Entah apa yang di lakukan oleh Naruto hingga ia terjebak dengan murid-murid Konoha Junior School. Ia kesini hanya untuk menemui teman lamanya yang sekarang berpropesi sebagai guru disini. Dan tanpa persetujuannya, temannya itu justru memintanya untuk menggantikan dia sebentar yang ada urusan mendadak. Naruto yang bingung menatap murid-murid remaja tanggung yang menatapnya tanpa berkedip. Bahkan dengan jelas Naruto melihat background bunga-bunga dan walpaper yang berganti warna pink.

Ada masalah apa dengan anak-anak ini?

Naruto menghela nafas pasrah.

"Sensei.., Kenapa tidak memperkenalkan diri?"

Seorang murid bertanya yang sepertinya kelas ini menganggap dirinya adalah guru baru. Meski tidak menolak dianggap begitu, maka ia juga tidak keberatan untuk memperkenalkan dirinya.

"Hai, Namaku Uzumaki Naruto."

Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan canggung.

"Berapa umur Anda, Sensei?!"

Murid-murid wanita di kelas tersebut semakin gencar menanyainya.

"Umurku? 27 tahun, ne!" Naruto menjawab seadanya.

"Uwaaaah~… Kau tidak terlihat setua itu. Kau itu seperti malaikat, Sensei~!"

Blush~

Seruan yang ini di angguki oleh semua murid di kelas yang membuat Naruto merona.

"Kenapa kau berkerja jadi guru? Kau lebih layak menjadi seorang model, sensei."

"Aku tidak begitu~," Naruto melambaikan kedua tangannya kedepan dada. "dan lagi aku tidak berkerja sebagai guru." Ucapnya menyerah dengan anak-anak yang pintar menggombal.

"Lalu kau berkerja sebagai apa?"

"Aku bekerja. Hanya bisnis keluarga yang dijalankan ayah, lalu di lanjutkan oleh kakakku. Aku hanya membantu, anggap saja begitu. Hahaha!" Lanjutnya lagi dengan tawa canggung.

"Apa kau punya pacar?" Anak dengan rambut coklat jabrik ini menatapnya mupeng. Membuat Naruto menelan ludahnya paksa.

"Err... Aku masih single." jawabnya sambil menggaruk pipi dengan tanda lahir tiga garis tipis. Semua murid menatapnya dengan dahi berkerut dan mata yang memicing. "Ja-jangan menatapku seperti itu, aku tidak bohong."

Dengan mata memicing, mereka terus begatian menanyai Naruto yang merasa ingin kabur dari tempat itu.

"A-apa Anda pernah mengalami Cinta pertama?" Dengan malu-malu murid tersebut bertanya. Membuat seluruh temannya memandangnya seperti ia adalah anak yang turun dari bulan.

"Apa? Cinta pertama? Te-tentu saja aku pernah mengalaminya, ttebayo~!" Dan Naruto masih saja menjawab pertanyaan yang semakin tidak jelas untuknya.

"Bagaimana rasanya, Sensei?! Bisa kau ceritakan?" Para gadis mulai tertarik ketika mendengar akan ada cerita romance dari pria tampan berparas malaikat di depan mereka.

"Kenapa kalian bertanya begitu? Jangan paksa aku bercerita, oke?!"

"Ooh~… Ayolah~, ceritakan untuk kami, sensei~!" Murid-murid tersebut tetap memanggil Naruto sebagai sensei. Modusnya mereka agar si pirang mau berbagi cerita.

"Tidak." Naruto menjawab dengan tegas. Namun tatapan hopeless anak-anak dengan mata berkaca-kaca membuat Naruto kelabakan.

"Ayolah~, jangan melihatku seperti itu. Aku sudah lupa bagaimana ceritanya. Sungguh!"

semua murid masih menatapnya ingin menangis.

"Aku tidak bohong. sudahlah, aku tidak mau ditanya lagi."

"Huweeeee... Naruto-sensei jahaaaattt~?!" Mereka tidak segan-segan menangis ketika Naruto tidak mau bercerita.

"Hei! Hei! Nanti aku bisa dimarahi." Seru sang Uzumaki semakin panik. lalu akhirnya ia menghela nafas.

"Baiklah~, duduk saja biar aku ingat-ingat dulu. Aku bercerita di mulai dari mana dulu, ya~?!"

"Baiklah, dengar baik-baik saat aku bercerita, ya~?!"

