Katanya semua akan baik-baik saja

Tapi menurutku, sejak awal tidak baik-baik saja

Aku bertanya padamu,

"Apa aku terlihat baik-baik saja?"


Ranbara

Kuroko no Basuke (c) Tadotoshi Fujimaki

*Song: in a rainy town, balloons dance with devils (c) Hatsune Miku

Pairing: Akashi x Kuroko

Warning: Mpreg!,alur tidak sesuai,typo dll

Rated: T+

Don't like don't read


Sudah 8 bulan ia mengandung, sudah 8 bulan lamanya ia menderita. Ya, Kuroko Tetsuya sudah mengalami masa terberatnya selama 9 bulan. Kau tahu apa itu? Ah, sepertinya kau mengetahuinya. Tanpa perlu menebak, kau pasti tahu. Keadaan pemuda bermahkota babyblue ini lebih mirip barang yang sudah retak. Tatapan mata yang kosong seperti tak memiliki harapan hidup. Andai saja ia bisa bunuh diri, pasti ia tidak perlu menjalankan penderitaan ini.

Namun nyatanya, bunuh diri adalah niat yang paling sulit bagi Kuroko Tetsuya. Akashi Seijuro—Pemuda yang membuka pintu penderitaan bagi dirinya—selalu mengintainya dalam diam. Selalu saja iris heterochrome itu mengamati gerak gerik dirinya. Setiap Kuroko bergerak sedikit, hal itu selalu terekam jelas dalam mata merah keemasan itu.

Kuroko selalu berusaha untuk bunuh diri, tetapi Akashi selalu mengawasinya. Sungguh, Akashi sangat mengerikan. Hanya sekedar mengambil pisau saja, Akashi selalu menanyakan alasan mengapa Kuroko mengambil pisau.

"Kau mau apa, Tetsuya?"

Lihat? Niat Kuroko ingin bunuh diri harus tertunda lagi.

Iris sewarna langit musim panas itu mengerjap pelan, tak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari pemuda crimson itu. Diletakannya kembali benda tajam itu dan berusaha menatap iris dwiwarna milih Akashi.

"Tidak apa-apa. Aku hanya mau bunuh diri."

Jawaban yang sangat frontal.

Akashi hanya terdiam. Sudah 39 kali Kuroko berniat untuk bunuh diri namun selalu gagal. Akashi menghela nafas bosan, bosan karena alasan yang diberikan Kuroko selalu sama.

Akashi tersenyum tipis, "Kau selalu mengatakan hal yang sama," ia berjalan ke arah Kuroko dan mencium dahinya lembut, "Tapi tak masalah asal kau tetap hidup."

Kuroko hanya terdiam melihat Akashi yang mencium dahinya. Ia hanya menatap datar pemuda di hadapannya yang mulai membingkai wajahnya—bersiap mencium bibirnya, "Akashi-kun hentikan."

Merasa tak puas atas reaksi Kuroko, Akashi menghentikan aksinya, "Kurasa kekasih manapun pasti akan senang bila dicium."

"Aku bukan kekasihmu. Hanya kau yang menanggap kita berdua adalah sepasang kekasih." kata Kuroko datar dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Oh Kuroko, apa kau tak tahu bahwa jawabanmu itu berhasil memancing amarah Akashi?

BRUK!

Dengan kejinya, Akashi membanting tubuh mungil Kuroko ke kasur. Sejenak pandangan si babyblue sempat kabur karena berhantaman langsung dengan kasur. Dalam hati, ia berpikir bahwa tindakan Akashi mungkin saja membahayakan nyawa 'bayi' dalam kandungannya. Oh, apa Akashi berharap bayi ini mati? jika benar, Kuroko bersyukur sekali.

Iris babyblue itu masih saja tenang seperti biasa. Ia tidak meringis kesakitan ataupun protes atas tindakan Akashi yang seenaknya membantingnya ke kasur. Ia hanya menatap datar—seperti benda mati yang pasrah diperlakukan seperti apapun.

"Maaf Tetsuya. Aku tak tahu ternyata kau bisa berkata hal seperti itu." kata Akashi dengan tatapan dingin namun penuh amarah, "Sepertinya kau tidak memiliki sifat seperti Kouki. Kau lebih brengsek dari Kouki."

Mendengar Akashi yang menekan kata 'brengsek' membuat Kuroko mengulas senyum tipis. Ingin rasanya Kuroko bertanya 'Siapa yang lebih brengsek di sini?', namun ia tak bisa sembarangan melontarkan pertanyaan itu. Tadi ia sudah berucap fatal, tak mungkin menambah kefatalan lagi.

