Author : Yuta Uke
Chapter : 2 – Not Again
Genre : Romance, Hurt, Comfort
Disclaimer : All character belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : KakaSaku, slight SasuSaku
Warning : Unbetaed fic, Semi-Canon. Tulisan miring tebal adalah ingatan tokoh.
douzo...
Pernahkah kau berpikir bahwa kebahagiaan yang sedang kau rasakan sekarang dapat terenggut dengan mudahnya tanpa kau tahu kapan itu akan terjadi?
Pernahkah kau berpikir seperti apakah rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga bagimu?
Apakah kau mengerti bagaimana takutnya jika kau dihadapkan dengan kenyataan dimana orang-orang terkasih dalam hidupmu pergi meninggalkanmu seorang diri?
Aku mengerti benar tentang hal-hal tersebut karena,
Semua perasaan itu selalu dan akan selalu menjadi teman terdekatku hingga detik ini.
Kehilangan teman,
Kehilangan sahabat,
Kehilangan keluarga,
Kehilangan cinta,
Segalanya selalu menghantui dan menghancurkan hatiku.
Sekalipun aku berteriak pilu agar beban ini segera terbebas dari ragaku,
Semuanya nihil.
Tak dapat ku pungkiri kenyataan bahwa aku adalah sosok yang rapuh,
Sosok sial yang selalu hidup dalam bayang-bayang kelamnya masa lalu berduri.
Perih adalah kawan terdekatku.
Kehancuran adalah hidupku.
Kesengsaraan adalah buah pahit yang selalu menjadi santapan sehari-hariku.
Dirinya pun sama sepertiku.
Menangisi apa yang seharusnya telah hilang terbawa oleh hembusan angin.
Menangisi sebuah hal bernama masa lalu yang perihnya tetap melekat erat dalam raga ini.
Ketika ku harapkan sebuah kebahagiaan,
Segalanya kembali terenggut.
Aku kembali tersesat dalam kegelapan tak berujung.
Aku—
Aku hanya mengharapkan kebahagiaan.
Rona-rona keemasan langit memudar dan tenggelam bersama pekatnya gelap malam. Bola langit raksasa berbentuk bulat sempurna menampakkan wajah sendunya. Gumpalan kapas putih bergerak perlahan menutupi biasan cahaya keperakan milik sang benda bernama bulan malam hari ini.
Tak ada angin malam ini. Segalanya begitu sunyi senyap seolah seluruh makhluk Tuhan enggan untuk bersuara memecahkan keheningan.
Begitu halnya dengan keadaan hening dalam ruangan milik seorang pria pemilik sepasang bola kaca kelabu yang kini tampak terpatri lekat pada tiap runtutan huruf demi huruf yang terlukis jelas diatas secarik kertas putih yang kini berada dalam genggamannya. Ia tampak serius menyapu tinta-tinta hitam dalam kertas putih tersebut.
Ruangan bermeja besar itu tampak penuh dengan setumpuk kertas putih yang tingginya hampir mencapai betis orang dewasa. Begitu banyak dan tergeletak begitu saja memenuhi ruangan tersebut. jelas sudah bahwa kini pria bersurai perak disana tengah sibuk tenggelam dalam pekerjaannya yang tak pernah habis.
Tak lama, ia melemparkan lembaran kertas tak berdosa—yang tadi digenggamnya—asal ke atas meja kerjanya. Dipejamkannya mata kelabunya erat-erat dan kepulan udara tak kasat mata tampak menghiasi depan bibirnya. Pria tersebut menghela nafas panjang, merutuki dirinya yang sejak dua hari lalu sama sekali tak dapat berkonsentrasi dengan seluruh pekerjaannya—yang mengakibatkan pekerjaannya menumpuk.
Disandarkannya punggung kokoh itu pada kursi yang menurut dirinya saat ini sama sekali tidak dapat mengurangi rasa lelah pada tubuhnya. Kemudian, kelopak matanya kembali terbuka, menampilkan manik kelabu keruh yang kini tengah memerhatikan langit-langit ruangan kerjanya dengan seksama.
Saat ini, seluruh dirinya terlihat kosong. Mungkin, raganya memang berada disana, namun tidak untuk jiwanya. Pria tersebut sama sekali tak dapat memusatkan pikirannya kepada tumpukkan dokumen-dokumen penting yang tebalnya hampir menandingi 5 buku biografi orang-orang terkenal.