"Aku mulai~!"

Seruan murid-murid langsung terhenti dengan Naruto yang mulai bercerita.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Storie by: Tomat jeruk

Title: First Love Stories

Pair: SasuNaru

warn; Drama gaje, OOC, typo(s), miss typo, bahasa tidak beraturan, cerita pasaran, author newbie, membaca ini dapat menyebabkan kolesterol meningkat.

Don't Like Don't Read

Enjoy~…

Naruto Stories

Mata biru itu membulat saat sosok raven yang sedari tadi menjadi objek untuk dirinya menguping ada di depannya dalam waktu seperkian detik saja.

"Sebaiknya, kau jangan suka menguping, ne!" Suara bariton itu sanggup membuat si pirang gemetaran takut.

Sreet

Tanpa banyak kata lagi pemuda bermarga Uchiha tersebut, menyeret tangan si pirang yang hanya membuka tutup mulutnya tidak bisa bersuara.

Naruto yang merasa jika dirinya di seret-seret tanpa sebab, mencoba melepas tangan berkulit alabaster yang mengcengram kuat pergelangan tangannya. Ia juga sama sekali tidak sengaja mendengar pembicaraan Sasuke dengan gadis berambut merah itu. Bahkan ia tidak mengenal gadis tadi. Naruto sangat ingat jika gadis bernama Karin yang Sasuke sebut namanya tadi menatapnya begitu tajam. Ia kembali berontak saat akan di masukan ke dalam mobil oleh Sasuke dengan paksa.

Bruk.

"Aduuuh~" Naruto mengusap kepalanya yang terantuk setir mobil karena di lempar secara tidak manusiawi kedalam mobil. pergelangan tangannya pun memerah. Ia memberikan tatapan tajam pada pemuda raven yang baru saja duduk di kemudi mobilnya.

"Teme! Kau ingin membawaku kemana, hah?!" Si pirang berteriak pada pemuda berwajah datar disebelahnya. Kesal karena dirinya harus mengalami nasib naas seharian di sekolah akibat dari orang di sebelahnya ini.

"Diamlah, Dobe." Suara Sasuke setenang air kolam renang di rumahnya.

"KENAPA AKU HARUS DIAM?! KAU JANGAN SEENAKNYA SAJA TERUS, TEME!" Naruto tidak tahan hingga berteriak. Orang ini memang brengsek yang sesuka hati sekali memperlakukannya.

