"Kabuto -san~~ nih bekal buat di kampus."

Yakushi Kabuto baru saja akan menyentuh kenop pintu kamarnya ketika suara gadis yang baru-baru ini 'numpang' tinggal di apartemennya itu memasuki gendang telinganya. Mahasiswa kedokteran tersebut menghela napas pelan sebelum membalikkan tubuhnya dan mendapati Haruno Sakura dengan cuek menyodorkan tempat bekal yang sudah dibungkus kain.

Kabuto terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dengan ragu dia menerima bungkusan kain tersebut, "...Arigato..." ucapnya pelan dengan tatapan yang masih terlihat sangat curiga.

Tentu saja mendapat tatapan seperti itu membuat Sakura mendelik kesal, "Jangan menatapku seperti itu, dasar maniak! Aku tidak menaruh racun di bekalmu!" gerutu gadis yang sebenarnya adalah anak orang kaya tersebut. Kabuto memutar kedua bola matanya bosan dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap pintu kamarnya, di saat yang bersamaan, Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, "Hei, kau dengar tidak? Halooo, tuan kepala abu-abuu~" panggil Sakura lagi.

Mendapat panggilan baru membuat sudut bibir Kabuto berdenyut. Namun itu tetap tak membuatnya kembali berbicara. Sakura hanya menatap kesal ketika laki-laki berkacamata bulat itu masih mengacuhkannya. Kabuto membuka pintu di depannya lalu melangkah keluar, sebelum menutupnya tiba-tiba dia membuka mulutnya dan berbisik.

"Lebih baik abu-abu daripada pink."

Tak kurang dari semenit setelah Yakushi Kabuto menutup pintu apartemennya, empat sudut siku-siku yang tebal muncul di dahi Haruno Sakura.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Genres : Romance/Family

Warning : AU, OOC

Main Pair : KabuSaku

.

.

.

ABSOLUTE!

.

.

.

"Yakushi-san, akhir-akhir ini kau jadi sering menghela napasmu dan kelihatan begitu lelah," Kabuto menghentikan sesaat kegiatannya membereskan kertas di atas mejanya sebelum menoleh untuk melihat seseorang yang mengajaknya bicara. Ah, dosen Uchiha Madara, "apa ada masalah?" tanyanya pada akhirnya.

Dengan ekspresi datar, Kabuto menjawab, "Tidak juga, hanya saja..."

"Hanya saja?"

Madara sedikit mengernyitkan alisnya bingung melihat Kabuto yang tersenyum kecil hingga kedua matanya menyipit. Jarang sekali mahasiswa kebanggaannya itu menunjukkan ekspresi seperti sekarang. Yah, setidaknya kekagetannya itu tak berlangsung lama, karena setelah Kabuto meneruskan kata-katanya yang tadi sempat tertahan, Madara justru bingung akan membalas apa sebagai respon jawaban mahasiswanya tersebut.

"Hanya saja... ada seekor tikus yang akhir-akhir ini berlarian di dalam apartemenku, jadi aku sedikit susah untuk berkonsentrasi belajar atau bahkan untuk tidur dengan tenang. Memang tikus yang menyebalkan ya ahaha."

Yah, walaupun Kabuto tersenyum dan tertawa ketika menjawab pertanyaan dosennya itu, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan nada kekesalan di dalam kata-katanya.

Dan lagi... walaupun Kabuto mengucapkan 'tikus', gambar yang ada di kepalanya tidak sama dengan apa yang dikatakannya.

Kalian tahu maksudku.

"Oh begitu, memang tikus semakin menyebalkan dari hari ke hari ya ahaha," Madara tertawa kaku seraya menggaruk rambutnya, "kalau begitu aku duluan, Yakushi-san." Kabuto hanya membalas izin salah satu dosennya tersebut dengan anggukan.

Setelah kepergian Madara, Kabuto kembali membereskan tasnya. Tak butuh waktu lama sampai semua bukunya sudah masuk ke dalam tas ransel berukuran sedang tersebut. Laki-laki yang memiliki rambut berwarna abu-abu itu berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar dari ruangannya.

Kabuto merupakan mahasiswa kedokteran terakhir yang keluar dari kelasnya. Karena itu, begitu dia keluar, sudah banyak pemandangan orang-orang berlalu lalang di koridor kampus ataupun sekedar berdiri menyandar pada tembok di belakang mereka. Tidak ada yang menyadari keberadaannya di depan pintu saat ini. Orang-orang itu sudah terlalu fokus dengan pembicaraan bersama teman mereka atau kegiatan mereka masing-masing.

Pemuda berumur dua puluh tahun tersebut hanya terdiam melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang sedang asyik berbicara satu sama lain dengan teman mereka.

Teman... ya?

Kalau dipikir-pikir lagi, Kabuto hampir tidak pernah memiliki teman sejak duduk di bangku SD. Yah, memang sih banyak anak-anak yang sering mengajaknya berbicara namun itu juga tak lebih karena mereka ingin sekedar bertanya soal pelajaran dan meminta padanya untuk mengajari mereka. Tentu saja Kabuto tahu, anak-anak bodoh seperti mereka tidak akan mengajaknya berbicara sama sekali jika dia tidak memiliki otak encer yang mungkin bisa dikatakan sebagai senjata utamanya.

Dan yang seperti itu, tidak pantas dianggap teman, bukan?

Mereka hanya datang di saat mereka membutuhkannya. Setelah itu, Yakushi Kabuto akan dibuang begitu saja oleh orang-orang di sekitarnya ketika dia tidak berguna lagi. Apalagi Kabuto sendiri berasal dari keluarga yang berpenghasilan seadanya dan pas-pasan—membuat orang-orang di sekitarnya berpikir dua kali untuk mencoba menemaninya karena berbagai alasan tertentu.

Selalu begitu.

Akan jauh lebih baik jika dia tidak mempercayai siapapun di dunia ini.

Kabuto memejamkan kedua matanya lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Kakinya mulai melangkah mengikuti salah satu arus orang-orang yang berjalan melewati koridor menuju pintu keluar kampus. Beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan dan saling berbisik. Tentu saja, meskipun tidak memiliki teman, semua orang—terutama para mahasiswa dan mahasiswi di Universitas Konoha—mengenali namanya sebagai mahasiswa kedokteran terbaik di Konoha.

