Deep in Your Heart

SummerChii

.

.

disclaimer: saya maunya mereka milik saya tapi gak boleh :(

.

.

warn: bxb! incest! otw menjerumus!(masih otw) kim!family. absurd, gaje, alur aneh, majumundur/eh/

.

.

.

02. A Lonely One

Kim Taehyung malam itu memanipulasi telepon rumah. Menelepon Jimin tengah malam dan memintanya merapal PR sejarah mereka untuk disalin.

'Taeee~ kerjakan sendiri... kau kan pintarr! Hyung-hyungmu jugaa... aku, aku ngantukk...'

Suara parau Jimin disebrang sana tak membuat Taehyung berhenti.

"Tolong aku... please, Chim... tolong aku! Namjoon-hyung mana mungkin kubangunkan.. dan kau tau Seokjin-hyung galaknya minta ampun."

'Ada jawabannya di buku, Tae... cari-'

"Aku tidak bisa menemukan jawabannya dibuku... tolong aku, Chimchimku, Mochiku, sahabatku tercinta yang paling baik di muka bumi~"

Anak itu dirayu sampai lemas dengan alasan Taehyung akan mati berdiri kalau tidak dapat salinan dari teman masa kecilnya itu. Dan tentu, Jimin mana mau teman masa kecilnya meninggal sia-sia gara-gara PRnya tidak dikerjakan.

Dengan tangan memegang telepon dan satunya diatas kertas, tulisan bak pantat bebek-nya menyalin rapalan mantra Jimin yang sempurna di kertas putih. Dalam hatinya dia sujud sembah meminta maaf pada Im Yoona-saem yang cantik karena dia menyalin PR teman, juga pada ayah-ibunya karena dia kelupaan membuat PR dan terpaksa mencontek Jimin. Kalau sampai besok dia ketakutan dan jadi gemetar, dia sudah berjanji akan mengaku.

Setelah selesai menyalin semua dikte Jimin ke kertas putih, dia mengucapkan selamat tidur dan terimakasih banyak sekali. Bahkan Taehyung terus mengatakan kalau Jimin itu seperti ibu peri walau sang empunya suara sudah jijik mendengar ocehan kawannya.

Selesai bicara, Kim Taehyung menyalin PR nya dengan hati-hati dan merubah beberapa kata disana agar tak 100% mirip. Dia diajari trik begini sama Namjoon-hyung, kata dia, teman-temannya banyak yang melakukan hal ini kala mereka meminjam tugas hyungnya itu.

Taehyung menyelesaikan PR nya hampir jam tiga.

Dan dia langsung melompat ke kasur dengan senangnya karena berhasil membuat PR tanpa diketahui mencuri telepon rumah. Ini pasti anugrah Tuhan buat anak baik sepertinya.

BRUKK

Suara itu membuat Taehyung menerjapkan matanya.

Ada sesuatu yang jatuh kebawah.

Bocah itu awalnya takut, tapi rasa penasaran membunuhnya. Dia mengintip ke arah jendela besar kamarnya yang masih tertutup, dan mendapati selimut serta sprei menjuntai kebawah dari jendela sebelah. Sebuah tas hitam besar teronggok seperti sampah dibawah sana.

Lalu dengan hati-hati, Taehyung melirik ke jendela kamar kakaknya.

Benar saja, sudah dibuka dan hyungnya sudah menjuntaikan kaki kebawah.

Tanpa pikir panjang lagi, bocah itu langsung lari keluar kamarnya dan turun kebawah. Kakinya dia pacu cepat-cepat dan sehening mungkin.

Sesampainya di kamar kakak keduanya, dia langsung mendobrak masuk tanpa ketukan, menepuk punggung Namjoon yang tertidur sampai si jangkung itu membuka matanya kaget.

"Hyung! Hyung! Jin-hyung mau kabur!"

XXX

Itu kejadian dua atau tiga jam yang lalu.

Sekarang Taehyung ada di mobil. Ayahnya menyetir seperti orang mabuk dan ibunya diam didepan dengan raut tegang.

Dalam hati kecilnya dia merasa berdosa sedikit.

