Wajah kepala sekolah yang menurut Kyu Hyun tidak seram sama sekali itu menambah pemandangan yang kurang indah untuk Kyu Hyun dan Ki Bum pagi hari ini. Pasalnya, pagi ini mereka diharuskan menghadap guru dengan tingkat tertinggi di sekolah itu bersama dengan wali masing-masing. Sialnya, Dong Hae melupakan surat yang ditemukannya sendiri di kamar Kyu Hyun, dan Kyu Hyun sungguh menyesalkan hal itu.
Suara ketukan pintu terdengar dan kepala sekolah langsung berteriak menyuruh si tamu masuk. Terlihatlah wajah seorang wanita paruh baya yang tidak dikenali Kyu Hyun. Wanita itu menghampiri Ki Bum kemudian duduk di kursi yang tadi ditempati Ki Bum setelah anak itu berdiri dan pamit pergi. Kyu Hyun berdecak sebal. Kalau saja Dong Hae datang, mungkin urusannya dengan kepala sekolah ini selesai seperti halnya Ki Bum.
"Nah, Cho Kyu Hyun mana wali mu?" suara kepala sekolah yang berat dan berwibawa itu membuat Kyu Hyun menoleh kearahnya. Anak itu menggelengkan kepala pelan dengan memasang tampang memelas. Berharap keringanan, eoh?
"Tidak ada?" tanya kepala sekolah lagi.
Kyu Hyun menghela napas berat, kemudian menegakan posisi duduknya. "Mianhae ssaem-nim, Hyung sudah tahu mengenai surat panggilan dari sekolah tapi sekarang dia sedang di rumah sakit," ujar Kyu Hyun dengan nada sesedih mungkin.
"Orang tuamu?"
"Orang tuaku… telah meninggal," jawab Kyu Hyun ragu, ada sedikit rasa bersalah mengingat ayahnya yang memohon maaf kepadanya beberapa waktu lalu di hadapan makam ibunya.
"Ah, sudahlah Cho Kyu Hyun. Kau tak perlu sesedih itu, tak perlu memikirkan mereka yang telah tiada. Mereka akan bahagia di alam sana jika kau menjadi anak yang baik dan tidak membangkang. Kau mengerti?"
Kyu Hyun mengangguk patuh. "Aku akan berusaha. Mohon bantuannya, ssaem-nim."
"Baiklah, kau kembali saja ke kelas. Ini peringatan terakhir untukmu, jangan sekali-kali membolos di tengah pelajaran, mengerti?"
"Mengerti."
"Ah, ya. Semoga hyung-mu lekas sembuh."
Kyu Hyun menyeringai puas mendengar ucapan terakhir kepala sekolah. Lekas sembuh? Ia ingin tertawa sekarang! "Saya pamit," ujarnya singkat kemudian segera pergi meninggalkan kepala sekolah dan wanita paruh baya tadi, membiarkan mereka berbincang. Mungkin tentang kenakalan Ki Bum? Ah, Kyu Hyun tidak peduli, yang penting adalah dia bebas hukuman dengan sedikit acting. Dan mengenai ucapan lekas sembuh untuk hyung-nya itu benar-benar membuat Kyu Hyun tertawa puas. Hei, tadi dia hanya bilang hyung sedang di rumah sakit, dan kenyataannya memang begitu. Lee Dong Hae memang sedang bekerja di rumah sakit, dan bukan sedang sakit.
"Berhentilah tertawa Cho Kyu Hyun!"
Tawa Kyu Hyun terhenti ketika ia melihat Ki Bum berdiri di ujung koridor ruang guru. Ia tersenyum kearah sahabatnya itu. "Ingin mendengar cerita seorang murid yang cerdik?" tanyanya. Tangannya merangkul pundak Ki Bum dan mereka berjalan beriringan menuju kelas.
"Aku tak tertarik. Kau pasti membodohi kepala sekolah lagi."
"Kau berbicara seolah aku adalah murid pembangkang."
"Kenyataannya begitu, kan?"
"Kau benar. Hahahaha."
Empty Heart
Cast:
Cho Kyu Hyun,
Lee Dong Hae,
Kim Ki Bum,
Lee Hyuk Jae,
Park Jung Soo
Brothership Fanfiction
By:
Khy13
Kyu Hyun sedikit terkejut ketika ia melangkah memasuki rumah, Dong Hae terlihat tengah berbaring di atas sofa dengan pakaian seperti yang dipakainnya tadi pagi ketika berangkat ke rumah sakit. Apalagi hyung-nya itu masih menggunakan kaos kaki dan dasi yang terpasang rapi di kerah kemeja abu-abu bergarisnya.
Mata Kyu Hyun beralih menatap jam dinding yang berada di ujung ruangan, matanya sedikit memicing kala penglihatannya sedikit mengabur. Ternyata ini sudah hampir tengah malam. Apa Dong Hae menunggunya?
