"Halo, namaku Ochobot. Mulai saat ini, aku akan menjadi pemandu kalian." Ucap nya ramah tetap mempertahankan senyumannya.

"O-Ochobot?"

.

.

Togetherness with Happiness 2
Boboiboy © Animonsta
Rated: T
Warning: AU! Super power! Typo(s)! Boboiboy bersaudara. Adventure! And about family!
Happy reading~

.

.
.

"Sebenarnya kau ini siapa?! Dan apa maksud dari kata 'pemandu' itu, hah?! Kami tidak perlu!" Halilintar telah tersulut emosi. Perlahan percikan listrik muncul di tangannya. Taufan yang melihat hal itu, segera mencegah Halilintar agar tidak melakukan penyerangan.

"Sudah kak Hali, tahan emosi mu. Kau membuat Api semakin takut." Ucap Taufan berusaha menenangkan Halilintar. Itu berhasil, percikan listrik di tangannya mulai menghilang. Halilintar menatap Api sejenak, di lihatnya Gempa yang sedang menenangkan ketakutan Api.

"Lihat apa yang kau perbuat! Kemunculan mu membuatnya teringat memori masa lalu yang tidak seharusnya diingat." Seru Halilintar menatap sinis Ochobot. Ia menghampiri Api yang kini menangis dan membantu menenangkannya. Ochobot terdiam dan menatap seluruh Boboiboy bersaudara bergantian.

"Maafkan aku." Ucap Ochobot lirih dengan suara robot nya. Perlahan, ia melayang mendekati Api. Halilintar ingin menghalangi namun Gempa tidak membiarkan nya. "Biarkan saja." Ucap Gempa tersenyum kecil. Halilintar mendengus kesal dan mengalah.

Api masih menangis dalam pelukan Gempa. Ia menoleh saat sebuah tangan menyentuh bahu nya. Dilihat Ochobot tersenyum dan menepuk kepala nya gemas.

"Kau sangat menyukai manusia, ya? Kau ingin sekali bermain bersama mereka namun kekuatanmu menghalangi nya, kan?" Tanya Ochobot. Api tertegun sejenak lalu mengangguk. Halilintar dan saudara lain nya, menatap Ochobot bingung. 'Bagaimana ia bisa tau?'

Ochobot menjulurkan tangan robot nya lalu berkata dengan suara yang terdengar semangat, "Kalau begitu, mari berbaikan. Aku berjanji akan membuatmu bisa bermain dengan manusia. Bukankah itu gunanya teman."

Api membelakakan matanya terkejut. Teman? Ia bersama dengan saudara nya bahkan tidak pernah punya teman. Pantaskah ia memiliki teman? Pantaskah seorang monster seperti dirinya memiliki teman? Mengapa robot ini menyebut kata 'teman' semudah itu? Pantaskah ia senang sekarang? Seharusnya iya.

Air mata Api mengalir kembali membasahi mukanya. Ini bukan karena kesedihan, tapi karena ia senang. Beginikah rasa nya mempunyai teman? Aku menyukainya, sangat hangat. Api tersenyum lebar disela tangisan lalu menyambut uluran tangan robot itu. 'Kami tak akan sendirian lagi.'

"Tentu saja!" Seru Api kembali bersemangat. Gempa terkekeh pelan lalu menepuk kepala robot itu.

"Ternyata kau tidak jahat. Maaf karena berfikiran buruk tentangmu."

"Tapi tetap saja aku tidak percaya dengan nya." Ucap Halilintar dengan ketus.

"Dasar kakak tidak punya perasaan!" Gumam Taufan diam-diam namun masih terdengar.

"Apa katamu?!"

"Tidak! Aku tidak bilang apa-apa!"

"Pembohong!"

"Aku bukan pembohong! Hanya sedikit..."

"Sama saja, bodoh!"

"Aku tidak bodoh!"

"Kalian ini benar-benar tidak bisa berhenti bertengkar, ya? Aku lelah melihat kalian," Gempa menghela nafas lalu menatap Ochobot. "Maafkan mereka ya, itu selalu terjadi. Jangan terlalu dipikirkan." Ucap Gempa ramah dan memang terlihat normal dari keempat saudara lain nya.

"Hahaha... Tidak apa-apa kok." Balas Ochobot. Pandangannya teralih pada Air. Ia menatap Air yang diam dengan wajah datar. Karena penasaran, ia menghampiri nya.

"Hei kau kenapa?" Tanya Ochobot di depan wajah Air.

Air memalingkan wajahnya dan menghela nafas. "Bagaimana kau bisa tau bahwa kami bukan manusia? Itu mencurigakan." Ucap nya dengan nada yang cukup rendah.

"Dan bagaimana kau bisa hidup lalu muncul seperti itu? Padahal sebelumnya kau hanya sebuah boneka." Tambah Taufan bertanya pada Ochobot. Ia sangat penasaran dengan hal ini. Ochobot tertawa pelan.

"Awalnya aku memang sebuah boneka. Tapi karena kalian membaca mantra yang tertulis di kertas kecil itu, maka aku hidup dan muncul sebagai robot. Dan kenapa aku bisa tau tentang kalian, itu rahasia. Maaf aku tak bisa memberitau. Tapi tenang, aku tidak jahat kok." Ucap Ochobot menjelaskan. Boboiboy bersaudara pun mengangguk mengerti.

