Chapter II : He is my neighbor

BRAAKK!

Sedikit mengejutkan memang. Bahkan suaranya dapat mengalahkan orkes tetesan hujan yang mengalun bagaikan membentuk suatu ansambel ketika bertabrakan dengan atap rumahnyaㅡrumah Jeon Jungkook, atau mari kita sebut rumah barunya.

Jungkook terbaring lemas diatas ranjang kesayangannya setelah beberapa detik lalu menghempaskan tumpukan puluhan buku ke atas meja belajarnya yang malang. Semenjak kepindahannya sepekan yang lalu, jangankan menikmati bersantai dan meresapi betapa nyamannya rumah ini, Jungkook bahkan hanya menyinggahi kamarnya saja saat jam tidur atau sekedar mandi saat pagi hari karena untuk mandi sore ugh sungguh demi Tuhan, Jungkook benar benar tidak sanggup beranjak menyentuh air di cuaca sedingin ini dan sayangnya menyalahkan cuaca juga atas munculnya sifat malasnya bahkan untuk sekedar mandi air hangat, ia malas ㅡ yah ia lelah mungkin alasan yang lebih tepat. Jungkook baru saja pindah ke tempat tinggal barunya, membuatnya juga harus ㅡmau tidak mauㅡ pindah sekolah. Dia siswa yang baru saja memasuki tahun ketiga sebenarnya dan sudah disibukkan dengan tugas dan materi tambahan untuk ujian akhir kelulusannya. Sepekan ini menjalani hari hari awalnya di sekolah baru, dia begitu shock, dikejutkan dengan jam tambahan di sekolahnya yang langsung menyapanya, membuatnya harus pulang selarut ini. Dan oh terima kasih juga untuk tugas tugas yang langsung bertamu tanpa sopan santunㅡyah alasan lain yang membuat Jungkook tidak sempat menghabiskan waktu bersantai dirumahㅡ bahkan untuk sekedar sarapan dan makan malam pun tak sempat ia lakukan dirumahnya. Jungkook siswa baru dan sedikit kerepotan mengejar beberapa materi yang belum sempat ia pelajari di sekolahnya yang dulu, membuatnya menjadi serba buru-buru. Dan jika sudah dalam mode seperti ini, ibunya pun juga akan ikut berubah menjadi lebih sensitif dan mengomel padanya mengingatkan ini dan itu. Ah iya, Jungkook jadi teringat sesuatu, ia belum memberikan salam perkenalan kepada tetangga tetangga barunya. Apa itu perlu? Ibunya terus saja mengingatkan mengenai sopan santun dan kehidupan sosial yang harus terjalin dan terjaga.

Jungkook menghembuskan nafas berat. Mengusak perlahan surai hitam kelamnya menjadi lebih berantakan, terlihat sekali gurat kelelahan di wajahnya. Ini weekend tapi melirik sekilas ke arah tumpukan buku di atas meja belajarnya ㅡ

"Arrghh!" ㅡmembuatnya mengerang frustasi.

Bayangan esok hari minggu mengurung diri di dalam kamarnya, merana terisolasi pun mulai menghantui pikirannya.

Persetan dengan tugas dan catatan, Jungkook ingin bersantai malam ini dan pekerjaannya bisa ia selesaikan besok siang atau malam ah atau malam berikutnya.

Jungkook bangkit dari posisinya. Duduk diatas ranjangnya, masih lemas. Perlahan ia bangun, melangkah gontai atau lebih tepatnya menyeret kakinya keluar kamar. Terus seperti itu, seperti tak ada lagi daya dalam tubuhnya.

Melewati ruang makan, ia menghentikan sejenak kegiatan menyeret kakinya. Ia melihat ibunya tengah berbincang dengan seorang wanita paruh baya terlihat seusia dengan ibunya, sesekali mereka tertawa riang bagaikan sekelompok remaja kasmaran menceritakan keluh kesahnya tentang pujaan hati ㅡ oh, ya ampun pikiranmu, jungkook.

"Kau sudah pulang? Kenapa belum ganti baju dan mandi?" Tegur ibu Jungkook saat melihat putra kesayangannya berdiri termangu entah apa yang ia pikirkan.

