SECOND BENCH CH 1
.
.
Baekhyun menangis. Mata dan pipinya memerah. Memeluk lutut dan bersandar pada pojok kamarnya. Sudah tak terhitung barapa kali lelaki itu menghapus air matanya, tetapi sia-sia karena mata sipitnya yang sekarang membengkak itu terus menerus mengeluarkan cairan bening memilukan. Sesekali juga lelaki itu memegang lengan kirinya yang lebam diiringi rintihan kecil akibat kesakitan.
Akhirnya Baekhyun mulai berdiri dan berjalan menghampiri ranjangnya. Bunyi decitan ranjang terdengar kala Baekhyun duduk di pinggirnya. Lelaki itu menyingkap bantalnya dan mengambil sebuah pigura yang terdapat sebuah foto yang telah usang. Mengusap foto itu perlahan dengan lelehan air mata yang mengalir lagi di kedua pipinya.
"hyung, appa, bagaimana kabar kalian? Aku ingin kalian ada di sini, bersamaku. Bukan lewat mimpi atau apapun itu. Aku ingin kalian menemaniku." Lirihnya diiringi semakin deras air yang keluar dari mata sipit itu.
"aku lelah.." Baekhyun menghapus setetes air mata yang terjatuh pada foto yang ada di tangannya.
Foto itu adalah foto ayah dan kakak laki-lakinya yang diambil sekitar tujuh belas tahun yang lalu sebelum terjadi peristiwa paling bahagia dan menyedihkan yang menimpa keluarga Byun.
Setetes air mata Baekhyun jatuh lagi pada foto usang itu.
"maafkan aku hyung, appa. Maafkan aku.. aku tidak bermaksud seperti ini.." isakannya semakin keras. "sungguh, jika aku tau akan seperti ini pada akhirnya, aku rela tak pernah ada di dunia ini."
Bahkan kata-kata lelaki kecil itu sudah melantur seperti orang hilang kewarasannya.
"aku rela tak pernah dilahirkan. Asalkan kalian bertiga hidup bahagia bersama meski tanpa ku, aku rela demi ibu, aku menyayangi ibu ku." Lagi. Menghapus air matanya. "apakah ibu juga menyayangiku?"
Baekhyun memejamkan matanya erat, merasa perih dan lelah. Ia ingin tidur. Berharap kondisi matanya akan kembali baik dan jika bisa, Baekhyun juga ingin Tuhan menjawab bahwa ibu yang disayanginya juga menyayanginya sebesar rasa sayangnya lewat mimpi. Itu harapannya. Baekhyun ingin ibunya menyayanginya, karena hanya ibunya yang ia miliki di dunia ini. Tak ada siapapun lagi.
Baekhyun berbaring menatap menghadap langit-lagit kamarnya sambil mendekap foto ayah dan kakaknya itu.
"apakah aku salah jika menyayangi ibu?" mengerjapkan matanya dua kali. "apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku salah telah ada di dunia ini?"
Baekhyun anak yang taat agama, ia tau betul pertanyaannya yang terakhir adalah kesalahan besar. Tetapi Baekhyun ingin tau, apakah kehadiran dirinya di dunia ini diinginkan oleh orang lain? Meskipun hanya seorang saja, bolehkah ia berharap? Baekhyun lelah, tetapi tak pernah sedikit pun ia mengeluh betapa kejamnya dunia ini pada dirinya. Baekhyun percaya Tuhan selalu di sampingnya. Baekhyun tau Tuhan menjaganya, karena ia fikir, Tuhan sudah membuatnya ada di dunia ini, dan pasti Tuhan menjaganya dengan baik.
Sama seperti saat ia membeli sepatu, Baekhyun sengaja membelinya, membuatnya ada di rumah. Dan pasti Baekhyun akan selalu merawat sepatunya dengan sangat baik. Tak pernah ia biarkan seorang pun membuat sepatunya rusak.
