"Wonwoo!! Jeon Wonwoo!!"
Seseorang berlarian menuju kearahku, dia salah satu teman sekelasku ... ya,sepertinya. aku lupa, aku bahkan tidak tahu siapa namanya.
"Iya? Kenapa?" Tanyaku agak santai dengan nada datar.
"Kau benar Jeon Wonwoo kan??" teriaknya sambil menunjuk udara kearah ku, padahal beberapa detik yang lalu dia yang memanggilku dengan nama lengkap. Tapi setelahnya dia baru bertanya apakah nama yang tadi dia sebutkan adalah namaku, sekolah ini aneh.
"Iya benar, kenapa?" Tanyaku malas.
"Kau dipanggil bagian kesiswaan, lebih baik kau segera menuju ruangan kesiswaan sekarang, kalau tidak salah mereka bilang kau berada dikelas yang salah" jelasnya,
DEGG
DEGG
DEGG
Sebenarnya bukan masalah besar, tapi entah kenapa aku merasa malu. Kenapa aku bisa salah kelas? Padahal beberapa hari yang lalu Ibuku menelpon sekolah dan mengabarkan kalau aku sedang sakit. Kemudian pihak sekolah mengatakan kalau aku berada dikelas 10-10. lalu sekarang, pihak sekolah juga yang bilang kalau aku salah kelas.
Sekolah ini memang sangat aneh. Kalau aku boleh mengatakannya dengan lantang saat ini.
Dengan wajah merah aku pergi menuju ruang kesiswaan dan meninggalkan orang yang memberi tahuku kalau aku salah kelas. Sebelumnya aku bertanya padanya dimana letak ruang kesiswaan, karena aku masih buta tentang seisi sekolah ini.
.
.
.
SECRET ADMIRER
.
.
.
TOK TOK TOK
"Selamat pagi Bu, Saya Jeon Wonwoo dari kelas 10-10, Ibu memanggil saya?" Tanyaku dengan nada ramah yang sama sekali tidak pernah aku gunakan.
"Oh, Jeon Wonwoo ya? Sekarang kamu bisa pindah kelas, pergi ke kelas 10-8 itu kelasmu sekarang." Ujar wanita yang matanya sibuk dengan tumpukan kertas dan komputer lipatnya di mejanya.
"10-8? Bukan 10-10?" Tanyaku meyakinkan, jujur saja aku sudah cukup nyaman berada di 10-10 walau baru sebentar berada di sana. Suasana kelasnya sangat mengasyikkan, semua muridnya juga baik. Ya ... mungkin hanya perasaanku saja.
Aku hanya membayangkan jika dikelas 10-8 nanti semua nya bertolak belakang dari yang sebelumnya. Bagaimana jika ada tukang bullying di sana? Atau mungkin mereka tidak senang jika aku berada di sana. Dan akhirnya aku tidak punya teman seperti masa SMP dulu.
Bisa jadi kan? siapa tahu saja.
"Jeon Wonwoo! Apa kau mendengarkan Ibu? 10-8!" ujar wanita itu dan menekankan diakhir kalimat.
"I-Iya Bu saya akan pindah, saya permisi" aku melangkah keluar setelah membungkuk pada wanita itu. Mood ku menjadi buruk, berkali-kali bertanya. 'Apa yang harus kulakukan?'
Sekali lagi, aku harus membuat ini terlihat mudah. Hanya perlu mengambil tas, lalu pergi dari kelas 10-10 dan pindah ke kelas 10-8. itu mudah bukan? Memang mudah jika hanya dibicarakan dengan lisan, tapi mengapa begitu sulit jika dilakukan dengan tindakan.
Dan berbicara tentang wanita yang tadi berada diruang kesiswaan, aku jadi membencinya. Kalau saja dia tidak menyuruhku untuk pindah mungkin aku akan baik-baik saja.
Tapi sekarang, keadaannya malah jadi buruk.
.
.
.
Sampai didepan kelas 10.8, aku berhenti beberapa meter didekat pintu, mengatur napas, dan mengeratkan pegangan pada tas yang berada dibelakang punggungku.
Aku takut.
Takut jika yang ada dibayangkan beberapa menit lalu jadi kenyataan.
Kakiku melangkah dengan beban berat melalui pintu coklat yang terbuat dari kayu, tiba-tiba semua mata tertuju padaku. Tidak disangka kenapa tiba-tiba mereka melihatku seperti aku adalah mangsa dan mereka adalah predator yang ganas dan terlihat sangat kelaparan. Aku tidak menghiraukan dan melangkah menuju lorong-lorong meja berharap ada tempat kosong dan ternyata ada satu dibelakang.
