"Ini bukan hanya tentang dirimu, ini tentang kita…"

.

.

.

Disclaimer: All of the characters are Masashi Kishimoto's but the story is purely mine.

Warning: AU, plot rush, many undetectable typo(s), OoC, bahasa kurang baku, etc.

.

.

.

Kita

.

.

.

"Haruno Kei, dan Haruno Kakko… Silahkan," tutur seorang perawat memanggil nama si kembar kembali untuk diperiksa.

Segera saja Sakura menarik kedua anaknya dari ruang tunggu tersebut. Dalam hati ia terus-menerus mengucap syukur pada Kami-sama yang masih memihak padanya. Iya, sekarang Kami-sama maupun Dewi Fortuna masih memihak padanya. Kalau nanti? Tidak tahu 'kan?

Sai tidak ikut masuk ke sana, ia lebih memilih untuk berbincang-bincang sedikit dengan Sasuke yang entah kenapa ikut menunggu Sakura di ruang tunggu. Masih ingin membicarakan segalanya dengan Sakura mungkin?

Drrrrrrrt!

Drrrrrrrrrrt!

Sasuke merasakan adanya getaran pada ponselnya namun, tidak ada sedikitpun niatan untuk sekedar melihat ponselnya. Ia masih kepikiran atas kejadian tadi. Astaga, kenapa juga ia tak bisa mengontrol emosinya tadi? Kenapa kumat sekarang? Kalau begini terus, Sakura bisa kabur. Ia lirik laki-laki yang tengah duduk di sebelahnya.

"Err, konbanwa Uchiha-senpai…" Sai tersenyum tipis membuat Sasuke menggeram pelan— karena sebal melihat Sai yang sok akrab. Err, cemburu, eh?

"Urus saja anakmu," balas Sasuke yang lagi-lagi sangat datar ditambah dengan penekanan.

Urus saja anakmu, katanya…? Jangan bercanda— memangnya dia pikir Kakko dan Kei itu anak siapa? Ingin rasanya Sai menggetok kepala Sasuke sekarang— err, enggak deh. Sai juga nggak berani sama preman brutal yang satu ini…

Lagi-lagi Sai hanya tersenyum untuk merespon Sasuke barusan. Ingin sih ia bilang kalau Kei dan Kakko itu anaknya tapi, sekali lagi ia lebih memilih agar Sakura sendiri yang memberitahukannya kepada Sasuke— mengingat posisi Sai hanya sebagai pengamat di sini.

Drrrrrrrrrt!

Drrrrrrrrrrrrrt!

Drrrrrrrrrrrrrrrrt!

Lagi-lagi getaran di ponselnya mengganggu Sasuke. Siapa sih yang berani-beraninya mengganggu Sasuke di saat-saat genting seperti ini? Menyusahkan saja. Akhirnya iapun memutuskan untuk sekedar melirik nama yang tertera di layar ponselnya. Hozuki Suigetsu. Ups, pasti kena marah deh gara-gara terlalu lama— eh enggak deh, pasti Suigetsu lah yang habis duluan kalau berani macam-macam sama Sasuke.

"Hampiri suamimu dan suruh ia diam. Kalau mau duluan saja, aku harus mengurusnya dulu." Eh? Apa-apaan? Karin 'kan ingin meluruskan masalah di antara mereka berdua tapi… Hmm, biar deh kalau ternyata Sasuke yang ingin meluruskan masalahnya sendiri. Karin justru lebih senang.

"Baik, aku duluan. Ingat untuk mengontrol emosimu, Sasuke-kun."

Karin pergi meninggalkan ruang tunggu tersebut dan menyisakan Sai dan Sasuke berdua. Aduh, kenapa suasananya tambah krik begini sih? Lagipula, kenapa juga Karin meninggalkan mereka di saat tak tepat seperti ini?

Menyusahkan saja. Akhirnya iapun memutuskan untuk sekedar melirik nama yang tertera di layar ponselnya. Hozuki Suigetsu. Ups, pasti kena marah deh gara-gara terlalu lama—eh enggak deh, pasti Suigetsu lah yang habis duluan kalau berani macam-macam sama Sasuke.

"Hampiri suamimu dan suruh ia diam. Kalau mau duluan saja, aku harus mengurusnya dulu." Eh? Apa-apaan? Karin 'kan ingin meluruskan masalah di antara mereka berdua tapi… Hmm, biar deh kalau ternyata Sasuke yang ingin meluruskan masalahnya sendiri. Karin justru lebih senang.

"Baik, aku duluan. Ingat untuk mengontrol emosimu, Sasuke-kun."

Karin pergi meninggalkan ruang tunggu tersebut dan menyisakan Sai dan Sasuke berdua. Aduh, kenapa suasananya tambah krik begini sih? Lagipula, kenapa juga Karin meninggalkan mereka di saat tak tepat seperti ini?

Walaupun Sasuke dan Sai duduk bersebelahan namun, tak ada yang memulai berbicara duluan. Ayolah, masa tidak ada yang ingin memulai pembicaraan? Bahkan ini sudah hampir dua puluh menit mereka saling berdiam seperti ini. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua manusia ini…

Cklek.

Pintu terbuka menyelamatkan Sasuke dan Sai dari kesunyian yang tercipta. Kekhawatiran terpatri jelas pada muka wanita berumur dua puluh sembilan itu. Sambil menggandeng kedua anaknya, ia menghampiri Sai.

Ia menghela napas, "Rawat inap," tuturnya singkat.

"Hah?" Air muka Sai tak kalah khawatirnya dengan milik Sakura.

"Tipes, makanan apa saja yang kauberikan pada anakku selama aku tak di rumah? Hah?" Sebenarnya, Sakura tidak bisa menyalahkan Sai secara total. Ingat, ini juga salahnya karena terus-terusan sibuk dengan rumah sakit. Memangnya apa Sakura pikir Sai itu pengangguran? Sai itu sama sibuknya dengan Sakura, banyak pesanan untuk lukisannya jadi ia juga tidak bisa selalu memperhatikan Si Kembar.

"Kau juga salah, coba ingat-ingat apa saja yang telah kaulakukan selama dua tahun terakhir ini? Bahkan untuk pulang ke rumah pun kau jarang, seharusnya kau lebih memikirkan anak-anakmu…"

Sasuke merasa menjadi kambing dungu di sini, ia terabaikan. Tunggu, bukan hanya Sasuke yang terabaikan di sini… Bahkan sepasang anak kembar itu terabaikan. Ayolah, bukankah Sakura harus mengurus surat administrasi untuk pemesanan ruang rawat inap? Coba lihat, kondisi kedua anak itu sudah sangat lemas. Melihat ini, hati Sasuke pun tergerak untuk mendekati kedua anak yang sedang terbujur lemas di atas kursi.

Melihat kedua anak itu, sebenarnya bisa dibilang ia kesal karena mereka itu anak Sai tapi entah kenapa, di sisi lain juga ia merasa… Sayang. Perasaan macam apa ini? Dengan sangat pelan, ia raih Kakko dan menggendong bocah itu di belakangnya, "Kau, pegangan yang kuat," suruhnya sambil membenahi posisi Kakko.

Tangan kecil itu memeluk leher Sasuke dengan kuat seolah tak mau melepaskannya. Setelah yakin benar akan posisi tangan Kakko, Sasuke pun meraih Kei dan mengendong bocah yang tengah terlelap itu dari depan. Untung saja Kei sedang tertidur, kalau tidak entah apa yang akan dilakukan oleh bocah itu terhadap Sasuke setelah melihat apa yang dilakukan Sasuke terhadap kaasan tercintanya.

"Jisan, kita mau ke mana?" Tanya Kakko dengan suara yang parau.

