BAB 2 HOGWARTS EXPRESS
.

Lily memasuki peron sembilan tiga perempat dengan perut bergejolak. Dia takut terhadap ide akan bekerja sama dengan Ketua Murid Laki-Laki yang baru (dia bahkan tak mau menyebut namanya), tetapi telah memutuskan untuk menciptakan situasi terbaik di tengah yang terburuk.

Sudah beberapa hari berlalu dari hari ulang tahunnya yang sekaligus merupakan "insiden surat" itu, tetapi dia masih jengkel sekaligus gugup dengan prospek bekerja sama dengan James. Sejujurnya, dia agak kecewa terhadap Dumbledore karena memilih James sebagai Ketua Murid Laki-Laki.

Potter? Dia berkata pada dirinya sendiri. James Potter, si Marauder yang tak populer. Bagaimana mungkin Dumbledore memilihnya jadi Ketua Murid?

Dia terus-menerus berpikir seperti, "Dumbledore sedang dalam puncak kegilaannya," atau, "Dumbledore pasti sedang berpikir tentang arogansi James dan tak sengaja menuliskan namanya di surat," sampai dia mendengar sebuah teriakan.

Dia berbalik tepat waktu untuk mendapati Hestia yang memeluknya. Dia tertawa dan balas memeluk sahabatnya antusias. Meski persahabatan mereka terdiri dari empat orang, yaitu dia sendiri, Hestia, Gwenog, dan Alice, dia lebih sering dekat dengan Hestia. Mereka saling bertolak belakang: Lily selalu rajin belajar sedangkan Hestia tidak, Lily fokus pada sekolahnya sementara Hestia lebih senang mengejar anak laki-laki. Ada banyak perbedaan yang justru semakin mendekatkan keduanya.

"Apa KABAR?" seru Hestia di telinga Lily, masih memeluknya, melompat-lompat. Dia mendorong Lily supaya bisa mengamatinya. "Ah, kulihat kau secantik biasanya, kalau aku boleh..." Hestia berhenti mendadak saat memandang dada Lily yang dipasangi lencana Ketua Murid di atas baju Muggle-nya.

"NO WAY! KETUA MURID!" jeritnya lebih kencang, menyebabkan orang-orang di sekitarnya memandang berkeliling untuk memastikan ada apa. "LILY, AKU SENANG SEKALI!"

Lagi-lagi dia memeluk sahabatnya yang hanya bisa tersenyum. Dia bisa apa tanpa Hestia Jones?

"Kenapa kau berteriak terus?" tanya suara yang familiar.

Keduanya menoleh, mendapati Alice berdiri di sana, memandangi mereka sambil tersenyum. Hestia menjerit lagi dan gantian memeluk Alice. Setelah itu, Alice mendekati Lily dan memandang lencana emasnya.

"Yah, tak bisa kukatakan aku terkejut," dia menggoda Lily. "Tentu saja nona-tahu-segala akan terpilih menjadi Ketua Murid." Alice tertawa dan memeluk Lily, jelas terlihat lebih tenang daripada Hestia. "Aku bangga padamu, Lily-petal!"

"Aku bukan nona-tahu-segala, tahu," ujar Lily, pura-pura tersinggung. "Kau cuma harus jadi orang keren," dia menambahkan, mengedip pada teman-temannya.

Ketiganya cekikikan, tidak menyadari sekelompok orang yang sedang mendekati mereka.

"Menyenangkan sekali bahwa kau menganggapku keren, Evans," kata James, tersenyum pada Lily.

Lily berbalik, matanya menyipit saat menyadari siapa yang bicara. "Jangan memuji diri sendiri," katanya jengkel.

Senyum James memudar.

"Apa maksudnya memuji diri sendiri?" kata Alice, memandang bingung dari James ke Lily.

James membuka mulut untuk menjawab, tapi Hestia mendahuluinya.

"Tidak mungkin!" katanya, ekspresinya terkejut. "Kau Ketua Murid?" dia bertanya skeptis, seolah-olah mengharapkan James berseru, "BERCANDA!"

"Kau APA?" kata suara lain di belakangnya.

Lily berbalik dan mendapati Gwenog berdiri di beakang mereka, juga tampak terkejut.

"Kau, James Potter, Ketua Murid?" lanjut Gwenog, sama skeptisnya dengan Hestia.

