Kitsune VS Sharingan
Disclaimer:
Mashashi Kishimoto-sensei
Rated:
T (untuk jaga-jaga)
Genres:
Diutamakan Adventure, yang dibumbui romance dan tragedi (?)
Pairing:
Diutamakan..
SASUNARU
WARNING!
Boys Love, sedikit –banyak- OOC, AU, miss typo(s), dll.
DON'T LIKE? DON'T READ!
Chapter 1
"Naruto," panggil Gaara yang sedang menyetir kepada seseorang yang ada di sebelahnya.
Naruto yang dipanggil Gaara pun langsung menoleh ke arah Gaara.
"Ada apa ?" tanya Naruto.
"Apa kau tidak capek ? Kau selalu terluka karena pekerjaanmu ini, Naruto ?" tanya Gaara khawatir, tapi ia masih tetap fokus ke arah jalanan.
Naruto pun menyengir lebar.
"Gaara, kau tau kan aku sudah menginginkan ini sejak kecil ? Aku hanya ingin membalas budiku ke keluarga ini, Gaara," kata Naruto dengan senyum lembut.
Gaara melirik ke arah Naruto. Walau Naruto tersenyum lembut, tapi Gaara dapat melihat raut sedih di wajah Naruto.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2
Hari ini, pagi telah menyingsing. Memaksa semua makhluk untuk bangun melakukan aktivitas pagi harinya.
Tak terkecuali dengan pemuda berambut pirang dengan balutan perban di kepalanya yang telah duduk di kursi meja makan dengan mata yang berat. Ngantuk. Itulah yang telah melandanya sekarang.
Pemuda berambut merah maroon yang ada di ruang makan itu, yang sedang meletakan makanan untuk disantap pagi hari ini, hanya bisa mengehela nafas berat, melihat kondisi sahabatnya yang masih kurang fit.
Pemuda berambut merah bernama Gaara tadi pun duduk di hadapan pemuda yang satunya.
"Kau yakin akan sekolah hari ini, Naruto ? Lihat, lukamu yang tadi malam belum sembuh benar," tanya Gaara kepada pemuda berambut pirang, yang diketahui bernama Naruto tersebut. Ia sungguh khawatir dengan kesehatan sahabatnya ini.
Naruto yang ditanya pun menoleh ke arah Gaara dengan mata sapphire-nya yang menunjukan kekantukan yang amat sangat.
"Iya, aku sehat kok, Gaara. Luka sekecil ini tidak akan membuatku ambruk," kata Naruto dengan cengirannya. Ia melupakan rasa kantuk yang telah menghinggapinya tadi.
Gaara tersenyum kecil melihat kelakuan sahabatnya tersebut.
"Ya, sudah. Cepat makan. Aku mau buatin makanan untuk Kyuubi dulu. Nanti kalo udah, langsung tunggu di mobil aja," kata Gaara yang telah menghabiskan nasi goreng miliknya.
Ia pun langsung beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makanan bagi kakak dari Naruto sekaligus bos mereka, Namikaze Kyuubi.
Naruto yang mendengar perintah dari sahabatnya sekaligus orang yang paling disayanginya, langsung saja melakukan hal yang disuruh. Ia tidak mau membuat orang yang paling ingin ia buat bahagia terus mengkhawatirkan dirinya. Sungguh. Ia tidak mau itu terjadi karena hanyalah Gaara satu-satunya teman yang ia miliki.
Gaara lah yang mau menemani Naruto saat ia sedih maupun senang. Gaara lah yang mau menerimanya apa adanya. Gaara jugalah yang mau mengurusi Naruto dan Kyuubi yang sekarang hanya tinggal berdua karena sang orang tua yang sedang mengurusi perusahaan mereka yang lain di Amerika Serikat. Gaara jugalah yang mengetahui seluk beluk kehidupan Naruto. Sungguh ! Naruto sangat mempercayai, menyayangi, memberikan perhatian lebih kepada sahabatnya yang satu ini. Wajar saja kalo Naruto tidak ingin merepotkan Gaara yang selalu dia buat kerepotan sejak dulu. Ia sangat ingin membahagiakan dan tidak ingin membuat sahabatnya kerepotan lagi karena dirinya.