"Hyung, pindahlah ke kamarmu." Tangan Kyu Hyun sedikit mengguncang bahu Dong Hae hingga hyung-nya itu terbangun.
Dong Hae langsung bangkit berdiri dan melihat jam dinding membuat matanya terbelalak kaget. Ia menatap Kyu Hyun dengan mata memerah, mungkin karena masih mengantuk?
"Kau baru pulang? Kau pikir kau itu siapa bisa ke luar dan masuk rumah seenaknya?!" Dong Hae berteriak kalap, perasaan khawatirnya membuat emosinya sedikit tidak terkontrol.
Berbeda dengan Dong Hae yang berteriak. Kyu Hyun hanya diam, terkesan tidak peduli. Ia berpikir, siapa yang salah disini, siapa yang berjanji akan menjemputnya sepulang sekolah dan ternyata tidak kunjung datang sampai Kyu Hyun hampir membeku kedinginan menunggu Dong Hae menjemputnya.
Kyu Hyun memutar bola matanya, malas mendengar teriakan Dong Hae. Ia mendudukan dirinya di atas sofa dan mulai melepas ikat tali sepatunya.
"Kau mendengarkanku tidak Cho Kyu Hyun! Kau tahu tidak betapa khawatirnya aku, huh? Aku sampai meninggalkan pasien tadi hanya untuk menjemputmu dan kau tidak ada dimanapun! Dan sekarang kau baru pulang? Kau tahu ini jam berapa? Pelajar macam apa kau ini, huh? Bisakah kau menurut pada hyung, Kyu?" Dong Hae duduk kembali, menatap Kyu Hyun yang telah selesai dengan urusan sepatunya.
Sedangkan Kyu Hyun? Anak itu bangkit berdiri, menyimpan sepatunya di rak sepatu yang terletak di dekat pintu masuk, kemudian berjalan santai menuju kamarnya.
"Kyu Hyun, buang kebiasaan burukmu itu, kau harus mendengar apa yang hyung—"
"Asal kau tahu saja, hyung," potong Kyu Hyun dengan suara tenang. "Tepat jam tiga sore, seperti biasa aku sudah selesai dengan pelajaran terakhir. Dan jika kau ingin tahu, aku menunggumu dua jam lebih."
Kemudian pintu kamar Kyu Hyun tertutup sempurna. Meninggalkan Dong Hae yang masih tertegun di tempatnya.
"Tepat jam tiga sore?" gumam Dong Hae. Ia mengacak rambutnya. Sedikit frustasi dengan sikap Kyu Hyun yang seperti itu. Kenapa anak itu tidak marah? Seharusnya Kyu Hyun langsung marah kepada Dong Hae karena telat menjemput. Seharusnya anak itu membantah semua bentakan Dong Hae tadi, bukan hanya diam dan membuat Dong Hae semakin khawatir.
Dong Hae melepas kaos kakinya dan melemparnya sembarang ke atas sofa, kemudian berjalan pelan menuju kamarnya. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya. sampai ia lupa dengan jadwal pulang sekolah Kyu Hyun, dan dengan percaya dirinya dia memarahi Kyu Hyun karena ketika ia menjemput Kyu Hyun, anak itu tak ada di sekolahnya. Padahal, Dong Hae menginjakan kaki di sekolah Kyu Hyun ketika waktu telah menunjukan pukul enam sore.
Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sebuah amplop surat putih di atas meja kecil di sudut ruangan tempat menyimpan telepon rumah. Dong Hae mengambilnya dan ternyata itu adalah surat panggilan orang tua dari sekolah Kyu Hyun. Sekali lagi, Dong Hae mengacak rambutnya frustasi. bagaimana bisa ia melupakan hal penting seperti ini!
.
.
"GAME OVER"
Tulisan itu berkedip-kedip di layar Komputer Kyu Hyun. Sang pemilik, hanya menatap kosong tanpa memerdulikan tulisan yang biasanya membuatnya kesal setengah mati itu. Kali ini Kyu Hyun tidak tertarik untuk berteriak kesal dan membangunkan Dong Hae yang sedang tertidur lelap.
Game over? Kyu Hyun tersenyum miris. Ya, ia kalah. Bukan hanya dalam permainan yang baru saja ia mainkan, tapi juga dalam kehidupannya. Ia memejamkan matanya sesaat dan menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian sore tadi, ketika ia memutuskan pulang bersama Ki Bum dan berkunjung ke rumah sahabatnya itu.
"Ki Bum, kau sudah pulang nak?"
Suara seorang laki-laki terdengar ketika Kyu Hyun sedang membuka sepatunya. Ki Bum mejawab teriakan itu dengan lantang. "Ya, dan aku bersama temanku, Appa."
"Ayahmu?" tanya Kyu Hyun. Ki Bum menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Kau sering bilag ayahmu sibuk?"
"Ya, tapi belakangan ini tidak. Dia sedang berlatih menjadi ayah yang baik, sepertinya."