James tersenyum. "Tentu saja. Seperti yang Evans sendiri katakan, kau harus jadi orang keren untuk mendapatkan jabatan Ketua Murid, dan inilah aku, sangat cocok dengan kriteria itu," katanya.

Sirius tertawa. Lily memandangnya, dan seperti biasa, mendesah dalam hati. Dia tak pernah menyukai para Marauder, tapi dia harus mengakui kalau mereka sebetulnya cukup menarik, tetapi sejauh ini, James dan Sirius-lah yang paling tampan. James memiliki rambut gelap yang selalu berantakan, mata cokelat yang tampaknya selalu tersenyum, tapi juga selalu berbuat onar pada saat bersamaan. Sirius berambut hitam yang jatuh menutupi matanya, tapi sebaliknya, tidak berantakan, membuat matanya yang selalu mengedip itu lebih mengesankan.

"Halo? Masih di sini, Evans?" kata Sirius, melambaikan tangan di depan wajah Lily.

"Eh?" kata Lily, menyadari dia sedang menatap Sirius.

Sirius menyeringai. "Aku hanya bertanya-tanya apa kau mau naik kereta atau tidak," katanya, mengedik ke arah Hogwarts Express.

"Benar!" kata Lily.

Mengabaikan para Marauder yang tergelak, dia melompat ke atas kereta. Hestia, Alice, dan Gwenog mengikutinya. Sampai di kompartemen, Lily berbalik menghadapi mereka dengan geram. "Mereka benar-benar menjengkelkan!" serunya sebal, dan menjatuhkan diri di atas kursi. Alice dan Gwenog menjatuhkan diri di depannya, sedangkan Hestia duduk di sampingnya.

"Memang, tapi kau harus mengakui kalau mereka benar-benar cowok keren," Hestia mengedip, membuat yang lainnya tertawa.

"Ya, tak ada gunanya menyangkalnya," kata Gwenog di sela-sela tawanya.

Lily menggelengkan kepala dan berdiri mendadak, membuat yang lain menatapnya.

"Mau ke mana kau?" Alice memandang Lily kebingungan.

"Aku harus ke kompartemen Prefek dan bertemu Potter," kata Lily sambil mendengus. Yang lain tertawa. "Dan kami harus selesai berunding sebelum para Prefek datang, dan memberikan instruksi terkait rencana kami setahun ini." Dia memandang Alice. "Itu berarti kau juga datang dan membantuku menghindari bencana karena harus bekerja sama dengan Potter sepanjang tahun." Dia meringis. "Sampai ketemu sebentar lagi."

Dan dengan lambaian tangannya, dia melangkah keluar dari kompartemen dan berjalan menuju gerbong depan ke kompartemen Prefek.

Dia sedang melamun, bertanya-tanya bagaimana ia akan mampu bertahan terhadap Potter sepanjang tahun, ketika ia melewati kompartemen Slytherin. Dia melihat ke dalam dan mendapatkan Severus sedang duduk di sebelah pintu dengan kepala bersandar pada kacanya. Severus mendongak tepat pada saat itu, dan ketika mata mereka bertemu, Lily mengangkat hidungnya dan terus berjalan menuju kompartemen Prefek.

Sesampainya di depan kompartemen yang dituju, dia berhenti sejenak, memandang keluar jendela, dan menghela napas dalam-dalam. Ini dia, pikirnya, sekarang kau harus mengendalikan diri. Jangan berteriak pada James Potter.

Lily menenangkan diri dan mendorong pintu terbuka. James Potter sedang duduk di sisi lain kompartemen, mendongak ketika Lily masuk, senyum berseri-seri menghiasi wajahnya menyadari siapa yang datang. James sudah jatuh cinta pada Lily sejak tahun pertama mereka di Hogwarts, dan fakta bahwa mereka akan menghabiskan satu tahun bersama membuatnya gembira.

"Halo, Lily-petal," sapanya, tersenyum pada Lily, yang menyipitkan mata.

"Mari kita tetapkan aturan dasarnya," kata Lily, duduk di kursi yang berhadapan dengan James. "Pertama, jangan memanggilku Lily-petal. Jangan pernah. Hanya orang-orang tertentu, seperti ibuku, yang boleh memanggilku begitu," katanya, lalu mendadak menutup mulutnya. Mengapa ia mengatakan itu? Itu bukan sesuatu yang perlu diketahui James Potter. Meskipun demikian, James tampak tertarik.