\(^o^)/~\(^_^)/~\(0.0)/~\(=.=)/
Gaara dan Naruto yang tadi menaiki mobil ferrari merah milik Gaara akhirnya sampai juga di sekolah mereka. Tokyo International High School.
Sekolah terelit dan terbagus di negara Jepang ini.
Sekolah yang memiliki luas sepanjang 12 lapangan sepak bola ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap, ekstrakulikuler yang lebih dari lengkap, ruangan yang sangat banyak dan luas, halaman asri serta rindang yang terawat rapi, lapangan olahraga yang lengkap, tempat parkir yang lebih dari kata luas, serta pelajaran yang diberikan pun terjamin kualitasnya.
Sekolah ini merupakan sekolah termahal se-Asia. Tapi, anak-anak terlantar yang dianggap memiliki kecerdasan pun dapat bersekolah di sini. Dikarenakan sekolah ini memiliki beasiswa untuk murid-murid 'khusus' seperti itu.
Setelah Gaara memarkirkan mobil ferrari kesayangannya di tempat parkir khusus mobil, akhirnya mereka berdua pun mulai menuju kelas mereka, kelas X D.
Gaara dan Naruto di sekolah ini dikenal sebagai 'pasangan' yang tak terpisahkan. Ke mana-mana mereka selalu bersama-sama, ke kantin, ke atap, ke mana pun itu. Kelas mereka sama, tempat duduk mereka bersebelahan, mereka selalu sekolompok dalam tugas kelompok, ekstrakulikuler yang mereka ambil pun juga sama.
Karena hal itu, muncullah gosip bahwa mereka adalah pasangan homo, ehm..sebut saja 'gay', mengingat mereka sama - sama lelaki.
Tapi, itu sangat tidak benar. Mereka berdua hanyalah sahabat. Sahabat yang tidak akan pernah terpisahkan. Perasaan saling ingin bersama, ingin melindungi, dan menyayangi itulah yang membuat mereka selalu bersama. Tapi, ingat ! Menyayangi itu beda dengan mencintai, percayalah.
Namun, walau pun mereka dikira mereka adalah pasangan homo. Tidak ada yang menjauhi mereka. Tidak ada yang mau memperolok mereka.
Hal itu dikarenakan, di Jepang, homoseksual bukanlah hal tabu yang patut diperolok, dihina, dicaci-maki, ditindas, dan apa pun itu lagi. Masyarakat di sini sadar, bahwa homoseksual bukanlah sebuah ketidaknormalan yang hina. Ketidaknormalan ini hanyalah sebuah takdir dari Tuhan. Yah...orang yang mengidap homoseksual pun sebenarnya tidak ingin dirinya menjadi seorang homoseksual. Tapi, mau bagaimana lagi. Tuhan lah yang memiliki kehendak untuk membuat keputusan itu.
Apalagi warga sekolah ini menyadari bahwa sesungguhnya gosip yang mengatakan mereka ini homo hanyalah kebohongan belaka.
"TING !- TONG ! –TENG !- TONG !" "TING !- TONG !- TENG !- TONG !"
Suara bel sekolah pun berbunyi, menandakan aktivitas belajar-mengajar yang akan dimulai pagi hari ini.
\(^o^)/~\(^_^)/~\(0.0)/~\(=.=)/
Tokyo International High School, telah membunyikan bel tanda pulang sekolah semenit yang lalu.
Lingkungan luar sekolah pun dipenuhi langsung oleh murid-murid sekolah ini yang keluar dengan teratur. Walau dikatakan pulang sekolah, tapi tidak semua murid langsung pulang.
Ada yang duduk-duduk di taman belakang sekolah yang asri, bertujuan untuk melepaskan penat akibat pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ada juga yang berbaring di atap sekolah, sekedar mencari angin agar beban akibat pelajaran yang dihadapinya sedikit mereda. Tapi, ada juga yang langsung menghadapi kegiatan ekskulnya yang memang diadakan setiap hari ini.
