Chapter 2

...

Jaejoong mendengus pelan, sekali lagi ia menemukan banyak sekali bunga maupun surat cinta. Ia muak. Dengan kesal ia mengambil semua surat dan bunga lalu dibuangnya ke tempat sampah terdekat. Namun ada satu surat yang tertinggal, surat dengan gambar radio di amplopnya. Ia tersenyum kecil, mengambil amplop itu lalu membukanya.

Dear Jeje, I love you.

-You know

Jaejoong tersenyum simpul, ia menyimpan surat itu di sakunya, berjalan dengan langkah senang ke kelasnya. Entah kenapa ia punya firasat baik dengan surat itu. Senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya. Sejak ia curhat di radio, ia selalu mendapati surat seperti itu di tumpukkan terbawah dari sekian banyak surat yang ada di lokernya. Dan anehnya, surat itu tidak pernah terambil saat dia mengambil semua tumpukkan surat di lokernya untuk dibuang. Maklum, dia termasuk salah satu uke idaman di Seoul University sehingga tak sedikit seme yang mengejarnya, bahkan ada pula gadis-gadis yang mengiriminya surat cinta.

Sesampainya di kelas, Jaejoong dengan segera mendudukkan dirinya di samping Changmin, teman sejurusannya itu terlihat sibuk memakan berbagai macam snack yang entah darimana didapatnya itu. Jaejoong terkekeh melihat tingkah Changmin makan, sungguh seperti anak kecil yang kelaparan.

"Bisakah kau puasa untuk hari ini saja? Kau tau? Mataku sakit melihatmu pacaran terus dengan makanan-makanan tidak sehat itu. Pantas saja Kyuhyun cemburu berat," kata Jaejoong diakhiri dengan tawanya yang khas. Changmin hanya mendengus mendengar candaan Jaejoong.

"Ngomong-ngomong, aku dapat surat yang sama seperti kemarin lagi, Min-ah. Entah kenapa aku sangat senang. Seperti menemukan seseorang yang telah lama hilang," Jaejoong tersenyum sambil memperlihatkan surat yang barusan ia dapat. Ia terlihat sangat senang, tidak seperti Changmin yang menatap Jaejoong muram.

"Kenapa kau selalu mendapat banyak surat Jae? Kapan aku mendapatkan surat?" Changmin menghela nafasnya pelan. Ia menatap Jaejoong melas sedangkan Jaejoong tertawa pelan.

"Nanti akan ku suruh Kyuhyun membuat surat untukmu."

...

Seorang namja berpawakan tinggi berwajah cassanova berjalan ke arah Jaejoong dengan pedenya. Tiba-tiba namja itu memeluk namja cantik yang ada di depannya.

"Bogishipeo, Jae-ya."

"E-eh? Chun hyung?"

Yang dipanggil Chun hyung oleh Jaejoong hanya mengangguk pelan. Ia tersenyum kepada Jaejoong, masih dengan keadaan memeluk Jaejoong.

"Kenapa pindah tidak memberitahuku, huh? Aku mencarimu."

Jaejoong menunduk diam. Ia memang sengaja tidak memberi tahu namja bernama asli Park Yoochun itu karena ia tidak mau Yoochun selalu mengejarnya. Yoochun adalah kakak kelasnya semasa SMA dulu dan ia adalah teman Yunho, orang yang ia sukai. Yoochun menyukainya hingga membuatnya harus menjauh dari Yunho karena Yoochun mengejar Jaejoong terang-terangan sampai sekarang ini. Dan hal itu juga yang membuatnya memutuskan melajutkan studi di Seoul.

"Jawab aku jae," Yoochun menangkup wajah Jaejoong menatap Jaejoong intens. Mau tidak mau Jaejoong harus menatap Yoochun.

"A-aku lupa memberitahumu, hyung."

"Gwaenchana. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu? Kau harus menemaniku berkeliling Seoul," kata Yoochun sambil menarik Jaejoong menuju mobilnya.

