"I love you. Aku tau perasaan ini tulus. Mungkin saat ini kamu belum mencintaiku. Tapi percayalah, aku akan buat kamu jatuh cinta padaku dan menjadi satu satunya yang ada dalam pikiranmu"
Sinar matahari menembus sela sela jendela. Umi perlahan membuka matanya dan mencoba menutup sinar datang itu dengan telapak tangannya. Sesaat kemudian dia sadar bahwa dirinya tak sendiri di kasur yang ditidurinya. Langit langit kamar itu pun juga terasa asing. Dimana ini? Umi mencoba mengingat kejadian semalam. Sosok perempuan yang berada di sampingnya, yang mendekap tubuhnya, mengingatkan Umi pada semua.
Umi berpaling pada sosok perempuan yang berbaring memeluk dirinya, tanpa busana, begitu juga dirinya. Menyibak rambut perempuan yang merupakan cinta pertama baginya, menyentuh lembut pipinya yang lembut. Sekelebat sebuah mimpi, lebih tepatnya kilasan masa lalu, menghampirinya. Umi membeku.
Perempuan itu terbangun oleh sentuhan Umi. Melihat dengan penuh kasih, namun sesaat kemudian sedikit panik "Umi, kamu tak apa-apa?" perempuan itu mengusap air mata yang jatuh dari lawan bicaranya.
Umi yang akhirnya sadar dengan keaadaannya, segera mengusap tuntas air matanya. "Maaf, apa aku membangunkanmu?"
"Hm…" Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum. "Ini sudah waktunya untuk bangun" ungkapnya kemudian.
"Eli, aku…"
Eli menutup mulut Umi dengan telunjuknya "Bangunlah, aku akan membuatkanmu sarapan". Dengan begitu Eli bangun dari kasurnya. Mencari sesuatu untuk dikenakan karna tubuhnya sekarang tak dibalut satu helai benangpun. "Kamu boleh pakai apa saja yang ada dilemari, aku tunggu di dapur"
Umi mengusap wajahnya dengan tangannya, mencoba untuk tetap sadar. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku benar benar buruk. Maafkan aku.
Umi mengenal apartemen ini, hanya kamar tadi saja yang terasa asing baginya karna hanya ruangan itu saja yang tak pernah dimasukinya. Perlahan kakinya melangkah ke dapur, mencari sesosok pirang yang tak sulit untuk ditemukan. Eli yang sadar dengan keberadaan Umi menyambutnya dengan senyuman.
Aku sangat bahagia jika kamu melakukannya dua tahun yang lalu. Umi membalas senyumannya "Ohayou"
"Aku baru saja akan kekamar membangunkanmu"
"Aku rasa kamu tak perlu melakukannya lagi, aku sudah disini"
"Duduklah"
"Hm…" Umi mengangguk. Menggeser sebuah kursi yang berada di beseberang Eli.
Sarapan mereka terasa sunyi. Itu karna Umi masih canggung, atau mungkin karna Umi terlalu banyak pikiran sehingga mengacuhkan sosok cantik di hadapannya.
"Kamu jauh lebih pendiam setelah sekian lama"
Umi tersenyum ringan "Bukan begitu, banyak hal telah terjadi. Aku hanya tak tau harus memulai dari mana"
"Kamu bisa memulai dengan bertanya kabarku"
"Ini seperti kamu mengambil keceriaanku, kamu tampak lebih santai"
"Aku hanya tak mau menyesali apapun lagi"
Umi membeku, tatapannya mengarah pada mata Eli yang juga menatap padanya. Ia ingin mengatakan sesuatu namun hanya mulutnya yang terbuka tanpa mengeluarkan satu suarapun.
