Hosh!

Hosh!

Suara nafas yang tercekat dan terkesan sulit itu mengiringi sunyinya malam di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Lampu-lampu gang tersebut temaran dan ada sebagian yang sudah tidak berfungsi lagi. Pemilik nafas itu tersungkur saat kakinya yang diselimuti oleh high heel tersebut tersandung lipatan aspal yang menggunduk. Ringisan sakit keluar dari bibirnya, dengan mata terbelalak di menatap ke belakang, iris matanya menunjukkan ketakutan yang teramat sangat. Pakaiannya yang nimin dilapisi oleh mantel hangat tak bisa menghilangkan dinginnya suasana tersebut.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki yang lain semakin mendekat. Wanita itu bergetar, tenaganya seakan terhisap dan dia tidak bisa bergerak barang hanya satu langkah. Ini akhirnya dari hidupnya.

"Ne, aku menemukanmu, Sayang." Suara pemilik langkah kaki itu terdengar di telinga sang wanita. Wanita itu menoleh ke belakang hanya untuk melihat seringaian sadis milik lelaki brengsek yang sudah menipunya.

"Ke, kenapa kau lakukan ini, Seonsaengnim?" Ucap sang wanita dengan bibir yang bergetar. Dengan sisa tenaganya dia mundur hingga bahunya membentur tembok, tidak ada jalan keluar lain untuknya.

"Karena aku tergila-gila padamu…" Lelaki itu maju selangkah demi selangkah, semakin mendekat dan mendekat, hingga jarak di antara mereka hilang sudah. Sebuah pisau kecil dikeluarkan dari saku sang lelaki. Lelaki itu menuju bibir sang wanita, menekan pisau kecilnya itu pada bibir merah yang terlapisi oleh lipstick merah pekat, menggoda.

"KYAAA!" Teriak wanita tersebut saat rambutnya dijambak dengan sangat kuat, sudut bibirnya berdarah karena pisau yang ditorehkan oleh sang lelaki.

"Aku suka warna merah, kau cocok dengan warna merah, Sayang."

"TIDAK!" Teriak sang wanita sebelum rasa sakit mendera tubuhnya dan menghilangkan suaranya. Kini dia hanya akan merenggang nyawa oleh sebilah pisau yang menggerogoti tubuhnya, mengoyak daging serta kulitnya hingga membuat jantungnya berhenti berdetak. Salah dirinya yang mau menerima tawaran sang lelaki, lelaki yang terlihat sangat baik tersebut menawarkannya nilai yang tinggi untuk ulangan semesternya yang buruk. Namun apa yang dia dapat? Hanya sebuah penyesalan terlambat.


12 Zodiak, Murderer Case

"Nisca31tm-emerald"

Disclaimer : Semua member SUJU bukanlah milik saya, mereka adalah milik diri mereka sendiri…

Warning : OOC, Alur ribet, banyak typo(s) dan miss typo(s), saya membuat banyak sekali perbedaan. Baik itu sifat dan kehidupan tokoh. Ini mengandung unsur sadistik dan koloni-koloninya! Saya sudah memperingatkan anda. Sehingga yang tidak suka, saya sarankan segera menekan tombol back.

Don't like don't read

Rate : M (berhati-hatilah, kuatkan mental anda)

Summary : Mereka semua adalah hakim, mereka semua adalah orang-orang yang memberi penilaian dan memberikan hukuman. Pantaskah seseorang hidup, pantaskah seseorang untuk mati? Mereka adalah 13 orang hakim yang dilambangkan oleh 12 zodiak, 12 rasi bintang yang mencoba saling mendominasi namun mereka adalah satu. Menegakkan keadilan bagi mereka yang tak bisa bersuara, menjadi senjata bagi mereka yang kehilangan kekuatannya, dan menjadi pembalas dendam bagi mereka yang telah tiada dan mengemban dendam tak terbalas. Mereka adalah 12 pemilik nama Zodiak. Aquarius, diakhiri dengan Capricorn.

HAPPY READING~~


Ricuh jalanan oleh suara kendaraan, baik itu mobil atau kendaraan bermotor memenuhi suasana pagi di jalan utama, banyak sekali ricuh-ricuh para pejalan kaki di trotoar, dan juga para pedagang yang mulai membuka toko mereka masing-masing. Anak-anak sekolah juga sudah berjejer rapi, saling bercengkrama dengan teman-temannya untuk menuju sekolah, dari sekolah dasar hingga sekolah menengatas atas. Riang, tentu saja. Ini adalah hari pertama mereka masuk kembali ke sekolah setelah natal dan tahun baru, jelas saja suasana gembira itu masih melekat dalam benak masing-masing.

CIIIIIIIIITTTTTT!

