sungmin POV
Aku tidak tahu jalan yang aku ambil ini benar apa tidak,
Karena aku semua keputusan akan ada akibatnya, terutama untuk orang yang aku sayangi, kyuhyun.
Saat aku terbangun dan melihat tubuhku sendiri terbaring lemah dan tak berdaya, saat itu pula aku sadar kalau selama ini aku terjebak dalam masalah yang cukup rumit.
Kelahiranku akan membawa bencana, aku tahu itu.
Saat usiaku menginjak 5 tahun didunia sana, terjadi rapat besar dimana semua tetua malaikat putih berkumpul. Dan mereka memutuskan untuk menurunkanku ke bumi lebih tepatnya dilahirkan kembali menjadi manusia. Itu semua untuk menghindari takdir. Takdir yang seharusnya memang terjadi. Memang takdir itu tidak sesuai dengan rencananya, tetapi takdir itu sudah terlihat sekarang dan benar terjadi.
Didalam jantungku, terdapat permata kehidupan. Permata dari seorang putra raja penguasa kegelapan. Karena saat aku terlahir aku tidak memiliki detak jantung yang normal dan diramalkan tidak akan bertahan hidup lebih lama. Tetapi ada cara lain untuk membuat aku hidup, dengan permata itulah.
Permata itu hanya bisa didapatkan di negeri kegelapan dan Cuma orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya. Bisa dikatakan batu itu langka, dan yang tersisa hanya beberapa buah saja. Dan yang beruntung memilikinya adalah raja itu sendiri. Namun batu itu sudah ia gunakan untuk anak semata wayangnya Guixian agar anaknya tidak akan pernah bisa mati dengan cara apapun atau bisa dikatakan immortal.
Sempat terjadi perdebatan didunia atas karena batu itu, karena sudah muncul ramalan bahwa aku akan membawa bencana. Satu-satunya cara adalah membiarkan aku meninggal, tetapi takdir berjalan tanpa memperdulikan cara dan jalan apa yang akan ditempuh.
Guixian yang saat itu berusia 10 tahun datang dan menggenggam tanganku yang masih bayi dan tak berdaya itu sambil memohon untuk membiarkanku tetap hidup. Ia merelakan batunya untukku. Itulah cerita orang tuaku dulu.
Sungmin POV END
Guixian POV
Flashback ON
Pertengkaran, itulah yang aku dengar saat ini.
Mereka berdebat, hingga tubuhku bergetar. Aku benci semua teriakan itu. Dan lebih membuatku jengkel adalah mereka menyebutkan namaku. Apa yang salah dengan diriku hingga diberdebatkan seperti itu.
Terlintas dibenakku kalau itu semua berhubungan dengan batu permata yang ada ditubuhku. Tidak lama setelah pertengkaran itu, ummaku datang dan bertanya bagaimana jika batu itu diambil dariku, apakah aku mau untuk menyerahkannya untuk seseorang yang belum aku kenal.
Jujur aku tak masalah jika tak bisa hidup lebih lama, asal tidak adahal buruk terjadi di kerajaan kegelapan ini. Toh masih banyak cara untuk menjadi immortal, begitulah yang aku baca diperpustakaan kerajaan beberapa waktu lalu.
Aku masih belum bisa memutuskannya, dan waktu yang diberikan untukku berfikir hanya beberapa jam. Hingga seseorang berbaju serba putih dan bersayap putih datang menemuiku memohon dan menangis tersedu demi anaknya bertahan hidup. Saat itulah aku tahu, bahwa permata yang aku miliki akan diberikan kepada klan yang berbeda denganku. Aku mulai memahami usul pertengkaran yang terjadi.
Saat semua pihak berkumpul (klan putih dan kegelapan) dan menanti keputusan dariku yang masih kecil pada saat itu.
Ummaku dan sesosok bersayap putih, lebih tepatnya umma dari seseorang yang akan menjadi calon penerima batu permataku itu menggandengku untuk melihatnya.
Semakin dekat,
Jantungku berdebar,
Pipiku bersemu merah, dan
Tiba-tiba aku tersenyum
Itulah perasaanku saat aku semakin dekat dengannya, sungmin….
Nama bayi itu sungmin.