"Ibumu memanggilmu begitu? Manis sekali," katanya, memberinya senyum tulus.

Lily mengedip bingung, perutnya langsung mulas. Sejak kapan senyum James Potter membuatnya sakit perut? Lily berusaha mengabaikannya. Mungkin hanya karena aku lapar, batinnya.

"Yeah, benar-benar manis," ujar Lily tak yakin. Menggelengkan kepala, dia meneruskan, "Peraturan nomor dua, kau harus berkelakuan baik, Potter."

Ditatapnya James tepat di matanya, tapi senyum James tidak menghilang. Sejujurnya, James berbuat yang aneh-aneh hanya jika ada Lily di sekitarnya, tapi ini tidak mengganggunya lagi. James mencintai Lily, dan tak ada yang bisa mengubahnya.

"Aku selalu berkelakuan baik!" kata James, memasang wajah tak berdosa.

Lily memutar bola matanya. James terperangah. Itu adalah reaksi paling bersahabat yang pernah didapatnya dari Lily Evans.

"Yeah, baiklah, Potter. Tapi kalau kau melanggar aturan ini," Lily menambahkan, matanya mengeras memandang James, yang senyumnya masih terpeta, "aku akan mengutukmu sampai seabad ke depan. Mengerti?" Matanya menyipit, mencoba terlihat mengancam.

James memutar matanya dan memandang Lily. "Ya, Yang Mulia," ujarnya sarkastik.

Senyum Lily melebar, mengejutkan tak hanya dirinya sendiri, melainkan juga James.

"Lily Evans, kau betul-betul tersenyum seperti yang kulihat?" katanya, sudut-sudut mulutnya berkedut, tatapan jahil menghiasi matanya.

Lily memutar matanya lagi dan mencabut tongkatnya. Dengan kepuasan mendalam, dia menyadari tindakannya menghapus seringai dari wajah James dan digantikan ekspresi ketakutan ringan.

"Peraturan lain," katanya. "Kau tetap memanggilku Evans. Bukan Lily Evans, Lily, Lily-petal, atau Bunga-Lily. Hanya Evans." Dia menatap James, yang senyumnya menghilang. "Dan aku akan tetap memanggilmu Potter. Paham?"

James meledak tertawa saat Lily menyelesaikan kalimatnya, meskipun bahkan tongkat Lily teracung padanya. "Ya, Evans. Aku paham." Bahunya masih berguncang menahan tawa.

Jadi James menganggap aturan ini konyol? Yah, dia akan melihat apa yang akan terjadi kalau dia melanggarnya. Pikiran tentang memantrai James Potter membuatnya menyeringai. Dia mulai mendaftar kutukan di kepalanya, tetapi segera sadar dari lamunannya ketika James melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Yang benar saja, Evans. Berhentilah melamun, banyak yang harus kita lakukan," katanya, menirukan nada yang dikenali Lily sebagai nada bicaranya sendiri yang sok ngebos saat di kelas.

Lily tersenyum, berubah rileks, dan menyimpan tongkatnya.

"Baiklah, jadi tentang rencana kita untuk tahun ini," katanya, memandang penuh harap pada James yang ternyata juga sedang memandangnya dengan ekspresi yang sama. "Ada ide?"

James memandangnya dengan senyum tipis di wajah dan menggelengkan kepala, "Yang benar saja, kupikir Dumbledore sudah gila ketika menuliskan namaku di surat pemberitahuan Ketua Murid. Aku bahkan bukan Prefek! Aku sama sekali tak tahu apa yang harus kulakukan" katanya, tersenyum minta maaf. "Tapi," dia mencoba meluruskan, "aku akan berusaha yang terbaik untuk situasi seperti ini, masalah Ketua Murid ini maksudku, dan..." dia menambahkan dengan menggumam, "...kau." James memandang ke mana saja selain Lily, yang alisnya sudah naik tinggi sekali.

"Apa maksudmu berkata begitu?" kata Lily pelan.

James terlihat gugup. Lily tak pernah menduga bahwa James, yang suka menggodanya, yang setiap saat selalu mengajaknya kencan, anggota Marauder yang tidak populer, otak semua kerusuhan, bisa merasa cemas.