Kyu Hyun tertawa mendengar jawaban Ki Bum. Ayah yang baik? Seperti apa ayah yang baik itu, Kyu Hyun tak pernah tahu.
"Senang sekali melihat teman yang memiliki ayah yang baik," gurau Kyu Hyun yang dibalas jitakan pelan di kepalanya.
"Kau berbica seperti aku adalah anak yang dimanjakan ayahnya."
Kyu Hyun tertawa lagi, ia kira hari ini Ki Bum terlihat seperti seorang yang hangat? Tidak seperti biasanya. "Sedang merasa bahagia, eoh?" tanyanya, sedikit menggoda.
Ki Bum bangkit berdiri, "berhentilah menggodaku. Ayo ke kamar, kita harus bertanding game!" Tangan Ki Bum merangkul pundak Kyu Hyun, membawanya menuju kamar Ki Bum di lantai dua di rumah megah itu.
"Kau pulang terlambat kali ini, Ki Bum?"
Seseorang datang menghampiri ketika mereka hendak menginjakan kaki di anak tangga ke dua. Kyu Hyun langsung melepaskan rangkulan Ki Bum di pundaknya dan memberi sapaan hormat kepada orang yang baru saja menghampiri mereka itu.
"Annyeonghaseyo, Ahjus—" ucapan Kyu Hyun terhenti. Matanya terbelalak sempurna. Orang yang berdiri di hdapannya ini…apa ia tidak salah lihat? mata Kyu Hyun memang minus, tapi tidak mungkin sampai salah mengenali orang, kan?
"Kyu, gwaenchana?" Ki Bum bertanya dengan nada khawatir. Kyu Hyun tahu, Ki Bum menyadari ada yang aneh disini.
"Ki Bum-ah, dia…dia ayahmu?" tanya Kyu Hyun. Suaranya sedikit bergetar.
"Ya, apa kalian saling mengenal?" Ki Bum menatap Kyu Hyun lekat. menunggu jawaban. Tapi Kyu Hyun malah menggelengkan kepalanya dan kemudian pergi. "Mungkin kita akan bermain lain kali saja," ucapnya sebelum benar-benar hilang dari pandangan Ki Bum.
Kyu Hyun bangkit berdiri, menggeser Kursi belajarnya dengan kasar dan kemudian membanting tubuhnya di atas kasur. Kejadian tadi, orang yang di temuinya tadi, terus saja mengganggu pikirannya. Seperti sebuah video yang diputar berulang. Atau seperti slide show foto wajah yang itu-itu saja. Membuatnya pusing dan ingin muntah.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bagaimana jika ia bertemu dengan Ki Bum? Bagaimana kalau Ki Bum bertanya lebih jauh? Bagaimana kalau Ki Bum mengetahui semuanya dari mulut orang tadi? bagaimana kalau—
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Kyu Hyun kembali ke dunia nyata. Tidak larut dalam pikirannya lagi. Ia segera menarik selimut sampai ke lehernya, takut-takut Dong Hae tahu kalau ia belum mengganti seragamnya sama sekali.
"Masuk!" teriaknya, setelah posisinya terlihat seperti orang yang tertidur.
Pintu terbuka sedikit. Hanya kepala Dong Hae yang terlihat. "Maaf mengganggu tidurmu. Hyung harus pergi, ada pasien yang harus segera ditangani," Dong Hae berucap dengan penuh rasa bersalah.
"Pergilah, Hyung," ujar Kyu Hyun, ia kemudian menutupkan selimut sampai ke kepala.
"Kyu Hyun-ie," panggil Dong Hae lagi, Kyu Hyun hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. "Menganai surat panggilan dari sekolahmu… Mianhae, Hyung melupakannya."
"Pergilah, Hyung. Lupakan saja surat itu, pasienmu menunggu." Kyu Hyun menjawab, tanpa membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ya. Kau bisa sarapan sereal, Kyu. Tidurlah lagi, ini masih pukul lima. Hyung pergi."
Dan kemudian terdengar suara pintu tertutup. Kyu Hyun membuka selimutnya. Ya, lupakan saja hyung, pasienmu selalu menjadi yang terpenting.
Mata Kyu Hyun sedikit terbelalak kala melihat jam dinding. Jam lima pagi? Sepertinya Kyu Hyun akan membolos saja hari ini.
.
.
Bel tanda jam pelajaran dimulai telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Ki Bum melirik kursi kosong di sampingnya dan kemudian beralih kearah pintu kelas yang tertutup sempurna. Ia melakukan hal itu beberapa kali sebelum guru mata pelajaran pertama masuk dan itu adalah pertanda bahwa tidak akan ada lagi siswa yang masuk kelas kecuali ingin mendapat hukuman membuat esai dengan ketebalan melebihi deretan kaset game yang Ki Bum dan Kyu Hyun miliki di rumah.
