Here my chapter 2

ternyata nulis multichapter gak gampang yaaag (T,T)

.


.

.

Ohh...now i'm floating so high...

I blossom and die

Send your storm and your lightning to strike me

between my eyes...

And cry...

.

Langit masih menampakkan warnanya yang berwarna ungu gelap, tetapi jika kita melihat jauh ke ujung timur cakrawala terlihat guratan jingga yang mulai muncul. Menandakan bahwa matahari sebentar lagi akan segera bersinar. Ahh...bukankah nama lain negara ini adalah negara matahari terbit? Dimana penduduknya terbangun terlebih dahulu daripada penduduk di belahan dunia manapun, rakyat Nippon-koku memang dikenal karena etos kerjanya yang tinggi.

Meskipun begitu ini masih sangat pagi.

Sakura menyeruput kopi hitamnya dalam-dalam, menikmati aromanya sambil berdiri di sisi jendela dan memandang keluar, pandangannya menarawang jauh. Ia selalu suka aroma kopi dan favoritnya adalah black coffee without sugar or creme. Pernah suatu kali pelayannya bertanya mengapa ia begitu menyukai kopi hitam yang rasanya pahit. Sakura tersenyum simpul lalu menjawab bahwa rasa pahit ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan perjalanan hidupnya. Kepala pelayan yang berusia 50an tahun itu menatapnya iba.

Hidup Sakura memang tidak pernah mudah. Pada ulang tahunnya yang ke-9 ia harus menerima kenyataan bahwa perusahaan ayahnya dinyatakan bangkrut dan meninggalkan banyak hutang. Tiga bulan kemudian ayahnya tewas bunuh diri karena stress. Tak kuat menanggung malu ibunya memutuskan membawanya pindah dari Tokyo ke Kyoto. Di sana Sakura harus berjuang hidup dari hari ke hari bersama ibunya. Sekolah sambil bekerja paruh waktu sudah menjadi rutinitas baginya, sampai pada suatu sore ia menemukan ibunya terjatuh dari kamar mandi. Semenjak itu ibunya tidak pernah pulih kembali, seperti kehilangan semangat hidup. Penderitaan menanggung malu dan ditinggalkan oleh suami membuatnya sakit keras. Sebelum Sakura dapat menujukkan ijasah kelulusannya di high school, ibunya pergi menyusul ayahnya. Itu merupakan pukulan yang berat untuk Sakura. Untung saja setelah itu ia segera meninggalkan Kyoto dan memulai hidup barunya sebagai mahasiswi program beasiswa di fakultas kedokteran Universitas Tokyo.

Sangat disayangkan kini Sakura tidak dapat mempraktekkan ilmu kedokterannya secara langsung. Dikarenakan ia harus menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai seorang Uchiha Matriarch. Sehingga ia melampiaskannya dengan membangun beberapa rumah sakit dan aktif dalam yayasan-yayasan yang berhubungan dengan kesehatan. Selain itu, Sakura menghabiskan waktunya sebagai sosialita kelas atas dengan melakukan kegiatan charity, menghadiri acara-acara gala, dan bersosialisasi dengan istri dari para pemilik perusahaan besar untuk membangun jaringan bisnis. Sejauh ini ia sukses...menjadi ambassador dari kerajaan bisnis suaminya. Cerminan dari seorang ibu presiden direktur yang sempurna. Anggun, cerdas, rendah hati, dan ramah.

Sakura menoleh ke belakang sejenak, memperhatikan tempat tidurnya yang lux dan spacious itu kosong. Suaminya tidak pulang lagi semalam. Mereka memang tinggal serumah dan tidur di kamar yang sama, tetapi sangat jarang bertemu. Selain itu Sasuke juga jarang mengajaknya bicara. Dia selalu sibuk dengan meeting, pekerjaan, kunjungan keluar negeri or...who knows? Mungkin dia menghabiskan waktunya dengan orang lain. Sakura was not stupid, she knew he had somebody out there...another woman. After all, he was a man, and he never touch her. It wasn't like she had shown many interest either. He's just her childhood crush from long time ago. Sebelum kebahagiaannya dirampas oleh kenyataan hidup yang pahit. Interaksi mereka sama seperti dua orang yang tidak terikat pernikahan. But, the way the other saw it, they are married, love each other, and live a happy life. Bukankah itu tujuan utama pernikahan mereka? Semuanya hanya tentang: Pencitraan

Akan tetapi jauh di dalam hatinya Sakura masih memiliki harapan, bahwa suatu hari Sasuke akan merubah sikapnya. Mungkin, mungkin Sasuke akan mulai menerimanya dan membuat rumah tangga ini berjalan dengan semestinya. Harapan hanya tinggal harapan, karena Sakura menyadari semakin hari hubungan mereka semakin beku.

