.

.

.

MIRROR

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru

Rate: T

Genre: Supernatural, Romance

Warning : Typos, BL, OOC, AU, dll...

.

.

.


NORMAL POV

.

Gadis berambut soft pink itu duduk memandang keluar jendela. Iris emeraldnya memandang langit dari jendela kamar pasien. Pandangannya kosong, menerawang. Ia menghela nafas. Perasaan sesak setiap kali memandang langit yang tertutup awan orange itu membuatnya teringat kejadian 3 bulan lalu. Kejadian yang merenggut keberadaannya.

"Sakura-chan..."

Sakura langsung mendongak kebelakang. Memandang wanita cantik dengan iris Onix dan rambut dark-blue panjang yang di urai. Wanita itu menepuk bahu Sakura seraya tersenyum.

"Sudah waktunya Sakura-chan," ucap Uchiha Mikoto dengan lembut. Sakura memaksakan senyuman mendengarnya. Tentu saja ia mengerti apa maksud Mikoto. Inilah yang tidak ia inginkan. Pergi meninggalkan tempat ini. Meninggalkan kamar ini. Meninggalkan sosok yang terbaring tak sadarkan diri di kasur itu. Namun apa daya? Sakura hanya bisa berkata-

"Ya, Sakura pamit dulu Tante," sama seperti biasa.

Maka dengan kata-kata itu, Sakura meninggalkan kamar pasien. Kamar yang selalu di kunjunginya. Kamar yang sudah sering ia datangi untuk menghabiskan waktunya. Kamar yang di huni oleh orang yang sangat berarti baginya.

Sakura!

"Ugh...," lagi-lagi suara itu terdengar. Suara orang yang selama berbulan-bulan ini memenuhi pikirannya. Yang selalu membuatnya mampu meneteskan air mata. Sakura terpaksa meremas dadanya yang kembali terasa pilu. Dadanya benar-benar terasa sesak dengan ingatan yang selalu menjeratnya itu. Sasuke...

.^_^.

(~_~)

=o=

NARUTO POV

.

Aku diam sambil terus memandang sosok guru yang dengan santainya menuntunku ke WC. Rambut perak dengan model yang aneh itu terlihat menyebalkan di mataku. Ah, guru ini memang menyebalkan bukan? Guru Kakashi selalu mengenakan masker, padahal ia tidak flu. Heran kenapa dia begitu setia dengan masker yang selalu menutupi wajahnya itu.

"Nah, hukuman untuk murid yang terlambat," ucap Guru Kakashi sambil berhenti dan menujuk sebuah Pel yang berada di pojok bilik WC. Aku mendecih melihatnya.

"Baiklah, tambahan WC guru juga kalau begitu."

"Apa!?"

"Hmn... juga pel lantai satu."

"Tunggu dulu Guru Kakashi!"

"Lantai 2 juga perlu di Pel."

"Baik! Baik! Saya mengerti! Saya tidak akan protes lagi!" teriakku frustasi. Entah bagai mana aku melihat sebuah senyuman dari balik masker berwarna gelapnya. Grrrr! GURU SIALAN!

"Tambahan untuk penghinaan yang tak terucap, sepulang sekolah kau harus membersihkan halaman belakang sampai bersih," ucap Guru Kakashi dengan santai sambil mulai membaca Novel anehnya. Iris safireku menatap Guru Kakashi dengan tidak percaya. Ba, bagai mana bisa ia...

"Walaupun kau menatapku dengan kagum seperti itu, aku tetap tidak akan mengurangi hukumanmu Naruto," ucap Guru Kakashi dengan santai sambil berjalan keluar dari WC. Iris Safireku menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan pandangan tidak percaya.

"SIIIAAAALLLL!"

Aku langsung menendang ember. Ember itu langsung memantul dan terkena Pel-an, dan dengan sukses-

"Aduh!?"

Pel-lan itu menimpa kepalaku.

"Akh!" aku langsung melempar pel-an itu ke sembarangan arah lalu mengacak-acak rambutku. Frustasi dengan pagi yang di awali dengan kesialan.

.^_^.

