Tittle : Trouble And You
Author : Jungyoungest
Cast : Xi Luhan
Oh Sehun
Kim Minseok
Kim Jongdae
Jung Soojung
Kim Namjoo
Huang Zitao
Genre : comedy, romance
Rated : T
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan seorang staf dari SM harus membujuk sehun seorang pelajar yang berbakat untuk menjadi seorang artis terkenal. Bagi luhan, sehun dan masalah adalah saudara kembar/"kau orang keempat yang datang untuk membujukku xi luhan"/"saat aku melihatmu, Luna, aku jadi teringat dengan luhan. apa kalian kakak beradik"/"kenapa kau selalu datang bersama masalah"/
.
.
.
.
.
My first Hunhan fanfic
Don't be Plagiat othe?
Maaf jika ada kesamaan. Sebagian atau seluruhnya.
Jung gak bermaksud buat plagiat /bow
.
.
.
.
.
Happy reading
.
.
.
.
.
Matahari telah bersembunyi. Kini bulanlah yang menggantikan sinarnya. Ditambah lampu-lampu beraneka warna yang membantu tugas sang pengganti matahari dimalam hari. Kota seoul tampak ramai malam ini. Dari kaca besar cafe yang berada disebelahnya, Luhan bisa melihat beberapa pasangan, keluarga bahagia, ataupun para remaja berlalu lalang diluar cafe.
"Minseok kenapa lama sekali" gerutu Luhan. Luhan menaruh dagunya diatas meja cafe. Sudah hampir satu jam Luhan dan Jongdae menunggu Minseok dan hanya ditemani segeles Milkshake Strawberry. Bahkan mereka meminumnya sedikit demi sedikit agar bertahan lama.
"Minseok memang sedang sangat sibuk akhir akhir ini" Timpal Jongdae
Luhan menghembuskan nafasnya kasar. Diantara mereka bertiga hanya Minseok lah yang sangat sibuk. Jongdae hanya seorang Driver bagi artis SM dan Staff yang mengurusi perlengkapan saat sang Artis yang ingin mengadakan Konser atau showcase. Sedangkan Luhan hanya seorang agen pencari bakat. Kadang, Luhan juga menjadi staff yang mengurusi perlatan seperti Jongdae jika ia sedang tak ada target. Berbeda dengan Minseok yang selalu berkutat di depan monitor komputer. Untung saja Minseok rajin memakan wortel agar matanya tetap sehat.
"maaf aku terlambat" ucap Minseok yang baru saja datang. Minseok duduk disebelah Jongdae lalu tanpa babibu ia meminum Milkshake milik Jongdae yang tinggal seperempat hingga habis tak tersisa.
"ada apa menyuruhku kemari?" tanya Minseok dengan tampang tak bersalah.
Jongdae menghela nafasnya lalu mengelus elus dadanya sendiri. Ia harus sabar demi kelancaran idenya. "Kita akan membantu Luhan menyamar" jelas Jongdae
"Menyamar? Apa ini ada hubungannya dengan targetnya itu?" Minseok Bertanya seraya Meminum Milkshake Luhan yang masih setengah dengan santainya. "sungguh aku haus sekali"
Luhan menatap tak rela kearah Milkshakenya. Rasanya ia ingin menarik rambut Minseok untung saja Jongdae memberi isyarat dengan mulutnya untuk bersabar.
"Iya begitulah. Jongdae menyuruhku menyamar menjadi perempuan" balas Luhan menatap sinis Jongdae dan Minseok secara bergantian. Jongdae karena idenya dan Minseok karena Menghabiskan Milkshakenya.
"Kita butuh pakar dari semua ini" saran Minseok. "aku akan menelpon Nona Jung"
Minseok mengutak atik Ponselnya sebentar lalu mengarahkan ponselnya ketelinganya.
"Yeoboseo Soojung"
"ada apa oppa?"
Minseok meloudspekerkan ponselnya lalu menaruhnya ditengah meja cafe agar Luhan dan Jongdae bisa mendengarnya juga.
"aku butuh bantuanmu"
"apa?"
