A/N : Ini chapter kedua dari fic multichapter pertama ane. Oh, iya biar lebih akrab ane manggil para reader 'ente' aja ya. Terus, di chapter pertama banyak yang bilang kalau alurnya terlalu cepat. Sampai ada yang bilang, alurnya lebih cepat dari hiraishin nya Naruto. Ahaha, yang terakhir bohong.

Pokoknya, ane mau bilang terima kasih untuk para reader yang mau nge- review dan mengingatkan ane yang masih newbie ini. Arigatou gozaimashita para reader-sama. Ane juga mau bilang kalau masalah "musibah" Naruto itu bukan konflik sebenarnya. Konflik sebenarnya akan muncul setelah "cacat" nya Naruto. Ya walaupun, ane gak tahu itu termasuk konflik apa enggak dipandangan para reader-sama.

Balasan review:

Untuk yang minta lanjut, ini udah ane lanjutin. Ehehe.. Semoga ente suka ya.. Alurnya terlalu cepat. Oh ya? Ah arigatou sudah kasih tahu ane kalau ini alur kecepetan. Masalahnya, ini fic pertama yang ane tulis dan waktu itu belum berani publish. Jadi kalau di chapter ini alurnya terlalu cepat bilang aja sama ane,ok? Banyak terjadi kesalahan. Ehehe.. Ane newbie gan jadi Arigatou sudah mau membagi ilmu ente sama ane. Terima kasih ya sekali lagi. Konfliknya belum terasa kalau untuk yang satu ini,kan namanya juga masih chapter 1 istilahnya masih prolog. Kalau mau konfliknya kerasa review terus setiap habis baca tiap chapter.#ngarep.

Ok lah! Daripada ngebaca note nya ane yang bikin ente semua pusing. Lebih baik baca aja fanfic ane, yang chapter 2..

Semoga ente semua suka ya..

~Happy Reading

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

Pair : Naruto U. & Hinata H.

.

Genre : Drama, Hurt/comfort

.

Warning : Newbie, typo's , EYD abal gila, OOC, ide pasaran tapi gak plagiat

.

yamanakavidi

Present

°After the rain, it's rainbow

.

Chapter 2

~ You're so different ~

Naruto PoV

Gelap. Kenapa semuanya menjadi gelap? Kemana Hinata? Kenapa lampunya tidak dinyalakan?

Aku berjalan mencari saklar lampu tapi, kenapa aku tidak mampu berdiri? Kenapa aku hanya merasa mempunyai satu kaki? Dimana saklar itu? Aku ingin tahu dimana aku sekarang. Tidak mungkin kalau aku memanggil Hinata pasti dia sedang tidur dan merasa kecewa karena aku terlambat di acara makan malam kami untuk perayaan satu tahun kami menikah.

Ah! Ini dia saklar lampunya. Aku menyalakan lampu dan lho?

Kenapa aku ada di mobil? Bukankah aku sudah pulang ke rumah?

Aku memacu kendaraan hasil jerih payahku cepat karena aku ingin cepat sampai rumah dan bertemu Hinata, minta maaf padanya, dan memberi hadiah ini. Pikirku sambil menggengam kotak warna biru tua itu.

Sampai di perempatan sekitar satu kompleks dari rumah mungilku itu, aku menghentikan mobilku. Kenapa ini? Rasanya aku ingin keluar dan berjalan dari sini ke rumah. Aku merasa tidak tenang apa yang akan terjadi? Pikiranku terngiang wajah tou-san,kaa-san,Hinata, teman teman. Ada apa ini? Kami-sama semoga tidak ada apa-apa dengan mereka semua. Lampu hijau sudah menyala beberapa detik yang lalu. Dengan pelan, aku jalankan lagi mesin ini. Ada cahaya di samping kiri mobilku, suara klakson, dan terlihat seperti truk kontainer yang akan menabrakku.

Terlambat!

Ketika aku ingin menginjak gas, truk itu sudah menabrak mobilku. "AAA...,"

Gelap. Setelah itu, gelap lagi yang kulihat. Kini, indera penciumanku yang bekerja. Aku mencium bau anyir. Ini darah, tapi dimana bau itu berada? Terasa dekat tapi, aku tak tahu ada dimana. Selang berapa saat, kini indera pendengaranku yang berfungsi aku mendengar suara orang mendekat lalu, ada suara seperti ambulance yang lewat. Hei, tolong aku dimana? Aku ingin berteriak seperti itu tapi, suaraku menghilang. Dan setelah itu aku tak ingat apa yang terjadi.

