Play ; Beauty and the Beast, Ariana Grande feat John Legend

..

.

.

Bahkan saat langit menggelap, lelaki berjubah perak itu tak membuka matanya. Matanya betah terpejam dengan tenang. Wajahnya terlihat begitu damai, namun tetap tercetak jelas bagaimana lelaki asing itu terlihat pucat. Tangannya mulai menghangat, suhu badannya pun mulai membaik.

Meski semua sudah tampak normal, lelaki manis itu masih setia di kelilingi oleh benda-benda berbagai bentuk dan rupa. Sang jam tua tampak gelisah dengan tangan kecilnya terus menusuk-nusuk pipi lelaki yang tak kunjung bangun itu.

"Hyung, dia tak bangun. Apakah mati?" Sang Bantal berbentuk persegi panjang berwarna hijau dengan ukiran daun berwarna emas itu terus menggerutu, tangannya yang terbuat dari hiasan tali-tali berwarna putih itu bahkan terus mengelus dengan penuh harap tangan yang kini menghangat itu.

"Kau sudah bertanya puluhan kali Jungkookie. Dia tidak apa-apa. Sebentar lagi bangun. Hooam, aku sungguh mengantuk." Cerucus sang Piano kayu yang benar-benar terlihat tak bertenaga, matanya sudah mulai layu. Membiarkan gelas emas bertengger manis di atasnya.

"Kalau mati susah menguburkannya. Dia besar, dan Namjoonie tak akan mau membantu kita." Si Gelas merebahkan tubuh jenjang nya, menyamankan posisi di atas piano.

"Kita tunggu saja. Tidurlah Hyung, jangan paksakan dirimu. Ayo tidur Jungkookie." Jimin- Sang Candlestick- menarik buntalan bantal itu untuk di dekapnya, menimbulkan decakan malas dari si Jam Tua itu yang ikut merebahkan diri di dekat dengan pria asing yang terus memejamkan matanya.

.

.

Ketika sinar matahari itu menerobos masuk ke ruangan yang tirainya terbuka lebar itu –Jimin lupa menarik tirai tadi malam – mata yang semula terpejam rapat kini mulai bergerak, kerutan di keningnya mulai tercipta. Dan erangan tubuh yang terasa pegal dan lemas itu terdengar, Seokjin mulai terduduk. Menyamankan posisinya.

Matanya mengedar khawatir saat mengenali dirinya tidaklah berada di halaman luas dengan bunga membeku. Tidak, dia berada di dalam ruangan kamar besar, mungkin lebih besar dari kamarnya. Begitu banyak lukisan-lukisan pemandangan apik tertempel di dinding. Sebuah ruangan yang memiliki desain yang begitu berbeda dari kerajaannya, terlihat begitu megah mewah dan lama(?) Meskipun memiliki benda mewah, semua terlihat begitu lama, tak terpakai, berdebu.

Sejenak ia tertegun, tidak mungkin kan ia berada dalam sebuah gudang? Ruangan ini terlalu mewah di jadikan gudang, terlihat berbagai perabotan tersusun rapi. Jadi dimana ia di culik? Sebuah pemikiran konyol memang, namun siapa yang tiba-tiba membawanya ke sebuah istana?

Bahunya terlonjak saat merasakan sebuah pergerakan dari sisi kirinya. Bantalnya bergerak. Apakah ia tidur bersama hewan? Dengan pelan ia mengangkat bantal, mencari sosok hewan yang mungkin menerobos ke selimut yang ia gunakan. Nihil hingga..

Ia melemparkan bantal yang tiba-tiba bergerak di tangannya. Jeritannya menggema ruangan besar itu. Matanya melotot, seakan beberapa centi lagi matanya dapat keluar. Seokjin terlonjak kaget melihat bantal itu berdiri di depannya. Dengan mata bulat dan alis melengkung lucu.

