Ahhhh, aku balik lagi kali ini aku mengupdate pertama kali di Ficku yang baru dengan judul yang berlebihan dan ahh ya jika ada yang tanya apakah musuh di Game God Hand di masukan? Yah macem si Gendut atau pak tua gaje? Tentu saja adalah tapi, kematian mereka masih sangat panjang dan juga aku belum siap atau memunculin para karakter itu dalam waktu dekat yah, rencana ada tapi, aku belum merealisasikannya tapi, adakah beberapa dari karakter yang akan mati? Tentu ada tapi, untuk Elite 9 kubuat hidup sampai seri AGKZ berakhir dengan kata lain mereka bakal muncul lagi sesudah Akame masuk Night Raid yah, intinya musuhnya sama Di manga hanya saja jalan cerita gak kubuat semirip mungkin dan ada character OC nantinya yah, begitulah.
Soal pair ini mungkin TatsumixHarem? Yah ada beberapa yang sudah kutambahin dan ada yang tidak tapi, suatu saat aku akan meminta pendapat kalian jika, ada seseorang yang kumasukin Harem Tatsumi intinya, aku bakal tanya dan minta mendapat soal pair yang aku sebutkan ada yang single? Tentu saja adalah tapi, ini masih fokus ke haremnya dulu yah gak semua wanita kumasukin kedalam Haremnya Tatsumi jadi, dia bukan tipe orang yang sangat serakah sekali wkwkwkwjw!
Seperti biasa Akame Ga Kill bukanlah milik saya sama sekali.
.
...
.
- 8 Tahun kemudian( Gunung Rousei )
Sudah 8 tahun berlalu semenjak kejadian di hutan waktu iti Tatsumi Hidup sebagai pembunuh bersama teman-temannya yang membentuk sebuah tim pembunuh Kerajaan yang di sebut Elite 9 dan sesuai namanya berarti mereka beranggotakan 9 Anak terbaik dengan kempuan membunuh mereka yang sekarang di didik Oleh Gozuki atau yang sering mereka panggil dengan sebutan Ayah.
Tatsumi awalnya sempat ingin keluar dari tim itu karena, kenyataanya dia harus membunuh seseorang namun, Gozuki memberitahu tentang semuanya dari Hal kecil dan besar bahwa selama Kerajaan belum damai dan Tentara Revolusi masih ada dan memberontak maka mereka akan tetap seperti itu.
Tatsumi faham apa yang di maksud kejadian ini sama dengan keadaan desanya yang di hancurkan oleh pasukan bandit dan juga karena itulah hidup dia yang bahagia dulunya kini menjadi sangat keras namun, sekarang dia sudah terbiasa membunuh seseoramg walau dalam hati rasanya masih tak tegaan.
Di Elite 9 dia berteman baik dengan semuanya di sini ada lelaki yang agak tinggi darinya, berambut putih dengan mata berwarna kuning emas dia bernama Najasho orang pintar dengan perawakan kalem dan tak panik di setiap saat yang selalu membaca buku.
Dan satunya seorang Gadis berambut kuning panjang sepantat, dengan mata berwarna biru yang bernama Cornelia dia tipe orang yang selalu ceria dan terkadang mudah bersahabat dengan yang lain tapi, dia tak suka dengan sikap mesum.
Seorang Gadis yang sama tinggi dengannya, dengan rambut pendek coklat muda sebahu, dengan mata kuning kecoklatan, bernama Tsukushi tipe orang yang santai dan juga memiliki wajah imut.
Dan seorang gadis kecil dengan postur tubuh agak tinggi, dengan rambut Auburn,dan mata Jingga, dengan gaya kuncir ekor kuda bernama Poney dia tipe yang selalu bersemangat dalam melakukan apapun.
Dan laki-laki berbadan agak besar yang agak dewasa darinya, berambut coklat tua dengan bekas tanda luka X di pipi kiri, dan bekas luka sayatan pisau di pipi kanan bernama Guy yah pria yang selalu terobsesi dengan Cornelia yang selalu menyatakan cinta tapi, di tolak dan juga dia punya Sifat mesum.