"Kehadiranmu, itulah yang paling aku nantikan. Aku pikir akan mustahil untuk bertemu denganmu lagi. Jika akhirnya kita dipertemukan kembali, aku pikir ini pertanda baik. I love you"
Umi memalingkan wajahnya. Menggenggam erat sendok dan garpu ditangannya, menahan segala rasa senang yang akhirnya berujung pada rasa bersalah yang terlalu banyak. Jika saja kamu katakana itu dua tahun yang lalu, aku akan menjadi orang paling bahagia didunia. Umi menggigit bibirnya, sangat keras untuk menahan sakit dihatinya. Bibirnya mungkin akan berdarah jika Eli tak segera menyadarkan dari pikirannya.
"Umi… Hey, Umi, kamu tak apa apa?"
Ini kali keduanya Eli menanyakan itu padanya, lengkap dengan wajah penuh kecemasan.
"Tentu, maaf aku melamun"
"Hm, tak apa"
Wajah cemas Eli belum memudar, ini sedikit memuat Umi merasa bersalah, lagi. Ini benar benar buruk. Bajingan macam apa aku ini.
"Eli, aku akan keluar sebentar" Umi berdiri dari duduknya, menghambur pergi dari dapur. Mengambil jaketnya yang dia tinggalkan di lobi.
Umi butuh itu, butuh keluar dari situasi ini. Bahkan mungkin butuh keluar dari kenyataan ini. Ini terlalu menyesakkan, terlalu menyakitkan. Seperti menabur garam pada luka.
Pada saat yang tepat Eli mampu mengejar dan menggapai tangannya "Aku pikir kamu berjanji padaku untuk tak akan pergi kemanapun lagi" kepanikan jelas terlihat dari wajahnya, air matanya menumpuk di ujung matanya bersiap untuk jatuh.
Umi tak kuasa melihatnya, dia ingin mengatakan I love you too, I'll stay. Tapi rasa bersalahnya lebih besar dari pada rasa cintanya sehingga membuatnya tak tahan lagi. Umi menggenggam tangan Eli yang memegang tangannya, seutas airmata jatuh di pipinya. Umi menarik napas "Aku akan kembali, untuk saat ini aku butuh menenangkan diri" Umi melepaskan tangan Eli darinya.
Saat itu juga tangis Eli pecah. Seakan ini pertanda buruk baginya. Seakan Umi takkan mau kembali lagi.
Ini situasi sulit bagi Umi. Satu langkah saja terasa berat. Hingga akhirnya dia harus kembali berpaling pada Eli. Mengusap air matanya, memeluknya, dan menenangkannya.
"Beri aku waktu, aku janji akan kembali. Berhentilah menangis, Eli" Umi memeluknya erat sambil mengusap punggungnya.
"Saat aku temukan kamu di taman malam itu, aku pikir inilah Happy ending. Apa aku salah?"
Umi menggeleng namun tak bisa menjawab pertanyaan Eli. Apa aku pantas menerima happy ending?
Entah berapa lama mereka berpelukan hingga akhirnya Umi bisa menenangkan Eli.
"Aku akan kembali, aku akan tinggalkan barangku disini sehingga kamu bisa yakin aku akan kesini lagi mengambilnya"
Umi melepaskan pelukannya saat dia yakin Eli tidak akan menangis lagi. Dia memberikan seutas senyum dan bersiap membuka pintu saat bel pintu apartemennya berpunyi.
Eli membukakan pintu, kaget melihat Maki dan Honoka membawa kantung belanjaan ditangan mereka sembari mengatakan "KEJUTAAAAAN". Eli memang kaget, namun mereka berdua malah lebih kaget lagi melihat Umi dibelakang Eli.
Umi sadar di perhatikan oleh dua temannya, dia sadar apa makna dari wajah kaget keduanya. Saat ini Umi benar benar tak mau berurusan dengan mereka.
"Apa yang kamu lakukan disini, Umi?" dengan ketus dan wajah tak bersahabat Maki bertanya pada Umi.
"Umi chan, aku pikir kamu dan …."
"Sudahlah Honoka, semua berakhir" potong Umi sambil berlalu dari hadapan ketiganya. Mukanya jelas menahan kepahitan.