Pemuda bermarga Yakushi tersebut akhirnya sampai juga di luar gedung kampusnya. Kabuto mendengus pelan melihat suasana ramai di sekitarnya. Bisa dibilang hari ini laki-laki itu terlalu cepat pulang sehingga bekal yang dibawanya masih utuh. Kalau dia pulang sekarang dan gadis di apartemennya melihat bekal yang masih utuh tersebut—

—cukup. Tidak perlu sampai berpikir apa isi ceramah yang akan dikeluarkan Sakura nantinya.

Akhirnya dengan sangat amat terpaksa, Kabuto mencari tempat duduk kosong di taman belakang gedung kampusnya. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari tempat yang tersisa. Ternyata Kami-sama berpihak padanya kali ini, di saat yang sama ketika Kabuto menoleh, dua orang pasangan kekasih baru saja meninggalkan tempat duduk mereka. Dengan cepat mahasiswa kedokteran tersebut lari menerjang kursinya dari kejauhan dan segera duduk.

Lega mendapatkan kursi yang nyaman, Kabuto segera mengambil bekalnya dari dalam tas lalu menaruhnya di atas meja. Kabuto baru saja membuka penutup bekalnya ketika dua orang laki-laki yang tak jauh darinya memulai topik yang menarik perhatian mahasiswa tersebut.

"Kau lihat berita sore kemarin?"

"Yang tentang apa?" balas salah satunya seraya meminum kembali air dari dalam gelasnya sampai habis.

Penanya pertama menjawab pertanyaan temannya, "Tentang keluarga kaya yang mencari anaknya yang hilang sejak dua minggu yang lalu," ucapan laki-laki ini berhasil menghentikan gerakan Kabuto yang hendak memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Pemuda berambut abu-abu itu menghentikan kegiatan memakan bekalnya dan mulai memperhatikan kedua laki-laki tersebut, "kalau aku tidak salah, keluarga kaya itu bermarga Haruno."

Kabuto tersentak. Kedua bola mata onyx miliknya membulat kaget. Tidak butuh waktu lama sampai Kabuto kembali fokus dan menajamkan pendengarannya, "Enak ya jadi orang kaya, mencari anak lewat media massa pun bukan masalah lagi," penanya tersebut memberi jeda, "selain itu, foto gadis bernama Haruno Sakura tersebut ditunjukkan di layar TV. Dia cantik dan kaya, menurutku wajar saja jika memang banyak penculik yang mengincarnya—aku juga mau deh hahaha!"

Tawa laki-laki tersebut diakhiri dengan rintihan menahan sakit karena lengannya disikut keras oleh teman di sampingnya. Namun, bukan hal itu yang membuat tubuh Kabuto menegang. Foto Sakura ditunjukkan? Kalau begitu, bukan tidak mungkin sekarang seluruh penduduk Konoha tahu wajah Sakura. Dan jika mereka menemukan gadis itu di dalam apartemennya...

Mengabaikan kedua pemuda yang tadi berbicara kini menatapnya aneh, Kabuto segera berlari meninggalkan tempat duduknya. Dengan terburu-buru laki-laki berumur dua puluh tahun itu memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas ranselnya lalu mengaitkannya pada kedua bahunya. Sekarang kedua kaki Kabuto sudah berlari cepat hingga tak ayal sesekali bahu tegapnya menabrak beberapa bahu di depannya.

Memang benar Haruno Sakura adalah gadis berisik yang selalu mengganggu semua kegiatan mahasiswa itu—terutama kegiatan belajar yang paling disukainya, selalu mengaturnya sesuka hati, sesekali dia juga sangat manja dan arogan.

Tapi...

Tapi...

.

.

.

BRAK!

"Hah hah..." Kabuto terengah begitu akhirnya dia sampai juga di dalam apartemen kecilnya. Mendengar suara pintu dibanting tentu saja membuat Sakura yang sedang mencuci piring terlonjak kaget dan menoleh kesal.

Dengan ekspresi garang, Sakura menghentak-hentakkan kakinya lalu berkacak pinggang di depan Kabuto yang masih terengah, "Halo, tuan kepala abu-abu. Meskipun ini adalah apartemen kesayanganmu, tetap saja tidak boleh membanting pintu sekeras itu! Kau mau apartemen reotmu ini jatuh dan menimpa tubuhku? Heh! Dengar tidak?" cerocos Sakura cepat sementara mahasiswa tersebut masih mengatur napasnya yang memburu.

Tak lama kemudian, akhirnya Kabuto bisa kembali mengatur keluar masuknya udara dari tubuhnya. Dia menutup pintu di belakangnya lalu menatap Sakura di depannya dengan tajam, "Baiklah, sekarang kau hanya punya dua pilihan, Haruno Sakura." Mendengar nada bicara Kabuto yang berbeda dari biasanya membuat gadis berumur enam belas tahun itu mengernyitkan alisnya, "Pertama, tinggal di apartemenku selamanya tapi kau tidak boleh keluar sedikit pun. Lalu yang kedua, kembali ke rumahmu sekarang juga!"

"...Hah?" Sakura melirik kanan kirinya kemudian menggeleng dengan sedikit canggung, "Aku sudah bilang padamu. Aku tidak—"

"Tolong jangan buat aku memperkeras volume suaraku lebih dari ini." Potong Kabuto cepat dengan nada menuntut. Sakura langsung terdiam apalagi melihat tatapan Kabuto yang semakin menajam. Mau tak mau gadis itu merasa ketakutan juga, "Hanya ada dua pilihan itu. Dan kau harus memilih. Tidak boleh tidak." Tegas Kabuto lagi.

Sakura masih enggan menjawab. Terlihat dari sikapnya yang sedikit gelisah dan berusaha menghindari tatapan Kabuto padanya. Dia berkali-kali menunduk lalu mengangkat kepalanya. Iris hijau emerald miliknya terus berpindah posisi, sangat menunjukkan betapa bingungnya gadis itu. Tangan Sakura terangkat mengelus lengannya sendiri. Lama Kabuto menunggu hingga akhirnya terdengar isakan kecil yang tertahan.

