SHINING TWILIGHT
DC : plot milik saya, selebihnya ada yg ngaku?
Warning : masih sama seperti chapter lalu, tambah plotness ding, wong cuma charas introduction gini
A/N Timeline chapter ini dan beberapa chapter ke depan ialah masa-masa sebelum Kyumin resmi jadi pasangan alias regresif
(still hopely) happy reading~
2nd Journey - Lovely Hyungdeul
Pagi bertahta meraja bumi. Bintang terbesar sudah sedari tadi meradiasikan kalornya. Mengejek gumpalan raga beralas kasur mimpi yang masih terbuai hangatnya selimut.
Dan pagi hari tak pernah jadi semenyebalkan ini, kau tahu? Di mana kau harus terbangun dari mimpi indah -terdampar di pulau antah berantah bernuansa serba pink dengan es krim, cake, permen, dan segala macam yang manis-manis- dan mengerling ke meja kecil di samping ranjang, tepatnya sebuah benda di atasnya yang berbentuk bulat, berwarna baby pink, bermotif Minnie Mouse dengan jarum-jar-YA LEE SUNGMIN sekarang bukan saatnya mendeskripsikan jam wekermu kan? Lalu sudah jam 6.45 eh? Padahal sekolah dimulai jam 07.15 dan butuh normalnya 30 menit sampai ke sana.
Tergesa-gesa ke kamar mandi, melewatkan sarapan pagi bergizi, berlari tanpa henti ke halte bus, dan voila~ Di sinilah dia sekarang, masih berlari -sudah 5 menit omong-omong- penuh keringat menuju sekolah tercintanya setelah sebelumnya lupa turun di halte seharusnya dia turun.
Dan apa itu pintu gerbang tertutup?
Bloody hell! Jadi segala macam perjuangannya dari bangun tidur sampai ke sini sia-sia? Oh betapa Sungmin cinta hidup ini.
The Pinky Boy memperlambat lalu larinya dan berjalan normal meski masih agak terengah-engah.
Masuk tidak ya? Hukuman telat itu mengerikan omong-omong. Telat 6 menit dan selamat mencabuti rumput liar di kebun belakang sekolah sepanjang dua jam pelajaran alias satu setengah jam. Yaks~ tak tahu saja seberapa sempit kebun belakang sekolah itu. Mending melanjutkan mimpi tadi pagi kalau tahu bakal seperti ini ceritanya.
Di tengah dilema masuk atau bolos, sebuah mobil berhenti di sampingnya -yang 7 meter lagi mencapai gerbang. Si pengemudi menurunkan kaca sedikit dan bertanya mencemooh, "kesiangan lagi eh?"
Sungmin tak menjawab dan nylonong masuk ke mobil.
Well, bisa dipastikan ini bukan yang pertama kali. Maklum, kedua hyungnya memang sengaja berangkat sekolah kalau bel masuk sudah berbunyi dengan dalih menghindari serbuan fans yang nggilani -jenius!
Dan tentu saja mobil beserta penumpangnya melenggang melewati gerbang dengan selamat tanpa syarat. Huh dasar anak kepsek, kolusi! Eh tapi Sungmin juga untung sih~ jadi ya berterima kasih sajalah.
De javu.
Sepertinya Lee Sungmin pernah mengalami rangkaian kejadian ini.
.
.
Sungmin masih berlari kecil saat gerbang sekolah mulai terlihat. Yah apalagi kalau bukan bangun kesiangan. Jangan tanya dia punya jam weker atau tidak. Pasalnya jam weker pink kesayangannya sudah mendarat dengan aman di tempat sampah di kamar -dengan kondisi mengenaskan tentu- hasil lemparannya karena merasa terganggu dengan bunyi nyaring dan berisik yang ditimbulkan jam malang itu. Dan sebagai informasi, itu jam kelima di bulan ini yang berakhir tragedi.
Tapi tiba-tiba satpam -tak tahu orang lagi berjuang sekuat jiwa raga- dengan inosennya malah menutup gerbang. Padahal tinggal 10 meter lagi. Huh, ayo tambah kecepata lari Lee Sungmin!
Saat Sungmin bersiap memakai kakinya untuk lari lagi, sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Kaca terbuka sedikit, dan seorang namja dari kursi pengemudi berkata -atau merintah?- "ck, troublesome! Cepet naik!" yang ia respon dengan 'hah?' dalam hati.
Apa-apaan namja itu! Main suruh saja!
"Ck, naik gak? Apa kau mau bolos eh?"