Begitulah yang dihadapi pada Gaara dan Naruto.
Mereka sekarang berada di ruang ganti baju khusus putra kelas 10. Mereka pun sedang mengganti baju sekolahnya dengan baju basket sekolah mereka bersama dengan beberapa orang lainnya.
"Naruto, kau yakin tetap akan mengikuti ekskul ?" tanya Gaara sambil memakai baju basket sekolah mereka yang berwarna oranye dengan nomor punggung 16 dan namanya yang ditulis dalam huruf kanji di belakang belakang baju kaos basketnya.
Naruto tersenyum lebar. "Tentu saja !" jawabnya antusias. Anak ini terlalu menyukai basket.
Saat Naruto memasukan seragam sekolahnya di dalam tas olahraga yang ia bawa hari ini. Tiba-tiba, handphone yang berada di dalam tasnya berbunyi. Segera diambilnya handphone miliknya yang terdapat gantungan 'kyuubi no kitsune' tersebut.
'Huh ? Kyuu-nii ?'
Saat melihat nama yang tertera di layar handphone-nya tersebut segera dilayangkannya pandangannya ke segala arah. 'Huft ! Untung sudah sepi,' batinnya lagi.
"Halo, Kyuu-nii," kata Naruto mengawali pembicaraan di telepon tersebut.
"Naruto, aku punya misi baru buat kau. Cepat kembali ke perusahaan sekarang ! Aku tak peduli jika kau hari ini ekskul atau tidak. Pokoknya pulang !" tuntut Kyuubi kepada adik semata wayangnya tersebut.
Sebelum Naruto menjawab perkataan kakaknya tersebut, si penelepon langsung saja mematikan sambungan telepon tanpa pemberitahuan lagi.
Naruto pun hanya bisa menghela nafas berat. Menatap nanar handphone yang ada di genggamannya.
"Siapa ?" tanya Gaara yang sedari tadi diam melihat Naruto yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang yang tak ia ketahui.
"Huh ! Kyuu-nii. Ia menyuruh kita pulang, Gaara. Huh ! Menyebalkan. Lagi-lagi kita tak bisa mengikuti ekskul basket," kata Naruto sambil menggembungkan pipinya.
Gaara hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.
\(^o^)/~\(^_^)/~\(0.0)/~\(=.=)/
Sebuah mobil sport bewarna orange melaju dengan pesat di jalanan kota Tokyo. Mobil tersebut melaju layaknya angin yang berhembus kencang.
Tak ayal banyak umpatan kesal dari beberapa pengguna jalan yang dilalui oleh mobil tersebut.
Sedangkan seorang pemuda berambut pirang dengan iris mata sapphire tersebut yang merupakan pengemudi dari mobil tersebut seakan tidak peduli dengan kondisi luar yang mengumpat-umpat dirinya. Pemuda ini sekarang sedang asyik mengumpat-umpat kecil.
'Huh ! Kuso Niichan ! Masa dia memberiku misi yang berat gini. Gak tahu apa aku masih luka gini,' batin pemuda bernama Naruto itu kesal.
Ia semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal di keramaian kota Tokyo tersebut. Ia tak peduli jika ada yang luka karena tertabrak mobilnya. 'Huh ! Mengacau,' itulah batin pemuda pirang satu ini saat ia menabrak kucing jalanan yang ada di tengah jalan.
Yah~ sepertinya kekesalan sedang melanda hati Naruto.
Flashback.
'BRAK !'
"Kyuu-nii, ada apa sih ?" tanya Naruto yang masuk secara kasar ke ruangan Kyuubi, disusul oleh Gaara yang ada di belakangnya.
Kyuubi yang dari tadi sedang bergelut dengan laptop yang ada di hadapannya melirik sedikit ke arah 2 orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya tersebut dengan tidak sopannya.
'BRAK!'
"Kyuu-nii, jawab !" kata Naruto dengan emosi sambil menggebrak meja Kyuubi. "Kau telah menggangguku lagi untuk latihan ekskul. Huh ! Menyebalkan," kata Naruto sambil menggembungkan pipinya tersebut dan melipat kedua tangan tan-nya di depan dada.