Beberapa menit yang lalu, pihak rumah sakit menelepon rumah. Teleponnya ada di kamar Taehyung dan anak itu yang mengangkat, syok, lalu memberinya pada sang ibu yang terkantuk-kantuk. Tak ada lima menit memegang telepon, wajah eommanya menjadi sangat panik. Wanita itu langsung membangunkan appanya.

Dan dia memaksa ikut mereka walau dia tak tau pergi kemana.

Sekitar lima belas menit perjalanan, dia sampai didepan gedung putih. Taehyung kenal jelas ini rumah sakit.

Pikirannya langsung kalut.

Dia semakin merasa bersalah. Harusnya tadi dia membangunkan appanya saja untuk mengejar Seokjin, jangan mengusik tidurnya Namjoon. Kalau sampai terjadi sesuatu yang gawat pada kedua hyungnya, Taehyung sudah bersumpah akan mewafatkan dirinya saja.

"Ah, tuan Kim... putra anda ada didalam."

Saat suara perawat menggema, Taehyung langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mendapati namja jangkung itu duduk didalam sebuah bilik yang ditirai hijau.

Wajahnya penuh lebam dan kapas yang dibasahi obat merah. Beberapa medis sedang merawat lukanya. Dia langsung menatap sang ayah tepat di mata. Rasa bersalah menusuk mata marah dan khawatir dari sang ayah.

Tapi appanya langsung menelan emosi dalam-dalam saat melihat dokter pribadi Namjoon ada disana dan sedang menempelkan stetoskopnya di dada namja itu. Kerut kesal dan cemas tak hilang dari kepala dokter beruban yang merawat kakaknya sejak kecil.

Selang berapa menit, dia melepas stetoskopnya. Dan menatap sinis pada Kim Namjoon sendiri.

"Anakmu hebat, tuan Kim. Dia tahu tidak boleh beraktifitas fisik berat-berat, tapi barusan dia menghajar dua preman mabuk."

Dokter tua itu menghela napas lelah, mengurut pelipisnya.

"Yang satu kepalanya bocor, satu lagi dapat empat belas jahitan diwajah dan babak belur. Oh, anakmu yang lain sedang tidur disebelah sana. Gegar otak ringan dan memar-memar. Lalu anak ini..."

Dokter Jung menjabarkan semuanya sampai akar-akar tanpa diminta. Pria tua itu cepat naik darah dan penyebab utamanya, seperti biasa, pasien mudanya yang otaknya miring ini. Nada sarkas tak luput dari tiap untaian katanya.

"...mau ditahan aparat polisi kalau dua orang yang dia hajar itu tidak terbukti bersalah."

Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melotot pada Kim Namjoon. Pun juga ibunya, juga ayahnya.

Sementara anak itu diam ditempatnya dengan santai seakan ditahan polisi bukan ancaman negara ataupun kata-kata yang menyerang keamanannya. Dia tetap duduk tenang, biar bibirnya makin kehilangan warna. Menatap tirai disebelah kanannya intens, dengan nafas pelan yang berat.

Dokter Jung memijat kepalanya sekali lagi sambil mengambil papan jalan yang dia taruh di nakas samping ranjang namja itu.

"Soal Namjoon, baiknya kalian ikut ke ruanganku untuk membicarakan kondisinya."

Lalu ketiganya pergi, meninggalkan Taehyung dan Namjoon yang hanya berdiam diri berdua. Dokter Jung sempat meminta sang adik untuk membujuk pasiennya itu berbaring, kalau bisa tidur. Tapi Taehyung hanya menunduk menanggapi pria itu. Dia hanya bisa diam, hatinya terlalu kacau. Ini semua salahnya. Mana mungkin dia bisa tenang?

Namjoon menepuk bahunya. Taehyung pikir hyungnya itu akan menenagkan dia.

Tapi tidak.

Namja itu bertumpu pada bahu sempit Taehyung, menapakkan kakinya yang membiru ke lantai. Dinginnya granit menyapa saraf sensorik pada telapak kakinya yang tak beralas.

Tidak sampai dua menit berdiri, tubuhnya limbung.

"H-hyung.."

"Gwenchana, gwenchana. Aku hanya pusing sedikit, Tae."

Taehyung memegangi lengan hyungnya, menatapnya cemas dan langsung menarik troli iv-nya agar bisa mengikuti pergerakan namja Kim itu.