"Aku tidak mau pulang... tapi aku... aku juga tidak mau kehilangan kebebasanku," tubuh Kabuto sedikit bergeming mendengar isakan Sakura tersebut. Namun ditahannya mati-matian niatnya untuk menenangkan gadis bermahkota soft pink itu. Sekarang harus ada kepastian yang jelas demi kelanjutan hidup mereka ke depannya masing-masing, "memangnya kenapa Kabuto-san? Kenapa kau sangat ingin aku pergi dari sini?" tanya Sakura bertubi-tubi. Kabuto masih diam memikirkan bagaimana menjawab pertanyaannya sampai Sakura kembali bertanya.

"Apa kau membenciku?"

Mulut mahasiswa kedokteran yang tadinya sudah terbuka dan akan berbicara lagi itu pun langsung kehilangan suaranya. Benci? Apa benar dia membenci gadis yang selalu mengambil keputusannya secara sepihak itu? Aneh. Kabuto justru semakin bingung bagaimana menjawabnya.

Kenapa?

Kabuto menggeleng pelan, "Dengar. Orang-orang di kampusku sudah mengetahui kabar tentang menghilangnya dirimu karena keluargamu sudah mengumumkannya secara besar-besaran lewat media massa—belum lagi orang-orang yang berada di luar kampusku—aku tidak bisa menyembunyikanmu selamanya," dengan ragu akhirnya kedua tangan laki-laki berkacamata bulat itu menyentuh bahu Sakura, "lalu aku..." Kabuto menggigit bibir bawahnya sebelum kembali melanjutkan.

"...sepertinya tidak membencimu."

"Sepertinya? Berarti ada kemungkinan kau memang membenciku?" potong Sakura cepat. Kedua mata Sakura berkaca-kaca melihat Kabuto yang enggan menatapnya meskipun sekarang jarak mereka cukup dekat, "Ne? Jawab aku, Kabuto-san!" melihat Kabuto masih diam membuat Sakura juga tak tahu harus berbicara apa lagi, akhirnya gadis itu menyerah dan melepaskan kedua tangan Kabuto dari bahunya dengan pelan.

Gadis itu menunduk sehingga Kabuto tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya sekarang, "Beri aku waktu untuk berpikir." Bisiknya pelan lalu melewati Kabuto yang berdiri di depannya. Sakura menaiki kasur laki-laki tersebut lalu tidur di atasnya menghadap ke arah yang berlawanan dari posisi Kabuto sekarang.

Melihat punggung kecil Sakura membuat laki-laki yang sudah berumur dua puluh tahun itu terdiam kemudian menghela napasnya. Kabuto menggaruk belakang kepalanya, "Maaf soal jawaban tadi, aku juga... belum tahu kepastiannya. Ahaha." Ucap Kabuto lalu tertawa kikuk meskipun mungkin Sakura tidak mendengarnya. Gadis itu tidak merespon sehingga mahasiswa tersebut menghentikan tawanya.

Menghela napas, akhirnya Kabuto memilih untuk duduk di depan kursi bulatnya—tempat dimana dia biasa makan sekaligus belajar. Kabuto sempat menoleh sesaat menatap punggung Sakura sebelum mengambil beberapa lembar soal dari dalam tasnya kemudian meletakkan lembar-lembar kertas tersebut pada meja di depannya.

Seharusnya belajar bisa mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.

Seharusnya.

Menit demi menit berlalu hingga tak terasa matahari perlahan mulai terbenam. Entah sudah berapa lama Kabuto menunggu Sakura untuk mengatakan sesuatu namun gadis itu masih tetap diam pada posisinya. Tapi Kabuto berusaha untuk tidak mengambil pusing, laki-laki itu menggeleng pelan sebelum kembali memfokuskan dirinya pada tumpukan kertas lembar soal biologi di depannya.

Tangan Kabuto bergerak menulis jawaban-jawaban yang sudah dia ketahui dengan cepat hingga perlahan tapi pasti lembar jawaban yang tadinya masih kosong, kini sudah mulai terisi penuh. Terus dan terus dia mengisi lembar jawaban itu sampai satu lembar lagi yang tersisa. Kabuto berhenti sesaat. Matanya menatap lembar tersebut beserta soalnya dengan tatapan kosong.

Sepi.

Kenapa...

...belajar jadi terasa membosankan?

Ada yang kurang...

Pertama kalinya Kabuto merasakan hal seperti ini. Dia memang sering mendengar keluhan anak-anak yang sekelas dengannya bahwa belajar itu membosankan dan menyebalkan. Tapi Kabuto tidak pernah peduli, baginya belajar itu menyenangkan dan bisa membuatnya melupakan semua beban masalah yang sedang dirasakannya. Titik. Masa bodo dengan mereka yang selalu menganggapnya aneh, maniak, dan tidak normal. Mereka ya mereka. Dia ya dia.

Tidak seperti Kabuto yang biasanya harus menyelesaikan soal-soal yang ada dulu sebelum bisa berpaling ke hal lain, ini pertama kalinya Kabuto meninggalkan sisa-sisa soal itu demi satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak tadi. Kabuto berdiri dari posisi duduknya lalu memutar tubuhnya kembali menghadap Sakura yang masih membelakanginya.

"Sakura!" Kabuto berteriak. Tidak mendapat respon lagi, kali ini teriakannya lebih keras, "SAKURAA!"

"Ck. Apa sih?" gerutu Sakura yang akhirnya jengah juga. Gadis beriris hijau emerald tersebut menolehkan sedikit kepalanya, "Aku sedang—"

"Aku lapar. Buatkan aku makanan! Kalau aku tidak makan, aku tidak bisa belajar," Kabuto tahu ini hanya alasan yang dibuat-buat olehnya—entah untuk apa. Laki-laki itu memalingkan wajahnya yang memerah, "pe-perintahku adalah absolut!" ucapnya terbata, mencoba meniru gaya bicara Sakura, terlebih dengan pose-nya yang melipat kedua tangannya di depan dada.

Jujur saja, ini memalukan.

Tapi, Kabuto tidak bisa berhenti sekarang.

Melihat itu, membuat Sakura membulatkan kedua bola matanya karena kaget. Suasana sempat canggung sesaat ketika Sakura kini membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Kabuto. Lama kemudian, bibir Sakura terlihat bergetar lalu—"HAHAHAHAHAHAHA! Apa-apaan itu? Kau mau mencoba meniruku, rakyat jelata? Hahahaha!" Sakura tertawa puas hingga nyaris akan berguling-guling di atas kasur mahasiswa yang sedang mendengus kesal tersebut.