Oh shit! Ulangan sejarah jam ketiga. Bisa mati jongkok di lapangan kalau ketahuan bolos sama Mr. Killer itu. Dan ulangan susulan? Hell no way! Kau bahkan butuh lebih dari 500 kata untuk menjawab satu soal saja. Jadi ulangan susulan sama dengan neraka.
Tak ada alternatif lain, Sungmin segera masuk ke mobil. Dan ups, setelah menjatuhkan pantat dengan nyaman di jok belakang, dia baru sadar ada seorang namja di sampingnya. Namja tampan yang sedang sibuk dengan ponsel di tangan. Dan kenapa wajahnya familiar omong-omong? Ah pasti cuma perasaan saja! Di kursi depan, tampak jelas oleh mata Sungmin -yang dia yakini 150 persen belum rabun- pak kepsek duduk manis di samping kursi pengemudi. Dan kenapa juga wajah si pengemudi ikut-ikutan familiar? Perasaan lagi kah?
Klakson berbunyi, wajah gahar pak satpam menyambut. Membuka gerbang lalu mengetuk kaca mobil -instruksi pengemudi untuk turun.
Cerocos panjang lebar perihal aturan dan tata tertib bla bla bla -yang sayangnya sama sekali tak digubris. Berakhir dengan turunnya pak kepsek dari mobil sementara wajah gahar tadi bertransformasi menjadi paleface.
Anggukan singkat penguasa sekolah, dan tentu pengemudi tadi beserta mobil dan isinya dipersilakan menuju parkiran dengan ucapan 'mianhae' si satpam -yang lagi-lagi tak digubris.
"Gomawo." Sungmin membungkuk sopan setelan mendaratkan kaki dengan nyaman di parkiran.
"Troublesome! Lain kali beli jet pribadi sekalian kalau berangkat sekolah sesiang ini!"
Sungmin mlongo. Sombong! Bukannya tadi dia juga terlambat? Kenapa malah menggurui sekarang? Kau cuma beruntung diselamatkan kepsek sunbae!
"Hm, bisa kita ke kelas sekarang juga?" namja yang dari tadi sibuk dengan ponsel bertanya.
Acuh terhadap Sungmin, kedua namja itu segera berlalu, menyisakan Sungmin yang melirik -dengan slow motion- ke tangannya yang terasa berat dan sadar sebuah tas di genggamannya. Berlarilah Sungmin mengejar kedua namja tadi di koridor sekolah yang lengang -mengingat jam pelajaran sudah dimulai 6 menit yang lalu.
"Hei Jabrik tunggu!" seru Sungmin dan sukses membuat dua namja beberapa meter di depannya menghentikan langkah dan berbalik.
Terengah-engah ketika sampai di hadapan mereka dan mengangkat tangan menunjuk tas.
"Punyamu kan?" todong Sungmin ke namja jangkung dengan rambut jingga tegak melawan gravitasi.
"Jabrik? Sejak kapan aku punya titel itu eh?" satu alis terangkat -tak suka.
"Mianhae, aku kan gak tahu nama kalian" tangan yang bebas membentuk simbol 'peace'.
"Tapi bukan berarti kau bisa seenak gigi kelinci manggil kan?" menunjuk name tag-nya, Zhoumi.
"Ne Zhoumi sunbae, mianhae, aku hanya mau mengembalikan i-"
Zhoumi merebut tas dari tangan Sungmin.
"Kenapa bisa ada padamu?" mata menyelidik.
"Kalian gak ingat? Kan tadi aku berangkat bareng kalian. Bukannya kau sendiri yang menawariku sunbae? Masa' udah lupa? Payah!" memutar mata dan senyum mencemooh.
"Kalian berisik sekali!" namja yang dari tadi diam menyela, lalu membalikkan badan bergegas ke kelasnya.
"Yunho tunggu!"
Zhoumi berlari kecil menyusul namja -Yunho- yang sudah berjalan beberapa meter di depan, kedua kalinya meninggalkan Sungmin yang dongkol setengah hidup -merasa tak dihargai usaha pengembalian tas tadi.
"Zhoumi sunbae dan Yunho sunbae..." gumam Sungmin lalu berbelok menuju kelas Matematika. (1)
.
.
Well, sekelebat flashback -kira-kira 5 bulan lalu- di otak Sungmin membuatnya ketawa ketiwi sendiri dan mendapat pandangan penuh tanda seru dari Zhoumi -masih menyetir- juga Yunho yang duduk di sebelahnya.