Kyu Hyun tidak masuk hari ini. Tapi pagi tadi ia melihat mobil Dong Hae terparkir di parkiran utama Kyung Hee. Kebetulan hari ini Ki Bum datang ke sekolah mengendarai mobil. Gedung kampus kedokteran Kyung Hee dan gedung Kyung Hee High school berada di wilayah yang sama, membuat Ki Bum sering bertemu dengan Dong Hae ataupun Hyuk Jae. Ki Bum menyesal, kenapa dia tidak menanyakan keberadaan Kyu Hyun kepada Dong Hae saja tadi!
"Kim Ki Bum!"
Suara guru wanita yang masih muda itu membahana di dalam kelas.
"Ye, Seonsaengnim?"
"Kau tahu, kemana Cho Kyu Hyun?"
Ki Bum tsedikit tersenyum. Semua orang di kelas ini tahu, guru Kang ini sepertinya menyukai Kyu Hyun. Kyu Hyun selalu ditanyakan jika tidak hadir di kelasnya. padahal Kyu Hyun sangat membenci pelajaran sosial budaya ini.
"Cho Kyu Hyun sedang sakit, ssaem!" bohong Ki Bum tanpa ragu.
"Sakit lagi?" Guru itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalaian sebagai teman seharusnya menjenguk Cho Kyu Hyun," sarannya, yang tidak ditanggapi siapapun di kelas itu.
Siapa yang tidak tahu kelakuan Ki Bum dan Kyu Hyun? Semua teman-teman di kelas itu yakin, Kyu Hyun membolos dan Ki Bum melindunginya. Ya, mungkin hanya guru wanita muda yang sepertinya menyukai Kyu Hyun ini yang tidak pernah ingin tahu kelakuan buruk Kyu Hyun.
.
.
Dong Hae baru saja keluar dari kelas, ia berjalan tergesa menuju loker penyimpanan barang miliknya untuk menyimpan seluruh buku tebal yang kini dibawanya. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di rumah sakit, andai saja hari ini tidak ada ujian ia tidak akan memaksakan diri mampir ke kampus barang sebentar. Padahal jarak rumah sakit dan kampusnya begitu dekat hanya terhalang beberapa gedung dan laboratorium saja.
Wilayah Kyung Hee sangat luas, termasuk didalamnya universitas dengan berbagai fakultas, sekolah menengah atas, laboratorium penelitian, gedung olah raga, aula utama, gedung pertunjukan, dan juga rumah sakit. Itu adalah salah satu alasan mengapa ia memilih Kyung Hee untuk Kyu Hyun bersekolah.
"Ujiannya lancar?"
Dong Hae mengeluarkan kunci loker pribadinya dan kemudian membukanya dengan santai. Tidak menanggapi ocehan seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Aku datang ke rumah sakit, Jung Soo hyung bilang kau sedang ujian." Lee Hyuk Jae tetap berbicara, walaupun belum ditanggapi oleh Dong Hae sama sekali.
"Kenapa kau tidak memilih mata kuliah yang sama denganku?" Alih-alih menjawab, Dong Hae malah balik bertanya.
Hyuk Jae terkekeh pelan. "Itukan hanya mata kuliah pilihan. Bukan masalah kalau aku tidak mengambilnya."
"Aku tahu, tapi kukira kau unggul di bidang bedah, Hyuk." Selesai dengan tumpukan buku di dalam lokernya. Dong Hae menutup dan mengunci pintu lokernya dengan rapi, kemudian bersandar disana, memerhatikan Hyuk Jae yang sepertinya tengah berpikir.
"Ya, aku suka mata kuliah itu. Tapi kurasa aku ingin focus ke dokter anak saja Hae. Mata kuliah dokter umum terlalu luas, kurasa."
Dong Hae berdecak. "Sama saja, Hyuk! Hanya pasiennya saja yang berbeda."
"Tidak, tentu saja berbeda. Ngomong-ngomong masalah anak, Anak kakak sepupumu itu sangat aneh tadi malam."
"Kyu Hyun?"
"Ya, keponakanmu itu seperti kehilangan sebagian jiwanya saja."
"Aku lebih senang kau menyebut Kyu Hyun sebagai adiku saja, Hyuk. Aku tidak setua itu!" protes Dong Hae. "Kyu Hyun datang ke tempatmu?"
Hyuk Jae mengangguk. "Jangan marahi dia, dia tak melakukan hal yang buruk."
"Lalu?" Dong Hae menjadi lebih tertarik. Melupakan pekerjaannya yang menumpuk di rumah sakit.
"Dia datang sekitar jam delapan. Memesan segelas jus jeruk dan setelah itu tak ada yang dilakukannya selain memerhatikanku meracik minuman sampai larut malam." Hyuk jae mengambil napas sebentar. "Dia seperti tertekan. Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya, Hae?"
Tak ada jawaban. Dong Hae terlihat sedang berpikir.
"Ah, dan ada seorang wanita yang mengajaknya berbincang sebentar. Aku tak tahu siapa dia, dan Kyu Hyun langsung pulang setelah wanita itu pulang."