Mata foxy itu menjeratku,
Ia memandangku,
Aku bisa merasakan ada yang salah dengannya
Jantungnya,
Berdetak tak beraturan,
Aku harus menyelamatkannya,
Saat aku menggenggam tangannya, aku merasakan kesedihan yang mendalam jika aku harus kehilangannya. Aku rela berkorban untuknya.
"kau milikku" ucapku sambil mengecup lembut bayi itu
Keputusanku sangat bulat untuk menyelamatkannya, appaku sempat melarangku dengan alasan bahwa sungmin akan menyebabkan bencana. Namun aku mengatakan dengan tegas, bahwa selama sungmin masih hidup, aku akan menjadi penjaganya hingga tidak akan terjadi bencana .
Ritual itu berlangsung dengan cepat, memecah batu kehidupan itu dan membaginya untuk sungmin.
Dan saat itu aku merasakan ikatan yang sangat kuat dengannya.
Aku tidak bodoh untuk usia yang terbilang masih bocah ini.
Ketika para tetua membelah batu kehidupan itu, aku meminta untuk memecahkannya menjadi 3 bagian. Dan aku menyimpan satu pecahan batu itu saat ini. Permataku yang lain dan aku tahu akan sangat berguna. Yang mengetahuinya hanya beberapa orang saja dan semuanya bersedia tutup mulut karena takut akan kemarahanku. Walaupun aku masih bocah namun kekuatanku sudah melampaui para kesatria disini karena aku terlahir dengan banyak kelebihan.
Satu permintaanku untuk kedua orang tua sungmin saat itu,
Sungmin akan menjadi milikku apapun yang terjadi
Dan mereka menyanggupinya
Orang tuaku menerima keputusanku, karena mereka anggap itu setimpal dengan apa yang aku berikan.
Perbedaan
Aku dan sungmin berbeda, dan karena itu beberapa dari kalangan tetua melarang hubungan ini. Walaupun kedua orang tua kami sudah setuju, tetap saja para tetua tidak mau menerima jika aku dan sungmin bersama.
Saat itu malam bulan purnama, semua berkumpul termasuk aku dan sungmin yang umurnya baru saja menginjak 5 tahun. Aku menggenggam tangannya, ia pun hanya tersenyum dan mengeratkan genggamannya. Mata itu seakan berkata, kalau ia tak ingin berpisah dariku.
Sungmin mempunyai kekuatan untuk merasakan perasaan orang-orang disekitarnya, termasuk mempengaruhi dan perasaan orang lain. Kekuatannya hanya untuk berbuat baik saja, jangan lupakan kalau ia dari kalangan putih, dia tidak bisa berbuat jahat sepertiku.
Ngomong-ngomong tentang kekuatan, aku memang dilahirkan dengan banyak kelebihan dan kekuatan. Salah satunya adalah kemampuan bertarung dan pertahanan diri. Aku juga dapat menyembuhkan luka dan penyakit, namun aku tidak boleh menggunakannya terlalu sering. Karena itu akan merusak batu kehidupanku yang mereka tahu sudah terbagi dua.
Aku bisa berbuat kebaikan dan kejahatan, karena kaum kegelapan terlahir karena kesalahan, jadi kami juga harus menebus dosa para tetua kami dengan berbuat kebaikan, namun kegelapan tetaplah kegelapan, kami masih punya sisi jahat. Dan aku tak mau menggunakannya, demi sungmin aku tak mau membuat sisi gelapku menjadi semakin gelap.
Semua mata tertuju pada sungmin kala itu, mataku memanas. Keputusan sudah diambil. Sungmin harus pergi meninggalkanku.
Para tetua meminta untuk melenyapkan sungmin. Dia terlalu berbahaya ucap para tetua dari kaum kegelapan.
Dan appaku selaku raja kegelapan memandangku sedih, takut untuk melukaiku. Walaupun ia tegas namun ia masih punya kelembutan, terutama itu menyangkut diriku.
Sungmin yang saat itu masih kecil mengerti.
"hyung" tatapnya dengan mata sudah berkaca-kaca, "minie harus pergi?" tanyanya padaku yang saat itu sudah hampir menangis didepannya. Aku harus kuat, itulah penyemangat diriku.
