The one and only
Author : Bubbletea88
Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun and others :)
WARNING! Lots of typo, OOC, YAOI,DIRTY TALK ; BOY x BOY, M(ature)—
Oiya! Sebenernya pas aku ketik di itu ada pembatasnya, jadi ada pemisah—
Ceritanya Sehun yang habis di bus itu, ada pembatasnya dulu baru setelah itu lanjut ceritanya Sehun yang di flat :D
Gatau kenapa pembatasnya itu hilang pas di . Mianhamnida *bow*
It's a long fict! Enjoy!
.
.
Ya, aku jatuh dalam pesonamu—
Kau pun ternyata mempunyai perasaan yang sama kan ?
Tapi, Apa waktu begitu kejam—? Mengapa waktu begitu kejam?
Apa waktu tidak bisa diputar ?
Apa aku masih boleh berharap agar kau masih bisa bersamaku selamanya? Untuk selamanya, bersamaku—
Kumohon...
.
Sehun's POV
Sehun's Flat, 17.20
"Dasar Kkamjong mesum," gumamku sambil memakan biskuit yang sengaja ku sediakan di ruang duduk. Aku hanya menggeleng pelan saat membaca pesannya yang kurang tahu diri. Bisa-bisanya dia bertanya, kenapa aku meninggalkannya— Aish...
Sesaat, suara bel yang kuyakini dari flatku berbunyi. Tumben sekali ada yang datang— Siapa itu ? Ku jejalkan ponselku kedalam saku, dan berjalan untuk membuka pintu flat.
"A-annyeong" kata seorang pemuda— eh ? Luhan ?
Apa ini hari keberuntunganku ? Sekelompok dengan Luhan, bisa berbicara panjang-lebar dengannya saat di sekolah pagi tadi, kejadian di bus tadi dan sekarang ? Ia datang ke flatku ? Eh, tunggu.
"Dari siapa kau tahu nomor flatku ?" tanyaku heran.
"Kita tinggal dalam satu bangunan tapi berbeda kamar" katanya. Butuh beberapa detik untuk mencerna kata-kata tersebut bagiku. Mataku membulat.
"Jinjja -benarkah?" ucapku melongo. Luhan mengangguk. "Lalu, ada apa ke sini ?"
"Boleh aku menumpang di flatmu sebentar ? Nanti akan kuceritakan" kata Luhan sambil menjinjing tas ranselnya. Seragam universitasnya saja masih melekat di tubuhnya. Itu artinya ia memang belum pulang dari tadi.
"Begini, teman satu flatku –Minseok anak dari universitas lain, kebetulan anak dari teman ibuku yang membawa kunci flat— sedangkan kunciku tertinggal, Jadi—"
"Kau harus menunggu sampai Minseok pulang ?" lanjutku cepat. Luhan mengangguk. "Kau mau kopi, atau yang lainnya ? Atau mau makan ?" tanyaku sambil beranjak ke dapur.
"Wah, dapurmu lengkap juga ya" kata Luhan terlihat senang saat kuajak ke dapur.
"Tidak juga, kadang ibuku datang dan membelikan semua keperluan ini untukku, padahal ibuku tahu benar aku tidak pandai memasak" ceritaku sambil memakai celemek berrwarna biru. Sedangkan Luhan memakai celemek berwarna pink.
Terlihat sangat lucu di mataku. Mata bulatnya mengerjap imut mengamati satu-demi-satu bahan-bahan dapur yang ada. "Kita buat bulgogi saja bagaimana ? Kau suka ?" tanyaku sambil mengambil garam.
Kulihat dia memandangku imut. Ah— dia belum pernah rupanya. "Wah, kalau begitu, kau harus mencobanya nanti— kujamin enak!" gurauku sambil mulai mengambil daging dan memotongnya. Luhan juga membantuku untuk menyiapkan kompor juga alat penggorengan.
.
"Ini enak" kata Luhan sambil memakan bulgoginya. Aku yang makan di depannya tersenyum. "Wah— kapan kapan akan kubawakan masakan asli China ke sini, oke ?"
"Hm, baiklah—" kataku sambil mengunyah nasi yang ada dimulutku. Selesai makan, kami membereskan peralatan makan dan berjalan ke ruang duduk. "Hei, omong-omong, kenapa kau pindah ke Korea ? Bukankah lebih enak di Cina ?"