Naruto PoV end

.

~After the rain, it's rainbow~

.

Hinata menatap suaminya sendu. Dia menatap sesosok pria yang sudah menjadi teman hidupnya itu, tak kuasa menahan tangis. Dia tak tega melihat pria yang dicintainya itu menanggung beban seberat ini kenapa bukan aku saja kami-sama? Kenapa harus Naruto-kun? Dia pria yang baik. Dia tidak bersalah kami-sama. Lalu ketika dia bangun nanti aku harus berkata apa?

Tes. Satu butiran air mata lolos dari pelupuk mata Hinata. Tangannya meraba surai kuning milik Naruto pelan sekali karena dia tidak mau mengganggu tidur pria tampan itu.

"Eengh.. Hinata" erangan kecil dari sang suami mampu menyadarkan Hinata.

"Sebentar Naruto-kun akan aku panggilkan dokter" ujar Hinata sambil menghapus air matanya. Sejenak dia menarik nafas dan berbalik keluar dari ruang inap Naruto. Tapi, baru satu langkah dia berjalan tangannya sudah digenggam kuat oleh Naruto. Hinata menoleh, melihat wajah pria yang dibalut oleh perban.

"Mau kemana?" suara serak khas orang bangun tidur memenuhi telinga Hinata.

"Aku mau memanggil dokter, Naruto-kun" ujar Hinata. Rasanya dia ingin memeluk tubuh berbalut perban yang ada di sampingnya ini.

Naruto mengerutkan kening ketika melihat jejak air mata di wajah sayu Hinata.

"Kenapa kau menangis?" tanya Naruto seraya melepaskan genggamannya pada tangan Hinata.

"A-aku s-senang N-Naruto-k-kun sudah siuman" ujar Hinata sembari tersenyum.

"Memang aku ada dimana?"

"Kau ada di rumah sakit Naruto-kun"

"Sebenarnya apa yang terjadi, Hinata?"

Hinata gelagapan ketika Naruto bertanya hal itu padanya. Dia tidak mau menangis lagi ketika menceritakan hal itu pada Naruto. Karena ia sudah berjanji agar tegar dan menerima semua ini.

"Ceritanya nanti saja ya! Sekarang aku mau memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Naruto-kun" ujar Hinata seraya mengecup pelan kening Naruto.

"Hinata, ciuman itu harusnya di sini" ujar Naruto sambil menyentuh bibir Hinata dengan jari telunjuk nya. Hinata blushing dan segera berlari keluar. Tapi, dihati dia bersyukur Naruto kembali ceria seperti semula. Mungkin Naruto-kun akan menerima apa yang terjadi padanya dengan lapang dada. Terima kasih kami-sama.

Naruto menyeriangi ketika melihat istrinya berlari seperti melihat hantu.

Hah. Sudah satu tahun tapi dia tetap merona jika berhadapan denganku.

Naruto teringat sesuatu.

Kotak hadiah untuk Hinata. Dia mencari ke setiap sudut kamar pasien itu, hingga ia menemukan kotak yang ia cari di sudut ruangan tepatnya dia atas meja. Naruto berusaha duduk, setelah duduknya sempurna Naruto menyibakkan selimut zebra itu. Awalnya Naruto ingin langsung berdiri dan berjalan ke sudut ruangan itu. Tapi, setelah melihat kejanggalan yang ada pada dirinya, dia melupakan niatan awalnya. Matanya terbelalak ketika melihat ada yang kurang pada dirinya.

"Kakiku dimana? Kenapa kakiku hilang? TIDAAAK"

Klontang. Beberapa alat kedokteran yang ada di meja sampingnya di lempar begitu saja. Naruto menjerit sambil menarik surai kuningnya frustasi.

"Naruto!" ujar Kushina sembari memeluk anak sulungnya yang menangis menjadi-jadi seperti seorang yang gila.

"Kaa-san.. Hiks.. Kakiku kemana kaa-san? KEMANA KAA-SAN? DIMANA KAKIKU?" teriak Naruto histeris.