Yang terakhir, seorang lelaki berambut pendek hitam, mengenakan kacamata, bernama Green yang memiliki sifat tenang, dan terkadang terlihat panikan sama seperti Guy yang memiliki sifat mesum hanya saja dia bukan tipe orang yang memperlihatkan kemesumannya di depan umum.
"Ah! Hanya mimpi masa lalu" Akame membuka matanya sehabis tertidur di tanah dia menoleh ketika ada Harimau besar yang mau menerkam dirinya "huh, hampir saja!" dia menghela nafas dan dengan mudah membunuhnya dengan sekali tebas.
"Nee-chan!" Panggil Kurome dia melambaikan tangannya dia tengah menyeret seekor burung Kalibri yang sudah tak bergerak "aku mendapat satu" kakak beradik itu memeluk satu sama lain.
Setelah itu mereka melepaskannya dan juga mereka tak mau berlama-lama seperti ini karena, Takutnya Gozuki mengetahuinya dan mereka berdua akan di pisahkan yah, ini berkat Tatsumi sendiri yang secara tak sengaja menguping pembicaraan ayahnya itu dan memberitaukannya. Sontak Kakak beradik itu shock kini mereka membuat kesepakatan untuk tidak menunjukan kebersamaan mereka di depan Gozuki sementara di belakang mereka kembali normal seperti kakak beradik pada umumnya.
"Nah, Tatsumi bagaimana denganmu?" Tanya Akame dia melihat lelaki itu yang berdiri agak jauh darinya "kau mendapatkan sesuatu?"
"Sudah sedari tadi" Jawab Tatsumi masih bisa mendengarnya di belakangnya Tiga ekor banteng besar dan sebuah ikan Tuna yang dia panggang tak lupa dengan berbagai sayur dan buah di keranjangnya "kalian berhasil juga rupanya" dia tersenyum lalu Sweatdrop melihat kakak beradik ini sudah mengelilinginya dengan air liur menetes.
"Kalian bertiga hebat juga rupanya" Puji Najasho duduk di batu dengan membaca buku "tidak seperti idiot ini yang sedari tadi belum dapat sama sekali" dia menunjuk seseorang di sungai.
"Heii! Enak saja!" Protes Poney yang muncul dari sungai dia tak suka dirinya dipanggil Idiot "selain itu aku tak yakin ada sesuatu di sini karena, sekarang bukan musim ramainya" dia menoleh kesana-kemari.
"Meski bukan musimnya, seharusnya adalah satu atau dua ekor" Balas Najasho tetap kalem "selain itu kau belum dapat sama sekali bukan?"
"Ya! Ya!" Poney membalasnya dengan nada bosan jika berargumen dengan Najasho akan menghabiskan banyak waktu dia merasakan sesuatu di dalam air "ahh, aku dapat satu" dia menoleh dan melihat Buaya besar yang mau mencaploknya tapi, Gadis itu dengan mudah menendangnya.
"Hmmm, kau dapat yang lumayan besar Poney" Ucap Tatsumi menyeret buruannya dengan wajah tak senang.
"Ada apa denganmu?" Tanya Najasho melihat wajah melas rekan satu tim Tatsumi hanya menunjuk di mana kakak beradik itu memakan tuna panggang yang telah susah payah dia dapatkan "oh, aku tau" dia sudah tak heran jika melihat itu.
"Yah, itu tangkapan besar menurutku tapi, aku masih kalah darimu Tatsumi" Balas Poney keluar dari sungai "yah, setidaknya tangkapan ini membuat ayah akan bangga" dia menggeraikan rambutnya.
"Yah setidaknya itu lumayan cukup" Najasho menutup bukunya dan beranjak dari tempat duduknya "dan juga yang ini kau vawa karena, ini hasil tangkapanmu" dia berlalu pergi.
"Eh,eh, kau jangan seenaknya saja Ketua!" Teriak Poney kesal "kau sedari tadi tak melakukan apapun dan hanya diam duduk saja dengan buku itu!" tapi, Najasho hanya mengabaikannya.