Kyuubi kembali menatap laptopnya. "Itu urusanmu, Chibi Otouto," kata Kyuubi singkat.
Naruto yang mendengar panggilan kakaknya kepadanya semakin emosi saja. Dia tidak peduli jika emosinya yang terlalu berlebihan itu menyebabkan kepalanya yang masih luka menjadi sakit.
Gaara yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Sudahlah, Naruto. Kita dengarkan saja maksud Kyuu memanggil kita," kata Gaara. Ia menarik Naruto untuk mundur.
Naruto pun menghela nafas. Ia mengikuti perintah Gaara.
Kyuubi yang melihat itu pun akhirnya mulai angkat bicara lagi. "Sudah bisa tenang," katanya tanpa masuk bertanya. Naruto cuma mengangguk kesal.
"Aku punya misi buat kau. Misi penting. Baru saja kudapatkan dari e-mail yang ditujukan ke alamat website Kitsune-mu itu," kata Kyuubi sambil menunjuk Naruto. Naruto yang sudah tahu hal itu tadi hanya bisa mengangguk bosan.
"Misi perlindungan terhadap putri dari keluarga Hyuuga," kata Kyuubi tegas.
Naruto yang mendengar perkataan dari Kyuubi tadi terlonjak kaget. "Ke-keluarga Hyuuga. Pu-putri keluarga Hyuuga? Ma-maksudmu Hinata, Niichan ?"tanya Naruto tak percaya.
Kyuubi mengangguk mantap. "Benar. Kau pasti sudah tahu kan ? Hari ini temanmu itu berulang tahun. Kau diundang ?" kata Kyuubi.
Sekali lagi Naruto hanya bisa mengangguk. "Kau Gaara ?" tanya Naruto kepada Gaara yang ada di sebelahnya. Dan anggukanlah jawabannya.
Naruto kembali menatap ke arah Kyuubi. Menatap serius ke arah sang kakak sehingga suasana di ruangan tersebut menjadi tegang.
"Baiklah. Ini kasus terumitmu yang pertama, Naruto. Aku akan memberimu misi ini dengan sedetail-detailnya. Aku tak mau ada kesalahan yang kau perbuat," kata Kyuubi. Ia menatap laptop di hadapannya sejenak, kemudian melihat ke arah Naruto kembali.
"Client kita adalah kepala keluarga Hyuuga, Hyuuga Hiashi. Ia meminta bantuan kepada perusahaan kita untuk melindungi putrinya yang akan mengadakan pesta ulang tahun yang ke-16 di Hotel Shibuya,"
"Kenapa Hinata harus dilindungi kita. Kan ada Neji ?" tanya Naruto bingung, memotong perkataan dari sang kakak.
Kyuubi yang merupakan orang yang tidak suka pembicaraannya dipotong, kontan saja langsung melempar Naruto dengan kaleng minuman yang baru dihabiskannya.
'DUG !' 'TRANG !-TRANG !-TRANG !'
Tapi, untung Naruto dapat menghindar sebelum kaleng minuman kosong tersebut mengenai kepalanya, sehingga sang kaleng yang tak berdosa itu sukses menabrak tembok di belakangnya dan mendarat ke lantai dengan indahnya (?).
Naruto pun hanya bisa memberikan cengiran lebarnya saat melihat sang kakak yang menatapnya seakan ingin membunuhnya. Kyuubi pun akhirnya mendengus kesal atas perlakuan Naruto.
Suasana tegang yang sempat mencair tersebut kembali tegang.
"Dengarkan dulu. Hinata adalah penerus utama dari perusahaan Hyuuga Corp. Nah, karena keluarga Hyuuga yang merupakan pemilik perusahaan pesawat terbang terbesar di dunia sekaligus pemilik dojo terkenal di Jepang ini, tentu memiliki banyak musuh, bukan. Lalu, alasan Hiashi memakai jasa kita bukan Neji dan anak buahnya yang memang tidak diragukan lagi kekuatannya adalah karena yang dihadapi sekarang adalah musuh keluarga Hyuuga yang hmm..entah siapa itu, menyewa pembunuh bayaran," kata Kyuubi.
