Tittle : My Heart Voice

Author : JungYoungest

Cast : Oh sehun

Kim jongin

Oh hyerin (Afterschool's raina)

Xi luhan

Genre : Romance, Comedy, aneh, hambar kurang garem /?

Rated : T

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

My third fanfic

Maaf jika ada kesamaan

Sebagian atau seluruhnya

Jung gak maksud plagiat kok /bow

.

.

.

.

.

Disetiap lagu yang dinyanyikan jongin selalu terselip kisah cintanya. Berharap sehun sadar akan itu. Tapi, pada kenyataannya.. itu tak semudah yang jongin bayangkan.

.

.

.

.

.

Sequel of before you sleep

.

.

.

.

.

Chapter 2 : Please don't

.

.

.

.

.

Ting Tong Ting Tong

Tring Tring Tring

Ting Tong Ting Tong

Tring Tring Tring

Sehun mengucek ngucek matanya sebentar lalu segera meraih ponselnya yang ia letakkan di nakas sebelah kanan tempat tidurnya. matanya membulat saat mengetahui pelaku penelponan yang sangat sangat mengganggu tidurnya di pagi hari tepat di hari libur adalah oh hyerin, noonanya sendiri. ohh iya tadi adalah nada dering sehun yang terlampau unik tapi indah bagi sehun seorang.

Sehun menimbang nimbang untuk mengangkatnya atau tidak. Lagipula untuk apa hyerin menelponnya di pagi buta seperti ini? Mengabari jika ia sedang menginap dirumah temannya huh?

Pada akhirnya sehun pun mengangkat telpon dari hyerin

"yeobose—"

"morning sehun. hehehe"

"menginap dirumah teman eoh?"

"lebih tepatnya menginap dirumah appa dan eomma"

"aku tau kau berbohong noona"

"memang jongin tak memberitahumu huh? Aku pergi saat kau terlalu asik berkencan dengan luhan"

"kalau begitu aku mau ikut"

"baiklah. Kau bisa menggantikanku mengikuti rapat dengan ahjussi ahjussi berwajah serius jika kau mau"

"No! Sampai kapan kau disana?"

"paling cepat tiga hari. Paling lambat satu minggu. Sudah ya. Panggilan internasional sangat mahal. See you.. tut tut tut"

Sehun menatap layar ponselnya dengan raut wajah yang sulit diartikan lalu menaruh kembali ponselnya ditempat semula. Hah noonanya semakin lama semakin aneh. Ngomong ngomong tentang noonanya ia jadi teringat jongin yang tak menceritakan apapun tentang kepergian hyerin ke rumah appa dan eommanya yang berada di amerika. Sehun jadi ingin mengomelinya. Sekalian melampiaskan rasa kesalnya kepada noonanya. Jahat sekali kau oh sehun.

Sehun segera turun dari ranjangnya dan berjalan kearah pintu kamarnya. Ingat bukan jika sehun ingin mengomeli jongin?

langkah sehun tiba tiba terhenti tepat di cermin berukuran besar yang menggantikan kayu sebagai pintu lemarinya, dekat dengan pintu kamarnya dan juga bersebalahan dengan lemari milik jongin. Sehun menatapi pantulan dirinya sendiri di cermin dengan ekspresi jijiknya. Kenapa pagi ini dia sangat berantakkan? Bukankah sehun tidur seperti pangeran setiap harinya?

"sepertinya aku perlu mandi terlebih dahulu. ya sepertinya begitu" gumam sehun. ia langsung membalikkan tubuhnya dan mengambil langkah seribu menuju kamar mandi.

.

.

.

.

.

Tok tok tok

Jongin hanya melirik sekilas kearah pintu lalu kembali menatap kearah Tv yang sedang memutarkan film favoritenya. Sesekali tangannya merogoh kedalam plastik plastik makanan ringan yang memang sudah ia siapkan untuk mengisi hari liburnya.

Tok tok tok

Ketukan pintu kembali terdengar tapi jongin masih saja tak memperdulikannya. Matanya sama sekali tak menoleh kearah pintu. Jongin berfikiran itu hanyalah orang iseng. Mana ada orang normal yang bertamu pada pagi hari? 9.00 am itu masih termasuk pagi hari bukan?

