Jungkook menetapkan hatinya. Ia tidak boleh lemah begini, ia tak mau ditindas lagi. Ia harus kuat, setidaknya untuk buah hatinya. Ia harus mempertahankan hak bocah itu apapun yang terjadi. Ya, ia tak akan menyerah akan Kim Taehyung.
"Hyung, bagaimana caranya agar aku bisa bekerja di perusahaannya?" tanya Jungkook.
Namjoon yang tengah bermain dengan anak-anak itu langsung melepas bola yang akan ia lempar itu.
"Lempar kesini, Papa!" pekik Seokmi atau biasa dipanggil Minnie itu.
"Kalian main dengan berdua dulu ya, Papa perlu bicara berdua" ujar Namjoon melempar bola yang ia jatuhkan tadi ke arah Minnie.
Merekapun mengangguk patuh, dan mulai bermain bersama. Cukup ramai walaupun hanya berdua saja. Sedangkan Namjoon membawa Jungkook ke halaman belakang.
"Kau ingin bekerja dimana tadi?" tanya Namjoon.
"Perusahaan Kim Taehyung" jawab Jungkook mantap.
Namjoon mencengkram kedua bahu lelaki yang lebih pendek darinya itu, menatapnya tajam.
"Kau sudah gila ya?! Kau akan diperlakukan semena-mena disana!" bantah Namjoon tak terima.
Jungkook melepaskan cengkraman tangan Namjoon di bahunya kemudian meninju pelan dada lelaki besar di hadapannya itu.
"Aku tidak bisa hanya diam saja, Hyung. Aku harus membuatnya kembali" ujar Jungkook mantap.
"Terlalu ekstrim Kook dengan cara seperti ini, lagipula bagaimana caramu masuk kesana?!" Namjoon belum bisa menerima keputusan Jungkook.
"Makanya aku bertanya padamu Hyung" cicit Jungkook sambil mencebik.
Namjoon mengusap kasar wajahnya, sungguh tak mengerti apa yang dipikirkan pemuda kelinci ini. Sangat diluar nalarnya. Hei, ia ingin menantang Tuan Besar Kim yang terhormat itu kalau boleh dibilang. Bagaimana Namjoon tidak panik begini.
"Kau benar-benar serius akan keputusanmu itu, Kook?" tanyanya akhirnya.
Namjoon menyerah. Membiarkan Jungkook melakukan semaunya. Tapi dengan risiko yang besar itu, tentunya ia harus berpikir matang, tak ingin lelaki imut yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri ini tersakiti untuk yang kesekian kalinya. Ia begitu menyayangi Jungkook seperti Jin menyayangi pemuda kelinci itu. Kalau boleh, Namjoon dan Jin akan mengurung Jungkook saja selamanya di kediaman mereka.
"Aku sudah yakin Hyung. Jadi bantu aku" ujarnya mantap.
"Baiklah, aku akan minta tolong Jimin. Setauku dia juga bekerja disana karena mereka berkerabat"
"Wah! Hyung pintar sekali. Aku bahkan lupa kalau ada Jiminnie Hyung disana"
"Yang kau ingat hanya Kim Taehyung saja, Jungkookie" ujar Namjoon malas.
Jungkook terkekeh pelan. Mungkin yang diucapkan Namjoon benar adanya.
-*123*-
"Gila, ini sudah gila KIM NAMJOON!" Jin yang mendengar cerita Namjoon memekik keras.
Untungnya Minnie memiliki kamar sendiri, sehingga tidak mengganggu jam tidurnya.
"Jangan berteriak Jin, nanti anak-anak terbangun" bisik Namjoon pelan.
Ya, ia khawatir akan ketenangan anak-anak. Dan sangat tidak khawatir akan ketenangan Jungkook, karena pemuda kelinci itu tidak akan bangun walaupun Jin berteriak di depannya sekalipun.
Jin mencengkram kerah piyama yang Namjoon kenakan dengan kasar. Menatap matanya nyalang.
