Naruto © Masashi Kishimoto
Summary: Semua yang hilang takkan sepenuhnya hilang. Bisa saja semua itu akan muncul lagi. Namun prosesnya tidak mudah. Mampukah Naruto dan Hinata mengembalikan kisah mereka?
Genre: Romance/Hurt/Comfort/Tragedy
Pairing: Naruto U./Hinata H.
Warning: AU, OOC, typo's, minim describe, bahasa kadang baku kadang nggak, ada selipan lagu etc
a/n: nyaaa, hola lagi! Chaki kembali buat apdet ^^
maaf ya kalo apdetnya agak lama, Chaki apdetnya di lab sekolah sih, soalnya modem aniki nya Chaki disimpen ._.
Oh ya, makasih banget ya buat para reader yang udah bersedia review. nanti reviewnya chaki balesin ya, lagi males ^^' ^^
Sekali lagi makasih banget buat yang udah review. Nanti Chaki bakalan buat cerita yang lebih panjang, bagus dan cepat apdet pastinya. Yang belom review, ikutan review dong ^^
Yasudah, daripada Chaki banyak omong, Chaki mulai ya chap 2 nya. Happy reading, don't forget to review and please don't flame ^^'
Chaki no Utau, In~
.
Kisah Kita
By: Chaki No Utau
Chapter 2: Bertemu Dengannya Lagi.
.
2 jam berada di mobil itu sangat membuatnya gerah. Ya, perjalanan dari bandara Narita menuju Konoha mengambil waktu 3 jam. Hanabi sangat kepanasan dan terus saja merengek agar Neji mengendarai mobil dengan lebih cepat. Tapi Neji bukanlah pengendara mobil yang suka kebut. Neji hanya menanggapi sekedarnya dan Hanabi juga sudah tertidur. Lain lagi dengan Hinata yang masih mendengarkan lagu sembari mengingat kejadian di bandara tadi. Pertemuannya dengan sosok masa lalunya.
Hinata bingung. Ada apa sebenarnya? Kenapa ia harus bertemu dengan sosok itu? Pemuda yang dulu sangat dicintainya, tapi juga sangat dibencinya. Hinata membenci pemuda itu, entah kenapa. Padahal hubungan mereka awalnya baik-baik saja. Entah insiden yang menyakitkan itu yang membuat Hinata harus diasingkan ke Paris dan dipaksa oleh ayahnya untuk membenci pemuda itu. Padahal jauh didalam lubuk hatinya ia masih mencintainya. Tapi kenapa disaat usahanya sedikit demi sedikit mulai berhasil, ia malah bertemu dengannya lagi? Pertanyaan itu terus muncul di benaknya.
Tak terasa mobil sedan hitam itu sudah memasuki halaman sebuah rumah besar, yaitu rumah kediaman Hyuuga. Itu berarti lamunan Hinata sangat panjang sampai ia tak menyadari kalau ternyata mereka sudah sampai di rumah. Setelah membangunkan Hanabi, mereka pun turun dari mobil. Disana, seorang lelaki berambut coklat panjang dengan mata lavender sudah menunggu kedatangan mereka. Siapa lagi kalau bukan Hiashi Hyuuga.
"Okaeri, Hinata. Akhirnya kau pulang juga," ucap sang ayah setelah memeluk putri sulungnya.
"Arigatou, tou-san," jawab Hinata sekadarnya. Tampak raut wajahnya yang letih karena masih mengalami jet lag.
"Kelihatannya kau masih lelah, putriku. Sebaiknya kau istirahat dulu. Neji, tolong bawa semua barang bawaan Hinata ke kamarnya. Dan kau Hanabi, sebaiknya kau istirahat juga," perintah Hiashi dengan sopan.
"Ha'i, Hiashi-sama," jawab Neji patuh dan segera mengambil barang bawaan Hinata dan mengikuti Hinata naik ke lantai 2 menuju kamar si gadis. Sedangkan Hanabi langsung masuk ke kamarnya yang tak jauh dari pintu masuk.
~oOo~
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Hinata baru bangun dari tidurnya. Hinata sangat kelelahan sampai akhirnya tidur sangat lama. Itu membuat kepalanya pusing dan perutnya lapar. Tak menunggu lama lagi, setelah mengumpulkan nyawa, Hinata beranjak dari kasur lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Hinata sudah mematut diri di cermin. Ia memakai t-shirt dengan tulisan 'everyone can change you' serta celana jeans pendek diatas lutut. Rambut indigo panjangnya ia gelung asal dengan pensil. Ia juga memakai bedak tipis saja dan membuatnya terkesan natural.
