Note : karakter GoM disini sudah kelas 3 SMA termasuk Kagami dan sekolah disatu sekolah yang sama, Teiko disini bukan smp melainkan SMA dan chara Akashi tidak termasuk anggota GoM usianya 23 tahun. Akashi versi Oreshi!

SPECIAL THANKS TO : XL-SasuHinaGaa, momonpoi, BABY L Soo, mao-tachi, Ryuuki760, Guest.

Selamat Membaca~

.

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Aishiteru, Sensei! © Akihiko Fujiwara

.

All forms of similarity or resemblance was just an accident, pure thought itself author!

Warns : BL, miss typo(s), yaoi, boyxboy, OOC Tetsu, OOC Sei, diksi belum sempurna, eyd kurang, dan don't like don't read.

Rated : T+ sampai dengan M

Genre : Romance, Drama, School, & BL

.

Aishiteru, Sensei!
-Chapter 2 : Diantara Kita-

Langit nampak orange kemerahan menandakan jika matahari akan segera terbenam, namun didalam kelas Kuroko masih terlihat membersihkan papan tulis. Pandangannya datar.
Sudah sejak setengah jam yang lalu murid lainnya pulang namun pemuda biru langit itu masih anteng didalam kelas, padahal kalau dipikir-pikir jadwal piketnya bukan hari ini. Mungkin ini yang disebut terlalu rajin.

Setelah menghapus papan tulis Kuroko berjalan kembali ke bangkunya, sebelum itu pemuda itu nampak memandang keluar jendela. Senyuman tipis terukir disana, dia suka melihat matahari terbenam. Dan itu hobi Kuroko sejak kecil.

"Ekhem—"

Kuroko terkesiap dan menoleh mendengar deheman seseorang dibelakangnya, dia melihat pria berambut merah yang berdiri diambang pintu menatapnya lurus. Tentu saja dia tahu siapa seseorang itu.

"Sensei?" kata Kuroko kaget.

Akashi hanya tersenyum simpul, dia melangkahkan kakinya kedalam kelas menuju kearah Kuroko yang tengah berdiri. Pemuda biru langit itu hanya menatap gurunya tak mengerti. Akashi mengelus dagunya sejnak kemudian mengulurkan sebuah lembaran kertas kearah pemuda itu, Kuroko menerimanya.

"Itu jadwal bimbingan belajarmu bersamaku Kuroko-kun, kalau tidak ada yang kau mengerti kau bisa menanyakannya padaku…" jelas pria itu.

Kuroko memperhatikan setiap baris kata yang tertera di selembaran itu, matanya membaca dengan teliti. Tak lama dia mendongak menatap sepasang bola mata merah dihadapannya, Kuroko menggaruk tengkuknya.

"Akashi-sensei, anoo…kalau anda tidak keberatan aku ingin diajarkan pelajaran Bahasa Inggris juga. Tidak apa-apa kan?"

Akashi terdiam sejenak.

Memang sih di jadwal yang dia buat kemarin dia hanya memasukkan mata pelajaran matematika saja karena dia pikir pemuda baby blue itu butuh ilmu dalam pelajaran hitung menghitung, tapi setelah Kuroko mengusulkan pelajaran yang lainnya dia jadi dilema.

"Kalau sensei keberatan aku tidak akan me—"

"Ah sama sekali tidak Kuroko-kun, sudah menjadi tugasku untuk membantu murid yang tengah kesusahan…" Akashi tersenyum simpul. Pemuda baby blue itu membungkuk hormat.

"Arigatou Gozaimasu Sensei…"

Kuroko mendongak dengan mata melebar, terang saja dia shock dengan pemandangan didepannya. Sang guru, kedua kalinya mengacak rambut biru langitnya dengan sebuah senyuman yang benar-benar tidak dapat pemuda itu artikan kembali membuat perasaan Kuroko campur aduk.

Hatinya mencelos.