James mendongak menatapnya, menghela nafas. "Yah, Lily," dia mulai, lalu menyadari ucapannya, matanya membelalak, "Maksudku Evans. Evans. Dengar, aku tahu kau tidak suka padaku, kau juga tahu kalau perasaanku bertentangan dengan itu, tapi aku tak akan mengganggumu tahun ini." Dia memandang Lily dengan polos, membuat Lily membeku. "Aku tidak akan menerormu untuk kencan denganku, aku tak akan menggodamu, aku hanya," dia menarik napas dalam-dalam, "aku hanya ingin kita berteman."

Lily memandangnya beberapa menit, memikirkan perkataan tadi. Jadi dia tak akan mengajaknya kencan? Tak akan menggodanya? Apa dia serius? Hanya teman? Dari mana ide ini berasal, setelah selama 6 tahun selalu memintanya kencan dengannya? Setelah mempertimbangkannya, Lily memberi James, yang sudah mulai panik, senyum kecil.

"Baiklah, Po─James. Kita berteman."

"James?" kata James, menyeringai. Matanya berbinar-binar.

"Ya. James," kata Lily, berseri-seri.

"Baiklah, itu cukup buatku, Evans."

"Lily," kata Lily. "Panggil saja Lily."

Ketika para Prefek memasuki kompartemen itu, mereka mendapati Ketua Murid Laki-Laki dan Perempuan duduk berseberangan satu sama lain, sedang berbicara. Di tengah-tengah para para Prefek, Alice terkejut. Dia belum pernah melihat Lily dan James saling bercakap tanpa melibatkan teriakan Lily, kutukan Lily, atau ajakan kencan James. Dia berdeham, memberitahu keduanya bahwa dia dan para Prefek lain sudah datang.

Lily dan James tersentak, mencari sumber suara. Lily tampak bingung, sementara James kelihatan jengkel. Begitu menyadari para Prefek sudah di sana, Lily berdiri. James mengikuti.

"Hai, semua," sapa James, tersenyum pada mereka. "Silakan duduk."

Alice duduk di samping sahabatnya, memberinya pandangan kita-akan-bicarakan-nanti. Remus, yang juga Prefek, duduk di sebelah James dan menepuk bahunya. Lily tersenyum pada Remus. Keduanya sama-sama Prefek Gryffindor sebelumnya, jadi mereka, ditambah Alice, sudah sering melewatkan waktu bersama. Remus membalas senyumnya. Dia tak pernah cari masalah dengan Lily Evans, meskipun sahabatnya sudah naksir Lily sejak pertama kali bertemu, dan Lily selalu menolak mentah-mentah yang membuat James patah hati. Sejujurnya, jika dia ada di posisi Lily sepanjang kelas enam lalu, Remus akan melakukan hal yang sama.

Lily memandang James─yang sedang memandangnya penuh harap─dan mengangkat alis. Sejujurnya dia mengharapkan James mengatakan sesuatu. Remus harus menahan senyumnya, mengantisipasi pidato James. James berdeham gugup, dan tersenyum pada semua orang.

"Hai," kata James dengan suara bergetar. Dia berdeham lagi, dan ketika melanjutkan, suaranya lebih percaya diri. "Kalian semua pasti bertanya-tanya, sepertiku, kenapa demi Merlin Dumbledore memilihku sebagai Ketua Murid."

Semua orang di situ tergelak dan terkikik. Bahkan seluruh sekolah mempertanyakan itu, sejak mereka semua tahu, kenapa James Potter yang terpilih sebagai ketua Murid. Dia dan teman-temannya, kecuali Remus, adalah biang onar nomor satu seantero sekolah.

"Yah, itu bukan pertanyaan yang bisa kujawab untuk kalian," lanjut James.

Sepasang gadis kelas lima terkikik melihat James tersenyum. Lily menahan diri untuk tidak memutar matanya. Benar, James Potter memang keren, tapi juga tak perlu memujinya berlebihan. Secara keseluruhan, dia adalah anggota Marauder paling besar kepala dan kelewat percaya diri. Lily selalu bertanya-tanya kenapa sapunya tidak pernah jatuh dengan kepala sebesar itu. Mungkin karena sapu James didesain untuk bisa mengangkat kepala besar. Lily kembali dari pikirannya ketika James berdeham.