Jungkook yang baru saja tersadar dari lamunannya setelah beberapa detik lalu rasa penasaran menggelitiknya tentang hal apa yang ibunya bincangkan dengan teman barunya itu hanya menggeleng pelan dan membalas dengan seulas senyum manis namun masih tampak wajah kelelahan disana. Ibunya sudah paham betul dengan putranya ini. Ibunya tahu benar bagaimana Jungkook sangat keras memaksakan dirinya akhir akhir ini. Hanya menghela nafas sejenak kemudian balas tersenyum kepada putranya

"Ganti pakaianmu, makan lalu istirahat, Jungkook-ah"

Jungkook sekali lagi hanya membalas dengan gerak tubuh, mengangguk pelan kemudian membungkuk hormat saat bertemu pandang dengan teman ibunya yang ternyata memperhatikan mereka sedari tadi, menyapa bibi itu.

"Ah ini bibi Kim, tetangga sebelah rumah kita. Ibu sudah berkali kali mengingatkanmu untuk memperkenalkan diri tapi kau terus saja sibuk memacari tugas sekolahmu itu"

Jungkook mendengus samar, menyembunyikan kesalnya karena menahan malu ditegur ibunya seperti ini di depan orang lain sementara bibi Kim terlihat tersenyum, sedikit gemas dengan wajah tak berdaya Jungkook.

"Halo bibi Kim, maaf belum sempat berkunjung ke rumah bibi" ucap Jungkook membungkuk perlahan, sedikit tidak enak dan merasa bersalah. Bibi Kim hanya tersenyum menanggapi.

"Tak apa, kau bisa mampir saat sudah ada waktu, Jungkook-ah, mampir lah besok, kebetulan Taehyung pulang ke rumah minggu ini. Ah anak itu cuma pulang kalau sedang ada maunya saja. Jadilah teman bermainnya, mungkin Taehyung bisa betah di rumah."

Lagi, Jungkook mengangguk pelan sambil menunjukkan senyum manis yang ikut menampakan gigi kelinci menggemaskan miliknya

"Iya, aku akan mampir, bibi Kim"

Jungkook kembali membungkukkan badannya, berpamitan sebelum melanjutkan langkahnya menuju dapur lalu samar samar terdengar lagi perbincangan antar ibu itu.

...

Malam itu hujan masih setia menemani Jungkook yang terlihat tengah bosan, sekali lagi ia mengerang frustasi, mengacak kasar rambutnya dan meratapi buku buku di hadapannya dan bolpoin yang bertengger manis di antara jari jarinya. Yah sekali lagi, malam yang panjang bersama tugas sekolah. Jungkook benar benar meratapi dirinya sendiri, betapa ia sangat menyedihkan, dikhianati oleh saraf motoriknya yang tak sejalan dengan hatinya. Beberapa saat lalu ia mengumpat dan berencana mengabaikan tugasnya namun buaian buku usang tebal itu membuatnya tak berdaya dan membenarkan perkataan ibunya, "memacari tugas sekolah" lagi.

Jungkook menutup perlahan bukunya dan merapikan barang barangnya, oh atau lebih tepatnya ia hanya menggeser, menyingkirkan benda benda laknat ituㅡ terserah asalkan jauh jauh dari hadapannya, berpikir bahwa ia tak ingin tergoda lagi.

Kini ia hanya duduk diam dengan bertopang dagu diatas meja belajarnya. Menatap ke arah jendela dengan tirai tertutup yang terletak tepat di depan meja belajarnya, berpikir bahwa ia bisa melihat pemandangan malam yang indah dengan taburan bintang sembari ia belajar atau sekedar merilekskan diri dari rasa penatnya. Namun kenyataannya ini musim hujan dan mana ada pemandangan yang indah muncul saat hanya guyuran air yang kau lihat.

Iseng, Jungkook memainkan tali tirainya dan menariknya sampai tirai itu pun tertarik keatas, sedikit kurang kerjaan memang, namun hal itu membuatnya terkikik geli sendiri.

Namun tak sampai puluhan detik, tawa kecilnya seketika menghilang. Bola matanya membulat perlahan dan samar terlihat manik matanya bergetar ㅡ terkesima, terpana, apapun itu.

Tatapannya terpaku pada seseorang diseberang sana, dihadapannya, di salah satu ruangan yang ada di rumah tetangganya. Seorang pria yang juga tengah memperhatikan hujan seperti yang ia lakukan ㅡ oh, ralat, Jungkook sama sekali tak berniat memandang hujan barusan.