Hinata keluar dari kamarnya dan menuju ruang santai, karena perutnya sudah tak bisa diajak kompromi. Setelah sampai, tampak Hanabi yang seang menonton televisi, Hiashi yang sedang membaca Koran sambil menghirup teh. Ia mencari sosok Neji lalu karena di dapur tercium masakan yang sangat sedap, Hinata langsung menuju dapur yang ada disebelah ruang santai.
"Nii-san masak apa?" Tanya Hinata pada Neji yang masih memasak.
"Hn, anda sudah bangun ya, Hinata-sama?" Neji malah balik bertanya. "Chicken Katsu," jawabnya dengan melirik apa yang ia masak.
"Ah, oishi!" Hinata sangat bersemangat begitu mencium aromanya. Neji hanya tersenyum tipis melihat kelakuan adik sepupunya yang masih seperti dulu.
Tak lama Neji meletakkan 2 daging ayam ke 2 piring yang sudah ada salad dan memberinya saus kental. "Ini untuk Anda, nasi sudah ada di meja." Ucap Neji sembari memberi piring pada Hinata.
"Yay, arigatou, Nii-san!" jawab Hinata antusias lalu menerima piring dan segera ke meja makan.
.
Di tempat lain, di sebuah rumah yang tak cukup besar, berkumpullah 4 orang di ruang makan. 2 lelaki berambut pirang serta 2 wanita berambut merah.
"Jadi bagaimana dengan kuliahmu, Sara?" Tanya seorang elaki berambut pirang sebahu sambil memakan ramen yang telah dituangkan oleh sang istri.
"Berjalan lancar, Minato-san," jawab gadis berambut merah yang dipanggil Sara. "Aku hanya tinggal menunggu ijazahku keluar setelah itu aku akan kembali kesini dan meneruskan bisnis ibuku," lanjutnta setelah meneguk ice tea miliknya.
"Kudengar ibumu membuka butik besar lagi. Dan itu sebabnya kau akan kembali kesini setelah urusanmu di Paris selesai?" Tanya wanita berambut merah melanjutkan pertanyaan Minato.
Sara mengangguk, "Iya, karena ibuku tak bisa menjalankan 2 bisnis besar sekaligus, makanya ibuku menyuruhku agar segera menyelesaikan urusanku di Paris. Aku juga mau merasakan pekerjaan sesungguhnya," jawab gadis itu antusias. Dilihatnya pemuda berambut pirang yang masih memakan ramennya dengan pelan. "Naruto-chan kenapa?" Tanya Sara heran melihat adik sepupunya yang tak biasa memakan ramen dengan sangat pelan.
Naruto hanya diam saja. Bahkan ia tak membentak ketika namanya disambungkan dengan embel-embel –chan. Dan Naruto yang biasanya semangat menghabiskan ramen tak kurang dari 5 menit, kini menghabiskan 1 mangkuk saja belum. Pikirannya masih memutar kejadian di bandara. Saat ia bertemu dengan gadis masa lalunya.
Hinata. Gadis itu memang sosok masa lalunya. Yang tak pernah hilang dari pikirannya, meski gadis itu telah menghilang. Kenangan selama 3 tahun yang dimilikinya bersama Hinata masih terekam jelas di otaknya dan susah untuk dilupakan. Meski gadis itu harus pergi tanpa kabar karena hubungan mereka tak direstui ayah Hinata, itu tak membuat perasaan Naruto pada Hinata memudar. Ia malah makin menjadi merindukan apapun tentang gadis itu. Dan saat ia bertemu dengannya lagi, ia sangat senang. Dalam hati, ia sangat ingin memeluk Hinata dan mengatakan betapa uring-uringan dirinya setelah gadis itu pergi jauh.
"Naruto? Kau kenapa?" Tanya Minato membuyarkan lamunan sang anak. Dari raut wajah Miato menunjukkan kekhawatiran.
"Kau sakit ya, Naru-chan?" Tanya Kushina dengan nada khawatir.
"Aku tak apa," jawab Naruto sedikit lemas. "Aku ke kamar dulu," ia beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang makan.
"Eh? Bahkan ramenmu ini belum dihabiskan," Kushina makin heran melihat anaknya yang tiba-tiba lemas itu.
"Biarkan saja, Kushina-san. Mungkin Naruto-chan masih capek karena menyusulku tadi," Sara mencoba menenangkan Kushina dan Kushina juga menurut.