"Hei tenang, ini bukan kemauanku" ujar Namjoon sedikit sesak.
Sungguh, Jin akan benar-benar membunuhnya kalau begini terus. Dan ia tak mau mati sia-sia tentu saja. Hei, anaknya baru seumur jagung manis, dan terlebih masih satu. Ups.
"Kenapa kau menyetujuinya saja dan malah membantunya, KIM NAMJOON?!" Jin masih belum melepas cengkramannya.
"Aku sudah berusaha melarangnya, tapi tekadnya kuat sekali" ujar Namjoon mencari pembelaan.
Jinpun mulai melepas cengkramannya yang membuat Namjoon batuk-batuk saat itu juga. Namjoon bersyukur masih dapat menghirup udara segar.
"Lalu bagaimana kata Jimin?" tanya Jin.
"Dia juga memarahiku setelah aku bercerita duduk masalahnya"
"Kau pantas dimarahi, Kim"
"Ya, ya. Aku memang lemah kalau dengan Jungkook, tak tega. Dan aku yakin kalian juga sama saja"
Jin diam, membenarkan ucapan Namjoon itu. Jungkook sudah seperti adik nasional, semua orang yang mengenal Jungkook 'dengan benar' pasti menyayangi bocah kelinci itu.
"Jimin akhirnya mau membantu setelah kubujuk sedemikian rupa. Dan aku memintanya untuk menjadi asistennya Jimin saja. Setidaknya Jimin dapat membantunya dan mengawasinya" lanjut Namjoon.
Jinpun berpikir sejenak sebelum mengangguk.
"Kau juga bekerja disana saja, Namjoonnie" usul Jin tak masuk akal.
"Lalu kau yang mau mengurus perusahaanku dan perusahaanmu maksudnya?"
"Enak saja. Itu tanggung jawabmu tahu"
Namjoon mencubit gemas pipi yang 'sedikit' tembam milik Jin. Pikiran Jin tidak pernah rasional. Bagaimana mungkin dia juga ikut menemani Jungkook disana kalau dirinya sendiri sudah repot dengann dua perusahaan. Ya, semenjak lahirnya Minnie, Namjoon melarang Jin untuk bekerja, sehingga otomatis tanggung jawab Jin berpindah tangan ke Namjoon. Jin senang-senang saja karena bisa fokus mengurus rumah dan anak mereka, dan Namjoon sendiri juga terlihat bisa dipercaya, sehingga kedua orang tua Namjoon dan Jin setuju akan keputusan mereka.
Dan semenjak tidak bekerja lagi, Jin akan selalu menolak apabila Namjoon menawarinya untuk kembali ke dunia bisnis itu. Ia terlalu nyaman akan kegiatannya mengurus rumah dan sang buah hati. Ya, tidak ada asisten rumah tangga di rumah yang lumayan besar itu. Semuanya Jin yang mengurusnya, membuat Namjoon bangga dan tidak pernah menyesal menikahi pemuda cantik itu.
-*123*-
Jungkook tersenyum puas karena bujukannya pada Namjoon berhasil. Dengan langkah ringan, iapun beranjak menuju kasur besar di kamar tamu itu.
'Kalau kau melupakanku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi, Kim Taehyung'
Ia masih tersenyum-senyum sendiri, tidak menyadari keberadaan bocahnya yang telah memasuki kamar itu. Awalnya Minnie memaksa Mikie agar tidur di kamarnya, tapi Jungkook menolak dengan alasan dia takut tidur sendiri. Kekanakan memang. Tapi memang Jungkook tak mau tidur sendiri saat ini. Mungkin beberapa hari kedepan, ia akan membiarkan Mika untuk tidur di kamar Seokmi.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Mika sambil menaiki kasur, mencari posisi nyamannya.
"Eh, sudah selesai mainnya?" tanya balik Jungkook sambil membawa Mika ke pelukannya.