"Jisan akan mengurus pemesanan kamar untuk kalian," jawabnya cuek, saat ini ia sudah berjalan menjauhi Sakura dan Sai yang masih asyik berdebat.

Hangat. Itu yang Kakko rasakan saat memeluk pria yang baru satu jam ia temui. Rasanya, ia tidak mau melepaskan orang yang ia peluk saat ini, bahkan saat tadi jisan ini ingin mengantarnya kembali pada kaasan-nya seolah tersihir ia hanya mengikutinya dan membuat Kakko melupakan tempat bernama toilet itu. Intinya, bersama dengan jisan ini memberikan Kakko sebuah perasaan aman dan nyaman menyelimuti bocah kecil itu. Saking nyamannya sampai-sampai kita bisa melihat kalau anak ini sudah mulai memejamkan matanya dan mengatur posisi di bahu Sasuke.

.

.

.

Sore hari menjelang malam begini, biasanya kantin rumah sakit ini lumayan ramai. Tentu saja pengunjungnya adalah para penunggu pasien dan pengunjung rumah sakit. Mungkin mereka akan meminum teh atau kopi sembari mengobrol ringan dengan atmosfer yang cukup bagus—tidak canggung dan serba salah seperti suasana yang tercipta di meja paling ujung dekat jendela.

Suasana yang tercipta benar-benar kurang mengenakan, sepasang mantan suami istri itu hanya berpura-pura sibuk dengan minuman di hadapan mereka. Haruno Sakura yang mengaduk-aduk laté -nya dan Uchiha Sasuke yang sok sibuk meniup-niup kopi panasnya.

Tidak tahan akan suasana yang seperti ini, akhirnya si wanita pun mencoba untuk memulai pembicaraan. "Ehm, etto… Maaf malah merepotkanmu."

"Hn." Bahkan respon yang diberikan oleh si pria masih itu-itu saja, belum berubah rupanya.

Lalu apa? Sudah? Hanya sekedar meminta maaf dan 'hn'? Mereka berdua sama-sama punya hal penting yang harus disampaikan, tapi kenapa mereka berdua malah bertingkah seperti ini? Seolah-olah tidak mempunyai masalah.

Keheningan selama beberapa menit sempat terjadi, Sakura kembali berinisiatif untuk memulai pembicaraan. "Omong-omong, Sasuke-kun…" Sakura meneguk ludahnya sebentar. "Sudah berapa bulan usia kandungan Karin-san?"

Bodoh, pake banget. Untuk apa Sakura menanyakan hal ini? Kayak nggak ada topik lain untuk dibahas, bukankah lebih baik kalau Sakura membicarakan tentang hubungan antara Kei dan Kakko dengan Sasuke?

"Hampir delapan bulan." Sasuke membalas dengan acuh, kemudian ia menghela napas. "Bagaimana dengan anakmu?"

"Bagaimana apanya?" Tanya Sakura, kedua alisnya terlihat menyatu. Ah, syukurlah sedikit demi sedikit atmosfer di antara mereka mulai membaik.

"Ceritakan saja tentang anakmu," suruh Sasuke pada akhirnya.

'Mereka anakmu juga, Sasuke-kun,' tambah Sakura dalam hati, kemudian ekspresi wanita yang hampir mencapai kepala tiga itu melembut. "Mereka kembar, Kei yang lahir duluan dan tiga menit kemudian Kakko lahir. Ah, umur mereka sudah enam tahun dan seharusnya hari ini mereka sudah bisa masuk sekolah baru mereka, yah tapi sayangnya mereka malah sakit." Sakura terkekeh kecil. Ah, senyum pertama yang diberikan oleh Sakura pada Sasuke setelah enam tahun tidak bertemu.

Sasuke mengangguk pelan, dalam hati sebenarnya ia bingung ingin berbicara apa. Iapun memutuskan untuk menanyakan pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya saat melihat sosok Haruno Sakura pertama kalinya setelah enam tahun.

"Jadi, di mana kau selama ini?" Kali ini Sasuke mecoba untuk bertanya dengan baik-baik. Ia akan seberusaha mungkin mengontrol emosinya, tidak seperti tadi. Ia tidak mau membuat wanita yang ia cintai takut pada dirinya.

Sakura tak berani menatap netra segelap malam itu secara langsung, ia lebih memilih untuk menatap flat shoes-nya. "Waktu itu stase terakhirku di Suna, dan karena perutku sudah mulai membesar ibu menyuruhku agar tinggal di sana sementara—eh setelah itu aku malah mendapat pekerjaan di Suna, yasudah kupikir sekalian saja membesarkan anak-anak di sana…"

Err, perut Sakura yang mulai membesar? Ja-Jadi… Secepat itukah Sakura melupakan dirinya? Kalau dihitung-hitung, baru beberapa bulan setelah perceraian mereka waktu itu tapi, Sakura sudah hamil saja. Ini agak aneh. Apa jangan-jangan… Ia sudah hamil bahkan sebelum mereka bercerai? Ah tidak mungkin.

"Oh, begitu." Tidak mau membuat kepalanya bertambah sakit, Sasuke pun hanya memberi respon sok santainya. "Lalu, kenapa kau tidak menghubungiku?"

Pertanyaan Sasuke barusan, telak menamparnya. Alasan Sakura tidak menghubungi Sasuke sebenarnya adalah karena Sakura memang sedang menghindari Sasuke waktu itu. Mau bagaimana juga, 'kan yang salah di sini tetap Sasuke—jadi kalau mau Sasuke saja yang menghubunginya duluan. Lagipula, memangnya ada ya orang ketawan selingkuh habis itu bertingkah seolah tidak ada apa-apa? Setidaknya Sasuke berusaha meminta maaf dong, atau menjelaskan situasi yang ada waktu itu.

Haruno Sakura memilih untuk melawan, "Kau juga, kenapa kau tidak menghubungiku?"

"Kenapa malah bertanya balik?"

"Kau juga, kenapa malah bertanya balik?"

"Kau…" jari telunjuk Sasuke mengacung tepat di wajah Sakura. "Sudah, lupakan."

"Cih." Bibir Sakura mencebik, ia palingkan wajahnya ke kiri.

Terdengar suara deritan kursi didorong, Uchiha Sasuke tengah membangkitkan badannya dari kursi itu. "Besok aku akan ke sini lagi."

Dan kalimat terakhir itu sukses membuat Haruno Sakura nyaris tersedak laté-nya. Apa katanya? Sasuke besok akan berada di sini lagi? Pria itu sudah gila, sudah punya istri juga malah sibuk sama mantan istrinya. Haha, mantan istri ya? Entah kenapa mengingat fakta miris itu membuat dada Sakura sesak. Oh, tidak. Ini tidak boleh, ingat, Sasuke 'kan sudah punya Karin.

.

.

.

Ternyata, ucapan Sasuke bukan sekedar ucapan kosong belaka. Pria ini benar-benar datang ke rumah sakit lagi—entah apa maksudnya. Apakah ia memang ingin bertemu si kembar atau bertemu dengan ibu si kembar. Hanya Sasuke dan Kami-sama yang tahu.

Sasuke agak terkejut mendapati kamar rawat inap si kembar yang kosong—kosong di sini maksudnya tidak ada seorangpun yang menjaga mereka berdua. Kakko dan Kei hanya sibuk menonton kartun di televisi. Padahal, sarapan pagi mereka sudah diantar oleh suster tapi mereka mengabaikannya begitu saja.

"Ah, jisan, ohayou," sapa Kakko dengan datar.

Tatapan aneh Kei layangkan ke saudara kembarnya itu, "Kakko-chan, jisan itu 'kan jahat..." tentu Kei mengucapkannya dengan volume super rendah.