"Hyung.. Jung-ahjussi bilang kau harus berbaring- hyung! Mau kemana?!"

Taehyung menatap dalam iris kecoklatan Namjoon, mengenggam lengannya kuat-kuat dan berusaha menahannya. Tapi Namjoon tidak menggubrisnya barang sedikit saja.

"Hyung-"

"Jin-hyung sendirian."

XXX

Dua hari berselang dari malam itu.

Seokjin sudah pindah ke ruang rawat biasa. Dan Namjoon masih sama, tidur disamping ranjang Seokjin biarpun setiap pagi dia akan mendapat ocehan dari dokter pribadinya sendiri. Dia akan tetap bersikukuh menginap di rumah sakit walaupun paginya dia harus pergi sekolah.

Dan Seokjin masih tidur.

Tidak. Dia sempat bangun sebentar tengah malam kemarin, tapi berlanjut tidur lagi sebelum Taehyung sempat memanggil orangtua mereka. Dokter menyatakan kalau namja itu sudah baik-baik saja. Hanya sakit kepala hebat yang akan menerjangnya saat bangun nanti. Benturan yang kemarin itu sangat kecil kemungkinannya untuk membuat dia lupa ingatan atau cacat fisik lainnya.

Sorenya, Seokjin bangun total dan langsung mendapat serangkaian tes yang membuatnya jengah. Hampir semua hal dia ingat kecuali malam itu, saat dia dihajar dan menghajar dua orang. Yang diingatnya, dia lari dari rumah dan Kim Namjoon mengejarnya. Lalu dia tidak tahu apa-apa lagi.

"Apa aku terjatuh? Kecelakaan? Ditabrak?"

Dokter yang menangani namja itu hanya bisa terdiam mendengar Seokjin berhenti cerita dan malah balik bertanya. Dokter muda itu menoleh pada kedua orangtua pasiennya dan meminta izin keduanya untuk memberitau sang anak.

"Kau dikeroyok preman, Jin."

Sang ibu yang menjawab, mengatakan seluruh kejadian yang dia tahu dari Namjoon dan hanya mendapat respon 'oh' dari putranya yang tak ada minat menatap sang ibu. Dia bahkan hanya diam dan memalingkan wajahnya, menatap sinis jendela kamarnya sendiri.

Dia tidak peduli dengan ibu tirinya yang bercerita atau apalah itu. Juga tidak peduli ucapan syukur yeoja disampingnya karena Seokjin sudah selamat.

Rasanya dia melupakan sesuatu.

Ah, tapi apa pedulinya?

Dokter muda tadi meninggalkan ruangan dan membiarkan keluarga itu berbincang. Ini pertama kalinya sang ayah menjenguk pasiennya sejak dua malam lalu.

Tidak berapa lama, ayahnya berkoar.

"Dasar anak tidak tahu diri! Hanya bisa cari masalah terus saja! Merepotkan!"

Pria paruh baya itu memijat pelipisnya, menatap Seokjin yang masih diam sambil tersenyum sinis. Dia tahu ini akan terjadi, dan dia sudah biasa dihina semacam ini. Ini belum hujatan apa-apa buatnya.

"Kau tidak tahu betapa malunya aku saat rekanku bilang kalian berulah. Jika saja bukan gara-gara kau lari dari rumah, semua tidak akan begini!"

Ya. Penyiksaan batinnya baru akan dimulai setelah ayahnya-

"Untung saja Namjoon ada waktu itu."

-menyebut Kim Namjoon.

Sumber sengsaranya selama ini. Kim Namjoon. Entah ada dimana dia, tapi Seokjin tidak suka fakta kalau mereka berdua masih hidup. Jika dia masih belum bisa mati, dia meminta pada Dewa untuk memanggil Namjoon terlebih dahulu dengan cara paling menyakitkan. Biar anak itu tahu rasa bagaimana rasanya sakit sampai mau mati.

Jika Namjoon tidak mati, baiknya dia saja yang mati agar semuanya tidak rumit.