Aku mulai mendekat kearah tempat kosong itu dengan perlahan. tiba tiba seorang laki-laki mengambil tasnya dan memindahkannya kebelakang, dia menunjuk kearah meja yang mana tasnya mendarat diatasnya.
Laki-laki itu duduk dimeja yang tadi ia tunjuk, menepuk kursi kosong disampingnya, dengan kata lain dia ingin aku duduk disampingnya. Aku tersenyum tipis. Ternyata masih ada yang baik padaku. Untuk kali ini aku masih aman.
Aku segera duduk, "Thanks" ujar ku pada laki-laki yang masih tersenyum tipis itu. Dia masih memperhatikanku. Aku jadi salah tingkah karena dia terus-terusan menatap ke arahku tanpa sedikitpun ingin menoleh kearah lain.
Aku segera mengeluarkan ponselku dan menari-nari diatas layar, agar mengalihkan pikiranku dari orang disamping ku yang sangat menggangu. walaupun sebenarnya aku hanya menggeser menu kekiri dan kekanan.
Tapi laki-laki itu masih menatapku, aku menaruh ponselku dengan keras keatas meja. Dan menatap laki-laki yang masih tersenyum itu.
"Kenapa membantingnya?" Tanya laki-laki itu sambil meraih ponselku dan mengelusnya pelan seperti ponselku adalah salah satu dari peliharaannya
Aku hanya melihatnya dengan tatapan malas tanpa ingin membalas pertanyaan yang ia lontarkan barusan, Untung saja dia sudah sangat baik karena memberikan tempat duduk untukku, jadi mungkin sedikit obrolan tidak apa-apa.
"Kenapa kau memperhatikan aku seperti itu? Kau tahu—aku agak pemalu dan jarang bicara, aku juga tidak bisa menatap mata seseorang saat berbicara. Kuharap kau tidak keberatan jika aku duduk disini, tapi jika kau keberatan aku bisa pindah" ujar ku putus asa. Lagi-lagi aku ingin mengumpat tentang keanehan dari sekolah ini. Sudah berapa kali aku menemukan keanehan disekolah ini?
"Tak apa, jangan pindah." Ujarnya.
"Kalau begitu bisakah berhenti menatapku? Aku tidak nyaman" ujar ku sebisa mungkin jadi orang yang ramah. Dan itu sulit, seperti aku harus membohongi diriku sendiri. Karena ini bukan kebiasaan ku, Iya—menjadi ramah bukan kebiasaan Jeon Wonwoo. Tidak perlu dicatat, semua orang sudah tahu.
"Aku sedang menunggu..." Balasnya, dan kali ini aku luar biasa bingung dengan jawabannya.
"Menunggu? Menunggu apa? Ini masih jam 10, apa yang kau tunggu?" Tanyaku, setelahnya ia menyandarkan punggungnya dan beralih memperhatikan papan tulis didepan.
"Bukankah biasanya jika orang yang bertemu pertama kali akan saling berkenalan" jawabnya, dan aku seperti dilempari oleh ribuan batu kerikil dan berasal dari laki-laki yang duduk di sampingku. Memang tidak terlihat tapi aku bisa merasakannya.
"B-begitu ya?" Tanyaku gagap, sepertinya saat di taman kanak-kanak dulu aku bolos pelajaran 'memperkenalkan diri'. Betapa bodohnya diriku karena memperkenalkan diri saja harus diingatkan seperti ini. Aku malu. Dan menutup seluruh wajahku dengan kedua tangan. Mengusapnya kasar dan tersadar ada tangan yang menjulur ke arahku.
"Aku Moon Junhui, aku lahir dan besar di Cina lalu memutuskan pindah ke Korea karena Ayahku dipindahkan tugasnya, akhirnya aku menetap di Korea hingga saat ini" aku segera menjabat tangannya. "Aku Jeon Wonwoo" balasku cepat dan singkat, kudengar dia dari Cina tapi untuk anak yang lahir dan besar di Cina, bahasa koreanya sudah cukup bagus.
"Kenapa kau gemetar?" Tanyanya yang kemudian mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku.
"T-tidak apa-apa" ujar ku, Canggung melanda.
"Tidak perlu canggung, ayo berteman dan lain kali akan aku ajak kau ke restoran Cina dekat rumahku, makanannya sangat enak!" Timpal Jun. Dan aku mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Bel sekolah sudah berbunyi, tandanya pulang sekolah.