"pergilah kecafe dekat Gedung SM. Aku akan menjelaskannya nanti"
"Tidak bisa. Aku terlalu lelah"
"yak! Kau bahkan telah berhenti menjadi agen SM. Kau tak punya kesibukan selain bersekolah Soojung" ucap Jongdae setengah berteriak
"aku baru saja selesai latihan perdana untuk debutku oppa sayang"
"Debut? Jangan bilang kau debut bersama F(x)?" kali ini Luhan lah yang berbicara
"ahh oppa pintar sekali"
"kau benar-benar tidak bisa datang Soojung?" Bujuk Minseok
"tidak bisa. Jelaskan saja apa yang bisa aku bantu"
"ini tentang Luhan, Targetnya, dan ide gila Jongdae"
"jelaskan oppa. aku akan menjadi pendengar yang baik"
"Jongdae ingin Luhan menyamar menjadi perempuan untuk memudahkan tugasnya kali ini"
"memasukkan Luhan di sekolah yang sama dengan Sehun juga tidak buruk" tambah Jongdae
"Sehun? target Luhan Oppa Sehun?"
"kau mengenalnya?" tanya Luhan
"Qian eonni dan Amber eonni pernah mengalami pemotongan gaji karena bocah itu" Soojung berucap kesal dari seberang sana.
"Minggu lalu Yifan merengek kepadaku untuk meminjaminya uang karena bocah itu" Timpal Luhan dengan wajah datar.
"Datanglah besok pagi kerumahku. Kupastikan besok Luhan Oppa sudah bisa bersekolah disekolah yang sama dengan Sehun"
.
.
.
.
.
Rambut hitam sedada yang agak bergelombang dibawah dengan bando berwarna biru.
Wajahnya yang polos tanpa make up. Hanya Lipblam saja yang melapisi bibir munginya.
Seragam yang sangat pas dengan tubuhnya.
Tas Biru muda dengan corak bunga berwarna biru tua.
Kaus kaki putih selutut yang berguna untuk menutupi bulu kakinya.
Terakhir, sepatu berwarna biru dengan tali putih.
Luhan memandangi sejenak pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia berputar perlahan lalu tersenyum manis. Ia tak menyangka akan secantik ini. bahkan ia masih pantas memakai seragam Senior High School. Ugh Luhan jadi merindukan teman temannya di senior high school dulu.
Tok Tok Tok
"Oppa, ayo kita sarapan" ajak Soojung dari Luar kamarnya. Luhan sekarang memang berada dikamar Soojung. Tadi Soojung meminta izin untuk membantu Jongdae dan Minseok menyiapkan sarapan untuk mereka berempat. Soojung juga melarang Luhan keluar sebelum ia memanggilnya.
Luhan mengambil botol parfum berwarna merah muda milik Soojung lalu menyemprotkannya di lehernya serta di pergelangan tangannya. Sedikit saja wanginya sudah sangat menyengat. Pantas saja Soojung selalu wangi dimanapun ia berada.
"Oppa kenapa lama sekali huh" omel Soojung
Luhan memutar matanya, malas. Ia memandangi penampilannya sebentar di cermin lalu berjalan menuju pintu.
Klek
Luhan membuka Pintu kamar Soojung secara perlahan. Tampaklah Soojung yang sedang berdiri seraya berkacak pinggang didepannya. Soojung ternyata sudah rapih dengan seragam sekolahnya yang tentu saja berbeda dengan seragam Luhan.
"ayo turun oppa" Soojung menarik tangan Luhan dengan tidak sabaran. Untung saja Luhan tidak terjungkal saat menuruni satu persatu anak Tangga dirumah Soojung.
.
.
.
.
.
Meja makan keluarga Jung bisa terbilang Lumayan besar. Ada tujuh kursi yang mengelilingi meja makan. dua diantaranya kini telah ditempati oleh Jongdae dan Minseok yang duduk bersebelahan. Sedangakan diatas meja makan telah tersaji empat gelas susu, satu botol kaca berukan kecil yang berisi selai strawberry dan beberapa roti yang disusun dan ditaruh diatas piring putih. Jangan Lupakan empat buah piring putih kecil yang ditaruh berhadap-hadapan serta garpu dan pisau kecil yang berada disebelahnya.
"berapa lama lagi kita harus menunggu Luhan dan Soojung? Aku sudah sangat lapar" gerutu Minseok. Minseok memainkan garpu dan pinsaunya hingga menghasilkan sebuah bunyi yang membuat bising ruang makan.