Luhan duduk dan sedikit terkejut. "Eh ? Oh, itu karena nenek dari ibuku sedang sakit, ia ada di Korea— jadi mereka memutuskan untuk merawat nenek untuk beberapa bulan ke depan.." kata Luhan sambil menatapku lekat.
Beberapa bulan saja ? Apa artinya, Luhan tidak menetap di Korea ? Ah— singkirkan pikiran burukmu itu Oh Sehun.
"Apa kau nyaman memakai seragam terus eo ?" tanyaku saat ia asyik mengunyah biskuit yang ada dalam toples. "akan ku pinjamkan baju, kajja—"
Luhan memang polos ya, ia mengikutiku sampai ke kamar. "ini, kurasa ini ukuranmu, iyakan ? Sekalian mandi sana!" suruhku sambil menyerahkan t-shirt putih. Luhan tidak menjawab, tapi dia menuruti perintahku. Aih—
Apa aku bisa tahan jika ia selalu menatapku seperti itu ?
.
Aku masih menarik nafas dalam saat melihat Luhan keluar dari kamar mandi. Lihatlah, rambutnya juga wajahnya yang basah, seakan menantangku untuk segera menyerangnya. "Kau mau keluar, kebetulan aku ingin bertemu dengan Kai dan Chanyeol. Kau ikut ?" tanyaku sambil mengambil kunci mobilku.
"Apa boleh aku ikut ?" tanya Luhan polos sambil menggosok rambutnya yang masih basah. Aku hanya mengangguk. Jantungku berdebar kencang rasanya saat ia menatapku lekat barusan. Aku masih memakai sepatu saat Luhan dengan polosnya duduk dihadapanku.
"Kau mau apa eh ?" tanyaku. Jujur, jantungku berdebar kencang sekarang. Ia hanya menatapku polos dan memiringkan kepalanya seperti anak anjing. Sudahlah, aku sudah tidak bisa menahannya.
CHU~
Aku menciumnya kilat, ia terkejut. "Makanya, jangan menggodaku— itu bisa lebih berbahaya kau tau" kataku sambil menggandeng tangannya. Kurasa ia membeku sesaat setelah aku menciumnya. Haha, itu lucu.
"Hu-Hun," gumamnya pipinya merona. Di dalam mobilpun tidak ada percakapan apapun selain deruman dan klakson dari mobil-mobil yang ada di jalan raya.
"Apa kau terkejut ?" tanyaku, suasana menjadi canggung rasanya. Ia mengangguk. "gwaenchana, maafkan aku— aku menciummu karena.."
Luhan menatapku seakan menunggu kelanjutan perkataanku. "Aku menyukaimu" akhirnya kata-kata itu bisa keluar dari mulutku meski aku harus menahan rona merah di pipiku.
.
Luhan's POV
"Aku menyukaimu"
Kata-kata yang keluar dari pemuda tampan dihadapanku seakan membuat nafasku tercekat. Sama sekali tidak bernafas, berkedip pun mungkin tidak. Aku merasakan pipiku memanas, kulihat semburat merah di pipi mulusnya. A-apa ini nyata ? Ini bukan mimpi kan ?
Sesaat, sunyi sama sekali tidak ada percakapan antara aku dan Sehun. Canggung tepatnya— dia menciumku... juga menyatakan perasaannya. A-apa aku boleh membalas perasaannya, walau aku tau perasaan ini malah akan menyakiti kami berdua ?
"Turunlah, aku akan memarkirkan mobilku dulu" kata Sehun mengagetkanku. Aku mengangguk, sambil menatap wajahnya yang masih saja memerah. Aku sedikit terkikik karenanya. "Ya~ apa ada yang lucu eo ?"
"Ani, hanya saja wajahmu masih memerah setelah, ehm—" kataku. "ciuman pertama kita beberapa menit lalu" lanjutku sambil bergegas turun dan berlari menjauh dari mobil. Aku sempat bmelihat senyum yang terukir indah di wajah tampan itu.