"Kalau begitu besok kau sudah bisa datang kerumahku Kuroko-kun, alamatnya ada dijadwal itu. Kalau masih tidak tahu kau bisa menghubungiku. Segera pulang kerumah ya, hari sudah sore"

Dengan kalimat terakhirnya itu Akashi pergi meninggalkan Kuroko yang bergeming menyaksikan gurunya itu sampai hilang didepan pintu kelas. Pemuda itu diam. Tak mengerti apa yang barusan saja terjadi. Buru-buru dia berbalik mengambil tas nya dan pergi dari sana, semakin lama dia merasa semakin tidak beres saja. Entah kenapa rasanya berbeda sekali jika dirinya bertemu dengan guru tampan itu, Kuroko sendiri juga tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya itu.

XXX

Di lapangan basket yang luas itu terlihat banyak murid-murid yang tengah bermain, ada yang serius bermain ada juga yang bercanda-canda ria bersama dengan teman-temannya. Kuroko yang tengah berdiri dipinggir lapangan hanya bisa tersenyum simpul menyaksikan pemandangan itu, dia merasa waktunya tidak lama lagi. Dia sudah kelas tiga, sebentar lagi dirinya akan lulus dan meninggalkan sekolah tercintanya ini sekaligus meninggalkan olahraga yang begitu dicintainya itu. Basket.

"Yoo, Kuroko-cchi kenapa kau melamun begitu-ssu…kau semakin imut saja" Kise menarik-narik pipi Kuroko gemas, empunya malah menunjukkan ekspresi kekesalan. Terang saja. Siapa yang suka jika pipi nya dicubiti dengan keras seperti itu?

"Kise-kun ittai—" pemuda biru langit itu protes, tidak terima pipi mulusnya ditarik-tarik begitu.

Kise hanya nyengir kuda. Merasa tak berdosa, pemuda pirang itu akhirnya melepaskan rangkulannya pada Kuroko. Kuroko membenarkan posisi kerah seragamnya yang bentuknya sudah awut-awutan gara-gara ulah si radio rusak aka Kise Ryota. Panggilan khas dari Kuroko untuk Kise yang memang raja nya berisik.

"Ah gomen Kuroko-cchi…lagipula kenapa kau melamun seperti itu-ssu? Aku melihatmu akhir-akhir ini sering sekali melamun" beo Kise sambil memasang pose berpikir dengan jari telunjuknya dia letakkan di dagunya, Kuroko melirik pemuda itu sekilas dengan wajah datar kemudian kembali lagi menatap lapangan basket dihadapannya itu.

"Tidak apa-apa Kise-kun, aku hanya memikirkan jika waktu kita tidak banyak lagi. Sebentar lagi kita sudah lulus dan meninggalkan Teiko sekaligus basket yang sudah membesarkan kita, jika boleh jujur aku belum siap sama sekali…" ucap Kuroko memandang lurus kearah ring basket didepannya, senyuman kecut terukir dibibirnya. Kise yang berdiri dibelakangnya tak dapat berkata-kata, pemud pirang itu membisu. Tak tau ingin berkomentar apa.

"Tapi aku juga bersyukur, di sekolah ini aku dipertemukan oleh teman-teman yang baik seperti kalian. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana perjuangan kita untuk bisa membawa nama Teiko menjadi yang terbaik, dan tahun ini adalah tahun terakhir kita bisa bermain di Interhigh….seterusnya kita akan berjuang bersama-sama"

Kuroko berbalik badan kearah Kise yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tidak bisa menahan haru dengan ucapan yang dilontarkan teman seperjuangannya itu. Kise berlari dengan gaya lebay nya dan memeluk Kuroko erat sembari berurai air mata, kali itu Kuroko tidak protes karena tingkah menyebalkan Kise. Dia tersenyum simpul. Dia tahu apa yang dirasakan temannya itu, mungkin bukan hanya Kise saja tapi semua pemain basket Teiko.