Suara ketukan dipintu membuyarkan semua lamunan Sakura. Tanpa tarasa sudah 1,5 jam ia tenggelam dalam pikirannya, langit di luar sana sudah berangsur-angsur terang.

"Yaa...masuk..."

"Sakura-sama..." Namun sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah memotongnya dengan cepat.

"Sudah kukatakan berkali-kali padamu, jika kita sedang berdua seperti ini pangil aku Sakura saja. Bukankan kita ini seumuran?" Ujar Sakura pada asiaten pribadinya yang berambut chesnut dan memiliki 2 cepol dikepalanya tersebut.

"Ahh, baiklah Sa-ku-ra" Jawabnya canggung.

Dengan cekatan asistennya yang bernama Tenten tersebut membantu Sakura bersiap-siap, mengenakan pakaian dan bermake-up. Setelah puas melihat penampilannya di cermin Sakura bergegas keluar, sambil berjalan ia berkata: "Apakah kau sudah menyiapkan teh untukku?"

"Seperti biasanya, Shiro-san sudah menyiapkannya untukmu Sakura. Ia sudah kembali dari cutinya."

Shiro adalah kepala pelayan di mansionnya, dan keluarganya sudah turun temurun mengapdi pada keluarga Uchiha.

"Hmmmm...jadi di dalam kamar kau meminum kopi sedangakan di luar sana kau meminum teh?" Imbuh Tenten setengah bercanda.

Sakura menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Tenten "Bukankah noble woman selalu minum teh? Di dalam sana aku tetaplah seorang Sakura Haruno, dan di luar sini aku adalah Uchiha Sakura setidaknya aku harus berperilaku sesuai dengan nama yang aku sandang sesuai dengan yang diharapkan semua orang."

Mendengar ucapan majikannya itu Tenten hanya bisa menaikkan alis lalu tersenyum.

Setelah sampai pada table set tempat biasanya ia meminum teh, Tenten langsung membacakan rincian acara yang harus Sakura hadiri hari ini.

"Pagi ini anda harus menghadiri acara sosial di yayasan anak penyandang cacat, kemudian makan siang bersama tentang pembangunan rumah sakit internasional yang terletak di Osaka, lalu makan malam bersama seluruh anggota keluarga Uchiha untuk memperingati ulang tahun pernikahan anda. Anyway...happy anniversary Sakura" Tenten mengakhiri kalimatnya.

Sakura terdiam, bagaimana ia bisa lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya yang ke-2.

Benar saja, saat Sakura berjalan menuju pintu utama dimana mobil dan supirnya sudah menunggu sejak tadi ia melewati deretan rangkaian bunga dan tumpukan kado serta bingkisan di ruang tamunya.

"Tolong katakan pada pelayan untuk membereskan semua ini, dan nanti setelah makan siang aku ingin mampir ke kantor sebentar." Perintah Sakura pada Tenten. Ia lalu bergegas masuk ke mobilnya.

"Baik, Sakura-sama." Jawab Tenten cepat. Setelah berbicara pada pelayan yang berdiri depan pintu, ia pun segera mengikuti Sakura masuk ke dalam mobil.

Mobil Roll-Royce Phantom keluaran terbaru itupun melesat meningalkan Uchiha mansion yang terletak di Surugadai, Chiyoda district yang dikenal sebagai komplek pemukiman elite, jaman dahulu Surugadai adalah tempat bermukim para keluarga daimyo dan samurai terpandang dikarenakan lokasinya dekat dengan istana kekaisaran.


Siang harinya seperti yang sudah di jadwalkan Sakura mampir ke kantor untuk menemui Sasuke. Gedung pencakar langit milik Uchiha corp. menjulang tinggi dihadapannya. Dengan langkah kaki yang mantap dan penuh oercaya diri ia memasuki main floor yang langsung disambut salam hormat oleh petugas keamanan dan receptionist yang melihatnya. Begitu juga para karyawan yang berpapasan dengannya, mereka semua memberi salam sambil membungkuk.