"Wah, Luhan ? Tumben sekali kau ikut eh ?" tanya Chanyeol saat melihatku berjalan ke arahnya. Di sana ada Kai dan Chanyeol sedang duduk santai. Chanyeol sedang asyik menyeruput kopinya sedangkan Kai masih berkutat dengan ponselnya.
"Oh, ada Luhan ?" kata Kai sambil tersenyum. Ku akui senyum anak berkulit tan itu manis, tapi— kurasa tidak ada yang semanis senyum anak itu, Sehun maksudku—. "Oh wasseo!" Kai terlihat antusias saat melihat Sehun di belakangku.
Aku hanya menundukkan wajahku, sama sekali tidak berani untuk menatap wajah apalagi mata sipitnya itu. Bisa-bisa aku yang meleleh di sini— Tapi, cafe ini adalah cafe tempatku bekerja, pantas aku sangat mengenalinya.
"Tunggu ya, Hun" ucapku tanpa sadar. Sehun menoleh dan menatapku imut, eh tidak terkesan tajam tapi lembut, sama sekali tidak ada kemarahan di sana.
"Hun ?" hardik Chanyeol
"Wah, kalian sudah punya panggilan sayang rupanya" goda Kai. Sehun hanya tersenyum padaku, gerakan bibirnya seakan berkata 'tak-apa'.
Aku yang malu memutuskan untuk masuk ke dalam cafe dan bertemu dengan bosku. "Hei, Luhan-a, hari ini bukan jadwalmu bekerja kan ?" tanya salah seorang temanku saat mengantarkan pesanan pelanggan.
Aku mengangguk. "Ne, aku datang ke sini untuk mentraktir salah satu temanku," kataku sambil tersenyum dan menepuk punggung teman ku itu. "Hey, noona, aku pesan milk bubble tea 2, iced" kataku.
Orang yang kupanggil noona itu hanya menatapku tajam seolah akan membunuhku saat itu juga. Setelah selesai, aku kembali duduk di luar bersama Sehun dan lainnya. "Ige, kutraktir, hanya hari ini" kataku sambil menyerahkan minuman yang kupesan tadi. "Oh ya, ini adalah kopi yang favorit di sini"
"benarkah ?" tanya Kai, "Aku bahkan tidak tau"
"Ne, aku tau karena ini tempatku bekerja part-time" lanjutku.
"Ah, Gomawo—" kata Sehun sambil mulai meminumnya. "Ini enak, sungguh—"
"Tapi—" kata Chanyeol menggantung, membuat semua tatapan mata mengarah padanya. Tapi tatapan mata bulat Chanyeol mengarah padaku. "Itu bajumu kan, Oh Sehun ?"
Mati aku. Chanyeol mengenali baju yang kupakai. Sehun hanya mengangguk santai. Sementara Kai dan Chanyeol sudah tersenyum licik. "Apa yang kaulakukan padanya Hun?" goda Kai sengaja.
"Pikiran kalian saja yang jorok" hardik Sehun. "Aku tidak melakukan apapun, tanyakan saja padanya, kami hanya berciu—"
"Aniya, itu benar— kami tidak melakukan apapun kok," potongku cepat, sambil menatap Sehun tajam. Hampir saja ia bercerita pada Kai dan Chanyeol bahwa aku dan Sehun baru saja berciuman. Oh God—
.
Sehun's POV
Kulihat wajah gelisahnya saat berada di dalam mobil. Malam ini bulan berbentuk bulat sempurna, bintang-bintang pun ikut menerangi malam yang gelap ini. Tapi wajah gelisahnya membuatku ikut resah.
"Lu ? Kau tak apa ?" tanyaku. Dia hanya menatapku lekat, tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Aku dapat menemukan pancaran gelisah di matanya. "Ada apa?"
"Mi-Minseok memberitahuku kalau ia pulang ke Ilsan malam ini— tidak kembali ke flat" jawabnya. Aigoo— kukira ada apa. Aku mendesah lega.
"Kau itu penakut sekali, tidur di flatku saja malam ini" kataku santai.
"Kamar di flatmu hanya ada satu kan ?"
Aku mengangguk. Well, kita lihat saja nanti. Apa aku sanggup menahannya jika Luhan tidur bersama denganku, sekamar— bahkan seranjang
.