"Hiks, Kuroko-cchi kau membuat ku bersedih saja-ssu"

Tanpa mereka berdua sadari, semua pemain Teiko ternyata berdiri disana beberapa menit yang lalu. Sengaja untuk tidak menghampiri mereka terlebih dahulu, itu semua atas usul Kagami yang sepertinya mendengar perkataan Kuroko barusan. Akibatnya, lihat sendiri bagaimana raut wajah mereka sekarang.

Aomine yang selalu memasang wajah 'mesum' nya kini hanya bisa merengut menahan agar air matanya tidak jatuh, Momoi yang sudah berbanjir ria duluan, Kagami yang menutup sebagian wajahnya, Midorima si cowok paling tsundere itu bersikap santai tapi siapa tahu hatinya juga bersedih, dan Murasakibara yang—oke tidak perlu membahas makhluk titan ini. Kalian pasti sudah tahu apa yang dilakukannya sekarang.

Setelah waktu latihan yang cukup lama, Kuroko kini tengah berjalan seorang diri untuk pergi ke tempat Izuki. Bekerja paruh waktu seperti biasa. Mata biru langitnya melirik sekilas ke arah arloji hitam dipergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 07.10 malam, sepertinya dia sudah telat sepuluh menit. Semoga saja Izuki tidak marah.
Kuroko berjalan kurang lebih sepuluh menit dari stasiun Ikebukuro dan sampai di restoran sushi milik senpai nya, pemuda itu masuk kedalam.

"Permisi…"

Izuki yang tengah membersihkan mangkuk-mangkuk kecil didekat westafel itu menoleh kebelakang dan melihat pegawainya tengah berdiri diambang pintu, pria itu tersenyum sekilas kearah Kuroko.

"Kuroko-kun, kau rupanya. Aku sudah menunggu dari tadi, apakah latihan hari ini cukup berat sehingga kau datang cukup lama?" kata Izuki mengelap tangannya dengan kain bersih, Kuroko tak menjawab sejenak. Dia masuk dan membuka lokernya, meletakkan tas dan mengambil seragam resminya.

"Hari ini hanya kardio dan latih tanding saja senpai, selanjutnya hanya mengatur pemain inti untuk pertandingan Interhigh bulan depan" jelas Kuroko sambil memasang seragamnya itu, Izuki mengangguk tanda mengerti.

"Sudah mau Interhigh saja ya, tidak terasa. Aku merasa baru kemarin lulus dan merasakan atmosfir itu, sekarang giliran kalian yang akan melaluinya. Aku harap Teiko akan menjadi yang terbaik lagi" ucap Izuki dengan senyuman lebarnya dan mata berbinar, Kuroko ikutan tersenyum menanggapinya.

"Kami akan berusaha sebaik mungkin senpai"

"Yasudah kalau begitu, lanjutkan pekerjaan mu ya Kuroko-kun. Aku ada sedikit urusan dengan Mitobe, tolong bantu Nebuya didepan sana" Izuki menepuk bahu pemuda biru langit itu dan berjalan melewatinya.

Kuroko berjalan kedepan, memperhatikan Nebuya yang tengah bercakap-cakap dengan pelanggan disana. Sejujurny restoran sushi milik Izuki ini pelanggannya lumayan rami di hari-hari tertentu, dan kebanyakan mereka adalah pekerja kantoran. Kuroko selalu bertanya-tanya mengapa senpai nya itu tidak mau mencari pegawai baru lagi? Bukankah berdua saja dengan Nebuya itu terhitung sedikit?

"Nebuya-san, aku harus mengerjakan pekerjaan apa lagi?" ucap Kuroko tepat dibelakang pria bertubuh tinggi besar itu.

"Woah—kau benar-benar mengagetkanku Kuroko, dan sejak kapan kau sudah berada disini?" Nebuya terlonjak karena tingkah pemuda biru itu. Sedangkah Kuroko dengan tampang datar dan tak bersalahnya itu balik menatap Nebuya yang masih shock.