Sedangkan di tempat lain, seorang namja berbadan tegap dengan sepasang mata musang sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan tidak suka. Jika saja tadi dia tidak dipanggil dosen pembimbingnya, mungkin sekarang ia lah yang mengajak Jaejoong pergi. Namja bermata musang itu mendengus kesal. Mungkin hari ini ia sedang sial.

...

Yoochun tertawa kecil ketika melihat Jaejoong memakan es krim vanilla kesukaannya, bibir plum nya dipenuhi es krim kesukaannya itu. Ia mendekatkan wajahnya, berniat membersihkan bibir Jaejoong. Namun naas, Yoochun mendekat saat Jaejoong akan menjilat es krim yang dimakannya, dan akhirnya es krim itu malah terkena wajahnya. Jaejoong yang sempat shock dengan kejadian itu kemudian tertawa melihat wajah blepotan Yoochun. Dengan segera ia mengambil sapu tangan di sakunya lalu mengusap wajah penuh es krim Yoochun.

"Makanya jangan usil deketin wajah, hyung."

Yoochun tertawa pelan menanggapi perkataan Jaejoong. Sungguh ia sangat bahagia melihat Jaejoong tertawa seharian ini. Sepertinya dia tak akan bisa melupakan malaikat indah di sampingnya itu meski ia tahu kalau namja berparas cantik itu tidak suka dengannya.

"Jae, apa kau menerima surat dariku? Aku memasukkan surat ke dalam lokermu," kata Yoochun pelan diakhiri kekehan kecil. Ia menatap Jaejoong senang.

"Eh? Surat yang mana hyung?"

"Surat yang ada gambar radio di amplopnya."

"I-itu dari hyung?"

Yoochun mengangguk lalu tersenyum pada Jaejoong. Jaejoong hanya memaksakan senyumnya. Ia kecewa ternyata pengirim surat itu bukan seseorang yang ia harapkan. Dalam hatinya ia merutuki Yoochun kenapa ia harus mengiriminya surat seperti itu.

"G-gomawo hyung, sepertinya aku harus pulang sekarang," Jaejoong melirik jam tangannya lalu mulai beranjak dari duduknya. Melihat Jaejoong akan meninggalkannya, Yoochun segera berdiri dan memegang tangan Jaejoong.

"Aku antar ya?" Jaejoong menatap tangan Yoochun yang menghalau langkahnya, ia singkiran tangannya dengan halus dan tersenyum kepada Yoochun.

"Aku bisa pulang sendiri kok hyung," kata Jaejoong lalu berjalan menjauh dari Yoochun tetapi masih menatapnya.

"Sayonara hyung," pamitnya lalu melambaikan tangannya ke arah Yoochun. Yoochun hanya menatap Jaejoong sambil tersenyum kecil dan melambaikan tangannya. Selalu begini, Jaejoong akan memaksa pulang dan tidak mau diantar pulang. Jika ia memaksakan kehendaknya untuk lebih lama bersama Jaejoong atau memaksanya mengantarkan pulang, namja cantik itu dijamin akan marah padanya.

...

Jaejoong memperlambat langkahnya, kemudian mendudukkan diri di salah satu bangku yang ada di tepian Sungai Han, menatap hamparan air di depannya. Ia menunduk sedih. Ia lelah menanti seseorang yang kehadirannya tidak pasti. Ia lelah berharap pada sesuatu yang mungkin tidak akan bisa terwujud. Ia menghela nafas dalam. Mencoba menenangkan hati dan pikirannya.

Andai saja pengirim surat itu adalah You Know yang sesungguhnya, mungkin saat ini ia tak akan sesedih ini. Ia mengeluarkan surat yang tadi ia terima dari sakunya. Ia baca lagi tulisan-tulisan yang tertera pada surat tersebut. Aneh. Tulisan Yoochun tidak seperti ini.

"Kau menerima surat dariku?"