Agenda hari ini setelah pulang sekolah, aku hanya ingin tidur. Lelah. Sekolah itu melelahkan. Apalagi setelah beberapa jam aku berkenalan dengan Jun, dia terus-terusan bercerita tentang hal-hal yang menurut nya lucu tapi tidak untukku, sesekali aku hanya menanggapi dengan kekehan pelan.
"Jun, kau tidak mau pulang?" Tanyaku pelan
"Belum, kau duluan saja kalau mau" balasnya
Kemudian aku melangkah keluar dari kelas setelah sebelumnya aku memberikan Jun sebuah lambaian tangan dan pergi.
Aku berjalan lurus menyusuri halaman sekolah, aku mematung ketika melihat segerombolan laki-laki sedang melangkah bersama menuju gerbang sekolah. Aku tidak sama sekali memperhatikan semuanya. Yang aku perhatikan hanya satu, seseorang yang tinggi dengan tas berwarna biru.
Itu laki-laki yang aku tabrak.
Rasa ingin tahuku cukup besar, ketika melihat semua temannya pergi tapi laki-laki itu berdiam diri untuk waktu yang lama dipinggir jalan. Temannya sudah menaiki salah satu bis berbarengan.
Tak lama sebuah mobil berhenti didepannya dan dia menaiki mobil itu, tatapan laki-laki itu terlihat sendu, aku melihatnya dengan kedua bola mataku. Seketika aku bisa merasakan perasaannya. Dia ingin pulang seperti anak-anak lainnya naik kendaraan umum.
Menurutku bukankah ia bisa menolak untuk tidak dijemput dan pulang naik bus? Sangat simpel bukan? Tapi kalau dipikir-pikir dijemput juga bukan hal buruk, tidak perlu saling berebut kursi dan tidak perlu saling bersenggolan ketika busnya penuh.
Itulah hidup, apa yang orang dapatkan ingin sekali kita dapatkan, tapi apa yang kita dapatkan ingin sekali orang lain dapatkan. Mungkin yang harus dilakukan hanyalah bersyukur.
.
.
.
Keesokan harinya, aku terlambat bangun. Untung pintu gerbang sekolah masih terbuka lebar kalau saja sudah rapat terkunci mungkin aku harus cari jalan lain dan melompat menaiki dinding tinggi untuk sampai ke sisi satunya.
Saat sedang asyik melihat kearah bunga-bunga yang bermekaran dihalaman sekolah. Aku melihat laki-laki yang ku tabrak kemarin baru saja turun dari mobilnya. Beberapa siswa menaruh tatapan pada laki-laki itu. Tatapan seperti dia adalah seseorang laki-laki tampan yang ada di dongeng-dongeng dan baru saja turun dari kudanya.
Tatapan siswa yang terpesona itu membuatku berpikir demikian, dia memang sangat tampan.
"Maaf"
tiba-tiba suara pria itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku lupa bagaimana suaranya terdengar hanya saja caranya meminta maaf itu cukup unik dan juga membuat aku ingin tersenyum tiap kali memikirkannya.
Aku melanjutkan jalanku dan tidak menghiraukan laki-laki yang tadi sempat aku perhatikan itu.
Tapi seketika tas birunya sudah berada didepan ku. Aku mengerjapkan mataku beberapakali, lalu aku ikuti jalannya.
Aku terdiam ditempat, Dia tidak menuju kelas tapi menuju toilet. Padahal aku hanya ingin tahu dia berada dikelas mana. Aku mengurungkan niatku untuk mengikutinya masuk kedalam toilet.
Karena aku bukan stalker. Aku yakinkan itu.
Aku tidak mau mengikutinya.
-TBC-
Sampai di chapter ini Wonwoo POV nya end. Dan diganti sama Author POV di Chapter depan, dan ditambah Wonwoo udah punya temen baru nanti.
Pendek ya? Sengaja. Masih pengen pendek-pendek dulu. Nanti lama-lama juga panjang kok. Tunggu saja. Hohoho. ini masih awal-awal.
sebenernya udah ngerevisi sampe chapter belasan, terus niat buat ngeupdate seminggu dua kali gitu biar cepet kelar. tapi entahlah, kalaupun aku update paling setiap hari senin-kamis.
Oh iya alasan kenapa aku gak publish revisian ini di wp karena aku mau update disini dulu, nanti kalau disini udah selesai tinggal rombak yang di wp. ribet sih, tapi yaudahlah.
terima kasih untuk yang udah follow dan love story ini, dan juga yang udah review terima kasih:))
yang belum review, silahkan reviewnya. x