"Sabarlah" nasihat Jongdae. "kau seharusnya diet Kim Minseok. Tubuhnya sudah sangat melar"
"kau tak pernah dengar ucapan seperti 'sarapanlah seperti orang kaya. Makan sianglah seperti rakyat biasa dan makan malamlah seperti pengemis'?" tanya Minseok dengan wajah yang sangat meremehkan Jongdae. "aku selalu melakukan itu setiap hari"
"kau tetap saja melar"
"tapi aku sehat. Sehat itu jauh lebih penting dari segalanya"
Jongdae memutar bola matanya, malas. Minseok memang seperti itu. Minseok itu sangat keras kepala dan tak mau mengalah. Ia akan melakukan segala cara agar ia menang dalam berdebat. Percayalah, berdebat dengan Minseok hanya membuang buang waktu saja.
"Oppa Lihat kemari" Panggil Soojung yang berada beberapa langkah dari meja makan
Minseok dan Jongdae menoleh kearah Soojung lalu mengerjap ngerjapkan mata mereka saat menatap seorang yeoja yang berdiri disebelah Soojung. Yeoja yang berdiri disebelah Soojung tersenyum ramah pada Jongdae dan Minseok. Dan senyum itu terasa tak asing bagi Jongdae dan Minseok.
"bagaimana? Cantik bukan Luhan Oppa?" tanya Soojung. "Luhan Oppa ayo berputarlah dengan anggun"
Luhan mengangguk kecil dan berputar seperti yang diperintahkan Soojung. ia tersenyum manis bahkan sempat mengedipkan sebelah matanya kearah Jongdae dan Minseok. Jongdae dan Minseok dibuat menganga olehnya.
"Lu... Luhan?" Minseok tergagap.
"Panggil aku Luna Oppa. Luna Park" pinta Luhan dengan suara yang amat lembut.
Luhan berjalan menuju meja makan lalu mendudukkan dirinya di depan Minseok. Disusul Soojung yang mendudukkan dirinya disebelah Luhan.
"Jadi.." Jongdae menatap Luhan tajam. "kau benar-benar Luhan?"
"Panggil aku Luna saat aku sedang menyamar Jongdae Oppa" balas Luhan tanpa menoleh sedikitpun kearah Jongdae. Ia terlalu sibuk berkutat dengan roti dan selai.
"Luna? Apa itu juga temasuk idemu nona Jung?" tanya Minseok pada Soojung.
Soojung mengangguk. "aku sudah dengar semuanya dari Luhan Oppa"
"bagus. Kita akan menghemat waktu" balas Jongdae.
"Kata Luhan Oppa, ia hanya punya waktu dua minggu. ia telah menggunakannya dua hari. Tersisa dua belas hari. Sepuluh hari untuk bertempur dan dua hari untuk memetik hasilnya" jelas Soojung.
"bertempur? Aku tidak mau" Tolak Luhan yang merasa merinding saat Soojung menyebutkan kata 'bertempur'
Soojung memutar matanya "itu hanya kiasan Oppa"
"semuanya ada ditangan Luhan Oppa. kita hanya bertugas menutupi identitas Luhan oppa saja"
.
.
.
.
.
Brak
Luhan menutup pintu mobil milik minseok dengan keras. Sang empu yang duduk dikursi kemudi memberikan tatapan horor padanya. Soojung Yang duduk disamping Minseok menurunkan kaca mobil yang disebelahnya lalu menyembulkan kepalanya keluar kaca.
"temui Han songsaenim. Dia akan menjelaskan banyak hal padamu" perintah Soojung.
Minseok menarik tas Soojung agar kembali duduk dengan benar. "kau sudah berkata seperti itu hampir sepuluh kali Nona Jung"
Soojung mendengus. Ia membenarkan cara duduknya. "aku takut Luhan Oppa lupa"
"ia akan selalu ingat karena kau selalu mengingatkannya Jung Soojung" timpal Jongdae yang berada di jok belakang.
"baiklah" Soojung mengalah. "jaga dirimu Luhan Oppa. semuanya ada ditanganmu" Soojung melambai lambaikan tangannya kearah Luhan. Luhan hanya berdehem malas dan membalas lambaian Soojung.