"Apa yang terjadi? Apa yang kalian ketahui dan aku tak mengetahuinya?" muka Eli mulai serius.
"Hah, aku pikir ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Tak ku sangka malah jadi begini" keluh Maki yang mukanya berubah frustasi.
"Sudahlah Maki-chan. Bagaimana kalau kita persiapkan saja pesta kecil kecilan yang kita rencanakan sebelumnya"
"Hey, kalian tak menjawab pertanyaanku"
"Eli-chan, aku janji akan mengatakannya. Tapi bisakah tempatnya bukan di lobi ini?"
Pada akhirnya Honokalah yang mempersiapkan pesta kecil mereka. Suasananya jauh dari kata pesta. Maki masih kesal, mungkin karna Umi, Eli terlihat gelisah dan tak sabaran karna ingin segera mengetahui tentang Umi yang belum dia ketahui dan disinilah Honoka, mencoba menjadi mood maker.
"Hey, bagaimana kalau minum dulu?"
"Eli apa yang terjadi antara kamu dan Umi?" Tanpa peduli pada ajakan Honoka, Maki langsung mengungkap kegelisahannya.
"Aku tak tau kenapa kamu begitu tak menyukainya Maki"
"Tapi dia…" Maki terhenti saat menyadari love bite di leher Eli "Kamu…" Dengan wajah tak percaya Maki membenamkan tubuhnya ke sofa dan mengusap mukanya dengan telapak tangannya.
"Kenapa kamu begitu frustasi?" Eli terlihat bingung, namun juga penasaran.
"Dia sudah punya orang lain Eli" bentak Maki penuh emosi.
Eli tercekat. Ini terlalu sakit untuk diketahui. Harusnya dia tak menuntut untuk diberitahukan kebenaran.
"Tapi tadi Umi mengatakan 'sudah berakhir'" potong Honoka, dia menggenggam erat minumannya, menunduk mencoba mengerti apa yang terjadi.
Kedua temannya berpaling padanya, penuh tanda Tanya.
"Kalian tau, sejak kembali ke Tokyo, keduanya mulai bertengkar. Awalnya hanya sesuatu yang kecil, masalah kepercayaan, namun semakin lama jadi semakin buruk. Terakhir aku katakan kepada Umi untuk melamar Kotori, agar dia percaya bahwa Umi benar benar serius padanya. Awalnya dia menolak karna merasa sangat malu, namun saat aku katakan bahwa melamarnya adalah bukti keseriusan hubungan mereka dan jalan terbaik untuk membuat Kotori percaya pada cintanya, akhirnya Umi setuju. Jika Umi tak bersama Kotori hari ini, mungkin sesuatu yang buruk menimpa hubungan mereka" cerita Honoka panjang lebar.
"Jika hubungan mereka tak berjalan lancar seperti semestinya, bukan berarti dia harus melampiaskan frustasinya pada Eli"
"Maki-chan, aku rasa bicaramu sudah mulai kelewatan. Benar aku menyayangkan tindakan Umi-chan, tapi aku yakin ada alasan kuat dibalik itu semua. Kita hanya belum mengetahuinya"
Maki tampak tak setuju dengan pernyataan Honoka. Menurutnya Umi tetaplah bajingan yang dengan gampang pindah pada wanita lain saat wanitanya tak berada disampingnya.