"Kalau bukan gara-gara ulahmu itu, Namjoon tidak akan sampai diinterogasi. Kalau bukan karenamu juga dia tidak akan cedera sampai begitu! Kau tahu adikmu sakit-sakitan dan sekarang kau tambah lagi dengan ulah barbarmu itu! Ayahmu ini aparat negara, tapi anaknya malah bertingkah seperti preman! Aku malu punya anak sepertimu! Kau-"

"Lalu kenapa menolongku?! Untuk memakiku karena Namjoon sekarat, dia ditahan polisi, dia tergores?! Belum cukup aku dimaki satu sekolah karena ada pelacur dirumah kita?! Belum cukup-"

PLAKKK

"Jaga bicaramu, Kim Seokjin!"

"Tidak. Aku tidak akan berhenti. Aku akan mengoceh sampai mati biar kamu puas!"

"KIM SEOKJIN!"

Sang ayah mengangkat tangannya lagi, membuat Seokjin menutup mata. Ini tamparan kedua dan pastinya akan sakit, mengingat yang tadi saja masih perih dan membekaskan pening dikepalanya.

Tiga detik, lima detik.

Tidak ada kulit yang menyapa pipinya. Hanya angin. Saat dia membuka mata, sosok tinggi itu langsung ada didepannya.

Kim-bukan. Namjoon sedang menahan tangan ayahnya.

Dia tersenyum lembut, dan itu saja cukup untuk membuat pria paruh baya dihadapannya menarik tangan dan meredam emosi dalam-dalam. Mau seberapa keraspun sang ayah, dia akan begitu lembek pada anak-anaknya. Dan itu membuat Seokjin mual.

Sorotnya masih sama, tenang dan lembut. Dan Seokjin benci dengan hal semacam itu.

"Bahkan dia masih sempat membelamu! Berterimakasihlah padanya, Seokjin!"

Dan ucapan itu membuatnya semakin sakit.

Ayahnya tidak mengerti dia. Tidak. Pria itu tak mengerti apapun. Dia tidak tahu apapun, yang dia tahu hanya istri barunya dan anak-anak barunya. Tidak tahu Seokjin, atau ibunya, atau hidupnya. Tidak tahu.

Seokjin baru saja ingin membuka mulutnya sebelum kata-kata bapaknya itu menohok dia dititik terdalam.

"Aku menyesal punya anak sepertimu... Kim Seokjin."

Cukup.

Sudah cukup semuanya. Sudah cukup dia menelan semuanya.

XXX

"Jihye-ah.."

Wanita itu masih diam saja dan menundukkan kepalanya, sedikit terisak dihadapan pria yang lebih tua dua belas tahun darinya itu. Dia tidak pernah menyangka kalau perbuatannya dulu akan berakhir seperti ini.

"Mianhae... kalau bukan karena aku, mungkin Seokjin tidak akan sampai sebegininya... aku.. gagal. Sungguh... aku minta maaf."

Yeoja berusia tiga puluh itu masih terisak, menutupi wajahnya dan menyesali perbuatannya yang terlalu bodoh dulu. Perbuatannya dan segala kesalahannya pada putra tertuanya itu.

Sungguh, baginya Kim Seokjin sama seperti Taehyung, sama juga seperti Namjoon. Sama rata dia mengasihi mereka bertiga. Biar dia memang paling memperhatikan Namjoon, tapi dia tak membedakan ketiganya. Sungguh.

"Jangan menangis. Tidak apa... Seokjin bukan kesalahanmu. Dia seperti ini bukan kesalahanmu, Jihye-ah. Jangan khawatir."

Semua perkataan sang suami mentah di telinga yeoja itu. Dia tetap menangis dalam pelukan namja itu, disisi tembok koridor rumah sakit yang gelap. Matanya terpejam, dengan dada yang terasa sakit mengingat dosanya dimasa lampau.

"Kalau waktu itu aku tidak datang... mungkin kalian masih baik-baik saja... mungkin eonni masih baik-baik saja. Mungkin Seokjin tidak akan jadi seperti ini, oppa... maaf... maaf-"

"Bukan salahmu. Apa yang terjadi pada Hana itu bukan salahmu. Seokjin memberontak juga bukan salahmu, chagi..."