Kepalanya memiring kanan, tertegun, bukannya takut, bantal itu justru terlihat menggemaskan. Mata bulatnya terus berkedip-kedip di depannya, bahkan Seokjin memekik tertahan saat bantal itu memiringkan tubuhnya, mengikuti gaya dirinya. Menggemaskan!

"Hyung.. dia bangun.. dia bangun." Suara keras dan pekikan bahagia membuat Seokjin spontan menutup telinganya. Menganga hebat, menyaksikan bagaimana mulut itu ternyata dapat terbuka bahkan bersuara.

Bulu-bulunya meremang, melihat benda-benda di dekatnya bergerak, candlestick itu mulai berdiri dengan bertumpu pada tangannya, gelas panjang itu mendudukan diri, Seokjin bisa melihat dengan jelas mata sayu sang piano yang melihat ke arahnya. Lalu, selimutnya kembali bergerak. Matanya menyipit, gundukan itu seakan berjalan mundur. Mencari titik keluar dari selimut. Bam, sebuah jam kecil muncul dengan semangatnya.

Ini aneh.

Seokjin mati?

Atau ia bermimpi?

Ia masih terdiam. Bersamaan dengan seluruh benda-benda itu juga ikut terdiam.

"Kenapa kau terus memiringkan kepalamu?" Celetukan polos kembali terdengar dari si bantal. Tubuh Seokjin kembali menegang, refleks menegakan badan. Otot wajahnya terlihat kaku.

"Jangan takut Tuan. Kami tidak menggigit." Seokjin menoleh pada candlestick yang berujar dengan tenang.

"Tidak. Kami hanya mencakar. Aoow." Si Jam memeragakan dengan tangan kecilnya yang terlihat bulat tanpa adanya kuku.

"Berhenti bermain Tae. Perkenalkan kami.. kami siapa ya?" Yoongi memutar bola matanya mendengar kalimat tak bermutu dari si gelas, ia menendang gelas dari tubuhnya, hingga melayang mengenai ranjang sisi kiri yang masih kosong.

"Maaf Tuan. Jika anda bingung, anda berada dalam kerajaan Luxa. Penasehat Min Yoongi." Sang Piano membungkukan badannya, nada-nada classic terdengar menjadi backsound dirinya mengenalkan diri.

"Jenderal Perang, Park Jimin." Sang Candlestick juga membungkukkan badan, api=api pada ujung tangan dan topinya kini menyala.

"Aku aku. Aku.. Jeon Jungkook. Salam kenal tuan." Lagi-lagi bantal itu membuatnya gemas, dengan melompat-lompat kecil di antara kaki Seokjin yang masih terbungkus selimut.

"Jung Hoseok. Perdana menteri." Seokjin tanpa sadar tersenyum saat gelas emas itu berputar layaknya menari di atas ranjang.

"Panglima perang, Kim Taehyung." Seokjin mengangguk pada Jam yang membungkukkan diri, tertawa saat kaca yang menjadi penutupnya terbuka karena ia membungkuk.

Astaga kenapa menjadi sedamai ini?

"Kim Seokjin. Em, dari kerajaan Rosenight. Salam kenal." Kini Seokjin yang membungkukkan diri, dengan tangan kanan berada di dada kiri.

"Siapa kau?" Yoongi berujar lembut dengan nada penasaran.

"Ah, aku seorang Pangeran. Pangeran kedua tepatnya. Kenapa aku bisa ada disini?" Yoongi membulatkan bibirnya, diikuti seluruh rekan-rekannya. Mengangguk takjub pada sosok yang ternyata pangeran di depan mereka.

"Kau pingsan Pangeran. Karena kedinginan. Hendak kemana?" Seokjin kembali menoleh pada candlestick. Ia menyukai suara itu, terdengar lembut dan menenangkan.

"Jangan panggil seperti itu. Seokjin saja. Yeah, entahlah. Aku hanya kabur. Maaf, tapi aku tak mengetahui negeri ini. Kenapa ada salju disini? Apa kalian mengenal kerajaanku?"