Mobil Minseok pun melaju dan meninggalkannya didepan gerbang sekolah yang pernah dua kali Luhan kunjungi. Luhan membalikkan tubuhnya lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap gedung sekolah yang sangat megah dan besar. bahkan gerbang bercat hitam yang berada didepan Luhan terlihat sangat menakjubkan.
Luhan berjalan perlahan melewati gerbang. Jantungnya berpacu lebih cepat saat ini. hatinya terus saja mencoba meyakinkan kalau semua akan baik baik saja. Tetapi tidak untuk otaknya yang telah terkontaminasi pikiran-pikiran buruk seperti bagaimana jika penyamaranku terbongkar? Bagaimana jika aku dibully dan bagaimana jika aku tak memiliki teman?
Luhan mencoba mengacuhkan tatapan aneh siswi-siswi yang berada dikoridor. Ia tetap melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah barunya sedangkan matanya menyusuri setiap sudut sekolah berharap bisa menemukan ruang guru yang menjadi tujuan utamanya.
Langkah Luhan terhenti tepat saat seorang gadis berambut pendek sebahu menghadang jalannya dengan merentangkan kedua tangannya. Luhan menelan air liurnya susah payah. Terlalu pagi untuk menerima cobaan.
"kau orang baru disini?" Gadis itu menatap Luhan dari atas hingga bawah. "aku belum pernah melihatmu sebelumnya"
"annyeonghaseo. Luna Park imnida" Luhan memperkenalkan dirinya seraya merundukkan sedikit kepalanya. "aku memang siswi baru disini"
"Kim Namjoo imnida" balas gadis itu.
"kau seperti sedang kebingungan. Mau ku bantu?" tawar gadis itu.
Luhan berbinar menatap Namjoo. Namjoo tak seseram apa yang ia sempat kira tadi. mungkin Namjoo akan menjadi teman pertamanya.
"tunjukkan aku dimana ruang guru berada" pinta Luhan
"dengan senang hati tuan putri" ucap Namjoo seraya menarik tangan Luhan untuk mengikutinya
"eh? Tuan putri?"
"kau cantik bagaikan putri di dongeng-dongeng. Wajar saja jika siswi-siswi yang berada dikoridor menatapmu aneh"
"kukira mereka membenciku"
"Selama kau ada disampingku. Mereka tidaka akan berani mengganggumu"
"apa sekarang kita berteman?"
"tentu saja"
Memiliki satu teman baru termasuk awalan yang baik bukan? apalagi teman yang bisa melindungimu dari gangguan siswi serta siswa lain.
.
.
.
.
.
"Ini nametagmu, kunci lokermu, dan jadwal kelasmu" ucap Han songsaenim seraya memberikan barang-barang tersebut satu persatu.
"kamsahamnida Songsaenim" balas Luhan seraya merundukkan kepalanya.
"maafkan aku yang tak bisa menempatkanmu dikelas yang sama dan setingkat dengan Sehun . Tapi kau menempati kelas disamping Sehun. kau ditingkat pertama dan Sehun tingkat kedua"
Luhan mengangguk paham. Itu bukanlah hal yang buruk. "aku mengerti saem"
"tingkat satu kelas B. Jangan Lupa"
"ne songsaenim. Aku permisi"
Klek
Luhan menutup pintu ruang guru dengan perlahan. Matanya membulat sempurna saat menemukan Namjoo yang menyandar di dinding ruang guru seraya memainkan ponselnya.
"Namjoo? Kau masih disini?" tanya Luhan
"aku tak akan membiarkan teman baruku tersesat lagi" balas Namjoo seraya tersenyum. "kau masuk kelas apa?" tanyanya
"tingkat satu kelas B"
"Jinja?"
Luhan mengangguk sebagai jawaban.
Namjoo tiba tiba saja memeluk Luhan erat. "kita sekelas" girang Namjoo seraya melepaskan pelukannya pada Luhan.
"ayo kutunjukkan dimana kelasmu"
.
.
.
.
.
Luhan menatap aneh sekelinglingnya. Ia merasa sangat asing di kantin sekolah barunya. Apalagi ia duduk sendirian karena Namjoo sedang memesankan makanan untuk mereka berdua. Luhan menghembuskan nafasnya lega saat namjoo telah kembali dengan sebuah nampan yang diatasnya ada dua porsi menu makanan yang berbeda dan dua gelas minuman yang berbeda juga.