Ada sedikit penyesalan, kenapa aku harus memberikan batu itu kalau masa kehidupan sungmin hanya sampai saat ini saja. Tidak cukupkah aku berpisah dengan sungmin? Haruskah mereka juga melenyapkannya?
Aku tak tau harus berkata apa pada sungmin, yang aku rasakan ia berusaha menenangkanku lewat genggaman tangannya. Ia sepertinya sudah tau jawabannya.
Keputusan para tetua sulit untuk dirubah.
Kulihat orang tua sungmin sudah pasrah akan keputusan yang telah dibuat, dan tak kulihat mereka berdua meneteskan air mata.
Ada yang mengganjal hatiku saat itu, "minie baik-baik saja, minie gak akan ninggalin hyung kok" ucap sungmin tiba-tiba
"hyung tau, minie" aku berjongkok menyamakan tinggi kami, air mataku tak bisa kutahan lagi, mengalir dengan sendirinya, aku tak sadar hingga sungmin menghapus air mataku. "hyung akan menjagamu, melindungimu itu janjiku" janjiku padanya, kukecup bibir mungil itu sesaat. Dan semuanya menjadi gelap.
Saat matahari terbit, aku baru tersadar.
Apakah aku bermimpi? Itulah pertanyaanku saat itu.
Tapi melihat kedua orang tuaku dan para tetua dari klanku berkumpul aku mengerti kalau itu semua bukanlah mimpi.
"dimana sungmin?" ucapku membuat mereka menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan,
"umma, jawablah" pintaku sekali lagi berharap umma mau memberiku satu jawaban pasti, tak peduli kabar baik atau buruk, toh itu semua pasti sudah terjadi mengingat waktu terus berjalan.
"sungmin, sudah tidak ada di dunia kita pangeran" umma mengatakannya sambil memelukku erat, berharap aku bisa menerimanya, aku hanya mengangguk pasrah "kapan? Kapan dia pergi? Masih adakah waktu untukku bertemu dengannya lagi umma?" tidak salah bukan kalau aku masih berharap. Tidak ada jawaban, dan aku mengerti arti diam ummaku dan mereka semua yang ada disini.
Ah.. mereka, mengapa mereka ada disini sejak tadi? Aku baru tersadar, aku terbangun diatas batu ritual. Batu yang digunakan untuk melakukan semua ritual. Tapi ritual apa yang mereka lakukan padaku?
"apa yang kalian lakukan padaku?!" teriakku saat aku menyadari suatu yang menurutku salah ini
"tenang nak, kami tidak akan melukaimu" kata appaku, suara yang tadi terdiam mulai membuka suara "kami berbuat semua ini demi kebaikanmu" ia mendekat sambil mengusap dadaku
Aku merasakannya, sesuatu terukir didadaku. Lambang itu, aku pernah melihatnya, bukankah itu lambang untuk menyegel kekuatan. Tapi, kenapa?
"tak cukupkah kalian semua membiarkanku kehilangan sungmin?!" mataku memanas
"aku ingin sungminku!" aku meneriakkan semua isi hatiku pada semua orang "umma! Kenapa?!"
Ummaku hanya menggeleng dan menghapus air mataku "kau harus bersabar"
"tapi, apa yang salah denganku? Dengan kekuatanku?" lirihku
"kau terlalu berbahaya, pilihannya adalah melenyapkanmu atau sungmin" ucap salah satu tetua
"a-aapa?" aku tak percaya "lalu? Kenapa kalian tak melenyapkanku?! Aku yang berbahaya disini?!" aku semakin marah dengan keadaan ini, dan mengerti. Andai kekuatanku tak tersegel, aku pasti bisa membunuh mereka sekarang, membunuh semua orang yang berusaha memisahkanku dengan sungmin.
"kau terlalu berkorban, cukup dengan batu permata kehidupan itu kau sudah berbuat banyak" ucap appaku. Dan aku terdiam. Menyesali semuanya. Menyesali 5 tahun yang lalu. Tapi aku akan semakin menyesal jika aku tak memberikannya, aku tak dapat melihat senyumnya. Itulah pikiranku saat ini.
Mengingatnya membuatku semakin sesak.