"Biarlah, dia memang seperti itu" Ucap Tatsumi menghibur gadis itu "sini, jika kau tak keberatan biar kubawakan saja" dia langsung menarik buaya besar itu dan berjalan mengikuti Najasho.
"Yeay! Kau yang terbaik Tatsumi!" Poney berteriak senang "baiklah, biar kubantu juga!" meninggalkan kakak beradik itu.
"Hei, Kalian jangan tinggalkan aku!" Teriak Akame mengejar mereka.
"Tatsu-nii kau jahat meninggalkan Nee-chan!" Sambung Kurome mengikuti kakaknya.
Sementara itu tak jauh dari posisi mereka di dekat tebing Green dan Guy tengah mencari sesuatu yang di jual dan Guy menembakan sesuatu dari dadanya ke arah bebatuan itu dan hancur.
"Bagaimana Green, kau dapat sesuatu?" Tanya Guy.
"Tunggu sebentar!" Green tengah mengamati sebuah permata "hmmm, ini Asli dan kau mendapatkannya Guy" dia memberikan permata itu.
"Yosh, memang menyenangkan jika menambang terlebih lagi jika, mendapat pointnya!" Guy terus menghancurkan bebatuan di sekitarnya "dan aku akan bersenang-senang dengan uang yang dihasilkan hahaha!"
"Jangan, bilang kau akan ke tempat Pelacuran itu lagi" Ucap Green dia sudah tau kebiasaan buruk kawannya ini "terus bagaimana dengan Cora? Bukankah kau menyukainya?"
"Hmmp! Dia selalu menolakku meski aku berulang kali menyatakannya" Guy mendecik kesal "hei, kau mau ikut denganku ke tempat itu? Mungkin saja ada sesuatu yang menarik"
"Tidak, terima kasih itu hanya tempat Pelacur tua" Green menolak tetap terus mencari sesuatu "heh, aku tak begitu peduli setidaknya aku akan mencari hingga di tambahkan ke dalam koleksiku"
"Heh, ya sudah jika kau tak mau" Ucap Guy berlari ke arah lain sambil berteriak "dan sampai jumpa Perjaka!"
"Sudah menambangnya Green?" Tanya Cornelia dia membawa keranjang berisi buah-buahan "dan juga kita sudah memenuhi Kuota kita jadi, ayo pergi"
"Cora? Tsukushi? Kalian tampaknya mengumpulkan sayuran rupanya" Ucap Green melihat kedua gadis itu "tapi, bukankah itu takkan di makan oleh yang lain? Yah kalian tau sendiri pola makan mereka terlebih lagi Kurome dan Akame!"
"Mungkin kalian takkan menjaga pola asupan nutrisi kalian jika tak ada aku yang melakukan inisiatif sendiri" Ucap Cornelia dengan nada resah "apalagi kalian hanya suka makan daging dan ikan" yah, dia pernah memasak sayuran tapi, itu tak di makan sama sekali oleh kawan-kawannya kecuali Tatsumi yang memakan semuanya tanpa pilih-pilih tapi, Cornelia cukup senang melihat itu.
"Untuk mereka yah, aku pernah membujuk mereka tapi, mereka sulit mengendalikan pola makan mereka" Sambung Tsukushi dia pernah menyarankan pola diet ke kedua kakak beradik ini namun, yah mereka jadi liar jika keinginannya tak terlaksana sampai-sampai Tatsumi yang kerepotan menenangkan mereka berdua.
"Ngomong-ngomong Apa, Guy tadi menambang di sini juga?" Tanya Cornelia tak melihat lelaki besar itu.
"Yah, dia sudah pergi dulu" Jawab Green "tapi, dia ngambek karena, kau tak menerima cintanya"
"Tch, dia memang selalu seperti itu" Cornelia memasang wajah bosan "selain itu aku tak suka orang mesum atau lebih tepatnya aku tak suka dengannya aku lebih menganggapnya sebagai teman tak lebih!"
"Hmm, kau cukup terkenal Cora!" Tsukushi tersenyum menggoda "atau, kau memang tak menyukainya karena, ada seseorang yang lain di hatimu huh?" dia tau siapa yang disukai temannya ini dan Cornelia hanya blush mendengarnya.