(~_~)

=o=

Aku mengelap keringat yang membasahi pelipisku. Aku menghela nafas sambil memandang tumpukan dedaunan yang berhasil kubuat menjadi bukit kecil.

"Hah... kau tahu? Perlu waktu lama untuk mengumpulkan kalian seperti ini!" ucapku kesal kepada tumpukan dedaunan itu. Mereka hanya diam. Mungkin bingung mau membalas ucapanku seperti apa. "Dan kalau sekali lagi kalian-"

WHUUUSSSS~

"ber...pisah..."

Aku terdiam. Hmn... 2 jam yang lalu aku berhasil membersihkan halaman belakang sekolah yang ternyata sangat kotor. Aku harus berjuang untuk membersihkan tempat yang di teduhi pepohonan ini. Dari tidak sengaja melihat orang pacaran sampai tidak sengaja melihat orang yang hendak pipis sembarangan. Dan sekarang apa yang kulihat? Adegan paling menyebalkan yang baru saja terjadi 1 jam yang lalu terjadi lagi! Semua dedaunan itu! Semua sampah itu terbang bertebaran LAGI! AAAAKKKKHHHH!

"SIIAAALLAAAANNN! GURU KAKASHI SIALAN!" teriakku frustasi sambil melemparkan sapu yang ada di tanganku ke tanah. Bahuku naik turun, nafasku tidak teratur. Rasa kesalku sekarang sudah sampai ubun-ubun. Kalau sampai seperti ini lagi! Lihat saja! Lihat saja Guru Kakashi! Aku pasti akan membalasmu!

"Oy! Naruto!"

Aku langsung mendongak memandang Kiba yang duduk di bangku yang ada di bawah pohon. Ia duduk bersama Gaara yang asik membaca buku dari tadi. Mereka sudah menungguku sejak 2 Jam yang lalu sejak bel pulang berbunyi. Oh... betapa beruntungnya aku memiliki sahabat-sahabat seperti mereka...

"Kami mau beli makanan, kau mau nitip tidak!?" teriak Kiba. Aku langsung bisa merasakan perutku yang berbunyi begitu Kiba mengatakannya. Aku langsung menggaruk belakang kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Aku tersenyum canggung menatap mereka.

"Yah... aku lupa bawa uang," ucapku jujur. Gara-gara terlalu buru-buru pergi ke sekolah, aku jadi meninggalkan dompetku. Sarapan pagi saja aku tidak sempat dan lagi sejak jam istirahat tadi aku tidak memakan apapun. Hah... Benar-benar sial!

"Baiklah."

Aku langsung menatap Gaara yang selesai membaca bukunya dan bangkit berdiri. Ia menatapku lalu menatap Kiba.

"Biar kami belikan. Ramen seperti biasakan?" ucap Gaara. Mataku langsung membulat mendengarnya. Bayangan semangkuk besar Ramen yang hangat di atas meja sukses membuat perutku semakin memberontak. Dapat kurasakan mie berserta kuahnya yang enak masuk ke dalam perutku.

"Huwaaaa! Makasih Gaara! Kau memang sahabatku!" ucapku girang sambil berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.

"Ehem! Naruto..."

Aku langsung menatap Kiba yang balas menatapku dengan pandangan horror. Sebelah alisku terangkat. Bingung kenapa ia menatapku seperti itu.

"Naruto, bisakah kau melepaskan Gaara?"

Dan secepat kilat aku langsung melepaskan pelukanku begitu mengenali suara itu. Aku berbalik memandang sosok berambut panjang dengan iris violet itu. Ia menatapku dengan pandangan tidak suka. Mau tidak mau itu membuatku merasa tidak enak.

"Ehehehehe... ha, halo Neji Senpai...," ucapku kaku. Neji Senpai hanya mendengus lalu langsung menarik tangan Gaara hingga Gaara ada di sampingnya. Aku dan Kiba menatap wajah Gaara yang langsung blushing begitu Neji Senpai merangkulkan tangannya di pinggang Gaara.

"Sudah waktunya pergi, Gaara aku ambil dulu," ucap Neji Senpai lalu langsung membawa Gaara menjauh dari kami.