"Aku baru saja berada disini" ucapnya santai.

"Yaampun, tidak bisakah kau sehari saja tanpa mengagetkan aku?" Nebuya menepuk jidatnya, sedangkan Kuroko hanya diam saja. Tak bereaksi. Nebuya menghembuskan napasnya pelan. "Kalau begitu kau cuci piring saja ya, aku sudah membersihkan semua ikannya"

"Baiklah kalau begitu" Kuroko mengangguk dan berjalan kebelakang untuk melakukan tugas yang diperintahkan Nebuya itu.

Dengan cekatan dan lincah Kuroko membersihkan piring-piring kotor disana, meskipun sambil beraktivitas tetapi pikirannya melayang ke tempat lain. Jika dipikir-pikir bimbingan belajarnya itu dimulai besok sepulang sekolah bersama guru matematikannya, sungguh saat itu jika boleh jujur dia benar-benar tidak tahu harus menghadapinya dengan seperti apa. Apalagi dirumah Akashi, dia begitu yakin tidak ada orang lain disana dan hanya mereka berdua saja.

Kuroko sontak menepuk pipinya keras dan membuat wajahnya dipenuhi dengan busa cucian piring, yaampun apa-apaan yang barusan dipikirkannya tadi? Kenapa dia sampai berpikir kearah sana? Dia seperti remaja berpikiran aneh sekarang.

"Kuroko? Kau baik-baik saja?" tanya Nebuya yang memperhatikannya dari belakang, Kuroko menoleh menatap pria besar itu dan hanya menggelengkan kepalanya.

"Ya, aku baik-baik saja Nebuya-san. Gomenasai…"

"Yasudah kalau begitu, aku tinggal sebentar kebelakang ya Kuroko. Perutku sedikit bermasalah, aku titip meja depan padamu" kata Nebuya dan kemudian hilang didepan pintu toilet meninggalkan Kuroko yang menatapnya.

Pemuda itu mengelap tangannya dengan kain bersih disana dan segera menjaga meja depan jika ada pelanggan yang datang untuk memesan, Kuroko mengelap meja pelanggan dengan begitu teliti. Kuroko memang tipe pemuda yang sangat rajin, jika matanya menangkap sesuatu yang perlu diperbaiki atapaun hal yang terlihat tidak diwajar dia dengan senang hati akan memperbaikinya.

Merasa pekerjaannya selesai Kuroko menaruh kembali kain bersih itu ditempatnya dan pemuda itu berdiri didekat meja kasir menunggu pelanggan lainnya datang kembali. Firasatnya benar, dan ada pelanggan yang datang ke restoran nya.

"Selamat malam, ada yang bisa saya ba—"

"Apakah disini menjual sup tofu? Aku pesan sa—"

Kuroko diam, begitu juga dengan pelanggan tersebut. Hening sesaat. Hanya terdengar suara denting jam dan Nebuya yang tengah bersiul-siul didalam toilet. Kedua anak manusia itu diam membisu, hanya berbicara melalui kedua pandangan mata mereka. Sungguh Kuroko benar-benar shock saat ini, dia menelan ludahnya kasar dan berbalik memunggungi pelanggan tersebut.

Pemuda itu yang selalu bertampang datar kini menunjukkan ekspresi kaget bercampur dengan panik, kenapa dari sekian banyak restoran di Jepang ini guru nya harus datang kemari? Apakah dunia memang sesempit daun kelor?

"Kuroko-kun, kau kah itu?"

"…" Kuroko masih diam.

Akashi menautkan kedua alisnya sambil menggaruk tengkuknya, dia berjalan kearah meja. Meletakkan tasnya dan duduk disana menunggu sampai muridnya itu membalikkan badan kearahnya.

"S-sumimasen, tapi aku bukan Kuroko. Mungkin anda salah orang" dusta Kuroko berharap jika gurunya itu mempercayai ucapan bohongnya barusan.