Suara rem, disertai makian memecah suasana singkron menjadi sedikit terganggu, hal itu disebabkan oleh sebuah mobil sedan berwarna putih, mobil itu terpaksa menginjak rem dengan tiba-tiba saat sebuah skateboard yang dinaiki oleh seorang pelajar menyalibnya dengan sangat cepat. Fokus sopir itu pecah karena skateboard itu berada di jalannya dan tiba-tiba menghentikan lajunya, dan itu juga jelas membuat sang sopir kaget dan menginjak rem mendadak.

"Bocah bodoh! Sudah bosan hidup, ya!?"

"Mian, mian… lampu merah, makanya aku berhenti. Hehe," tanpa rasa bersalah ataupun menyesal, pelajar yang menjadi pelaku utama keributan itu hanya memperlihatkan cengirannya kepada sang sopir yang memakinya dengan keras.

Pelajar tersebut kembali menatap ke depan, menunggu lampu merah berubah hijau. Dia menaikkan headphonenya ke telinga yang semula di leher. Musik keras keluar dari headphone itu, memblokir suara-suara tidak perlu untuk hinggap di indera pendengarannya. Dia bahkan sudah tidak memerdulikan suara sopir yang berada di belakang masih meneriaki dirinya kurang ajar. Pelajar itu hanya tersenyum sinis, kemudian menatap ke samping jalan, di sana banyak sekali pelajar seusia dirinya tengah menuju sekolah. Pelajar yang bengender laki-laki itu terkekeh saat dia tidak mengaja melihat seorang siswa terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri. Namja itu ingin kembali meneliti sekelilingnya, namun dia urungkan karena lampu merah sudah berubah hijau.

Kakinya mengayun dan menginjak aspal sebelum dengan tenaga ekstra mendorong tubuhnya dan menjalankan skateboard miliknya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak boleh terlambat di hari pertama masuk sekolah. Iris matanya yang kecoklatan memandang ke jalanan yang penuh dengan mobil berlalu-lalang, hanya sedikit kendaraan bermotor, dan hanya dirinya yang menggunakan skateboard. Tanpa sengaja dia melihat limousine hitam, mengkilap, dan terlihat sangat mewah sekali. Limo itu menuju arah yang berlawanan dengannya.

"Wahaa, orang kaya zaman sekarang. Sekali-kali aku juga ingin naik itu," ucap pelajar tersebut dengan riang, dia tersenyum charming saat dirinya dan limousine saling berpapasan, dia sempat melihat seorang pemuda di dalam mobil tersebut karena kaca jendela limo tidak tertutup semua, pemuda itu tengah menatapnya dengan pandangan tajam, terganggu mungkin. Tapi yang lebih penting, dia merasakan aura yang sama dengan dirinya. Ya, walau sekilas, dia dapat merasakan aura pemuda di dalam limousine itu sama dengannya. Dan dia tidak bisa mengatakan makna aura itu.

"Pewaris keluarga Choi, kah?" Ucap pelajar tersebut lebih kepada dirinya saat iris matanya tak sengaja melihat ukiran nama 'Choi' di belakang limousine tersebut, "Sudahlah. Bukan urusanku,"

Tidak peduli, pelajar tersebut langsung menikung, untungnya jalanan yang dia lalui sedang sepi alias jarak mobil-mobil sedang renggang. Dia langsung melesat memasuki gerbang yang bertuliskan "SM International High School" dengan megah dan besar. SM International High School merupakan sekolah elit yang sulit untuk dimasuki, hanya orang yang memiliki kepandaian di atas rata-rata yang dapat diterima di sini.

"Ya! Lee Dong Hae! Jangan naiki skateboardmu di koridor!" Bentak seorang pelajar lain.

Donghae POV

"Okay, Mian. Hehe," sahutku dengan cengiran lebar tak bersalah pada namja yang aku lupa namanya tersebut. Cengiranku hilang saat aku menuruni skateboardku dan memegangnya dengan tangan kiri, tangan kananku kembali membenarkan letak headphone yang sedikit bergeser karena teriakan dan bentakan dari namja yang menegurku itu. Ah, sudahlah, aku benar-benar lupa siapa nama namja itu.

Dengan santai dan disertai siulan aku mulai berjalan, kadang aku melempar senyum kekanakan milikku di depan orang-orang yang menyapaku, walau musik volume penuh memenuhi indera pendengaranku, aku masih paham gerak bibir mereka yang berada di depanku. Aku ingin cepat-cepat tiba di kelas dan tidur. Memang bukan sikap teladan, namun aku memang sering sekali bosan. Sebenarnya aku sekolah ini untuk apa? Haaaah, aku juga bertanya-tanya. Mungkin hanya untuk main-main?

Tiba-tiba satu tepukan keras mendarat di bahuku, membuatku menoleh ke belakang. Ah, di sana berdiri seorang pemuda seumuran denganku, ukuran tubuhnya juga sama denganku. Namanya Henry. Dia teman sekelasku dan mengklaimku sebagai teman baiknya, dan aku tidak pernah peduli. Namun, aku menghargainya, aku melepas headphone milikku dan kembali mengalungkannya di leher. Iris mataku memandangnya disertai dengan senyuman khasku.

