar pasangan aneh," komentar Rinto.

Mau tak mau Lenka mengangguk menyetujui ucapan Rinto barusan.

~Lovers~

Rupanya Rinto membawa Lenka ke sebuah restoran Italia terkenal di kota ini. Tentu saja hal ini benar-benar tidak diduga oleh Lenka sama sekali.

"Rinto, tidak apa-apa kita makan disini?" tanya Lenka ragu. Lagipula tempat ini terlalu mewah baginya. Lenka merasa ini bukan tempat yang tepat untuknya.

"Bukannya tadi kau bilang ingin makan spaghetti," ujar Rinto bingung.

"Iya sih, tapi kau tak perlu membawaku kesini. Lagipula kita masih memakai seragam, Rinto!" jelas Lenka.

"Tenang saja, tidak ada yang akan berani mengusir kita. Lagipula keluargaku langganan tetap di restoran ini dan aku kenal dengan manajernya," ujar Rinto santai.

Dan benar saja, begitu mereka masuk ke dalam restoran. Mereka langsung disambut oleh pelayan di sana.

"Apa meja yang biasanya kosong?" tanya Rinto langsung.

"Iya Tuan, silahkan," ujar salah satu pelayan dengan senyuman ramah.

Dengan hati yang berat, Lenka akhirnya pasrah duduk di meja yang ditunjukkan oleh pelayan tadi.

Dasar orang kaya. Tahu begini tadi aku bilang ingin makan seblak(?) saja, batin Lenka speechless.

"Eh, Lenka kau baik-baik saja? Mukamu agak pucat," ujar Rinto khawatir.

Lenka mendesah pelan. Ya sudahlah, lagipula mereka sudah terlanjur datang kemari. Dan pemandangannya juga indah. Sebagai pembelajaran saja, berpikirlah dua kali sebelum meminta apapun dari Kagamine Rinto.

"Tidak apa-apa kok, Rinto. Terima kasih sudah mengajakku kemari," ucap Lenka sambil tersenyum manis.

Rinto balas tersenyum lalu berkata, "Iya, sama-sama. Lain kali aku ajak ke restoran lain yang makanannya tak kalah enak dari sini."

Lenka langsung menggeleng cepat. "Tidak perlu. Ah maksudku kita tidak perlu pergi ke restoran mewah. Asal bersama Rinto, makanan apapun jadi enak," ujar Lenka sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak percaya, dia benar-benar mengatakan itu. Aish pasti sekarang wajahnya sudah memerah.

Hening. Tidak ada tanggapan dari Rinto. Lenka yang heran langsung mengangkat kepalanya dan mendapati wajah Rinto yang blushing.

"Rinto, wajahmu..." Perkataan Lenka terpotong, karena makanan yang mereka pesan sudah datang.

Mereka berdua pun langsung melahap makanan mereka dengan wajah yang sama-sama masih memerah.

"Ah enak!" seru Lenka dengan mata berbinar-binar.

Rinto yang melihatnya pun langsung tersenyum senang. "Iya, benar kata Lenka. Ini spagheti paling enak yang pernah aku makan."

"Hm?"

"Mungkin karena sekarang aku bersama Lenka," lanjut Rinto seraya tersenyum manis.

"Be-begitu ya," kata Lenka pelan dengan rona merah yang kembali menghiasi pipi chubby-nya. Sial, sekarang jantungnya berdetak lebih cepat. Kalau seperti ini terus Lenka bisa terkena serangan jantung.

"Rinto, sepertinya tidak ada kemajuan dengan hubungan Ring-chan dan Akita-san," ujar Lenka mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Yah mau bagaimana lagi, kita tidak bisa seenaknya mencampuri urusan mereka," desah Rinto.

"Kau benar, tapi aku ingin mereka segera berbaikan dan berteman lagi," ucap Lenka. "Apalagi mereka teman masa kecil," tambahnya.

Teman masa kecil ya, batin Rinto.

"Lenka, seandainya suatu saat aku ceroboh dan hampir tertabrak tapi Mikuo menolongku sampai dia meninggal demi menyematkanku. Bagaimana perasaanmu?" tanya Rinto tiba-tiba.

"Rinto, kenapa bicara begitu?!" seru Lenka kesal.