Acara tangis-menangis itu masih berlanjut sampai sang ayah dipanggil rekannya. Meninggalkan Jihye sendirian yang tersenyum palsu dan mengatakan dia baik-baik saja, namun kemudian berjongkok menangisi dosanya sambil menghadap tembok.

Didepan ruangan Kim Seokjin, di koridor gelap yang remang cahayanya.

Pada tembok dingin itu, sang ibu mengadu.

Dibalik tembok diujung koridor sana, putranya terpaku. Matanya menyorot datar, tanpa ekspresi.

Hana. Dan Seokjin-hyung.. Sebenarnya siapa... dua orang itu?

XXX

Sudah sering dia katakan dalam hati maupun di bibir tebalnya.

Dia cuma mau mati.

Atau tidak, dia cuma mau Namjoon mati. Selesai.

Tapi kelihatannya, Tuhan lebih sayang pada anak itu daripada dia.

Seokjin tertawa sinis.

Bahkan Dewa juga membela anak itu. Mana bisa menang dia melawan Dewa?

"Aku menyesal punya anak sepertimu... Kim Seokjin."

Fatal. Itu perkataan yang paling menusuk dadanya.

Jelas appanya menyesal punya dia, karena sudah ada Namjoon yang lebih cakap ini-itu daripada dia yang bodoh dan tidak bisa apa-apa. Jelas dia hanya sampah disini.

Seokjin membiarkan kaki telanjangnya menapaki semen kering diatas atap rumah sakit yang agak basah karena hujan, tertawa seperti orang gila dengan setelan kebesaran rumah sakit yang berwarna biru.

Kepalanya masih dibebat perban, dan masih terasa sedikit pening.

Angin malam menusuk punggungnya, menyibak rambutnya yang acak-acakan dan lengan piyamanya yang longgar. Mengeringkan airmata yang mendingin dipipinya.

Dia terlalu bingung. Terlalu pusing.

Terlalu sakit, semuanya.

Kepalanya, tubuhnya, hatinya. Semuanya sakit. Telinganya terus berdengung, merapal perkataan sang ayah akan betapa tak bergunanya ia, betapa dia membawa malu dan sial. Betapa sesalnya pria itu memiliki Seokjin.

Namjoon lebih baik. Namjoon lebih tahu diri walaupun dia adik. Namjoon lebih dewasa daripada dirinya, Namjoon lebih berguna daripada sampah macam dia. Namjoon lebih dan lebih dengan segala keagungannya.

Iri. Benci. Dengki.

Harusnya anak itu dia dorong saja dulu dari tangga. Pembunuh juga harusnya mati dibunuh sebelum dia membunuh satu nyawa lagi, kan?

Anggap saja Seokjin gila. Tapi memang benar, otaknya sudsh rusak karena Namjoon selalu mengambil atensi semua orang darinya.

Jika memang Namjoon mau mengambil semuanya, Seokjin akan berikan sekarang. Sampai sesak dan sakitnya akan Seokjin berikan. Sampai hidupnya juga akan dia berikan.

Matanya yang basah menatap pintu kawat yang memagari sekeliling atap rumah sakit itu. Sebuah kunci melingkar ditangannya, kunci yang diambilnya dari petugas diam-diam tadi.

Seokjin sudah memutuskan, dia akan membuat semuanya menjerit esok pagi.

Biar Namjoon puas mengambil semuanya.

Biar ayahnya lega tidak punya anak seperti dia.

Kakinya dia pacu cepat menuju gerbang surganya yang sudah dia buka itu, tidak peduli bila hujan memperingatinya dengan air yang licin. Seokjin hanya ingin bebas, melompat, terbang.

Dia ingin pulang dan mengadu pada eommanya.

Belum sampai kakinya menapak angin, tangan besar itu menjeratnya kuat-kuat, lebih kuat dari rontaan tubuhnya yang masih lemas.

"LEPAS! LEPASKAN AKU BRENGSEK! LEPAS!"

Ini bukan yang pertama kalinya.

Tidak bisa lepas, dia hanya bisa berteriak. Sampai suaranya hilang. Frustasi, takut. Kesal, benci, marah... sampai dadanya teraduk-aduk. Sampai kuku-kukunya mencengkram lapisan daging yang berdarah.