"Kei-nii, seharusnya kau mengucapkan terima kasih pada jisan ini. Kemarin, jisan inilah yang telah menggendong kita ke sini," sanggah Kakko santai, kedua onyx-nya pun masih terkunci pada kartun di televisi.

Kei menjadi kicep, "A-Ano, kalau begitu terima kasih, jisan," ucapnya lirih.

Tanpa Sasuke sadar, bahkan ia sudah tersenyum tipis. "Hn, sama-sama. Omong-omong, ke mana kaasan dan ayah kalian?"

Diam mungkin merupakan pilihan yang tepat bagi Kei, bocah laki-laki ini lebih memilih untuk tidak membertitahukan di mana kaasan-nya. Ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi.

"Oh, kaasan sudah mulai bekerja hari ini, mungkin nanti saat istirahat makan siang kaasan akan ke sini. Kalau ayah, aku tidak tahu."

Aduh, Kakko ngapain bilang ke Sasuke segala sih? Kei yang diem malah Kakko yang membeberkan keberadaan kaasan mereka. Karena kesal, akhirnya Kei memanyunkan bibirnya dan menatap sebal ke arah Kakko. Ah, sayangnya tatapan sebal Kei dikacangin sama Kakko kasian, memang.

Ingin rasanya Sasuke menghajar Sai sekarang juga, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Jelas-jelas anaknya sedang dirawat di rumah sakit, dan Sai malah kelayapan nggak jelas ke mana. Ayah macam apa Sai itu? Lihat saja nanti, kalau Sai sudah datang.

Sasuke mendekati kedua anak itu, dengan perlahan ia ambil sarapan mereka dan membuka plastiknya. "Ayo buka mulut kalian, kalian harus makan." Sasuke sudah mengambil ancang-ancang untuk menyuapi mereka.

Kakko adalah anak pertama yang tanpa ragu membuka mulutnya, sebenarnya kalau boleh jujur ia sangat malas untuk makan. Nafsu makannya sudah hilang dari kemarin. Tapi entah kenapa, Kakko sangat ingin disuapi oleh jisan ini. Kakko sangat suka saat jisan ini memberi perhatian kepadanya.

Tanda tanya bergelantungan di kepala Kei. Adiknya yang notabene gengsinya besar, mau disuapi begitu saja oleh jisan yang baru kemarin dikenalnya? Orang disuapi oleh Sai saja, Kakko ogah-ogahan lah ini… disuapi sama jisan yang bahkan telah melukai kaasan-nya Kakko langsung mau. Sebenarnya ada apa ini? Apakah karena jisan ini mirip dengan tousan mereka?

Kini giliran Kei yang akan disuapi oleh Sasuke. Sasuke sudah bersiap akan menyuapi bocah itu tapi, Kei masih belum mau disuapi. "Aku nggak mau disuapi jisan, maunya disuapin sama ayah!"

Aduh, déjavu ya Uchiha? Sakura pernah menolak untuk disuapi saat sakit waktu itu dan kata-kata yang diucapkannya hampir sama dengan yang Kei ucapkan. Kalau Sakura dulu berkata begini, "Aku nggak mau disuapi oleh orang sepertimu, maunya disuapin sama tousan!" manja 'kan? Sakura yang dulu.

"Tapi sekarang, ayahmu sedang tidak ada. Lebih baik, makan saja dulu—setidaknya tiga suap. Atau kalau kau tidak mau kusuapi, kau bisa makan sendiri." Jawab sang Uchiha pada akhirnya.

Kei masih mencebikkan bibirnya, "Kei maunya disuapin sama ayah, titik!"

Baiklah, Uchiha Sasuke akan mengalah untuk sekarang. "Baik, jisan akan mencari ayahmu." Entah kenapa juga Sasuke mau saja mencarikan Sai untuk Kei.

Dan setelah itu, Sasuke pun menghilang dan meninggalkan sepasang anak kembar itu berdua. Haruno Kakko hanya bisah menghela napas malas dan memberikan tatapan mengejek untuk kakaknya. "Cih, Kei-nii belagu. Kei-nii menyusahkan jisan tahu nggak?"

"Kau aneh, Kakko. Bahkan kau mau saja disuapi oleh orang yang sudah jahat pada kaasan!"

"Jahat dari mana? Kei-nii tidak tahu, 'kan? Bahkan saat kaasan dan ayah sedang bertengkar, jisan itu yang membawa kita ke sini. Semuanya jisan itu yang mengurus!" Loh, loh? Pergi ke mana sifat stay cool milik Kakko? Nada bicaranya saat ini tedengar tidak enak, nyolot begitu.

"Nggak tahu ah! Kakko-chan payah!"

"Kei-nii bodoh!"

"Jisan jahat aja dibelain!"

"Jisan itu nggak jahat!"

"Jahat!"

"Enggak!"

"Jahat!"

"Enggak!"

"Ja—"

Dug!

Saking emosinya, Kakko melemparkan remot televisi yang tadi dipegangnya. Kebiasaan seorang Kakko nih, main lempar barang kalau sedang emosi. Dan detik berikutnya tentu saja suara tangisan memecah di sebuah kamar rawat inap yang terletak di lantai empat itu.

.

.

.

Uchiha Sasuke tidak mempercayai apa yang tengah dilihat oleh kedua matanya. Niatnya ingin mencari Sai dan begitu sampai di parkiran, masih pagi begini pula—ia melihat Shimura Sai sedang berciuman dengan seorang gadis berambut pirang?! Ada yang salah di sini. Bagaimana mungkin Sai bermesraan dengan wanita lain sementara kedua anaknya sedang sakit dan istrinya sedang bekerja mencari uang?

Emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi, dengan satu gerkan kasar ia tarik baju Sai dari belakang dan memberikan bogem mentah di pipi kiri laki-laki tersebut.

"Bagaimana bisa kau bermesraan dengan wanita lain sementara kedua anakmu sedang sakit dan istrimu sedang bekerja mencari uang?! Hah?! Dasar brengsek!"

Setetes darah keluar dari hidung pria Shimura itu, membuat Yamanaka Ino—sang tunangan gelagapan.

"Hei kau! Apa maksudmu? Anaknya? Istrinya? Aku ini tunangannya! Dan jika yang kau maksud Kakko dan Kei, mereka itu anak dari mantan suaminya Sakura-forehead!"

A-Apa? Apa maksud dari perkataan Si Pirang ini? Anak dari mantan suaminya?! Apa maksudnya Sasuke? Atau… Mantan suami yang lain? Astaga, ini rumit. Sepertinya ada yang salah di sini. Seketika, sepasang onyx dan aquamarine menatapi Sai dengan intens.

"Sepertinya, kita harus bicara, Shimura."

Dan sepertinya, memang sudah saatnya Sai membuka semuanya. Mereka bertiga pun memutuskan untuk berbicara di kantin rumah sakit. Haah, lagi-lagi tempat itu. Kantin rumah sakit tidak terlalu ramai, jelas saja ini masih jam sebelas siang. Biasanya orang-orang akan makan siang setelah jam dua belas.

Tidak ada seorangpun dari mereka yang memesan macam-macam. Mereka hanya duduk tanpa makanan atau minuman. Sasuke sedang berusaha untuk menekan emosinya, sepertinya hal yang akan diketahuinya ini termasuk besar dan penting.

"Jadi, bisa kau jelaskan semua ini, Shimura?"

Sai menghela napas, "Ah, senpai, mungkin seharusnya kau tanyakan hal ini kepada Sakura secara langsung," tuturnya sambil memperlihatkan senyuman anehnya.