Dong Hae diam, ia tak tahu harus berkata apa. Bahkan Hyuk Jae pun tahu Kyu Hyun sedang tidak baik-baik saja seperti yang dipikirkannya. Kemana saja dia selama ini?
"Lee Dong Hae!"
Teguran Hyuk Jae membuat Dong Hae kembali ke alam sadar. Dong Hae menarik napas panjang kemudian memasang senyum manisnya. "Aku harus bekerja, Hyuk. lain kali kita ngobrol lagi. Dan gomawo sudah mengawasi Kyu Hyun."
Dong Hae pergi, tanpa menghiraukan Hyuk Jae yang menjadi semakin bingung di belakangnya.
.
.
Ruangan itu terlihat sepi, hanya ada Dong Hae disana dengan tumpukan berkas kesehatan yang harus dipelajarinya. Menjadi asisten professor seperti Jung Soo terkadang membuatnya kesepian. Tidak ada rekan kerja, tidak ada yang dapat diajak bicara selain Jung Soo, karena Jong Soo memiliki ruangan sendiri dan tidak bergabung dengan rekan-rekan dokter sedivisinya. Keinginan untuk segera menyelesaikan pendidikan semakin menggebu, Dong Hae ingin segera menjadi dokter yang benar-benar dokter dan bisa bergabung dengan dokter lain di rumah sakit ini, bukan hanya mempelajari berkas kesehatan dan menangani pasien Jung Soo yang hanya menderita sakit kecil saja. Ah, bukan berarti Dong Hae tidak senang dengan pekerjaan ini, hanya saja Dong Hae rasa ia harus segera mandiri. Tidak bergantung kepada orang lain lagi, terutama kepada Jung Soo.
"Apa penyakit yang diderita pasien pagi tadi begitu berat sampai kau mengacuhkan salamku, Lee Dong Hae?"
Dong Hae mengangkat wajah. Park Jung Soo baru saja masuk dan tersenyum kearahnya. Senyum malaikat itu, selalu membuat Dong Hae tenang.
"Lumayan, pasien pagi tadi butuh beberapa jahitan di kepalanya." Dong Hae menghela napas kemudian melanjutkan, "aku sampai disini sekitar setengah enam, dan bagian UGD memarahiku habis-habisan karena tidak ada dokter jaga. Aku melupakan jadwal jagaku, Hyung."
Jung Soo terkekeh pelan. "Kau itu seharusnya mencatat dengan baik jadwal kerjamu, jangan sampai pasien terbengkalai."
"Aku bahkan menempel jadwal kerjaku di dinding kamar besar-besar, Hyung."
"Lalu, kenapa lupa?"
"Aku tertidur setelah datang ke sekolah Kyu Hyun, kemudian ada sedikit pertengkaran di tengah malam dan yah.. kau tahu Hyung, aku melupakan apapun ketika mengkhawatirkan anak itu."
Jung Soo yang sudah duduk di mejanya, mencondongkan tubuh kedepan, mengetukan jari nya ke meja. Terlihat sedang berpikir. "Biar kutebak, anak itu pulang larut?"
Dong Hae menganggukan kepalanya. "Aku terlambat menjemputnya, dan dia bilang dia menungguku. Hyuk Jae bilang, Kyu Hyun datang ketempatnya dan hanya memesan satu gelas jus jeruk."
"Tidak minum wine?" tanya Jung Soo heran.
"Tidak. Bukan berarti aku ingin dia mabuk lagi, hanya saja terasa aneh kalau dia datang ke tempat Hyuk Jae tanpa menyentuh setetespun minuman beralkohol."
"Kurasa dia tak ingin sakit lagi?"
"Ya, kuharap begitu." Dong Hae bangkit berdiri, menyimpan berkas yang sejak tadi dipelajarinya di meja Jung Soo. "Aku mempelajari beberapa kasus psikologi. Pasien yang datang setelah korban kecelakaan pagi tadi membuatku bingung."
"Wae?" Tangan Jung Soo meraih berkas yang disimpan Dong Hae. Membacanya sekilas dan kemudian mengangguk paham. "Ini bukan tugas kita, Hae. Kita hanya harus menyembuhkan sakit fisiknya, kemudian sisanya serahkan kepada divisi kejiwaan."
.
.
Kyu Hyun merasakan kepalanya sedikit pusing dan pandangannya berputar. Hal pertama yang ia lakukan setelah sadar sepenuhnya dari tidur panjangnya adalah mengambil segelas air yang selalu Dong Hae sediakan di atas meja nakas samping tempat tidurnya.
Segelas air membasahi kerongkongannya dengan cepat. Setelah itu Kyu Hyun baru menyadari keadaan sekitar. Lampu kamar yang masih menyala terang benderang tidak dapat mengalahkan sinar matahari yang masuk melalui celah tirai yang menutup jendela kamar Kyu Hyun. Sudah siangkah? berapa lama dia tidur? Kyu Hyun menyibak selimutnya, dan baru menyadari bahwa ia benar-benar tidak mengganti seragam sekolahnya. Ia memaksakan diri untuk bangun dan segera membersihkan diri.