'Belakangan ini Mereka sekarang bertambah feminim dan aku bisa mengerti kenapa Guy bisa terangsang setiap hari' Green menatap dada kedua gadis itu dengan ekspresi mesum 'ini cukup sulit karena, mataku tak bisa berhenti menatapnya! Fufufu!' Kedua gadis itu hanya Sweatdrop melihatnya.
.
.
.
.
.
- Markas Elite 9
"Kalian semua hebat, dan tampaknya kalian menjalaninya dengan lancar" Puji Gozuki duduk di sofa dia memegang sekantung yang berisi Emas "kalian tampaknya sudah menguasai keterampilan sosial menghasilkan uang"
"Penduduk desa di sana baik selain itu mereka menambahkannya tanpa meminta apapun!" Ucap Poney diantara yang lain dia paling energik.
"Yah, yang adanya orang baik pastinya ada juga orang jahat" Ucap Gozuki dengan nada serius "dan orang-orang jahat itulah yang menyeret orang yang tak bersalah untuk ikut andil dalam masalah mereka dan kalian sudah melakukannya dan sekarang ini misi pertama kalian membunuh Seseorang yang akan dilakukan besok!"
Semuanya bersorak kegirangan Minus Tatsumi yang sudah biasa melakukan hal seperti ini yah dari Ke Elite 9 hanya dirinyalah yang sudah pernah membunuh banyak orang alasannya karena, Gozuki mempercayakan sepenuhnya kepada anak itu soal misi rahasia yang bisa di bilang cukup Ekstrim untuk anak seperti dirinya tapi, entah kenapa Mukjizat masih ada bersamanya sampai sekarang.
Gozuki memilihnya sebagai anak pribadi karena, dia bisa melihat Tatsumi dengan potensi membunuh yang sangat hebat, dan Insting merasakan kehadiran hawa musuh yang cukup tajam, dan gaya berpedang dan menembak yang seperti Pro padahal untuk anak umuran sepertinya akan sangat mustahil plus tambahannya di lihat wajah anak itu yang cukup Inoncent dan terlihat tak memiliki Hawa membunuh tapi, itu hanya topeng saja yah, intinya Tatsumi spesial dari Elite 9 lainnya.
"Baiklah persiapkan diri kalian dan besok aku akan memberi kertas perintah kalian" Gozuki berlalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Elite 9 di sana.
"Ngomong-ngomong misi seperti apa yang akan di lakukan?" Tanya Tsukushi dia tampak tertarik.
"Ayah bilang membunuh jadi sudah jelas objeknya mungkin manusia" Jawab Najasho yang kembali membaca bukunya.
"Yah, kupikir ini menyenangkan nantinya" Akame tersenyum.
"Menyenangkan jika berhasil tapi, akan jadi malapetaka jika gagal" Sambung Green raut wajahnya terlihat serius.
"Jika, ini misi membunuh itu berarti target kita adalah seseorang yang tak kita duga" Sambung Tatsumi bersandar tembok semuanya melirik ke arah lelaki itu "yah, bisa saja seseorang yang kau kenal, atau yang dekat denganmu intinya siap atau tidak kau harus menerimanya karena, saat membunuh seseorang kau harus mengorbankan perasaan kasihanmu" dia memberi buah Cherry kepada Kurome.
"Yah, ucapan Tatsumi benar" Najasho mengangguk setuju "ini juga menguji mental kita juga sanggupkah kita untuk melakukan ini" mereka semua tak tau bahwa Tatsumi sudah sering melakukannya.
"Yah, sebaiknya kita istirahat untuk mengisi tenaga besok hoamzzz! Selamat tidur" Tatsumi berjalan ke tempat tidurnya dan meninggalkan mereka berdelapan di sana.
"Hei, Akame kau yang paling dekat dengan Tatsumi apakah kau tau tentangnya?" Tanya Cornelia ke gadis berambut hitam itu entah kenapa dirinya ingin tau sekali terhadap lelaki bermata emerald ini.