~oOo~
"Gochisou sama! Ah, kenyangnya~" ucap Hinata setelah menghabiskan satu mangkuk nasi serta satu piring chicken katsu. Ia mengucap syukur atas makanan yang sangat lezat itu pada Tuhan.
"Sepertinya Nee-chan merindukan masakan jepang ya," celetuk Hanabi pada sang kakak yang masih meneguk air putihnya.
"Kamu tau saja, Hanabi-chan. Soalnya di Paris aku susah menemukan makanan jepang. Dan disana banyak makanan yang berbahan keju. Kamu tau 'kan kalau aku sama sekali tak suka keju," Hinata terus saja menceritakan tentang pengalamannya selama ia di Negara mode itu. Hanabi mendengarkan dengan saksama.
Ting tong, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Tampak seorang pemuda berambut hitam muncul di depan pintu dan memanggil Hanabi.
"Oh ya, aku pergi ke rumah Moegi-chan dulu ya, Nee-chan," Hanabi beranjak dari tempatnya dan ia menuju pemuda itu.
"Ah, baiklah," jawab Hinata sebelum akhirnya ia melihat sosok pemuda di depan pintu. "Wah, sepertinya Hanabi-chan sudah besar ya, sudah berani pacaran," timbullah niat jahil Hinata untuk menggoda sang adik.
"Ah, N-Nee-chan," Hanabi tersipu mendengar ucapan sang kakak sedangkan pemuda di depannya hanya tertawa. "Aku pergi ya, Nee-chan." Hanabi akhirnya menarik tangan sang pemuda dan pergi secepatnya dari rumah kediaman Hyuuga.
Hinata tertawa melihat kelakuan adiknya itu. Ia berjalan keluar dan melihat matahari sore. Langit jingga dan awan putih yang mengelilinginya mempercantik suasana. Ditambah hembusan angin yang sangat sejuk.
"Tou-san, Nii-san, aku jalan-jalan sebentar ya," Hinata pamit pergi pada ayahnya dan kakaknya yang sedang main shogi.
.
I love you but it's not so easy
To make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you're still in my dream
And I can't stand to wait the night is coming
To my life
But I still have a time to break a silence
When you love someone just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love don't ever let him go
Or you will loose your chance to make your dreams come true
(When you love someone – Endah ft Ressa)
Lagu yang sangat ke-cewek-an sekali itu terdengar di sebuah kamar yang cukup besar dengan dinding berwarna kuning. Di sebuah king bed size tampak lelaki berambut pirang yang sedang mencoba tertidur. Speaker kecil terletak juga disebelah tempat tidurnya.
Naruto meresapi lirik demi lirik yang ada di lagu itu.
"When you love someone, just be brave to say,"
"Ketika kau mencintai seseorang, cobalah berani untuk mengungkapkannya," gumam Naruto sebentar. Ia kembali memejamkan matanya. "Apa aku harus seperti itu?" tanyanya pada diri sendiri.
Naruto masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Ia ingin melakukan apapun agar semua kisahnya bersama Hinata kembali terulang. Tapi ia tahu kalau itu tak mudah dan malah beresiko. Ditambah lagi hubungan antara keluarganya dan keluarga Hinata tidak berjalan baik.
Naruto menghela nafas panjang lalu beranjak dari tempat tidurnya. Ia diam sejenak lalu memutuskan untuk mencari udara segar. Ia akan ke taman sekarang.
~oOo~
Taman Konoha memang tak pernah sepi dari para penduduk yang ingin mencari udara segar. Taman yang berukuran lumayan luas ini dihiasi dengan danau buatan di tengah, pohon-pohon besar yang ditanam di sepanjang jalan, serta cuacanya yang selalu mendukung. Banyak juga penjual menjajakan barang dagangannya, mulai dari balon, es krim dan warung kecil.
Hinata berjalan-jalan sambil menghirup udara segar yang ada disana. Ia tersenyum senang karena sudah 3 tahun ia tak merasakannya. Di sepanjang jalan juga Hinata bertemu teman-teman masa SMA nya. Mereka sempat bercerita banyak hal sebelum pergi. Hinata juga tak mau mengganggu teman-temannya yang notabene sudah punya pacar.
Hinata memutuskan untuk duduk di bangku taman, karena kakinya juga sudah lelah berjalan. Ia ingin menikmati matahari sore serta angin yang sejuk ini. Ia masih tersenyum karena sangat merindukan suasana ini.