Semua mata menunduk lesu, Seokjin melihat bagaimana mereka terlihat begitu menimang beban berat, lalu saat matanya kembali bertemu pandang pada bantal yang mengenalkan namanya Jungkook, ia melihat bagaimana mata itu tergenang dengan air mata. Mata bulat yang sejak beberapa menit lalu menjadi mata kesukaannya kini berair.

"Ey kenapa Jungkook?" Jungkook beringsut maju, menyandarkan tubuh buntalannya pada dada Seokjin. Dan Seokjin menerima Jungkook dengan senang hati. Terlihat asing memang, saat dirinya mengelus punggung bantal.

"Kami di kutuk Seokjin. Kami awalnya adalah kerajaan terbesar. Dan hingga suatu hari kami mendapat balasan dari perlakuan kami. Dan nama kami hilang dari peradaban." Yoongi tak menyebutkan semua salah Namjoon. Ia juga bersalah, seharusnya ia dapat menasehati Namjoon.

"Dikutuk? Bagaimana bisa?"

"Jadi mau membantu kami?" Nada Taehyung mengalun tegas, percaya diri, penuh harap. Mendapatkan anggukan setuju dari Jimin Jungkook Hoseok dan Yoongi. Mereka menatap Seokjin yang berkedip dengan senyum, sebuah senyum harapan.

.

.

.

"Em hai?"

Jungkook terkikik saat Seokjin menyapa kaca yang di pegangnya. Pangeran itu terus menyapa apapun yang dilihatnya. Mengira semua benda disini bergerak layaknya manusia.

"Tidak semua benda disini hidup Seokjin." Seokjin membola lalu mengangguk canggung, Yoongi yang mengekor hanya tersenyum maklum.

"Lalu apa yang harus ku lakukan?"

Semua alis terangkat naik menggoda, tiba-tiba berbaris lurus, dengan Hoseok di ujung, begitu kecil.

"Jalanlah ke istana bagian barat. Lihat-lihatlah semua yang ada disana."

Dengan ragu Seokjin mengikuti arahan Hoseok. Ia berjalan menuju ke tangga lebar yang berada di sisi kanannya. Dengan pelan ia menapaki satu persatu anak tangga. Istana terlalu sepi, berbanding terbalik dengan istana miliknya yang akan selalu ramai. Sepatu hitamnya yang mengkilat itu menimbulkan debuman suara yang bertabrakan dengan lantai.

Tembok-tembok ini tidak seramai ruangannya tadi yang di hiasi lukisan, tembok disini hanyalah tertempel beberapa lilin. Seokjin berharap lilin-lilin itu tidak tiba-tiba bergerak lalu mengagetkannya. Ia hanya tak mau keluarga Jimin ini menakutinya.

Matanya mengedar, setelah mendorong sebuah pintu tinggi dan lebar itu, Seokjin melihat selurus isi ruangan, sedikit gelap dan jelas sunyi. Kakinya melangkah dengan pelan ke dalam satu titik cahaya yang tak terlalu bersinar terang namun dapat menarik atensinya.

Sebuah mawar merah mekar, dengan beberapa kelopak yang sudah berjatuhan, terbungkus di dalam sebuah benda kaca. Mawar itu bersinar dan ada kerlipan kerlipan berwarna emas yang mengudara. Begitu cantik. Tangannya tak sadar bergerak menyentuh dinding kaca-

"Hentikan tanganmu." Suara menggelegar dan terdengar menakutkan itu mengagetkannya. Badannya beringsut mundur. Matanya membola dengan takut melihat sosok berbadan besar dengan bulu-bulu di tubuhnya.

Menyeramkan.