Dibalik punggungnya dia merasakan pipi itu bersandar, basah. Rambutnya yang basah, punggungnya dan wajahnya. Aromanya yang khas, serta jemari yang tidak pernah berubah. Dia kenal ini semua. Dia kenal orang ini bahkan hanya dengan kulitnya menempel satu sama lain. Bahkan hanya dengan deru nafasnya, Seokjin kenal.

Dia benci.

Dia takut.

Kalau tangan itu tidak mengenggamnya, mungkin dia tidak akan takut atau ragu untuk terjun begitu saja. Kalau orang itu tak mengangkatnya menjauh dari pinggir pembatas, mungkin Seokjin tinggal jadi daging tanpa nyawa dibawah sana dan bebas dari rasa takut.

Kalau bukan gara-gara orang itu, Seokjin tidak akan se-sesak ini.

Sesak. Sampai seluruh suaranya hilang.

"Maaf..."

Sesak sekali saat dia sadar, dari semua orang penting dalam hidupnya, setan inilah yang menggenggamnya paling erat.

"Maaf membuatmu tertekan. Maaf karena aku 'membunuh' eommamu. Maaf karena kau harus berbagi ayah denganku. Maaf karena aku tiba-tiba menghancurkan keluargamu. Maaf... maaf.. maaf karena aku hidup... bahkan setelah semua usahamu, maaf... karena aku masih hidup..."

Seokjin hanya menangis, tidak peduli orang itu mengeratkan pelukan pada pinggangnya dan membuatnya bergelung. Tidak peduli kalau isakkannya terdengar begitu pilu. Dia sudah tidak tahu malu lagi dengan orang itu. Dia sudah tidak peduli lagi jika kukunya merusak jaringan epidermis sosok dipunggungnya.

Biar dia menangis seperti itu. Dia hanya terlalu sesak.

Seluruh frasa kebun binatang maupun penghuni neraka sudah ada diujung bibirnya, siap terlempar pada sosok tinggi yang merengkuh dia kuat-kuat dari belakang. Siap menggores hati namja itu yang bebal dan membuatnya serangan jantung mendadak.

Tapi semuanya terhenti saat dia sadar tangan besar dongsaengnya merengkuh dia begitu dalam, lebih dalam daripada yang ayahnya lakukan. Lebih erat daripada yang ibunya berikan. Lebih hangat dari segalanya, dengan segala ketakutannya dan sesalnya.

Seokjin bisa merasakan itu. Tulus.

"Kau tidak sendirian. Aku disini, hyung. Aku dibelakangmu, pulanglah padaku kalau terlalu berat. Minta padaku maka akan kubela semua kesalahanmu. Tatap aku saat semuanya sangat sakit. Pukul saja aku, tampar, tinju aku dengan tanganmu kalau itu bisa menuai maafmu. Jangan begini. Jangan berpikir pendek. Jangan gegabah. Jangan jadikan aku orang yang membunuhmu."

Buram. Semuanya buram dimata Seokjin. Terlalu banyak airmata yang keluar. Terlalu perih matanya bekerja.

"Berikan aku kesempatan... sampai kau lulus untuk merubah pemikiranmu.Kalau itu tidak berhasil, kau boleh bunuh aku pelan-pelan atau kita bunuh diri sama-sama."

Seokjin tidak tau harus atau tidak memberikan kesempatan. Seokjin tidak tahu harus diam dalam pelukannya atau nekad terjun berdua karena dia tidak bisa melepas tangannya. Dia sungguh tidak tahu harus apa.

Tak berapa lama, dia melepas pelukannya dan menatap dalam netra kecoklatan Seokjin, mengenggam jemari-jemarinya dengan tangan bergetar dan wajah basah air hujan, air mata juga. Dia menatap Seokjin yakin, kemudian senyum mengembang diwajahnya.

"Aku menyayangimu."

Dan Seokjin merasa dihipnotis oleh onyx Kim Namjoon.

XXX

a/n :ini apa ini apa ini apaaaa OAO bisa juga aku menulis yang beginii

maafkan update ku yang lamaa :( aku baru sempat mengetiknya lagi...

mungkin kalian ada yang bertambah bingung? hehehehe, semua nanti akan dijelaskan pelan-pelanterima kasih sudah membaca~

SummerChii

2017. 07.10