Mika cemberut karena pertanyaannya belum terjawab.
"Hehe Mama sedang senang" jawab Jungkook akhirnya.
Bocahnya ini hanya mengangguk, kalau Mamanya senang ia juga ikut senang.
"Mama akan bekerja, dan Mikie akan disini bersama Minnie dan Jin ahjussi ya. Tidak boleh nakal" ujar Jungkook.
Mika cemberut. Pasalnya ia belum pernah ditinggal oleh 'ibu' nya ini. Ya, pernah dititipkan ke neneknya sih, itupun karena orang tuanya liburan, dan tidak mengajaknya. Sungguh kejam.
"Kenapa Mama bekerja? Papa tidak bekerja?" tanya anak itu.
Jungkook mengelus pipi chubby puteranya, tersenyum pada bocah manis itu.
"Papa sedang sakit, jadi Mama yang bekerja menggantikannya" jawab Jungkook 'sedikit' berbohong.
Ya, ia tidak sepenuhnya berbohong. Papanya memang sedang sakit.
"Papa kemana, Ma? kenapa kita tidur disini?" tanya Mika mempertanyakan keberadaan Papanya itu.
Jungkook sedikit berpikir bagaimana menjelaskan kepada Mika tentang situasi mereka sekarang. Tidak mungkin kan kalau Jungkook berkata kalau kakeknya Mika mengusir mereka dengan sangat tidak berperikemanusiaan. Ia tidak mau menanamkan kebencian pada hati anaknya itu, walaupun dengan kakeknya sekalipun. Ia terlalu kecil untuk merasakan kesakitan seperti itu.
"Papa sedang berobat ke tempat yang jauh, jadi Papa menitipkan kita di rumah Minnie, biar Mikie ada teman bermainnya" ujar Jungkook akhirnya.
"Kenapa kita tidak ikut menemani Papa berobat saja, Ma?"
Astaga anaknya ini kritis sekali.
"Mikie mau mengganggu Papa berobat? Nanti Papa sembuhnya lama loh"
"Tidak! Mikie mau Papa cepat sembuh dan main sama Papa!" pekiknya menggemaskan.
Jungkook semakin mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala sang balita dengan sayang.
"Ya sudah, kita doakan Papa cepat sembuh agar bisa tinggal bersama Papa lagi, seperti dulu" ujarnya.
Mika mengangguk, membenarkan perkataan Mamanya. Ia mau menjadi anak pintar, tidak nakal, jadi ia harus menuruti semua ucapan Mamanya.
-*123*-
Setelah Jimin mengusahakannya, tepat seminggu setelah Jungkook meminta tolong, akhirnya hari ini ia bisa mulai bekerja di Perusahaan Kim Taehyung.
"Mikie main sama Minnie dulu ya selama Mama bekerja" ujar Jungkook.
Mika mengangguk patuh. Mungkin Jungkook akan mendaftarkan Mika untuk bersekolah segera. Anaknya ini sudah cukup umur untuk menempuh pendidikan TK.
"Hyung, bisa carikan TK yang dekat darisini?" sebelum berangkat, Jungkook sempat untuk mengobrol sebentar dengan Jin.
"Untuk Mika? Dia bisa bersekolah di tempat Minnie. Tahun ajaran baru juga baru dimulau dua minggu yang lalu kok, jadi tidak terlalu tertinggal kalau Mikie berada di kelas yang sama dengan Minnie" ujar Jin.
Jungkook menggenggam kedua tangan Jin, berterima kasih.
"Nanti aku urus pendaftarannya sekalian mengantar Minnie ke sekolah. Kau tau beres saja" ujar Jin mantap.
Jungkook semakin melebarkan senyumnya.
"Terima kasih Hyung" ujarnya sambil mengecup pipi Jin.
"Astaga, kalau kau melakukan ini pada semua orang untuk berterima kasih, akan kubunuh kau Jungkook!" overprotektif memang Hyungnya ini.