"Kamu benar Honoka, kita hanya belum tau. Aku akan menunggunya mengungkapkan semuanya padaku"
"Woi, Eli. Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Bisa saja dia pergi untuk menemui perempuannya"
Honoka bangkit dari duduknya dan mengangkat kerah baju Maki "Aku pikir aku sudah mengatakan padamu kalau kamu mulai kelewatan Maki. Aku tak suka kamu merendahkan sahabatku"
Ini pertama kalinya Maki dan Eli melihat kemarahan Honoka. Sedikitnya membuat Maki bergidik dan berpaling dari tatapan kemarahan Honoka. Sesaat kemudian Honoka tersadar dan melepas genggamannya. "Aku tau dia, dia takkan membuat muka pesakitan seperti tadi jika bukan dalam kondisi yang sangat buruk. Bahkan aku baru kali ini melihatnya seperti itu"
Semua terdiam. "Aku rasa aku akan pergi, suasana ini mulai tak nyaman" dengan begitu Honoka beranjak dari tempatnya. Sesaat kemudian, Maki menyusulnya tanpa sepatah katapun.
Kini tinggallah Eli dengan semua pikirannya. Mungkin aku terlalu naïf jika mengharapkan happy ending yang mudah. Tentu saja ini takkan mudah. Eli mengingat kembali, bagaimana Umi menangis pagi ini di ranjangnya, atau bagaimana wajah Umi yang tak ceria saat di meja makan, atau bagaimana Umi nampak menahan kepahitan dan kesedihannya di hadapan Eli saat dia merangkulnya sebelum pergi tadi.
Di tengah pikirannya, tak sengaja matanya menemukan ponsel yang bukan merupakan miliknya. Dan Eli langsung sadar itu adalah milik Umi. Dengan tangan gemetar dia menekan tombol power. Lock screen dari ponsel itu hanya nemanbah luka dihatinya. Disana terlihat dua wanita yang berfoto selfi, si rambut abu abu mengecup pipi si rambut biru yang memejamkan sebelah matanya. Tersirat kemesraan di foto tersebut. Dari foto itu terlihat bahwa hubungan keduanya bukanlah sebatas teman, melainkan sepasang kekasih.
Air mata mulai jatuh dari pipinya. Bisa saja hubungan keduanya belum berakhir dan Umi akan kembali padanya. Bisa saja malam itu hanyalah one night stand bagi Umi, hanya sekedar pelampiasan rasa sedihnya karna terus terusan bertengkar dengan kekasihnya. Itu semua bisa terjadi, mengingat Umi bahkan belum menukar lock screennya.
Eli menemukan kamera Umi, melihat hasil tangkapan gambar Umi. Eli menghela nafas, sadar bahwa apa yang akan dilihatnya nanti akan jauh menyakiti dirinya. Di awali dengan gambar anak kecil yang bermain bola salju, gambar berlanjut pada pohon pohon natal di tepi jalan, beberapa pasang anak muda yang sedang berkencan, eli terus menekan tombol prev dan hal yang ditakutkannya terjadi. Sosok wanita dengan rambut abu abu persis sama dengan wanita di lockscreen Umi mulai menghiasi foto dalam berbagai kegiatan. Sebuah video, yang awalnya Eli ragu untuk menekan tombol play, namun ada dorongan pada dirinya untuk melakukannya. Video itu diputar kali ini bukan si rambut abu abu menghiasi layar, tapi si rambut biru yang dicintainya. Suara dari video itu menggema di ruang tamu Eli.
"Hey, Umichan, katakan kamu mencintaiku"
"Kotori, apa yang kamu lakukan dengan kameraku"
"hehehe"
"Jangan bilang kamu sedang merekam"
"Aku bilang, katakan kamu mencintaiku, apa kamu tidak mencintaiku?"
"Tentu saja aku men…mencintaimu, Kotori"
"Katakan dengan benar"
"Aku akan katakan, tapi matikan kameranya"
"Tak mau, aku ingin mengabadikannya"
"Okay Okay"
Fokus kamera tak lagi menangkap sosok si rambut biru, untuk beberapa detik terdengar suara helaan nafas disusul dengan kalimat "I love you too much, hingga aku tak bisa memikirkan orang lain selain kamu" dalam suara yang pelan dan dalam.
xxx
dulu saya pernah bilang pengen bikin spin off. Nyatanya sekarang saya malah bikin sequel. Btw, sequel dari apa? Mungkin udah ketebak ya.
