-3 bulan kemudian-

"O.. Ohayou otou-san."

"Ohayou Sakura-chan."

"A.. Ano.."

"Ya? Adaapa Sakura-chan?"

"Bento.." ucap gadis bersurai pink yang dipanggil Sakura itu memberikan 2 buah kotak makan kepada Kakashi.

"Arigatou Sakura-chan.. Akan aku berikan pada Kurenai nanti." Ucap Kakashi yang mengerti dengan maksud Sakura. Awalnya sangat sulit bagi Kakashi mendekati Sakura, untuk membuat gadis itu mau berbicara dengannya, butuh waktu satu bulan untuk mendekatinya dan 1 bulan untuk mendapat kepercayaannya hingga Kakashi dapat dekat dengan Sakura. Dan itu semua berkat bantuan Kurenai yang datang setiap hari untuk ikut membantu mengurus Sakura serta barang-barang yang dibutuhkan Sakura. Satu bulan terakhir digunakan Kakashi untuk melatih Sakura serta melakukan misi keluar desa hingga hokage secara langsung mengangkat Sakura menjadi angota anbu termuda sepanjang sejarah dunia ninja. Akan tetapi mengingat usia Sakura yang masih sangat muda, hokagepun memutuskan untuk menyekoahkan Sakura ke akademi ninja walau hal itu tidak dibutuhkan Sakura tetapi dia membutuhkan kemampuan untuk bersosialisasi dan belajar untuk menghilangkan traumanya sambil mengingat kembali masa lalunya.

"Umm!"

"Sekolah hari pertama. Bersenang-senanglah ya." Ucap Kakashi tersenyum.

"E.. Eto.."

"Hum? Sakura-chan.. Hari ini aku ada misi keluar desa bersama Kurenai-san dan baru akan kembali besok. Apa kamu baik-baik saja sendiri? Atau aku perlu memanggilkan Anko-sensei, Asuma-sensei atau Guy-sensei untuk menemanimu?"

"Tidak.. Aku tidak apa-apa sendiri.."

"Sakura-chan.."

"Ya?"

"Bisa kemari sebentar?"

"Ada ap.."

"Sakura-chan.. Berbohong itu tidak baik. Sampaikan saja apa yang ada di hatimu." Ucap Kakashi memberikan pelukan hangat pada gadis kecil itu.

"Umm.. Kalau hanya satu hari aku bisa sendiri." Ucap Sakura tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa segera cari mereka bertiga ya." Ucap Kakashi mengusap kepala Sakura. Bukan tanpa alasan Kakashi berkata demikian, karena terakhir kali ia meninggalkan Sakura, gadis dalam keadaan mengamuk dan hampir tewas diburu ninja dari desa bunyi.

"Humm.. Aku sudah bukan anak kecil lagi." Ucap Sakura cemberut.

"Humm.. anak usia 5 tahun itu hitungannya masih kecil, Sakura-chan.." ucap Kakashi tersenyum. Memang selama ini sebelum Sakura masuk perguruan ninja, Kakashilah yang melatihnya disaat senggang. Walau sebelum dilatihpun kemampuan Sakura sudah jauh berada diatas rata-rata anak seumurannya, tapi Kakashi tetap melatihnya dan mengajarkan beberapa jurus sulit yang dapat dikuasai gadis itu dengan mudah.

"Baiklah.. Aku berangkat." Ucap Sakura pamit berangkat ke akademi ninja. Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah disana. Walau Sakura sangat tidak setuju dengan keputusan Kakashi untuk menyekolahkannya, dia tidak dapat berbuat banyak karena disatu sisi dia berhutang nyawa pada Kakashi dan disisi lain dia sangat menyayangi Kakashi.

"Jangan nakal." Ucap Kakashi menatap Sakura, menepuk kepala gadis itu ringan.

"Aku tau." Ucap Sakura cemberut.

"Baiklah. Aku pergi dulu." Ucap Kakashi yang detik berikutnya menghilang.

"Kenapa repot-repot menyekolahkannya?"

"Oh.. Asuma.."

"Aku tidak pernah dengar seorang anbu bersekolah di akademi ninja sambil menjadi anbu. Bukankah hal itu dapat membongkar rahasianya sebagai anbu?"

"Dia mungkin memang anbu. Tapi tetap sajakan dia masih kecil."

"Jadi?"

"Ini untuk mengatasi traumanya serta melatih kemampuan sosialisasi dan kemampuan menyembunyikan identitasnya."

"Oh.. Kurenai.."

"Baiklah. Kami pergi dulu. Aku titip Sakura padamu, Guy, dan Anko." Ucap Kakashi sebelum dia dan Kurenai pergi dari desa.

"Tenang saja." Ucap Asuma santai.

"Asuma.."

"Ada apa lagi Kurenai?"

"Jangan coba-coba merekok di depan Sakura, atau dia akan membunuhmu." Ucap Kurenai memperingatkan.

"Hah.. Iyaaa.." jawab Asuma bosan.