Maka dari itu Baekhyun percaya, Tuhan selalu menjaganya setiap waktu.
Baekhyun anak yang baik, dia religius. Dan dia percaya keajaiban Tuhan.
.
.
.
Satu jam setengah Baekhyun tertidur. Lelaki mungil itu segera beranjak dari kasurnya sambil mengusap matanya yang sudah sedikit lebih baik. Baekhyun melangkah keluar dari kamar dan mendapati ibunya sedang menonton televisi. Baekhyun melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil air minum, karena sejak bangun tidur tadi, tenggorokannya terasa sangat kering. Tetapi siapa sangka saat ia berjalan,tiba-tiba suara ibunya terdengar.
"apakah kau keluar dari kamar karena telah menyadari kesalahanmu?!" ibunya bertanya dengan nada yang tajam.
Baekhyun hanya diam.
"bagus jika kau sudah mengetahui kesalahanmu Baekhyun. Aku harap kau tau diri untuk tidak mengulanginya."
Baekhyun hanya menatap lantai di bawahnya sembari tetap mendengar perkataan ibunya.
Sesaat sebelum Baekhyun melanjutkan langkahnya, wanita itu bersuara lagi.
"sebagai hukuman atas perbuatanmu, cuci semua piring yang ada dan cari makan malam mu sendiri!"
Lelaki itu hanya mengangguk meskipun ia tau betul ibunya tak mungkin melihatnya.
'bahkan ibu tak mau melihat ku.' Batinnya.
Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Saat telah sampai di dapur, lelaki kecil itu mengambil satu gelas bening di atas kulkas dan mengambil satu botol air mineral dingin dari dalam kulkas dan menuangkannya pada gelas. Baekhyun meneguknya dalam empat kali tegukan lalu menutup botol air mineral itu dan ia kembalikan ke dalam kulkas.
Baekhyun mendesah kecil saat kakinya melangkah menuju tempat cuci piring dan menarik nafas dalam. Ia letakkan gelas yang tadi ia pakai ke dalam bak cuci piring itu dan mulai membasahai tangannya melalui kran air yang mengucur. Setelah itu, Baekhyun menuangkan sabun cair ke wadahnya dan mulai mencuci piring-piring yang sebelumnya telah ia basahi itu dengan spons.
Perlahan mengusap piring kotor itu dengan hati-hati. Akan tetapi tepat saat ia mencuci piring yang ke empat, Baekhyun merasakan ada yang berjalan di sekitar mata kakinya. Langsung saja ia melihat ke bawah dan sontak membulatkan matanya kaget. Dengan spontan, Baekhyun menjatuhakan piring yang sedang ia cuci sehingga menyebabkan piring itu pecah berkeping-keping.
Baekhyun cemas bukan main. Dia takut ibunya marah jika mengetahui piring-piring mereka yang terbatas itu pecah satu. Baekhyun dengan cepat memunguti pecahan piring itu dan tanpa sengaja benda tajam itu melukai jari telunjuk dan jari tengahnya.
"aaww! Aishh-" baekhyun meringis kesakitan. Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya datang dari belakangnya.
"astaga Baekhyun! Apa yang kau lakukan pada piring ku?!" wanita itu mendekat dan membuat pelipis Baekhyun berkeringat.
Lelaki itu perlahan berdiri menghadap ibunya.
"m-maaf bu, maafkan aku. A-aku ti-tidak sengaja, sungguh bu."
"Dasar anak tidak becus bekerja! Mencuci piring saja tidak bisa! Kau tidak tau berapa uang yang aku keluarkan untuk membeli satu piring itu dan kau dengan mudahnya merusaknya satu?!"
Baekhyun menunduk dalam. Meremas kuat jari-jarinya yang berdarah di balik punggung sehingga banyak tetes darah yang memenuhi telapak tangan dan kaos bagian belakangnya.
"sudah untung kau ku perbolehkan tinggal di sini, tetapi ini yang kau berikan padaku?! Kau anak tak tau diri Baekhyun!" wanita itu kemudian mendorong Baekhyun hingga lelaki mungil itu terjatuh dengan kepala yang masih menunduk.