"I,iya, selamat bersenang-senang!" ucap Kiba sambil melambai ke arah Neji Senpai dan Gaara. Gaara hanya mengangguk sementara Neji Senpai tidak menanggapinya sama sekali. Aku menghela nafas melihat kepergian duo cerdas itu. Kenapa duo cerdas? karena mereka berdua sama-sama menempati pringkat 5 besar dalam Ujian sekolah... hah...

"Kupikir Gaara mau pergi bersamamu beli makanan," ucapku jujur sambil duduk di kursi. Kiba menghela nafas menatapku.

"Aku juga tidak tahu kalau dia juga akan ikut," akunya "Terpaksa aku pergi sendirian."

"Hey! kan masih ada aku!" protesku. Agak tersinggung karena Kiba sepertinya tidak menganggabku ada.

"He? Kau harus menyelesaikan itu!" protes Kiba sambil menunjuk beberapa dedaunan kering yang bertebaran. Aku tergelak melihatnya. "Pokoknya, setelah aku dan Gaara datang, kau harus sudah menyelesaikannya!" ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aku menghela nafas sambil menyadarkan tubuhku di bangku. Aaahhhh... perut kosong, tenaga terkuras, kena marah... Hah... kenapa hari ini aku sial sekali? Benar-benar deh! Lihat saja kau Guru Kakashi! aku pasti bisa melampauimu! Dan bila saat itu tiba... fufufufufu... kau yang akan terus ku hukum karena selalu terlabat!

Ah! kalau di ingat-ingat... Guru Kakashi memang selalu datang terlambatkan? Cih! dia selalu datang terlambat kalau mau mengajar dan kalaupun datang juga dengan alasan aneh yang benar-benar tidakmasuk akal! Hah... aku benar-benar heran. Dari mana sisi bagusnya Guru Kakashi? Kenapa Guru Iruka selalu menganggab Guru Kakashi itu guru yang baik dan keren?

"Hemn...," aku bergumam sambil menyilangkan tanganku di dada. Kedua alisku terpaut. Mencoba memecahkan misteri yang sangat sulit di percahkan ini. Aku... benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Guru Iruka. Guru Iruka itu sangat baik dan ramah... semua murid menyukainya. Yah... terkadang ia sangat menyebalkan dengan beberapa tugas yang di berikannya, tapi tetap saja Guru Iruka itu baik dan sangat lembut. Hemn...

"Sakura-chan!"

Aku langsung mendongak begitu mendengar seorang gadis berteriak memanggil temannya. Gadis berambut pirang di kuncir satu. Yamanaka Ino. Ia berlari menghampiri gadis berambut pink yang berdiri tidak jauh darinya. Haruno Sakura. Kedua gadis yang berbeda kelas denganku itu berjalan beriringan memasuki gedung sekolah dari belakang sambil terus saling mengobrol. Hemn... dari arahnya, mereka pasti dari gudang perlengkapan olahraga. Untuk apa dua primadona sekolah di dalam gudang perlengkapan olahraga? Bukankah di sana terkenal banyak hantunya?

Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Perasaan ngeri menjalar dari punggung ke seluruh tubuhku. Si, si sialan! Ini sudah hampir gelap!

Tanpa berfikir dua kali lagi, aku langsung bangkit berdiri dan berlari cepat memasuki gedung sekolah. Bagai manapun, aku meninggalkan tasku di dalam kelas. Semoga saja masih ada orang di dalam kelas! Oh ya! Kalau tidak salah Haruno dan Yamanaka juga memasuki gedung sekolah jugakan?

"Sasuke..."

Deg!

Langkahku langsung terhenti. Tepat di ujung tangga, aku melihat Haruno Sakura duduk bersama Yamanaka Ino. Tadi... hanya perasaanku saja atau salah satu di antara mereka benar-benar menyebut nama Sasuke? Aku langsung menggelengkan kepalaku. Pasti itu hanya khayalanku! Sasukekan hanya mimpi anehku saja! Ah! sudahlah!