-akademi ninja-

"Baiklah.. Selamat pagi semuanya. Hari ini hari pertama kalian berada di akademi ninja. Aku Iruka akan menjadi guru kalian hingga ujian chuunin tahun besok. Baiklah. Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, lebih baik kita mulai dengan perkenalan. Dimulai dari baris paling depan hingga belakang ya."

"Hah.. Merepotkan.. Apa-apaan kelas ini. Membosankan sekali. Pulang nanti sebaiknya aku berbelanja kebutuhan bulan ini. Aku yakin otou-san lupa lagi membeli keperluan bulan ini. Selain itu aku juga harus membeli beberapa barang."

"ra-san.. Sakura-san?"

"?!"

"Bisakah kau perkenalkan dirimu?"

"Har.. Hatake Sakura. Sakura." Ucap Sakura memperkenalkan dirinya.

"Baiklah.. Kita mulai pelajaran hari ini."

"Kenapa.. Kenapa aku hampir salah menyebutkan margaku sendiri.. Haruno.. Kenapa aku merasa marga itu tidak asing ditelingaku."

"Baiklah.. Sampai disini ada yang ingin ditanyakan?"

"Sensei.. Aku dengar bocah yang dibelakang itu monster yang dulu bersembunyi di rumah di dekat hutan terlarang. Apa itu benar?"

"Aku rasa pertanyaan itu tidak berhubungan sama sekali dengan pelajaran, Yamanaka. Baiklah. Karena kalian tidak mempunyai pertanyaan kelas dibubarkan. Besok kita akan belajar melempar kunai dan shuriken, jadi jangan lupa membawa senjata kalian. Kelas dibubarkan."

-sore harinya, taman bermain-

"Ungh.. uhuk.. hiks.. hiks.. Berhentilah menangis.. Dasar bocah lemah! Kenapa kau terus-terusan menangis dan lemah!"

"Kau.. Baik-baik saja?"

"?!"

"Kau terluka.."

"Ka.. Kau.."

"Humm? Kau Uzumaki-san benar?"

"Ha.. Hatake-san.. Kenapa kau bisa tau namaku?"

"Karena aku ada dikelas pagi ini."

"Aku pikir kau sibuk dengan duniamu dan tidak mendengarkan sama sekali sesi perkenalan. Lalu.. Panggil aku Naruto saja.."

"Naruto.. Bisa aku lihat lukamu?" ucap Sakura menatap Naruto.

"A..Apa yang.."

"Aku bisa sedikit mengobati luka dengan memusatkan chakraku. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak pulang? Orang tuamu pasti mencarimukan.."

"Aku.. Tidak ada yang akan mencariku.. Aku tidak punya orang tua. Aku ini monster yang ditakuti seluruh desa." Ucap Naruto tertunduk.

"Aku rasa itu tidak benar."

"Apa maksudmu?"

"Seorang monster tidak akan menangis disaat ia merasa kesepian dan tersakiti. Sudah.. Sudah tidak sakitkan?"

"Ah?! Ap.. Apa yang terjadi padamu?!" ucap Naruto yang baru menyadari kondisi lawan bicaranya setelah ia menganggkat kepalanya berniat berterima kasih.

"Ini sudah biasa terjadi padaku. Bukan hal besar." Ucap Sakura tenang.

"Apa.. Apa warga desa yang melakukannya padamu?" ucap Naruto memberanian diri bertanya.

"Segeralah pulang Naruto." Ucap Sakura bangkit dari duduknya.

"K.. Kau baik-baik saja?" tanya Naruto menangkap tubuh Sakura yang limbung dan hampir terjatuh.

"Aku baik-baik saja. Aku pulang dulu. Selamat malam. Sampai jumpa besok." Ucap Sakura membungkuk pamit.

"Sakura-chan."

"Hum?"

"Te.. Terima kasih." Ucap Naruto lagi.

"Hum.. Bukan masalah besar." Ucap Sakura tersenyum ringan kemudian melangkah pergi meninggalkan Naruto yang juga tersenyum kecil.

-besoknya-

"Hatake-san?! Apa yang terjadi padamu?"

"Aku hanya terjatuh dari tangga. Bukan masalah besar Iruka-sensei." Ucap Sakura saat Iruka menyadari luka yang masih belum sembuh benar di pelipisnya dan segera menutupnya dengan anak rambutnya.

"Baiklah. Hari ini aku akan menilai kemampuan melempar kunai dan shuriken kalian. Silahkan maju sesuai nama yang aku panggil.

"Ha'i."

"Uchiha Sasuke?"

"Hari ini otou-san pulang. Aku harus memasak apa malam ini? Hah.. Dia pasti akan pulang dengan banyak luka. Aku harus mempersiapkan chakraku. Lalu juga aku harus menyiapkan air hangat untuk berendamnya nanti." Sakura yang sibuk dengan alam pikirannya tidak memperdulikan teman-temannya yang tengah sibuk melemparkan kunai dan shuriken. Hingga lamunannya pecah saat mendengar Iruka memanggil namanya.

"Hatake Sakura!"