"Ya, Aku ingin tau perasaanmu padaku" kataku sambil memainkan rambutnya. Ia tidur denganku mau tak mau. Kurasa aku tidak akan bisa menahan hasratku untuk malam ini. Luhan yang ada di hadapanku, hanya tersenyum polos, ia menunduk.
"Jika aku menjawab iya, apa yang akan kau lakukan ?" tanyanya menantang. Aku pura-pura berpikir,
"Menciummu lagi mungkin" kataku.
"Jika aku menjawab tidak ?" tanyanya yang berhasil membuatku mengerucutkan bibirku. Dia tertawa lepas. "Ani, aku— aku punya perasaan, ya— persis seperti yang kau rasakan padaku" katanya.
Entah otakku yang lambat dalam berpikir atau syaraf otakku yang sedikit terputus, yang jelas aku harus mencernanya dalam beberapa detik sesudah Luhan mengucapkannya. "Jinjja ?" tanyaku, Lagi-lagi Luhan mengangguk.
Aku yang kelewat senang sudah terlebih dulu menarik tengkuknya agar wajahnya mendekat padaku. Awalnya hanya mencium, tapi lama kelamaan, bibir kami saling melumat satu dengan yang lain. Ya— ini akan jadi malam yang panjang, bahkan penisku sudah menegang duluan, Ah—
WARNING IT'S NC SCENE, Belum terlambat kalau ingin kembali ke atas oke ? XD
.
.
Author's POV
Kedua pemuda yang berbaring dalam satu ranjang itu masih asyik melumat satu dengan yang lain. Tanpa mereka sadari, posisi Sehun sudah berada di atas Luhan. Sehun yang memang lebih muda dari Luhan itu menggigit bibir bawah Luhan, meminta akses untuk masuk ke dalam rongga mulutnya.
Sesekali desahan juga terdengar dari bibir Luhan juga Sehun. "Huunhh... Ah—" desah Luhan saat Sehun masih asyik mengabsen tiap inci rongga mulut Luhan. "Kau manis, Han" kata Sehun sambil melepas ciumannya, ia sadar pasokan oksigen dalam paru-parunya juga Luhan menipis.
Keduanya meraup oksigen dengan rakus, tak begitu lama Sehun kembali melumat bibir yang sudah menjadi candunya tersebut. Tangan Luhan juga sudah melingkar sempurna di leher Sehun, seakan mendorong tengkuknya untuk terus menciumnya.
Sehun melepas ciumannya, sesaat mereka saling pandang. Terlihat semburat merah di kedua pipi Luhan. "Apa boleh ?" tanya Sehun seakan meminta ijin. Luhan mengangguk pelan. "Saranghae, nae Hannie"
"Uhm, Nado saranghae, Hun" balas Luhan sesaat sebelum Sehun menyerang lehernya dan membuat tanda kemerahan di sana. Membuat Luhan mendesah tertahan.
"Ugh.. Hunh... Ahh..."
"Keluarkan saja desahanmu, jangan kau tahan" kata Sehun sambil terus menjilat juga mengigit kecil kulit leher Luhan. Alhasil, leher putih tersebut penuh dengan bekas kemerahan yang dihasilkan Sehun. Tangan nakal Sehun mulai menyusup masuk ke dalam kaos Luhan.
"Kau sexy, Luhannie" kata Sehun saat sudah berhasil membuka baju Luhan. Sehun kembali menciumi setiap inci tubuh Luhan, mulai dari bahu yang tidak lepas dari tanda kemerahan. Juga kedua tonjolan pink-kecoklatan yang sudah menegang.
"Aahh... Hunhhhh.. arh" desahan Luhan semakin menjadi saat Sehun memanjakan kedua nipplenya. Sehun mengulum nipple kirinya sedangkan nipple kanan, Sehun pilin menggunakan jarinya. Luhan bergerak tidak nyaman di bawah Sehun, tubuh Luhan bahkan sudah penuh dengan bercak kemerahan. Sehun turun ke bawah sambil menjilat tiap inci tubuh Luhan.