Sebelum melanjutkan perkataannya yang selanjutnya, Kyuubi menghela nafas terlebih dahulu.
"Pembunuh bayaran ini sepertinya profesional. Ia berani memberikan surat ancaman kepada Hiashi seakan misinya akan berjalan dengan sukses besar tanpa halangan. Dan surat ancaman itu ditemukan di meja Hiashi sendiri dengan sebuah pisau yang menancap di kertas tersebut. Maka, tidak diragukan lagi. Pembunuh bayaran ini bisa menyusup dengan mudahnya ke kediaman Hyuuga yang penjagaannya sangat ketat, maka artinya...,"
Sebelum melanjutkan perkataannya, Kyuubi melihat Naruto dengan tajam. "Dia adalah seseorang yang berasal dari clan Assasin tersembunyi," kata Kyuubi.
Naruto dan Gaara mengangkat sebelah alis mereka. "Maksudmu seperti keluarga Namikaze ini ?" tanya Gaara. Kyuubi mengangguk.
"Maka dari itu, kau harus berhati-hati, Pendek. Kalau tidak nyawamu sendiri yang terancam," kata Kyuubi santai. Ia meminum teh hijau yang ada di mejanya tenang. Seakan tidak ada suasana yang menegangkan di sini tadi.
Naruto terbelalak kaget. "Kalau gitu, kenapa harus aku ?" teriak Naruto kesal. Ia tak habis pikir dengan kakaknya ini.
Kyuubi meletakkan teh-nya kembali. Ia menatap Naruto sinis. "Karena perusahaan kita butuh uang. Lagipula bayaran misi ini sangat besar, jika berhasil...," jawab Kyuubi dengan tawa setannya.
Naruto ternganga. Ia melemparkan benda-benda yang dapat digapainya ke arah kakaknya. Tak habis pikir dengan sifat kakaknya yang 'mata duitan' ini. Dan emosinya semakin bertambah karena sang kakak dengan mudahnya menghindar dari lemparan-lemparannya.
"Makanya, kau itu jangan beli barang-barang yang tak guna ini, KUSO NIICHAN !" teriak Naruto kesal sambil menunjuk-nunjuk senjata-senjata yang terpajang di lemari kaca yang ada di ruangan kakaknya. Mulai dari RPG 5000, Shootguns 2100, Basooka, sampai Bom CS 4 terpajang di lemari kaca tersebut.
Kyuubi hanya terkekeh-kekeh dengan cengiran setannya. "Itu koleksi berhargaku, Chibi Otouto," katanya santai.
Naruto yang hampir saja ingin menembakan peluru ke kepala kakaknya tersebut langsung saja ditahan oleh Gaara.
Naruto menoleh ke arah Gaara. "Biarkan saja Kuso Niichan ini mati, Gaara ! Aku benci ! Huh !" kata Naruto sambil menggembungkan pipinya.
Gaara tersenyum. "Aku 'kan datang ke pesta itu. Aku bantu deh," kata Gaara.
Naruto ingin sekali memeluk Gaara, tapi sebuah tubuh menghalangi dia. Tubuh tersebut memisahkannya dengan Gaara yang saling berhadapan tadi.
"Woy, untuk menjaga identitasmu, kau tidak akan pakai penyamaran. Dan senjatamu. Kau hanya membawa ini," kata Kyuubi sambil menampakkan raut muka serius di wajah 2 orang ini.
"Ta-"
Belum sempat Naruto akan protes, Kyuubi mengeluarkan senyuman setannya. "Melawan ? Koleksi komikmu kubakar," kata Kyuubi.
Naruto menelan ludah paksa, lalu ia pun mengangguk cepat.
"Bagus," kata Kyuubi dengan senyumannya sambil mengacak-ngacak rambut pirang Naruto.