Pikirannya melayang-layang dan kemudian terpusat sepenuhnya pada sesosok perempuan merah muda yang kini tengah meregang nyawa, menjalankan misi yang berbahaya di luar desa makmur ini.
Sakura.
Sosok itulah yang selalu berada di dalam benak Kakashi selama hampir 12 tahun silam. Sosok yang tak ayal begitu berharga untuknya.
Masih segar dalam ingatannya bagaimana sosok manis seindah permata yang memiliki ekspresi-ekspresi yang sampai kapanpun hanya diperuntukkan bagi seorang pemuda terakhir milik klan terkenal di Konoha.
Sosok itu tertawa untuk pemuda yang dicintainya,
Kemudian menangis pilu saat pemuda yang dicintainya menyakiti dirinya,
Dan memohon dengan untaian kata memilukan ketika pemuda yang dicintainya akan menghancurkannya kembali.
Pria bersurai perak yang telah termakan usia tersebut mengepalkan tangannya kuat-kuat. Segala yang terpancar dari sosok merah muda itu ia yakini hanya milik pemuda dengan masa lalu sekelam malam yang sampai kapanpun akan menjadi tambatan hatinya. Apa yang perempuan tersebut lakukan seluruhnya adalah upaya untuk mengetuk hati sang pemuda.
Sosok nomor 1 di desa kecil ini mengerti benar akan rasa cinta sang perempuan yang sangatlah besar untuk pemuda tersebut. Dirinya berani bertaruh bahwa tak akan ada yang sanggup menandingi ketulusan, kesetiaan sosok merah muda itu. Cinta tersebut begitu besar, begitu tulus dan murni sehingga sanggup menyesakkan setiap hati orang-orang terdekat yang mengetahui rasa tersebut.
Menghirup udara dalam-dalam untuk mengisi pasokan oksigen dan menghembuskannya dengan kasar, pria itu mengangkat lengannya, berusaha meraih gelas teh miliknya yang sudah mendingin. Namun…
PRAK
Gerakan lambat itu terhenti ketika indra penglihatannya menangkap sebuah retakan besar melintang menghiasi gelas yang terbuat dari tanah liat tersebut.
Seketika itu pula, rasa dingin segera datang menyelimuti dirinya. Tangan yang terarah pada gelas itu kembali ia kepalkan kuat-kuat dan ia tarik kembali. Nafas yang sedetik lalu masih teratur berada pada ritmenya menjadi tak bertaruran, begitu pula aliran cakra miliknya. Kini tubuhnya pun bergetar kecil yang samar-samar terlihat.
Ia ingat perasaan ini.
Perasaan menyesakkan yang sampai kapanpun akan terus membunuh dirinya perlahan.
Ia mengigit bibir bawahnya kuat-kuat saat sebuah perasaan tak mengenakkan hati menyeruak masuk menghantui dirinya. Sesungguhnya saat ini dirinya tak mengerti apa yang terjadi, namun, sosok merah muda yang sejak beberapa hari lalu menghantui dirinya semakin membuat hatinya resah.
Sakura…
BRAK!
"Kakashi!"
"Gai?!"
Pria yang diteriaki sebagai Kakashi tersebut terperanjat kaget saat mendapati sosok rival abadinya telah berdiri di depan pintu—yang terbuka paksa—dengan nafas terputus-putus. Getaran halus yang menyelimuti tubuh pria bersurai perak tersebut semakin terasa kuat terasa saat ia menangkap raut wajah khawatir, shock, sedih, yang terlukis jelas dari pria dewasa bernama Gai tersebut.
Saat ini Kakashi benar-benar merasa hatinya seolah terperas oleh perasaan bernama keresahan. Bulir-bulir keringat dingin tampak menghiasi telapak tangannya yang terlindungi sarung tangan berwarna hitam.
Kumohon…jangan katakan…
"Kakashi, dengarkan dengan tenang, Sakura—"
Tubuh Kakashi menengang. Darahnya berdesir semakin cepat. Jika selembar kain lusuh tak menutupi sebagian wajahnya, Gai pasti dapat melihat pucatnya bibir tipis milik sahabatnya.
"KAKASHI?!"