Tok tok tok

Ketukan pintu kembali terdengar dan ini adalah yang ketiga. Mau tak mau jongin harus membukanya karena sepertinya kali ini bukanlah orang iseng ataupun orang yang kurang kerjaan.

Ceklek

"annyeong"

Jongin mengernyitkan keningnya saat melihat seorang pemuda manis yang sedang berdiri di hadapannya tengah terseyum canggung kearahnya.

"siapa kau? Ada perlu apa kemari?" tanya jongin berusaha seramah mungkin

"aku luhan dan aku ingin bertemu sehun. bisa kau panggilkan?"

Oh luhan ya?

First love sehun.

Tuhan kuatkan hati jongin.

"tunggu sebentar"

Brak

Jongin menutup pintunya dengan keras tanpa membiarkan luhan masuk setelah menyuruh luhan untuk menunggu.

"sehun" panggil jongin pada sehun yang kebetulan telah rapih dan sedang duduk, menonton film yang tadi ditonton jongin.

Sehun menoleh kearah jongin malas. Wajahnya tampak tak bersahabat "apa?" tanya sehun ketus.

"luhan mencarimu" jawab jongin pelan.

Semoga sehun tak mendengarnya. Semoga sehun tak mendengarnya.

"apa? Luhan hyung mencariku?" tanya sehun antusias

Jongin hanya mengangguk pelan. "ia menunggumu didepan"

Sehun segera berlari menuju pintu untuk menemui luhan. Wajahnya sangat berseri seri sekarang berbeda dengan sebelumnya, saat jongin memanggil sehun tadi. Jongin tak bodoh untuk menyadari hal sekecil itu.

.

.

.

.

Ceklek

"luhan hyung" panggil sehun pada luhan yang sedang duduk didepan rumahnya seraya berkutat dengan smarthphonenya.

Luhan menoleh dan segera bangkit dari duduknya. "sehun"

"maafkan sepupuku yang tak menyuruhmu masuk hyung"

"tidak masalah. Dia sepupumu?"

Sehun mengangguk. "ya begitulah. dia akan tinggal bersamaku dan hyerin noona sampai dia lulus dari sekolah menengah atas"

"kupikir kau dan dia seumuran"

"tebakanmu benar hyung. Hanya berbeda warna kulit"

Sehun dan luhan pun tertawa mendengar penuturan sehun. sedetik kemudian keadaan menjadi hening. Luhan sibuk berkutat dengan samrtphonenya sedangkan sehun sibuk menatapi luhan.

"Hmm sehun.." panggil luhan sedikit ragu

"ya hyung.."

"jemput aku pukul dua belas nanti. Pesawatku akan lepas landas pukul satu. Bisakah?" pinta luhan pelan.

"kau akan kembali lagi ke china hyung?" suara sehun melemah. Raut wajah cerianya telah terbang dibawa hembusan angin

Sehun masih merindukan luhan

Sehun masih ingin bersama luhan

Bolehkah sehun menahan luhan pergi?

"maafkan aku sehun. tapi kita bisa berjalan jalan dulu disekitar area bandara kan?"

"setidaknya aku masih punya waktu bersamamu hyung walaupun hanya sebentar" sehun akhirnya tersenyum. sungguh Sehun akan memanfaatkan waktu yang cukup sempit itu agar menjadi perpisahan yang tak akan terlupakan baginya dan luhan

.

.

.

.

.

Jreng jreng jreng

"aah salah. Bukan begini" jongin mengacak ngacak rambutnya frustasi.

Entah kenapa setiap senar gitar yang ia petik terdengar sangat fales ditelinganya. Padahal ia sudah melakukannya dengan benar. Mungkin semua ini karena pengaruh hatinya yang tak bisa dibilang sedang baik baik saja. Mungkin saja.

Ceklek

"yak kim jongin kau belum mematikan tv nya lalu membersihkan makanan makananmu diatas meja." Omel sehun yang baru saja datang pada jongin yang sedang duduk di ranjangnya seraya memangku gitarnya

Jongin hanya menatap datar kearah wajah sehun yang sangat sangat tak bersahabat.

"lalu?"

"aku yang membersihkannya dan aku yang mematikannya"

"terimakasih"

Sehun semakin geram mendengar penuturan singkat dari sepupunya. Rasanya ia ingin merebut paksa gitar baru jongin yang sedang berada dipangkuan jongin lalu memukulnya kekepala jongin. siapa tau saja itu bisa menbuat jongin berhenti menjadi orang yang dingin, cuek dan menyusahkan orang lain.