Akashi tak bergeming, sesaat dia tersenyum lebar mendengar lontaran kata pemuda polos itu. Pria merah itu menopang dagunya dengan tangan kiri, memperhatikan muridnya dari belakang.

"Kau tidak bisa berbohong padaku Kuroko-kun, aku sangat hapal suaramu…" suara baritone Akashi memenuhi seluruh isi telinga Kuroko.

Matilah aku. Batin Kuroko merutuk karena tidak berhasil membohongi gurunya itu, padahal dia sudah bersusah payah untuk menutupi pekerjaannya ini dari orang banyak. Tapi sepertinya Kami-Sama membuatnya tak semulus rencana Kuroko.

Pemuda itu berbalik dan menatap Akashi yang tengah memperhatikannya dengan seringaian diwajahnya, Kuroko memegangi pelipisnya sejenak.
"Maafkan aku sensei, tapi aku tidak ingin pekerjaan ku ini diketahui oleh banyak orang termasuk sensei sendiri" jelas Kuroko.

"Sungguh aku tidak mempermasalahkan hal ini Kuroko-kun, aku hanya memastikan jika yang menyambutku barusan adalah dirimu. Dan benar sekali dugaanku jika itu dirimu, meskipun tadi kau sempat berbohong padaku…" Akashi tersenyum tipis. Kuroko menutup wajahnya karena memerah setengah malu.

"Gomenasai sensei, lalu anda tadi ingin memesan apa?"

"Ah betul juga, aku ingin pesan sup tofu. Aku sudah berkeliling mencarinya tapi restoran langgananku sudah tutup semua jadi aku melihat restoran ini dan memutuskan untuk kemari"

"Kalau sup tofu sepertinya di restoran kami ada, kalau begitu aku akan membuatkannya untuk anda. Mohon tunggu sebentar" Kuroko menunduk dan segera permisi kebelakang untuk membuatkan pesanan Akashi.

Pria itu mengangguk mengiyakan dan memperhatikan Kuroko yang tengah sibuk di dapur belakang, matanya menelusuri restoran itu dari berbagai sisi. Sebelumnya, Akashi sempat kaget jika yang dilihatnya tadi adalah Kuroko dan rupanya dugaannya benar jika pemuda tadi adalah muridnya.

Akashi tampak berpikir keras, tapi untuk apa muridnya itu bekerja seperti ini? Apa setiap hari setelah dia pulang sekolah? Jika begitu kenapa dia menyetujui kalau Kuroko akan ikuti bimbel bersamanya? Bukankah jadwalnya akan semakin padat, Akashi memijat pelipisnya.

"Sensei, ini pesanan anda"

Kuroko datang dengan membawa semangkuk tofu dengan asap panas yang mengepul diatasnya, benar-benar menggoda nafsu makan Akashi saat itu juga. Pria itu dengan wajah berseri segera menyantap makanan favoritnya itu, Kuroko yang berdiri didekat meja pelayan hanya bisa termenung melihat bagaimana gurunya itu tengah makan. Senyuman terukir sempurna di bibirnya.

"Sensei, jangan terlalu terburu-buru. Berbahaya jika tersedak…"

"Ah maaf, jika sudah berhadapan dengan tofu aku bahkan lupa segalanya. Apalagi tofu buatan mu ini enak sekali" ucap Akashi dengan menunjukkan dua jempolnya kearah Kuroko dan melanjutkan kembali makannya, pemuda biru langit itu merasakan sensasi panas menjalas keseluruh wajahnya mendengar kalimat yang bisa dikategorikan sebagai 'gombalan' ala gurunya itu.

Kuroko menggeleng kuat-kuat. Aduh, apasih yang dipikirkannya itu? Kenapa akhir-akhir ini dia sering memikirkan hal yang sama sekali tidak masuk akal dan dia merasa bahwa akhir-akhir ini dia bersifat sensitif jika berhadapan dengan Akashi Seijuuro.