Iris babyblue itu menatap datar iris dwiwarna penuh amarah, "Aku tak mengerti. Aku tak pernah mengerti sifat Furihata-kun." Kuroko menghela nafas, sulit rasanya melanjutkan kata-kata dalam posisi Akashi yang bisa membunuhnya kapan saja, "Kalau kau mau membunuhku, silahkan saja."

Akashi tersenyum—lebih tepatnya menyeringai. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Akashi menarik lengan Kuroko dengan kasar dan menyuruhnya berdiri secara paksa. Iris babyblue itu sempat membulat kaget namun kembali datar.

'Akashi-kun...' batin Kuroko bersuara. Bagaimana pun juga, sebenarnya ia takut bila berhadapan dengan Akashi. Namun ia bersyukur Tuhan menganugerahi dirinya topeng yang sangat kuat untuk menyembunyikan sisi lemahnya.

"Tetsuya, kita akan ke rumah sakit sekarang." kata Akashi ketika mengambil kunci mobil.

Kuroko menatap bingung, "Untuk apa?"

"Memeriksa kandunganmu." kata Akashi singkat, "Ayo."

Apa? kandungannya? tunggu, Kuroko masih belum siap mendengar kata-kata dari Dokter yang akan memeriksanya. Kuroko juga belum memiliki muka pada dunia luar. Ia sangat malu pada gelarnya sebagai manusia rendahan.

"Eh? t-tapi—" Ia berusaha menolak sebisa mungkin, "Aku.. tidak bisa."

Akashi menatap Kuroko tajam, "Kenapa?"

Ayolah, mana mungkin Kuroko mengatakan alasannya pada Akashi?

GREP

"!?"

"Kau tak perlu membantah. Semua akan baik-baik saja."

.

.

.

"Semua akan baik-baik saja."

Aku hanya bisa berpegang pada kata-kata itu.

Ah, lagi-lagi ia memaksaku. Kali ini ia memaksaku ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganku.

Jujur saja, aku berharap mobil yang dikendarai oleh aku dan Akashi-kun kecelakaan.

Kenapa ya? soalnya aku ingin mati.

Soal Bayi? Oh tenang saja, ia juga akan mati bersamaku.

Hanya saja... mungkin aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Mungkin bayi itu akan pergi ke Surga dan aku...

ke Neraka.

.

.

.

Rumah sakit yang dituju sudah sampai. Tanpa basa-basi lagi, Akashi langsung menarik lengan Kuroko dan menyuruhnya keluar dari mobil. Tidak hanya itu, Akashi juga menautkan jarinya dengan jari Kuroko dan berjalan bersama—hanya berjaga-jaga saja, takutnya Kuroko melarikan diri dari Akashi. Sebenarnya mustahil bila Kuroko bisa kabur dalam keadaan tengah mengandung.

Akashi langsung berjalan ke meja rumah sakit dan mendaftar di sana. Rumah sakit ini adalah rumah sakit internasional, maka tak heran bila harga yang harus dibayar sangat mahal. Mahal? Oh, kata itu tidak ada dalam kamus milik Akashi Seijuro. Semahal apapun ia akan sanggup membayar.

Kebetulan, dokter yang memeriksa kandungan sedang kosong sehingga Akashi dan Kuroko dapat langsung masuk dan memeriksa. Bau obat-obatan yang menusuk menyapa indra penciuman mereka. Kuroko sempat menutup hidungnya ketika bertemu dengan bau yang tidak disukanya. Jujur saja, Kuroko benci dengan rumah sakit.

CKREK

Pintu itu terbuka, menampakan sosok Akashi dan Kuroko di sana.

"Shintarou, aku ingin kau memeriksa kandungan Tetsuya." pinta Akashi sambil berjalan menuju kursi dan duduk di sana, "Cepat."

Pemuda yang berprofesi sebagai dokter dan dipanggil 'Shintarou' itu menghela nafas, "Kau selalu tak sabaran seperti biasa, Akashi."

Namanya Midorima Shintarou. Dokter muda yang sudah berbakat dan tidak diragukan lagi kehebatannya dalam bidang medis. Sebenarnya Midorima adalah dokter spesialis, namun karena dokter umum yang seharusnya bekerja harus absen karena suatu hal—dan mau tak mau, Midorima yang menggantikannya. Dokter berkacamata ini tak menyangka bahwa pasien pertamanya adalah teman masa SMPnya dulu, Akashi dan Kuroko.

"Kuroko silahkan berbaring di sana." kata Midorima sambil mempersiapkan layar yang menunjukan bayi dalam kandungan Kuroko. Pemuda babyblue itu menunduk patuh. Ia pun berbaring di kasur itu sambil berharap terjadi sesuatu yang buruk.