Pria itu, dengan diam dan ketenangan, memiliki sorot mata tajam yang bisa menusukㅡ namun Jungkook berani jamin meskipun ia tertusuk sorotan mata itu, ia bersumpah dengan senang hati menerima dan tak akan tertusuk kesakitan. Arah matanya berlanjut memperhatikan keseluruhan visualisasi maha karya Tuhan yang begitu mempesonanya itu. Surai cokelat berantakan namun tetap terkesan halus, membuat Jungkook ingin mendaratkan jari jarinya disana dan menjelajahi rambut halus itu dengan jemari mungilnya. Hidungnya yang mancung membuat imajinasinya bekerja lebih aktif, seperti membayangkan sekali lagi jemari mungilnya bergerak turun mengikuti liuk tulang hidung itu, lalu wajah tirusnya tak ingin ketinggalan untuk ia sentuh, mendaratkan jemarinya, menangkup dengan sentuhan gamang namun tetap terasa kelembutan menyentuh wajah tegas pria itu dan oh jangan lupakan bibir tebal yang terlihat lembut itu, apa yang akan Jungkook lakukan dengan itu? Sepertinya jemarinya saja tidak akan cukup untuk mengagumi dan ㅡ oh shit! Jungkook mengumpat dalam hatinya, merutuki dirinya sendiri. Sekali lagi menelan ucapannya sendiri yang mengatakan tak ada pemandangan indah saat yang kau lihat hanyalah guyuran hujan, tapi ini, makhluk ini, dan yang Jungkook rasakan

Ada apa dengannya? Yah dia memang tak perlu lagi mempertanyakan orientasi seksualnya namun sungguh yang membuatnya kacau adalah ini, ia tak pernah merasakan suatu ketertarikan pada seseorang yang baru ia jumpai seperti saat ini. Tapi ia akui pria itu memang memiliki pesona, oke tak lebih, Jungkook hanya terpesona itu saja dan membuang pikiran konyolnya barusan mengenai imajinasinya terhadap pria yang baru ia temui ini ㅡ tunggu! Baru ia temui?

Jungkook mengedarkan pandangannya ke penjuru kamarnya dan terhenti pada kumpulan post it yang menghiasi dinding kamarnya, salah satu yang tertempel disana ㅡ

"Dingin bagai lentera malam, hangat seperti mentari pagi, kau cahaya dalam hidupku" ㅡ bola matanya bertambah membulat saat mengingat kejadian seminggu yang lalu

"Pria sinting?" Bibirnya menggumam pelan, ragu akan hal yang baru saja ia simpulkan mengenai siapa dan apa hubungannya pria di rumah tetangganya itu dengan pria penuh drama yang ia temui di atas overpass saat itu. Lalu fakta lainnya muncul saat ia teringat ucapan bibi Kim saat di ruang makan tadi, memaksa pikirannya bekerja lebih ekstra ㅡoh, ayolah Jungkook, semua tak perlu serumit ini.

Jungkook menahan nafas, menahan dirinya sendiri untuk tak ribut akan keterkejutannya. Yah, ia yakin mereka adalah orang yang sama, pria yang ia temui di jembatan penyeberangan dan pria yang ia ㅡbegitu lancangnya ㅡ khayalkan dengan imajinasi imajinasi yang ughh.

Mereka adalah orang yang sama dan Jungkook dipertemukan lagi dengan pria sinting penuh drama yang berada di rumah tetangganya ini yang berarti pria itu ㅡ

"Taehyung?" ㅡ Jungkook membungkam erat mulut lancangnya yang dengan seenaknya tak bekerja sama dengan hatinya, sungguh ia lagi lagi dikhianati. Sementara orang diseberang sana entah karena suasana yang tiba tiba sunyi tanpa terdengar suara hujan atau memang ia memiliki pendengaran setajam kelelawar, orang itu menoleh begitu merasa mendengar namanya terucap.

Menatap Jungkook dengan tatapan penuh tanya. Menatap tiap inchi lekuk wajah Jungkook tanpa terlewat sedikit pun dengan pikiran yang menggali jawaban siapa pria dihadapannya yang menyebut namanya barusan, dan apa mereka saling kenal, siapa tahu saja ia melupakannya, namun nihil, ia tak mengenali Jungkook.

Jungkook yang ditatap serius oleh manik hazel dihadapannya itu seketika membeku. Yah benar kan, rasanya ditusuk oleh tatapan itu tidaklah sakit, lalu apa ini? Saat tiba tiba rasa hangat mengalir tanpa canggung di dadanya. Tak sampai menunggu lama, kesadaran Jungkook pulih, kembali merutuki kebodohannya, ia menunjukkan dengan jelas kepanikannya. Merasa tak diberi leluasa untuk mencari jalan keluar terbebas dari tatapan mengintimidasi itu ㅡ atau hanya perasaan Jungkook sajaㅡ ia langsung menjatuhkan diri, bersembunyi di bawah meja belajarnya dengan tangan diam diam terulur, menggapai-gapai konyol mencari tali tirai jendelanya dan langsung menariknya kencang begitu ia dapatkan tali itu. Menutup kembali tirai jendelanya. Menghela nafas lega saat ia berhasil lolos pada akhirnya.