"Naruto" ucap Kushina pelan sambil menahan tangis.

"Tou-san dimana kakiku? Kembalikan kakiku tou-san. KEMBALIKAAAN" Naruto tetap berteriak histeris. Dia benci keadaan ini. Sedangkan yang ditanya hanya menatap sendu pada anaknya.

"Naruto-kun" ucap Hinata ketika kembali dari ruangan dokter yang merawat Naruto.

"Hinata, dimana kakiku? Beritahu aku dimana kalian menyembunyikannya? Beritahu aku, Hinata" Naruto kini berusaha berdiri dengan satu kaki sedangkan kaki satunya yang sudah tak sempurna tak mampu menompang berat tubuh Naruto.

Dan hasilnya, Naruto jatuh tepat di kaki sang ibu.

"Hiks.. Aku salah apa kaa-san? Kenapa kami-sama mengambil sebagian kakiku? Beritahu aku kaa-san. Apa salahku?"

Sebelum Kushina sempat menjawab, dokter perawat Naruto pun langsung memberi obat penenang untuk Naruto dan menyuruh beberapa perawat mengangkat tubuh Naruto dan menidurkannya di bed pasien nya.

~Skip Time

"Tuan Naruto, keadaan anda membaik. Mungkin, anda akan pulang beberapa hari lagi" kata dokter yang merawat Naruto sembari melepaskan stetoskop yang terpasang di telinga nya.

"Sebenarnya apa yang terjadi dokter? Kenapa kaki saya harus di potong?" tanya Naruto tenang. Sepertinya dia sudah mulai memahami kondisinya sekarang ini.

"Anda mengalami kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya fungsi kaki anda. Dan jika kami tidak melalukan amputasi pada bagian betis kaki kiri anda, anda bisa menjadi lumpuh pada kedua kaki anda dan bisa saja semua anggota tubuh anda lumpuh secara bertahap jika kami tidak melakukan pemotongan itu"

Naruto hanya meneteskan air mata dalam diam sedangkan dua orang wanita yang ada disamping bed pasiennya itu tak dapat menyembunyikan kesedihannya.

"Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, saya permisi dulu dan tuan Naruto jangan lupa untuk meminum obat yang sudah saya berikan" ucap sang dokter itu, kemudian dokter yang merawat Naruto pun keluar dari ruang VIP Naruto.

"Naruto-kun " ucap Hinata seraya mengelus surai kuning itu tetapi, sebelum tangan indah itu sampai ke rambut dan kepala Naruto, sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.

"Tinggalkan aku sendiri, Hinata" suruh Naruto dengan nada yang datar bahkan terlihat tak berekspresi sama sekali.

"Naru-"

"Tinggalkan aku sendiri. Keluar" Naruto mulai menaikkan nada bicaranya. Hinata yang tak mau suaminya terganggu hanya diam pasrah dan keluar dari ruangan Naruto bersama dengan kedua mertuanya.

Naruto PoV

Apa yang sebenarnya terjadi? Seingatku, aku hanya kecelakaan kecil karena ditabrak oleh truk besar. Tapi, kenapa dokter memotong kaki kiriku? Dan kenapa semuanya jadi terlihat begitu menyedihkan? Aku benci dikasihani. Aku benci menjadi seperti orang yang tidak berguna. Aku benci diriku yang seperti ini.

Aku menatap kotak hadiah yang sudah ada disampingku itu, kubuka isinya dan hanya terdapat sebuah kertas kecil seperti kartu ucapan

Arigatou. Aku suka hadiahnya. Terima kasih telah memberiku ini. ~ N. Hinata.

Hinata? Bahkan aku tak tahu apa dia akan menerima aku yang seperti ini? Aku benci semua ini. Bahkan aku benci diriku sendiri yang tak berdaya dan seperti pengemis.

Naruto PoV end

Sesosok wanita berambut indigo itu memandang sang suami dari jendela transparan dengan tatapan lesu. Andai dia yang merasakan itu semua, mungkin tidak akan seperti ini. Tapi, apa untungnya meratapi nasi yang sudah jadi bubur? Kecuali jika bubur itu dijadikan sebagai kelebihan dan kekuatan mungkin akan berbeda efeknya.

Jam rumah sakit itu menunjukan pukul 17:00 tepat. Saatnya bagi Naruto untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter perawatnya.