"Hmm, aku tak tau banyak tentangnya" Jawab Akame dia juga ingin tau juga tentang Tatsumi seseorang yang telah banyak membantunya dan adiknya "Aku pernah menanyakan ini tapi, Tatsumi langsung berbicara mengalihkan topik" dia pernah berbicara berdua berkali-kali tapi, ketika dia menanyakan itu buru-buru Tatsumi mengalihkan topik.
"Hah, kalian ini tidak mengerti soal Privasi orang lain" Najasho menghela nafas dia tetap dalam mode membaca "dia bukan tak mau hanya saja mungkin belum saat yang tepat" semuanya setuju.
"Tatsu-nii!" Guman Kurome.
"Tunggu, kau kenapa?" Tanya Tsukushi melihat Guy yang dilapisi aura gelap tak menyenangkan.
"Ba-bagaimana bisa dia!" Guy tubuhnya gemetar dengan tangan mengepal "bagaimana bisa dia menarik perhatian Cornelia! Sementara aku yang berjuang disini tak diliriknya sama sekali!" dia tampaknya terbakar api cemburu yang lain hanya bisa pokerface melihatnya.
"Karena, Guy-nii mesum makanya Cora-nee tak suka!" Balas Kurome dengan nada imut walaupun kata-kata itu cukup menyakitkan terdengar dari lelaki berbadan besar itu.
"Yah, Kurome benar jika, kau tak mesum mungkin aku akan sedikit melirikmu" Cornelia mengangguk 'selain itu aku tak bisa membiarkan mereka tau bahwa aku tertarik dengan Tatsumi khususnya Akame di sini'
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Restaurant
Akame mengumpulkan semua ikan-ikan hasil tangkapannya yang cukup banyak yah, ini juga masih kategori misi mencari uang dan memberikannya kepada para chef untuk diolah.
"Terima kasih atas ikan yang kuminta Akame!" Ucap seorang Chef wanita dewasa yang bernama Martha "dan juga ini aku berikan sedikit tambahan untukmu" dia tersenyum dengan sekantung Emas.
"Terima kasih" Akame menerimanya dia membayangkan Masakan yang akan di buat Tatsumi jika misinya mendapat uang lebih dan berhasil karena, lelaki itu tekah berjanji akan membuat yang spesial "Tatsumi... Hehehe, kau hebat!" Dia masih dalam khayalannnya membuat Martha tertawa melihat gadis yang beranjak dewasa ini membayangkan seseorang yang dia suka.
"Hei, Akame karena, kau seorang Gadis kenapa kau tak beli jepit rambut?" Usul Martha dia mengelus rambut gadis itu "dan juga rambutmu sangat indah dan panjang"
"Jepit rambut tak enak seperti Daging!" Protes Akame membuat Martha Sweatdrop "selain itu Tatsumi bilang rambutku lebih bagus tergerai dan panjang seadanya!" dia menambahkan efek blush ketika Tatsumi pernah memuji rambutnya Martha tertawa kecil.
"Ayo, ikut aku!" Martha menyeret Akame ke ruangannya dan menggantikan bajunya dengan Gaun cantik berwarna putih yang terlihat sangat cocok dengannya.
"Kenapa kau memakaikan ini?" Tanya Akame bingung.
"Ini baju lamaku ketika waktu aku muda dan kurasa itu cocok denganmu" Martha tersenyum jahil "selain itu aku yakin pacarmu itu suka melihat penampilanmu seperti ini" dia berkedip genit.
"Tidak.. Tatsumi bukan Pacar!" Akame mengelak tapi, Blush di wajahnya menandakan jelas bahwa gadis itu berbohong yah dirinya tak menyangka menganggap Tatsumi lebih dari sekedar teman dan berharap sesuatu yang lain.
"Oh, ya bagaimana dengan Kurome?" Tanya Martha dia senang melihat gadis kecil itu yang sering kemari dan menganggapnya sudah seperti anak.
"Dia merindukan masakanmu yang enak dan juga dia menganggapmu seperti ibunya" Jawab Akame dia selalu mengajak adiknya kemari di waktu kosong "dan juga juga dia ingin kemari dan bertemu denganmu" jika dia tak misi mungkin dia akan mengajak adiknya.