Aku langsung melanjutkan langkahku mendekati Haruno dan Yamanakan. Tentu saja berniat untuk menaiki tangga. Walau... kalau boleh jujur, aku sangat penasaran apa yang mereka lakukan di tempat ini. Harunoe terlihat memeluk lututnya sementara Yamanaka hanya duduk di sampingnya. Bahkan mereka tidak menyadari kehadiranku yang mendekati mereka.

"Hiks..."

"Sakura-chan...ssttt... jangan menangis lagi...,"

Aku agak kaget saat tahu kalau Haruno menangis. Wajahnya tidak terlihat, jadi wajar saja aku tidak tahu. Tapi tujuanku kan mau ke kelas. Oh ayolah Naruto! Mereka tidak mengenalmu, jadi jangan perdulikan! Aku langsung mencoba mempercepat langkahku mendekati mereka. Langkahku bergema, namun mereka tak kunjung sadar akan kehadiranku. Yah... itu bagus.

"Hks... Sasuke..."

Deg!

Langkahku terhenti tepat saat aku berhasil melangkah menaiki tangga dan melewati mereka. Dengan tidak percaya aku memandang punggung Haruno dan Yamanaka. A, apa? Tadi aku tidak salah dengar bukan? Haruno... baru saja. Baru saha menyebutkan namanya.

"Uchiha... Sasuke?" gumamku tanpa sadar. Kedua gadis itu langsung mendongak memandangku. Kedua iris yang berbeda warna itu menatapku dengan pandangan tidak percaya. Mereka mengenal... Uchiha Sasuke?

.^_^.

(~_~)

=o=

"To..."

siapa?

"Naruto..."

Siapa yang memanggilku?

"Hey, Naruto!"

Suara ini... terdengar familiar.

"Namikaze Naruto!"

Aku langsung membuka kedua mataku. Aku mengerjab beberapa kali begitu sadar saat aku membuka kedua mataku, semuanya terlihat gelap. Umn... aneh. Aku yakin sudah membuka kedua mataku, lalu kenapa masih gelap? Apa aku sebenarnya masih memejamkan mataku ya?

"Kau sudah sadar Dobe?"

"Siapa yang Dobe!?" bentakku marah sambil menoleh ke sumber suara. Uchiha Sasuke. Iris Safireku terblalak melihatnya. Aku langsung bangkit berdiri dan memandangnya dengan tidak percaya. Loh? Kenapa dia bisa... Tunggu! jangan bilang kalau sekarang aku sedang bermimpi lagi!

"Hn. Tentu saja kau," Ucap Sasuke. Empat persimpangan langsung muncul di kepalaku.

"Apa katamu Teme!?" balasku sambil menunjuknya.

"Cih, aku sedang tidak mood meladenimu Naruto," ucap Sasuke sambil duduk di sofanya. Aku memandangnya jengkel. Memangnya siapa duluan yang mulai!? Bukankah dia duluan yang memancingku!? Dasar sialan! Aaakkkhh! Sudahlah! Masih ada yang harus aku tanyakan ke dia!

"Hey! Kau masih belum menjawab pertanyaankukan!" tuntutku. Sasuke mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar ucapanku "Kau belum memberitahukan kenapa kau tahu namaku! Lalu kenapa kau selalu datang ke mimpiku!?"

Sasuke menghela nafas mendengarnya.

"Lalu satu pertanyaanku. Bila ini adalah mimpi, lalu kenapa kau bisa datang dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti tadi?" tanya Sasuke. Eh? Apa?

Aku menggerutkan alisku. Datang dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam mimpi sendiri? Artinya aku tidur di dalam tidur? Atau... aku bermimpi di dalam mimpi? Aku semakin menggerutkan alisku. Mencoba menganalisis apa maksud Sasuke sebenarnya. Namun semakin aku mencoba, aku justru semakin merasa bingung.

"Aaaakkkkhhh! Bisa tidak sih menggunakan kata-kata yang lebih di mengerti, Teme!?" teriakku frustasi.

"Cih! Namaku Uchiha Sasuke Baka-Dobe!" ucap Sasuke "Dan apanya yang susah dari pertanyaanku? Aku hanya ingin tahu kesimpulanmu sendiri!"

"Kesimpulanku sendiri?" tanyaku bingung.

"Hn, tentang tempat ini."