Sang dokter masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum dan mengucapkan salam. Dia pun memeriksa Naruto dengan teliti.

"Mungkin, lusa anda sudah boleh pulang tuan Naruto. Saya lihat perkembangan kondisi anda cukup baik, tapi kenapa anda terlihat sangat menderita? Saya tahu jika keadaan ini memang diluar pemikiran anda. Tapi, ayah anda sudah memutuskan akan melakukan cangkok pada kaki anda secepatnya"

Ucapan dokter itu sontak mengagetkan Naruto.

Cangkok kaki?

'Ternyata aku memang seperti pengemis. Tou-san saja mengasihaniku' pikir Naruto. Dia hanya tersenyum pahit dengan pemikirannya itu.

"Dan soal istri anda. Anda jangan khawatir meskipun operasi pencangkokan belum anda lalui, anda masih bisa melakukan hubungan dengan istri anda" perkataan sang dokter itu mampu membuat telinga Naruto memerah. Bukan karena malu, tapi karena marah.

Dia marah karena tidak mungkin bercinta dengan satu kaki. Pikirannya pun melayang membanyangkan dirinya dan Hinata melakukan itu dalam keadaan Naruto yang tertatih-tatih dalam pergerakannya.

Heh? Itu tidak lucu bagi seorang Namikaze.

Naruto tetap diam dan larut dengan pikirannya sendiri tanpa memperhatikan sang dokter yang berbicara panjang lebar soal kondisinya sekarang.

.

~After the rain, it's rainbow~

.

Hinata menatap dirinya di depan cermin. Terlihat jejak air mata yang belum hilang padahal ia sudah membasuh mukanya untuk menghilangkan jejak air mata tersebut. Lama dia menatap cermin itu, air matanya tiba-tiba pecah ketika mengingat kejadian yang menimpa keluarganya.

Padahal ia sudah berjanji akan berusaha tegar terhadap semua yang sudah terjadi.

"Aku memang lemah. Menahan tangis saja aku tidak bisa" ujar nya sambil menghapus air matanya yang keluar.

Hinata PoV

Sepanjang koridor rumah sakit ditempat Naruto-kun dirawat terlihat sepi.

Padahal matahari sudah sangat tinggi. Apa mereka tidak ada rasa empati sama sekali dengan saudaranya atau siapapun yang dirawat?

Ah, untuk apa aku berfikir seperti itu? Sudahlah. Sekarang aku harus menyiapkan kepulangan Naruto-kun

Aku memutar kenop pintu itu pelan serta mengucapkan salam. Hal pertama yang aku lihat adalah sesosok pria bersurai kuning itu sedang duduk termenung. Dan kuputuskan untuk mendekatinya.

"Ada apa Naruto-kun?" ujar ku sembari menepuk pelan bahunya.

Aku melihat dia mulai mengangkat kepalanya dan menatapku.

"Hinata, apa kau akan meninggalkanku?" pertanyaannya seperti menguji kesetiaanku padanya.

Aku menggeleng yakin. Karena aku memang tidak akan meninggalkan suamiku.

"Tapi, aku cacat"

"Memang kalau cacat kenapa N-Naruto-k-kun ?"

"Aku tidak sempurna. Aku tak pantas ada disampingmu" Aku terdiam dan tercekat dengan apa yang dikatakan oleh suamiku. Dia benar benar tak menyangka jika sang suami ingin menguji kesetiaanya. Hinata menghela nafas panjang "Jika aku menginginkan pria sempurna, kenapa aku tidak menikah dengan pangeran ataupun raja? Kenapa aku memilih menikah denganmu yang selalu pantang menyerah? Kenapa aku menikah dengan orang yang ingin dipandang sebagai dirinya? Bukan karena yang lain?" ucapan panjangku itu mampu membuat Naruto-kun terdiam merenung. Aku pun melanjutkan kegiatanku merapikan baju Naruto-kun yang akan dibawanya pulang. Naruto-kun menatap lantai marmer di bawah kakinya yang menggantung. Dia mendecih pelan, lalu menatapku "Apa yang kau harapkan dari seorang sepertiku ini?" tanya Naruto-kun lagi. Aku menarik nafas panjangku lagi.