Tapi seketika tatapannya menjadi sendu.
Ia melihat seorang pemuda berambut pirang acak sedang berjalan-jalan disekitar taman. Pemuda yang memakai kaus putih polos, hoodie hitam dan celana jeans panjang ini juga sedang menikmati indahnya suasana sore. Keadaan taman yang tak terlalu padat membuatnya tahu kalau itu benar-benar dia. Sosok masa lalunya.
"Oh, tidak," gumamnya pelan lalu bersiap-siap pergi. Tapi terlambat…
"Hinata," pemuda itu memanggilnya. Mau tak mau Hinata menoleh dan mendapati pemuda itu datang ke arahnya.
"Na-Naruto-kun," jawab Hinata dan mencoba bersikap biasa. "Apa kabar? Sudah 3 tahun ya kita tak bertemu," lanjutnya dan mencoba tersenyum.
"Aku baik-baik saja, kamu?" Naruto menjawab dengan kikuk.
"Sangat baik," balas Hinata masih mencoba tersenyum.
"Hinata kuliah dimana sekarang?" Tanya Naruto mencoba mencairkan suasana.
"Aku mau ke Konoha University, ambil fakultas kedokteran, kamu sendiri?"
"Sama, aku juga di Konoha University, tapi di fakultas komunikasi,"
Mereka sama-sama canggung. Jujur karena ini pertemuan mereka setelah 3 tahun lost contact. Naruto bertanya untuk sekedar basa-basi sedangkan Hinata menjawab sekadarnya. Entah kenapa sejak insiden itu, mereka sudah seperti orang yang tidak saling mengenal.
Suasana itu sempat terkesan baik-baik saja, sampai akhirnya…
"Naruto-chan! Ah, ternyata kau disini. Tadi aku mencarimu kemana-mana," muncullah sosok gadis berambut merah dan berlari ke tempat Naruto berdiri.
Naruto dan Hinata menoleh. Naruto terkesan biasa saja melihat kakak sepupunya itu datang mencarinya, sedangkan Hinata? Entah kenapa hatinya terasa remuk ketika melihat gadis itu sudah berbincang-bincang dengan Naruto. Merasa karena ia bisa jadi pengecoh, Hinata memutuskan untuk pergi.
"Naruto-kun, aku pamit dulu ya. Tidak enak kalau aku ada disini. Sampai bertemu di kampus," Hinata undur diri dan berlari sekencang mungkin.
"Hinata!" Naruto mencoba memanggil gadis itu tapi Hinata tak mendengarnya. Ada apa sebenarnya? Kenapa gadis itu cepat pergi? Pikirnya dalam hati. Tatapannya menjadi sendu.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Sara pada Naruto yang masih terdiam.
"Tidak apa," jawab Naruto. "Ayo kita pulang, Nee-san," ajak Naruto pada Sara. Sara yang masih bingung akhirnya memilih untuk mengikuti Naruto kembali ke kediaman Namikaze.
~oOo~
Hinata telah kembali ke rumahnya. Namun kali ini dengan wajah yang muram. Bahkan ia tak mengucap salam pada ayah dan kakaknya yang masih main shogi di depan rumah. Lalu Hanabi yang sedang mengobrol dengan Konohamaru di ruang tamu. Hinata malah langsung naik ke lantai 2 dan segera masuk ke kamarnya.
Hinata segera menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Entah kenapa hatinya masih sangat sakit mengingat kejadian tadi. Ia berpikir, ternyata Naruto sudah punya kekasih. Berarti Naruto telah lupa dengan apa yang terjadi 3 tahun lalu.
Hinata merasakan air mata mengalir di pipi putih miliknya. Hinata buru-buru menghapusnya tapi air mata itu malah mengalir lebih deras. Hinata membiarkannya dan terisak.
Ia mencoba untuk menenangkan suasana hatinya dengan mendengarkan lagu. Ia setel music box miliknya dan terdengar lantunan lagu yang pas sekali dengan suasana hatinya yang sedang 'galau'.
Hai, selamat bertemu lagi
Aku sudah lama, menghindarimu
Sialku lah, kau ada disini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin, bernafas lagi
Tegak berdiri, di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri
Tak slamanya berhasil
Pabila, kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi
(Tahu Diri – Maudy Ayunda)
Hinata pun memejamkan mata dan mencoba melupakan kejadian yang sempat membuat hatinya sakit.
.
To be continued…
.
Chaki no Utau, Out~