"kau juga tak memberitahuku jika hyerin noona pergi" omel sehun lagi. amarahnya semakin memuncak.

"kau tak bertanya"

Oke cukup kim jongin. sehun sudah tak kuat menahan amarahnya. Sehun merebut paksa gitar jongin dan bersiap untuk menghantamkannya kearah kepala jongin. sesuai dengan apa yang sempat terlintas dipikirannya tadi.

Greb

Jongin tiba tiba saja memeluk sehun erat beberapa detik lebih cepat sebelum gitarnya menghantam kepalanya. Sehun hingga diam tak berkutik dibuatnya.

"maafkan aku oh sehun. maaf sudah membuatmu kesal" ucap jongin lembut dan menenangkan

Brak

Gitar jongin tiba tiba saja terlepas dari tangan sehun dan jatuh kelantai memecahkan suasana hening yang sedang terjadi.

Dunia terasa berhenti sesaat.

Jongin segera melepaskan pelukannya dan menggaruk garuk tengkuknya kikuk setelah hampir sekian detik jongin memeluk sehun. Sedangkan sehun hanya mengerjap ngerjapkan matanya.

"ma..maafkan aku" ujar jongin kembali memasang wajah datarnya

Jongin segera mengambil gitarnya lalu kembali duduk diranjangnya. Sedangkan sehun langsung meloncat keranjangnya dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Mungkin sehun kaget karena itu adalah pertama kalinya jongin memeluknya dan meminta maaf padanya. Suara jongin terdengar sangat lembut dan tulus tadi.

.

.

.

.

.

Sudah hampir satu jam sejak kejadian tadi sehun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berpura pura tertidur. Panas memang tapi entah kenapa sehun tak berani melihat wajah jongin yang masih sibuk mengurusi gitarnya untuk saat ini. Hah kenapa ia seperti anak gadis yang baru saja kehilangan first kissnya? Lagipula sehun belum mendapatkan first kissnya.

Oh iya sehun ada janji dengan luhan.

Sehun segera meloncat dari ranjangnya dan menuju lemarinya untuk memilih baju yang pantas ia kenakan nanti. Semoga saja ada. Karena seingat sehun ia sudah lama tak ke mall dan membeli baju baru bersama noonanya.

Sehun menempelkan satu persatu baju miliknya di tubuhnya lalu memandang pantulan dirinya dicermin. Ia akan membuangnya kelantai jika bajunya tak sesuai seleranya. ia juga akan menambahkan komentar komentar kepada baju-bajunya seperti

"ini? Tidak tidak warnanya terlalu mencolok"

"hah yang ini sudah kekecilan"

"terlalu kampungan"

"aku bosan dengan warnanya"

Dan celotehan celotehan lainnya yang keluar dari mulut sehun.

Sehun mengacak-ngacak rambutnya frustasi saat baju terakhir yang ia coba juga tak sesuai selera. Ia menatap lesu kearah lemarinya yang telah kosong melompong. Semua baju telah berpindah tempat menjadi dilantai. Bagaimana bisa dari semua baju yang sehun punya tak ada satupun yang menurutnya cocok untuk dipakai mengantar luhan kebandara.

Sehun melirik sebentar kearah lemari disebelahnya. Lemari milik jongin. setau sehun, semua baju yang jongin kenakan selalu bagus. Tapi apa ia harus meminjam milik jongin setelah kejadian itu?

Memang itu hanyalah kejadian biasa. Tapi entah mengapa sehun menganggapnya menjadi luar biasa. Itu kejadian yang cukup err romantis tapi sehun malah berfikiran kalau itu adalah kejadian yang paling memalukan baginya. Hampir membunuh orang dan ternyata gagal saat orang yang ingin sehun bunuh tiba tiba memeluknya. Sungguh sehun tak mau mengingat betapa memalukannya itu semua. Tolong jangan ingatkan sehun.

"err.. jongin?" panggil sehun agak ragu setelah hampir beberapa menit hati dan otaknya berdebat terlebih dahulu.