Sakura menekan tombol lift, tak lama kemudian terdengar bunyi dentingan tanda bahwa lift sudah tersedia dan siap mengantar ke lantai yang diinginkannya. Saat pintu lift terbuka tiba-tiba sosok wanita berambut merah keluar dengan terburu-buru tanpa melihat Sakura yang berjalan berlawanan arah dengannya sedang melangkah masuk ke dalam lift. Bahu mereka bersinggungan. Reflek, Sakura yang sibuk dengan ponselnya mendongak, menatap sosok yang baru saja bersinggungan dengannya. Seperti tahu jika sedang diperhatikan, wanita berambut merah itu menoleh dan membalikkan badannya balas menatap ke arah Sakura dengan tajam...

Selama sepersekian detik mereka bertemu pandang...

Lalu pintu lift tertutup dan bergerak naik ke atas dimana ruangan Sasuke berada. Di dalam lift, Tenten yang sedari tadi mengikuti langkah Sakura pun bartanya, "Apakah anda baik-baik saja nyonya?"

"Tidak apa-apa, dia hanya menyenggolku sedikit. Tapi, rasa-rasanya wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya tapi entah dimana..." Jawab Sakura sambil mengernyitkan dahinya berfikir.

"Dia kan artis yang sedang naik daun saat ini nyonya, namanya Uzumaki Karin, dan dia dikontrak oleh perusahaan kita sebagai brand ambassador produk kosmetik terbaru musim ini."

"Ohh pantas saja, kami bertemu di acara launching bulan kemarin. Wajar jika dia sangat cepat terkenal, wajahnya cantik, tubuhnya sexy, dan selera berpakaiannya bagus."

Dengan cepat Tenten menyahut, "Tapi tetap tidak selembut dan se-elegant anda nyonya."

"Ahh kau ini, kau bilang begitu karena aku majikanmu kaan?" Ujar Sakura dengan nada setengah bercanda.

Tenten tertawa kecil. Majikannya ini memang bukanlah celebrity ataupun model, tetapi ia selalu berpenampilan dengan anggun, cantik tetapi tidak menor. Rambutnya sangat kontras dengan warna iris matanya, tetapi itulah yang membuat kecantikannya menjadi unik dan khas. Mungkin jika sudah bosan menjadi nyonya besar, Sakura harus mempertimbangkan untuk terjun ke dunia entertaiment. Batin Tenten dalam hati.

Begitu sampai di lantai yang dituju, sekretaris Sasuke yang berambut coklat gelap menyapa Sakura dengan hangat, "Selamat siang Sakura-sama, tidak biasanya anda mampir pada jam seperti ini."

"Selamat siang Reika-san, apakah Pak Presdir ada di dalam? Aku membawakan makan siang untuknya."

"Beliau memang belum keluar ruangan sejak tadi, silahkan." Ucap Reika sambil membukakan pintu untuk Sakura.

Sakura melangkah masuk, sedangkan Tenten menunggu diluar.

"Ada perlu apa? Aku sedang sibuk." Tanya Sasuke dingin. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard dan pandangannya masih fokus tertuju pada layar laptop.

Sakura menghentikan langkahnya di tengah ruangan dan menjawab, "Aku kesini hanya untuk menyampaikan bahwa kita akan mengadakan acara makan malam di tempat biasa. Ayah dan Ibu sudah dalam perjalanan dari New York menuju Tokyo, mungkin sebentar lagi mereka akan segera sampai."

"Hn..."

Sasuke beranjak dari kursinya lalu berdiri berhada-hadapan dengan Sakura sambil bersender santai di tepi meja kerjanya.

Sakura berjalan mendekat, meletakkan telapak tangannya di dada Sasuke. Jarak mereka sangat dekat, nyaris berpelukan.

"Makanlah, aku tidak ingin kau sakit." Ucap Sakura sembari melirik ke arah pintu dengan nada suara yang dibuat semesra mungkin dan volume suara yang sengaja dinaikkan. Ia sangat tahu bahwa sekretaris suaminya itu pasti sedang berusaha mencuri dengar percakapannya untuk dijadikan bahan gosip yang menarik. Tapi seketika bola matanya membulat, rahangnya mengeras. Sekelebat ia mencium aroma feminim fragrance yang berasal dari leher Sasuke. Dengan cepat ia mengendalikan dirinya dan kembali bersikap biasa.

Sakura mendekatkan mulutnya ke telinga Sasuke lalu berbisik, " Nice perfume..." Kemudian melangkah mundur, melemparkan senyum sinis kemudian berbalik pergi meninggalkan Sasuke yang mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menghindari sorot mata Sakura.

Lama setelah Sakura keluar dari ruangannya, Sasuke masih termenung beku di tempatnya. Kenapa bisa muncul perasaan bersalah? Umpatnya dalam hati.