Kyuubi lalu membalikan tubuhnya ke arah Gaara. "Dan kau, Maroon," tunjuknya ke arah Gaara.
"Kau tidak boleh hadir di pesta itu. Kau mengawasi dari luar," kata Kyuubi.
Gaara hanya mengangguk saja. Toh, ia tahu rencana Kyuubi selalu berhasil.
"Nah, pakai ini untuk berkomunikasi," kata Kyuubi sambil melempar 2 chip kecil dari laci meja kerjanya.
End of Flashback.
Naruto yang mengingat kejadian itu lagi. Langsung mengeram kesal.
"Sialan. Dia mengancamku dengan komik. Huh !" geramnya kesal.
Setelah beberapa menit di perjalanan. Akhirnya Naruto berhenti di depan Hotel Shibuya. Dengan segera ia memakai jas orange yang ada di jok mobil, tidak lupa dengan perlengkapan senjatanya yang ia pasang di balik jas orange-nya serta di balik celana panjang orange yang dipakainya juga. Oh, ya ! Kado dengan bungkusan orange dengan pita merah pun tak luput dibawanya.
Lalu ia pun memasuki Hotel Shibuya dengan wajah berseri setelah berhasil mengendalikan emosinya. Membiarkan mobilnya ditangani oleh penjaga hotel.
Saat memasuki hotel tersebut, Naruto langsung disambut dengan keramaian orang-orang elit yang pada umumnya telah dikenalnya. Dari teman sekolahnya sampai mantan-mantan client-nya mendatangi pesta putri keluarga Hyuuga ini.
'Ramai sekali. Semoga pembunuh bayaran tersebut bisa aku tangani di tempat begini,' batin Naruto berdoa.
"Naruto. Naruto. Jawab,"
Naruto merasa ada seseorang memanggilnya. Ia pun menoleh ke belakang. Ia hanya melihat beberapa temannya sedang mengobrol masing-masing. Lalu siapa yang memanggilnya. 'Haa... Mungkin cuma ilusiku,' batinnya. Lalu ia pun kembali berjalan ke arah di mana Hinata berdiri menyambut segelintir orang yang tak henti-hentinya mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
"Naruto. Jawab. Aku Gaara,"
Naruto berhenti seketika. Ia tersentak kaget. 'Ah ! Bagaimana bisa kau lupa Naruto ? Dasar Bodoh,' batinnya memperolok dirinya sendiri.
Dengan cepat Naruto menuju sudut ruangan. Ia memegang telinga kanannya. Tepatnya menekan chip di telinga kanannya untuk menjawab panggilan dari sang sahabat. "Ya, Gaara,"jawabnya.
Terdengar suara helaan napas dari seberang sana. "Haa... Aku hanya mengecek keadaanmu. Di luar sini belum ada tanda-tanda yang mencurigakan," kata suara tersebut. "Sama, di sini juga," kata Naruto sambil memantau keadaan sekeliling di ruangan tersebut. "Baiklah, Gaara. Nanti kuhubungi lagi," kata Naruto. Ia lalu segera berjalan lagi menuju Hinata setelah ia mendapat balasan, "Hm," dari orang yang bersangkutan.
"Hinata-chan ! Happy Brithday !" kata Naruto antusias saat ia berdiri di depan gadis bermata lavender dengan rambut indigo yang diikat tinggi ke atas, dihias oleh jepitan bunga jasmine. Wanita berambut indigo ini terlihat sangat anggun saat ia memakai gaun berwarna putih setumit dengan berbagai manik yang menghiasi bagian bawah gaun ini. Sungguh anggun.
Hinata yang mendengar perkataan Naruto hanya bisa bersemu merah. "Ini kadomu, Hinata-chan," kata Naruto sambil memberikan kadonya kepada Hinata dengan diiringi senyuman lebar yang merekah dari wajah tan-nya. "Te-terima kasih, Na-naruto-kun," balas sang Hyuuga dengan lirih. Ia mengambil kado yang diberikan Naruto kepadanya dengan malu-malu.