"Kuroko-kun, aku ingin bertanya sesuatu padamu" Akashi mendongak menatap sepasang bola mata biru langit pemuda dihadapannya itu. Kuroko balik menatap Akashi dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Tak mengerti.

"Bertanya apa sensei?"

"Berapa lama kau bekerja disini?" tanya Akashi sambil memakan sedikit-sedikit kuah sup tofu miliknya.

"Kira-kira sudah tiga bulan yang lalu"

Akashi mengangguk mengerti sambil mengelap sudut bibirnya.
"Apa ada alasan lain kau bekerja disini? Apa karena biaya sekolah?"

"Bukan, bukan masalah biaya sekolah sensei. Ada alasan lain yang menuntutku untuk bekerja, tapi aku tidak ingin mengumbar-umbar hal ini…"

Raut wajah pemuda itu seketika berubah, Akashi yang memperhatikannya perlahan mengerti. Dia menarik napasnya, merogoh kantong celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari sana. Menyerahkannya kearah Kuroko.

"Aku akan menunggu mu disini sampai selesai bekerja, ceritakan alasan lain yang kau ucapkan tadi Kuroko -kun…aku dengan senang hati akan mendengarkannya"

"T-tapi sensei anda tidak perlu sam—"

"Sudah tidak apa, aku akan ke minimarket di ujung jalan sana sebentar. Aku akan mendengarkan masalahmu, mungkin saja aku bisa membantu" ujar Akashi sembari tersenyum tipis, bangkit dari duduknya dan pergi keluar meninggalkan restoran sushi sederhana itu.

Kuroko memandangi gurunya tak percaya, apa yang tengah dipikirkan pria itu? Sungguh Kuroko juga tidak mengerti sama sekali, Akashi bertingkah sangat baik pada dirinya. Kuroko yakin itu adalah sisi kepedulian seorang guru kepada muridnya, tapi entah kenapa ada tempat yang jauh dari dalam dirinya jika semua kepedulian, kebaikan, dan perhatian pria itu lebih dari sekedar komunikasi antar guru dan murid. Kuroko menggeleng pelan dan segera melanjutkan pekerjaannya.

XXX

Di salah satu kursi taman yang tidak jauh dari pancuran air, Akashi dan Kuroko nampak duduk berdua dengan keheningan yang menyelimuti mereka. Beberapa menit yang lalu kedua lelaki itu memutuskan untuk pergi ke taman kota yang tidak jauh dari restoran tempat pemuda biru itu bekerja paruh waktu.

"Sensei, maaf jika aku menyusahkan anda—"

"Kau sama sekali tidak menyusahkanku Kuroko-kun, aku hanya merasa kau memiliki masalah yang cukup pelik. Aku ingin sekali membantumu" ucap Akashi sambil menerawang ke atas langit yang dipenuhi bintang berserakan, Kuroko yang duduk disampingnya hanya menunduk tak berkata apapun.

Pria merah itu menoleh kesamping memperhatikan Kuroko yang sepertinya dilema antara menceritakan alasan dirinya bekerja atau tidak, Akashi paham sekali hal itu.
"Kau tidak perlu ragu, aku akan mendengar ceritamu apapun itu"

Kuroko masih menunduk kebawah, tangannya mengenggam dengan erat celana jeans nya. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan pandangannya mengarah lurus ke tanah dibawahnya.
"Sebenarnya aku juga tidak menghendaki untuk bekerja seperti ini sensei, aku terpaksa bekerja untuk membantu ayahku yang hanya berpenghasilan sedikit karena ibuku tengah terbaring tidak berdaya dirumah sakit…"

Akashi dengan seksama mendengarkan setiap lontaran kalimat yang diucapkan oleh muridnya itu, hatinya terenyuh. Dia mengerti, sangat mengerti. Kuroko melakukan hal ini karena kasih sayang nya kepada ibunya yang sedang sakit itu.