Sasuke mulai menjalankan mobilnya keluar area sekolah. Tidak peduli jika telinganya bisa saja tuli akibat teriakan seriosa Naruto.

~~~~~~~~~~~~Tomat-Jeruk~~~~~~~~~~~

"Kita mau kemana?!" Untuk kesekian kalinya Naruto bertanya pada Sasuke yang masih fokus menyetir. Mereka ketempat kawasan perumahan elit Konoha dengan rumah-rumah yang tentu sangat besar dan indah di pandang mata.

"Kita akan kerumahku, lalu bertemu orang tuaku." Sasuke menatapnya datar seolah yang ia katakan adalah hal yang wajar.

Yah~, wajar jika ia adalah seorang wanita. Bahkan mungkin ia akan sangat bahagia jika ia seorang wanita.

Lalu karena ia pria yang bergender sama dengan Sasuke.

UNTUK APA UCHIHA SIALAN ITU MENGAJAKNYA MENEMUI ORANG TUANYA?

Naruto yang akhirnya dapat memproses pikirannya melotot horor kearah si pemuda raven.

"KAU, MAU APA KAU MEMBAWAKU KERUMAHMU? MEMANGNYA AKU MAU DILAMAR OLEHMU?!" Oops.. Naruto keceplosan salah bicara. Mana dia berteriak sangat kencang hingga orang-orang pun menegok kearah jalannya mobil Sasuke.

Sasuke memandang tajam Naruto penuh intimidasi.

"Idiot. Orang bodoh mana juga yang mau melamarmu. Baka dobe?!" Ujar Sasuke terdengar menghina sekali di telinga Naruto.

Namun karena si pirang terlanjur malu akan kebodohannya ia hanya diam saja. Hingga mereka tiba didepan gerbang tinggi menjulang yang di jaga ketat oleh dua orang berjas hitam berbadan tinggi besar.

Penjaga yang melihat kedatangan mobil tuannya, segera membuka gerbang yang secara otomatis membuka dengan remote kecil ditangannya.

Naruto terpukau dengan halaman rumah yang begitu luas, cukup untuk di jadikan lapangan sepak bola internasional. Matanya bergulir kearah rumah yang lebih pantas di sebut istana dari pada rumah. Uchiha benar-benar kaya raya. Bahkan ia sendiri merasa menjadi orang miskin ketika berada di kediaman Uchiha.

.

.

.

"Kenapa kau masih diam disitu?" Sasuke membuka pintu mobil lalu menyeret kembali Naruto untuk turun dari mobil.

Ia diam saja di seret oleh si raven menuju mansion yang jaraknya begitu jauh. Memikirkan ini Naruto bingung, pasti sangat lelah berbolak-balik di mansion yg sangat besar ini. Jika ia yang tinggal disini sudah pasti ia akan memakai sepatu roda kemana-mana dari pada berjalan kaki.

"Teme, apa kau tidak bosan menyeretku terus-terusan? Aku bisa berjalan sendiri!" Sasuke segera melepas pergelangan tangan si pirang yang sudah jengah di seret. Bahkan chapter ini menjadi adegan seret-menyeret sedari tadi.

Naruto mengelus pergelangan tangannya. Si kepala unggas teme ini memegang tangannya sangat kuat, padahal ia tidak berencana kabur kemana pun.

.

.

.

.

.

Mereka memasuki ruang tengah yang begitu luas dan di lengkapi berbagai furniture mahal.

Seseorang duduk santai di depan tv plasma berukukuran besar dengan kepala bersandar pada sofa.

"Itachi... Apa Ayah dan Ibu dirumah?" Sasuke berseru tanya ketika melihat Sang kakak berada dirumah. Karena yang ia tau Itachi sangat sibuk di perusahaan. Melihat adanya Itachi di rumah membuat Sasuke yakin Ayah Ibunya pun masih ada dirumah.

"Otouto, kau sudah pulang? Mereka ada di teras sepertinya," Sahut Itachi Uchiha menjawab pertanyaan adiknya. "kau membawa teman? tidak biasanya sekali, Otouto~!" katanya lagi ketika melihat si pirang yang kembali dapat seretan dari Sasuke. Dan ia tersenyum menyeringai melihat adiknya hanya memberi tatapan datar yang tajam hingga akhirnya tertawa terbahak.

Sasuke dan Naruto meninggalkan Itachi yang sibuk tertawa tidak jelas. padahal tidak ada hal lucu yang pantas di tertawakan sampai seperti itu, menurut pendapat Naruto. Berbeda dengan Sasuke yang gondok dengan perkataan kakaknya.

.

.

.

Mereka tiba di teras kediaman Uchiha dilantai dua mansion. Ada taman kecil dan meja, kursi santai, serta payung besar menghiasi tempat tersebut. Pasti sangat nyaman hingga pasangan Senior Uchiha ini begitu menikmati keberadaan mereka di teras ini.

"Tou-sama, Kaa-sama." Sasuke menunduk hormat kepada orang tuanya. Naruto pun demikian, ikutan menundukan kepala kepada orang yang lebih tua sebagai sopan santunnya.

Sasuke melirik si pirang dalam diam.

"Sasuke-kun, kau sudah pulang, nak?!" Mikoto Uchiha, Ibunya tersenyum lembut kearah putera bungsunya. Ia sangat anggun dengan terusan merah maroon yang dikenakannya.