"Ya sudah kau berangkat sana, Namjoonnie sudah di depan" lanjutnya.
Jungkook mengangguk dan beranjak keluar. Ya, di hari pertamanya, Jin bersikeras menyuruh Namjoon untuk mengantar Jungkook ke tempat kerja. Dia bahkan menolak ajakan Namjoon untuk mengantarnya ke TK, karena terlalu pagi. Dan Jin belum selesai dengan urusan rumahnya. Tak masalah sebenarnya karena Jin bisa menyetir sendiri untuk sekedar mengantar Minnie ke TK.
-*123*-
Taehyung menatap cermin di depannya. Entah kenapa kamarnya sekarang terasa berbeda. Seperti ada yang kurang menurutnya.
"Baunyapun berbeda dari biasanya" gumamnya pelan.
Kamarnya yang kini ia tempati adalah kamar di kediaman Kim. Walau kata Ibunya, ia memiliki apartemen sendiri sejak bekerja yang tentunya lebih dekat dengan kantor, namun ayahnya bersikukuh agar dirinya tinggal bersama mereka. Taehyung menhrut saja akan permintaan sang ayah. Toh, ia juga tidak tahu dimana apartemen yang ibunya maksudkan itu. Dan ia lebih terbiasa tinggal disini.
"Wangi bayi" gumamnya lagi.
Hell No. Bagaimana bisa kamarnya jadi begini. Kemarin ia baru pulang dari Rumah Sakit dan saat itu ia langsung tidur saja, tidak terlalu memperhatikan sekeliling. Dan kini ia sedikit terkejut akan kenyataan ini.
"Masa ada bayi disini?" gumamnya lagi.
Matanya berkeliling, dan didapatinya sebuah minyak telon bayi lengkap dengan bedaknya.
"Astaga! Bagaimana bisa?!" pekiknya tertahan seraya meraup barang-barang itu.
Seingatnya ia hanya memakai parfum manly yang biasa pria gunakan. Bedak? Hell no, Taehyung sudah tidak memakai bedak sejak usia tiga tahun. Dan itu sudah lama sekali, mana mungkin masih ada hingga saat ini?!
Di tengah pikirannya itu, Taehyung merasa mual yang sangat. Iapun mengabaikan pemikirannya tadi dan berlari ke kamar mandi.
"Aku belum memakan apapun, kenapa mual begini" keluhnya ditengah kegiatan muntahnya.
Tidak mengeluarkan apa-apa. Hanya cairan bening saja yang keluar dari mulutnya. Tentu saja, karena ia belum sarapan pagi ini.
Setelah acara paginya itu, Taehyung berjalan lemas ke kasurnya. Ia meraih minyak telon bayi itu, mengoleskannya ke seluruh bagian tubuhnya.
"Akhirnya kupakai juga" gumamnya lemas.
Setelah merasa sedikit baikan, Taehyungpun beranjak ke ruang makan. Ya, ia butuh nutrisi untuk mengisi perutnya agar tidak lemas begini. Apalagi ia memutuskan untuk bekerja hari ini. Ia tidak boleh lemah.
"Eomma, buatkan sup jamur dengan telur saja" pinta Taehyung yang berpapasan dengan ibunya itu.
Sang ibu berhenti melihat puteranya lemas begitu.
"Kamu sakit?" tanyanya.
"Tidak, Eomma. Hanya lemas saja habis muntah-muntah" keluhnya.
Sang ibu semakin yakin dengan pemikirannya. Ya, tentu saja yakin. Hal ini pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Tentunya ia masih ingat benar, karena ia begitu menyayangi puteranya ini.
"Ya sudah, Eomma buatkan dulu. Kau tunggu saja di ruang makan. Kalau masih mual, coba makan buah-buahan" ujar sang ibu seraya beranjak ke dapur.
Ya, Nyonya besar Kim juga masih ingat kebiasaan sang putera saat tengah mual muntah begitu.
-*123*-