Sedangkan Tenten yang mengetahui perubahan suasana hati majikannya hanya berjalan mengikuti Sakura dalam diam.

Sepanjang perjalanan pulang Sakura tak henti-hentinya berfikir, otaknya berusaha mencerna mengapa wangi perfume yang tercium olehnya tadi identik dengan wangi wanita yang hampir menabraknya di depan lift. Sakura ingin mengubur rasa curiganya dalam-dalam. Karena ia takut pada fakta yang akan ditemuinya nanti. Ia biarkan saja pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benaknya mengambang tak terjawab. Sehingga lambat laun akan terlupakan seiring berjalannya waktu.

Seharusnya bagi orang kebanyakan hari ini adalah hari istimewa. Tapi Sakura sejak awal tahu bahwa rumah tangganya memang bukan rumah tangga biasa, melainkan rumah tangga prematur tanpa cinta. Bukannya mendapatkan ucapan selamat dari suaminya, Sakura malah mendapatkan bukti bahwa apa yang ia pikirkan selama ini "80%" benar. Sasuke yang jarang pulang, Sasuke yang tidak pernah menyentuhnya, Sasuke yang tidak pernah peduli padanya. Itu semua disebabkan bahwa Sasuke sudah nyaman...nyaman bersama wanita lain. Sakura tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi padanya. Sasuke memang tidak pernah mencintainya. Memupuk harapan bahwa suatu hari pernikahan ini akan berhasil adalah sebuah kesalahan.


Sakura dan Sasuke berjalan berdampingan memasuki sebuah french restaurant yang terletak di daerah Ginza. Restoran mewah yang bernama L'Osier ini adalah restoran terbaik di Tokyo milik keluarga Akamichi yang generasi penerusnya merupakan teman baik Sasuke, Akamichi Chouji. Sakura hanya tersenyum pada awak media yang memotret dan berusaha mewawancarainya sedangkan Sasuke as stoic as ever memandang lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun.

Malam itu Sakura tampil menawan dengan menggunakan Gucci black silk crepe halter dress with crystal embroideres di bagian dada dan pinggangnya. Warna hitam yang melekat cantik di kulit creme mulusnya itu semakin membuat mata hijau emeraldnya bersinar. Di dampingi Sasuke yang dibalut Armani 3 piece-suits yang juga berwarna hitam. Mereka tampak sangat serasi.

Saat akan berbelok menuju lorong yang mengantarkan mereka ke area VIP, pria berambut panjang gelap bersama istrinya mendekat menghampiri Sasuke dan Sakura.

"What a coincidence to meet the young master of Uchiha here. I'm honored..." Sapa pria itu sopan. Sasuke dan Sakura menoleh secara bersamaan.

"Neji-sama..." Sapa Sasuke balik. "Madam..." Sapa Sasuke pada istri Neji. Wanita itu membalas sapaan Sasuke dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"No need to be so formal Sasuke." Ucap Neji kemudian. Pandangannya lalu beralih pada Sakura. "Anda terlihat sangat cantik malam ini Ny. Uchiha, temanku ini pasti sangat beruntung bisa menikahi anda."

"Terima kasih Hyuga-san, anda berlebihan..."jawab Sakura.

"I'll get going Sasuke, see you next time. Send my regard to Fugaku-sama and happy anniversary for you two, longlast..." Neji mengakhiri pembicaraan mereka.

Sasuke dan Sakura membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. Setelah Neji dan istrinya pergi, Sasuke dan Sakura segera melanjutkan langkah mereka menuju VIP room tempat seluruh keluarga sudah menantikan kehadiran mereka.

Sesaat sebelum masuk ruangan, handphone Sasuke berbunyi. Pelayan yang berjaga di depan pintu memberikan salam kemudian membukakan pintu untuk mereka. Namun sebelum sempat membukanya, Sakura memberikan aba-aba pada pelayan tersebut untuk tidak membuka pintunya terlebih dahulu. Sasuke melihat sebentar caller id di layar ponselnya lalu segera memasukkannya kembali ke dalam saku. Tapi beberapa menit kemudian ponselnya kembali berbunyi, Sakura menangkap sedikit perubahan pada ekspresi wajah Sasuke: Agitated, Nervous, Anxious.

"Aku pikir kau harus mengangkat tlp itu, mungkin saja itu telepon penting..."

"Hn...baiklah kau masuk saja duluan Sakura, setelah ini aku akan menyusulmu." Ucap Sasuke kembali memasang wajah datarnya seperti biasa.

Sakura hanya mengangguk pelan. Ia tahu bahwa perkataan suaminya barusan adalah perintah.