Tiba-tiba muncul suara bass yang sangat familiar di telinganya. Dengan segera Jaejoong menoleh ke sampingnya, dimana suara tersebut berasal. Mata bulat Jaejoong membesar, menatap tak percaya sosok di sampingnya.

"You Know hyung?"

"Yeah, It's me. Apa kau merindukanku, heum?"

Jaejoong terkekeh lalu mengangguk. Matanya panas, ia mengangguk terharu. Kemudian memeluk sosok tampan di sampingnya itu.

"Nappeun, hyung meninggalkanku begitu saja saat aku mulai jatuh cinta dengan hyung," Jaejoong memukul lengan Yunho pelan. Yunho membalas pelukan Jaejoong lalu terkekeh pelan. Ia mengusap penuh sayang surai panjang Jaejoong.

"Mianhae, hyung memilih mengalah dan menyerahkanmu untuk Yoochun. Namun ketika aku mencoba pergi jauh darimu, aku semakin tersiksa hingga akhirnya aku menemukanmu ketika kau curhat di radio. Aku tak menyangka kau adalah angkatan bawahku di Seoul University."

"Hyung mendengarkan curhatku?"

Yunho mengangguk pelan lalu terkekeh.

"Malahan aku bisa berkomunikasi denganmu saat itu."

"Eh? Benarkah?"

Yunho mengangguk lalu mendekatkat wajahnya ke telinga Jaejoong.

"Karena aku adalah U-Know, kau tidak menyadarinya, eoh?"

Jaejoong menatap Yunho tidak percaya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, membuat Yunho gemas melihatnya dan tertawa pelan.

"Aku kira kau menyadarinya, ternyata tidak," canda Yunho, ia memanyanyunkan bibirnya dan berpura-pura kesal.

"Mianhae hyung, jeongmal. Aku benar-benar tidak menyadarinya."

Jaejoong menatap Yunho dengan doe eyes indahnya. Membuat yang ditatap melting dengan tatapan Jaejoong. Yunho tertawa pelan lalu mengecup bibir plum Jaejoong.

"Meski kau sudah jadian dengan Yoochun, aku akan merebutmu darinya," kata Yunho sambil menatap Jaejoong dengan jarak wajah yang bisa dikatakan tidak jauh. Jaejoong menaikkan alisnya bingung lalu tertawa pelan.

"Aku tidak jadian dengannya hyung. Tapi dia masih saja mengejarku. Hyung, buat dia berhenti mengejarku, jebal."

Jaejoong menangkupkan dua tangannya di depan dadanya, pertahan sedang memohon dengan seseorang yang ada di sampingnya (karena Jaejoong menatap ke Yunho, bisa jadi depannya). Yunho tertawa pelan. Lalu mengangguk pasti dan memeluk penuh kasih sayang dan rindu badan mungil Jaejoong.

...

Yoochun mendatangi Jaejoong dan Yunho dengan wajah marah. Ia menatap Yunho tidak suka.

"Apa ini yang kau sebut teman? Kenapa kau merebut Jaejoong dariku?"

Yoochun menarik kerah Yunho dengan tampang marahya. Yunho hanya menatap Yoochun sambil tersenyum kecil.

"Aku sudah memberimu waktu untuk memilikinya, tetapi sepertinya waktu yang ku berikan tidak bisa membuatmu memiliki Jaejoong. Jadi, ini adalah waktuku untuk memilikinya."

Yoochun menggeram kesal, ia menatap jengah Yunho.

"Kapan kau memberiku waktu?"

"Aku pindah dari Chungnam karena aku memberimu kesempatan untuk bersamanya. "

Jaejoong berusaha melepas cengkraman Yoochun dari kerah Yunho, ia berusaha menenangkan keduanya agar tidak terjadi perkelahian.