"Gomen. Tapi aku hanya ingin mencoba mengerti perasaan Suzune dan Nero," jawab Rinto lugas. "Jadi, apa kau akan membenciku karena gara-gara aku Mikuo meninggal?"

Lenka terdiam. Benar juga. Jika begitu, apa yang dirasakannya. Apa yang dirasakan oleh Nero.

"Aku tidak bisa membenci Rinto, karena Rinto juga orang yang berharga bagiku," jawab Lenka pada akhirnya

Rinto mangut-mangut mengerti. "Tapi aku pasti akan merasa bersalah karena sudah menyebabkan temanku meninggal dan lebih buruknya lagi aku sudah membuat Lenka harus bersedih karena kehilangan Mikuo," ujar Rinto dengan ekpresi serius.

Ah, apa itu juga yang dirasakan oleh Ring, pikir Lenka. "Bukankah itu menyakitkan," ucap Lenka pelan.

"Maksudnya?"

"Menanggung rasa bersalah bukankah menyakitkan. Lagipula aku berpikir bahwa kematian itu adalah takdir seseorang yang tidak bisa dihindari. Daripada menangisi orang yang sudah pergi. Bukankah lebih baik kita saling melindungi satu sama lain. Lagipula aku yakin, Mikuo tidak mau hubungan kita rusak hanya karenanya. Dia tidak akan menolong Rinto saat itu hanya untuk bermusuhan denganku kan, dia pasti melakukannya karena percaya pada Rinto. Percaya bahwa seandainya dia pergi, Rinto akan selalu menjagaku," jelas Lenka panjang lebar. Tampak nafas Lenka sedikit terengah-engah. Sepertinya gadis itu terlalu menggebu-gebu waktu menjelaskannya.

Rinto terpengarah. Sudah lama Lenka tidak berbicara panjang lebar seperti ini padanya. Mungkin terakhir waktu kejadian di gudang dulu.

"Yah, kau benar. Dan aku yakin Nero juga berpikir begitu. Lagipula Nero tidak pernah membenci Suzune, begitupun sebaliknya, " terang Rinto. "Mungkin yang membuat hubungan mereka menjadi rumit ini hanya karena mereka berdua sama-sama keras kepala," tambah Rinto sambil tertawa kecil.

"Kau yakin, Rinto?" tanya Lenka masih ragu.

"Seratus persen yakin. Lagipula sebagai teman yang duduk di sebelah Nero. Tidak hanya sekali dua kali, aku melihatnya melirik ke arah Suzune. Dan aku rasa Suzune juga melakukan hal yang sama," ujar Rinto.

"Iya, kau benar. Ring-chan selalu melihat ke arah Nero waktu di kelas. Tapi saat aku tanya, dia selalu mengatakan tidak apa-apa," dengus Lenka.

Tawa Rinto semakin menjadi. "Hahaha sama. Waktu aku bertanya pada Nero, dia juga mengatakan tidak apa-apa," ujarnya di sela tawanya.

"Rinto, ini bukan waktunya untuk tertawa," ucap Lenka sweatdrop.

"Ah maaf, aku kelepasan," ucap Rinto. "Jadi bagaimana, apa kita masih harus menyatukan kedua orang bodoh ini," lanjutnya.

"Tentu saja, demi kebaikan mereka dan Sakane-san juga," ujar Lenka seraya mengangguk mantap.

"Bagus. Kalau begitu sebagai ketua kelompok aku tetapkan besok kita pergi ke kampung halaman Nero dan Suzune. Aku yakin di sana pasti banyak jenis serangganya," ujar Rinto santai.

"APA?! BESOK?!" pekik Lenka kaget.

Rinto mengangguk lalu tersenyum sambil berkata, "Tenang saja untuk akomodasi perjalanannya biar aku yang urus. Dan aku pastikan Nero dan Suzune ikut meski harus memaksanya sekalipun."

Lenka menghela napas panjang. Masalahnya bukan itu. Tapi kenapa mendadak sekali. Lenka hanya bisa meringis. Lenka pikir hanya Mikuo yang suka seenaknya saja. Ternyata Rinto sama juga. Dasar anak orang kaya -_-

~Lovers~

Sedangkan di tempat lain di waktu yang sama.

"HATSYII!"

"Mikuo-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Kaiko khawatir.

Mikuo menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa ada yang menyebut-nyebut namaku dari tadi dan perasaanku tidak enak."