"maaf ibu.. maaf.." lirihnya.
"aku tak peduli! Cepat bersihkan ini semua! Dasar anak tak berguna!"
Baekhyun berusaha sangat keras untuk menahan tangisnya. Ia tak mau ibunya akan semakin marah karena melihatnya menangis.
"cepat bereskan itu Baekhyun! Apa kau tak mendengarku?! Kau ini laki-laki! Jangan lemah seperti ini!" bentak wanita itu pada anaknya dan pergi. Namun, baru tiga langkah wanita itu berjalan meninggalkan Baekhyun, ia berbicara perkataan yang membuat Baekhyun sudah tak mampu untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Aku membencimu Baekhyun. Aku tak pernah menginginkan dirimu di dunia ini. Berterima kasih lah pada suami ku. Dasar anak tak tau diri!" kemudian melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.
Baekhyun memunguti pecahan kaca itu dengan hati-hati takut melukai jarinya lagi. Bahkan lukanya tadi belum ia beri obat antiseptic. Meskipun Baekhyun tau mungkin saja nanti jarinya yang terluka akan terkena infeksi.
"ya Tuhan.." lirihnya dengan sedikit terisak. Berdiri dan membuang pecahan piring itu ke sampah belakang rumah lalu kembali untuk mencuci piring.
Baekhyun menghidupkan kran air itu dan membiarkan air yang mengalir membasahi jarinya yang terluka. Menghapus air matanya menggunakan lengan kanan bajunya. Perlahan kembali mencuci piring yang tersisa tiga.
Setelah selesai dengan tugasnya, Baekhyun segera keluar dari dapur menuju ke kamarnya. Tetapi Ia tak mendapati ibunya di seluruh rumah kecil itu sama sekali.
"mungkin ibu mencari makan untuk dirinya." Baekhyun tentu masih ingat apa saja hukuman yang dilontarkan ibunya sebelum ia mencuci piring tadi.
Baekhyun memasuki kamarnya dan mengambil jaket merah tua yang besar di balik pintu kamar lalu memakainya. Berjalan menuju meja belajarnya dan membuka salah satu laci dan mengeluarkan sebuah amplop lalu mengeluarkan isinya.
"hhh…" desahnya saat melihat isi amplop coklat itu.
"uangku habis lagi, apa aku harus kembali bekerja di bibi Shin di pertengahan bulan seperti ini?" keluhnya. Baekhyun menatap dua lembar uang 500 won itu dengan prihatin kemudian memasukkan dua lembar uang itu ke saku jaket merahnya. Kembali meletakkan amplop putih itu ke dalam laci dan berjalan keluar kamar setelah menutup pintunya.
Lelaki itu mencari kunci rumahnya di meja ruang tamu dan berjalan keluar rumah. Menutup pintu dan menguncinya lalu meletakkan kunci perak kecil itu di bawah pot bunga. Baekhyun mengeratkan jaketnya dan mulai berjalan meninggalkan rumah.
.
.
"uhm- bibi, berapa harga ramen di sini?" Tanya seorang lelaki mungil dengan jaket merah kebesaran di tubuhnya.
"kalau ditambah sayur 400 won, kalau tidak hanya 300 won." Jawab bibi tua penjual ramen dipinggir jalan.
"aku pesan ramen tanpa sayur saja bibi, dengan air mineral satu gelas."
"baiklah agashi, duduklah di salah satu kursi itu."
"uh- maaf bi, tetapi saya laki-laki."
Bibi penjual ramen itu membulatkan matanya.
"astaga, ku kira kau perempuan. Wajahmu cantik sekali kkk~"
Baekhyun hanya tertawa menanggapi pernyataan bibi penjual ramen itu.