"Arhh... ah, hunhh" Sehun mengitari pusar Luhan terus menerus, tangan kanannya ia gunakan untuk menggoda penis Luhan yang sudah menegang dibalik celananya. "Janhh Janganhh di situhhh Hunnhhh" desah Luhan
Seakan tuli, Sehun sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Luhan, ia terus menekan dan meremas penis yang masih terkurung itu. "Ini kah penis mu Luhannie ? Dia imut sepertimu" kata Sehun yang membuat Luhan merona.
"Bukaahh Hunhh.. jebalhhh" Luhan terus mendesah dan bergerak tidak nyaman.
"Belum saatnya luhanie" kata Sehun sambil terus menggoda nipple juga penis Luhan. Sakit memang, penisnya yang berkedut dan menegang masih terkurung didalam celana dalamnya. Sehun hanya membuka celana luarnya saja, tidak dengan celana dalamnya.
Sehun bahkan bisa melihat penis itu berkedut cepat di dalam celana Luhan. "Aigoo, kau sudah tidak tahan han ? Bahkan penismu berkedut dengan cepat—"
"Aah, hah.." Luhan dengan cepat mendorong Sehun dan membuka celana dalamnya sendiri. Benar saja, penis imut itu mengacung tegak seakan menantang Sehun untuk segera menggagahinya.
Penis Sehun bahkan sudah menegang sempurna saat melihat penis Luhan yang mengacung tegak. "Siapa suruh kau mengocoknya sendiri, Luhannie" kata Sehun sambil mengambil alih penis Luhan.
"Stophh, Hunhh!" pekik Luhan. Kali ini Sehun menurut, "Mwo? Apa kau tidak suka eo ?" tanya Sehun.
Luhan menggeleng, "Kau curang, kau masih memakai pakaian lengkap sedangkan aku sudah telanjang bulat"
Sehun terkekeh. "Kau itu, baiklah tunggu sebentar" kata Sehun. Sehun mulai melucuti satu persatu pakaiannya. Sehun bisa melihat Luhan mengalihkan pandangannya saat Sehun akan membuka celananya. Tapi Sehun hanya menyisakan celana dalamnya kemudian kembali menindih Luhan.
"Sudahkan ?" kata Sehun, tanpa menunggu jawaban Luhan, Sehun mengurut penis Luhan. Membuat penis itu kembali berkedut cepat di genggaman Sehun. Luhan mengerang dan mendesah nikmat.
"Akh.. fasterhh Hunhh.. jebalhh fasterhh"
Kaki Luhan yang terus bergerak tanpa sengaja menyenggol kejantanan Sehun yang jelas jelas sudah menegang hebat. Tangan Sehun berhenti mengocok, membuat ereksi Luhan tertunda lagi. "Kau menggodaku eo ?" tanya Sehun yang membuat Luhan merona.
Sehun membuka celana dalamnya. Damn! It's so damn big! "Se-Sehun-a, a-apa kau yakin akan menyetubuhiku dengan pe-penismu itu eoh ?" tanya Luhan ragu. Sehun mengangguk yakin.
Sehun membalik posisinya, Luhan berada di atas Sehun sekarang. Seakan mengerti maksud Sehun, Luhan segera memutar tubuhnya, ia berhadapan dengan penis Sehun sekarang, wajahnya merona saat berhadapan dengan penis besar yang mengacung itu. Sedangkan Sehun sudah melumat penis Luhan. Luhan hanya mendesah, tangannya sibuk mengurut penis besar Sehun.
Keduanya mendesah tertahan. "Ma-masukhan hanhhh.. ppalihhh.. arhhh aku.. sampaihhh" desah Sehun. Penis besar itu menyemburkan cairan putih didalam mulut Luhan, sedikit cairan itu meluber keluar dan mengalir melewati dagu dan leher Luhan.
Begitupula dengan Luhan yang sudah menyemburkan cairannya lebih dulu daripada Sehun. Sehun kembali membalik posisi mereka. Luhan mencium Sehun agresif, bermaksud membagi cairan yang melesak masuk ke mulut bahkan tenggorokannya.
"Kau— kau liar Han" keduanya terengah. Berusaha meraup oksigen setelah ereksi pertama mereka. Sehun menatap seluruh tubuh Luhan sekarang, ia melihat penis yang menggantung lucu di area selangkangan Luhan.
"Y-Ya! Jangan kau tatap terus" pekik Luhan sambil menyilangkan kakinya. Sehun tersenyum jahil. Sehun kembali melumat bibir pink itu tangannya masih sibuk membangunkan penis Luhan kembali.