"Kau terlalu lama, Sai-kun. Tinggal bilang saja apa susahnya, sih?" Sekarang malah Ino yang menjadi gemas.

"Baiklah, baik. Sebenarnya, Kei dan Kakko itu—"

Ah, ringtone ponsel milik Sasuke menginterupsi pembicaraan penting itu. Kenapa ia bisa lupa men-silent ponselnya sih? "Sial," dengan gerakan kasar Sasuke angkat ponsel itu dan mendapati suara Karin di ujung sana. "Apa? Hah?!"

"Hei, biasa saja dong! Tadi seorang client datang ke sini dan memberikan sebuah proposal. Kau berada di mana sih? Client penting nih!" balas Karin tanpa berhenti.

"Berisik! Sudah kau ke sini saja!" balas Sasuke setengah membentak.

"Ke sini mana? Bicara yang jelas, bodoh!"

"Rumah sakit." dan setelah itu Sasuke memutus sambungan telepon mereka. Memang menyebalkan, bukan?

"Maaf, bisa kaulanjutkan, Shimura?"

"Baik, ya sebenarnya Kakko dan Kei itu memang anakmu, senpai."

Kedua alis Sasuke terangkat, jujur ia terkejut. Kenapa bisa? Kapan juga mereka melakukannya? Wah, sepertinya laki-laki tampan itu lupa, eh? "Bagaimana… bisa?"

"Malam itu, saat kalian mabuk, senpai," tambah Sai mengingatkan.

Oh, malam itu. Malam terkonyol sepanjang masa. Ia tidak pernah menyangka kalau Sakura akan hamil setelahnya, tapi tetap saja kenapa Sakura tidak pernah memberitahu masalah ini? "Oh, aku ingat."

"Beberapa hari setelah kalian bercerai, Sakura baru tahu kalau ia hamil—sudah hampir tiga bulan. Jangan tanya aku kenapa ia tidak memberitahukan berita kehamilannya, tapi yang jelas saat usia kandungannya sudah mulai memasuki tujuh bulan, stase terakhirnya di Suna—jadi basan memutuskan agar Sakura sekalian tinggal di Suna saja untuk sementara sampai anaknya lahir," jelas Sai panjang lebar.

"Hn, sudah tahu." Memang Sasuke sudah mengetahui bagian itu, bukan? Tapi tetap saja sudah bagus Sai dengan baik hatinya mau menjelaskan eh, Sasuke malah memberikan respon menyebalkannya. Padahal, memangnya Sasuke tahu kalau Sakura baru mengetahui perihal kehamilannya beberapa hari setelah bercerai? Tidak 'kan? Yang Sasuke tahu hanyalah Sakura yang pindah ke Suna karena stase terakhirnya dan yaa begitulah intinya.

"Ah! Jadi, kau ini Uchiha-san ya?"ucap Ino secara reflek.

"Hn." Sasuke malas bertanya dari mana Ino tahu namanya, ah yang pasti ia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Sakura setelah ini.

"Kau tahu, Uchiha-san, aku benar-benar kasihan melihat fore—Sakura waktu itu. Usia kandungannya sudah tua dan ia ketakutan sendirian, setiap ibu yang sedang mengandung pasti akan merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang amat sangat saat usia kandungannya mulai memasuki tujuh bulan. Sedangkan waktu itu, usia kandungannya sudah hampir delapan bulan."

Perasaan bersalah menyelimuti Sasuke, sebenarnya ia juga miris karena tidak bisa menemani Sakura yang sedang hamil. Sial. Kalau saja waktu itu Sasuke tidak menerima tuntutan cerai Sakura… pasti saat ini mereka sudah hidup berempat sebagai keluarga yang bahagia. Eh, tunggu. Bukankah ada Sai saat Sakura hamil? Bukankah Sai dan Sakura telah menikah? Lalu gadis pirang ini tadi bilang kalau dia adalah tunangannya. Ada apa ini?

"Tunggu, bukankah ada kau Shimura sebagai suaminya? Dan kenapa wanita ini bilang kalau dia adalah tunanganmu?"

"Ah, perkenalkan, ini Yamanaka Ino dan dia memang tunanganku. Kami akan menikah tahun ini, dan err senpai, memangnya aku pernah bilang kalau aku itu suaminya Sakura?"

Nggak nanya. Mau Sai menikah tahun ini atau sepuluh tahun lagi pun Sasuke tak peduli. Tapi kalau dipikir-pikir, memang benar sih. Sai tak pernah bilang kalau ia dan Sakura adalah suami-istri. "Lalu, kenapa mereka memanggilmu dengan sebutan ayah?" tanya Sasuke kembali.

"Mudah saja—"

"—Ah! Sasuke-kun! Kucari kau ke mana-mana. Dasar bodoh! Menyusahkan saja, apa kau tidak tahu ya orang hamil itu cepat lelah." Wanita berambut merah itu mengeluh sembari memegangi perutnya yang buncit itu, kemudian ia pun mengatur posisi di sebelah Ino. Aduh, pingangnya terasa ngilu sekali—entah kenapa.

Karin. Lagi-lagi wanita hamil ini yang menginterupsi. Melihat wanita ini mau tak mau membuat Sai teringat, ia harus menanyakan apa hubungan Sasuke dengan Karin. Apa benar Sasuke telah menikah dengan Karin?

"Loh? Ada Shimura juga dan… Err—"

"—Yamanaka Ino," kata Ino memperkenalkan dirinya.

"Baik, kembali ke topik. Iya, senpai mereka bilang kalau mereka iri dengan teman-teman mereka yang memiliki ayah—dan karena menurut mereka juga wajahku mirip dengan wajah senpai, akhirnya mereka meminta izin untuk memanggilku dengan sebutan ayah."

"Sebenarnya ini ada apa ya?" Karin yang baru datang pun hanya bisa memasang tampang cupunya. Masih mending didengar, kali ini Karin diabaikan. Kasihan, memang.

"Hm, begitu." Sekarang semuanya terasa benar, pantas saja kedua anak itu tidak memakai marga Shimura—melainkan memakai marga Sakura sendiri.

Sai cukup lega, akhirnya kabut yang menutupi persoalan mereka berempat—Sakura, Sai, Sasuke, dan Karin sedikit-sedikit mulai menghilang. Kini giliran Sai yang bertanya, "Hm, maaf senpai, kalau boleh aku bertanya, apa kau telah menikah dengan..." Sai melirik Karin dengan ekor matanya. "Karin-senpai?"

Ucapan Sai tadi membuat Karin jawdrop, "Aku? Menikah dengan dia? Yang benar saja! Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang jelas-jelas masih gagal move on dari mantan istrinya?"

Sontak, Sasuke tendang kaki mulus Karin dengan sepatu hitamnya. Catat, Uchiha Sasuke menendang kaki seorang ibu hamil dengan keras. "Kami tidak ada hubungan apa-apa."

Kemudian, pria yang usianya telah mencapai kepala tiga itu membangkitkan badannya dari kursi. Mungkin sekarang, istirahat makan siang telah tiba. Pokoknya, ia akan menghampiri Haruno Sakura sekarang juga.

"Aku akan menghampiri Sakura, sekarang. Arigatou, Shimura."

.

.

.

"Kaasan, kapan sih kita keluar dari sini? Kei bosaaan, Kei 'kan mau ke sekolah baru…" keluh Kei sembari membenahi posisi tidurnya.

Sakura mendelik pelan, "Halah, kau disuruh makan saja susah bagaimana mau cepat keluar dari sini? Makanya, kalau tidak mau sakit, makan yang benar! Perhatikan pola makan, juga jangan jajan sembarangan…" Sakura memegangi gelas berisi air dan hendak meminumkannya ke anak pertamanya. "Ayo, buka mulutmu! Minum obatnya dulu," perintah wanita itu.