Jungkook mengusap pelan wajahnya, entah apa yang baru saja ia lakukan sampai sampai terasa menguras separuh energinya. Nafasnya sedikit terengah, pikirannya kacau, meratapi kebodohannya kenapa harus bertindak berlebihan seperti itu. Jika dibayangkan dan diingat lagi, semuanya tidak akan menjadi terlalu memalukan seperti ini jika saja dirinya tadi cukup memberikan senyum simpul mungkin ditambah perkenalan atau obrolan singkat sepertinya tidak buruk. Demi Tuhan, ia malu sekali sekarang. Salahkan sorot mata Taehyung yang membuat desiran aneh di dadanya yang juga membuatnya kalang kabut seperti ini. Jungkook bersumpah tidak akan bertamu ke rumah bibi Kim selagi masih ada Taehyung disana. Ah sepertinya Jungkook tak menyadari satu hal bahwa satu-satunya pria penuh drama disini adalah dirinya sendiri.

...

Entah apalagi yang terjadi semalam. Pagi ini Jungkook sudah ditemukan terbaring saja di ranjangnya. Masih tertidur nyenyak rupanya di pagi yang masih menyisakan dingin dari hujan malam tadi. Matahari mulai timbul rendah, mengintip dari ufuk timur, menyingkirkan sedikit demi sedikit bayangan mendung yang juga mulai tertiup hembusan angin pagi perlahan.

Jungkook menggeliat pelan, hanya sedikit terusik saat mendengar suara ketukan pintu tiga kali ㅡmula-mulaㅡ dan menjadi serangan beruntun pada detik berikutnya saat tak mendapati respon berarti dari pemilik kamar.

"Jungkook-ah!" ㅡoh, ternyata mulai lebih dari sekedar ketukan beruntun.

Kali ini bukan hanya sedikit terusik, Jungkook mulai merasakan ini sebagai gangguan. Dahinya mengerut samar, berusaha fokus, menyingkirkan suara berisik yang muncul dibalik pintu kamarnya, ia mengumpulkan konsentrasi penuh, meraih kembali kepingan ketenangan tidur nyamannya yang sempat terpecahㅡ buyarㅡlalu berusaha menyatukannya kembali menjadi utuh ㅡ

"Yah! Jungkook-ah!" ㅡ dan gagal.

Prang! ㅡSeakan letupan imajiner tengah muncul dalam bayangannya, kepingan yang sedari tadi Jungkook coba untuk satukan, kini bukan hanya pecah menjadi kepingan yang dapat disusun kembali melainkan hancur melebur berubah wujud bagai debu yang terhembus begitu saja ㅡ buyar lagi.

Suara panggilan ibunya yang memecah ketentraman pagi ini yang benar-benar syahdu sebenarnya, berhasil membuat Jungkook menyerah. Perlahan ia membuka matanya, mengedip satu dua kali, membiasakan matanya yang sedikit perih dan cukup berat melekat mungkin efek dari tidur yang terlalu nyenyak. Demi Tuhan, Jungkook sudah menyusun rencana yang sempurna untuk hari ini ㅡ tidur nyenyak sampai tengah hariㅡ namun apa daya saat serbuan dari ibunya berhasil menjerat dan menarik Jungkook secara paksa.

Jungkook menyingkap selimutnya, berguling perlahan ke tepi ranjangnya, menapakan kaki polosnya di lantai kamarnya yang dingin namun masih dengan posisi setengah badannya terbaring nyaman di kasur nyamannya. Ia hanya mendengung samar untuk menjawab panggilan membabi buta dari ibunya ㅡhanya imajinasi berlebihan Jungkookㅡlalu perlahan bangun, berdiri dan menyeret kakinya ke arah pintu kamarnya sambil menggaruk pelan sekujur tubuhnya yang sebenarnya tidak gatal ㅡiseng, anggap saja begitu.

Jungkook membuka pintu kamarnya perlahan, mengintip pikirnya, sambil bersiaga akan ekspresi yang akan disuguhkan oleh ibunya dibalik sana, mungkin menakutkan, mengingat berapa lama ia membuat ibunya menunggu.

"Hngg? Ada apa, mom? Sepertinya buru-buru sekali" sapa Jungkook yang lebih terdengar seperti gumaman, menunggu jawaban ibunya, sesekali ia menguap kecil atau sekedar mengucek pelan matanya. Terlihat menggemaskan ditambah rambutnya yang sedikit berantakan dan pipi tembamnya yang sedikit merona alami, seperti balita baru bangun tidur dan menunggu gendongan ibunya.