Namun tak lama kemudian, tawa Sakura mereda dan gadis itu turun perlahan dari tempat tidur Kabuto, "Baik baik, aku akan membuatkanmu makanan. Begini-begini aku masih baik tahu," Sakura melangkah melewati Kabuto yang masih berdiri, sesekali terdengar kikikan kecil dari mulutnya, "terima kasih." Bisik gadis kaya tersebut saat dia berada di samping Kabuto.

Kabuto tidak menjawab. Hanya tersenyum kecil dengan semburat merah tipis di kedua pipinya. Rasanya lega dan menyenangkan. Bahkan melebihi perasaan senang ketika Kabuto berhasil menyelesaikan ribuan soal MIPA yang rumit. Rasa yang... belum bisa dia pastikan dengan logika. Dan ketika dia melihat senyumnya—

—tidak, tidak. Mungkin hanya kebetulan.

Mahasiswa kedokteran itu menggeleng cepat. Masih dengan senyum di wajahnya, Kabuto berlari kecil menghampiri Sakura yang berada di dapurnya. Bermaksud membantu gadis yang sekarang tengah memakai celemeknya itu untuk memasak dan mungkin sedikit beres-beres.

Waktu itu, untuk yang pertama kalinya...

...Kabuto tidak ambil pusing dengan lembar jawaban kosong yang tertinggal di atas mejanya. Bahkan meskipun kertas itu perlahan tapi pasti tertiup angin hingga menyelip ke balik karpet kecilnya yang tak jauh dari posisi meja bulat tersebut berada.

Bukan tidak mungkin, Yakushi Kabuto si freak yang katanya sangat mencintai belajar itu tidak menyadari kehilangan salah satu lembar jawabannya dan... tidak peduli.

#

.

#

Kabuto hampir saja lupa dengan dua pilihan yang sempat dia ajukan pada Sakura. Karena itu, saat Sakura tidak ada di kasurnya begitu dia bangun siang—hari ini, dia libur kuliah—Kabuto tidak ambil pusing. Dia pikir Sakura sedang belanja keperluan makanan untuk minggu ini, karena beberapa waktu lalu juga sempat begitu.

Laki-laki berambut abu-abu tersebut menguap lebar lalu bangkit dari posisinya yang tidur di atas karpet semenjak Sakura tinggal di apartemennya. Tubuhnya terasa begitu pegal dan kaku meskipun Kabuto sudah berkali-kali mencoba meregangkannya. Dia menghela napas sebelum mengambil segelas air putih tak jauh dari posisinya berada sekarang.

Kabuto meminum air dari dalam gelas itu sampai habis. Ketika dia sedang kembali mengisi gelas tersebut dengan air lagi sampai penuh, suara ketukan pintu membuat Kabuto menoleh. Laki-laki itu menggaruk belakang kepalanya dan membawa gelas berisi air itu kemudian berjalan hingga sampai di depan pintu apartemennya lalu membukanya.

Suara deritan pintu terbuka menggema di dalam kamar apartemen. Kabuto mengangkat sebelah alisnya melihat seseorang yang dia kenali di luar, "Ng? Kau sudah pulang? Tak biasanya kau mengetuk pintu dulu, biasanya kau langsung masuk saja," ucap Kabuto. Laki-laki itu berbalik, namun tak lama kemudian dia berhenti melangkah, merasa aneh dengan Haruno Sakura yang tidak mengikutinya masuk ke dalam apartemen, "Ada apa? Ayo masuk." Lanjut Kabuto lagi.

Sakura masih diam. Ekspresinya terlihat sedih namun tertahan. Dia mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk lalu menatap Kabuto. Mencoba tersenyum arogan seperti biasa, Sakura mendengus, "Ada kabar gembira lho, tuan abu-abu," ucap Sakura. Kabuto mengernyitkan alisnya melihat sudut bibir Sakura yang sempat berkedut. Tak hanya itu, ekspresi mata Sakura tak bisa berbohong.

"Aku akan pulang ke rumahku sendiri."

Kedua bola mata Kabuto sempat membulat meskipun hanya sesaat. Sakura yang mungkin belum melihat reaksi si mahasiswa di depannya, terus berkata walau sesekali terbata, "Y-Yaa, setelah kupikir-pikir, kau ada benarnya juga. Aku tidak cocok dengan apartemen kecil dan kumuh seperti ini ahaha," gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas pinggangnya. Kepalanya terus bergerak seiring dengan gerakan tubuhnya, namun tak sekali pun dia berani menatap langsung pada kedua mata Kabuto seperti biasanya, "makanya tadi pagi-pagi sekali aku pulang. Aku tidak membangunkanmu karena kupikir kau pasti akan menahanku."

Kabuto masih diam. Entah bagaimana ekspresinya sekarang. Laki-laki berambut abu-abu tersebut seolah lebih memilih untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan gadis itu sebelum kepergiannya. Tapi, Kabuto sendiri tidak bisa berbohong. Terlihat dari riakan air di dalam gelas yang digenggamnya. Riakan air itu sedikit terlihat cepat dan tidak tenang, seolah menunjukkan gerakan tangan Kabuto yang menahan perasaannya dan tak kasat mata.

Sakura terus berkoar tak jauh dari inti dia tidak suka dengan apartemen Kabuto karena tidak cocok dengannya yang merupakan anak dari keluarga kaya. Hanya saja, Yakushi Kabuto tidak bodoh—tentu. Laki-laki itu menunduk sedikit kemudian menarik napas panjang. Dia menghembuskan napasnya sebelum tersenyum kecil, "Sudah sudah," Sakura menghentikan ucapannya mendengar Kabuto yang akhirnya berbicara juga, "jadi, apa yang sebenarnya mau kau katakan, hm?" tanya mahasiswa kedokteran itu.

Sakura menunduk kecil dan melipat kedua tangannya di depan dada. Kabuto bisa melihat tangan kanan Sakura mencengkram lengan kirinya sendiri dengan sangat erat, "A-Aku mau mengucapkan selamat tinggal. Kan tidak sopan jika aku tiba-tiba menghilang begitu saja."

Sekali lagi, Kabuto bertanya. Kali ini dengan senyuman lembut menghiasi bibirnya, "Hanya itu?"