"Hah.. Aku hanya harus melemparkan kesepuluhnya kearah targetkan?" ucap Sakura memandang Iruma sambil memutar 2 buah kunai di jarinya.

"Yep.. disana ada 2 target. Satu target untuk 5 buah kunai dan target yang satunya untuk 5 buah shiruken." Terang Iruka.

"Aku hanya butuh satu target." Ucap Sakura tenang dan mulai melemparkan kunai dan shurikennya.

"Ti.. Tidak mungkin.." ucap Iruka takjub dengan hasil Sakura. Semua senjata yang ia lemparkan tepat mengenai tengah.

"Sakura-chan! Tadi itu hebat sekali."

"Ah.. Naruto-san.."

"Hah.. Aku hanya bisa melemparkan tepat satu saja." Keluh Naruto.

"Kau bisa. Yang harus kau lakukan hanyalah lebih berkonsentrasi pada targetmu, tepat dititik tengahnya. Tarik nafas yang dalam dan rilekslah sebelum melempar." Ucap Sakura santai.

"Hah.. Mudah bagimu untuk berbicara begitu. Konsentrasi adalah satu hal yang mustahil dapat aku lakukan."

"Tidak ada yang tidak mungkin. Semua hanya berada dikepalamu saja." Ucap Sakura lagi.

"Hah.. Kau terlalu tenang Sakura-chan. Aku takjub padamu."

"Anak-anak berkumpul! Aku akan bacakan grup untuk berlatih melempar kunai dan shuriken besok." Ucap Iruka memanggil murid-muridnya.

"Ayo Sakura-chan." Ucap Naruto mengulurkan tangannya bermaksud membantu Sakura yang tengah duduk bersandar dipohon untuk berdiri.

"Terima kasih."

"Kelompok terakhir.. Inuzuka Kiba, Nara Shikamaru, Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke dan Hatake Sakura. Mulai besok kalian akan berlatih dengan kelompok kalian dan minggu depan aku akan melakukan penilaian terakhir pada kalian. Sekian kelas hari ini. Silahkan bubar."

"Hah.. Ini akan sangat merepotkan." Keluh Shikamaru berjalan pergi dari tempat itu.

"Sakura-chan!"

"Ya?"

"Kau mau pulang?"

"Humm."

"Nee.. Sakura-chan.. Aku bo.."

BRUK

"Hey bocah monster!"

"Tch.." Naruto hanya bisa menatap jengkel kumpulan bocah laki-laki yang mengerubunginya itu. Detik berikutnya Naruto berusaha melindungi kepalanya dari lemparan batu yang diarahkan padanya.

"Hentikan." Sakura yang entah kerasukan apa menahan pergelangan tangan salah satu bocah yang akan melempar batu.

"Memangnya kau siapa menyuruhku berhenti.. Oh.. Aku tau.. Kalian berdua bocah monster itukan? Pantas saja kalian saling menjaga. Hahahahaha."

"Hentikan.."

"Memangnya kau mau apa kalau aku tidak berhenti?"

"Hentikan atau aku akan memisahkan badan dan kepalamu dengan sekali tebas." Ucap Sakura yang entah sejak kapan telah mengarahkan kunainya keleher bocah itu,

"Ah.. Saku.. Hey!"

"Asuma-san.." ucap Sakura dengan tenang menatap pria yang berada dihadapannya itu.

"Apa yang terjadi disini?"

"Sakura-chan hanya berusaha melindungiku. Ini bukan salahnya." Ucap Naruto cepat membela Sakura.

"Hah.. Sakura simpan kunaimu. Kalian pulanglah. Bukannya sudah berkali-kali aku bilang untuk tidak menyakiti Naruto?"

"Maaf sensei."

"Hah.. Dasar anak-anak sekarang didikan orang tua yang suka menggosip ya begini." Keluh Asuma membakar rokoknya.

"Asuma-san.. Itu tidak baik untuk kesehatan." Ucap Sakura yang entah sejak kapan sudah menyambar rokok Asuma.

"Hah.. Sakura.. Ayolah.. Aku tidak akan merokok didepanmu.." ucap Asuma menatap Sakura yang tengah memainkan kotak rokoknya.

"Hah.. Jadi ada apa Asuma-san?" tanya Sakura yang mengembalikan kotak rokok Asuma.

"Aku hanya menyampaikan kabar dari Hokage bahwa Kakashi dan Kurenai tidak jadi kembali hari ini."

"Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak tidak.. Ini hanya misi tambahan. Karena mereka satu arah jadi mereka langsung ditugaskan."

"Um.. Baiklah.."

"Hati-hati." Ucap Asuma yang melihat Sakura melangkah pergi disusul Naruto.

"Sakura-chan?"

"Ah.. Tadi kau ingin bicara apa Naruto-san?"

"Aku ingin minta tolong diajarkan cara melempar yang benar. Tapi sepertinya kau sibuk." Ucap Naruto diakhiri senyum lebarnya.

"Tidak.. Aku tidak sibuk.. Ayo kita berlatih." Ucap Sakura cepat.

"Yosh! Arigatou Sakura-chan." Ucap Naruto senang.

TBC