"Sejak tadi aku memanggilmu," ucapnya dengan dingin dan sedikit merajuk. Aku terkekeh sambil menangkupkan kedua tanganku pengganti kata maaf. Dia mendesah, lalu tersenyum tanda tidak apa-apa.

"Jadi, bagaimana natalmu? Menyenangkan, kah?"

"Ya, sangat menyenangkan. Aku mendapat banyak kue dan bahkan aku mendapat kado dari Santa!" Ucapku dengan nada meriah, aku menunjukkan ekspresi yang sangat kekanakan ini. Ekspresi yang bisa membuat semua orang tertipu. Memangnya aku sepolos itu apa? Setiap orang memakai topeng, begitu pula aku. Lagipula natal kemarin aku hanya menghabiskan waktu sebentar dengan keluargaku diselingi menjalankan 'tugas' yang tidak bisa aku tinggalkan.

"Bodoh! Mana ada yang namanya Santa!"

Aku hanya tertawa saat dia mencubit kedua pipiku sebelum merangkulku dengan erat, kemudian dia kembali mengoceh tentang natal yang dia alami bersama keluarganya, tentang dirinya yang mendapat kiriman permata dari keluarganya yang berada di Jepang, dan juga tentang dirinya yang dikerjai oleh sepupu-sepupunya yang jahil minta ampun. Cerita Henry memang terkesan 'wah', dia memang memiliki banyak kerabat dan natalnya pasti juga sangat meriah, belum lagi tahun baru dia pasti mendapat banyak kejutan. Dan kali ini dia menceritakan itu semua padaku tanpa jeda sedikitpun. Aku hanya mendengarkan perkataannya sambil menatap ke depan dan kadang membenarkan perkataannya atau sekedar mengangguk, tidak lupa dengan senyuman supaya dia percaya.

"Ada apa?" Tanyaku dengan nada bingung saat aku merasa jika ceritanya berhenti dengan tiba-tiba, langkahnyapun juga terhenti. Ini jelas membuatku sedikit bertanya-tanya.

"Kim-Seonsaengnim terlihat aneh," ucapnya dengan alis yang bertaut, pandangan matanya mengarah ke luar jendela, tepatnya kelapangan, di mana orang yang dia maksud berada.

"Aneh?" Tanyaku tidak paham, aku memerhatikan ke arah lapangan. Tepat melihat ke arah guru yang dimaksud oleh Henry. Guru Kim memang masih tergolong muda dan tampan, wajar saja jika dia disukai oleh para murid, terutama perempuan. Tapi daripada itu, Kim-Seonsaengnim terlihat seperti ular di mataku, dia memiliki aura yang sangat tidak menyenangkan, aku tidak menyukainya. Karenanya, aku bahkan tidak pernah bertukar sapa, walau beberapa kali beliau masuk ke kelasku, aku menjadi pasif dan memasifkan guru Kim itu.

"Iya, mata Kim-Seonsaengnim tidak pernah lepas dari seragam depan murid perempuan! Betapa mesumnya dia!"

Mendengar perkataan dari Henry membuatku tercenung untuk beberapa saat. Sebenarnya siapa yang mesum di sini? Haaah, tipikal Henry, pikirku. Aku sempat berpikir jika Henry memiliki pemikiran yang sama denganku tentang keanehan Kim-Seonsaengnim, ternyata mendekati saja tidak.

Setibanya di kelas, aku langsung menuju barisan paling belakang, dekat jendela. Aku bahkan sudah melupakan Henry yang juga duduk di kursinya di barisan kedua dari depan, dan berjarak tiga meja dari pintu. Tempat duduk yang jauh dariku, karena memang aku langsung mengklaim tempat duduk paling pojok adalah milikku, dan Henry tidak bisa mendapatkan kursi di sampingku karena dia kalah cepat dengan namja yang berada di sampingku, aku juga lupa namanya siapa. Aku memang sulit mengingat nama orang lain, karena menurutku itu merepotkan.

Aku memandang malas ke luar jendela, aku bosan. Karenanya aku kembali memasang headphoneku pada kedua telingaku, memainkan musik dengan volume paling keras. Kembali memblokir semua suara yang tidak perlu pada indera pendengaranku.

CTAK!

"Ouch!" Sebuah kapur tulis mendarat dengan telak di kelapaku, kapur itu patah menjadi beberapa bagian. Satu bagian mendarat di mejaku, dan bagian yang lainnya jatuh ke lantai. Dengan pandangan heran aku menatap ke depan. Dan aku langsung menunjukkan wajah tanpa dosaku.