"Kembali ke topik bahasan kita, pertemuan ini tidak akan lama, karena aku tahu persis betapa membosankannya duduk di sini, ingin segera kembali pada teman-teman kalian. Tetapi apa yang kalian dapatkan dari pertemuan ini adalah apa yang kudapatkan dari detensi."

Mendengar ini, seisi kompartemen meledak tertawa, bahkan Lily tak bisa menahan senyumnya. James berbalik memandangnya, tersenyum, bangga pada dirinya sendiri. Lagi, Lily memutar matanya, membayangkan kepala James pasti menggelembung jauh lebih besar. Sungguh, katanya pada diri sendiri, kalau kepalanya masih bisa membesar, dia butuh sapu khusus yang tidak membuatnya terjatuh ke tanah.

"Baiklah," kata Lily, mengalihkan perhatian para Prefek padanya. "Seperti yang James katakan, pertemuan ini hanya sebentar. Secara umum kita akan membicarakan tentang patroli di koridor dan tanggung jawab kalian hari ini, dan kita akan mendiskusikan detailnya Sabtu jam 3 sore. Bisa dipahami?"

Semua yang hadir mengangguk.

Wow, James membatin, melihat bagaimana Lily berbicara di hadapan yang lain. Dia benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Aku harus meminta Moony membantuku supaya aku lebih siap Sabtu nanti.

"Jadi, patroli," kata Lily, mengambil perkamen di atas meja dan mulai memberi pengarahan. Semua pandangan, khususnya dari James, terfokus padanya.


"Jadi, bagaimana tadi?" Lily menanyai Alice untuk kesekian kalinya sepanjang perjalanan kembali ke gerbong mereka.

Alice menghela napas. Dia mulai berpikir Lily sudah sinting sejak menjadi Ketua Murid. Alice menyayangi Lily, sangat, tetapi terkadang Lily sangat perfeksionis terhadap apa yang disukainya.

"Ya, Lily, tadi itu bagus sekali," katanya, menoleh dan tersenyum pada Lily. "Sekarang, diam atau aku akan kembali dan meminta James untuk menyuruhmu tutup mulut."

Reaksi Lily persis seperti yang diharapkan Alice.

"APA? Tidak! Uh, jangan lakukan itu! Yang benar saja, Alice, kau ini kenapa? Siapa yang memantraimu?" kata Lily, mengerutkan hidung. "Astaga, Alice, kenapa kau bilang begitu!" Lily memukul lengan sahabatnya, membuat Alice tertawa.

"Hanya supaya kau berhenti menanyaiku betapa bagusnya kau tadi," kata Alice, tertawa, memeluk sahabatnya dengan satu tangan.

Dalam perjalanan kembali ke kompartemen, mereka kembali melewati kompartemen anak-anak Slytherin. Severus melihat Lily-nya berjalan melewati kompartemen itu tanpa meliriknya.

Sementara itu, setibanya James di kompartemennya sendiri, menjatuhkan diri ke kursi dengan senyum di wajahnya, memandang jauh ke luar jendela.

"Prongs?" kata Sirius yang duduk di hadapannya, "Prongs, sobat, kau baik-baik saja?"

Dia melambaikan tangan di depan wajah sahabatnya. James mengabaikannya dan tetap memandang keluar, memikirkan satu jam sebelumnya yang dilalui bersama Lily dengan percakapan sopan.

"Tidak, dia tidak baik-baik saja, sobat," kata Remus, duduk di samping Sirius, mengamati James dengan tatapan yang sama, tetapi tidak dengan keingintahuan yang sama. Remus justru tampak geli melihat kelakuan James.

"Apa? Apa yang salah dengannya? Kenapa dia?" ujar Peter, bangun dari lantai untuk duduk di sisi lain dari Sirius, sehingga mereka bertiga menatap James, duduk berdampingan.

"Dia mungkin ingin kembali ke gerbong Prefek," ejek Remus, tetapi ketika tatapan James menghunjam ke arahnya, Remus menutup mulutnya, menyamarkan tawanya menjadi batuk.

"Kenapa dia ingin kembali kompartemen Prefek?" kata Peter, masih terdengar khawatir.

Alih-alih Remus, Sirius-lah yang menjawabnya.