Alat itu menyala dan menampilkan gerak gerik bayi dalam kandungan Kuroko. Bayi itu sudah terbentuk dengan normal. Dalam samar, Kuroko bisa melihat bayi itu sedikit...

tersenyum.

Midorima mengambil data pemeriksaan dan menyatat seluruhnya tanpa terkecuali. Iris hijaunya menatap layar yang menampilkan gambar bayi tersebut. Menurutnya, bayi itu baik-baik saja. Tidak cacat dan normal seperti bayi pada umumnya. Sambil menulis, dokter berkacamata ini berpikir sejenak. Untuk apa Akashi memeriksa kandungan Kuroko? padahal mustahil bila bayi mereka cacat.

Midorima membuka hasil pemeriksaannya, "Akashi, Kuroko, bayi kalian normal dan tidak cacat."

Mendengar kalimat itu sudah membuat Akashi menghela nafas lega. Ia sangat senang bayi yang dimiliki oleh mereka berdua baik-baik saja. Meski kebahagiaanya tidak ia tunjukan langsung, ia tetap senang.

Midorima menatap Akashi yang menghela nafas lega, "Mungkin bulan depan bayi itu akan lahir."

Apa? Bulan depan?

DEG

Kuroko mengerjap pelan, "Eh?"

"Kau yakin, Shintarou?" tanya Akashi memastikan. Midorima mengangguk yakin sebagai jawaban dari pertanyaan Akashi.

Akashi tersenyum tipis, "Syukurlah..."

DEG

Perlahan pemuda bersurai crimson itu berjalan mendekat ke arah Kuroko. Ia membelai surai babyblue itu dengan lembut sambil tersenyum tipis. Senyum itu bukan senyum biasa, itu senyuman kebahagiaan yang ditunjukan langsung oleh Akashi Seijuro.

Sayangnya, senyum itu adalah senyum kutukan bagi Kuroko Tetsuya.

"Syukurlah Tetsuya..." Akashi mendekatkan bibirnya pada telinga Kuroko, "Sepertinya aku tidak jadi membunuhmu..."

DEG

Entah sudah berapa kali jantung Kuroko berdetak tak karuan.

"Baiklah Shintarou, terima kasih. Ayo kita pulang, Tetsuya." Akashi tersenyum senang, "Rasanya tak sabar menanti kelahiran bayi kita."

Akashi langsung membuka pintu dan pergi meninggalkan ruangan itu. Kuroko hanya mengikuti dari belakang dengan lesu. Iris hijau milik Midorima menatap heran Kuroko yang terdiam di ambang pintu. Penasaran, Midorima pun bertanya pada Kuroko, "Ada apa? kau tidak pulang?"

Ingin. Kuroko ingin pulang, tapi bukan pulang ke rumah itu.

"Mi-Midorima-kun.."

Midorima menatap pemuda di hadapannya dengan bingung. Tubuh pemuda bermahkota babyblue itu sedikit gemetar. Apa ia sakit?

Sebisa mungkin Kuroko menatap wajah Midorima meskipun rasanya enggan.

Senyum itu terkesan memaksa, itu lah pemikiran Midorima.

"T-terima kasih..." ucap Kuroko dengan senyum yang menurut Midorima sangat dipaksakan.

.

.

.

Kenapa? Kenapa kau bahagia?

Apa... karena bayi ini normal?

Karena ia tidak cacat, lantas kau bahagia, begitu?

Kau bahagia di atas penderitaanku, Akashi-kun?

Astaga...

Seperti itu caramu memperoleh kebahagiaan?

Apa senangnya, Akashi-kun?

Beritahu aku..

Apa senangnya mendapatkan kebahagiaan dengan cara seperti itu?

.

.

.

Jam menunjukan pukul 12:05. Jam siang yang biasanya Akashi habiskan untuk berkerja. Hari ini ia cuti dengan alasan ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya yang tengah mengandung itu. Belum lagi, setelah mendengar berita bahwa bayi mereka normal, Akashi semakin semangat untuk menghabiskan waktu dengan Kuroko. Siapa yang tidak bahagia bila melihat anaknya normal?

Sepertinya Kuroko merupakan orang yang tidak bahagia. Selama perjalanan pulang, ia hanya terdiam sambil menatap jalanan luar. Terkadang ia hanya bergumam singkat untuk menjawab pertanyaan Akashi yang menurutnya sangat tidak berguna. Pertanyaan itu tak jauh beda dari kata 'bayi'.

Iris babyblue itu menatap heran ketika mobil yang dinaikinya memasuki sebuah taman bermain, "Akashi-kun?"