Tidak membutuhkan waktu lama, Kyu Hyun keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar bugar. Kaus berlengan pendek warna biru langit dipadukan dengan celana training dengan warna senada membuatnya terlihat sangat segar. Apalagi dengan rambut basah dan sedikit acak-acakan itu mungkin akan membuat mata para gadis yang menatapnya enggan berkedip.
Sekotak sereal tersimpan rapi di atas meja makan, Kyu Hyun baru menyadari bahwa dia belum makan dan perutnya terasa lapar. Kapan terakhir dia makan? Bahkan kemarin Kyu Hyun menghabiskan jam istirahat di sekolahnya dengan berlatih vocal bersama seniornya di club music yang bernama Ye Sung.
Kyu Hyun segera mengambil mangkuk dan mengisinya dengan sereal dan menambahkan susu ke dalamnya, sarapan yang telah disarankan Dong Hae tadi. Mata Kyu Hyun beralih menatap jam dinding, ternyata sudah pukul satu lebih. Yah, anggap saja sarapan yang tertunda.
Baru saja Kyu Hyun menelan suapan pertamanya, suara bel pintu terdengar. Ia mengerang, menarik napas pelan kemudian berjalan menuju pintu.
Pintu Terbuka, seorang wanita yang Kyu Hyun tahu adalah gurunya datang dengan senyum merekah di bibir. Kyu Hyun mengernyit, untuk apa wanita ini disini?
"Selamat siang, Cho Kyu Hyun. Aku dengar dari Kim Ki Bum kau sedang sakit?"
Kyu Hyun hanya menganggukan kepala saja untuk jawaban. Anak itu bahkan tidak mencerna dengan baik pertanyaan dari wanita yang biasa ia panggil dengan Kang seonsaengnim ini.
"Pelajaranku sudah selesai, dan apa aku boleh masuk?"
Kyu Hyun otomatis menggeser posisi berdirinya. memberikan ruang lebih lebar untuk gurunya masuk ke dalam rumah. Dan kemudian menutup pintu setelah Guru Kang masuk ke dalam rumah.
"Ssaem-nim datang untuk menjengukku?" tanya Kyu Hyun sambil mengekor di belakang guru Kang.
"Ya, tapi kulihat kau tidak sakit parah Kyu Hyun."
Beberapa kantung pelastik yang berisi penuh diletakan guru Kang di atas meja ruang tamu. Guru cantik itu kemudian duduk dengan nyaman di atas sofa. Kyu Hyun jadi berpikir, apa guru sosial budaya ini benar-benar supel saking supelnya sampai tidak sadar sedang berada dimana?
"Kau habis mandi? Keringkan rambutmu terlebih dahulu, Kyu Hyun. Kau akan pusing jika membiarkan rambutmu basah terus seperti itu."
Tangan Kyu Hyun terangkat menyentuh rambutnya, ia pun baru sadar dengan keadaan rambutnya yang memang masih basah itu. "Tidak apa-apa, aku tidak merasa pusing," ujarnya santai sambil duduk di hadapan guru Kang.
"Lalu kau sakit apa, hm?"
Kyu Hyun berpikir sebentar. Dalam hatinya ia sedikit mengumpat karena Ki Bum memberikan alasan sakit segala. "Saya baru keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, dan sangat membutuhkan istirahat, ssaem."
"Ah, kau benar." Guru Kang mengangguk. "Aku membawakanmu makanan, kau boleh makan terlebih dahulu. Aku tahu kau belum makan, Kyu Hyun."
"Khamsahamnida, ssaem. Nanti saja, atau ssaem ingin kita makan bersama?" tanya Kyu Hyun, dengan sedikit menggoda tentu saja. Ia juga tahu mengenai desas desus guru ini yang menyukainya. Tapi Kyu Hyun tidak pernah menanggapinya dengan serius, hanya saja dengan kedatangan guru ini ke rumahnya membuat Kyu Hyun berpikir dua kali.
Suara tawa Guru Kang terdengar setelahnya. Guru itu terlihat menghentikan tawanya ketika Kyu Hyun menatapnya dengan bingung.
"Cho Kyu Hyun. Aku datang memang untuk menjengukmu, tapi ada hal yang harus kita bicarakan. Kalau kau ingin kita berbicara sambil makan siang yang menurutku adalah makan siang kedua, aku tidak keberatan."
"Ah, tidak perlu. Biasanya setiap wanita menjaga pola makannya untuk bentuk tubuh yang ideal. apa ssaem seperti itu? Aku tidak akan memaksamu untuk makan."
Guru Kang tertawa lagi. Kyu Hyun ini lucu dan menyebalkan di waktu bersamaan, menurutnya. "Ya, kau boleh menganggapku seperti itu. Kemana orang tuamu, Kyu Hyun?"