"Ah, tentu saja. Evans," katanya, tawa tersembur dari mulutnya. "Bagaimana harimu berdua saja dengan nona-tahu-segala dari Gryffindor itu?" Sirius memberi James tatapan tak bersalah, membuat James menyipit memandangnya.

"Hei! Kupikir kau meniru soal mata sipit itu dari sang bunga sendiri," kata Remus berseri-seri, membuat Sirius dan Peter tertawa.

Meskipun demikian, James memutar matanya dan berbaring di kursi. "Bunga, Moony? Pikiran Prefek-mu tidak menghasilkan sesuatu yang lebih bagus dari itu?" James memutar kepalanya untuk tersenyum pada Remus, yang memelototi James.

"Yah, aku berharap mendengarmu dengan ide yang lebih baik," kata Remus mengejek, melipat tangannya dengan menantang.

"Tidak, kupikir orang-orang tidak ingin mendengar James yang cengeng jalan dengan Lily," Sirius menyela, memberi James seringai nakal. "Kubilang kita akan memanggilnya Bunga-Lily. Itu panggilan paling brilian yang pernah dikatakan Moony. Semua setuju?" katanya, mengacungkan tangan di udara. Peter mengikutinya seperti diharapkan, dan Remus, memutar matanya, juga mengangkat tangannya.

"Kau serius?" kata James, bangkit duduk memandang sahabatnya.

"Ya, aku Sirius," kata Sirius, menyeringai kepada James yang meledak tertawa.

"Oh, lucu sekali, Padfoot," Remus memutar matanya lagi, tetapi sambil tersenyum. Bagaimanapun juga, nama Sirius memang lucu untuk jadi bahan gurauan.

Meski begitu, Peter, yang memuja seluruh tindakan James dan Sirius, bertepuk tangan dan tertawa sedemikian rupa hingga terjatuh dari kursinya. Ketiga temannya, yang sudah biasa dengan tingkah Peter yang memuja, mengabaikannya.

"Dia tidak suka orang-orang memanggilnya begitu! Aku tak ingin menjadi musuhnya," kata James sedih, memandang lantai.

Remus memandang sahabatnya kasihan. James sudah jatuh cinta pada Lily begitu lama, dan segala sesuatunya, meskipun itu baik, seringkali menyakitkan karena tidak bisa meraihnya. Di sisi lain, Sirius tidak menyetujui ataupun mengasihani sahabatnya.

"Prongs, sobat," kata Sirius lembut. "Tidakkah kaupikir kau seharusnya, entahlah, mengejarnya?"

Remus menjadi keras dan mengamati James; James tak pernah menanggapi dengan baik pertanyaan ini. Peter, berpikir sama dengan Remus, memandang khawatir dari James ke Sirius. Meskipun demikian, alih-alih berteriak pada Sirius, James tersenyum, "Kayak aku belum pernah mencoba saja, Padfoot."

Sirius menghela napas, begitu juga Remus dan Peter. Peter, ingin mengubah topik, berpaling pada Remus.

"Jadi, kapan bulan purnama lagi, Moony?" tanyanya, menghasilkan efek yang diharapkan Peter. Percakapan mengalir, mendiskusikan rencana mereka pada malam purnama berikutnya.

Di gerbong lain, Severus berdiri dan keluar dari kompartemennya, memutuskan mendatangi Lily yang baru saja lewat tak lebih dari lima menit yang lalu. Dia sudah melihat lencana Ketua Murid-nya yang berkilau dan memutuskan untuk memberinya selamat. Lalu kenapa Lily akan marah padanya? Ketua Murid jabatan yang bergengsi, dan ucapan selamat itu layak untuknya. Setidaknya, itulah yang dia katakan pada dirinya sendiri.

Dia berjalan cepat sepanjang koridor, tahu di kompartemen mana Lily berada. Lily selalu memilih kompartemen yang sama, di gerbong paling jauh dari anak-anak Slytherin bersama teman-teman Gryffindor-nya.

Severus berhenti beberapa kompartemen sebelum sampai di tujuannya, berdiri beberapa saat, bersandar pada sebuah kompartemen. Belakang kepalanya menempel pada kaca pintu, tanpa menyadari siapa yang duduk di dalamnya.