Sementara itu, dibalik pintu kamar Jungkook yang hanya terbuka kecil, ibunya nampak menunjukan senyum penuh arti ㅡada maunyaㅡ membuat Jungkook yang melihatnya sekilas pun menghembuskan nafasnya berat, kini atensi nya penuh menatap ibunya.

"Ibu membuat muffin cokelat cukup banyak, rasanya tidak akan habis jika hanya kita makan bertiga saja jadi Jungkook-ah, ibu akan sangat senang memiliki anak manis sepertimu yang akan dengan senang hati membagikan muffin ini untuk tetangga baru kita, bibi Kim pasti juga akan sangat senang menerimanya" semua kalimat itu terdengar merayu dan persuasif ditelinga Jungkook pada awalnya, namun begitu mendengar soal tetangga baru, Jungkook jadi teringat pria sinting ㅡ ralatㅡpria mempesona di seberang sana, di rumah tetangganya tadi malam, Taehyung.

Jungkook mengatupkan bibirnya rapat, memikirkan alasan yang tepat untuk menghindar gesit.

"Ngg aku masih ada tugas" ucapnya berkilah lalu dengan kecepatan cahaya berusaha menutup kembali pintu kamarnya namun berhasil dihentikan saat ibunya memanfaatkan celah, menahan pintu dengan mendorongnya tak cukup kuat sebenarnya tapi berhasil membuat Jungkook limbung, efek dari setengah sadar dari bangun tidur sepertinya.

"Antarkan atau ibu bakar semua buku pelajaranmu" vonis dari ibunya, final.

Jungkook tahu ibunya tidak akan benar benar melakukan hal itu, oh ayolah ancaman itu hanya gertakan dari ibunya. Jungkook memilih diam, mengangguk pelan, mengiyakan untuk sementara waktu selagi ia akan memikirkan lagi cara menghindar.

Selepas kepergian ibunya yang kembali menyibukkan diri di dapur, Jungkook pun beranjak ke kamar mandi. Mandi mungkin bisa membantunya menjernihkan pikiran dan menemukan ide cemerlang, pikirnya.

Usai menyegarkan diri, Jungkook pun turun menyusul ibunya. Mengintip penasaran apa yang sedang ibunya kerjakan. Aroma harum menguar, membuai dan menggoda perutnya yang langsung menuntut untuk segera diisi, selalu seperti ini saat Jungkook menemui aroma masakan ibunya.

Ibu Jeon yang merasakan hawa kehadiran seseorang disekitarnya pun menoleh ke sekitar dan menemukan anak manisnya, Jungkook, berdiri mematung dibelakangnya sambil memamerkan seulas cengiran gigi kelincinya.

"Oh, sudah rapi sekali Jungkookie" mendengar panggilan manis dari ibunya, seketika cengiran manis di wajah Jungkook pun meluntur. Ibunya ingin membujuk lagi rupanya, pasalnya si ibu tak pernah memanggilnya semanis ini kecuali jika ada sesuatu yang terselubung.

"Ayo sarapan, setelah itu kau bisa pergi main sebentar ke rumah tetangga kita baru setelah itu menyelesaikan tugasmu"

Ibu Jeon membawa satu mangkok besar penuh nasi goreng kesukaan Jungkook ke atas meja makan, menata rapi peralatan makan lalu menarik Jungkook untuk duduk manis disusul oleh ayah Jeon yang baru saja memasuki ruang makan ㅡentah darimanaㅡ dan menikmati sarapan bersama.

Selesai menikmati sarapan, Jungkook mulai melancarkan aksinya, membujuk atau lebih tepatnya merengek kepada ibunya.

"Ayolah, mommy.."ㅡini juga panggilan sayang dari Jungkook jika sedang ada maunya pada si ibuㅡ

"..aku harus menyelesaikan tugasku, mereka masih banyak dan tidak bisa menunggu" alasan Jungkook, menggunakan tugas yang banyak sebagai kambing hitam padahal tujuan sebenarnya menolak hanyalah kejadian konyol tadi malam yang sebenarnya karena ulahnya sendiri.