Namjoo memberikan sepiring bulgogi dan segelas bubble tea taro pada Luhan. "Maaf lama menunggu"
"tidak masalah" balas Luhan
Luhan menatap sepiring bulgogi yang berada didepannya dengan tatapan lapar. roti selai strawberry yang ia makan dirumah Soojung tadi pagi tak berarti apa-apa bagi perutnya.
Drrt
Drrt
Drrt
Luhan menunda acara makannya lalu mengeluarkan ponselnya dari saku roknya yang bergetar hingga tiga kali. Ada tiga pesan masuk dari ketiga temannya. Soojung, Jongdae dan Minseok. Ia membaca pesan dari Soojung terlebih dahulu.
From : Soojung
Semua ada ditanganmu oppa. ingat!
Luhan memutar matanya. Pesan Soojung sangat tidak penting sekali. Bahkan Soojung telah berkali-kali berkata demikian didalam mobil Minseok saat mengantarkannya kesekolah.
Selanjutnya adalah pesan dari Minseok
From : Minseok
Luhan, apa kabar?
Pesan dari Minseok jauh lebih aneh dari pesan Soojung. Walaupun Luhan yakin dibalik pertanyaan itu terselip rasa kekhawatiran Minseok yang tinggi terhadap keselamatan Luhan. Luhan terlalu percaya diri.
Terakhir, pesan dari Jongdae
From : Jongdae
Apa kau sudah bertemu Sehun? katakan jika aku lebih tampan darinya.
Luhan menatap datar ponselnya. Ia lalu melepaskan beterai ponselnya dan kembali memasukkannya kedalam saku roknya. Ini cara yang aman agar terhindar dari pesan-pesan aneh karya teman-temannya. Luhan akan menghidupkan kembali ponselnya saat pelajaran telah usai.
Namjoo yang sedari tadi memerhatikan tingkah laku aneh Luhan memberanikan diri untuk bertanya. "ada apa?"
Luhan menggeleng pelan lalu tersenyum. "hanya sedikit gangguan"
Namjoo menganggukan kepalanya seraya menggumamkan kata 'oh' lalu kembali menikmati makanannya.
"Hey Kim Namjoo"
Namjoo mendongakkan kepalanya lalu tersenyum kearah lelaki yang baru saja memanggilnya. "ada apa oppa? mau bergabung?"
"tidak. aku hanya ingin memberitahu jika hari ini klub musik akan latihan. Jadwalnya diubah menjadi hari ini dan hari sabtu" jelas lelaki berwajah sangar dengan lingkar hitam dikedua matanya.
"ya ya ya Tao oppa. aku mengerti" balas Namjoo. Entah kenapa sunbaenya takut sekali jika ia membolos. Katanya sih tahun depan Namjoo cocok menjadi Kandidat ketua klub musik menggantikan Chorong.
"siapa dia?" lelaki berkulit putih pucat disamping Tao lah yang bersuara.
Namjoo yang mengerti maksud sunbaenya itu menginjak kaki Luhan yang tengah asik dengan dunianya sendiri bersama sepiring bulgogi dan segelas bubble tea taro.
"aww" jerit Luhan tertahan. Luhan menatap Namjoo meminta penjelasan.
"dia siswi baru dikelasku" Namjoo mengacuhkan Luhan dan malah menjawab pertanyaan Sunbaenya. "Namanya Luna" tambah Namjoo
Luhan yang merasa disebut sebut dalam percakapan segera menoleh. Ia menelan Ludahnya kasar saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan lelaki berkulit pucat. Lelaki itu menatap Luhan lekat.
"ayo perkenalkan dirimu kawan" ucap Namjoo seraya menepuk pelan telapak tangan Luhan yang berada diatas meja Kantin.
"Annyeonghaseo Sunbae. Luna Park imnida"
"Luhan?"
"Luna bukan Luhan. ada apa dengan telingamu Oh Sehun?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
Huwee maaf telat apdet ToT
Jung kemarin lagi sibuk mempersiapkan ulangan semester.
Otak Jung juga buntu terus u.u
Mungkin gara-gara kebanyakan belajar *eh
Makasih yang udah mau review, fav or follow
makasih juga yang kemarin memberi masukan tentang huruf kapital ~
jung udah memperbaikinya .-.
Kritik dan saran ditunggu lagi ~
lafyuhhh...