"Hai, hai, kaasan. Tapi, Kakko-chan tuh yang aneh! Masa disuapi sama orang asing mau aja," ejek Kei seolah-olah dia yang paling benar.

"Kei, jangan begitu. Bagaimana kalau kaasan bilang jisan itu bukan orang asing? Dia memang bukan orang asing, Kei. Jadi, jangan membencinya."

"Hah? Apa maksud kaasan?"

Brak!

Uchiha Sasuke kembali datang, kali ini tanpa mengetuk pintu. Juga tanpa Sai, ia ke sini bukan untuk Kei maupun Kakko. Ia ke sini untuk Haruno Sakura. Dengan kasar pun ia tarik tangan wanita Haruno itu.

"Apa sih? Kenapa kau selalu bersikap kasar begini?"

Benar, kenapa juga Sasuke selalu seperti ini? Entahlah. Mungkin memang dari sananya dia begitu.

"Tuh, tuh Kakko-chan lihat 'kan… jisan ini memang jahat 'kaan," sela Kei masih merasa yang paling benar. Sedangkan respon Kakko? Biasa saja tuh, dia malah cuek dan kembali memejamkan matanya.

Sial, Sasuke benar-benar lupa akan keberadaan kedua anaknya.

"Lebih baik, kita bicarakan di ruanganku saja." Sakura pun mengambil inisiatif. Setelah memberi pesan kepada kedua anaknya, Sakura menuntun Sasuke ke ruangannya.

Jujur, perasaan Sakura tidak enak. Tatapan Sasuke yang tadi terlalu menyeramkan—seperti hyena yang haus akan mangsa. Oke, ini berlebihan. Rasanya setiap langkah yang diambil oleh wanita ini begitu lebar, tanpa terasa ruangannya sudah berada di depan matanya. Begitu Sakura ingin meraih gagang pintu itu, Sasuke mendahuluinya, menarik wanita itu dengan agak kasar dan menjeblak pintu ruangannya. Ih, Sasuke seenaknya deh. Iya soalnya dia nggak ikut beli pintu ruangan Sakura, jadi kalo pintunya rusak pasti Sakura 'kan yang dimintai ganti rugi?

"Kenapa, Kenapa kau tidak pernah bilang?!" Sasuke mencengkram kuat bahu Sakura, setiap kata diucapkannya dengan penuh penekanan.

Sakura hanya bisa memejamkan kedua matanya kuat-kuat, ia telan bentakan Sasuke bulat-bulat. "Bilang… Apa?" Cicitnya takut-takut. Saat ini rasanya jantung Sakura ingin lepas dari tempatnya.

"Anak kita!" serunya lantang, entah suaranya terdengar sampai luar ruangan ini atau tidak. Astaga, Sasuke cukup tidak tahu diri untuk berteriak sekeras itu di rumah sakit.

Rasanya seperti ada sesuatu yang meremas hati Sakura dengan kuat. Sesak. Bahkan secara instan, air mata lolos dari matanya dan tak mau berhenti. Jadi, Sasuke sudah tahu, eh? Sakura membuka mulutnya, tapi lidahnya terasa kaku. Nyatanya ia hanya bisa menunduk. Kemana perginya sifat (sok) berani Sakura?

"Hanya bisa diam, eh?" pria itu mulai mengontrol emosinya, kemudian suara baritone-nya terdengar lebih berat. Pria itu menghela napas. "Kau bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, Haruno."

Haruno? Sasuke memanggilnya dengan nama marganya? Astaga, bahkan dari sana kita bisa melihat betapa marahnya Sasuke. Kalau Sasuke sudah memanggil Sakura dengan marganya itu berarti… Uchiha Sasuke siap meledak. Menjauh darinya sekarang adalah pilihan yang paling tepat—tapi sayangnya, Sakura tidak bisa. Bukan, bukan hanya karena Sasuke yang mencengkram bahunya tapi, sampai kapan ia mau kabur dari masalah ini? Sudah enam tahun ini dia lari bukan?

"Kau tahu, ini bukan hanya tentang dirimu Haruno. Kau terlalu egois, dan aku… Kecewa." Suara Sasuke semakin merendah, cengkramannya melonggar.

Sakura tidak bisa begini, ia paksakan suaranya untuk keluar. "Memangnya kau pernah memikirkan perasaanku? Hah?! Kau juga egois, Uchiha! Kau senang di saat aku susah! Kau asyik bermesraan dengan Karin-san dan menyetujui tuntutan ceraiku waktu itu," Sakura sesunggukan, "Kau juga tidak memikirkan perasaanku, Sasuke-kun…" rasanya terlalu miris kalau mengingat-ingat saat itu.

"Aku senang di saat kau susah?" Pria itu membalikkan badannya, mendekati pintu ruangan mantan istrinya. "Kau sok tahu."

Blam.

Dan pintu itu pun dibantingnya kembali. Memang, Sakura salah. Kata siapa laki-laki itu bersenang-senang di saat Sakura susah? Nyatanya, tanpa mereka berdua tahu… Mereka sama-sama susah kala itu. Tidak ada satu malam pun Sasuke bisa tertidur nyenyak selama enam tahun ini, otaknya selalu memikirkan dimanakah keberadaan Sakura—apakah wanita itu baik-baik saja? Apa wanita itu bahagia? Yaa, bahkan tanpa mereka berdua sadari sebenarnya mereka sama-sama susah. Mereka sama-sama merasa kehilangan. Mungkin Haruno Sakura tidak akan mengakuinya akan tetapi, hatinya tidak bisa berbohong.

Benar. Mau sampai kapan ia membohongi perasaannya? Mau sampai kapan masalah ini dibiarkan menggantung begitu saja? Sakura membulatkan tekad, masalah ini harus selesai sekarang. Harus. Ia sudah tak bisa menunggu lagi.

Setengah berlari Sakura mencari sosok Uchiha Sasuke itu. Tak peduli seberapa panjang lorong rumah sakit, wanita itu akan terus mencarinya. Sakura menggulirkan bola matanya ke segala penjuru rumah sakit, mencari laki-laki itu. Sakura yakin benar kalau Sasuke masih belum jauh dari sini. Tak ia pedulikan orang-orang yang melemparkan tatapan aneh—akibat mata merah dan jejak-jejak air mata yang masih ada—kepadanya.

Sakura's POV

Hah, hah, hah… Yaampun, pengap. Baru lari sedikit aja sudah selelah ini, yah ketahuan 'kan aku jarang berolahraga—oke, itu nggak penting. Aku berhenti sebentar mengistirahatkan kakiku sambil tetap mengedarkan pandanganku guna mencari sosok mantan suamiku itu. Iya, mantan. Kurang jelas? MANTAN SUAMI.Jangan bilang masih kurang jelas, tolong. Nah! Itu dia, meski membelakangiku, aku yakin betul itu Uchiha Sasuke. Tentu saja aku yakin, orang yang memiliki rambut model seaneh itu 'kan langka. "Sas—"

Bruk.

Itu… Apa? Kutolehkan kepalaku ke arah kanan. Toilet wanita. Tadi itu suara apa ya? Rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh. Oke, perasaanku mulai tidak enak. Kuhampiri toilet itu dan membuka pintunya secara perlahan—eh? Kok berat? Rasanya seperti ada yang mengganjal pintu ini. Dengan sedikit tenaga—bohong deh, lumayan banyak tenaga yang kupakai untuk mendorong pintu ini, kutemukan sesosok yang kukenal sedang bersandar sembari memegangi perutnya.

"K-Karin-senpai?! Doushite?"