"Lagian, kenapa harus membuat banyak muffin kalau sekiranya tidak akan habis dimakan sendiri"

Keluhan Jungkook mencoba lebih meyakinkan ibunya namun lagi-lagi ibu Jeon hanya tersenyum manis

"Kau kan sudah berjanji pada bibi Kim sendiri kemarin, tidak sulit kan Jungkookie, hanya memberikan saja dan menyapa, bibi Kim benar benar ingin kau mampir main kesana, dia ingin kau bertemu Taehyung, putranya, siapa tahu jika mendapat teman sepertimu, Taehyung jadi tidak hobi menghilang dari rumah lagi"

Itu dia masalahnya, ibu Jeon. Jungkook putus asa, menyerah tak tahu lagi beralasan yang bagaimana. Kali ini mendengar nama itu diucapkan, seketika telinga dan debaran jantungnya terusik. Samar rona kemerahan muncul, dan lagi tanpa canggung desiran itu mengalir di dadanya, sungguh malu sekali mengingat kecelakaan semalam.

Dan berakhir seperti inilah, kisah remaja putus asa, mempersiapkan mental untuk menghadapi sesuatu yang membutuhkan tingkat rasa percaya diri lebih tinggi ketimbang saat detik detik memasuki ruang ujian kelulusan ㅡoh, berlebihan lagi Jeon Jungkook.

Jungkook mengetuk pintu rumah tetangganya, rumah keluarga Kim, dengan perlahan. Berharap mereka tidak mendengar dan dia bisa pulang dengan alasan tak ada orang, keluarga Kim sedang pergi berliburㅡmungkin.

Pada ketukan berikutnya, gerak tangannya sukses terhenti, melayang di udara, menatap dengan bola mata melebar dan manik mata bergetar ㅡkali ini gugupㅡpada pintu dihadapannya yang terbuka perlahan. Menunggu siapa yang akan muncul dihadapannya dengan doa yang terus melantun di pikirannya ㅡjangan Taehyung, jangan Taehyungㅡberulang kali tanpa menyadari pula bahwa tangannya pun sampai gemetaran.

"Oh, Jungkook-ah"

Mendengar seruan bahagia dari seorang wanita dihadapannya, hati Jungkook pun ikut bersorak bahagia. Ia menghembuskan nafas lega lalu menampilkan senyum manis andalannya.

"Selamat pagi, bibi Kim."

Menunjukan senyum gigi kelincinya, Jungkook memberikan kue muffin buatan ibunya kepada bibi Kim dan sedikit berbincangㅡsekedar basa basi lalu berpamitanㅡ tidak masalah bagi Jungkook, yang terpenting ia hanya perlu melihat situasi jika ada tanda tanda akan kemunculan Taehyung, ia akan segera pamit pulangㅡkabur maksudnya.

Beberapa menit berlalu dengan aman dan lancar, mereka tetap mengobrol di teras rumah karena Jungkook yang terus menolak untuk diajak masuk dengan alasan hanya sempat mampir sebentar. Dirasa sudah cukup, Jungkook pun membungkuk sopan untuk berpamitan, merasa lega saat semuanya berjalan lancar tak seperti yang ia khawatirkan ㅡhanya dalam harapan Jungkook.

"Jeon Jungkook?"

Jungkook menghentikan langkahnya seketika saat mendengar suara berat yang asing itu memanggilnya. Sedikit ragu, ia berbalik perlahan, membuat alas kakinya tetancap paku sekali lagi pada tempat ia berpijak saat ini, saat ia melihat sosok orang yang memanggilnya. Seluruh sendi tubuhnya mulai kehilangan fungsi, ia melemas, mulai pucat dan segala pengandaian terburuk muncul di kepalanya ㅡoh, apa yang sebenarnya kau khawatirkan, Jeon Jungkook?

Jungkook diam, terbelalak, nafasnya tertahan selama beberapa detik mencuri kesadarannya selama beberapa saat, Taehyung, kali ini pria itu tidak hanya berdiri di seberang kamarnya melainkan dihadapannya.

Lagi, tatapan Jungkook mulai dengan lancangnya menjelajahi setiap bagian pada diri pria di hadapannya ini, kali ini lebih mendetail.

Taehyung, mengenakan celana training dengan kaos santainya, rambut setengah acak ㅡyang membuat Jungkook bersumpah akan menjambaknya suatu hari nanti dengan cara yang sensual, dalam imajinasinyaㅡpeluh samar yang muncul di sekitar leher dan membuat basah pucuk-pucuk rambutnya, membuat poni rambutnya sedikit melekat dikeningnya ㅡ uhm seksiㅡ sekali lagi, Jungkook harus mengakui bahwa dirinya terjatuh lagi pada maha karya Tuhan yang mengagumkan di hadapannya ini. Dan jangan lupakan itu, suara berat yang begitu membuai di telinga Jungkook, ingin mendengar suara itu memanggilnya sekali lagi, astaga apakah manusia dihadapannya ini diciptakan dari candu? Lagi, desiran hangat lolos dari dalam dada Jungkook disertai rona kemerahan yang samar diwajahnya.