"Pulang sekolah kau menemuiku di kantor, Lee Donghae!" Itu Kim-Seonsaengnim. Aku bahkan tidak tahu jika beliau akan masuk ke kelasku hari ini. Menyebalkan. Bahkan seluruh murid yang ada di kelas menertawakanku!

"Baik, Seonsaengnim." Ucapku sambil berdiri dan membungkuk, pertanda minta maaf dariku. Walau dalam hati aku benar-benar tidak sudi. Banyak sekali gosip tentang Guru Kim. Dan itu semua adalah hal yang positif, namun ada beberapa yang negative. Dan aku lebih percaya pada opsi yang terakhir. Kim-Seonsaengnim bukan orang baik.

"Kau baik-baik saja, Hae?" Tanya Henry padaku, kini jam istirahat sudah datang. Aku tetap berada di dalam kelas sambil mendengarkan musik, sebelum Henry datang dan membawakan sebungkus roti dari kantin.

"Ya, aku baik-baik saja," walau dalam hati aku tengah kesal sekali, aku merasa diejek oleh Kim-Seonsaengnim, dan aku tidak menyukainya.

"Aku deng-"

Perkataan Henry terputus saat sebuah nada halus terdengar dari ponsel milikku, dengan cepat aku melihat layar, di sana terpampang jelas nama 'Lady Black', oke, ada pekerjaan.

'Semua berkumpul,'

Aku baru saja mengangkat panggilan itu, dan setelah orang yang berkepentingan berujar, sambungan tersebut langsung terputus. Aku tersenyum, memang seperti inilah Lady Black, tidak ada toleransi sama sekali. Aku menyimpan ponselku ke dalam saku celana, memasang blazer sekolahku, mengambil skateboardku yang berada di belakang kelas, dekat dengan mejaku sendiri, kemudian mulai melangkah pergi. Di bibirku ada sebuah senyuman miring, kali ini tidak akan membosankan. Aku hanya berharap jika aku mendapat giliran.

"YA! Lee Donghae! Kau mau ke mana?" Hampir saja aku melupakan Henry. Aku menatap ke belakang, Henry berada di sana dan berkacak pinggang.

"Aku mau pulang, dah!" Sahutku, kemudian aku langsung melenggang pergi, tidak kuperdulikan panggilannya yang menyuruhku kembali. Besok pasti dia kan menceramahiku panjang lebar.

Aku sama sekali tidak peduli dengan itu semua. Lantas aku langsung bergegas sebelum para guru memergokiku, untunglah waktu istirahat belum habis, sehingga gerbang masih terbuka untuk beberapa menit ke depan. Aku menjatuhkan skateboardku, lalu aku melompat ke atasnya, memacu kakiku lalu mulai melesat pergi. Aku bersiul pelan saat sudah berhasil keluar gerbang dengan aman. Yang perlu kulakukan hanya bersiap untuk 'pertemuan' spesial ini.

"Ah! Aku lupa memakan rotiku!" Umpatku pada diriku sendiri. Pantas aku merasa seperti melupakan sesuatu.

# # #

Aku memasuki ruangan ini untuk yang kesekian kalinya, ruangan bernuansa merah yang dominan ini tetap memiliki kesan mistis walau aku sudah memasukinya berulang-ulang kali. Aku menuju kursi kedua di mulai dari kanan kursi milik Lady Black, 13 kursi sudah terisi 10 orang, dan aku yang ke-11, padahal aku pikir akulah yang paling terlambat. Setelah aku mendudukkan diriku di kursi, pintu kembali dibuka oleh dua orang yang tersisa. Libra dan Leo. Rupanya keduanya datang di saat yang bersamaan. Lengkap sudah. Ya, lengkap, kecuali kursi yang akan ditempati oleh Lady Black. Hanya kristal biru yang berada di depan kursinya.

Aku menatap semua pemilik nama bintang dengan iris mataku yang bernuansa kelam, tangan kiriku menyentuh wajahku sendiri yang tersamarkan oleh topeng opera berwarna hitam-silver dengan guratan emas, menutupi setengah wajahku. Aku menyeringai, yang dibalas oleh seringai juga dari sebagian besar mereka. Hanya Leo, Aquarius, dan Scorpio yang tidak membalas seringaianku, mereka hanya diam dan diam saja sejak tadi. Libra tiba-tiba menarik perhatianku, dia tersenyum dengan sangat lebar, walau mulutnya masih tertutup rapat. Di tangan pemilik nama Libra itu ada sebuah mawar putih yang masih segar. Namun itu tidak berlangsung lama saat pemilik nama Sagitarius, entah bagaimana caranya bisa merebut mawar itu lalu membuangnya ke sudut ruangan. Aku bahkan menghilangkan seringaianku karena perhatianku tersedot oleh itu.

