Author : MinGyuTae00
Pair : HunHan
Rate : K+
Warning : Typo!Maaf jika ide cerita kampungan.
Length :Chaptered
Genre : Boy x Boy , Hurt/Comfort,Romance
.
.
.
.:Valid Love:.
.
.
.
Berguling kekanan dan kekiri hanya itu kegiatan yang sedang dilakukan Luhan. Mencoba memejamkan matanya namun tak berhasil. Mengumpat keras dan menyibak selimutnya kasar. Penampilannya sungguh memprihatinkan , wajah yang sayu ,pakaian yang lusuh dan surai yang mencuat kesana – kemari. Memandang penuh amarah tepat kearah perutnya. Ia sangat mengetahui apa yang tengah dialaminya saat ini.
"Dasar sial , kau menganggu tidurku. Bahkan kau baru berbentuk gumpalan darah namun sangat menyusahkan. Kemana si albino itu" Jika ada yang mendengarnya sudah dipasti Luhan akan mendapat cemooh karena perkataannya. Demi Tuhan janin itu adalah darah dagingnya.
Dengan perasaan dongkol Luhan berjalan keluar menuju ruangan yang berada tepat disamping kamarnya. Ia sangat yakin namja itu-suaminya- berada diruangan tersebut. Menggebrak pintu dengan kasar,berjalan cepat menuju gundukan selimut yang berada diatas ranjang berukuran King Size tersebut. Menyibak kasar selimut tersebut. Sehun mau tak mau terbangun dengan paksa.
Kepalanya terasa pening karena terbangun tiba-tiba ditambah dengan keadaan kamar yang remang-remang memperburuk pengelihatannya. Berniat ingin membiasakan diri namun tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya terangkat paksa. Luhan yang tidak sabar dengan segera menarik kasar lengan kurus suaminya.
Andai itu orang lain mungkin Luhan sudah babak belur. Sehun yang dulu mungkin tidak akan terima namun dihadapannya ada Luhan , istri yang sangat dicintainya. Ia hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Bangun tuan Oh"
"W-waegerae Luhanie?"
"Cih jangan menyebutku seperti itu!"
"K-Keun.."
"Belikan aku jajangmyeon "
"N-ne keundae.."
"Sekarang!"
"Sekarang sudah dini hari tidak ada yang menjualnya Luhan"
"Aku tahu , salahkan saja anakmu ini"
"Arraseo , kau kembalilah tidur. Nanti akan aku bangunkan"
Luhan yang merasa gerah berjalan keluar dengan kaki yang sedikit dihentakkan tanpa menengok kebelakang. Tak memperdulikan raut wajah Sehun yang kini menjadi sendu. Walau sakit , didalam hatinya Sehun tidak akan menyerah begitu saja.
"Dia juga anakmu Luhan , anak kita"ujarnya lirih.
.
.
.
Mungkin keberuntungan sedang berpihak padanya , setelah satu jam mengelilingi wilayah tempat tinggalnya ia menemukan salah satu kios yang menjual jajangmyeon dan buka 24 jam lamanya. Dengan perasaan gembira ia melangkah menuju apartementnya. Ia sangat menyukai raut polos Luhan ketika makan , oh ia sangat menyukai segala ekspresi istrinya kecuali jika istrinya memasang raut sedih diwajah bak bonekanya.
Walau ia harus menahan rasa sakit dihatinya namun ia selalu berusaha untuk bersikap tegar. Ia hanya berharap agar Luhan-nya bisa selalu tersenyum , tapi bisakah ia berharap jika yang membuat Luhan selalu tersenyum adalah dirinya?.
Berjalan dengan pelan memasuki apartementnnya, menaiki tangga menuju kamar Luhan-kamar yang pada awalnya diperuntukan untuk mereka-. Membuka pintu dengan lembut , senyum manis hadir diwajah tampannya. Sungguh rasa cintanya pada Luhan semakin menjadi-jadi. Melihat raut wajah yang polos dan cantik bak malaikat membuatnya ingin merengkuh tubuh mungil Luhan dengan erat , memberi kecupan bertubi-tubi pada wajah seseorang yang sangat dicintainya itu.
"Sedang apa kau disana"
Fantasy indahnya buyar begitu saja ketika mendengar suara merdu namun berkesan dingin menghampiri indera pendengarannya. Lagi-lagi raut dingin itu yang hadir. Menghela nafas pelan dan mencoba tersenyum.
"Ini, apa kau mau menyantapnya sekarang?"ujar Sehun seraya menunjukkan jajangmyeon pesanan Luhan yang berbalut sterofoam.
"Letakkan saja diatas meja itu , setelah itu kau boleh pergi"
"Arraseo. Jika kau perlu apa-apa panggil saja aku"
"Hm"
Setelah melihat Sehun menghilang dari balik pintunya , Luhan dengan segera meraih jajangmyeon tersebut. Menyantapnya dengan lahap. Sesekali ia mengaduh karena panas dilidahnya akibat jajangmyeon tersebut. Meninggalkan Sehun yang kini tersenyum tipis melihat kelakuannya dari balik pintu kamarnya.
"Kau sangat cantik sayang , tak bisakah hatimu untukku. Lihatlah aku Luhan,lihatlah suamimu ini"
.