"Sa-Sakura…" panggilnya lemah. Yaampun, Karin-senpai sepertinya merasakan sakit yang amat sangat—terlihat dari raut wajahnya yang seperti orang yang–corettidakbuangairselamasatuminggucoret—kesak itan.

Astaga, apa yang kupikirkan sih?! Bodoh! Lupakan tentang wajahnya, aku yakin dulu saat ingin melahirkan Kei dan Kakko juga pasti wajahku tak jauh berbeda dengan wajah Karin-senpai. Kuarahkan tatapanku ke betis Karin-senpai. "Ja-Jangan bilang… Air ketuban senpai pecah?"

"Iya, dan sekarang aku—"

"—Kalau begitu, tunggu sebentar, senpai. Aku akan mencari bantuan!" Bantuan! Aku harus mencari bantuan! Astagaaaa! Toloong! Aku paniiiik!

Grep.

Eh? Karin-senpai… Kenapa? Menahan lenganku?

"Sakura… Tentang Sasuke—"

Astaga Karin-senpai, apa dia ingin menjelaskan yang waktu itu? Oke, kuakui aku sangat ingin tahu kejelasan dari semuanya tapi, ini bisa ditunda sebentar! "—Senpai, nanti saja bicaranya… Lebih baik biarkan aku mencari bantuan dulu!"Aku hendak melesat mencari bantuan tapi, lagi-lagi Karin-senpai menahan tanganku.

"Ta-Tapi… Aku takut, Sakura," ujarnya sembari mengencangkan cengkramannya pada lenganku. Duh, sakit mbak. Eh? kok jadi déjavu ya?Bedanya, kalau Karin-senpai menyalurkan rasa sakitnya ke tanganku kalau aku menyalurkan rasa sakitku ke… sprei putih di atas brankar. Haha miris, memang. Coba aja ada Sasuke-kun dulu, pasti… Ah sudahlah. Sakura, sadar. Bahkan istrinya sudah mau melahirkan!

Kuhela napasku—tidak, aku bukannya lelah atau tidak mau menolong Karin-san. Aku… rasanya aku memahami situasi Karin-san saat ini… Saat ini ia sedang sendirian dan dihadapi dalam situasi di antara hidup dan mati. Tentu saja, dia pasti takut.

Tap.

Tap.

Tap.

Suara sepatu beberapa orang yang tengah berlari memenuhi lorong rumah sakit. Ah! mungkin itu suster yang sudah siap dengan brankar untuk membawa Karin-senpai. Huaa, akhirnya mereka datang juga. Dengan perlahan, kukalungkan lengan Karin-senpai ke bahuku berusaha untuk menuntunnya sambil tetap menyemangatinya, menyelempangkan tas tangannya di bahu kiriku dan—

Brak.

Dug.

—terjeduk. Mau tertawa? Silahkan. Aku juga memang bodoh, kenapa juga dari tadi aku berdiam diri di belakang pintu? Aish tapi, para suster itu juga salah! Kenapa sih main jeblak pintu seperti itu? Apa mereka terkena wabah jeblak pintu milik Sasuke-kun, ya?

Para suster bekerja kilat dan membawa Karin-senpai menuju ruang operasi, sementara aku ditanyai oleh salah seorang perawat mengenai biaya administrasi dan lain-lain. Bagus banget, sudah dijedukin, dikacangin, sekarang dipalakin. Hebat.

"Haruno-sensei, bisakah anda memberitahu kami siapa nama dari pasien ini?" tanyanya sudah memasang pose siaga—memegang sebuah papan jalan, kertas, dan pulpen.

Err, Aku harus jawab apa? Uzumaki Karin? Ohiya, lupa 'kan nama Uzumaki-nya sudah terganti… "Uchiha Karin," tuturku seadanya. Nggak tahu deh mukaku seperti apa sekarang, yang jelas saat menyebutkan nama itu—entah kenapa nyesek woy.

"JANGAN SEENAKNYA MENGGANTI NAMA ORANG, HARUNO! NAMAKU BUKAN UCHIHA! NAMAKU HOZUKI KARIN, HOZUKIIII!" Duh, mak. Karin-senpai teriak keras banget. Mungkin teriakannya barusan sudah mengalahkan auman gajah mengamuk di kebun binatang. Hmm, apa Karin-senpai sedang menyalurkan rasa sakitnya?

Eh tapi… Tunggu. Barusan Karin-senpai bilang apa? Hozuki? Hozuki, bukan Uchiha? EEEEEH?! Jadi, suaminya Karin-senpai itu… Suigetsu-senpai?!

End of Sakura's POV

Saat ini wajah Sakura sedang menampilkan ekspresi yang sama sekali tidak elit. Tentu saja, jadi selama ini… Untuk apa dia galau untuk alasan yang tidak jelas? Yaampun. Sungguh, jleb moment. Sakura terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit.

Drrrrrrt!

Drrrrrrt!

Sesuatu di dalam clutch milik Karin bergetar. Sakura menjadi bingung, ini tas orang—apakah ia harus membukanya? Setelah menimbang-nimbang sejenak, akhirnya Sakura memutuskan untuk membuka clutch itu dan mengangkat teleponnya. Habis, saat ini belum ada yang mengetahui kabar perihal persalinan Karin—'kan kasihan.

"Halo, konnichiwa—ah bukan, aku Haruno Sakura. Apa ini Suigetsu-senpai?" tanya Sakura karena sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel tadi.

"Lho? Bagaimana bisa ponsel Karin ada padamu? Kau… Haruno Sakura? Haruno Sakura yang manta—"

"—Ya! Senpai, aku Haruno Sakura yang itu. Senpai, lebih baik sekarang kau ke rumah sakit Konoha! Ini gawat, istrimu akan segera melahirkan!" potong Sakura cepat, sengaja banget mengalihkan topik.

"Baik! Aku akan segera ke sana, Haruno, arigatou!" balasnya sebelum memutus sambungan telepon tersebut.

Hozuki Suigetsu datang lima belas menit kemudian. Matanya membesar melihat sosok yang sudah enam tahun menghilang tanpa kabar itu sekarang malah sedang duduk menunggui istrinya. "Haruno, kenapa bisa istriku melahirkan sekarang? Usia kandungannya baru delapan bulan!"

Sakura mengendikkan bahu, "Aku tidak tahu, senpai… Kita bisa tanyakan dokter yang sedang mengoperasinya, nanti."

Pria berambut putih itu menghela napas, gerak-geriknya menunjukkan kegelisahan yang luar biasa. Sakura yang melihatnya hanya bisa membatin miris, ia iri tentu saja. 'Jadi… Apa begitu ya reaksi seorang suami yang sedang menunggui istrinya yang sedang bersalin?'

"Ah, Haruno… Omong-omong, bagaimana kabarmu?" tanyanya berbasa-basi. Hitung-hitung mengurangi rasa gelisahnya.

"Ya, seperti yang kaulihat… Aku baik-baik saja, senpai," jawab Sakura seadanya.

Mendadak, Suigetsu teringat akan hal yang ingin ditanyakannya sejak ia mendengar suara Haruno Sakura, tadi. Hal yang membuat istrinya sempat stress karena berangapan bahwa ialah yang menghancurkan rumah tangga Si Wanita Musim Semi dan sahabatnya itu. "Kau, sudah bertemu dengan Sasuke? Sudah mendapat penjelasan dari Karin?"