"Mianhae Yoochun hyung, aku memilih Yunho hyung. Dan soal surat yang kau berikan kemarin, aku tidak pernah menerimanya karena aku selalu membuang surat-surat yang ku terima, kecuali surat dari Yunho hyung. Awalnya aku kira surat dari Yunho hyung itu surat darimu. Karena kau bilang suratmu bergambarkan radio. Ternyata surat yang aku baca itu dari Yunho hyung. Dan anehnya, surat itu tidak pernah ikut terbuang."

"Karena aku tahu kau akan membuangnya, makanya aku menyelipkan suratku di bukumu," tambah Yunho lalu terkekeh menatap Jaejoong. Yoochun hanya terdiam.

"Mianhae hyung, aku akan bahagia dengan Yunho hyung," kata Jaejoong sambil menggandeng Yunho lalu pergi meninggalkan Yoochun. Yoochun meratapi kepergian Jaejoong dengan menangis. Ia menangis sambil berlutut. Ia tidak peduli orang-orang menatapnya aneh, ia hanya ingin mengeluarkan semua kesedihannya.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, namja bertubuh pendek tapi memiliki pantat sexy itu berjongkok di depannya, menatapnya dengan wajah anehnya.

"Kau dicampakkan Jaejoong? Atau Jaejoong menolakmu?"

JEDAR!

Suara khas lumba-lumbanya mengalun dengan lantangnya. Membuat Yoochun yang tadinya menangis menjadi ingin mencekik namja yang tak kalah cantiknya (hingga membuatnya terpana beberapa saat) dengan Jaejoong. Ia menatap namja bersuara lumba-lumba itu sebal.

"Kau seperti anak kecil saja, patah hati menangis seperti itu. Enggak hitz tahu," katanya diselingi tawa khasnya lalu memberi Yoochun sapu tangan bergambar lumba-lumba. Yoochun terdiam sambil menatap sapu tangan di tangannya.

"Jja, aku pergi dulu. Jangan lupa kembalikan sapu tanganku. Itu kesayanganku," katanya sambil melangkah pergi menjauhi Yoochun. Yoochun tersenyum kecil lalu beranjak dan melap air matanya dengan sapu tangan namja yang tak ia ketahui namanya itu.

"Eh? Siapa namamu?" Yoochun setengah berteriak, dan beruntung namja lumba-lumba itu mendengarnya.

"Kim Junsu," jawab Junsu berteriak sambil melambaikan tangan ke Yoochun dan Yoochun terkekeh melihat namja aneh (menurutnya) itu. Dan sepertinya presepi Yoochun tentang kecantikan Jaejoong yang tak terkalahkan buyar seketika ketika ia melihat namja bersuara lumba-lumba berpantat bebek itu.

END

...

-epilog-

"Jae, tahukah kau kenapa aku menjadi penyiar?"

"Eoh? Molla hyung. Apa alasanmu?"

"Karena aku ingin kau mendengar suaraku ketika aku tak bersamamu seperti dulu, makanya aku memberimu radio saat ulang tahunmu. Ketika kau merindukanku, kau bisa mendengar suaraku bersiaran."

"Dan sepertinya itu terbukti hyung. Aku sangat menyukai acaramu meski awalnya aku tak tahu jika U-Know sang penyiar radio itu adalah You Know yang dulu ku kenal dan menghilang entah kemana. Setiap aku merindukanmu aku akan mendengarkannya bersiaran."

"Takdir kita dipertemukan oleh sebuah radio Jae."

"Ne hyung. Meski terdengar konyol, aku tak peduli. Yang terpenting sekarang aku bersamamu"

...

huwaaaa akhirnya selesei meski endingnya gaje hehehe

maafkan sayaaaaa, crack pair JaeChun nya aneh banget waktu aku bacaaaa

aku ngerasa bersalah ngepairingin mereka ToT

oh ya, makasih buat yang udah review. FFnya emang aku buat alur cepat, soalnya kan awalnya mau buat oneshoot. tapi udah capek ngetik, akhirnya ya udah aku buat 2shoot. hehehe

Makasih buat yang udah review ff ini, ini ff Yaoi qaqa ToT bukan GS ToT

jangan lupa review :D