Senyuman Kabuto tersebut akhirnya membuat Sakura benar-benar tak berkutik. Gadis itu ingin berbicara lagi untuk menjawab pertanyaan laki-laki di depannya, namun suaranya tak kunjung keluar. Senyum arogan yang sedari tadi Sakura pertahankan pun perlahan tapi pasti mulai pudar. Gadis bermahkota soft pink itu tidak bisa tersenyum lagi, alhasil dia menggigit bibir bawahnya. Menahan mati-matian air mata yang sudah muncul di pelupuk matanya dan siap jatuh mengalir.

"Aku... Aku..."

Mengerti situasi, Kabuto menghilangkan senyumnya. Dengan ekspresi datar, laki-laki itu melangkah mendekati Sakura yang masih berdiri di depan pintu. Setelah menaruh gelasnya pada meja di sampingnya, Kabuto mengelus pucuk kepala Sakura. Mendapat perlakuan lembut seperti itu, tidak membuat segalanya lebih baik. Benteng pertahanan Sakura runtuh dan dia menangis kencang. Sebagai pemuda yang lebih dewasa dari gadis di depannya, Kabuto tetap diam mendengarkan isakan Sakura meskipun tangannya masih tetap mengelus kepala gadis itu.

"Hiks, Kabuto-san... aku... AKU TIDAK MAU PULANG!" Sakura terus mengisak semakin keras. Sungguh menyebalkan, meskipun Sakura sudah berkali-kali menyeka air matanya, tetap saja air mata sialan itu mengalir deras, "Hiks uuuh, tidak tidak... tapi aku..." isakan Sakura perlahan tapi pasti menutupi kata-kata yang ingin diucapkannya.

Sakura terus menangis sementara kakinya tanpa dia sadari mulai melangkah mendekati Kabuto di depannya. Entah secara reflek atau bukan, Sakura menempelkan wajahnya pada kaos abu-abu kehitaman yang dikenakan Kabuto sementara kedua tangannya mencengkram kaos tersebut hingga kusut. Namun laki-laki berkacamata bulat itu membiarkannya saja. Dia ingin Sakura meluapkan semua yang ada di kepalanya saat ini. Lama posisi mereka seperti itu sampai—

"Aku suka... Kabuto-san."

"Ng?" merasa mendengar Sakura menggumamkan sesuatu dan menyebut namanya, membuat Kabuto menatap Sakura dengan tatapan bertanya, "Kau mengatakan sesuatu? Maaf aku tidak dengar," tanya Kabuto pada akhirnya.

Sakura tidak langsung menjawab pertanyaan Kabuto yang masih setia mengelus kepalanya dengan lembut. Gadis itu memilih untuk menggeleng pelan sebagai responnya sementara wajahnya masih menempel pada kaos laki-laki yang dipeluknya. Sesuai perkiraan, begitu Sakura memundurkan wajahnya, kaos Kabuto pun terlihat basah.

Melihat itu, Sakura hanya tersenyum seraya mendengus kecil, "Maaf kaosmu jadi basah," bisiknya pelan. Air mata Sakura sudah berhenti mengalir walau kedua matanya memerah. Jejak-jejak air mata terlihat begitu jelas di pipinya.

Kabuto sempat bingung, namun dia mencoba maklum. Laki-laki berambut abu-abu itu membalas senyuman Sakura, "Tak masalah," balasnya. Setelah itu, Sakura tak menjawab lagi. Keadaan menjadi hening untuk sesaat.

Pemuda bermarga Yakushi itu memperhatikan Sakura dari atas ke bawah. Perasaannya saja atau gadis bermarga Haruno itu memang sekarang terlihat sedikit lebih dewasa dari sejak pertemuan pertama mereka. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu, yang jelas melihat diri Sakura yang sekarang membuat hatinya tenang melepas kepergian gadis berumur enam belas tahun tersebut.

Tapi, ada juga rasa tak rela.

Kabuto tidak mengerti mengapa bisa begitu. Yang jelas, dia tidak ingin gadis di depannya pergi. Benar-benar tak ingin. Kedua tangan di samping tubuhnya mengepal, menahan gejolak keegoisan untuk menahan kepergiannya. Ada banyak alasan mengapa Kabuto tidak bisa menahan Sakura, salah satu alasannya sama seperti Kabuto menyuruh Sakura pulang saat mereka baru pertama kali bertemu. Gadis berambut soft pink tersebut masih di bawah umur untuk tinggal di luar pengawasan orang tua. Lagipula, masih banyak yang perlu dipelajari Haruno Sakura untuk menjadi dewasa.

Dan saat itu datang, maka...

Gerakan Sakura yang menundukkan kepalanya semakin dalam membuat Kabuto kembali tersadar, "Jadi, sekarang benar-benar selamat tinggal ya..." Kabuto tidak bisa melihat ekspresi kedua mata Sakura yang tertutupi poninya, "...terima kasih untuk semuanya, Kabuto-san."

Laki-laki itu tak dapat menjawab, entah kenapa lidahnya terasa kelu. Senyum Sakura saat ini sangat terlihat menyedihkan. Senyum yang rapuh. Sekarang Kabuto justru lebih menyukai senyum arogan Sakura ketimbang senyumnya sekarang, "Hei!" Kabuto melipat kedua tangannya di depan dada begitu Sakura mengangkat wajahnya. Mereka terlihat seperti guru yang akan memarahi muridnya, "Sekarang dengar baik-baik nasihatku sebelum pergi, nona Haruno," tegas laki-laki tersebut.

Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung. Tapi sepertinya Kabuto tidak ambil pusing dengan tatapan Sakura padanya, "Pertama, perbaiki sifat manjamu itu! Kau beruntung aku masih bisa mengatasinya, bagaimana kalau orang lain?" wajah Sakura memerah karena menahan amarah. Sebelum dia sempat membantah, Kabuto langsung melanjutkan.

"Kedua, jangan sombong! Jangan seenaknya! Kau ini masih hidup dengan uang orang tuamu, selama kau belum menghidupi dirimu dengan uang yang kau dapat dari hasil jerih payahmu sendiri, tidak ada yang bisa dibanggakan darimu, bodoh," jelas Kabuto dengan tatapan meremehkan—apalagi senyum miringnya. Kali ini sukses membuat Sakura menggeletukkan giginya kesal.

"Kau—"

"Ketiga, kau memang jago memasak, tapi ada kalanya kau kelebihan memberi garam! Asin sekali tahu! Lain kali perhatikan kadarnya lebih teliti!" gusar Kabuto. Tangannya menaikkan sedikit frame kacamatanya, membuatnya seratus kali jauh lebih menyebalkan di mata Sakura.