Akashi memarkir mobilnya, "Turun."

Kuroko menatap Akashi tidak suka, "Untuk apa ke tempat ini?"

Awalnya Akashi malas menjawab, namun berhubung ia ingin menghabiskan waktu dengan Kuroko, ia menjawabnya, "Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."

'Menghabiskan waktu denganku?' batin Kuroko bertanya.

Dengan enggan, Kuroko turun dari mobil itu. Jaket tebal yang seharusnya ia kenakan justru ia pakai untuk menutup perutnya yang besar. Ia masih tak punya muka terhadap dunia atas takdir ini. Untungnya Akashi tidak mempermasalahkan tindakan Kuroko.

"Semoga cepat hujan..." gumam Kuroko dengan suara pelan. Entahlah Akashi mendengarnya atau tidak.

.

.

.

Mencari apa yang telah mereka hilangkan

Kau sudah kehilangan bayimu, tapi kau mencarinya kembali dengan cara yang salah

Seperti saat kau bernafas

Rohjira Rohjira Rohjira

.

.

.

TBC


Alurnya cepet banget- /ditendang

Huwaaa! Maafkan Rikka kalau alurnya kecepetan (QAQ) Soalnya Rikka juga bingung mau dilambatin di bagian mananya. Maaf kalau kurang memuaskan dan lama banget apdetnya. :"D

Terus Rikka mau singgung soal Rated nih. Rated FF ini sengaja Rikka tuliskan rated T+. Soalnya menurut Rikka, ini ngga sepenuhnya rated M. FF ini aja ngga ada adegan Akakuro 'nganu' di kasur (nonton filem horror maksudnya /digeplak), mungkin kalau bahasa kasar, itu masuk katagori rated M kali yah? entahlah Rikka juga ngga tahu ._.) jadi rated FF ini tuh apa?! Oshiete! QAQ /dimakan

Ah lupakan soal Rated yang amburegul kejelasannya. Rikka berterima kasih kepada para pembaca yang udah review!

Berikut balasannya~

1. outofblue: Ngapapa kok~ semoga suka FF nya ya :D maaf kurang memuaskan

2. Ritsu Syalalalala: Wah kamu ganti pename ya? awalnya myadorabletetsuya kan? hei, Rikka penggemarmu lho- /kokOOTsih /dilempar XD Seijurou itu manusia, tapi Tetsuya itu...

3. Bona Nano: Alurnya kecepetan ya? Rikka juga merasakan hal yang sama hehe -,-) well, maaf soal itu. Rikka juga bingung mau dilambatin di mana :"D tenang saja, nanti ada scene dimana Kuroko akan membalas semua perbuatan Akashi. Penasaran? ditunggu ya~ :9

4. Flow . L: Halo~ Tetsuya ngga akan mati dibunuh Seijurou. Justru Seijurou yang...

5. misakii: Di sini Akashi menganggap Kuroko sebagai kekasihnya tanpa rasa 'cinta'. Jadi intinya kaya cinta yang buta gitu /apaansih /dilempar XDDD

6. Karui Kuran Si Pelacur: Reviewnya panjang sekali~ :3 Konfliknya berat ya? hehe maaf soal itu. Terus, sayangnya Rikka ngga pinter bikin Akakuro 'nganu' di kasur... soalnya.. ya gitu hehe /digaplok tenang aja, Kuroko ngga akan dibunuh Akashi kok~ Anaknya kan normal~ seharusnya.

7. efi . astuti . 1: wah sengaja biar penasaran~ nih udah apdet~ semoga suka :3

8. Kazuna Yuka: Kamu juga donlot(?) lagunya? XD lagunya memang enak didenger~ terima kasih sdh menyukai cerita ini~ :3

9. Azure'czar: Oh iya charadeath.. tapi biarkanlah- /digaplok :"D terima kasih sudah menyukai FF absurd ini~

10. Seishirin. A: Akashi itu manusia kok~ tenang saja :D maaf chap ini kurang memuaskan..

11. Hanya Tamu: Wah sayangnya Rikka ngga pinter bikin Akakuro nganu di kasur... Walau Rikka (sangat) mesum, Rikka tak bisa menumpahkan dalam kata-kata.. :"D maaf ya..

12. Akashi lina: Tetsuya tetap strong~ karena ia akan terus hidup meskipun ****** mati.

13. Lala-chan ssu: Kamu bikin fict Aomine yandere? wah pasti serem tuh~ :D iya Akashi sadis yah. Jahat banget :'( /kaneluyangbikincoeg XDDD

Duh, Rikka tebar banyak spoiler di balasan review ini hahaha /dilempar

Rikka minta reviewnya ya~? terima kasih :3