Luhan sudah terlalu lelah untuk melawan. "Arhh—" Tangan Sehun meremas kedua bola kembar Luhan dan penisnya bergantian. Membuat Luhan semakin mendesah keras. Sehun akhirnya melepas ciuman mereka dan menatap mata sayu Luhan.
"Boleh ya ?"
"Eum— tapi pelan-pelan, kau tahu sendiri ukuran penismu seperti apa kan ?" kata Luhan memicing tajam. Sehun kembali terkekeh.
Sehun sengaja membuat Luhan kembali ereksi agar cairan Luhan bisa ia pakai sebagai pelumas saat masuk ke dalam lubang Luhan nanti.
Sehun mengarahkan kepala penisnya di depan lubang yang sudah berkedut itu. Ia memegang kedua paha Luhan. Perlahan ia mulai memasukkan kejantanannya yang sudah ia kocok dulu sebelumnya.
"ARGH! SEHUNIE, Appohh Hiks—" jerit Luhan saat Sehun baru memasukkan setengah dari panjang penisnya. "Ini sakithh" Luhan terisak. Sehun mau tak mau harus berhenti sebentar.
"Luhan-a,akan aku keluarkan jika kau tidak ingin kesakitan, arra ?" kata Sehun sambil perlahan mengeluarkan penisnya. Namun Luhan malah menggoda penis Sehun dengan merapatkan dinding rektumnya.
"Ahhh, kauh nakal Han" kata Sehun. Penisnya seakan di remas kuat didalam lubang virgin itu. "Masukkan Hunh, Ppalih" kata Luhan.
Sehun mengocok penis Luhan seraya memasukkan penisnya. Bermaksud mengurangi rasa sakit yang Luhan rasakan. "Ah—" desah Sehun lega saat penisnya berhasil masuk kedalam lubang itu.
Kedua pemuda itu bisa merasakan cairan yang mengalir dari lubang Luhan. Bercak merah itu mengalir membasahi penis Sehun, juga meninggalkan bekas di sprei itu. Darah. Tanpa disuruh, Sehun mulai menggerakkan penisnya. Ia mendorong pinggulnya perlahan. Tempo yang sebelumnya lambat semakin cepat saat Luhan memekik.
Sehun tahu itu titik kenikmatan Luhan. Ia semakin gencar menusuk titik itu dengan penisnya. Lubang sempit Luhan masih terus meremas penis Sehun kuat. Membuat keduanya semakin dekat dengan ereksi. "Arhh— HUN AKU—akuhh, ahh"
"LUHAN-AH"
"SEHUNIE" Pekik keduanya bersamaan. Cairan Sehun melesak masuk kedalam tubuh Luhan. Sedangkan cairan Luhan membasahi tubuhnya juga Sehun.
"Kau hebat, han— gomawo" kata Sehun. Keduanya terengah.
"a-apa tidak dikeluarkan Hun ?" tanya Luhan heran. Lubangnya terasa penuh. Sehun menggeleng,
"Biarkan saja, didalam lebih hangat—" kata Sehun lalu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Kamar flat sehun sudah menjadi saksi bisu kegiatan mereka malam ini, juga pernyataan cinta Luhan pada Sehun.
TBC
Huwaaa, rasanya janggal ya kalo Luhan keluar dari EXO ? T . T
Aku juga sedih pas tau Luhan keluar. Aku juga hunhan shipper jadi tau gimana rasanya kok :")
#AlwaysSupportLuhan #OT12
GAMSAHAMNIDA buat yang udah RCL di Chapter sebelumnya! ^^ *big bow*
Ngebut nih updatenya, gara-gara semangat soalnya banyak yang review. Gomawo!
Thanks to : LuXiaoLu, Urushibara Puterrizme, lisnana1, hunhanminute, DahsyatNyaff, myhunhanbaby, LuluHD, Yue m00nlight, BubbleePororo, n13zelf, .39, Baekhyunniee, Jong Ahn, Xiaoluluu, Novey, 13613, .58, puputri, younlaycious88 and the others reviews!
RCL JUGA UNTUK CHAPTER INI YA! *lho*