Kaiko semakin menatap cemas ke arah Mikuo.

"Ah mungkin ini hanya perasaanku saja. Tak perlu khawatir," ucap Mikuo cepat tak mau sang pacar makin khawatir.

Kaiko mengangguk pelan. Belum sempat Kaiko menolehkan kepala ke depan lagi. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya.

"Kaiko awas!" seru Mikuo yang dengan sigap langsung menangkap tubuh Kaiko sebelum terjatuh.

"Maaf... Kaiko!"

Kaiko langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati wajah yang sudah sangat dikenalnya.

"LUKI!" Meski cowok itu sedang memakai kacamata dan masker tapi Kaiko yakin seratus persen cowok yang menabraknya ini adalah Luki. MANTAN PACARNYA.

Tidak hanya Kaiko dan Luki saja yang terkejut. Tapi Gakuko dan Mikuo sama terkejutnya pula. Tiba-tiba saja memori mengenai kejadian satu bulan lalu yang bagai sinetron ftv itu kembali berputar lagi di kepala mereka.

Gakuko speechless. Dia ingat kalau dulu dia nembak Luki tanpa tahu kalau dia masih pacaran dengan Kaiko. Tapi dia benar-benar tidak bermaksud jadi PHO disini.

Luki bingung. Merasa 'sedikit' bersalah karena dulu sudah menduakan dan mencampakkan(?) Kaiko.

Kaiko gusar. Tiba-tiba ingat dengan pengkhianatan yang dilakukan Luki dulu padanya. Bisa dibilang Kaiko masih 'sedikit' kesal dengan Luki.

Dan Mikuo cengo. Dulu dia langsung main nyosor aja ke Kaiko yang notabennya baru putus dari Luki. Tidak. Sebenarnya dia sudah suka Kaiko sebelum mereka resmi putus.

Dan terjadilah momen akward di antara mereka berempat.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Audrey: Yuhuu! Udah dua tahun fic ini terbengkalai, dan udah dua tahun juga pair RP NeroRing belum jadian-jadian juga :(

Bella: Makasih loh buat salah satu reader yang ngebet pengen baca lanjutan fic ini. Dan maksa-maksa saya buat lanjutin XD

Meirin: Lanjutan fic ini atau lanjutan NeroRing?

Bella: Kayaknya lanjutan NeroRing. Tapi yang penting kita jadi ngelanjutin fic ini.

Audrey: Langsung aja ya ke balasan reviewnya! Buat Sakurai Yuichii Oliver dibikin kaya gitu cuma untuk kepentingan fic wkwk aslinya jangan ditanya dah. Dan Mikuo itu … apapun selain polos apalagi lugu! Wkwk. Makasih loh udah ripiu

Meirin: Buat anaracchi kenapa otakmu mikirnya kalau gak yaoi ya covernya … REVIEW FICNYA WOY!

Bella: Buat Reo Toa Hikari dan Hikaru akhirnya penantianmu setelah 2 tahun terbalaskan sudah. RintoLenka emang partner yang paling cocok buat jadi cupid atau yang lain! Makasih ya udah review

Audrey: Buat Oliver, gak usah kegeeran, itu cuma fic woy! Makasih dah review btw

Meirin: Buat Yona Asuna, gapapa pho kalau akhirnya Ring sama Nero wkwk. Iya kamu gak php tapi pho. udah lanjut ya ini. Makasih dah review

Bella: Buat Schlaf biar gak nyesek silahkan dibaca kelanjutannya, semoga gak nyesek lagi, atau tambah nyesek ya? Makasih dah follow dan review!

Audrey: Buat holla, kalau ngebosenin tp kok dibaca sampe akhir? Wkwk makasih dah review. Jangan cepuin alurnya ya!

Meirin: Buat Kurotori Rei, NeroRing for life wkwk. Gapapa MikuoKaiko mainstream yang penting aku tetep cinta. Makasih dah fav dan follow dan review ya!

Bella: Makasih semua yang udah review. Semoga kalian gak kapok ya udah ditinggal dua tahun dan semoga kalian mau review lagi

Audrey: Buat yang fav dan foll makasih loh. Sama yang udah baca tapi belum review juga makasih mungkin kalian sibuk hehe!

Meirin: Sampai jumpa di chapter berikutnya!

All: Byee!