Secret Video
Gundam Seed/Destiny © Bandai & Sunrise
No material profit taken from this.
Warning: garingness, absurdness, typos, kemungkinan OOC tinggi, flight of idea, genre tiap chapter bisa berbeda.
.
PLAY
.
[Hai, aku Kira Yamato, sembilan belas tahun. Saat ini aku menjabat sebagai anggota White Coat ZAFT. Ah, dan ini Torii.]
Seorang pemuda berambut cokelat mengelus puncak kepala robot burung kecil berwarna hijau yang bertengger di pundaknya dengan telunjuk. Kaos polos berwarna abu-abu dan celana panjang piyama putih membungkus tubuhnya yang kurus.
[Aku sudah melihat video buatan Lacus. Itu mengerikan. Saking mengerikannya aku sampai sempat percaya. Aku tidak pernah tahu kalau Lacus punya bakat acting sebaik itu—nah sekarang ...]
Kira kembali menatap kamera dan senyum lembut yang sebelumnya terlukis di wajah tembam itu kini sirna. Ekspresinya serius.
[Aku akan memberitahu kalian sesuatu yang penting—karena judul tantangan ini Secret Video atau semacamnya, jadi kurasa aku akan membahas sebuah rahasia.]
Pemuda itu menghela napas.
[Aku kakaknya Cagalli.]
Sunyi sejenak. Kira masih menatap lurus ke arah kamera tanpa berkedip.
[Aku serius. Aku kakaknya Cagalli. Kakak. Mungkin Cagalli akan mengamuk begitu menonton rekaman ini, tapi aku punya alasan kenapa bisa menyimpulkan hal itu dengan lantang—ya, Cagalli, kau bisa menganggap video ini khusus untukmu.]
Kira mencondongkan badannya dan menopang kedua sikunya di atas paha.
[Coba kalian pikir. Aku dan Cagalli memang berasal dari dua indung telur yang berbeda sebelum akhirnya aku dipindahkan ke rahim buatan—]
Pemuda itu agak meringis saat mengatakannya.
[—dan menjalani masa perkembanganku di sana sampai cukup bulan sebelum akhirnya menjalani sesi pemotretan perdana bersama ibuku dan Cagalli. Jadi, tentu saja aku dikeluarkan dari rahim Ibu lebih dulu daripada Cagalli, kan? Kau mengerti maksudku?]
Kira kembali menegakkan punggungnya.
[Jadi, sampai kau bisa membawa bukti lain yang lebih valid, seperti catatan, foto, atau semacamnya—yang aku yakin tidak ada—kau harus menerima teoriku, Cagalli. Terima saja, oke? Aku kakakmu dan perdebatan ini ditutup.]
Bibir pemuda bermata ungu itu terangkat di satu sudut.
[Sebenarnya aku tidak begitu mempermasalahkan soal siapa kakak dan siapa adik di antara kita. Hanya saja, saat aku melihat betapa kau bersikeras mengenai hal ini—yah—aku jadi semakin ingin menghalangimu mendapatkannya. Hei, jangan salahkan sifat alami ini. Kalian juga mengerti, kan? Kau tahu harus memanggilku apa saat kita bertemu nanti, Dik. Oh, dan untuk Lacus—]
Senyum sang ultimate coordinator mengembang sempurna.
[Da Costa-san memperlihatkan video sebelumnya padaku. Kau tahu? Kau bahkan tidak perlu mengatakannya.]
Kira mengedipkan satu matanya penuh misteri.
[Nah, Sampai nanti.]
Layar hitam pun menutup kalimat yang mungkin hanya dimengerti oleh kedua belah pihak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Layar kamera itu kembali menampakkan warnanya.
[Um, hai lagi?]
Sosok Kira yang masih duduk di atas ranjangnya kembali muncul. Ruangan itu masih remang, hanya diliputi cahaya kekuningan dari lampu tidur di atas meja.
[Sebenarnya ada lagi yang ingin kukatakan, tapi kuputuskan untuk memberi jeda dulu beberapa menit karena aku tidak mau Cagalli melihatnya. Yah, dia bukan tipe orang yang akan duduk diam dan menunggu after-credits-scene yang belum tentu ada. Dia tidak punya stok kesabaran sebanyak itu dalam dirinya.]
Raut wajahnya kembali serius, namun keseriusan ini berbeda dari ekspresi yang ia tunjukkan di menit-menit sebelumnya. Keseriusan ini lebih dalam. Rahangnya tertutup rapat, matanya menatap lurus ke arah kamera, dan posturnya tegap seolah ia sedang memberikan penilaian dadakan pada anak buahnya.
[Ada satu alasan lagi kenapa sekarang aku juga bersikeras menjadi kakak.]
Kira mengalihkan pandangannya ke bawah. Tatapannya kosong.
[Aku baru benar-benar memikirkannya setelah insiden pernikahan Cagalli dengan Seiran. Gelar kakak membawa tanggung jawab. Adik, dia harus menghormati kakaknya. Ini bukan soal aku yang ingin dihormati. Kalian sendiri pasti sudah bisa menebak apa masalah utamanya.]
Kedua alis pemuda itu bertaut. Kira terlihat resah.
[Kalian ingat bagaimana reaksi Cagalli setelah insiden "pertengkaran"-ku dengan Athrun? Juga saat Impulse menjatuhkan Freedom? Dia langsung pergi mencariku begitu saja tanpa melihat keadaan yang masih belum stabil—meski aku tidak akan mengeluh soal itu karena aku tidak tahu apa aku masih bisa membuat video ini dan bicara dengan kalian jika Cagalli tidak melakukannya. Yang kupikirkan adalah jika akhirnya aku mengakui dirinya sebagai kakakku dan ia mengambil peran itu dengan serius ...]
Kira menggeleng dan menutup matanya.
[Aku orang yang payah. Aku juga bukan tipe orang yang berada di garis belakang jika terjadi sesuatu pada orang-orang yang kusayangi—ditambah jabatanku yang sekarang—semuanya tidak akan mudah.
Dia sudah punya tanggung jawab besar sebagai Pemimpin Orb. Aku tidak perlu menimpakan beban seorang-adik-yang-tidak-pernah-lepas-dari-pertempuran-dan-hampir-mati-dua-kali di pundaknya. Tidak. Aku tidak bisa membiarkannya.]
Pemuda itu kembali menatap kamera dan mengambil napas dalam-dalam.
[Jadi, begitulah. Biarkan tugas kakak yang harus selalu mengkhawatirkan dan menjaga adiknya ini ada di pundakku. Selalu ada ruang kosong untuk gadis tomboy yang blak-blakan itu.]
Kira tersenyum tipis.
[Terima kasih sudah mendengarkan. Dah.]
.
STOP
.
Hulo!
Iya, saya tahu kok chapter yang ini lebih pendek dan lebih absurd, tapi yah, entah kenapa ide yang ini agak susah disingkirkan dari kepala daku, jadi begitulah. #geplakedkarenagaje#
I'm free~ I'm free~ I'm free like a—oke saya diem #gajepart2.
Balasan review untuk Near: Maaf, mungkin untuk Athrun sama Shinn bakalan lama, soalnya belum nemu ide untuk mereka. Athrun udah, sih, hohoho, tapi mungkin gak dalam waktu dekat ini. Semoga chapter Kira ini bisa sedikit menghibur~ Makasih banyak udah nyempetin mampir dan review Near-san!
Well, maybe this one's not much but I hope it still can entertain you. I'd love to know what you think about this chapter.
Have a good day, fellas!