"Jika kau ingin menguji kesetiaanku" aku menarik nafas sebentar dan menatap Naruto-kun serius "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, itu janjiku" aku lalu memasukan baju Naruto-kun dan keluar dari ruangan itu untuk mengatur nafasku.

Hinata PoV end

Naruto termenung dengan perkataan Hinata lalu terseyum sinis apa benar kau tidak akan meninggalkanku Hinata-chan?

.

~After the rain, it's rainbow~

.

Tetesan air dari dedaunan yang ada di luar jendela itu adalah pemandangan baru untuknya. Setelah ia keluar dari tempat yang penuh dengan bau obat dimana-mana, disinilah ia sekarang menatap satu per satu tetesan air yang berjatuhan dari daun ke tanah. Pikirannya melayang mengingat ketika ia melakukan hal yang sama bersama cintanya.

"Lihatlah keluar Hinata" suruh Naruto sambil menarik tangan Hinata dan menempelkannya ke jendela kaca yang ada di kamar mereka.

"Memang kenapa N-Naruto-k-kun? Bukankah diluar hujan? Biar aku nyalakan penghangat ruangan" ujar Hinata sembari pergi untuk menyalakan pemanas ruangan agar mereka tidak kedinginan. Hinata yang hendak pergi dicegah oleh Naruto sembari berkata, "Kalau kamu disisiku, aku tak perlu penghangat lagi"

"K-kenapa?" tanya Hinata gugup karena Naruto yang tiba-tiba memeluknya erat.

"Karena, pelukanmu lebih hangat dari penghangat ruangan Hinata-chan" ujar Naruto sambil meletakan dagunya ke perpotongan leher jenjang Hinata.

Hinata yang mendapat rayuan dan perlakuan seperti itu langsung merona merah pekat.

"Tuh kan. Jika kau merona, kau tambah semakin hangat Hinata-chan" ujar Naruto sambil mempererat pelukannya terhadap Hinata.

Ah, kenangan yang manis. Tapi, itu akan menjadi pahit ketika Naruto teringat tentang keadaannya yang sekarang ini. Tangan kanannya yang berwarna tan itu meraba kaki kirinya. Dia mendecih ketika tangannya meraba kaki yang sudah terpotong. Dia diam, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia pasti tidak akan diterima di seluruh perusahaan seantero Konoha. Perusahaan ayahnya? Mana mungkin ada pegawai yang mau memiliki bos cacat? Dia pasti akan diolok semua orang ketika sedang bekerja. Apalagi jika dia harus meeting demgan para kliennya nanti. Mana ada klien yang mau berkerja sama dengan perusahaan yang pemimpinnya adalah orang yang cacat. Dan satu lagi, dia tidak mau membuat ayahnya malu. Belum selesai bergulat dengan pikirannya, Naruto dikagetkan dengan setuhan tangan Hinata di pundaknya. "Waktunya makan Naruto-kun" ujar Hinata sambil menaruh mangkok berisi makanan berkarbohidrat itu di meja kecil tepat di samping Naruto berbata miring. Hinata mengambil sesendok makanan itu dan menyuapkannya pada Naruto, sedangkan yang disuapi hanya diam tanpa ekspresi dan hanya menatap keluar jendela memperhatikan setiap butir air hujan di luar jendelanya. "Buka mulutmu Naruto-kun" ujar Hinata lembut. Naruto hanya memalingkan wajahnya untuk menjawab perintah Hinata. Hinata hanya menghela nafas melihat perilaku suaminya yang berbeda. "Kau harus makan Naruto-kun kalau tidak nanti kau akan lemas. Makan ya?" Hinata mencoba membujuk Naruto lagi.

"Pergi Hinata. Aku ingin sendiri" ujar Naruto tanpa menatap Hinata. Matanya tetap terarah pada air hujan di dedaunan yang mungkin telah menjadi destinasi baru untuk Naruto.

"Sendirinya nanti saja ya Naruto-kun sekarang kau harus makan dulu ya" ujar Hinata sembari kembali berusaha menyuapkan makanan ke mulut Naruto.

"Aku ingin sendiri Hinata" ucap Naruto lagi dan tetap pada posisinya menatap air hujan.