Ayahnya hanya bergumam 'hn' sebagai sambutan, dan matanya tak lepas dari majalah bisnis yang dibacanya. Uchiha menguasai keuangan dijepang. Ia tidak perlu takut tergeser oleh saingannya ketika dirinya menjadi cover di majalah bisnis tersebut.

"Ada hal yang ingin aku sampaikankepala pada kalian." Sang bungsu Uchiha berucap to the point pada orang tuanya.

Mikoto memandangnya dengan kedua alis terangkat, menanti hal apa yang akan di ucapkan putera keduanya. Sedang Fugaku menatap datar Sasuke tanpa arti.

"Aku... Tidak mau ada perjodohan atas diriku, karna-" Sasuke menggenggam tangan Naruto dan mengangkat tangan mereka yang berpaut keatas. "aku sudah mempunyai kekasih. Dan yang paling jelas, aku menyukainya." Sasuke bersiap jika dirinya akan di pukuli oleh ayahnya, atau di tendang dari keluarga Uchiha. Ia siap dengan resiko apapun yang akan diterimanya, asal gadis gila itu menjauh dari hidupnya. Ia benci ketika gadis itu terus saja meminta macam-macam padanya, dengan dalih jika mereka di jodohkan dan Sasuke harus menuruti semua kemauannya. Persetan semuanya.

Meski ia harus menyeret si pirang dalam masalah, namun ia juga sudah memikirkan resiko apa dan cara untuk mengatasi perbuatannya ini.

Kedua orang tuanya terperangah. Bahkan Fugaku menjatuhkan majalahnya ke bawah jalan berumput di kakinya.

Naruto berkedip lucu beberapa kali dengan bingung atas ucapan pemuda Uchiha disebelahnya. Mungkin jika ada yang bisa menjelaskan, tolong katakan padanya bahwa ini adalah april mop atau apa saja. Ia sama sekali tidak mengerti permasalahan yang ia sedang hadapi.

Apa yang akan terjadi padaku nanti?

batinnya mulai miris ketika melihat pasangan Uchiha yang duduk disana menguarkan aura aneh.

Azab apa yang kau berikan padaku ini, Kami-sama?

batin Naruto lagi dengan nelangsa.

"Kau pasti sedang lelah, Sasuke-kun." Mikoto berkata lemah lembut pada putera bungsunya, "pemuda di sebelahmu itu adalah temanmu disekolah, bukan?!" ucapnya lagi seolah menyuruh Sasuke mengkonfirmasi jika tadi anaknya itu salah bicara.

"Aku tau dia pemuda yang sama sepertiku. Dan aku memang tidak menyukai wanita, Kaa-san!" Ucapnya santai, seperti mengatakan dia baru saja salah beli baju.

Sedang Fugaku yang sedari tadi diam dikursinya, merasa hampir saja terjengkang kebelakang jika saja kursi yang ia duduki tidak melekat pada tanah.

Mikoto menatap raut wajah suaminya. Keningnya berkerut merasa khawatir pada keadaan anaknya jika suaminya marah.

Fugaku memperhatikan penampilan Si pirang dari atas hingga bawah yang membuat si pirang risih. Fugaku merasa pernah melihat ciri-ciri yang mirip seperti pemuda yang di bawa anaknya tersebut. Lalu ia membuka suara.

"Apakah Ayahmu bernama, Namikaze Minato?"

DEG.

Mata Naruto melebar. Dari mana orang ini tau nama ayahnya? Ia selalu menggunakan marga Uzumaki sebagai pelengkap namanya. Tidak ada yang mengetahui jika ia adalah putera tunggal keluarga Namikaze.

Dan dengan pelan Naruto mengangguk atas pertanyaan yang di berikan Sang kepala keluarga Uchiha.

Mikoto serta Sasuke menatap suami juga ayah itu dengan tanda tanya besar di dahi mereka. Sedang Fugaku hanya berwajah datar dan acuh kepada istri dan anaknya.

"Aku akan sangat senang berbesan dengan ayahmu nanti, Naruto!" kata Fugaku dengan seringai tipis yang membuat Ibu dan anak melotot tak percaya akan tingkah Fugaku.

Namun bagi Naruto itu artinya ia dalam masalah sangat besar dan siap untuk menenggelamkan diri di lembah akhir.

Kami-sama... Kenapa kau memberiku azab di dunia seperti ini?

Batin Naruto mewek seketika.

Ingatkan ia untuk mengantung Sasuke di atas Konoha tower nanti.

TBC.

SUPER BIG THANKS BUAT YANG RIPIU CHAPPI KEMAREN.

miss horvilshy, himekaruLI, Imel jewels, Harpaairiry, Vianycka hime, Icha Clalu Bhagia, , Riska'SN, dhiya-chan, Nauchi KirikaRE22, FayRin Setsuna D Fluorite, devilojoshi, onyx sky, ikhaosvz, mifta cinya, Zen Ikkika, Gunchan CacuNalu Polepel, JewELF, FuuCker690, Ineedtoheatyou, Saory Athena Namikaze, .

Maaf ya gais gak bisa bales satu2. lagi kepepet soalnya. #flakk.

buat yang namanya belum disebutin karna ke khilafan saya. saya mohon maaf sekali.

sekali lagi mohon ripiunya dari kalian.

Berilah kritik dan saran agar saya dapat lebih bagus lg.

sampai jumpa di chapter depan. #kissu semua. :*

Jaa~

TOMAT-JERUK