Gai terkejut saat mendapati Kakashi mendadak bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya yang sama sekali belum menyelesaikan kalimatnya. Pria bersurai seperti mangkuk tersebut mengepalkan tangan, memanggil Shikamaru untuk menunggui ruangan yang ditinggalkan pemiliknya, dan melesat pergi mengejar Kakashi.
Tidak!
Hatake dewasa tersebut berlari begitu saja tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari pria yang kini menjabat menjadi orang kepercayaannya. Ia berlari, berlari dengan seluruh kemampuan yang ia bisa menjauhi gedung bercat oranye tersebut menuju rumah sakit Konoha tempat dimana ia yakin orang terkasihnya berada saat ini.
Tidak lagi!
Langkah sekuat tenaga milik Kakashi tergesa-gesa mendekati meja putih panjang penghalang antara dirinya dan wanita berbusana serba putih setelah sedetik lalu dirinya sampai di rumah sakit kebanggaan Konoha. Wanita itu tampak terkejut melihat kedatangan orang nomor satu yang tak biasanya datang berkunjung.
"Se-selamat malam Rokudaime—"
"Dimana Sakura?!"
Dengan nafas tersengal dan wajah yang penuh dengan peluh, sang Hokage kebanggaan Konoha tersebut tanpa sadar menanyakan keberadaan murid merah mudanya dengan nada tinggi yang juga diiringi dengan hentakan ringan pada meja putih disana.
Kecemasan yang menggerogoti dirinya membuat pria tersebut tak lagi memikirkan apapun. Ia hanya ingin segera bertemu dengan mantan muridnya! Sedetik kemudian, pria tersebut kembali melesat pergi, berlari tanpa henti menuju tempat yang perawat tadi katakan.
.
.
.
"Sakura!"
Keheningan dan ketegangan yang sejak tadi tercipta menyelimuti atmosfir diantara ketiga shinobi andalan Kohona pecah saat suara berat milik atasan mereka mendadak terdengar, menggema hingga seluruh penjuru lorong.
"Kakashi-senpai?!"
"Tenzou, dimana Sakura?!"
Bola kaca kelabu tersebut terarah lekat pada sosok pria yang tak lain adalah mantan juniornya di ANBU dengan sorot mata penuh cemas.
Tenzou, atau kini bernama Yamato tampak sangat terkejut melihat kedatangan Kakashi yang sangat tak diharapkan. Bagaimana tidak, kesuksesan misi yang berujung pada kegagalan untuk melindungi salah satu rekan satu tim tersebut adalah tanggung jawabnya. Terlebih, sosok yang kini tengah berjuang untuk bertahan hidup di dalam ruang operasi tersebut adalah salah satu harta berharga milik pria dewasa bersurai perak dihadapannya kini.
Yamato meneguk ludahnya. Tenggorokannya terasa kering dan perih setiap kali ia harus menelan kenyataan yang mau tidak mau harus dikatakannya secara gamblang.
"Tsunade-sama sedang merawatnya." Ucapnya setelah terdiam cukup lama, mengabaikan pertanyaan milik Kakashi tadi.
"Apa yang terjadi?!"
Perih kembali mengiris hati milik Yamato saat mendapat pertanyaan tersirat 'mengapa Sakura dapat menjadi seperti ini?' yang terpancar dari kedua bola kaca transparan milik Kakashi.
"Sakura terkena racun mematikan musuh. Lalu, saat itu juga ia segera menghentikan gerakan musuh dan—" Pria pemilik elemen kayu warisan Hokage ke-1 tersebut mengepalkan tangannya erat. Ia harus mengatakannya! "Aku membuatnya kritis dengan tangan kananku! Aku—aku gagal melindunginya."
"Yamato-taichou…"
Hinata menghampiri Yamato dan menepuk pundak pria itu pelan. Perempuan manis itu tak sanggup menatap ketua timnya kembali merutuki dan menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
"Kakashi-sensei, saat itu Sakura-san mengunci gerakan lawan dan menyuruh Yamato-taichou untuk menusuk musuh tepat di jantungnya. Tak ada pilihan lain, memang hanya itulah kesempatan yang ada. Sakura-san pun terus mendesak taichou dan—" Pemuda hijau yang menambahkan hal tersebut menatap Kakashi tajam sekalipun bola kacanya memancarkan kilauan kepedihan disana.
