Terpatri di benaknya, seorang anak perempuan dengan mata hijau cemerlang, rambut merah yang menyala disinari matahari, dan tawa menyenangkan yang akan memenuhi memorinya, mengisi mimpinya, dan menguasai hatinya.
Ini adalah kali kelima Severus mengamati anak perempuan berambut merah itu. Setelah pengamatannya yang kelima Severus merasa sangat yakin bahwa anak perempuan yang dilihatnya, Lily, adalah seorang penyihir. Maka hari itu juga Severus memutuskan untuk berbicara dengannya.
"Hentikan!" Petunia menjerit, pandangannya terfokus pada Lily.
"Ini tidak melukaimu, Petunia." Lily melemparkan bunga di tangannya ke tanah.
"Itu aneh," Petunia memandang Lily jijik, namun ada kerakusan pada matanya. "Bagaimana kau melakukannya?" Petunia lanjut bertanya, ingin tahu.
"Sudah jelas kan?" Severus memilih momen itu untuk keluar dari persembunyiannya, berbicara.
"Apa yang sudah jelas?" Lily bertanya, wajahnya menunjukkan kebingungan.
"Aku tahu kau ini apa."
"Apa maksudmu?"
"Kau... kau seorang penyihir," Snape berbisik ketika menyebutkan kata penyihir.
"Tidak sopan menyebut orang begitu!" Lily berbalik, berjalan ke arah Petunia.
"Tidak!" rencana Severus tidak berakhir begitu baik.
Pada keesokan harinya, Severus menemukan anak perempuan itu duduk di ayunan sambil menggoyangkannya pelan. Kepalanya menoleh ke beberapa arah seperti mencari seseorang. Dengan sedikit ragu Severus berjalan ke arahnya. Mendengar bunyi rumput terinjak, Lily menoleh.
"Halo," katanya, tersenyum agak canggung sambil berdiri dan kemudian berjalan ke arah Severus. Severus hanya diam dan memandanginya sesekali, berusaha memikirkan balasan yang sesuai.
"Uh, halo… juga." Akhirnya bocah berbingkai rambut hitam itu menjawab sapaan dengan lebih canggung lagi, namun ia sudah bisa menatap anak perempuan itu.
"Namaku Lily, siapa namamu?" nada bicara Lily yang ramah dan lembut sedikit mengurangi rasa gugup yang mengganggu Severus.
"…Severus." Severus menjawab sembari menyodorkan tangannya yang dengan sigap dijabat oleh Lily.
"Salam kenal." Mata Lily memantulkan sedikit cahaya dari matahari, membuatnya seperti batu kaca hijau yang berkilau. Senyum yang diberikan Lily kala itu menghiasi mimpi Severus kedepannya, kala ia tak bermimpi buruk tentu saja.
percakapan dalam garis miring diambil dari buku Harry Potter dan Relikui Kematian dengan sangat sedikit perubahan.