"Dia yang kupikirkan adalah dia, kan?" kata Sirius, seringai menghiasi wajahnya ketika memandang pintu kompartemennya yang sedang disandari seseorang mirip kelelawar.

Ketiga Marauder lain menoleh ke pintu, dan James merasakan seringaian yang biasa juga menghiasi wajahnya.

"Snivellus," katanya, menyipitkan mata. James sudah membenci Sirius sejak hari pertama mereka menaiki Hogwarts Express. Waktu itu Lily dan Severus meninggalkan kompartemen mereka bersama.

"Bagus sekali, ayo bersenang-senang," kata Sirius, berdiri, mencabut tongkatnya.

Peter berdiri sesudahnya, senyum antisipasi di wajahnya. Remus, yang selalu enggan terlibat dalam hal semacam ini, memandang ke luar jendela dan mengambil buku pelajarannya.

"Ayo, Prongs," ajak Sirius, memandang James yang tak bergerak.

James mendongak memandang Sirius, menggelengkan kepala. "Aku tak bisa," sesalnya, "Ketua Murid, ingat?"

Sirius meringis dan kembali menjatuhkan diri di kursinya. "Ini semakin menyebalkan saja. Bukankah itu berarti kau akan bosan sekali tahun ini?"

James tersenyum, memutar bola mata. "Maumu, Pads." Dia mencabut tongkatnya. "Aku cuma jadi licik."

Dia mengedip pada Sirius yang mengeluarkan gonggongan tawa. James mengacungkan tongkatnya ke pintu mengikat tali kedua sepatu Snape jadi satu.

"Apa yang kaulakukan?" tanya Peter, kecewa dengan minimnya penderitaan yang akan diterima Snape.

James baru saja berbalik pada Sirius, yang juga memandang bingung Severus.

"Kita lihat saja."

Severus, setelah mengatur napas dan mengumpulkan keberaniannya, melanjutkan perjalanan ke kompartemen Lily. Dia memandang ke dalam kompartemen dan melihat Marauder yang tidak populer itu memandangnya penuh harap. Dia memberi mereka pandangan paling menghina yang bisa dia berikan, mulai berjalan, dan terjerembab. Bisa didengarnya ledakan tawa dari para Marauder ketika dia memeriksa sepatunya, melihat tali-talinya terikat bersama-sama.

Dia membungkuk untuk melepaskan ikatannya, menggerutu pelan soal ketidakdewasaan. Ketika akhirnya dia bangkit, dia bisa berjalan ke kompartemen Lily tanpa melihat ke arah para Marauder yang keras kepala.

Severus menghela napas lagi dan menggeser terbuka pintu kompartemen Lily. Hestia, Lily, Alice, dan Gwenog memandangnya. Begitu menyadari siapa yang membuka pintu, semuanya—termasuk Lily, Severus memperhatikan dengan dahi berkerut—menyipitkan mata memandangnya.

"Ada yang bisa kami bantu?" tanya Gwenog dingin.

Severus memandangnya, merasa sedikit sedih. Dia cukup akrab dengan Gwenog ketika Severus dan Lily masih berteman. Hestia dan Alice tak pernah sepenuhnya baik padanya, meskipun Hestia dan Lily sahabat karib; Gwenog, yang Severus tahu adalah yang tidak terlalu dekat Lily di antara ketiganya, adalah satu-satunya yang menerimanya. Setelah hari yang mengerikan itu, ketika tanpa sengaja dia menyebut Lily Darah-Lumpur, dia menjauh dari kehidupan mereka.

"Aku ingin bicara dengan Lily," kata Severus, suaranya keluar lebih pelan daripada yang direncanakannya.

Gwenog memutar matanya. Severus, berusaha untuk tidak terlihat sakit hati, berpaling pada Lily.

Lily memelototi Severus. Dulu dia percaya padanya, dan membelanya di depan semua teman-temannya, hanya untuk dikecewakan olehnya. Sejak saat Severus memanggilnya Darah-Lumpur, Lily tidak berbicara lagi dengannya. Ini membuat musim panasnya sangat kesepian, tanpa ada yang bisa diajak bicara selain Tuney, yang sedang sibuk berjalan-jalan dengan pacar-seukuran-pausnya yang bernama Vernon.

"Lily tidak ingin bicara denganmu," kata Lily, berusaha terlihat percaya diri dan dingin, sementara hatinya sedih dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Severus.