Nafas milik pria Hatake tersebut tercekat. Dadanya sesak seolah ia tak sanggup menghirup udara menyakitkan yang menyelimuti dirinya dan 4 bawahannya disana. Apa yang dijelaskan oleh Lee dan Yamato tadi bukanlah lelucon belaka, mereka serius, semua yang terjadi kali ini adalah kenyataan.
"Aku harus bertemu dengan Sakura!"
Akal sehat menjadi lumpuh begitu saja saat seseorang digerogoti oleh perasaan cemas dan takut akan kehilangan sangat jelas menggambarkan putra Hatake Sakumo tersebut. Dirinya begitu memprihatinkan disela-sela racauan tak jelasnya tentang bagaimana ia ingin bertemu dengan Sakura.
"Kau tidak boleh masuk, Sensei!" Teriak Lee yang mendadak mengepalkan dan merentangkan kedua tangannya, menghalangi sang Hokage yang semakin menyedihkan.
"Minggir, Lee! Aku harus bertemu Sakura!"
Kakashi semakin meninggikan nada suaranya, tak perduli jika teriakkan miliknya sanggup untuk membangkitkan para mayat yang tertidur abadi di rumah sakit tersebut.
"Ka-Kakashi-sensei…tenanglah."
Perempuan muda yang memang sejak tadi berada dalam kekacauan itu mulai membuka katupan kedua bibirnya. Kedua tangannya ia letakkan di depan dadanya, bibirnya memerah karena digigit begitu kuat, kristal kepedihan miliknya tampak meleleh dari kedua bola mata kosongnya.
Perempuan tersebut menangis. Menangis pilu saat melihat seorang Hatake Kakashi sanggup kehilangan sosok tenangnya karena saat ini harta berharga satu-satunya milik pria itu tengah berjuang untuk bertahan hidup.
Hinata benar-benar merasakan hatinya kembali tersayat belati tajam untuk yang kesekian kalinya. Ia menunduk dan menangis dalam diam. Kepingan memori kelam yang tak ingin diingatnya kembali menyeruak masuk memenuhi benaknya.
Saat Konoha menangis ditinggalkan pahlawan oranye mereka,
Saat Sakura terbujur lemah tak sadarkan diri,
Saat Kakashi terus menerus datang mengunjungi Sakura yang tak kunjung membuka mata.
Semuanya benar-benar menyakitkan, bagai mimpi buruk tanpa ujung. Isak tangisnya semakin pecah saat bola kaca transparan miliknya menangkap raut wajah yang sangat sulit digambarkan oleh kata-kata milik Kakashi.
Ia tak tega, ia tak sanggup melihat sosok pria dewasa yang tak begitu dikenalnya menjadi seperti ini. Sekalipun pria tersebut menutupi sebagian wajahnya dengan selembar kain, Hinata sangat mengerti bagaimana hancurnya sosok kokoh dihadapannya.
Kakashi kembali rapuh.
Kakashi kembali menjadi hancur berkeping-keping.
Dalam hati, penerus klan Hyuuga tersebut bertanya-tanya kepada dewa dan Tuhan, mengapa kedua orang yang tersisa dari tim 7 itu selalu mendapat kesialan bertubi-tubi?
Tidak!
Lebih tepatnya mengapa Tuhan selalu menghukum tim7? Mencerai-berai dan kemudian merenggut kebahagiaan mereka tanpa ampun. Seolah kekelaman penuh duri lebih cocok untuk para shinobi hebat disana. Apakah kebahagiaan hanyalah sesuatu lelucon yang sampai kapanpun tak dapat dirasakan oleh anggota tim 7 yang tersisa itu?
"Senpai!"
"Kakashi-sensei!"
Yamato dan Lee semakin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan Kakashi yang sama sekali tak mengindahkan larangan mereka. Pria perak tersebut semakin memberontak.
"Lepaskan, Tenzou!"
"Ka…Kakashi-sensei…"
Hinata akhirnya ikut menahan tubuh Kakashi yang ia tahu bahwa usahanya tersebut sia-sia. Kekuatan seorang Hokage dan shinobi biasa sangat beda jauh.
Perempuan tersebut semakin merasakan kristalnya meleleh tanpa henti membuat wajah manisnya semakin sembab, hatinya sakit, perih, hancur seolah dirinya dapat merasakan apa yang Kakashi rasakan saat ini.
"KAKASHI!"