"Hehehe…Oh, iya, Hinata-chan ! Maaf, Gaara tak bisa datang. Ia ada pekerjaan. Tapi, tenang kok. Ia menitipkan ini padamu,"kata Naruto sambil memberikan Hinata kado mungil dengan bungkus berwarna merah polos. Hinata mengangguk pelan. "Tak apa. Ti-titip salam untuk Gaara-san,"kata Hinata dengan semburat merah yang masih menghiasi wajahnya. Naruto pun hanya menyengir lebar.
"Ah ! Hinata-chan, aku ke sana dulu, ya," kata Naruto antusias sambil menunjuk ke arah meja yang di atasnya telah tersedia makanan serta minuman. Hinata pun hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
\(^o^)/~\(^_^)/~\(0.0)/~\(=.=)/
Pesta ulang tahun putri keluarga Hyuuga ini telah berlangsung selama satu setengah jam dan belum menunjukan tanda-tanda akan diadakannya puncak acara.
Naruto yang sedari tadi hanya menyantap kue-kue yang ada di meja selama acara berlangsung mulai merasa kebosanan. 'Mana sebenarnya pembunuh bayaran tersebut ? Lama sekali,' batinnya.
"NGIING !"
"Selamat malam, para hadirin sekalian," kata seseorang pria paruh baya yang seketika itu langsung menarik perhatian para pengunjung. Ialah sang kepala keluarga Hyuuga, Hyuuga Hiashi.
Hiashi berdiri di atas panggung sambil tepat di depan microphone yang digunakannya untuk berbicara tadi.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena acara ulang tahun putri saya, Hyuuga Hinata berlangsung sangat lama untuk mencapai puncak acara. Ini disebabkan kami yang terlebih dahulu harus memastikan bahwa tempat yang dijadikan untuk penyelenggarakan pesta ulang tahun pewaris utama Hyuuga Corp ini aman dari segala mara bahaya. Sekali lagi saya minta maaf," kata Hiashi sambil membungkukan tubuhnya.
Naruto berdecak kagum melihat sang kepala keluarga Hyuuga yang begitu beribawa di tengah panggung.
Naruto lalu mengambil sedikit makanan lagi dari meja yang ada di sampingnya. Mata sapphire-nya yang sedari tadi fokus terhadap pidato awal Hiashi tersebut menangkap sesuatu yang mengejutkan saat mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pintu yang ada di lantai 3. Naruto menyeringai. 'Mulai beraksi ternyata,' batinnya.
"Baiklah. Sekarang kita mulai puncak acara,"
Saat semua pandangan kembali lagi terfokus pada acara utama pesta itu, Naruto langsung saja berjalan santai ke luar Hotel Shibuya itu melalui pintu samping, tentunya dengan berbagai alasan jitu yang terlontar dari bibirnya agar bisa keluar saat berhadapan dengan penjaga pintu samping tersebut.
Naruto yang berhasil keluar dari Hotel Shibuya. Tiba-tiba langsung berbelok ke bagian belakang hotel.
'Huh ! Menyusahkan saja. Kenapa harus di lantai 3,' batin Naruto sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Naruto lalu memencet sebuah tombol kecil pada benda mungil tersebut saat mengarahkannya ke atas. Tiba-tiba keluarlah sebuah tali yang cukup panjang dengan sebuah kaitan besi yang ada di ujungnya.
"Gotcha !" gumam Naruto saat tali tersebut tepat berhenti di lantai tiga sesaat sebelumnya berputar-putar terlebih dahulu di pagar kecil itu.
Saat Naruto akan memencet tombol di bawah tombol tersebut. Ia teringat sesuatu. 'Aduh ! Aku gak pake penyamaran. Huh ! Terpaksa pake topeng ini,' batinnya. Ia mengeluarkan sebuah topeng merah yang hanya menutupi separuh wajahnya serta dapat semakin menampakan keindahan mata sapphire tersebut.
"Baiklah. I ready," katanya sambil memencet tombol tersebut.
Tiba-tiba tali tersebut seakan menariknya ke ujung tali tersebut tertancap. Bedanya, tali tersebut semakin memendek, masuk ke dalam benda mungil yang digenggamnya.