Tawa licik laki-laki beriris onyx tersebut menandakan bahwa acara ceramahnya belum selesai, "Keempat, kau tidak akan bisa menjadi anak kecil selamanya. Perbaiki sifatmu yang suka merengek dan memaksakan kehendakmu," mendengar itu, Sakura menggembungkan kedua pipinya kesal, "dan hentikan ekspresi sok lucu itu," ketus mahasiswa kedokteran itu seraya menunjuk wajah Sakura.

Dengan cepat gadis tersebut mengempiskan pipinya dan menatap Kabuto dengan jengkel meskipun kedua pipinya kini memerah karena marah, kesal, bercampur malu. Sakura mengangkat kepalan tinjunya, "HEH—"

"Lalu kelima—ini yang peling penting!" ucapan Kabuto kembali memotong kata-kata yang akan Sakura keluarkan. Gadis itu akhirnya menggigit bibir bawahnya. Namun senyuman Kabuto setelahnya membuat kepalan tinju Sakura melemas.

"Rajinlah belajar lalu jadilah manusia yang berguna dan banggakan orang tuamu," Kabuto tertawa kecil sembari menggaruk belakang kepalanya, "meskipun kau adalah anak dari keluarga kaya, aku pikir itu tidak cukup. Maksudku, tidak ada yang lebih memuaskan dari menikmati hasil jerih payahmu sendiri ketimbang hasil jerih payah orang lain," Sakura menunduk sedikit, "yah, aku tahu belajar itu membosankan. Tapi kau juga tidak perlu mengikuti cara belajarku yang ekstrim—walau aku memang menyukainya. Belajar tiga puluh menit juga cukup asal kau mengerti materinya."

Sakura mendengus menahan tawa. Kini dia kembali berkacak pinggang, "Huh, kau yang tidak normal, kepala abu-abu," gadis itu tersenyum lembut, "hati-hati, jangan terlalu sering memakai otakmu. Bisa-bisa aku akan memanggilmu kepala bening—karena rambutmu rontok semua sehingga kau jadi botak," dan pada akhirnya Sakura tertawa puas melihat wajah Kabuto yang kesal.

Tawa Sakura tak lama. Dia langsung berhenti ketika ekspresinya seakan mengingat sesuatu, "Ah iya, sopirku sudah menunggu di bawah," gumam Sakura dan tadinya gadis itu berniat berlari setelah mengatakan—"sampai jumpa lagi, Kabuto-san!"—sampai panggilan Kabuto menahannya.

"Ah, tunggu! Tadi... apa yang kau katakan?" tanya Kabuto cepat. Dia berlari sampai ke mulut pintu sementara Sakura sudah beberapa jarak di depannya, "Tadi... saat kau menangis di dadaku. Kau mengatakan sesuatu, kan? Maaf, aku tidak mendengarnya," ucap laki-laki itu lagi dengan ekspresi polos seakan menunjukkan dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Melihat itu, Sakura terdiam. Wajahnya sempat memerah namun tak lama. Gadis beriris hijau emerald tersebut berpikir sebentar sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengedipkan sebelah matanya lalu menjulurkan lidahnya jenaka.

"Ra-ha-si-a~"

Sebelum sempat menahannya lagi, Sakura sudah terlebih dulu berlari meninggalkannya. Tangan Kabuto menjulur ke depan tapi punggung Sakura semakin menjauh hingga perlahan tapi pasti menghilang. Melihat itu, Kabuto tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya bisa tersenyum sedih tanpa sempat menemukan jawaban atas rasa aneh yang akhir-akhir ini muncul di hatinya. Kabuto menarik kembali tangannya yang terjulur.

Semoga saja mereka bertemu lagi suatu hari nanti.

Semoga.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lima tahun kemudian...

Rumah sakit pusat Konoha atau Konoha's Central Hospital—sesuai namanya, rumah sakit ini merupakan pusat dari seluruh rumah sakit yang ada di Konoha. Fasilitasnya sangat lengkap dan terjamin. Tentu saja untuk menjadi dokter di tempat seperti ini, tes masuknya tidak main-main. Anggap saja, jika ada sepuluh angka, maka kau membutuhkan angka MINIMAL sembilan untuk masuk ke dalam rumah sakit yang tergolong mewah tersebut.

Tapi hal itu tidak berlaku bagi Yakushi Kabuto yang justru diundang langsung oleh pihak utama rumah sakit pusat Konoha.

Sekarang hidup serba berkecukupan sudah bukan mimpi lagi bagi Kabuto yang berasal dari keluarga sederhana dengan biaya hidup seadanya. Karena yah... Jangan tanya berapa gajinya per bulan. Tak hanya itu, Kabuto yang tadinya merupakan dokter sumum baru-baru ini naik jabatan menjadi wakil kepala dokter di sana.

Kabuto selalu tersenyum pada dirinya sendiri setiap dia mengingat masa lalunya. Laki-laki yang selalu dihina dan dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya itu kini benar-benar menjadi 'orang' yang sesungguhnya. Berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang ke tepian—mungkin itu adalah peribahasa yang sesuai dengan pengalaman yang dirasakan seorang Yakushi Kabuto saat ini.

Hanya saja, masih ada yang kurang.

Seperti manusia pada umumnya yang tidak pernah puas, Kabuto tahu dia masih memiliki kekurangan yang mungkin tidak akan pernah terisi seumur hidupnya. Dan hal ini juga bisa dikatakan sebagai dampak negatif dari pilihan hidupnya di masa lalu. Anggap saja menjadi dokter yang sukses sekarang sebagai dampak positifnya.

Teman.

Pilihan hidup Kabuto di masa lalu adalah : menjadi penyendiri—tidak perlu mempedulikan orang lain, belajar dan terus belajar demi meraih masa depan yang cerah, hidup demi diri sendiri. Ya, memang benar tujuan Kabuto tercapai. Tapi semua yang ada di dunia ini pasti memiliki dampak positif dan negatifnya. Tidak ada yang tidak.

