.The Mystery of Mecha Island.

One Piece © Eiichiro Oda
Rating: T
Genre: Adventure/Romance

II

.

.

.

Law berdiri tegap diatas tanah pulau asing diperjalanan menuju Dressrosa. Tangannya menggenggam nodachi sembari bersedekap dan rambut biru tuanya bergoyang terkena hembusan angin. Dia tidak lagi menggunakan jubah panjang yang ia kenakan saat di Punk Hazard. Berganti menjadi sebuah jaket coklat dengan strip kuning di lengan yang dibiarkan terbuka tanpa apapun dibawahnya, memperlihatkan tubuh dengan kulit gelap yang terbentuk dan tato Jolly Roger dengan desain hati disana.

Sementara itu, gadis berambut oranye dengan tubuh indahnya dan tas kecil dengan sebuah penggaris menyembul keluar, juga tak lupa dengan clima tact disisinya, melangkah mendekati Law. Langkahnya kemudian terhenti saat mendapati anggota Shichibukai tersebut dengan penampilan semacam itu tengah berdiri menatapnya.

"A-apa yang kau lihat?" tegur Nami. Law tetap menatapnya datar sebagai jawaban, memang Mugiwara barusan meminta padanya untuk menemani Nami berkeliling pulau—walaupun pemuda tampan ini sangat benci diperintah, tapi kali ini sepertinya tidak ada salahnya.

Sementara Law menunggu kemunculan sang navigator kapal, pemakan Gomu gomu no mi tersebut sudah pergi kearah lain bersama Zoro dan Sanji yang berdebat tentang siapa yang bisa menemukan binatang terbesar di pulau itu. Tapi setelah dipikir lagi, pasti akan sangat merepotkan mengingat seperti apa sifat gadis penggila uang yang dijuluki 'Kucing Pencuri' ini.

"Ayo, wanita." Law berbalik. "Kalau kau ingin berkeliling pulau ini, sebaiknya cepat jalan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti kalau terlalu lama disini," ujarnya dingin.

"Apa? Kalau kau mau berkeliling pulau lakukan saja sendiri!" protes Nami sambil mengacung-acungkan clima tact miliknya ke wajah pemakan Ope ope no mi tersebut. Sepertinya ia masih kesal atas perbuatan Law yang pernah membuat dirinya terperangkap di tubuh Sanji, Franky dan sekali lagi, Luffy.

"Akan dengan senang hati kulakukan," balasnya dingin. "Jika saja Mugiwara-ya tidak memintaku menemanimu karena tujuan kita sama. Dan ayo mulai berjalan, siapa yang akan bertanggung jawab jika arah logpose itu berubah dan jika terjadi sesuatu di kapal kalian itu."

Nami mengurungkan niatnya untuk membantah. Memang benar akan sangat berisiko jika mereka tinggal terlalu lama di pulau itu dan arah logpose bergerak. Robin juga sudah menghilang entah kemana saat mereka sampai. Disamping itu, walaupun masih ada Franky, Ussop, Chopper, Brook, Samurai Kin'emon dan Momonosuke di kapal, siapa yang akan menjamin sandera mereka, Caesar Clown tidak akan berulah. Belum lagi jika mereka sampai dipermainkan dan terluka kemudian Caesar Clown akan kabur dan aliansi mereka dibatalkan.

Nami menatap ngeri Shichibukai dengan harga kepala sebesar empat ratus empat puluh juta berry yang juga terkenal sadis tersebut.

Yang katanya mendapatkan gelar itu setelah mengirimkan seratus buah jantung segar bajak laut ke markas angkatan laut.

Bagaimana jika nanti jantung mereka yang dikirim satu persatu ke markas angkatan laut?!

"Oi..." tegur Law melihat gadis berambut oranye itu malah berdiri diam dengan wajah yang memucat.

.

"Oi Luffy, kelihatannya tidak ada apa-apa di pulau ini," ujar Sanji dengan mata yang tetap mengawasi sekitarnya menunggu-nunggu adanya makhluk yang akan melompar keluar. Tapi mereka sudah berjalan cukup lama dan semakin dalam kehutan tanpa menemukan apapun. Sejauh ini, hanya beberapa serpihan logam berkarat yang tercecer.

"Cih, koki mesum, bilang saja kau takut jika ada yang tiba-tiba melompat keluar!" ejek Zoro dengan seringai merendahkan.