.
.
.
Siswa berhamburan -membawa tas masing-masing, ada pula segelintir yang menenteng beberapa buku di tangan- dengan tujuan beragam saat seperti ini.
Omong-omong tadi aku tetap diizinkan masuk kelas -walau telat 10 menit- oleh Shim seonsangnim, wali kelas juga guru Matematika kelas 11 di sekolah ini. Padaha kan peraturannya telat 5 menit tak boleh mengikuti kelas -tapi sudahlah, peraturan ada untuk dilanggar kan?- dan umumnya harus terdampar di perpustakaan -kalau tak mau berurusan dengan Komdis jika tertangkap basah jalan-jalan saat jam pelajaran.
Yah, sekarang jam istirahat dan alih-alih mengisi perut seperti kebanyakan siswa, aku malah menemui Zhoumi hyung dan Yunho hyung yang sedang duduk santai di salah satu bangku di taman sekolah -jarang ada siswa ke taman saat jam seperti ini- sambil menunggu kelas selanjutnya.
"Salah kalian hyungdeul!" ku banting tas sekenanya lalu duduk di tengah mereka.
""Mwo?" Zhoumi hyung -duduk di sebelah kanan- menghentikan kegiatan membaca buku -sepertinya buku Kimia kelas 12- dan menoleh ke arahku.
Manyun sebentar, tangan bersilang di dada, "kalian latihan basket sore nanti kan?"
"Hm" Yunho hyung menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya. Ih gak sopan! Memangnya ponsel lebih manis dari aku apa hyung?
Aku mulai mengeluh tentang betapa tidak setia kawannya teman yang ngebatalin janji tepat di hari H padahal udah sepakat jauh hari sebelumnya. Apalagi dengan alasan nonton namja-namja tampan berbasket ria. Walaupun memang semua mengakui, namja di klub basket mempunyai wajah dan tubuh yang bikin ngiler -terutama untuk namja kecil, manis, dan imut-imut seperti aku- tapi gak perlu ngebatalin janji segala kan? Terus siapa yang nemenin aku ke toko buku kalau begini?
Cerocos panjang lebarku hanya ditanggapi 'troublesome' sebagai respon. Payah nih mereka! Aku kan lagi ngambek!
Ku ambil tas yang ternyata jatuh di bawah bangku lalu menimpukannya sebentar ke Zhoumi hyung -penceloteh troublesome tadi- kemudian ku letakkan di atas kedua kaki dan ku peluk.
Daripada diacuhkan, aku menengadah, melihat langit berarak awan -ini memang kebiasaanku.
.
Sumpah demi semua sumpah apapun yang ada di dunia ini, ingin sekali rasanya ku getok dua namja ini. Namja tampan, kaya, pintar, populer, namun gagal dalam bersosialisasi. Tahukah kalian? I am the only one their friend -tolong garis bawahi, italic, bold, capslock sekalian pada kata 'the only one'- di sekolah ini.
Sebelum aku datang di kehidupan mereka, dunia ini mereka bagi cuma berdua -tolong jangan bayangkan segala sesuatu berbau romantis di sini. Zhoumi hyung, namja kelebihan gizi -mengingat tingginya yang keterlaluan seperti Menara Eiffel- itu anak kepsek, juara umum kedua, tampang tak diragukan lagi, ketua klub basket pula. Tapi di balik semua itu, dia hanyalah sosok yang acuh, dingin, tak ramah meski mengaku dirinya gentleman (gentleman darimana, wong kalau udah ketemu aku sukanya menganiaya). Dan oh jangan lupakan 'troublesome' sebagai trademark-nya. Yunho hyung, co capten klub basket, juara umum sekolah, paras dewa, anak konglomerat. Tak lebih dari namja miskin vocab yang biarpun kalian nyerocos sampai mulut berbusa di depannya, hanya bakal ditanggapi dengan satu kalimat -atau kata?- andalannya, 'hm'.
Tapi aku cinta mereka. Aku tahu mereka hanya belum menemukan seseorang yang tepat untuk berbagi.
Kami sering menghabiskan waktu bersama, seperti menemani mereka menyepi saat istirahat -they hate noisy anyway- hang out ngalor ngidul, dan kadang membantuku mengerjuakan tugas-tugas kalau deadline sudah di depan mata -yah mengingat aku hanyalah siswa dengan kemampuan rata-rata. Tapi soal tubuh aku gak average loh. Lihat saja mata indahku, hidung yang gak bisa dibilang pesek, wajah yang manis, imut-imut, polos, dan tubuh mungil yang ramping serta gigi kelinci yang menambah kesan manis. Aku namja yang gak bertampang rata-rata kan?