Martha hanya tersenyum pahit dia tau kedua gadis yang sudah dia anggap sebagai anak memiliki hidup yang keras sekain itu dia tak mungkin seperti ini terus dan ada masa di mana mereka nanti akan bersebrangan jalan.
.
.
.
.
.
- Lokasi yang tak di ketahui
Sekarang Tatsumi sedang tiduran di sebuah batu sementara Guy tampaknya dia terlihat kurang baik itu terlihat di mana tubuhnya terikat dengan terbalik dan mengantung di atas ranting pohon entah kenapa Tatsumi tak menolongnya tapi, tampaknya Guy yang menolaknya tanpa alasan jelas.
"Maaf membuat kalian menunggu" Ucap Akame dia melihat dua rekan setimnya menunggunya "dan kenapa denganmu Guy?" dia sweatdrop melihat lelaki itu di gantung
"Aku terlalu banyak berjudi dan tak punya banyak uang jadinya begini deh" Jawab Guy beralasan padahal aslinya bukan seperti itu 'selain itu aku tak bisa beritau sebenarnya bahwa aku kelebihan di rumah bordil dan tak memiliki uang'
"Tatsumi kenapa kau tak menolongnya?" Tanya Akame melihat lelaki berambut coklat itu "kenapa kau tak pinjaminya uang?"
"Heh, dia yang menolak sendiri" Jawab Tatsumi menghela nafas "dan juga dia tak mau di tolong olehku!" dia memasang wajah tak peduli.
"Hei, hei! Jangan seenaknya menambah cerita yang tak pernah terjadi!" Guy Protes dia tak mau disalahkan di sini "lagipula kau yang tak menawariku meminjam Uangmu"
"Yang, benar saja" Tatsumi menutar bola matanya "dan ngomong-ngomong kenapa dengan pakaianmu?" dia melihat gadis itu mengenak Gaun yang cukup bagus di pakai baginya.
"Yah, aku di berikan ini oleh Martha" Jawab Akame dengan efek blush.
"Wow, terlihat bagus untukmu" Puji Tatsumi membuat gadis itu blush lagi.
"Oh, wanita dari Restaurant itu yah dia memang cantik" Guy menyeringai dan terlihat jelas dia tengah memasang wajah mesum "dan, ngomong-ngomong bisa kalian bantu aku?" dia tersadar bahwa dirinya masih terikat.
*Slashhh
"Yah, selesai!" Tatsumi yang melepaskannya dengan pedang dan Guy sempat Protes karena ingin di bebaskan oleh Akame bukan dirinya "yah, sudahlah kita pergi" dia tetap cuek dengan Protesan Guy.
"Yah, terima kasih" Ucap Guy dengan nada bosan "mungkin setelah ini aku akan hidup dengan benar" dia menatap Gaun Akame dengan ekspresi menjijikannya lagi, Gadis itu mengetahuinya dan memberi hantaman sarung pedangnya.
"Bisakah engkau berhenti seperti itu" Tatsumi Pokerface melihat tingkah kawannya "jika, kau seperti itu terus kau takkan punya pacar!" dia selalu mendengar keluhan Cornelia tentang sifat mesum lelaki itu.
"Huh, hei! Kau bukan ayahku yang berhak mengaturku!" Protes Guy dia sedikit baku hantam dengan Tatsumi namun, kembali seperti biasanya "dan, juga akan kubuktikan padamu! Jika sifatku ini akan membuat Cornelia jatuh hati padaku!" dia berekspresi penuh mimpi.
"Yah, yah, Lakukan apa yang kau mau" Tatsumi tersenyum melihat mimpi antik temannya "selain itu kita harus pulang karena, kita akan terlambat untuk latihannya" dia menyarungkan pedangnya.
"Yah, kau benar" Guy mengangguk "selain itu kita tampaknya kita yang terakhir di sini daripada yang lain" Guy langsung pergi lebih dulu.
"Apa?," Tanya Tatsumi dia ingin menyusul temannya tapi, dia di hentikan oleh Akame "ada yang ingin kau bicarakan secara pribadi?" dia tau jika Gadis ini berbicara berdua saja dia takkan banyak bicara atau menarik Tatsumi ke suatu tempat yang sepi.