Teriakan milik seorang pria yang mendadak menggema membuat tubuh Kakashi membeku. Kesadaran yang sejak tadi terbutakan oleh sesuatu bernama emosi kembali menampar dirinya dengan begitu keras—membuatnya kembali pada akal sehatnya.
Pria perak tersebut menoleh dan mendapati rival abadinya yang tengah berjalan menghampirinya.
"Gai…"
"Kakashi, tenangkan dirimu!"
Tangan kekar Gai mencengkram kedua bahu Kakashi, berusaha membuat gemetar yang sejak tadi menyelimuti tubuh tinggi tersebut hilang. Sinar mata tajam milik Gai menelisik dalam iris kelabu Kakashi. Tanpa pria perak tersebut inginkan, kedua lututnya terasa lemas dan ia jatuh dari pijakannya seakan seluruh tenaga yang sejak tadi dikerahkannya hilang tak tersisa.
"Senpai…" Yamato menatap mantan seniornya dengan penuh rasa bersalah dan kepedihan.
"Sakura adalah murid didikanmu, didikan Tsunade-sama. Ia anak yang kuat."
Hokage perak tersebut menengadahkan kepalanya, mendapati Gai yang tengah tersenyum khas—yang sampai kemarin masih ia katakan sebagai senyuman konyol. Namun untuk saat ini, senyuman tersebut seolah memberikan suatu kekuatan tersendiri bagi dirinya yang terselimuti oleh perasaan kalut.
Perasaan bersalah, malu, dan haru merasuk jiwanya. Kakashi mengigit bibir bawahnya dan mengangguk lemah.
"Ya."
Sakura…
Bertahanlah…
Mungkinkah sampai kapanpun kebahagiaan adalah seonggok lelucon tak berarti bagiku?
Mungkinkah sampai akhir aku hanya akan terus berada dalam jurang masa lalu?
Mungkinkah dewa, Tuhan mengharapkan kehancuranku?
Sosok yang sampai kapanpun berusaha untuk menjadi kuat ini sekali lagi harus hancur, terhempas dalam kenyataan pahit yang begitu menyakitkan.
Mengapa kenyataan begitu menyakitkan?
Berulang kali aku menanyakan hal tersebut.
Mengapa masa lalu begitu memilukan?
Berulang kali aku memikirkan hal tersebut.
Mengapa kebahagiaan tak dapat kuraih?
Berulang kali aku menghela nafas karena pemikiran tersebut.
Kebahagiaan…
Apakah diriku begitu hina sehingga sesuatu yang sangat indah bernama kebahagiaan enggan mengetuk pintu perjalanan hidupku?
Apakah kesengsaraan lebih cocok untuk diriku?
Kini semua terasa gelap saat aku kembali hancur bersama kenyataan.
Tak dapatkah aku mencicipi sesuatu yang manis?
Mengapa?
Mengapa dirinya kembali tenggelam dalam kegelapan?
Mengapa Kau begitu senang membunuhku secara perlahan dengan merenggut orang-orang terkasihku?
Mengapa tak Kau siksa aku dengan cepat sehingga beban ku hilang bersama dengan kematianku?
Mengapa?
Mengapa?
Kumohon…
Kembalikan dirinya padaku…
Kumohon…
Kembalilah padaku…
Tetaplah berada disisiku…
Tertaplah tersenyum, sekalipun senyumanmu hanya untuknya…
Tetaplah menatapku dengan kosong karena sorot matamu hanya untuknya…
Kumohon…
Kembalilah padaku…
Detik demi detik semakin lama semakin menguatkan udara berat di depan ruangan berpintu besar berwarna putih. 4 orang disana tertunduk kaku setelah menyadari bahwa mereka telah menunggu selama hampir 6 jam lamanya. Selama itu pula tak ada tanda-tanda Tsunade yang menangani kunoichi merah muda disana akan membuka pintu.
Lain halnya dengan mereka, Kakashi terus menatap lekat pintu tersebut tanpa lelah. Sorot matanya kosong, kilauan penuh luka dan kecemasan terlukis dengan jelas. Kemudian tubuhnya sedikit menegang saat mendapati pintu yang tertutup rapat selama 6 jam tersebut terbuka.
"Tsunade-sama! Bagaimana kondisi Sakura-san?!"