Baru kali ini ia melihat sosok mengerikan, terbalut jubah berwarna hitam yang menjulur ke bawah. Bulu-bulunya panjang, kakinya menyerupai kaki hewan, dan dengan wajah yang begitu mengerikan. Ia bergetar, bergetar hebat. Keringatnya mengucur deras, bahkan sosok mengerikan itu kini berjalan mendekatinya. Ujungnya melirik-lirik, berharap ada celah untuknya kabur. Namun kakinya seakan lengket lemas, ia tak dapat bergerak.

"Pencuri. Hendak mencuri mawarku!" bentaknya, membuat Seokjin meringkuk ketakutan.

Sang monster memicing. Melihat lelaki manis itu meringkuk ketakutan menabrak dinding. "Kau lelaki yang di tolong Jungkook?" Seokjin dengan sisa rasa takutnya mengangguk ragu tanpa berani menatap monster di depannya. "Pergilah sebelum aku memakanmu. Ggwaaak." Aungan itu begitu menakutkan. Seokjin segera berlari keluar, dengan kakinya yang lemas bergetar luar biasa.

"Setidaknya aku sedang tak ingin membunuh manusia."

.

Semua terjerembab terdorong tepat setelah pintu besar itu di buka dengan kasar. Mereka dapat dengan jelas melihat bagaimana Seokjin, si harapan mereka itu lari ketakutan. Mereka yang notabennya benda, tak dapat berlari secepat Seokjin.

Mereka semua memekik saat tanpa di duga Seokjin terpeleset di anak tangga, berguling dengan cepat.

"Namjooooooooon!"

Dan layaknya secepat kilat, Namjoon kini telah menangkap Seokjin sebelum manusia itu terus berguling pada anak tangga. Darah mengucur deras di dahi dan lengan Seokjin. Berlari membawa Seokjin ke ruang timur, dimana awalnya Seokjin tertidur. Memanggil si Jongin yang berubah menjadi patung burung yang bisa terbang untuk membawa Jimin dan beserta pegawainya yang lain untuk mengobati Seokjin.

"Seharusnya aku tak menjadi piano! Ini berat! Tak ada yang bisa membawaku!" Yoongi meraung dramatis sambil berlari menuruni tangga. Karena ia juga ingin segera menolong Seokjin. Melihat Hoseok dan Jimin di cengkram oleh Jongin membuatnya iri.

"Jisoo, Chanyeol, Seokmin, bantu kami." Dan semua ruangan mulai ramai bergerak. Mereka datang dari luar, dimana mereka beristirahat dan bersembunyi.

Semua bergerak cepat, dengan Chanyeol yang menjadi topi itu segera membalut Seokjin dnegan bantuan Jimin dan Baekhyun yang menjadi burung pembersih.

Dan Namjoon hanya berdiri jauh dari sisi ranjang. Menatap Seokjin dengan pandangan tak terbaca. Sedikit mundur saat gerudukan Yoongi datang dengan omelan. Lalu pergi setelahnya.

.

.

Taehyung menghela nafas lelah dengan terus mengelus punggung Jungkook. Sementara Yoongi dengan sisa tenaganya memainkan musik dengan nada acak. Tak ada yang mengangkat wajah, mereka terlalu lesu. Bahkan Chanyeol tertidur di lantai.

Kini mereka begitu mengkhawatirkan kondisi Seokjin dan mulai tak berharap banyak. Mereka tahu ini tak akan mudah, melihat Seokjin yang ketakutan adalah hal wajar dan mereka memaklumi. Mengikhlaskan jika saja Seokjin bukanlah penolong mereka.

"Berikan dia ini. Akan cepat sembuh." Semua kepala menoleh. Melihat sang Monster Namjoon dengan semangkuk ramuan, meletakannya dengan kaku lalu pergi dengan terburu-buru.

Dan semua pasang mata di dalam sana saling bertatap setelah Namjoon pergi, menimbulkan seulas senyuman penuh haru.

Seokjin orangnya!

Mereka begitu yakin hingga tak akan melepaskan Seokjin.

.

.

.

yah segitu doang. ga niat tbc emang. tp nnti kepanjangan :(