"Putih sama sekali tidak cocok untukmu, ah, untuk kalian." Suaranya bass, sangat jernih dan terdengar tanpa tanding. Kharismanya keluar dengan berlimpah, menjadikan sosok itu terkesan disegani. Tentu saja itu salah, aku sama sekali tidak segan dengan mereka semua, tak terkecuali Sagitarius sekalipun.

"Juga untukmu," sahutku tanpa permisi, aku bertopang dagu sambil menatap wajahnya yang tertutup topeng berwarna merah maroon dengan silver yang hampir mendominasi. Tidak ada lis berwarna emas atau guratan berwarna emas pada topeng itu, hanya ada warna merah maroon dan silver, ditambah kilauan permata kecil-kecil. Khas Sagitarius.

"Aku rasa tidak ada yang pantas untuk menyandang warna putih, kita semua gelap. Ingat itu," Libra menutup ucapanku, dia melunturkan senyumannya. Wajahnya terlihat beku, tidak memiliki ekspresi apa-apa. Libra, pemilik nama Libra ini kadang membuatku penasaran, dia sangat adil, atau yah memang itu lambang zodiaknya. Dia selalu netral dan jadi penengah, walau dia 'gelap', namun ada kesan 'bersinar' setiap kali dia mengungkapkan suaranya.

"Oya~? Kalian sudah saling bertukar sapa, ya?" Pintu dibuka, bersamaan dengan ucapan dari Lady Black yang membuat kami hanya fokus pada dirinya. Wanita itu kini memakai gaun berwarna hitam –lagi-, kali ini dengan ujung gaun yang sederhana dan tidak terlalu menggelembung, ujung gaunnya menyentuh lantai, bahkan high heel yang dia kenakan tersamar dengan baik, hanya suaranya yang berbenturan dengan lantai, menggema. Lady Black adalah satu-satunya wanita dan satu-satunya orang yang tidak memakai topeng, dan juga dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui identitas diri kami masing-masing. Termasuk aku, pemilik nama zodiak Pisces.

"Kasus kali ini adalah kasus sejenis dengan kasus yang pernah dihadapai oleh Capricorn sebelumnya," Lady Black memulai narasinya saat dirinya menduduki kursi kosong di ruangan tersebut. Mata Lady Black terpejam, dia seperti memiliki mata ketiga yang tengah menerobos batas antara dunia ini dan dunia di dalam bola kristal kecil itu.

"Target kali ini bernama Kim Woon. Seorang Seonsaengnim yang bekerja di SM International High School. Dia memiliki kelainan jiwa, psychopath yang suka membunuh muridnya sendiri. Kejahatannya sudah dimulai sekitar enam tahun yang lalu, namun jejaknya menghilang sekitar tiga tahun yang lalu. Namun muncul kembali ke permukaan baru-baru ini," aku mendengarkan perkataan Lady Black dengan tenang, bertopang dagu. Aku tahu siapa target kali ini, aku tersenyum dalam hati.

"Dia kejam dan tidak kenal ampun. Korban terbarunya adalah seorang pelajar, tadi malam, mayat perempuan malang itu ditemukan dengan sangat tragis, tak bisa dikenali karena 'seni' yang dibuat oleh Kim Woon." Lady Black menutup narasinya, dia tersenyum kepada kami semua. Aku tahu jika semuanya tertarik dengan tugas ini, ah, kecuali Libra. Pemilik nama zodiak Libra itu memang tidak pernah antusias untuk membunuh, dia selalu berwajah dingin saat mendapat giliran.

"…Pemilik nama zodiak yang terpilih kali ini adalah…Pisces." Semua mata menatap kepadaku. Aku menyeringai. Aku mendapat giliran. Membunuh Kim-Seonsaengnim? Orang yang sudah mengejek dan menggangguku serta melemparku dengan kapur tulis? Kesempatan ini tidak akan pernah aku sia-siakan. Kapan lagi aku dapat menikmati untuk membalas guru itu? Akan kubuat guru itu menjilat ujung sepatuku!

"Tentu saja," jawabku dengan mantap tanpa menunggu ditanya apakah aku bersedia atau tidak.

Dengan jawaban dariku, itu saja sudah cukup untuk membuat pertemuan ini selesai. Lalu, semua orang mulai berdiri dan keluar ruangan, dimulai oleh Aqurius yang duduk di sampingku, aku menyusul di belakangnya, kemudian yang terakhir adalah Capricorn. Dia juga bertugas menutup pintu dan membiarkan Lady Black sendirian di ruangan merah tersebut.

# # #

Matahari sudah mulai terbenam, mempertebal lembayung jingga di ufuk barat dan mulai tertelan gedung yang berada di depannya. Pukul 6 sore, hampir setengah 7 malam. Aku mengenakan baju santai biasa dengan jaket tebal sebagai lapisan terluar, lalu sebuah topi rajut bertengger rapi menutupi rambutku. Kedua kakiku yang dibungkus oleh sepatu kets berwarna putih memasuki gerbang sekolahku. SM International High School. Sepi, tentu saja, sekolah sudah dibubarkan hampir satu jam yang lalu. Tidak ada kegiatan ekskul di hari pertama masuk sekolah, Lucky!