Laki-laki berambut abu-abu itu menghela napas panjang. Tangannya bergerak melepaskan kacamata bulatnya lalu dia menekan-nekan otot matanya agar kepalanya tidak terlalu menekan. Kabuto memejamkan matanya sesaat sebelum membukanya kemudian kembali mengenakan kacamatanya. Dia melanjutkan lagi pekerjaannya menulis laporan untuk diserahkan pada kepala dokter saat ini.

Meskipun tangannya bergerak untuk menulis, pikiran Kabuto melayang entah kemana. Kabuto benci mengakuinya, tapi sebenarnya dia merasa iri dengan dokter-dokter lain yang tak jauh beda darinya namun masih memiliki teman-teman di samping mereka. Bisa dikatakan Yakushi Kabuto dengan para dokter-dokter itu saling iri satu sama lain. Karena para dokter itu sendiri iri dengan kesuksesan Kabuto sekarang apalagi jika mereka mengetahui masa lalu Kabuto yang tadinya adalah anak yang tidak mampu.

Yah, itulah manusia.

Ah iya... ngomong-ngomong, bagaimana kabarnya?

Suara yang menggema di kepala Kabuto menghentikan gerakan menulis laki-laki itu. Kedua bola mata laki-laki beriris onyx tersebut membulat dan dia tersentak meskipun hanya sesaat. Lima tahun sudah berlalu, tidak ada kabar darinya maupun dari Kabuto sendiri. Secara tidak langsung mungkin mereka berdua memilih untuk tidak pernah mengenal satu sama lain sejak kejadian yang sebenarnya tak lebih dari kebetulan semata itu.

Berbeda dari yang sebelumnya tampak begitu lelah, kini justru Kabuto tersenyum. Terkadang dia tertawa kecil sendiri mengingat ekspresi-ekspresi konyol yang dulu sering ditunjukkannya. Kabuto juga masih ingat dengan sangat baik bagaimana kesepian hebat yang dirasakannya ketika gadis itu pergi dari apartemen kecilnya setelah tiga hari berjalan.

Dan sekarang kesepian kembali menghampirinya.

Kabuto menghilangkan senyumnya. Tanpa sadar, dia menjatuhkan bolpoint yang sedari tadi digunakannya untuk menulis ke atas meja. Laki-laki itu menatap kosong kertas di hadapannya. Menarik napas lalu membuangnya berkali-kali. Rasa sakit menyiksa dadanya hingga Kabuto mencengkram jas dokter yang dikenakannya.

Apa benar semua ini yang diinginkannya?

Ataukah...

Dokter yang sudah berumur dua puluh lima tahun itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. Kabuto mendongakkan kepalanya lalu menutup kedua matanya dengan lengannya. Mulutnya membuka dan menutup seolah menggumamkan sesuatu namun suaranya tak kunjung keluar. Jika saja keajaiban itu benar-benar ada. Yah, walau tidak ada pun Kabuto tidak peduli. Karena dia tetap akan berharap—

DRAP DRAP DRAP

BRAK!

—gadis bernama Haruno Sakura itu berdiri tepat di depannya.

Kaget mendengar pintu ruang kerjanya dibuka secara kasar, Kabuto langsung menegakkan posisi duduknya. Tak berhenti sampai situ, Kabuto kembali dibuat kaget dengan keberadaan seseorang yang dikenalnya kini berdiri di depan mejanya—mengabaikan suster-suster lain di belakangnya yang sepertinya tadi mencoba menahan gadis bermahkota soft pink tersebut.

Hei—

"Sa-Sakura?"

—jangan-jangan keajaiban itu benar-benar ada.

"Kabuto-san!" mendengar suara yang sudah sangat lama tidak didengarnya membuat hati Kabuto terenyuh. Laki-laki itu tidak bisa menutupi senyum bahagianya. Sebelum dia sempat berkata lagi, seorang suster menginterupsi.

"Anu, ma-maaf apa Kabuto-sensei mengenalnya? Gadis ini tiba-tiba saja bertanya dimana ruangan Kabuto-sensei lalu berlari ke sini," ucap sang suster. Mendengar itu, spontan Kabuto tertawa. Sangat ringan dan terkesan melepas segalanya. Mengabaikan para suster yang pipinya mulai memerah, Kabuto mengangguk.

"Iya aku mengenalnya, maaf juga sudah merepotkan kalian. Kalian bisa tinggalkan kami berdua saja," ucapan Kabuto itu membuat para suster menunduk sekilas lalu keluar dari ruangan kerjanya.

Begitu pintu tertutup, Kabuto mengamati Sakura secara keseluruhan dan mungkin pula sebaliknya. Meskipun terkesan santai—hanya memakai kaos putih dengan cardigan hitam lalu jeans hitam panjang—Sakura tetap terlihat menawan, apalagi dengan leher jenjangnya yang terlihat karena Sakura mengikat tinggi rambutnya dalam satu ikatan. Dari segi penampilan, Haruno Sakura terlihat jauh lebih dewasa dari saat dia kabur dari rumahnya dulu dan menginap di apartemen kecilnya.

Tak ada yang memulai, akhirnya Sakura angkat bicara seraya melipat kedua tangannya di depan dada, "Huh, para suster di sini sok sekali, aku kan sudah bilang kalau aku mengenalmu Kabuto-san, tapi mereka tetap ngeyel," dengan senyum arogannya yang masih belum hilang, Sakura mengendikkan bahunya, "mungkin rumah sakit ini pintar memilih dokter tapi tidak pintar memilih suster," lanjutnya sarkastik.

Kabuto tertawa kecil mendengarnya, "Kau masih belum berubah rupanya. Padahal sekarang kau sudah berumur dua puluh satu tahun," laki-laki itu berdiri dari kursinya kemudian memutari meja, berjalan mendekati Sakura hingga keduanya berdiri berhadapan, "jadi, ada apa tiba-tiba datang kemari?"

"Coba tebak!" dengan ceria Sakura sedikit membungkuk agar bisa melihat wajah Kabuto dari bawah. Tertawa sesaat, Sakura kembali melanjutkan, "Aku berhasil masuk Universitas Konoha~" ucap Sakura lalu menunjukkan deretan gigi putihnya.

Kabuto membulatkan kedua bola matanya, "Benarkah? Wow," masih dengan ekspresi terkejut, Kabuto kembali melanjutkan, "aku tidak pernah mengira kau pintar juga. Kupikir dahi lebarmu itu hanya sebagai pajangan," lanjut dokter muda itu dengan nada menyindir.