Menurut takdir sungmin akan menyebabkan peperangan, dan itu berhubungan denganku. Untuk menghindari peperangan, salah satu dari kami harus dimusnahkan menurut mereka. Karena kami berjodoh hingga terlalu sulit untuk memutuskannya. Alasan lain diantaranya aku terlalu banyak berkorban, dengan memberikan batu itu, maka mereka memutuskan untuk melenyapkan sungmin, salah satu sumber peperangan yang akan terjadi.
Namun, peperangan tetap terjadi, karena itu takdir.
Posisi sungmin dan aku sangat serba salah. Rakyat negeri putih tidak terima kalau sungmin dilenyapkan. Dan tentu saja rakyat kegelapan membela keputusan yang menguntungkan ini.
Itu semua salah sungmin yang terlahir?
Peperangan terjadi, aku hanya tersenyum miris melihat darah dan mayat dimana-mana. Aku tak dapat berbuat apa-apa karena kekuatan yang tersegel ini, aku tak ingin peperangan ini terjadi, aku tahu karena sungmin pasti tidak ingin terjadi, ia benci darah.
Kedua kerajaan juga tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikan perang ini, mereka beralasan bahwa perintah untuk berperang bukan dari mereka, namun dari rakyat itu sendiri dan juga kata takdir yang harus segera terjadi. Konyol bukan.
Peperangan terhenti tiba-tiba saat muncul cahaya yang sangat terang. Mereka yang berperang jatuh pingsan dan saat terbangun mereka tidak ingat untuk apa berperang. Aneh, tapi aku bersyukur setidaknya peperangan telah berakhir.
"akh.." erangku saat jantungku merasa sakit, mataku mengabur, tetapi aku melihat bayangan sungmin mengulurkan tangannya meminta tolong "hyung.. tolong minie hiks" dan saat aku ingin memegang tangannya jantungku terasa sangat menyakitkan, dan secara reflek tanganku meremas dadaku melupakan sungmin yang membutuhkan bantuanku. Bodoh, aku sangat bodoh.
Aku menangis saat ia menghilang, "kau dimana?" tangisku dan aku memeluk udara kosong berharap ia akan datang lagi.
8 bulan setelah sungmin lenyap dari dunia ini, hidupku merasa kosong. Kekuatanku masih tersegel dan itu membuatku iri dengan sahabatku. Untung saja kemampuanku memainkan pedang masih bisa diandalkan, dan aku juga masih bisa menghilang. Tidak semua kekuatanku tersegel, mungkin mereka tidak ingin aku terlalu capek berjalan, hiburku sendiri.
Saat aku melewati ruangan perpustakaan kerajaanku aku terkejut melihat sinar redup bewarna biru dari salah satu gulungan itu.
Aku mendekatinya, dan membuka gulungan itu.
Diam,
Aku terdiam,
Takdir memang cukup rumit dijalani,
Tapi aku siap untuk menjalani takdir ini, takdirku.
Setelah aku terdiam cukup lama, senyuman yang menghilang dari diriku kembali untuk sesaat. Gulungan itu mangatakan bahwa dunia ini bukan tempatnya saat ini. Bumi, itulah nama tempatnya untuk berlindung saat ini. Ikatan yang sulit terpisah dan akan kembali pada takdir mereka yang akan selalu bersama. Itulah beberapa kalimat yang ada pada gulungan itu.
Cukup beberapa kalimat itu saja aku mengerti, kenapa aku masih bisa merasakan kehadiran sungmin di jantungku, lebih tepatnya batu permata. Kesakitan yang aku alami beberapa saat yang lalu adalah salah satu bentuk interaksi dengan sungmin. Sungmin ingin ia menyadari itu, ia masih ada, didunia lain, bukan disini melainkan dibumi. Pasti ini semua sudah direncanakan, melihat masa lalu terutama saat pengambilan keputusan itu terjadi kedua orang tua sungmin tak menangis dan juga ucapan ummaku yang saat ini aku sadari 'dunia kita'. Benar masih ada dunia lain, dunia manusia yang ada dibumi.
Tak banyak waktu, itulah firasatku saat ini.
Aku menghilang dan bergegas pergi ke kerajaan putih.
Pintu itu terbuka, dan tidak sulit untuk bertemu dengan raja, karena aku sudah dianggap anak mereka sendiri. Mungkin untuk rasa terima kasih telah memberikan batu itu.