Jongin yang entah sejak kapan tengah memejamkan matanya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hanya berdehem. Menandakan ia belum pergi ke alam mimpi

"boleh aku pinjam bajumu? Entah kenapa kau selalu terlihat tampan dimataku setiap saat bahkan saat kau memejamkan matamu. Jadi aku pinjam bajumu ya. Siapa tau aku tertular ketampananmu" pinta sehun seperti sedang merayu.

Jongin seketika membeku dibalik selimutnya mendengar penuturan dari sehun yang tanpa sadar memuji ketampanannya. Jongin menyibakkan selimutnya hingga sebatas pinggang dan mengambil posisi duduk diatas ranjangnya.

"memang kau mau kemana?" tanya jongin. jongin memang sudah curiga dengan tingkah laku sehun sejak tadi. Seperti seseorang yang ingin berkencan.

"pergi bersama luhan hyung. Anggap saja berkencan"

Tuh kan benar dugaan jongin.

"pakailah sesuka hatimu agar KENCANMU MENYENANGKAN" suara jongin meninggi diakhir kalimat

Sehun tersenyum senang tanpa menyadari perubahan suara jongin karena jongin sudah sering melakukan itu pada sehun. tapi kali ini berbeda oh sehun. Jongin sedang cemburu. tolong mengertilah.

"terimakasih. Kau sungguh baik kim jongin"

.

.

.

.

.

Sehun menatapi pantulan dirinya di cermin. T-shirt abu abu, celana denim hitam, sepatu putih bertali, snapback hitam serta kacamata hitam. Tidak terlalu serasi memang. Tapi biarlah. Sehun selalu berfikiran jika semua pakaian cocok dipakai olehnya karena dia tampan. TAPI KENAPA KAU TAK MAU MEMAKAI BAJUMU SENDIRI EOH?

Sehun menoleh kearah jongin yang lagi lagi sedang memegang gitarnya. Apa jongin tak bosan?

"bagaimana menurutmu?" tanya sehun seraya berpose layaknya model

Jongin menatapi sehun dari atas kebawah lalu kembali keatas. Sehun tampan saat ini tapi ia juga terlihat manis dengan kemeja biru milik jongin yang jarang jongin pakai karena tak suka dnegan warnanya. Kemeja biru pemberian eomma jongin di hari ulang tahunnya tahun lalu.

"bagus" jawab jongin singkat setelah itu ia kembali menyibukkan diri bersama gitarnya

Sehun berjalan mendekati nakasnya untuk menngambil ponselnya. Sehun tersenyum memandang jam weakernya yang berada tepat disebelah ponselnya yang menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit. Berangkat lebih awal tak masalah bukan? jadi, waktu bersama luhan akan sedikit lebih lama.

Sehun melangkahkan kakinya kearah pintu kamarnya setelah ia memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Senyum sehun tak pernah berhenti mengembang untuk saat ini

ireojima jebal tteona jima jebal

(tolong jangan, tolong jangan pergi)

Don't know why Don't know why

(tidak tahu kenapa..tidak tahu kenapa..)

Langkah sehun terhenti tepat didepan pintu kamarnya. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat mendengar jongin menyanyikan lagu itu. lagu please don't milik

bido an oneun yuri chang neomeo

(ini bahkan tidak hujan, tapi diluar jendela)

ppu yeoke meoreo jineun neo

(kamu yang menjauh terlihat seperti tertutup kabut)

Perasaan aneh itu kembali muncul sekarang seperti rasa bersalah yang amat mendalam. Mungkin karena faktor lagu yang menyayat hati. Ya mungkin saja. Berfikir jernih lah oh sehun.

Sehun menolehkan kepalanya saat jongin telah berhenti menyanyi.

"aku akan membelikanmu makanan nanti. Anggap saja ucapan terimakasih dariku. Aku pergi"

Brak

Sehun menutup pintu kamar dengan lumayan keras dan terburu buru.

"yang aku inginkan hanyalah bantalkan kencan kalian berdua. Mustahil bukan?"

Jongin tersenyum miris.

.

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

.

.

Gimana? Gimana?

Maaf kalau kurang puas

Jung bikinnya Cuma satu hari + pengeditan

Biasanya mah hampir tiga atau empat hari biar bener bener layak bagi jung.

Thanks ya yang udah review di chap kemarin

Yang udah follow + favorite juga makasih

Lafyuhh..

Terakhir..

Bolehlah kalau jung minta kritik dan sarannya