"Tidak ada" Akame menggeleng Tatsumi bisa merasakan tangannya di pegang erat oleh Gadis itu "aku hanya ingin kita berjalan bersama saja" dia tersenyum.
"Yah, jika itu maumu ayo!" Tatsumi tak mempermasalahkannya dan menarik tangan gadis itu.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Markas.
"Baiklah, semua tampaknya kalian sudah siap untuk misi ini" Ucap Gozuki turun dari lantai dua "dan ini misi pertama kalian sesuai yang kubicarakan kemarin misi yang kalian bunuh bukan Hewan lagi melainkan hewan jadi, bersiaplah!"
"Yeah akhirnya kita mendapat misi sesungguhnya!"
"Ayo! Tunjukan kekuatan kita di jalan!"
"Kita akan membunuh sekarang!"
"Aku akan berusaha sebisa mungkin!".
" misi pertamaku takkan Gagal!"
Semuanya terlihat sangat senang dan bersemangat Minus Najasho yang tampak tenang, dan Tatsumi yang tak begitu peduli dalam situasi apapun karena, dia sudah berkali-kali melakukannya tak seperti yang lain baru pertama kali.
"Dengan keahlian kalian yang sekarang tak ada satupun dari kalian yang akan kalah dengan orang biasa" Ucap Gozuki dia menoleh ke arah Tatsumi "terutama kau Tatsumi kuharap kau bisa melakukannya dengan benar seperti yang biasa kau lakukan, dan juga kalian semua di lengkapi Shingu" Minus Tatsumi yang tak di beri Shingu karena, dia sudah punya Teigu dan Gozuki pernah menyelidikinya sendiri tapi, dia tak tau jenis Teigu apa yang ada dalam Tatsumi tapi, yang jelas Teigu Tatsumi adalah tipe Api.
"Apa itu Shingu?" Tanya Tsukushi.
Gozuki menjelaskan Shingu adalah sebuah senjata yang di buat Kaisar 400 tahun yang lalu yang sangat ingin membuat Teigunya sendiri tapi, dia menganggap hal itu memalukan karena, Tak ada Senjata yang dapat mengungguli senjata masa lalu dan dia sudah menciptakan senjata yang hampir mendekati Teigu yang diberi nama Shingu meski senjata itu kuat satu-satunya kelemahannya adalah senjata itu tak sekuat Teigu.
"Apa ayah memegang Shingu juga?" Tanya Kurome.
"Tidak, ini adalah Teigu tapi, jika kalian berusaha maka kalian juga akan dapat Teigu sepertiku" Jawab Gozuki memegang Murasame "dan ngomong-ngomong jika, kalian gagal dalam misi pertama aku takkan memaafkan kalian" Semuanya hening dan tak bicara.
"Apakah kita akan di beri sasaran berbeda sesuai dengan petunjuk ini?" Tanya Green memegang sebuah kertas kecil.
"Benar, dan juga kalian akan bekerja sendiri" Jawab Gozuki "dan selain itu kalian akan membuka amplop itu ketika sudah sampai tujuan kalian"
"Dan batas waktunya sampai kapan?" Tanya Cornelia
"Sampai besok dan kalian harus membawa kepala korban yang kalian bunuh dan jangan ada rasa ampun!" Jawab Gozuki 'selain itu kebanyakan dari sasaran mereka adalah orang-orang kriminal jika, ada yang masih hidup kemungkinan mereka akan jadi, objek untuk dapat kebebasan selain itu tak semua sasaran mereka orang-orang kriminal' dia sedikit melirik ke Akame.
'Berusahalah Akame' Batin Tatsumi dia agak tau siapa objek sasaran Gadis berambut hitam panjang itu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.
.
Dan sekarang aku cuman nambahin Harem yah Akame, ama Cornelia saja dan Tsukushi atau Poney aku kurang tau dan nanti Taeko? Entahlah aku akan tanyakan ini jika kalian setuju see ya!
Pm
.
RnR