Kuroko melanjutkan kembali kalimatnya yang belum sampai akhir itu.
"Aku juga sadar jika aku tidak bisa melakukan apapun selain meringankan beban ayahku dengan membantunya bekerja, aku benar-benar tidak ingin melihat ibuku terbaring disana. Aku ingin melihatnya sembuh dan menyambutku dengan senyumannya ketika aku mengucapkan tadaima saat aku pulang"

Bahu pemuda biru langit itu terlihat bergetar, menahan kesedihannya yang tidak ingin dia perlihatkan saat itu. Akashi memperhatikan Kuroko dengan pandangan sayu, tangannya terulur dan mengusap pundak pemuda biru langit itu. Mengusap-ngusapnya dengan perlahan dan menarik Kuroko kedalam pelukannya. Kuroko bahkan tak sempat ingin bereaksi seperti apa mendapat perlakuan seperti ini dari seorang Akashi Seijuuro. Dia bahkan sama sekali tidak menolaknya.

"Aku mengerti perasaanmu Kuroko-kun, melihat ibu yang kita cintai terbaring lemah dan kita yang tidak bisa melakukan apapun untuknya itu benar-benar menyesakkan sekali. Tapi kau beruntung, kau masih bisa melihatnya. Jagalah dia baik-baik…" nasihat Akashi masih dengan mengelus pelan pundak Kuroko yang dia tarik perlahan kedalam pelukannya.

Kuroko hanya diam tak bereaksi, air mata di wajahnya masih mengalir mendegar penuturan gurunya itu. Memang benar jika semua hal yang dikatakan Akashi padanya memang sangat menyesakkan. Pemuda biru langit itu menangis sambil diam didalam pelukan gurunya.

"Aku ingin membahagiakan beliau sebelum semuanya terlambat…" kata Kuroko sedikit pelan dengan suara serak, namun Akashi masih bisa mendengarnya.

"Yaa, bahagiakanlah dia Kuroko-kun…sebelum kau tidak pernah melihatnya lagi seperti diriku"

Kuroko menghentikan tangisannya, dia mendorong sedikit dada bidang pria itu dan menatap Akashi tak mengerti. Akashi hanya menautkan alisnya. Bingung ditatap seperti itu.

"Apa maksud sensei dengan seperti diriku?"

Akashi terdiam sebentar dan tersenyum kecut, pandangan matanya menerawang ke langit malam, raut wajahnya yang tadi terlihat teduh sekarang berubah seperti menyimpan kesakitan didalam hatinya.

"Ibuku sudah meninggal ketika aku berumur delapan tahun, saat itu aku tak sempat membahagiakannya. Jadi aku menyuruhmu agar tidak seperti diriku…"

Kuroko yang tadi bersedih sekarang jadi merasa bersalah karena harus membuat pria disampingnya itu menceritakan hal yang dia yakini melukai perasaannya, dan sebuah masa lalu yang tidak harus diungkit kembali.

"Maafkan aku sensei,aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu tentang hal ini"

"Tidak, tak apa. Aku hanya teringat kembali peristiwa itu, tapi yasudahlah masa lalu tetaplah masa lalu yang lebih penting sekarang adalah masa depan" ucap Akashi tersenyum tipis, Kuroko menatap pria itu dan ikutan tersenyum tipis.

"Kau tidak usah bersedih lagi Kuroko-kun, jika memang bekerja seperti ini membantu kedua orang tuamu lakukan saja. Aku yakin kau anak yang berjiwa kuat, kau bisa melewati semua ini"

Kuroko mengangguk paham dengan semua saran dan nasihat gurunya itu, Akashi mengacak rambut biru langit milik Kuroko dengan senyuman menghiasi wajahnya. Kuroko bahkan mulai terbiasa dengan kebiasaan pria disampingnya itu yang setiap saat akan mengacak-acak gemas rambutnya. Entah kenapa Akashi selalu melakukan hal itu, tapi Kuroko tak menyangkal jika dia sedikit menyukainya. Apalagi senyuman mempesona gurunya itu membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.