"Aku tinggal dengan Hyung, dan dia sedang bekerja."
"Oh? Ah, mianhae aku tak tahu."
"Gwaenchana."
"Begini, Kyu Hyun. Aku dengar kau memiliki keanggotaan club music?"
"Ya, waeyo?"
"Aku tahu prestasimu di bidang itu. dan aku harap kau dapat memikirkan tawaranku ini." Guru Kang menyodorkan satu berkas beramplop coklat di atas meja.
"Apa ini?"
"Tawaran beasiswa kuliah di London. Kau bisa ikut melalui jalur pengembangan bakat. Aku yakin kau akan lolos." Guru Kang berucap dengan yakin.
Dong Hae mematung di tempatnya. Percakapan dua orang yang terlihat di hadapannya membuatnya sedikit terkejut. Beasiswa untuk Kyu Hyun? Dong Hae akan dengan sangat senang hati mendukung cita-cita Kyu Hyun yang satu itu.
Kyu Hyun mendapati kedatangan Dong Hae terlebih dahulu. Anak itu tidak menunjukan senyumnya sama sekali.
"Itu Dong Hae Hyung," ucap Kyu Hyun singkat kemudian bangkit berdiri. "Anda bisa membicarakan ini dengannya," lanjutnya, kemudian pergi menuju dapur yang bersatu dengan meja makan. Meneruskan sarapannya yang benar-benar terlambat.
.
.
"Kemana ibumu, Ki Bum?"
Ki Bum mengangkat kepala, mengalihkan pandangannya dari makanan yang tersaji di atas meja menjadi ke arah pintu ruang makan dimana ayahnya berdiri. "Kau terlambat pulang lagi, Appa? Sepertinya eomma tak pulang sejak kemarin malam," jawabnya.
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. Dia sudah duduk rapi di hadapan Ki Bum, siap menyantap makan malamnya.
Tidak ada pembicaraan setelahnya. Mereka menyantap makan malam dalam diam. Sebenarnya, banyak pertanyaan yang ingin Ki Bum tanyakan kepada ayahnya. Mengenai kejadian di hari kemarin, mengenai Kyu Hyun yang tiba-tiba pergi dan kemudian ayahnya yang memilih lembur di kantor dan baru menampakan diri di rumah sekarang. Semua itu membut Ki Bum bingung.
Beberapa hari ini ia merasakan perubahan yang baik dari ayahnya. Mulai dari jam kerja yang tidak terlalu panjang dan lebih memilih menghabiskan waktu di rumah, terkadang ayahnya itu membawa pekerjaannya yang menumpuk ke rumah, lebih memilih mengerjakan semuanya di rumah saja. Terlebih, adik Ki Bum yang masih balita itu sangat membutuhkan kasih sayang orang tua. Apalagi dengan sikap ibu Ki Bum yang menurutnya tidak benar-benar seperti seorang ibu, menuntut ayahnya untuk berperan ganda.
"Appa.." Ki Bum bergumam ragu. Takut-takut ayahnya tak ingin membahas masalah yang ingin ia tanyakan sekarang.
"Ye? kau ingin bertanya mengenai Kyu Hyun?" bidik sang ayah. Ki Bum menganggukan kepalanya ragu. Ayahnya menghela napas, menyimpan sumpit di samping mangkuk nasinya kemudian mulai bercerita. Menceritakan semua hal yang terjadi pada keluarganya sebelum ia menikah dengan ibu Ki Bum. Menceritakan penyesalannya ketika ia meninggalkan Kyu Hyun dan menyakiti hati mantan isterinya. Juga, menceritakan kekecewaan Kyu Hyun atas sikapnya. Tidak ada yang disembunyikan, karena keluarga memang harus saling terbuka, bukan?
Ki Bum menyimak dengan seksama, dia seperti ikut merasakan apa yang Kyu Hyun rasakan selama ini. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya, ia seperti orang yang merebut ayah sahabatnya, membiarkan sahabatnya merasakan kesedihan karena di tinggalkan ayahnya dan ia sendiri malah menikmati keberadaan ayahnya kini.
"Setelah sekian lama tidak bertemu, Appa melihat Kyu Hyun untuk pertama kalinya lagi di depan makam ibunya. Dan Kyu Hyun tak menginginkan keberadaanku sama sekali."
Hati Ki Bum menyetujui sikap Kyu Hyun. siapa yang tidak kecewa dengan sikap seorang ayah yang seperti itu? Tapi disisi lain, Ki Bum merasa iba. Ia tahu betul ayahnya ini tulus ingin meminta maaf kepada Kyu Hyun.
"Appa.." panggil Ki Bum. Ayahnya mendongak menatapnya. "Kembalilah untuk Kyu Hyun."
.
.