Kakiku berjalan santai dan membimbingku menuju sebuah lab kimia yang berada di ujung ruangan, bersebelahan dengan lab fisika, targetku ada di sana. Semakin aku mendekati lab, semakin aku dapat mencium aroma pekat, berkarat, menjijikkan. Entah apa yang dilakukan targetku tersebut. Lab kimia di lantai dua –lantai ini-, memang tidak digunakan lagi karena ada lab baru yang berada di lantai satu. Leluasa sekali melakukan apa saja, apalagi jika kau ahli di bidangnya, seperti Kim-Seonsaengnim.

Aku berdiri di depan pintu lab kimia, tanganku dengan cepat membuka pintu tersebut dan langsung melihat apa yang dilakukan oleh guru Kim. Aku terbelalak, dengan iris mata nanar menatap ke depan, darah dimana-mana! Kim-Seonsaengnim tengah melakukan pembedahan pada tubuh seorang murid perempuan. Ada gumpalan-gumpalan daging pada mampan besi yang berada di samping meja besar tempat meletakkan tubuh malang itu oleh Kim-Seonsaengnim.

"Ki, Kim-Seonsaengnim, a-apa yang anda lakukan?" Tanyaku terbata. Iris mata Kim-Seonsaengnim menatapku dengan pandangan terkejut sebelum menyeringai karena melihat ekspresi ketakutanku, dia mengarahkan pisau bedah yang berlumuran darah padaku.

"Hiee!" Teriakku, aku terhenyak lalu terduduk, tubuhku bergetar dengan tidak biasanya, seakan tidak bisa bergerak, seakan ketakutan menggerogoti tubuhku hingga tenagaku terserap habis.

"Ah, Lee Donghae. Kau datang di saat yang tepat. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya membedah laki-laki." Suara Kim-Seonsaengnim membuat bulu tengkukku berdiri, dingin.

"A, a…" Lidahku kelu, aku mundur ke belakang dalam posisi duduk saat jarakku dengan Kim-Seonsaengnim semakin dekat, aku bisa merasakan dinginnya tembok yang ada di belakangku, jalan buntu.

"Kalau seperti ini tidak seru," Kim-Seonsaengnim tampak berpikir, perasaanku tidak enak, "Larilah, Lee Donghae. Aku akan memburumu, dengan begitu akan lebih menarik. Mendengar kau menjerit, mendengar teriakanmu, rintihanmu. HAHAHAHA!"

Senyuman milik Kim-Seonsaengnim semakin lebar saat tanganku menaut tembok dan mulai berdiri, bersiap untuk lari. Ha, aku menunduk hingga wajahku tidak terlihat oleh Kim-Seonsaengnim, aku menyeringai dalam diam. Aku hanya ingin bermain, bermain dengan perasaan manusia.

"…Sebaiknya kau yang lari, Seonsaengnim. Aku yang akan mencarimu," ucapku dengan seringaian miring, iris mataku menatap berbahaya pada guru Kim, membuat guru itu terbelalak kaget.

Seringaianku semakin lebar saat Kim-Seonsaengnim juga menyeringai, dia tidak tahu situasi ya? Aku kan hanya pura-pura takut tadi, aku hanya ingin melihat seperti apa guru ini bermain. Haaah, permainanku jauh lebih menyenangkan dari permainanmu, Seonsaengnim.

Pisau bedah itu mengarah langsung ke arah mata kiriku, Kim-Seonsaengnim serius ingin menghabisiku. Tawa kecil dengan kekehan aneh keluar dari mulutnya, kini dia bagai orang yang kesetanan saja. Aku menghindar, tentu saja. Sebagai salah seorang pemilik nama zodiak, tentu bela diri adalah keahlianku. Kami dilatih untuk bisa melakukan perlawanan terkuat sekalipun, karena target kami biasanya sulit.

"HAHAHA, teruslah menghindar, Lee Donghae! Karena sebentar lagi kau akan terdiam dan menggantikan tubuh itu!" Tunjuk Kim-Seonsaengnim pada tubuh terkoyak yang berada di atas meja.

"Ne, Seonsaengnim. Kau menyebalkan," aku berujar sambil menahan pergelangan tangannya yang memegang pisau bedah, aku menekan kuat kakiku sebelum melepaskannya ke perut Kim-Seonsaengnim, membuat pria itu merintih dan terjungkal ke belakang, walau begitu dia belum juga roboh. Padahal aku yakin sekali telah menendangnya dengan tenaga ekstra.