.
.
Walau sudah mengenakan jaket tebal ditambah dengan balutan sweater didalamnya namun tak juga bisa menghangatkan tubuhnya. Uap berhembus dari hidung dan chubbynya yang memerah. Mencoba menghangatkan tubuhnya dengan pelukan dari kedua tangannya. Melirik jam tangannya dengan penuh perasaan gelisah, sudah lewat 10 menit dari waktu yang dijanjikan Irene padanya.
Seharusnya ia membeli secangkir kopi tadi sebelum kemari. Namsan Tower bak orang gila. Berjalan sendirian dan tetap setia menunggu walau hembusan angin malam kian kaget ketika seseorang menepuk pundak ringkihnya.
"Oppa mianhae, aku terjebak macet tadi"ujar Irene ditambah dengan ekspresi sedihnya.
"Gwenchana, kajja kita kedalam kau pasti kedinginan"ujar Luhan seraya menarik lembut lengan Irene memasuki arena Namsan Tower lebih dalam lagi. Tak menyadari jika ada seseorang yang menatapnya penuh arti diseberang sana.
"Bahkan kau terlihat sangat kedinginan sayang"
.
.
.
"Oppa bagaimana jika kita naik lebih keatas lagi?Aku ingin melihat pemandangan Seoul saat malam dari atas sana"ujar Irene dengan manja, tangannya bergelanyut mesra diantara lengan Luhan.
"Baiklah kajja!" Walau ia merasa sangat lelah , ditambah lagi dengan cuaca yang sangat dingin bahkan perutnya terasa sakit sedari tadi. Luhan memutuskan untuk tidak memperdulikannya.
"Oppa"
"Ne?"
"Bolehkah aku meminjam jaketmu? Aku lupa membawa jaket berbuluku , bahkan aku hanya membawa sweater ini"
"Y-ye? Ah geurae, igo!"Luhan dengan ragu melepas jaket tebalnya dan memasangkannya pada tubuh mungil Irene. Sebenarnya ia ingin menolak karena ia sangat kedinginan , jika jaketnya digunakan Irene bagaimana dengannya?. Lagi-lagi Luhan mengalah.
"Gomawo oppa"
Sedangkan diseberang sana , ingin rasanya Sehun memeluk erat tubuh mungil Luhan. Mendekapnya agar Luhan merasa Luhan sudah gila? Disaat cuaca yang sangat dingin saat ini ia malah nekad menemui Irene bahkan kini menyerahkan jaketnya kepada yeoja tengil tersebut?. Apa ia lupa bahwa ada satu nyawa lagi yang bergantung padanya?
Sehun memang memutuskan untuk mengikuti Luhan secara diam-diam ketika melihat Luhan yang berjalan terburu-buru meninggalkan apartement mereka. Sejak awal ia sudah menahan rasa kesal dan cemburunya.
Irene sebenarnya mengetahui bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka. Namun sepertinya ia mempunyai sebuah rencana.
"Oppa?"
"Ne waeyeo?"ujar Luhan dengan lembut.
"Aku ingin digendong seperti mereka , lagipula aku juga sudah lelah berjalan sedari tadi"ujar Irene seraya menunjuk beberapa pasangan yang tengah menggendong pasangannya yang lain. Terlihat sangat romantis.
"K-keundae"
"Oppa tidak mau? Arraseo"Irene merajuk seraya mempoutkan bibirnya. Demi Tuhan ia sudah tidak kuat lagi lalu apalagi ini? Irene ingin ia menggendongnya? .
"Aniyeo , baiklah ayo naik kepunggungku"Luhan memposisikan tubuhnya tepat dibawah Irene. Mencoba menahan rasa sakit dari perutnya. Irene pun bersorak riang dan memposisikan tubuhnya diatas punggung Luhan.
Dengan sekuat tenaga Luhan mencoba melangkah secara perlahan. Keringat dingin membanjiri keningnya. Dengan sisa kekuatannya , ia menurunkan tubuh Irene dari gedongannya. Irene tentu saja memprotesnya namun ia merasa pandangannya berputar-putar dan setelah itu gelap.
Sehun berlari sekuat tenaga menghampiri Luhan. Mengangkatnya ala bridal style dan membawanya pergi namun sebelum itu ia sempat memarahi Irene tak lupa memberikan pandangan tajam dan menusuk darinya.
"Kau , urusan kita belum selesai!"
"Mwo?"
.
.
.
Sedari tadi berbagai macam doa ia panjatkan , berharap agar Luhan dan anaknya baik-baik saja. Tak memperdulikan beberapa pandangan kagum dari ganhosa dan para yeoja yang ada disana. Saat ini ia sedang kalut , jika sampai terjadi sesuatu pada Luhannya dan anaknya ia akan membuat perhitungan pada Irene , persetan jika ia yeoja.
Cklek
Suara pintu yang terbuka mengagetkannya , namun dengan sigap berdiri ketika mengetahui pelaku tersebut adalah uisa yang menangani istrinya.
"Bagaimana keadaan mereka?"
Uisa hanya bisa terdiam dan menatap penuh arti kearah Sehun. Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
.
.
.
TBC