Di waktu yang sama di kediaman Dong Hae, Kyu Hyun tengah menyantap makan malamnya dengan lahap. Anak itu tak menghiraukan Dong Hae yang malah memainkan sumpitnya di atas mangkuk nasi. Kyu Hyun hanya melirik Dong Hae sekilas, mengerutkan kening heran dengan tingkah kakaknya itu, tapi kemudian melanjutkan makan seolah tak ada yang aneh disana.
"Sudahlah Hyung. Aku akan pergi jika kau ingin." Kyu Hyun membuka pembicaraan.
Dong Hae menatapnya dengan mata memicing. "Bukan begitu, Kyu Hyun. Kenapa kau berbicara seperti aku ingin kau pergi dari sini?"
"Memangnya bukan begitu?" Kyu Hyun menyimpan sumpitnya, mengambil sendok dan memasukan beberapa sendok sup ke dalam mangkuknya, kemudian melanjutkan makannya. Sepertinya semangkuk sereal siang tadi tidak cukup untuk mengisi perutnya.
Dong Hae berdecak sebal. Menyendokan nasi banyak-banyak dan menyuapkan ke dalam mulutnya sampai penuh.
"Kau sejak siang tadi menyuruhku mengambil beasiswa itu, Hyung. kau ingin aku pergi, kan?" bidik Kyu Hyun, tanpa menghentikan acara makannya.
"Bukan begitu, Kyu. Hyung hanya ingin kau meraih cita-citamu. Siapa yang tidak ingin kuliah di universitas ternama di luar negeri, hm?" tangan Dong Hae terulur, memasukan sayuran ke dalam mangkuk nasi milik Kyu Hyun. "Habiskan sayurannya, Kyu Hyun-ie!"
Kyu Hyun menghela napas. "Baiklah, aku akan pergi.." ucapnya dengan nada pasrah.
"Tidak! Jangan!" larang Dong Hae tiba-tiba. Ia mengibaskan tangannya di hadapan Kyu Hyun, membuat anak itu mengernyit bingung.
"Waeyo?"
"Tidak! Pokoknya tidak. Kau akan berangkat hanya jika kau ingin, arraseo? jangan sekali-kali kau berpikir aku menyuruhmu pergi. Aku yang akan menuruti keinginanmu, bukan kau yang mengikuti keinginanku! Kau mengerti kan, Kyu Hyun? kau harus mengerti! Mulai dari sekarang, kau harus belajar membantah perkataanku jika tidak sesuai dengan hatimu, kau harus marah jika aku membuatmu kesal dan kau harus protes jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak kau senangi. Kau mengerti, kan?"
Kyu Hyun diam, memerhatikan Hyung-nya yang berbicara tanpa henti, bahkan kalimatnya terus berulang. Dong Hae terlihat seperti sedang..panik? Entah, Kyu Hyun hanya menganggukan kepala sebagai jawaban seluruh kalimat Dong hae yang sebenarnya membuat Kyu Hyun bingung itu.
"Dan satu lagi, Kyu Hyun-ie…Hyung menyayangimu. Kau harus benar-benar tahu hal ini. Jangan berpikir bahwa aku menjagamu hanya karena janjiku kepada ibumu. Aku memang berjanji untuk menjagamu, tapi aku benar-benar menyayangimu. Sebagai adiku, sebagai keluargaku. Kita adalah keluarga, Kyu Hyun."
Tangan Dong Hae mengusap kepala Kyu Hyun dengan lembut. Semua perkataan Dong Hae membuat Kyu Hyun diam, anak itu tertegun dan mendadak menghentikan kegiatan makannya. Mulutnya bergerak, menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti bisikan di telinga Dong Hae, membuat mata Dong Hae terbelalak sempurna mendengar kaliamat yang begitu indah terucap dari bibir Kyu Hyun.
"Aku juga…menyayangimu, Hyung."
TBC
Annyeooooonnnggg~~~~ Mianhaeyo telat banget dilanjutnya, ini ff sempet bikin aku bingung gegara aku biasa bikin cerita genre romance dan ini harus bener-bener brothership.. susaahh~~ T_T
Tapi seneng bisa nyoba cerita seperti ini, semoga gak kacau-kacau banget ceritanya.. Reviewnya tetep ditunggu loh Chingudeul..
Dan mohon maaf atas semua typo yang benar-benar tidak bisa diampuni itu, lain kali aku akan lebih hati-hati^^
Special Thanks buat yang udah review; gnagyu, fenfen woe, pandagame, Rahma94, jihyunelf, mifta cinya, phiexphiexnophiex, chairun, kiyukiyu, kyuuu, erka, yoselly tandrian, Rumykyu, Park yong ra, Park yong ra, vita, ganisa, tatta, Ikan mokpo, ShinJoo24, Lkyu, SuJuELF, se-spesial uri Leader Leeteuk yang baru balik dari wamilnya.. Selamat datang kembali Leeteuk oppa ^_^
Oke, segitu aja cuap-cuapnya.. Ditunggu chapter 3 nya paling lambat 2 minggu lagi ya, hehe