"Sembarangan!" Sakura memukul bahu Kabuto main-main, "Sayangnya aku masuk jurusan hukum bukan kedokteran, hahaha," lanjut gadis beriris hijau emerald itu seraya menjulurkan lidahnya jenaka. Kabuto hanya tersenyum kecil lalu menepuk kedua tangannya.

"Bagus bagus—"

Laki-laki berkacamata bulat tersebut tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika Sakura secara tiba-tiba mencium pipinya. Gadis itu memundurkan wajahnya dengan senyum lebar di bibirnya dan kedua matanya menyipit sementara Kabuto mundur selangkah dengan wajah memerah sembari memegang pipinya yang baru saja dicium Sakura. Mulutnya membuka dan menutup, bingung apa yang harus dikatakannya. Meskipun pipi Sakura mengeluarkan semburat merah tipis, wajah Kabuto justru jauh lebih merah.

"Sebagai ucapan terima kasih," Sakura mengaitkan kedua tangannya di belakang punggungnya. Gadis itu menunduk sesaat sebelum mendongak kembali dengan senyum di wajahnya, "oh ya, soal kata-kata yang waktu itu kuucapkan tapi kau tidak mendengarnya. Sekarang akan kuucapkan lagi," Sakura menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.

"Aku menyukaimu, Kabuto-san."

Dua detik berlalu, Sakura tertawa kikuk sementara Kabuto masih mematung, "Ahaha anehnya, ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku pada laki-laki—habis biasanya laki-laki lain menyatakan perasaannya padaku terlebih dulu," iris hijau emerald itu menatap onyx di depannya dengan kaku, "sampai aku nekat menyatakannya padamu, itu artinya aku sangat saaaaaangat menyukaimu, Kabuto-san."

Kabuto masih diam seribu bahasa. Hei! Orang mana yang tidak akan bingung harus berbuat apa jika secara tiba-tiba ada gadis masuk ruangan kerjanya dengan kasar kemudian menyatakan perasaannya? Baiklah, setidaknya Kabuto memang sudah mengenal gadis ini. Apalagi, lihat ekspresi Sakura yang sepertinya santai-santai saja sementara dia sendiri wajah Kabuto memerah—bukan, sangat merah! Yang benar saja.

"Aku..."

"Eit, aku tidak menerima penolakan wahai tuan kepala abu-abu," hah? Kata-kata Kabuto terpotong. Laki-laki itu menatap Sakura semakin bingung. Apalagi saat Sakura berkacak pinggang dan mendengus menahan tawa, "ahahaha aku tahu Kabuto-san tidak akan menolakku. Yah, walaupun jika memang akan menolakku, aku tidak peduli. Aku akan berusaha sampai kau menyukaiku sebagai perempuan dan tidak menganggapku sebagai anak kecil lagi, Kabuto-san!" ucap Sakura menggebu-gebu.

"Hah? Eh—"

"Jadi, mulai sekarang Yakushi Kabuto adalah kekasih Haruno Sakura. Ingat itu!"

"Tapi, tunggu—"

"Jangan lupa, Kabuto-san! Perintahku adalah ABSOLUT!"

Teriakan Sakura sukses membuat Kabuto sweatdrop. Lima tahun sudah berlalu, tapi entah kenapa dia tetap tidak bisa melawan keinginan gadis kaya itu. Selalu dan selalu Kabuto menurut padanya, seolah melihat Sakura yang tersenyum senang karena ada yang menuruti perintahnya, menjadi kesenangan tersendiri. Dan untuk hal ini, bukannya Kabuto berpikir akan menolak Sakura—malah kemungkinannya besar dia akan menerima permintaan gadis itu untuk menjadi kekasihnya, tapi tetap saja ini terlalu tiba-tiba.

Kabuto benar-benar tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Sampai Sakura akhirnya memutuskan untuk keluar ruangannya, "Baiklah, aku ada janji dulu dengan temanku. Tenang, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Hubungi aku jika urusanmu sudah selesai saja. Jaa!" gadis bermahkota soft pink tersebut melambaikan tangannya yang dibalas Kabuto dengan anggukan. Begitu Sakura pergi, Kabuto menghela napas.

Tapi ternyata Sakura balik lagi. Dengan cepat dia memberi Kabuto selembar kertas sobekan bertuliskan nomor Hp seseorang, "Itu nomorku hahaha!" Sakura berlari, "Sukses ya kakak dokter~" serunya sebelum berlari cepat dan menghilang.

Cukup lama Kabuto memastikan Sakura benar-benar tidak akan kembali ke ruangannya, akhirnya Kabuto menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba maklum. Laki-laki itu memasukkan sobekan kertas yang Sakura berikan ke dalam kantong jas putihnya. Sepertinya jika nanti mereka bertemu, Kabuto akan kembali menceramahinya seperti dulu. Laki-laki itu memijat pelipisnya pelan.

"Dasar merepotkan."

Walau suaranya terdengar kesal, Kabuto tidak bisa menahan senyuman tipis yang terbentuk di bibirnya. Entah kemana perginya rasa menyesakkan di dadanya beberapa waktu silam.

At least, dia tidak sendiri lagi, 'kan?

.

.

.

Being a genious or being the most clever person in this world means nothing—

.

.

If you are alone

.

.

.

.

The End

.

.

.

Special Thanks for :

Deauliaas, SawaiiStillDoll, Chisa Hanakawa, skysephantom, Ladychibby, Deidei Rinnepero13, mysticahime, Uchiha Kagamie, sasa-hime, Sasa

Selanjutnya saya ucapkan terima kasih lagi bagi yang mau me-review last chapter ini :3

Yo semuanya~~ aku ngebuat fic ini sebelum ngisi form nominasi IFA 2012 biar ngisinya tenang 8D #apah

Baiklah abaikan, yeeey akhirnya selesai juga fic KabuSaku-ku yang kedua ini mwehehe xD semoga pada suka yaaa dan semoga juga feel-nya dapet~ saya belum kuliah ataupun menjadi dokter sih, jadi saya kurang tahu langkah-langkahnya atau pembagian kerjanya tapi kurang lebih seperti yang di atas #ngek wehehe jadi harap maklum. Namun jika ada kesalahan lagi, silahkan dikoreksi (_ _)

Tidak tahu mau ngomong apa lagi haha. Sampai jumpa di fic saya yang lain yaaa. Jaa ne! :D