Kuberikan gulungan yang aku temukan tadi, dan kulihat wajah sang raja mulai berubah sedikit sendu
"kau sudah mengetahuinya pangeran" ucapnya lemah, aku tetap terdiam menanti kejelasan akan semua ini
"tidak ada jalan lain selain memisahkan kalian, maaf… aku harus melanggar janjiku untuk memberikan sungmin padamu, tapi kumohon jagalah dia, takdir ini cukup rumit dan sulit untuk diartikan saat ini."
"dimana?" itulah yang saat ini harus aku tanyakan
"kau mengetahuinya, cukup gunakan batu itu" aku mengangguk paham
"sebentar lagi, ia akan terlahir. kau harus bergegas sebelum kegelapan mendatanginya lagi"
"apa maksudmu?" tanyaku tak sopan
"apa kau tak membaca gulungan itu sampai akhir pangeran" raja menatapku dengan senyum getirnya melihat aku yang sangat bodoh untuk tidak menyelesaikan membaca gulungan itu.
Hey perlu aku tegaskan, gulungan itu sangat panjang dan kata-katanya sangat membingungkan.
"janjimu, janjimu untuk menjadi penjaganya pangeran" kata raja yang melihatku kebingungan
"tentu, aku akan menjaganya raja" ucapku tegas dan bersemangat kali ini, dipikiranku terlintas aku akan bertemu dengannya lagi
"sungmin akan kembali terlahir menjadi sungmin, namun ia sama sepertimu, tersegel dan juga ia terlahir dengan kekurangan" terang sang raja "dan ia akan selalu terancam oleh kegelapan" lanjutnya.
"a-apa? Kegelapan? Apakah yang dimaksudkan itu aku?" tanyaku menggebu-gebu
"bukan, kau akan tau sendiri pangeran. Segeralah kau turun ke bumi dan mencari tahu tentang sungmin selagi belum terlambat" , ucap raja
"terimakasih" ucapku sebelum aku menghilang
Di Bumi
Cukup sulit menemukan sungmin saat itu, ditengah hujan aku terdiam merasakan aura yang akan menuntunku bertemu dengannya lagi.
Saat aku merasakan kehadirannya aku terkejut, 'anak itu mirip denganku waktu kecil'.
Dua ibu-ibu sedang bergosip di dalam café, salah satunya membawa anak kecil yang berumur sekitar 3 tahun, dan yang yeoja satunya sedang hamil besar. Sepertinya ia akan segera melahirkan. Aura sungmin terpancar dari perut ibu itu, tetapi guixian masih menatap anak kecil tersebut.
"Apakah ini pertanda aku tak bisa bersamanya", lirih guixian, mencoba membaca takdir.
"ingat leeteuk-ah, saat anakmu lahir kau harus menikahkannya dengan anakku, arraseo!" teriak seseorang yang membuat guixian meremas dadanya merasakan sesak karena terlalu sedih mendengar berita itu.
"pasti akan kutepati janji itu heechul-ah" jawab sang ibu sambil meminum hot chocolatenya.
"kyuhyun-ah kau dengar itu? Baby yang ada di perut leeteuk umma harus jadi milikmu ne? kau akan menikah dengannya" ujar heechul pada anaknya, kyuhyun.
Kyuhyun yang saat itu masih kecil hanya menatap ibunya sambil berusaha memahami, tapi tetaplah namanya juga anak kecil, dapat dipastikan kyuhyun tidak mengerti.
'nama anak itu… kyuhyun' batin guixian.
Beberapa saat kemudian, sambil mengawasi kedua yeoja itu bergosip, guixian memiliki ide. Dia memejamkan mata dan berusaha mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. Benar, batu permata kehidupan. 'Kau akan sangat berguna pada saatnya' ujar guixian pada batu permata ketiga yang ia sembunyikan di hatinya. Salahkan otak guixian yang begitu genius bisa menemukan cara untuk menyembunyikan batu itu pada hatinya.
Guixian sadar bahwa ia tidak terlihat, ia mendekati kyuhyun dan membacakan mantra. Sesaat kemudian cahaya biru keluar dari tangannya yang menggenggam batu permata tersebut. Diusapkannya pada dada kyuhyun, tepatnya pada jantungnya. Setelah batu itu tertanam pada jantung kyuhyun, ia merasakan kegembiraan. Entah karena apa, ia merasakan sungmin akan tetap menjadi miliknya.