Jungkook memejamkan matanya rapat, menggeleng pelan saat ia rasa kesadarannya dikembalikan, membuang pikiran konyol yang selalu muncul bersamaan dengan keberadaan Taehyung di dekatnya.

Taehyung berhenti dihadapan Jungkook. Menatap pria manis itu sedikit bingung, ingin memastikan apakah pria ini baik baik saja.

"Kau baik baik saja, Jungkook-ah?"

Jungkook spontan membuka lebar matanya. Mengedip satu dua kali. Ini terlalu dekat, melihat Taehyung sedekat ini, bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya, Taehyung memang terlihat sedikit terengah. Dan keringat di tubuhnya, membuat Jungkook mengutuki bau maskulin yang menguar menembus indra penciumannya ㅡ memabukkan.

Rona merah kali ini tak hanya muncul samar, melainkan semakin jelas dan menjalar sampai ke kedua telinganya. Jungkook hampir ingin pingsan, keinginan berlebihannya dan pemikiran konyol yang terus saja menyerukan 'kubur saja aku hidup-hidup, Kim Taehyung'.

Merasa tak mendapat respon, Taehyung mulai khawatir kalau Jungkook benar kurang sehat. Ia mengguncang perlahan pundak Jungkook, membuat kesadaran pria manis itu utuh seratus persen. Jungkook mengedip lagi, menatap Taehyung yang berada tepat dihadapannya, begitu dekat. Nafasnya tercekat, suaranya tertahan di kerongkongan bahkan tak sanggup menjawab seruan khawatir dari Taehyung.

"Uhm.." hanya gumaman semacam itu dan anggukan pelan serta ekspresi lucu saat Jungkook membuat matanya sedikit lebih membulat lebar dihiasi tatapan berkilau yang Taehyung dapat sebagai balasan.

Melihat pria manis dihadapannya ini mengedip menggemaskan dan menunjukan senyum canggung, Taehyung pun jadi gemas, hanya tersenyum lembut, menahan diri untuk tidak mencubit pipi gembil milik si manis ini. Ia sudah cukup membuat Jungkook kaget dan ketakutan sepertinyaㅡatau lebih tepatnya terpesona, Kim Taehyung, namun kau tidak tahu.

...

"Harusnya kau mengatakan padaku semalam kalau kau tetangga baru rumah kami. Aku benar benar menyesal tidak menyapamu dengan baik dan mengobrol seperti ini, maaf"

"Bu-bukan masalah kok, ini salahku juga"

Jungkook hanya sanggup mencicit pelan sedari tadi. Entah bagaimana ceritanya, mereka sekarang sudah duduk mengobrol begitu saja di teras rumah keluarga Kim. Jungkook mengurungkan dirinya untuk pulang dan menuruti Taehyung yang memintanya untuk ditemani sehabis kegiatan lari paginya.

Antara gugup berdekatan dengan pria penuh godaan seperti Taehyung dan bersyukur juga sebenarnya karena Taehyung tak mempermasalahkan soal ketidaksopanannya semalam dan malah dengan polosnya ia yang meminta maaf pada Jungkook. Namun perasaan lega Jungkook tidak sepenuhnya bisa menguar, ia malah mati gugup, hilang fokus, kosa katanya pun kacau dan terbata, lagi-lagi harus menahan malu dihadapan Taehyung. Tapi Taehyung dengan santainya memaklumi, toh mereka baru saja berkenalan dan mengobrol seperti ini jadi wajar kalau Jungkook masih merasa canggung, apalagi tadi ia sempat membuat anak manis ini terkejut.

Mengobrol seperti ini membuat Jungkook mengetahui beberapa fakta mengenai Kim Taehyung. Taehyung anak kedua dari dua bersaudara. Taehyung lebih tua dua tahun darinya. Taehyung sudah lulus sekolah menengah tapi tidak melanjutkan ke jenjang kuliah dengan alasan lelah. Taehyung bekerja sebagai fotografer freelance. Fotografi adalah hobinya semenjak sekolah menengah. Taehyung tidak tinggal di rumahnya lagi semenjak bekerja dengan alasan butuh ruang lebih luas untuknya bekerja. Bahkan fakta bahwa Taehyung menyukai makanan manis, Taehyung dapat menghabiskan tiga botol air mineral dalam sekali minum Taehyung menyukai anak-anak, Taehyung menyukai game dan kopi saat weekend, Taehyung.. Taehyung dan Taehyung.