"Apa katamu, huh?! Mau kumasukan racun dalam makananmu?!"

"Coba saja, dan akan kucabik-cabik tubuh kurusmu itu!"

"Kau menantangku, huh?! Marimo tolol! Oi, Luffy bagaimana kalau kita tinggalkan saja dia untuk mencari jalan pulangnya sendiri?" Sanji tersenyum mengejek. "Dia kan buta jalan!"

"Apa katamu, alis melingkar?! Aku tidak sudi dikatai oleh koki mesum tukang mimisan sepertimu!"

"Eeeh... ayolah kalian, masa bertengkar disaat seperti ini," ujar Luffy saat ia menoleh dan mendapati Zoro sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mulai berkelahi dengan koki yang mengandalkan kemampuan kakinya tersebut.

"Huum, kira-kira apa yang sedang dilakukan Nami dan Tora-o ya...?" Luffy menggumam dan hal itu sukses membuat koki dengan julukan 'Kaki Hitam' itu menghentikan kegiatannya dan mulai menanyai Luffy.

"Apa? Nami-swan? Mengapa dia bersama Trafalgar Law itu?!" Sanji mulai panas.

"Habisnya, Nami bilang ingin berkeliling pulau untuk membuat peta dunianya dan Tora-o juga ingin memeriksa pulau ini. Dan Tora-o kan kuat, Nami pasti aman bersamanya! Shishishishi!" Luffy mengeluarkan cengiran polos khasnya.

"APAAAA?!" Sanji dengan background penuh api amarah dan cemburu kemudian berbalik arah dan berlari entah kemana. "NAMI-SWAAAAAAAN! TUNGGU AKU!" teriaknya, membuat beberapa kawanan burung yang tengah bertengger di pepohonan tersentak terbang karena terkejut.

Melihat tingkah Sanji itu, Luffy hanya dapat memasang wajah bingung sementara Zoro mengumpat malas, "Koki tolol."

.

Nami berjalan dengan mengambil jarak dari Law, sementara pemuda tampan itu dengan cueknya tetap berjalan tidak peduli dengan wajah datar. Walau begitu, ia beberapa kali menghentikan langkahnya ketika navigator cantik itu berhenti untuk berkutat dengan catatannya sambil tersenyum senang.

Dan Law hanya berdiri ditempatnya mengamati Nami dan kegiatannya. Terpesona oleh— Tidak, apa?! Hentikan itu! Apa yang kupikirkan?!

Kemudian dia akan berbalik memunggungi dan akhirnya setelah beberapa lama memutuskan untuk mengenakan tudung jaket yang ia kenakan.

"Nami-ya..." panggil Law—akhirnya mengeluarkan suara dan gadis berambut oranye itu mendongakan kepalanya sebagai jawaban. "Jangan berjalan terlalu jauh dariku," ujarnya.

Nami mengernyitkan dahinya dan menatap kapten bajak laut Heart itu dengan tidak percaya.

Apa katanya barusan?

"Mendekat padaku," ujarnya lagi.

Nami tetap memasang wajah tak percaya. Dia serius?

"Cepat."

Akhirnya, Nami mempercepat langkahnya dan tidak percaya pada apa yang dilakukannya, berjalan sangat dekat dengan Law. Dan entah mengapa, ia merasa ada dorongan untuk melihat kebelakang punggungnya, yang akhirnya dilakukannya.

Sebuah bayangan terlihat melesat.

Nami meneguk liurnya.

"Kau takut?" tanya Law dengan nada datarnya.

"A-apa itu barusan...?" Nami membalasnya dengan pertanyaan lain dan kedua tangannya menggenggam clima tact miliknya dengan erat.

"Entahlah, mungkin penghuni pulau ini," ujar Law. Dia melirik Nami dan melihat kondisi gadis itu. "Tenanglah, aku pasti akan melindungmu."

Nami membelalakan matanya kemudian menatap kearah lain, membuat pemuda dengan nodachi yang bersandar dibahunya dengan tangan kiri yang membantu menahan beban pedang besar itu menerka-nerka kira-kira hal apa yang tengah diamati si gadis jeruk ini.

Sementara Nami yang memalingkan wajahnya, bukannya sedang memperhatikan sesuatu dengan serius, melainkan menyembunyikan wajahnya yang memanas atas perkataan Law sebelumnya.