Apa? Kalian tertarik padaku? Tenang, bisa nego kok~
Maaf, aku hanya membaca script yang ditulis author, jangan anggap aku narsis dan genit oke?
.
Hening.
Aku sudah tak memandangi langit lagi -karena pusing memikirkan kenapa bentuk awan terus berubah dan tak beraturan- Zhoumi hyung tetap anteng walaupun belum mulai membaca buku lagi, sementara Yunho hyung masih sibuk dengan ponselnya.
"Hyungdeul, latihan basketnya bisa dibatalin gak?" bunny eyes attack plus wajah aegyo paling manis -jenius kau Lee Sungmin!
"Ck, troublesome! Yunho, menurutmu?" Zhoumi hyung menoleh ke Yunho hyung.
"Hm?" apa pula itu jawaban Yunho hyung.
Yunho hyung masih saja fokus ke ponsel. Ada apa sih di ponselnya?Jangan-jangan ada fotoku ya? -bukan timing yang pas untuk bernarsis ria Sungmin!
"Ada gak jawaban yang lebihmutu dari 'hm'? Mentang-mentang trademark, troublesome!" kau juga hyung! Kapan coba 'troublesome' lepas dari bibir seks-tidak seksimu?
Aku menepukkan tangan di dada, memohon.
Yunho hyung mengalihkan atensinya dari ponsel dan menatap aku serta Zhoumi hyung bergantian. Memandang langit sebentar dan- "Hm..." -anggukan kepala.
Langsung ku peluk tubuh Yunho hyung.
"Gomawo hyung. Love you~" menatap wajah Yunho hyung dan tersenyum semanis mungkin lalu mengecup pipinya sekilas.
Ponsel yang sedari tadi aman di tangan Yunho hyung jatuh. Tampak semburat merah muda tipis di wajah tampannya. Apa kontak ini terlalu intim baginya? Atau ucapan 'saranghae' tadi ya?
Zhoumi hyung menarikku dari dada Yunho hyung, mengarahkan kepalaku agar menatapnya.
"Karena dia-" dagu menunjuk Yunho hyung yang sepertinya masih shock atas kejadian tadi, "-setuju, maka latihan sore ini dibatalin. Lagian gak menyenangkan juga latihan tanpa Yunho. Puas?" jelasnya sambil menimpuk kepalaku dengan buku yang tadi dibacanya. Nyengir, "balasan timpukan tas yang tadi, ingat?"
Dasar pendendam! Gak perlu nimpuk kepala juga kan hyung? Mana buku yang buat nimpuk tebel lagi! Gimana kalau aku amnesia coba! Bilang saja mau dipeluk dan dicium juga. Aish payah ah~
.
.
.
Kuseret kakiku -yang aslinya malas sangat- ke kantin. Yah mau gimana lagi? Perut sudah berorkestra ria sejak tadi. Kalau gak makan bisa-bisa kena omelan khas troublesome Zhoumi hyung, diseret ke sebuah restoran, dipaksa menghabiskan berbagai macam menu yang banyaknya fantastis -dia pikir aku ini perut karet apa? Zhoumi hyung dalam mode umma itu mengerikan omong-omong. Ceramah gak kira-kira panjang lebarnya. Plus beberapa 'hadiah' tambahan macam cubitan di pipi, timpukan di kepala, dan toyoran di jidat. Kadang malah kombinasi ketiganya kalau lagi mood nyiksa dia.
Aku berjalan menunduk. Mana panas banget siang ini. Belok kiri sekali lagi lalu sampai di kantin -sebelum sepasang tangan tiba-tiba menarik lenganku dan menyeret entah kemana. Kasar banget sih. Duh apa lagi deh ini?Apa aku bakal di-bullying lagi pleh yeojya-yeojya yang ngiri karena aku dekat sama School Prince? Bisa gak sih nyeretnya setelah makan aja?
2nd journey ends here
(1) berhubung saya belum -males- riset sistem pendidikan di Korea khususnya tingkay SMA jd skul di sini pake sistem almameter saya yg moving class
Sumpah ini nyampah bgt #sembahsujud
Makin geje aja ini.
Gomawo bgt buat semua yg udah review chap lalu. dan maaf bgt buat anon review saya gak bs bales tp saya udah baca semua kok.
Review?