"Aku belum puas dengan jawabanmu." Ucap Air bersingkap dada. Ia nampak berfikir. "Apa kau benar-benar bisa membuat kami hidup dengan manusia di luar sana? Kau tau kan, itu keinginan kami sejak lama. Itu sulit tercapai." Lanjut Air memandang dengan wajah yang polos namun tetap datar. Ochobot terdiam tak berkutik. Yang lain mengangguk setuju untuk pendapat Air.

"Tentu saja aku punya cara. Salah satu nya adalah... Kalian harus bisa mengendalikan kekuatan kalian." Ucap Ochobot.

Halilintar menyerit bingung, "Mengendalikan kekuatan? Untuk apa?" Tanya nya bingung.

"Bukan kah kalian takut mendekati manusia karena setiap bersentuhan dengan mereka maka kalian hilang kendali, kan?" Tanya Ochobot. Semua nya mengangguk.

"Nah, maka dari itu kalian harus bisa mengendalikan nya. Sehingga saat bersama mereka, kalian tidak hilang kendali dan bisa berbaur tanpa takut." Jelas Ochobot.

"Benar juga. Kenapa aku tidak mengetahui hal ini dari awal." Gumam Gempa mengangguk-angguk setuju.

"Jenius! Kau cerdas sekali, Ochobot! Kenapa tidak kepikiran ya? Hahaha..." Seru Taufan mengacungkan jempol pada Ochobot.

"T-tunggu, tapi bagaimana cara kita mengendalikan nya?" Tanya Air ada Ochobot. Seketika, Ochobot terkekeh pelan.

"Dengan itu." Ochobot menunjuk kelima kotak kecil yang berada didalam kotak besar itu. Boboiboy bersaudara kini bertambah bingung. Ochobot yang melihat itu, menghela nafas pasrah. 'Mengapa mereka itu tidak peka?'

"Sebelumnya aku ingin bertanya, umur kalian berapa di tahun ini?" Tanya Ochobot penuh pandangan selidik. Api angkat bicara untuk mewakili.

"Lima belas tahun!" Ucap nya dengan semangat disertai senyum lebar. Ochobot melongo.

'Ternyata aku memandu sekumpulan bocah yang masih polos tingkat akut! Pantas saja! Ini akan menjadi sulit.' Batin Ochobot sweetdrop dan pasrah pada kenyataan.

Mereka memang masih polos dan lugu. Terutama Halilintar, walau ia memang pemarah dan cuek, tapi jika ia tengah kebingungan tanpa sadar Halilintar akan menunjukan wajah polos disertai wajah dimiringkan ke kanan lalu mata bulat penuh kebingungan yang menambah kepolosan dan keimutannya.

"Ternyata kalian masih bocah." Gumam Ochobot. Mereka yang mendengar itu menyerit kesal.

"Kami bukan bocah!" Teriak mereka bersamaan disertai wajah yang memerah kesal dan malu.

"Ups... Maaf." Ochobot terkikik pelan. Bocah mudah sekali tersinggung, ya?, pikirnya.

"Jadi, apa yang terdapat dalam kotak itu?" Tanya Gempa mengalihkan pembicaraan. Ochobot tersenyum misterius lalu mengambil salah satu kotak berwarna coklat dengan lambang yang unik seperti tanah, dan memberikannya kepada Gempa.

"Jika kau penasaran, maka kau boleh membuka nya." Ucap Ochobot dengan tenang. Gempa menyerit bingung dan menatap Ochobot penuh kecurigaan. Namun, karena rasa penasaran nya berkobar-kobar, ia pun membuka kotak itu secara perlahan.

"I-ini kan...!"

Ochobot menyeringai lebar melihat reaksi Gempa.

=TBC=

Balasan review:

Alyana: hehehe terimakasih sudah menyukai ceritaku ini... ya walau agak aneh ceritanya... happy reading~ :D

Chikita466: yap! Aku juga suka sekali dengan boboiboy bersaudara... mereka itu keren kalau bersama XD thanks supportnya! Happy reading~

Yoshie: thanks supportnya dan terimakasih sudah menyukai ceritaku... happy reading~

Nur785: dia gak ada mulut tapi kan ada program agar dia bisa tersenyum seperti di filmnya tuh~ hahhaha.. thanks sudah mau menunggu ceritaku ^^

Famelshuimizu chan: ahahaha iya aku baru sadar! Thanks sudah memberitau... author juga kan manusia/ ciaaaa

Ramadhan-san: thanks karena suka ceritanya... isinya bukan jam kuasa kok, mereka kan sudah ada kuasa sejak lahir... kalau mau tau, tunggu chap berikutnya ya~ XD

ShadowBloodHunter: ini dah dilanjut kok XD thanks suka menyukai ceritaku yang agak aneh hahahaha...

A/N: maaf bila chap ini pendek dan aneh juga garing hahaha... terimakasih yang sudah fav, follow, dan review cerita ini... love you guys! :D ok see you in next chapter! ;)

-Mind To Review?

®Yukine Machiato