Nami! Bodoh! Apa yang kau pikirkan?! Dia pasti berkata seperti itu karena Luffy yang memintanya dan karena aliansi itu! Kan, tidak mungkin membiarkan anggota aliansinya terluka! Ya, ya, pasti begitu. Tapi... orang ini, sial, kenapa dia bersikap seperti ini—

Sekarang gadis dengan tato di bahu kirinya itu mulai menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengangguk-angguk, kemudian kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat seorang Trafalgar Law membuka mulutnya tanpa bisa berkata apa-apa dan akhirnya memilih untuk berhenti memperhatikan gadis itu dan kembali menatap jalan dihadapannya.

Dan Nami masih tetap bertingkah seperti itu sampai sebuah pemikiran yang cukup gila melesak masuk. "Kau... tidak sedang merencanakan sesuatu, kan?" Nami bertanya takut-takut.

Law memutar kepalanya menatap Nami dengan bingung. "Apa maksudmu?" Dia balik bertanya.

"I-ini tidak mungkin hanya trikmu, kan? Kau tidak sedang merencanakan sesuatu untuk merebut jantung kami lalu mengirimkannya satu persatu ke ma—"

"..." Law menghentikan langkahnya, dia jelas terlihat tidak terima atas tuduhan gadis itu. "Kau meragukan loyalitas-ku tentang aliansi ini?" Law membalas dengan nada dingin. "Aku mengerti kau tidak mempercayaiku. Tapi aku serius soal aliansi ini," tambahnya lagi, kali ini dengan nada super dingin.

Nami menciut. Perkataannya sebelumnya memang berlebihan, seharusnya dia lebih mempercayai pria yang tawaran aliansinya sudah diterima kaptennya tanpa ragu itu. Sekarang sang Shichibukai itu menatapnya dengan aura membunuh.

Law mendecih, seharusnya dia menahan emosinya dan tidak tersulut oleh hal semacam itu. Bukan salah gadis itu jika ia masih belum bisa mempercayainya, lagipula mereka adalah bajak laut, terlebih lagi rival. Tidak berlebihan jika dikatakan mereka akan saling bunuh nantinya. Tapi lihat sekarang akibat perkataannya barusan.

Law menurunkan tudungnya dan menjulurkan tangannya yang kosong. "Dengar, kau bisa membuat ini menjadi sulit atau mudah. Kita sudah cukup ceroboh muncul di tempat asing ini dan musuh dapat melihat kelemahan kita dengan mudah. Jadi, tolonglah setidaknya saat ini, dipulau ini."

"Percayalah padaku." Perkataan Law tersebut membuat Nami tertegun. Nami menatap orang yang dijuluki Shinogekai tersebut. Kulit berwarna gelapnya, tubuh berotot dengan tato-tato yang menghiasi dan kepala tanpa topi putihnya, membuat rambut biru tuanya terlihat jelas—kesempatan yang langka.

Dia terlihat... tampan.

Nami membelalakan matanya tidak percaya akan isi pikirannya, wajahnya kembali memanas.

.

Di bagian lain pulau, Sanji yang berlari meninggalkan Luffy dan Zoro terhenti karena apa yang ia temukan. Sanji membelalakan matanya dan mulutnya terbuka lebar. Tidak. Tenanglah. Ini bukanlah hal aneh. Ini bukan kali pertamanya kau melihat benda semacam ini. Tapi... kenapa benda semacam ini ada di sini?!

Disana, di hadapannya, dengan setengah bagian terkubur di tanah, adalah rangka kaki robot yang cukup besar. Mengingat perjalanannya selama ini dan salah seorang rekannya yang seorang cyborg, seharusnya ia tidak perlu beraksi seperti itu. Yang membuatnya terkejut adalah kondisi kaki itu, yang memang sudah rusak dibeberapa bagian tapi masih terlihat baru.

Pulau apa ini?!

"Cih, Nami-san..." Koki dengan alis melingkar itu kembali berlari.

.

.

.

Sementara itu dilain tempat, sosok bertubuh kecil dengan mata amethyst bulat besarnya berdiri menatap Thousand Sunny Go yang menurunkan jangkarnya di pesisir pantai pulau. Tangannya menggandeng sosok lain dengan postur tubuh yang sama dengannya dan mulai melangkah menuju kapal dengan kepala singa tersebut.

.

.

.

To Be Continued