Beberapa menit kemudian, bibi penjual ramen itu kembali dengan satu mangkuk ramen dan satu gelas air mineral di tangannya yang telah keriput. Melihat itu, Baekhyun langsung berdiri dan membantu bibi itu untuk membawakan mangkuk ramennya.
"terima kasih bi.." Baekhyun tersenyum.
"sama-sama anak muda. Sungguh maafkan aku karena menganggapmu perempuan tadi." Bibi itu tersenyum menyebabkan pipi keriput itu sedikit terangkat.
"hehe, tak masalah bibi, mungkin karena aku terlalu imut kkk~"
"hahaha.. iya kau memang imut sekali. Cha cepat dimakan ramen itu, nanti keburu dingin. Aku tinggal dulu ya untuk melayani pelanggan yang lain." Ucap bibi itu yang akan meninggalkan Baekhyun.
"tentu bi, terima kasih."
"sama-sama anak muda."
Setelah itu, Baekhyun menghabiskan ramennya dengan cepat. Ia tak mau ibunya marah jika dirinya pulang terlalu malam. Akhirnya setelah ramen satu mangkuk itu habis, Baekhyun segera meneguk air mineral di sampingnya.
Baekhyun berdiri dan menghampiri bibi tua tadi.
"berapa harga semuanya bi?"
Bibi tua itu langsung menoleh dan tersenyum kala mengetahui Baekhyun di belakangnya. "350 won saja, aku memberi mu diskon 50 won untuk air mineral itu karena wajahmu kkk~"
Baekhyun benar-benar senang mendengarnya.
"benarkah? Ahh bibi baik sekali! Ini uangnya bi."
"tunggu, aku akan mengambil kembaliannya."
Bibi tua itu mengambil uang kembalian Baekhyun dan segera berbalik ke arah Baekhyun.
"ini kembaliannya nak, cepat lah pulang. Ini sudah malam sekali, pasti ibu mu kuatir anaknya yang imut ini belum pulang malam-malam seperti ini."
"terima kasih bi, baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu ya bi, sampai jumpa!" baekhyun berbalik dan meninggalkan warung ramen itu setelah sebelumnya member dadah kepada bibi tua itu.
.
.
.
"di mana anakmu itu Taeyeon~a?"
"entahlah Jungsoo, mungkin sedang keluar. Sebentar lagi pasti pulang."
Baekhyun mengerutkan keningnya saat mendengar suara seorang laki-laki yang berbicara bersama ibunya. Perlahan ia masuk ke rumahnya dan mendapati seorang laki-laki seumuran ibunya yang duduk membelakanginya.
"permisi."
"ahh itu dia! Baekhyun kemarilah.." ujar ibunya.
Baekhyun perlahan mendekati ibunya dan membungkuk sopan pada lelaki di depannya.
"perkenalkan Baekhyun, paman ini adalah Park Jungsoo." ucap ibu Baekhyun yang bernama Kim Taeyeon itu.
Baekhyun melihat lelaki bernama Park Jungsoo itu dan dibalas oleh senyuman oleh lelaki paruh baya itu.
"dia adalah calon ayahmu Baekhyun, bersikap baiklah padanya."
Baekhyun membulatkan matanya.
.
.
.
.
tobecontinue
.
.
.
.
hai readers~ ini chap 1 nya update! ini masih belum angst banget loh hahaha
btw aku sengaja bikin kty jadi ibuknya bbh, habisnya hubungan itu lebih cocok drpd hubungan dua orang yg pacaran hahahaha...
Oiya, pasti pada nungguin CY kan? hahaha ada yg uda dapet pencerahan CY kapan dan disaat bagaimana akan muncul? :D
btw lagi kalo yg bingung sama 500 won itu seberapa kalo di rupiah-in(?), 500 won itu = 5000 rupiah.. jadi Baek cuma punya uang 10.000 rupiah doang di pertengahan bulan.. ngenes bgt kan diaa? wkwkw.. yaudah btw lagiiii
.
.
REVIEW PLEASE.. I need your opinion to the next story
bye~