Senyum guixian menghilang saat petir menyambar tiang listrik yang mengakibatkan aliran listrik sekitar jalan tersebut terganggu. Sebenarnya bukan karena petir, tapi apa yang petir itu bawa. Temannya, lebih tepatnya sahabatnya, kim kibum.
"kibum-ah" ucapnya tak percaya
"oh hai pangeran!" sapa kibum dengan ringan "apa kau juga disuruh appamu untuk melenyapkannya?" tambahya
DEG
"a-aa apa?.. melenyapkan?.. melenyapkan siapa? Dan appa? Appaku?" tangan itu bergertar mengingat kata kegelapan yang ada pada takdir, menjawab siapakah yang akan berusaha memisahkannya.
"ya.. appa-mu, sang raja" jawab kibum "dan tentu saja yang harus dilenyapkan itu pemilih batumu"
Kibum mencoba merasakan keberadaan sungmin dengan mencari batu itu.
"ada yang aneh. Batu itu ada 3 disini. Apa benar yang aku katakan pangeran?" lirik kibum yang melihat wajah pucat guixian dan jangan lupa tanggannya yang masih bergetar
"kumohon kibum-ah, biarkan ia hidup. Aku tau kau sudah mengetahui dimana sungmin berada" lirih guixian sambil menatap perut salah satu yeoja itu.
"kurasa aku akan mengambil kedua batu itu" seringaian muncul dari bibir kibum
"jangan lakukan itu kibum-ah" cegah guixian
"apa kau mau melindunginya? Melindungi keduanya?" Tanya kibum
"ya, aku akan melindungi kedua batu itu, terutama sungmin"
"kau hanya bisa memilih satu orang pangeran"
"tentu saja aku akan memilih sungmin kibum-ah"
"jadi, apa aku boleh mengambil batu yang satunya pangeran"
"tidak! Kau tak kuijinkan untuk mengambilnya. Batu itu milikku. Dan yang berhak mengambilnya hanya aku" Jawab guixian dengan dingin
"baiklah, tapi perintah raja harus aku laksanakan pangeran"
"jangan sekarang, tunggu waktu yang tepat. Kalau kau melenyapkan sungmin sekarang. Itu akan berakibat juga pada ibunya" jelas guixian yang berusaha mengulur waktu
"Kau tau sang raja memang memerintahkanku untuk melenyapkannya, tapii.. aku juga malas untuk melakukannya sekarang, mungkin lain kali saja, untung saja tidak ada batas waktunya. Aku juga malas kalau bertemu denganmu pangeran, apalagi berdebat seperti ini." Jelas kibum panjang lebar
"kau memang yang terbaik kibum-ah" ujar guixian sambil memeluk kibum
"namun jika raja sudah menetapkan waktunya padaku, aku tidak bisa menolak" ujar kibum sambil membalas pelukan guixian
"ne, kibum-ah. Aku mengerti, dan disaat waktunya itu aku tidak akan menghalangimu. Jika itu terjadi kau hanya perlu mengingatkanmu tentang hari ini." Jawab guixian melepas pelukan dan menatap langit yang masih hujan.
"kenapa kau memberikan permata kehidupan pada anak itu pangeran?" Tanya kibum
"karena, jika aku tak bisa memilikinya dengan keadaan seperti maka aku bisa memilikinya dengan keadaan yang lain" jelas guixian
"aku tak mengerti, keadaan? Keadaan apa yang kau maksud?"
"nanti kau akan tau maksudnya sendiri kibum-ah" jawab guixian dan ia tersenyum membayangkan bagaimana jika rencananya berhasil.
-TBC-
Maaf ya yang kebingungan
Tapi sedikit penjelasan, kalau ada beberapa karakter
Sungmin, kyuhyun, dan guixian
Kyuhyun itu yang manusia
Guixian itu bukan manusia ._.b
Sungmin, dimanapun akan tetap jadi sungmin
Selanjutnya akan dijelaskan dicerita-cerita berikutnya
Dan dimohon sekali untuk meriview, untuk kedepannya bagaimana~
Sad or happy ending ._. saya lebih suka para pembaca yang menentukan alurnya
saya juga punya alur sendiri hanya saja takut kalau readers kecewa ._.v