\(^o^)/~\(^_^)/~\(0.0)/~\(=.=)/
Suara lantunan lagu 'Happy Brithday' terdengar di dalam ruangan yang terang serta ramai tersebut. Memarakan suasana sukacita yang melanda keluarga Hyuuga.
"Happy birthday to you ! Happy birthday to you ! Happy birthday, Happy birthday. Happy birthday to you !"
Begitulah lagu yang dilantunin di ruangan itu.
Mereka yang sedang dilanda keceriaan di bawah sana itu tidak menyadari adanya bahaya yang berasal dari sebuah ruangan yang ada di lantai 3.
Di balik pintu suatu ruangan di lantai 3 tersebut terdapat seseorang berkerudung hitam yang menyeringai dengan senapan yang digenggamnya. Senapan itu mengarah lurus ke sang putri Hyuuga.
"Cih ! Tak menyangka ada pengganggu kecil di sini," kata seorang berkerudung tersebut. Ia yang semula membidik dari balik pintu langsung membalikan badannya. "Keluarlah. Aku tahu kau di sana," kata orang itu datar.
Pemuda berambut pirang yang memakai topeng separuh wajah itu keluar dari balik kaca ruangan yang ditempati sang pemuda berkerudung. Ialah Naruto.
"Huh ! Hebat juga kau bisa tahu kalau aku ada di sini," kata Naruto sinis. Terlihat wajahnya yang sekarang sedang memberikan senyuman sinis.
Lelaki berkerudung hitam itu terlihat menyeringai. "Kau terlalu meremehkanku, Dobe. Aku tebak... Kau adalah Kitsune, sang bodyguard yang disewa keluarga Hyuuga ini," kata sang pemuda berkerudung.
Naruto terbelalak kaget. "Da-dari mana kau tahu, Brengsek ! Dan maaf saja aku tidak Dobe, Teme !" geram Naruto marah. Ia sangat tidak diterima dengan julukan yang diberikan oleh seorang Assassin di depannya ini.
Sosok itu mengarahkan senapannya ke arah sang Kitsune. "Stop talking, Dobe ! I just wanna finish my mission. Don't disturb me," kata sosok itu.
Naruto tak mau kalah. Ia mengeluarkan pistolnya dari balik jas orange-nya dengan cepat. "So what ?... I'm not scary, Teme," jawab Naruto.
Sosok itu menyeringai. "Kau hebat, Dobe. Tapi, maaf saja. Aku tidak ingin kau mengacaukan nama baik kami, Sharingan," kata sosok itu datar.
'Jadi…, Sharingan ?'batin Naruto bingung.
Sosok tersebut lalu menampakan matanya. Mata merah dengan 3 garis hitam yang melingkari titik hitam yang merupakan inti pupil mata tersebut. Sosok itu menyeringai. "Tidurlah," kata sosok yang dijuluki Sharingan itu.
Tiba-tiba, Naruto yang melihat tepat di bola mata aneh tersebut langsung pingsan, tak sadarkan diri. Terakhir yang ia ingat sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, sosok tersebut berjalan mendekat ke arahnya.
"Jadi, ini sosokmu, Kitsune ? Hm...menarik," kata sosok berkerudung hitam itu menyeringai sambil menggenggam sebuah topeng separuh wajah warna merah. Lalu dengan seringaian yang terpampang di wajahnya, ia berjalan untuk melaksanakan tugasnya yang tertunda.
To Be Continiued
A/N: gomen jika masih ada typo... maafkan kami, kami hanya manusia biasa.. (_ _)
balasan review:
GaryPoLary: yup... sudah updet! lam kenal juga...^^
Orange Naru: ini sudah di updeeet... XDD
mechakucha_no_aoi_neko: hehehe... mecha kenal dengan gaya penulisannya? tanyakan pada author Hikarii hana...
Lavender_Hime_chan: yup! betul sekali...! ^^ .. aah~ gomen kalau masih banyak typonya.. akan segera diperbaiki... ^^.. trims sudah membacanya.
akhir kata Review or Flame?