Pikiran Jungkook secara otomatis bekerja sendiri, mengaturnya ke dalam mode mencatat segala hal tentang Taehyung. Ia merasa harus tahu dan mengingatnya baik itu hanyalah hal kecil sekali pun. Namun tetap saja masih menampik rasa ketertarikan yang lebih ini. Ia masih tidak mengakuinya.

Fakta lain yang Jungkook dapatkan adalah mengenai hal hal yang ia simpulkan secara pribadi beberapa saat yang lalu. Taehyung bukanlah pria sinting. Taehyung juga bukan pria penuh drama. Dia tidak payah tapi sangat keren dan mandiri. Lalu tatapannya, memang tajam menusuk ulu hati namun bukan menusuk yang menyakitkan melainkan menyenangkan ㅡhanya fakta ini yang Jungkook temukan benar karena ia sudah mengalaminya sendiri.

Dan satu hal lagiㅡ

"Jika dingin bagai lentera malam itu aku tahu jelas bukan kau, lalu siapa dia?" ㅡ'kau jelas hangat seperti mentari pagi, Kim Taehyung'

Jungkook hanya menggumam pelan sebenarnya, tapi sekali lagi, entah suasana yang memang sepi atau memang pendengaran pria disebelahnya ini yang terlampau tajam. Taehyung menoleh, menatap bingung sekali lagi pada Jungkook.

"Apa maksudmu, Jeon Jungkook?"

'Mati saja kau, Jeon Jungkook dan mulut lancangmu itu' merutuki dirinya untuk yang ke sekian kalinya, menganggap dirinya bodoh tapi apa daya, dia selalu saja ingin tahu dan pria yang ia sangkal telah menarik perhatiannya ini benar benar membuat Jungkook penasaran dan ingin tahu segala hal tentangnya tak terkecuali kejadian di overpass saat itu, apa yang terjadi pada Taehyung? Dan jika memang dia jarang pulang kenapa ia kembali? Benar hanya sekedar kangen keluarga atau seperti kata bibi Kim, Taehyung hanya pulang jika ada maunya? Lalu apa maunya Taehyung? See, Jungkook berevolusi menjadi curious Jungkook dengan tingkat penasaran ratusan kali lipat lebih tinggi jika mengenai Taehyung. Tanpa Jungkook sendiri menyadarinya.

Jungkook bungkam, meremas jemarinya perlahan menyembunyikan kepanikan, berpikir keras mencari alasan dan sebisa mungkin menghindari tatapan Taehyung yang terasa mengintimidasinya lagi seperti malam itu ㅡyang jelas hanya dalam khayalan Jungkook saja yang ia maksud dengan mengintimidasi itu.

Jungkook tergagap, selalu, kapan lidahnya bisa selicin seperti saat ia menghadapi ibunya atau seperti saat ia mengolok Bambam, teman sekelasnya.

'Sungguh, apa yang sebenarnya sudah kau lakukan padaku, Kim Taehyung?'

To be continued..

...

#whisperCorner

Langsung update chapter berikutnya, alhamdulillah

Terima kasih buat yang sudah menyempatkan membaca dan reviewers, terima kasih banyak

Saya sering melihat banyak author yang bilang kalau review pembaca itu bagai penyemangat, dan sekarang saya merasakan sensasinya sendiri kkk

Saya balas reviewnya disini ya

#nuruladi07 : bikin penasaran ya? Hehe maaf ya /peace/ ini diusahakan fast update kok, doakan saja inspirasinya jalan terus. Semoga bisa menyembuhkan penasarannya ya di chapter ini

#kyuusaaa : kamu cenayang ya? Kok tau taetae tetangganya kkk emang gampang ketebak sih, dan untuk school life nya humm di chapter ini terjawab ya, semoga tidak mengecewakan kamu ya

#ainiajkook : ketebak ya? Jawabannya udah ada di chapter ini nih kkk awas ngakaknya jangan lebar lebar, terima kasih udah sempatin membaca dan review, saya jadi tersanjung /numpangngakakdikit/

Btw jangan panggil thor-nim, saya emang kaku orangnya tapi jangan dibikin makin kaku lagi, panggil apa aja, panggilan sayang deh kkk

#milapriscella25 : haduh ampuni diriku~ maaf penggunaan julukan itu karena sepertinya alien sudah umum disandang taehyung, jadi mencoba suasana baru/? /nyengir/

Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, saya usahakan lebih keras lagi membuat yang lebih baik lagi, maaf beribu maaf buat typo yang lolos. Kritik dan saran saya terima. Saya open mind kok.

Sampai bertemu lagi dichapter berikutnya ya