Dan tanpa Sakura sadari, di wajahnya sudah terpatri ekspresi sedih. "Aku sudah bertemu dengan Sasuke-kun, tadi Karin-senpai hampir menjelaskan—tapi, situasinya sedang tidak tepat." Iyalah nggak tepat, masa iya Sakura mendengarkan Karin menjelaskan semuanya secara panjang lebar? Bisa-bisa bayi Karin lahir di kamar mandi tadi…

Suigetsu menghela napas, kalau begitu… Ia harus mewakilkan istrinya. Benar begitu, bukan? "Hmm, begini, Haruno. Mungkin kalau kau mendengar penjelasan Karin, kau akan sangat menyesal menuntut Sasuke cerai dulu, haha."

Apa-apaan? Suigetsu pakai tertawa segala. Mau ngajak ribut ya? Mau merasakan kepalan tinju Haruno ya?—Eh? Nampaknya Haruno Sakura sudah mulai tertular oleh (mantan) suaminya. Sakura berdecak, "Ah, senpai jangan sok tahu… Belum tentu, 'kan?"

"Berani bertaruh?"

"Tentu saja!"

"Kalau kau menyesal, kau harus rujuk dengan Sasuke!" Suigetsu menyeringai, ia yakin seribu persen kalau kouhai-nya semasa di SMA ini pasti akan sangaaaaaat menyesal. Iyalah, orang alasan Karin meluk-meluk Sasuke itu gubrak banget.

"Oke! Siapa takut! Tapi, kalau aku tidak menyesal… Anakmu buatku!" tantang Sakura dengan volume suara yang cukup keras. Nggak tahu aja kalau alasan Karin memeluk Sasuke sambil mesem-mesem waktu itu benar-benar gubrak.

A-Apa? Enak saja Sakura mau meminta anaknya. Mendapatkannya susah tuh! Butuh waktu lima tahun lebih untuk mendapatkannya! "Baik," ucapnya pede.

Yaampun, ini berdua… bukannya berdoa pada Kamisama agar Karin dan si bayi diberi keselamatan—mengingat Karin melahirkan anaknya sebelum sembilan bulan (premature) yang menyebabkan kondisi bayi yang akan sangat rentan seusai lahir. Ini mereka malah taruhan nggak jelas sementara Karin sedang dioperasi caesar.

"Yasudah, cepat jelaskan yang waktu itu!" perintah Sakura seenaknya, songong, memang.

"Ck, Kau itu terlalu bodoh. Kau tahu, Karin memeluk Sasuke waktu itu karena dia terharu!" ujar Suigetsu setengah nyolot.

Kedua alis Sakura bertautan, ini orang ngomong yang benar kenapa… Agak nggak jelas. "Terharu kenapa?"

"Ya terharu karena waktu itu dia baru saja kulamar! Jadi, waktu itu setelah aku melamarnya dia mengunjungi Sasuke dan membawakan kabar bahagia itu! Wajar 'kan mereka berpelukan? Kau saja yang berlebihan waktu itu, Haruno."

Memang, faktanya malam itu Karin memberitahukan perihal lamaran Suigetsu—dan Sasuke reflek memeluknya. Oh, ayolah—hanya pelukan yang biasa dilakukan antar sahabat. Eh, Sakura malah masuk setelahnya… Sakura memang sedang emosian kala itu. Dan tanpa sepengetahuannya sendiri, ternyata ia sedang mengandung—makanya tingkat emosinya agak labil waktu itu.

"Aku tidak berlebihan! Wajar 'kan waktu itu aku sedang mengandung…" tuturnya beralibi.

"Kau mengandung?! Itu anak Sasuke?" Suigetsu melotot, terang saja ia terkejut. Bagaimana mungkin Sakura dan Sasuke… Memiliki anak?! Ayolah, semua juga tahu. Haruno Sakura benar-benar membenci Uchiha Sasuke yang jelas-jelas mencintainya.

Sakura mendelik, "Iyalah! Masa anaknya Fugaku-tousan?"

No comment. Gila aja kalau itu benar-benar anaknya Fugaku. "Ah, sudahlah. Jadi, apa kau menyesal? Jawab jujur!"

Sial. Sakura lupa akan taruhannya. Tentu saja ia menyesal! Rasanya jleb ditambah gubrak, coba saja kalau dia mau mendengar penjelasan Karin waktu itu… Tapi, waktu itu sudah tidak ada. Percuma kalau berharap, yang ada hanyalah waktu sekarang. Bukankah akan lebih baik kalau Sakura memperbaiki semuanya dengan Sasuke. Sakura menunduk, menatapi lantai. "Iya, aku mengaku. Aku menyesal, apa senpai puas?" ucapnya lesu.

"Tidak, kau belum rujuk dengan Sasuke sih—asal kau tahu, Haruno. Saat kau hilang, mantan suamimu yang satu itu benar-benar terlihat seperti orang idiot. Sifat premannya itu makin menjadi-jadi, dia juga sering melamun sendiri lalu tiba-tiba marah-marah sendiri… Idiot, bukan?" laki-laki itu tertawa miris. Kondisi sahabatnya yang satu itu tanpa Haruno Sakura benar-benar buruk.

Entah kenapa sekarang Sakura malah merasa bersalah. Ia bodoh, memang. Semua kekacauan yang ada terjadi karenanya. Karena kebodohannya waktu itu, Sasuke jadi begitu. Karena kebodohannya waktu itu, bahkan Karin sempat stress. Karena kebodohannya waktu itu, kedua anaknya tidak memiliki ayah. Karena kebodohannya waktu itu, Mikoto dan Fugaku yang menginginkan cucu malah tidak mendapatkannya. Duh, rumit. Tapi mau disanggah juga, faktanya Haruno Sakura lah penyebab dari semua kekacauan ini.

"Senpai… Serius? Tapi, bukankah Sasuke-kun…" Sakura berdehem pelan, menelan ludahnya—yang entah kenapa susah ditelan seperti menelan beling. "Menyukai Karin-senpai?"

Death glare telak diberikan Suigetsu kepada wanita yang pernah menyandang nama Uchiha ini. Greget, sangat. Astaga, Haruno Sakura itu memang tidak peka ya? "Kau bodoh ya? Ah sudah, aku lelah. Lebih baik, sana temui dia! Cepat rujuk dengannya, aku ingin menunggu istriku," suruhnya. Ia mengurut pelipisnya, sepertinya operasi persalinan istrinya akan selesai sebentar lagi. Memang tidak terasa, ucapkan terima kasih kepada Haruno. Setidaknya perasaan khawatir dan gelisahnya mulai berkurang berangsur-angsur.

Sakura tersenyum, "Senpai, terima kasih. Ah, semoga Karin-senpai dan anakmu baik-baik saja!"

Suigetsu membalas senyuman Sakura, "Sama-sama, Haruno. Sudah, hampiri Sasuke sana!"

"Iyaaa," sahutnya sambil berlalu. Tapi, baru tiga langkah Sakura beranjak dari tempatnya… Wanita itu kembali lagi. Ia kembali duduk di sebelah Suigetsu.

"S-Senpai," suara Sakura dibuat manja, menyebabkan Suigetsu berpikir apa sih maunya orang ini? "Aku takut…" desisnya lirih.

Ah, tidak tahu. Sudah cukup sampai di sini Suigetsu membantu, ia 'kan mengkhawatirkan operasi persalinan istrinya…

Drrrrrrt!

Drrrrrrt!

Eh, lupa. Clutch milik Karin 'kan masih ada di tangan Sakura. Segera saja Sakura berikan clutch Karin pada Suigetsu, "Senpai, maaf aku lupa. Ini, clutch milik Karin-senpai dan ponselnya bergetar."

Pria itu mengulurkan tangannya dan menerima clutch milik istrinya, ia ambil ponsel istrinya dan mendapati nama Uchiha Sasuke di sana. "Ini Sasuke, coba kau terima teleponnya," suruhnya sambil memberikan ponsel berwarna putih itu.