"Aku tahu Naruto-kun sedang ingin sendiri. Tapi, coba makan ini dulu satu suap saja. Setelah itu aku akan pergi" ujar Hinata yang masih dengan kukuh tetap duduk di samping Naruto yang tengah berbaring.

"Hinata aku benar-benar ingin sendiri"

"Iya aku tahu. Tapi, kumohon tolong makan ini dulu. Aku sudah buat sop sun-"

"PERGI DARIKU" perkataan Hinata berhenti setelah mendengar bentakan Naruto. Selama tinggal dengan Naruto, baru kali ini dia dibentak seperti itu oleh suaminya. Tangan Hinata yang bergetar meletakkan mangkok putih itu di samping Naruto dan langsung pergi sambil menahan tangisnya yang hampir pecah.

Hinata sampai di dapur rumahnya. Dia melihat ibu mertuanya sedang memasak untuk makan malam hari ini. Hinata langsung menghampiri wanita berambut merah yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah tidak bisa dibilang muda lagi.

"Kaa-san sedang buat apa?" tanya Hinata dengan suara serak khas orang yang habis menangis. Kushina yang menyadari perubahan suara pada Hinata hanya menatap wanita indigo yang sudah menjadi menantunya itu khawatir. Tapi, Kushina berfikir mungkin Hinata masih belum bisa menerima ini. Semoga dia diberi kekuatan oleh sang kami

"Kaa-san buat onigiri untuk Naruto. Dia sangat suka dengan onigiri" ujar Kushina sambil tersenyum. Hinata yang melihatnya pun ikut tersenyum. Aku harus kuat dan tegar. Kushina kaa-san saja bisa tersenyum. Kenapa aku tidak? Aku akan mencobanya. Pikir Hinata. Dia pun membantu Kushina menyiapkan makan malam.

~Skip Time

Malam telah datang. Langit yang awalnya biru kemudian menjadi orange karena bias matahari sore dan kini menjadi hitam gelap sempurna. Hari ini pertengahan bulan November. Udara mulai dingin padahal tanggal di kalender menunjukkan belum masuk musim dingin. Atau mungkin, efek hujan tadi siang yang membuat udara menjadi dingin.

Hinata masuk ke kamarnya sambil membawa semangkok onigiri buatan Kushina. Awalnya dia takut kalau kejadian tadi siang terulang lagi. Tapi, bukankah tadi dia juga sudah bertekad akan tegar menhadapi ini semua? Ayo Hinata. Ganbatte. Naruto-kun membutuhkan makan malam. Berbekal keyakinannya, Hinata memutar kenop pintu itu dan menatap sesosok pria yang sedang memunggunginya ini. Dia melihat ke arah meja tempat dimana ia menaruh makan siang suaminya. Senyumnya yang awalnya cerah menjadi lenyap setelah melihat makan siang yang dibuat Hinata untuk Naruto tidak tersentuh sama sekali. Namun, ketika ia melihat obat dan air mineral Naruto habis tak bersisa senyumnya kembali. Hinata bersyukur karena Naruto masih mau meminum obatnya. Walaupun, masih ada rasa kecewa karena Naruto benar-benar tidak menyentuh makanannya sedikitpun. Hinata menghela nafas dan mendekati tubuh Naruto.

"Naruto-kun ini makan malam mu. Ini onigiri buatan kaa-san. Kau pasti suka, jadi dimakan ya" ujar Hinata sembari menaruh makanan itu di meja kecil Naruto. "A-aku pergi sebentar ya Naruto-kun" ujar Hinata sembari keluar dari kamar itu dan bergabung dengan ayah serta kedua mertuanya di meja makan.

Suasana kamar itu sunyi kembali setelah perginya Hinata dari kamar yang bernuansa purple muda ini. Naruto menatap onigiri itu, aroma yang dikekuarkan onigiri buatan ibunya itu mengusik hidungnya. Dia membalikan tubuh atletisnya menatap pintu yang telah tertutup rapat dan entah sejak kapan jendela yang menjadi destinasi Naruto tadi siang telah tertutup dengan gorden orange muda itu. Pria muda itu menghela nafas panjang sekali lagi lalu, menatap lagi jendela yang tertutup dengan gorden, tatapan yang sama seperti tadi siang. Sebuah tatapan kosong.

.

~After the rain, it's rainbow~

.