Aku terdiam. Tentang tempat... ini? Sebelah alisku terangkat. Ku pandang Sasuke yang balas memandangku dari balik cermin. Ia sama sekali tidak bergerak di tempat duduknya. Membuatnya terlihat bagaikan sebuah lukisan indah. Aku mengerjab beberapa kali. Mencoba mencerna ucapannya.

"Apa maksudmu... ini bukan mimpi?" tanyaku. Iris Onix itu langsung memandang mataku. Pandangannya benar-benar sulit di mengerti. Membuatku semakin penasaran. Ada sebuah rahasia dari matanya. Ada sebuah misteri yang belum ku ketahui. Ya, aku tahu itu. Lalu aku teringat kejadian tadi. Haruno Sakura. Haruno Sakura mengenal Sasuke. Aku yakin kalau yang di maksud Haruno Sakura adalah...

"Hn, ini bukan mimpi."

.^_^.

(~_~)

=o=

Aku membuka kedua mataku. Cahaya yang terang langsung menusuk mataku. Membuat mataku perih dan refleks, aku menutup wajahku dengan tangan. Mencoba untuk melindungi mataku dari cahaya yang benar-benar membuat mataku silau.

"Ah! Akhirnya kau sadar juga!"

Aku menggerutkan alisku. Suara siapa itu?

"Kau tidak apa-apa?"

"Bagai mana perasaanmu sekarang?"

"Bagian mana yang sakit?"

"Kau mau makan sesuatu?"

"Sssstttt... coba kalian berdua diam dulu," ucap suara itu. Memperingatkan 2 suara perempuan yang terus menanyaiku tanpa berhenti. "Dia barus sadar, sebaiknya kalian jangan membuatnya bingung."

Alisku terpaut bingung. Mataku sudah mulai terbiasa dengan cahaya terang yang di akibatkan lampu itu. Ada 3 orang yang mengelilingiku. Haruno Sakura, Yamanaka Ino dan... Uchiha Sasuke?

Aku langsung bangkit. Memandang sosok Uchiha Sasuke dengan tidak percaya.

Ti, tidak mungkin... bagai mana bisa? Bagai mana bisa Sasuke...

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke sambil mendekatiku dengan khawatir. Aku mengerjab beberapa kali memandangnya. Tidak... dia berbeda. Dia bukan Sasuke. Suara itu buka milik Sasuke. Aku mencoba menjernihkan pikiranku dan mencoba menenangkan jantungku. Baiklah... lelaki ini terlihat lebih tua dari Sasuke. Dari wajah... mereka sama-sama tampan, namun Sasuke tidak memiliki garis mirip keriput di wajahnya. Rambut Sasuke juga tidak panjang hingga dapat di ikat satu seperti itu.

"Namikaze?"

Aku langsung menoleh ke arah Haruno Sakura yang berdiri di belakang sosok yang mirip Sasuke. Iris emeraldnya itu memandangku dengan pandangan cemas. Aku mengangkat sebelah alisku lalu memandang sekelilingku dengan bingung. Ruangan serba putih yang asing. Terdapat sebuah meja di sebelah kasurku dan terdapat sebuah sofa di pojok ruangan.

Lalu mataku memandang jendela yang terbuka. Iris safireku memandang tidak percaya ke luar jendela. Terlihat sebuah pemandangan kota di luar jendela. Jelas, tempatku berada saat ini berada di sebuah ketinggian.

"Ah! Ya, pasti kau sangat bingung kenapa ada di sini bukan?"

Aku langsung memandang laki-laki yang mirip Sasuke itu tersenyum ramah memandangku. Iris onixnya menatapku dengan lembut.

"Ini Rumah Sakit Konoha, dan sebelumnya maaf aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Uchiha Itachi,"

Eh? Uchiha?

TBC

.

.

.


Yak! Chap 2 udah jadi~

benar-benar suli nyuri waktu antara nulis dan buat tugas =_="

n... gomen klo updateny lama n ceritanya makin pendek atau ada banyak kesalahan lainnya _ _"

terlalu banyak setress menumpuk soalny o_o

yak! yah... langsung saja, RnR Please? :D