Gelagapan. Itulah reaksi yang diberikan oleh wanita musim semi ini. Dengan kilat, Suigetsu sambar kembali ponsel putih yang tengah dipegang Sakura dan membuat wanita ini menghela napas lega. Tapi, itu tidak berlangsung lama karena Suigetsu ternyata tidak mengabaikan panggilan itu—seperti yang Sakura kira. Justru Suigetsu menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel putih istrinya di telinga Sakura.

Sekujur badan Sakura kaku seketika.

"Karin! Di mana kau?! Cepat, ke sini, parkiran!"

Tuh, siapa yang nggak tegang coba? Baru saja memencet tombol hijau—Sakura malah disembur dengan bentakan Sasuke.

Dengan takut-takut, Sakura membuka mulutnya, "Sa-Sasuke-kun…"

Hening. Sasuke tidak membalas wanita itu. Masih kesal rupanya. Kembali, wanita itu mengambil inisiatif. "Sumimasen… Hontou ni sumimasen ," desisnya lirih. Liquid bening pun tak ayal lolos dari pelupuk matanya. Sakura mengucapkannya dengan tulus, sepenuh hati sambil mengingat-ingat kesalahannya di masa lalu.

Suigetsu hanya bisa menyunggingkan senyum tipis saat melihat Sakura sudah mulai beranjak dari tempat duduknya. Sambungan telepon belum terputus, wanita itu masih berjalan pelan—entah ke mana dengan bahu yang bergetar. Ia terisak, "A-Aku mengaku salah, Sasuke-kun…"

Tak Sakura pedulikan tatapan aneh orang-orang yang dilemparkan kepadanya. Memang saat ini Sakura terlihat buruk—oh, ayolah. Seorang wanita berjas putih yang sudah terlihat gagah malah menangis sesunggukan sambil memegang telepon. Masih mending ponsel yang dipegang miliknya, ini milik orang.

Tujuannya hanyalah satu. Ia ingin menyusul Sasuke ke parkiran, ia ingin menyelesaikan semuanya. Sudah cukup enam tahun ini ia (dan anak-anaknya) tersiksa. Ia ingin hidup bahagia, bukankah semua orang ingin bahagia? Semua orang memang ingin bahagia dan berhak mendapatkan kebahagiaan itu.

Sakura menggulirkan matanya yang sembab ke segala arah. Fokusnya hanya satu. Pria berjas hitam yang tengah berdiri di depan sebuah mobil sport putih. Pria itu, Uchiha Sasuke. Mungkin ia tidak melihat Sakura—karena posisinya membelakangi wanita itu. Secara perlahan, Sakura mendekati Sasuke. Yaampun, laki-laki itu hanya diam saja sedari tadi. Tidak membalas permintaan maaf—yang susah-susah dilontarkan Sakura.

Astaga, punggung Sasuke… Sejak kapan punggungnya terlihat sekokoh ini? Sakura terisak pelan, "Aku benar-benar mengaku salah, maafkan aku…" tuturnya masih dengan ponsel Karin di telinganya.

Detik berikutnya, Sakura hanya bisa mematung kala Sasuke membalikkan badannya dan merengkuh tubuh wanita itu dengan kuat. "Berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi," bisiknya rendah.

Perlahan tapi pasti, Sakura membalas pelukan pria itu. "Aku berjanji, Sasuke-kun…"

"Jangan pernah bertingkah egois begini lagi. Pikirkan perasaanku, bodoh. Ingat, ini bukan hanya tentang dirimu," Sasuke mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan, "Ini tentang kita."

Sakura mengembangkan senyumnya, ahaha lucu sekali—seorang Uchiha Sasuke bisa berkata seperti itu. "Iya, aku tahu. Ini tentang kita." Kemudian wanita itu terkekeh pelan.

"Apa ada yang lucu?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar kesal.

"Tidak, aku hanya cukup terkejut. Ternyata om-om brutal sepertimu bisa berkata seperti itu."

Malas menanggapi ocehan wanitanya barusan, iapun hanya memberikan respon andalannya. "Hn."

"Ah iya, Sakura. Hari Minggu besok, persiapkan dirimu." Lanjutnya kemudian.

Wanita berambut merah muda itu mendongakkan kepalanya, "Hah? Untuk?"

"Pernikahan kita."

.

.

.

END

Balesan review buat yang nggak login:

jillia: Aaaaa terima kasih :"))) ini udah lanjut yaa, semoga nggak mengecewakan :"D

Jeffira Ridhany: Apakah kita saling mengenal? :| wkwk itu nggak frontal jejeee-_- tadinya kan mau dibikin lebih frontal biar renyah :33

Always sasusaku: Waaa terima kasih :D hehe, aku memang sengaja soalnya lagi ngga mau buat yang galau-galau banget XD hehehe, iya memang kecepetan ternyata ;-; di chapter inipun juga… wkwk

Tsuki: Terima kasih, terima kasih, dan terima kasiiih :"DD maaf nggak bisa update kilat ;-;

CLOUDS- Chan: Hai^^ terima kasih yaa :) ini udah lanjut, eh btw manggilnya Rima aja ;;)

NE: Ahaha, yaa abis gimana yaa coba deh laki-laki umur 30 itu dipanggilnya apa kalo bukan om-om? XD padahal Saku juga udah bisa dipanggil tante ya XD maaf nggabisa cepet ;-;

rosev: Terima kasih :) hmm, kenapa berhenti tiba-tiba? Ya wajar dong namanya juga fic bersambung XD ngehehehe~ :3

chii no pinkycherry: Aaaah, ini udah lanjut :" maaf lamaa hehehe :$

cheryxsasuke: Waaa terima kasiih ;;) huaa maaf, anak-anak mereka nggak melakukan apa-apa :( tadinya aku mau bikin kaya gitu tapi… nanti ceritanya jadi panjang dong hehe maaf yaa chapter 2 jadinya begini m(_)m

Yang ada akunnya, cek pm-nya yaaw :33

A/N: Ah nggaktau aaaaaaaaaaaah *ngumpet dalem pelukan Sasuke* Yaampun aku nggakbisa bikin ending yang epic aku malah bikin agak ngegantung.-. T^T huahuahuaaaaaaaaaa Jejeee maaf Je, kalo last chapter-nya begini :((((( Maaf juga buat semua yang bacaaa, kalo mengecewakan huaa maklumi saya yang masih terserang wb ini yaaa ;-; Sumpah, aku ngerasa aduh serba kekurangan banget iniiii ;-;

Terima kasih banget buat yang udah review, fave, follow, dan baca cerita inii :") hehehe sekali lagi maaaaf banget kalau mengecewakan m(_)m Hmm, setelah ini enaknya fic mana duluan yang mau di-update? Kuusahain deh :")

Special thanks for reviewers chapter 1 :"):

Shin 41, jillia, srzkun, Natsuyakiko32, Jeffira Ridhany, BlueSnowPinkIce, Rannada Youichi, UchiHarunoKid, sonedinda, Tomat-23, Always sasusaku, Neko Darkblue, hanazono yuri, Tsurugi De Lelouch, Rosachi-hime, CherRyeowook, NamikazeMiNaru, Tsuki, Nina317Elf, CLOUDS- Chan, NE, rosev, Khaylila Paradis, desypramitha2, furiikuhime, SugarlessGum99, Hasegawa Michiyo Gled, chii no pinkycherry, WonderWoman Numpak Rajawali, emerallized onyxta, cheryxsasuke.

Yang lain nyusul yaa kalo ada hehe^^ maaf kalo ada yang kelewat~

Mind to RnR minna-sama? Arigatou :"33