XXX

"Terima kasih banyak sensei, anda sudah menolongku sampai saat ini. Jika bisa mohon izinkan aku untuk membalas kebaikanmu jika diperlukan…" ujar Kuroko yang kini tengah berdiri didepan pintu rumahnya, membungkuk 90 derajat tanda hormat kearah Akashi yang sudah mengantarnya sampai ke rumah.

"Tidak masalah untukku Kuroko-kun, aku senang bisa membantumu. Mungkin nanti jika aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu" kata Akashi tersenyum tipis, pemuda itu pun bereaksi sama.
"Kalau begitu aku pulang duluan, jangan lupa besok jadwal mu untuk belajar. Selamat malam Kuroko-kun"

"Selamat malam Akashi -sensei…"

Akashi segera berlalu pergi dari sana setelah mengantarkan pemuda biru langit itu pulang, Kuroko memperhatikan gurunya itu sampai menghilang dibelokan gang tidak jauh didekat rumahnya. Senyuman tipis terukir di bibirnya. Dia segera masuk, tak ingin berlama-lama didepan rumah dengan senyam-senyum yang begitu mencurigakan. Bisa dianggap tidak waras dia jika ada orang yang tengah memergokinya tersenyum sendirian.

Pagi sudah menjelang saat itu, pagi itu Akashi dengan memakai kemeja pendek berwarna abu-abu terlihat berjalan menuju perpustakaan. Nampaknya ada sesuatu yang tertinggal disana sewaktu dia mampir untuk meminjam buku literatur, Akashi bahkan mengingatnya saat dia sudah begitu jauh dari perpustakaan. Akibatnya dia harus kembali lagi kesana. Melelahkan.

Tak begitu lama berjalan, dia sudah berdiri di depan pintu perpustakaan. Menyeret kakinya untuk kembali ke meja yang sempat dia pakai untuk membaca sejenak, namun nihil dia tidak menemukan sesuatu yang dia cari. Akashi menengok kesana kemari berharap benda miliknya dapat terlihat.

"Sensei, anda mencari ini?"

Akashi menoleh kebelakang, terlihat murid laki-laki dengan rambut jabrik kecoklatan, mata onyx dan mirip seperti 'chihuahua?'. Pria itu melihat benda yang tadi dia cari-cari tengah berada di tangan murid lelaki itu.

"Ah ya benar, aku sedang mencari kartu pengenal milikku. Untung sudah ketemu"

"Ya aku menemukannya tergeletak di bawah, jadi aku mengambilnya. Ini milikmu sensei" murid itu menyodorkan kartu pengenal guru kepada Akashi, pria itu dengan senang hati menerimanya.

"Terima kasih banyak, kau sudah mengembalikan kartu milikku" ujar Akashi sembari tersenyum tipis, murid itu hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk.

"Sama-sama sensei, aku hanya berusaha untuk membantu mu saja. Itu adalah milikmu jadi sebaiknya aku kembalikan" ucapnya kikuk.

"Sekali lagi terima kasih, lalu siapa namamu?"

"Furihata. Furihata Kouki"

.

.

.

TBC~

A/N : Halo, saya balik membawa lanjutan fic chapter dua. Hehehe maaf baru sempet diupdate, maklum tugas numpuk banget banget bangetan di dunia nyata. Jadi saya harus bisa menyeimbangkannya.
Ohiya saya juga lupa kasih tau kalau disini Sei nya nggak OOC ya, disini Sei nya versi oreshi jadi ga begitu menyeramkan *dilempar gunting* tau sendiri dong versi oreshi itu gimana, ramah, baik hati, rajin menabung dan tapi boong :v
Jadi kalau reader masih ngira Sei nya OOC ya mohon maap, semoga saya bisa memperbaiki sifat si seme ikemen yang satu ini.

Mungkin itu saja, kalau ada yg mau review, kritik dan saran silahkan akan saya tampung. Arigatouuuu.