Lee segera menghambur saat melihat sosok mantan Hokage-5 yang sangat dinanti-nanti telah keluar dari ruang operasi. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Lee sebentar sebelum akhirnya kembali menunduk dengan raut wajah yang sangat sulit untuk diartikan.
Lee, Yamato dan Gai terpaku tak percaya saat mendapati Tsunade hanya terdiam dan menunduk. Hinata menutup bibirnya yang memerah karena gigitan kuat darinya oleh jemari rampingnya dan kembali menangis tertahan.
Sedangkan Kakashi, seluruh tubuhnya bagai tersengat listrik saat melihat salah satu trio legendaris Sannin tersebut memejamkan mata dan tetap terdiam pada tempatnya berpijak. Wanita hebat tersebut tak pintar bergurau sehingga saat ini Kakashi yakin bahwa apa yang berada dihadapannya nyata.
Getaran yang sempat hilang kembali menyelimuti seluruh tubuh Hokage ke-6 tersebut. Dadanya sesak, nafasnya terputus-putus. Saat ini ia tak tahu lagi ekspresi seperti apa yang sedang dibuatnya.
Gai menoleh kepada rekannya yang tertunduk kaku dengan tubuh yang bergetar hebat. Tangannya mengepal kuat.
"Kaka—oi! Kakashi!"
Kakashi berlari menerobos masuk ke dalam ruangan serba putih yang sejak beberapa jam lalu menjadi saksi bisu pertarungan satu arah milik Sakura melawan maut tanpa menghiraukan teriakkan milik Gai maupun Yamato.
Tsunade mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, menangis dalam diam dan tak berusaha untuk mencegah Kakashi yang tanpa permisi menerobos masuk begitu saja.
"Sa-Sakura…"
Kakashi dengan takut-takut melafalkan nama mantan murid yang sangat berharga baginya dengan lemah, dengan penuh kehati-hatian, pria itu mengangkat lengannya yang terasa berat dan perlahan menyentuh pipi sang murid.
Kumohon!
Jantungnya berpacu lebih cepat, membuat darahnya berdesir dalam tempo yang tak beraturan. Tubuhnya mendingin. Ia, ia tak kuat lagi. Hatinya seolah tertikam, terkoyak, dan tersayat habis oleh beribu belati tajam saat mendapati sosok merah muda dihadapannya menutup mata rapat-rapat dengan wajah yang memucat.
Tidak lagi!
Pemandangan yang sama seperti beberapa tahun silam. Tubuh itu terbujur kaku, wajah manis tersebut memucat.
"Ukkh…"
Tanpa dapat ia bendung kembali, luapan emosi yang sejak tadi berusaha ditahannya pecah. Kristalnya meleleh tanpa henti, membasahi kain lusuh di wajahnya. Hatake Kakashi, Hokage ke-6, pria terhebat yang dimiliki Konoha, saat ini menangis dalam diam.
Sakura…
To be Continued
A/N : Chapteeeeeeeeeeer 2! Waaaah~ Sakura… :'D
Bagaimana, readers? Apakah kalian suka chapter ini? Semoga suka… :')
Ahahaha… rasanya gimanaaa gitu pas buat chapter ini. Sedikit sedih dan senang juga. :3
Oh iya, maaf ya sayah malah update ini. Untuk Hurt, semoga chap 14nya bisa di upload besok. Karena…minggu ini adalah minggu untuk revisi proposal pra skripsi! Orz
Lalu, silahkan mampir ke Always Beside You dulu ya kalau belum baca. Biar lebih asik baca sequelnya.
Okai! Terima kasih buat yang sudah follow, favorite, sama review fic ini. Saya masih menunggu review kalian ya! Biar makin semangat! :DD Sampai jumpa di chap 3!
Mari balas review yang masuk~
VeeQueenAir-san, Chapter 1
J : Hahaha~ nih chapter 2nyaaa~ gimana? Semoga suka ya :3
Berapa chap ya? Yang jelas ga akan kayak Hurt yang sampai belasan chap. Paling 5.
Yosh! Ditunggu reviewnya :D
Gynna Yuhi-san, Chapter 1
J : aaaaa kenapa? :kasih tisu:
Terima kasih. /
Ditunggu reviewnya lagi ya :3
Apikachudoodoll-san, Chapter 1
J : Ehem… semoga mereka bersatu ya :D
JunShiKyu-san, Chapter 1
J : Terima kasih :))
Ditunggu reviewnya lagi.