"Brengsek, kuat juga kau, bocah." Balasnya, dia menerjangku dengan sangat cepat. Walau begitu aku kembali menghindar lalu memukul tengkuknya tengan keras, setelahnya lututku langsung menghantam perutnya lagi. Kali ini dia terjungkal dan mengenai lemari penuh dengan tabung reaksi. Suara kaca jatuhpun memenuhi ruangan tersebut akibat tabung reaksi yang berjatuhan karena hantaman tubuh Kim-Seonsaengnim. Aku terkekeh saat melihat di sudut bibirnya mengalir darah segar.

"Oya? Sudah tidak bisa melawan? Begitu saja yang kau bisa, Seonsaengnim?" Aku mendekati Kim -Seonsaengnim dengan pelan, aku berjongkok di hadapannya yang tidak juga bergerak. Rintihannya, nafasnya yang tersengal, menjadi hiburan tersendiri bagiku. Ku angkat dagunya dengan telunjuk kananku, ah, rupanya wajahnya membiru, aku bahkan tidak ingat telah mengenai wajahnya juga.

Merasa jika pria ini tidak juga menyahutku, aku langsung memukul wajahnya tanda kesal, dengan kasar aku memaksanya untuk bangkit dan kemudian melemparnya di kaki meja besar tempat seonggok tubuh tak bernyawa berada. Aku ikat sedua tangannya di kaki meja, aku hantam kakinya dengan lemari besi yang berada di ruangan itu.

KRAK!

"AHHH!" Suara tulang remuk, serta teriakan keras dari Kim-Seonsaengnim hadir dalam inderaku saat lemari itu aku jatuhkan pada kakinya, aku dapat dengan jelas melihat urat-urat merah di kedua matanya, menahan sakit. Aku juga dapat melihat bibirnya kembali berdarah, sepertinya dia gigit sendiri, lalu jangan lupakan kedua kakinya yang mengeluarkan darah, remuk kah? Menarik, ini menyenangkan.

"Itu untuk membalas lemparan kapur tulismu tadi pagi." Ucapku kalem, aku memandang Kim-Seonsaengnim dengan pandangan merendahkan sebelum mengambil pisau bedah yang tergeletak di samping kakiku.

"Dan ini bayaran karena telah mempermalukanku…"

"AGHHK!" Teriakan kembali keluar saat tanganku dengan nakal, memainkan pisau bedah di wajahnya, menekannya, menjalannya secara horizontal di pipi kirinya, melewati hidungnya, dan berhenti di pipi kanannya. Ah, darah kembali merembes membasahi setengah wajahnya. Indah, bukan?

"HE, HENTIKANN!" Raungnya saat aku mulai menjalankan kembali pisau itu menuju lehernya. Aku menghentikan gerakan pisau itu, lalu memandangnya dengan lugu.

"Kenapa? Bukankah kau suka dengan jeritan, Seonsaengnim?"

"TI, TIDAK! Berhenti! Sebenarnya siapa kau!?"

"Kau tahu, Kim-Seonsaengnim. Aku paling tidak suka saat aku bertanya kau malah tidak menjawabnya." Sahutku dengan dingin, aku menancapkan pisau tersebut pada bahu kirinya dengan tiba-tiba, keras, dengan tenaga yang ekstra. Tanpa sengaja, aku menarik pisau yang sudah menancap di bahunya tersebut ke arah bawah, hingga menimbulkan luka yang lebar dan panjang. Wah, aku kelewatan.

"AGKKKH!" Teriakan kembali membahana, disusul oleh teriakan demi teriakan, berulang-ulang, ah, mainanku sudah rusak. Aku tersulut emosi di akhir permainan. Aku menyesalinya.

CRAK!

Kuputar lehernya hingga bunyi tulang patah itu terdengar. Mainanku sudah terlanjur cacat. Padahal awalnya aku berencana menambah penderitaannya dulu dengan pelan-pelan, namun malah aku menuju ke arah yang melenceng hingga mainanku rusak lebih cepat, aku tidak mau seperti itu. Lebih baik cari yang lain saja nanti. Dengan pandangan menyesal karena kurang puas bermain, aku melenggang pergi, tapi sebelum itu aku mandikan tubuh targetku tersebut dengan isi perut dari mayat yang jadi korbannya. Hah, penampilannya jadi semakin 'indah', sudah kuduga, Kim-Seonsaengnim memang sangat pantas dengan warna merah.

# # #

Ricuh, banyak sekali mobil polisi dan ambulan berada di halaman gedung SM International. Merasa jika skateboardku tidak akan mampu untuk menerobos para siswa dan guru yang berkumpul di halaman sekolah, aku segera turun dari skateboardku dan berjalan kaki menerobos sedikit demi sedikit. Kira-kira ada apa ya? Pikirku dengan polos.

"Ada apa, Henry?" Tanyaku pada Henry yang terlihat tegang, dia ikut berkumpul dengan murid yang lainnya.