"Yah, aku benar-benar akan menghargai kalau kau bersedia keluar dan bicara denganku," kata Severus, matanya mengeras.

Dia bisa melihat apa yang dia rasakan di balik sikapnya, Lily tahu itu, tapi tidak peduli. Dia sudah melakukan sesuatu yang tak termaafkan, dan sifatnya yang terkenal keras kepala tidak membantu. Severus tidak memutuskan kontak mata dengannya sampai akhirnya Lily menghela napas dan berdiri.

"Aku akan segera kembali," kata Lily kepada teman-temannya, lalu berjalan melewati Severus ke koridor.

Severus memberikan senyum setengah hati pada teman-teman Lily, yang semuanya menatapnya mengejek, dan berbalik mengikuti Lily keluar dari kompartemen, menutup pelan pintu di belakangnya.

Lily berdiri dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan ekspresi keras. Dia tiba-tiba merasa perutnya anjlok. Apa yang akan dia katakan?

"Eh, hai," kata Severus, memandang ke mana saja kecuali Lily.

Lily tidak menanggapi. Dia memandang ke arah kompartemen lain, tempat ia bisa melihat James dan Sirius sedang berduel. James baru saja menggelembungkan kepala Sirius dua kali lipat dari ukuran aslinya, membuat Lily tertawa. Dia melihat Severus tersenyum dari sudut matanya, dan berpaling untuk memberinya pandangan keras.

"Kenapa kau tersenyum begitu?" kata Lily, menyipitkan mata. Dilihatnya senyum menghilang dari wajah Severus.

"Tidak kenapa-kenapa. Aku─eh─hanya ingin─er─memberimu selamat," gagapnya.

Jawaban Severus membuat alis Lily menghilang di balik rambutnya.

"Memberiku selamat? Untuk apa?" tanya Lily, melepas aksi sok kerasnya.

Severus sedikit rileks mendengar perubahan nada suaranya. "Ketua Murid," katanya, mengangkat alis, seolah-olah itu sudah jelas.

Lily merona. Seharusnya jelas sekali. "Oh, benar. Trims," katanya sambil tersenyum kecil.

"Siapa Ketua Murid Laki-Laki?" tanya Severus, berharap tetap bisa bercakap-cakap sopan dengan Lily seperti ini.

"James," jawab Lily, mengerling para Marauder lagi. James and Sirius juga sedang memandang mereka. Sirius penasaran, sementara James tampak jengkel.

"James?" ulang Severus. Lily kembali memandangnya. "James yang mana?"

"Potter. Ada berapa James di sini?" tukas Lily tersinggung.

Sekarang keempat Marauder memandang mereka ingin tahu.

"SEJAK KAPAN DIA JADI JAMES?" Severus berteriak, membuat Lily terlonjak dan James menyipitkan mata.

"Apa maksudmu?" kata Lily, memandang berkeliling. Murid-murid menjulurkan kepala dari semua kompartemen untuk melihat siapa yang berteriak.

"AKU TAK PERCAYA KAU MENGKHIANATIKU SEPERTI ITU!" Severus menjerit, membuat Lily mundur.

"Mengkhianatimu?" ujar Lily marah, merasakan seluruh emosinya naik ke permukaan; dalam hal ini, itu berarti wajahnya memerah. "Apa maksudnya, aku mengkhianati-MU?"

"KAU SUDAH BERSUMPAH!" jerit Severus. Lily melihat pintu kompartemennya terbuka dan teman-temannya keluar untuk memandang Severus. "AKU TAK BISA MEMPERCAYAIMU LAGI! KAU BERTEMAN DENGANNYA?"

Air mata berkilau di mata Severus.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi sensitif sekali?" Lily berteriak balik. "Kau memanggilku Darah-Lumpur, sekarang kau pikir kau bisa berteriak padaku dan memberiti tahu apa yang harus kulakukan?"

Severus membeku, memandang Lily.

"Kita bukan teman lagi." Berkata begitu, Lily mengikuti teman-temannya.

"Jangan sampai aku melihatmu kencan dengannya!" teriak Severus di belakang punggungnya.

Lily berbalik, memberinya pandangan keheranan, sebelum menuju kompartemen para Marauder. Dengan semua mata menatapnya, Lily mencium James penuh-penuh di mulutnya.