"Hati-hati di jalan kaa-san" ujar Hinata sembari mengantar mertuanya kembali ke rumah mereka. "Harusnya aku tinggal disini lebih lama disini untuk menemanimu" ucap Kushina sambil menggenggam kedua tangan Hinata. Hinata hanya tersenyum manis menanggapi ucapan ibu dari suaminya itu.

"Tidak apa kaa-san bukannya Naruto-kun telah menemaniku disini? Jadi kaa-san jangan khawatir"

"Ah,anak itu. Dia adalah orang yang menyukai kesempurnaan. Semoga dia tidak berubah karena ini ya Hinata-chan" Hinata yang mendengar itu hanya diam. "Kaa-san tidak perlu khawatir Naruto-kun tidak akan pernah berubah. Dia adalah Naruto dan akan tetap menjadi Naruto" senyum manis dari Hinata pun mampu menenangkan hati Kushina. Sang ibu pun membalas senyum Hinata sambil memeluknya "Kau harus sabar dengan semua ini ya Hinata. Kami akan selalu mendo'akanmu dan juga Naruto" Kini Minato yang angkat bicara. Hinata yang mendengar ucapan Minato hanya mengangguk kecil dan tersenyum. Kushina pun melepaskan pelukannya dan masuk ke dalam mobil miliknya.

Hinata kembali murung setelah perginya kedua mertuanya itu. Dia bingung,malam ini dia tidur dimana. Memang banyak kamar kosong di rumah mungilnya ini. Tapi, tidak mungkin dia meninggalkan Naruto malam ini. Dia ingin jadi istri yang baik untuk suaminya itu. Awalnya dia akan tetap tidur bersama suaminya apapun yang terjadi. Tapi, melihat sikap Naruto hari ini, Hinata mulai ragu. Dia masih takut akan mendapat perlakuan seperti tadi siang. Tapi, bukankah dia sendiri yang bilang bahwa dia tidak akan meninggalkan suaminya. Hinata menghela nafasnya sembari membuka kenop pintu itu. Dan pemandangan yang dilihat pertama kali oleh Hinata adalah Naruto yang posisinya tidak berubah sama sekali. Hinata sekali lagi menghela nafasnya, entah sudah berapa kali untuk hari ini. Dia pun duduk di sisi tempat tidur dan merebahkan diri membelakangi suaminya, Naruto. Hinata meneteskan air matanya lagi. Dia merasa ada jarak antara dia dan suaminya itu. Padahal, mereka hanya saling memunggungi dan jarak mereka tidak lebih dari setengah meter. Tapi, kenapa Hinata seperti merasa ada tembok China yang menghalanginya dengan suaminya. Hinata terhisak tertahan.

Dulu, kau selalu memelukku Naruto-kun. Dan kau selalu berkata kalau aku lebih hangat dari penghangat ruangan yang ada di dunia ini. Dan aku merona jika kau berkata seperti itu. Tapi, sekarang kau berbeda. Kau berbeda. Dan benar-benar sangat berbeda. Tapi, aku merindukanmu yang dulu Naruto-kun.

Bisakah kau kembali seperti dulu?

Hinata terus berdo'a kepada sang kami agar suaminya bisa tersenyum seperti dahulu hingga dia benar-benar terlelap, do'a yang dipanjatkan wanita indigo itu tidak pernah putus.

Naruto membalikan tubuhnya menghadap punggung Hinata, dia menatap punggung istrinya itu dan mendengar isakan tertahan dari istrinya. Naruto menatap punggung Hinara sendu, rasanya dia ingin memeluk tubuh rapuh istrinya. Tapi, bukankah saat ini dia juga rapuh,? Lalu, bagaimana seseorang yang rapuh mengobati kerapuhan orang yang dicintainya? Itulah, hal yang membuat Naruto tidak berani untuk mendekati Hinata untuk saat ini.

Maafkan aku, selalu membuatmu menangis, Hinata-chan. Aku tidak tahu apa kau akan meninggalkanku setelah ini. Semoga saja… Kami-sama tolong aku.

.

To Be Contiuned

.

A/N: Ane, si author newbie cuma minta koment dari ente semua para reader yang terhormat.

Akhir kata, jangan jadi silent reader ya?

If you like it don't forget to review

Are you mind to RnR ?

.

Salam,

yamanakavidi (july,2014)

.