"Kim-Seonsaengnim, dia ditemukan telah meninggal dengan cara yang tragis di lab kimia. Tadi pagi guru pembimbing lab tidak sengaja menemukan mayatnya, dan beliau langsung memanggil polisi dan ambulan," ucap Henry dengan nada ngeri pada setiap baris kata yang dia ucap.

"Ha? Bunuh diri?" Tanyaku, aku memasang wajah bingung penuh muslihat.

"…dibunuh… Katanya oleh orang yang iri dengan kesuksesan Kim-Seonsaengnim. Tapi…"

"Tapi?" Aku membeo, dalam otakku, aku sudah tahu apa yang akan dia katakan.

"Di lab itu, ada mayat lain. Mayat seorang perempuan, yang katanya siswa di sini. Kenapa bisa ya? Atau pembunuh itu datang saat guru Kim dan murid itu tengah berbincang, lalu keduanya dibunuh? Apakah itu mungkin, Hae?" Alis Henry bertaut, dia tampak berpikir keras.

"Mungkin saja. Bukankah Kim-Seonsaengnim adalah orang baik?" Ujarku dengan nada sedikit bercanda, bodoh sekali, orang bodohpun pasti akan berpikir jika mayat yang lain itu adalah hasil kerja dari Kim-Seonsaengnim sendiri. Beda waktu kematian mereka jelas sudah menjadi faktor utama, tapi sepertinya para polisi dan ahli autopsi tidak membuka mulut.

Setelah mengatakan hal itu aku langsung berjalan maju menuju kelas, aku meninggalkan Henry yang masih asyik berdiam di lapangan, mungkin ingin mendengar kabar selanjutnya. Bagiku itu sia-sia dan buang-buang waktu. Jelas saja kejadian ini akan ditutup rapat pada akhirnya oleh pihak sekolah karena ini adalah aib. Cih, dengan malas aku menaikkan headphoneku menuju telinga, kembali mendengarkan musik keras.

"Aku bosan,"

TBC

Akhirnya update juga! Terima kasih deh untuk my best friends yang memberi saya banyak inspirasi dan ide-ide gila …

Balasan review chapter pertama :

Haikal Kaichou : Benarkah? Terima kasih. Saya juga baca yang Leo … Donghae? Request anda, saya kabulkan … XD ya, terima kasih udah review…

Guest : Iya, ini udah lanjut… terima kasih udah review…

Kikikyujunmyun : Romance? Maaf ya, sepertinya tidak akan ada romance. Mungkin hanya ada friendship aja… mian, mian … Hehe, terima kasih udah review…

Guest : Iya, ini udah lanjut, terima kasih udah review…

Siwonnie lope forever : Hehehe, karena Siwon salah satu pemilik nama zodiak, makanya dia jadi pembunuh… terima kasih udah review…

Narumi Kadaya : Udah pernah baca manganya juga ya? Hahaha, emang keren sekali… kurang sadis ya? Huwa, nanti akan saya buat lebih sadis… dan terima kasih udah review… XD

Elf : Iya, ini udah lanjut, terima kasih udah review…

Minyak wangi : Wah, suatu kehormatan jika ini adalah fic pertama yang anda baca … Yesung ya? Kalau Yesung bukan chapter ini. Maaf ya, tapi nanti juga dapat giliran. Terima kasih udah review…

Scopluse : Iya, gak apa-apa kalau gak login. Wahaha, saya merasa sangat tersanjung jika anda mengatakan hal itu… Yaoi? Ini kayaknya gak bakal yaoi, deh. Kalaupun ada paling cuma sekedar untuk menjalankan alur cerita. Iya, saya menjadikan Gemini, yang kembar, dua orang. Jadi genap 13. Terima kasih udah review…

Meotmeot : Mereka semua tidak saling kenal. Padahal mereka saling berdekatan dalam kehidupan sehari-hari, tapi mereka tidak saling mengetahui identitas masing-masing. Zodiak itu saya jadiin satu dengan Gemini, sehingga genap 13. Terima kasih udah review… hehe

PenpenSugura : Wahaha, anda ada-ada saja, Sugura-san. Ini udah lanjut dan terima kasih udah review…

PandaMYP : Iya, ini udah lanjut. Terima kasih udah mau baca dan juga terima kasih udah review…

Tini Yesung : Iya, iya… Donghae aja dulu yak? heeee? Kenapa Yesung belakangan aja? Si Aquarius itu seharusnya di awal-awal… #plaakk! Terima kasih udah review…

Suju lovers : Iya, ini udah lanjut, terima kasih udah review…

Draconisthorn : Wahaha, kamu kira mereka makhluk langit gitu ya? Sempat terpikir sih mau jadiin mereka makhluk lain, tapi susah, entar malah jadi supernatural banget… jadi yang alami-alami saja… Iyup, saya memang sengaja bikinnya kayak begitu. terima kasih udah review…

Sauriva Angelast : Hn terima kasih udah review…